IMG-LOGO
Trending Now:
Ramadhan

Shalat Witir pada Ramadhan, Sebaiknya Berjamaah atau Sendirian?

Selasa 21 Mei 2019 17:0 WIB
Share:
Shalat Witir pada Ramadhan, Sebaiknya Berjamaah atau Sendirian?
Ilustrasi (info-islam.ru)
Shalat sunnah secara umum terbagi menjadi dua, yakni yang dianjurkan untuk dilaksanakan secara berjamaah dan yang tidak dianjurkan untuk dilakukan secara berjamaah, melainkan lebih baik dilaksanakan secara sendirian. Contoh untuk jenis pertama adalah shalat Id, shalat gerhana matahari dan bulan, shalat istisqa’, dan shalat tarawih. Selain lima shalat sunnah tersebut, seseorang disarankan lebih baik melaknakannya sendirian.
 
Pembagian shalat sunnah terhadap dua bagian ini secara ringkas dijelaskan dalam kitab al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzzab:

قال أصحابنا تطوع الصلاة ضربان (ضرب) تسن فيه الجماعة وهو العيد والكسوف والاستسقاء وكذا التراويح على الأصح (وضرب) لا تسن له الجماعة لكن لو فعل جماعة صح وهو ما سوى ذلك

“Shalat Sunnah dibagi menjadi dua bagian. Pertama, Shalat yang disunnahkan berjamaah yaitu shalat sunnah ‘ied, shalat gerhana, dan shalat istisqa’, begitu juga shalat tarawih menurut qaul ashah. Kedua, shalat yang tidak disunnahkan berjamaah, tapi jika dilaksanakan dengan cara jamaah, maka shalat tersebut tetap sah. Yaitu shalat selain dari bagian pertama diatas.” (Syekh Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzzab, juz 4, hal. 5)

Berdasarkan referensi di atas, bisa dipastikan bahwa shalat witir secara hukum asalnya termasuk dalam kategori shalat yang tidak dianjurkan untuk dilaksanakan secara berjamaah. Meski demikian, para ulama memberi pengecualian tatkala shalat witir dilaksanakan di bulan Ramadhan.

Menurut para ulama Syafi’iyah shalat witir pada malam bulan suci ini sunnah dilakukan secara berjamaah. Pendapat yang sama juga diungkapkan dalam mazhab Hanabilah dan satu pernyataan dalam mazhab Hanafiyah. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam referensi berikut:

والجماعة في صلاة الوتر سنة في شهر رمضان عند الحنابلة ، ومستحبة عند الشافعية وفي قول عند الحنفية

“Berjamaah pada shalat witir adalah hal yang sunnah di bulan Ramadhan menurut Madzhab Hanabilah dan Syafi’iyyah serta satu qaul dari Madzhab Hanafiyah.” (Kementrian Wakaf dan Urusan Keagamaan Kuwait, Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, juz 27, hal. 168)

Meski shalat witir disunnahkan dilakukan secara berjamaah di bulan Ramadhan, namun hukum ini tidak berlaku bagi orang yang akan melaksanakan tahajud di malam hari dan yakin akan terbangun di akhir malam, maka dalam keadaan demikian yang lebih utama baginya adalah mengakhirkan shalat witirnya di akhir malam. Seperti yang dijelaskan oleh Syekh Wahbah az-Zuhaili:

وتندب الجماعة في الوتر عقب التراويح جماعة، إلا إن وثق باستيقاظه آخر الليل،فالتأخير أفضل، لخبر مسلم: «من خاف ألا يقوم من آخر الليل، فليوتر أوله، ومن طمع أن يقوم آخره، فليوتر آخر الليل، فإن صلاة آخر الليل مشهودة» أي تشهدها ملائكة الليل والنهار

“Disunnahkan berjamaah dalam melaksanakan shalat witir setelah melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah, kecuali ketika seseorang yakin akan bangun di akhir malam, maka mengakhirkan shalat witir baginya adalah lebih utama. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan Imam Muslim: “Barang siapa yang khawatir tidak bangun di akhir malam maka hendaknya ia melaksanakan witir di awal malam. Dan barang siapa yang mengharap bangun di akhir malam, maka hendaknya melaksanakan shalat witir di akhir malam, sebab shalat di akhir malam itu disaksikan” maksudnya disaksikan oleh malaikat (yang bertugas) di malam hari dan siang hari.”  (Syekh Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, juz 2, hal. 240)

Bahkan meskipun ketika shalat witir dilaksanakan di akhir malam pada bulan Ramadhan, akan menyebabkan shalat witir ini tidak dilaksanakan secara berjamaah, tetap yang lebih utama adalah mengakhirkannya meski dilaksanakan sendirian daripada melaksanakannya di awal malam dengan berjamaah, hal ini tak lain karena fungsi utama shalat witir yang merupakan penutup shalat di malam hari. Ketentuan ini seperti yang dijelaskan dalam kitab Syarah al-Bahjah al-Wardiyah:

ـ (و) حيث يصليه (بعد نفل الليل) إن كان له تنفل أي : تهجد (فهو أفضل) من صلاته قبل نفل الليل. (قوله : فهو أفضل) ، وإن لزم على تأخيره فوات صلاة الجماعة فيه في رمضان

“Sekiranya seseorang melaksanakan shalat witir setelah shalat tahajud maka hal tersebut lebih utama daripada shalat witir sebelum tahajud. Meskipun dengan mengakhirkan witir akan menyebabkan tidak terlaksananya shalat witir dengan cara jamaah di bulan Ramadhan” (Syekh Zakaria al-Anshari, Syarah al-Bahjah al-Wardiyah, Juz 4, Hal. 140)

Namun seandainya ketika seseorang yang memiliki niatan untuk shalat tahajud di malam hari merasa tidak enak kepada para jamaah tatkala meninggalkan tempat shalat setelah melaksanakan tarawih, maka ia tetap dapat melaksanakan shalat bersama mereka namun dengan niat shalat sunnah mutlak, bukan dengan niat shalat witir. Sebab hal yang disunnahkan adalah mengakhirkan keseluruhan shalat witir setelah melaksanakan shalat tahajud. Hal ini sesuai dengan fatwa yang disampaikan oleh Imam Ar-Ramli Kabir:

أفتى الوالد رحمه الله تعالى فيمن يصلي بعض وتر رمضان جماعة ويكمله بعد تهجده بأن الأفضل تأخير كله ، فقد قالوا : إن من له تهجد لم يوتر مع الجماعة بل يؤخره إلى الليل ، فإن أراد الصلاة معهم صلى نافلة مطلقة وأوتر آخر الليل

“Al-Walid (Imam Ramli Kabir) berfatwa tentang orang yang shalat witir dilaksanakan sebagian saja dengan berjamaah di bulan Ramadhan, lalu ia menyempurnakan shalat witirnya setelah shalat tahajud. Bahwa yang lebih utama (baginya) adalah mengakhirkan keseluruhan shalat witir. Para ulama berkata: “Orang yang hendak melaksanakan tahajud maka sebaiknya ia tidak melaksanakan shalat witir dengan berjamaah, tapi mengakhirkannya sampai (akhir) malam. Jika ia ingin shalat bersama para jamaah, maka ia hendaknya shalat sunnah muthlaq dan (tetap) melaksanakan witir di akhir malam” (Syekh Syihabuddin ar-Ramli, Nihayah al-Muhtaj, juz 5, hal. 319) 

Maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melaksanakan shalat witir dengan berjamaah di bulan Ramadhan adalah hal yang disunnahkan selama seseorang tidak memiliki niatan untuk melaksanakan shalat tahajud di malam hari. Jika ia memiliki niatan untuk shalat tahajud dan yakin akan terbangun di akhir malam, maka disunnahkan untuk mengakhirkan shalat witir di akhir malam, meskipun tidak dilakukan dengan cara berjamaah. 

Namun patut diperhatikan bahwa dalam mengamalkan shalat witir ini tetap mempertimbangkan terhadap tradisi dan penilaian masyarakat setempat. Hal ini misalnya dengan cara tidak beranjak pulang langsung setelah tarawih, ketika seseorang memiliki niatan untuk melaksanakan shalat witir di akhir malam, tapi tetap mengikuti prosesi shalat witir yang dilakukan oleh imam namun dengan niat shalat sunnah mutlak, dengan demikian ia mendapatkan keutamaan mengakhirkan keseluruhan shalat witir dan melestarikan syiar Islam yang sudah berkembang secara luas di masyarakat berupa melaksanakan shalat witir secara berjamaah. Wallahu a’lam.


Ustadz M. Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah Kaliwining Rambipuji Jember 
 

Share:
Selasa 21 Mei 2019 12:30 WIB
Shalat Tarawih Bermakmum kepada Imam Shalat Witir
Shalat Tarawih Bermakmum kepada Imam Shalat Witir
Ilustrasi (Reuters)
Idealnya shalatnya imam dan makmum merupakan jenis shalat yang sama. Isya’ dengan Isya’, Subuh dengan subuh, tarawih dengan tarawih dan lain sebagainya. Namun karena satu dan beberapa hal terkadang menuntut shalatnya imam dan makmum menjadi berbeda, misalnya dalam kasus shalat tarawih dan witir. 

Sebagian makmum yang tertinggal satu atau beberapa salam tarawih melanjutkan rakaat tarawihnya saat imam shalat witir dengan tetap niat berjamaah. Hal itu dianggap lebih tepat dari pada menyempurnakan tarawih setelah jamaah shalat witir, karena witir merupakan penutup shalat di malam hari. Menurut kacamata fiqih, bagaimana hukum makmum melaksanakan shalat tarawih dengan imam shalat witir? Sahkah shalatnya?

Salah satu syarat sah pelaksanaan shalat jamaah adalah cocoknya rangkaian shalat imam dan makmum. Yang dimaksud kecocokan di sini adalah keserasian shalat imam dan makmum dalam gerakan-gerakan yang tampak seperti ruku, sujud, berdiri, duduk di antara dua sujud dan lain-lain. Tidak disyaratkan sama dalam jumlah rakaatnya, bacaan shalatnya, status fardhu dan sunahnya, serta ada’ (shalat yang dilakukan di dalam waktunya) dan qadlanya (shalat yang dilakukan di luar waktunya). Maka menjadi sah melakukan shalat qadla zhuhur dengan imam shalat Ashar, shalat fardu Isya dengan imam shalat tarawih, shalat tarawih dengan imam shalat witir, shalat qadla subuh dengan imam shalat Idul Fitri dan lain-lain.

Hukumnya menjadi berbeda bila rangkain gerakan shalatnya berbeda, seperti melakukan shalat fardhu maghrib dengan imam shalat gerhana bulan atau makmum shalat zhuhur dengan imam shalat gerhana matahari atau sebaliknya. Hal ini dikarenakan terdapat perbedaan gerakan yang tajam antara shalatnya imam dan makmum. Seperti diketahui shalat gerhana bulan dan matahari memiliki tata cara yang berbeda dengan shalat lainnya dengan dua kali berdiri, dua kali berdiri, dua kali membaca al-Fatihah, dua kali ruku’ dan dua kali I’tidal di setiap rakaatnnya.

Dengan demikian hukumnya sah shalat tarawih dilakukan dengan cara bermakmum di belakang imam shalat witir, sebab tidak ada perbedaan yang mecolok di dalam rangkaian gerakan-gerakan kedua shalat tersebut. Perbedaan niat shalat antara imam dan makmum tidak menjadi soal, sebab tergolong minim dan tidak tajam.

Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani menegaskan:

وتاسعها أن يتوافق نظم صلاتهما أي نهجها الواضح في الأفعال الظاهرة وإن اختلفا عددا فلا يصح الاقتداء مع اختلافه كمكتوبة خلف كسوف وبالعكس لتعذر المتابعة

“Syarat ke Sembilan, cocoknya rangkaian shalat imam dan makmum, maksudnya rangkaian shalat yang jelas dalam gerakan-gerakan yang tampak, meski berbeda jumlah rakaatnya. Maka tidak sah berjamaah ketika berbeda rangkaian gerakan shalatnya seperti shalat maktubah di belakang shalat gerhana matahari dan sebaliknya, sebab sulitnya mengikuti”.

ولا يضر اختلاف نية الإمام والمأموم لعدم فحش المخالفة فيهما فيصح اقتداء المفترض بالمتنفل والمؤدي بالقاضي وفي طويلة بقصيرة كظهر بصبح وبالعكوس 

“Dan tidak bermasalah perbedaan niatnya imam dan makmum, sebab ketiadaan perbedaan yang parah di dalamnya, maka sah bermakmumnya orang yang shalat fardlu dengan imam shalat sunah, shalat ada’ bermakum dengan imam shalat qadla’, shalat yang lebih panjang rakaatnya dengan imam yang lebih pendek rakaatnya seperti zhuhur dengan Subuh dan sebaliknya”. (Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani, Kasyifah al-Saja, hal. 182).

Meski shalatnya sah, namun hukumnya makruh. Namun demikian, keutamaan jamaah (pahala 27 kali lipat melebihi shalat sendiri) tetap bisa didapat. Al-Imam al-Suwaifi sebagaimana dikutip Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani menegaskan bahwa kemakruhan dalam hal ini tidak menghilangkan keutamaan dan pahala jamaah, karena kemakruhan dan fadlilah jamaah sudah berbeda sudut pandangnya, seperti shalat di tempat ghasaban, hukumnya sah, namun haram. Sah dari sudut pandang shalatnya, haram dari sisi menggunakan tempat orang lain tanpa seizinnya. Demikian pula dalam persoalan ini, makruh dari sisi perbedaan jenis shalat imam dan makmum, mendapat keutamaan dari sisi jamaahnya.

Dalam lanjutan referensi di atas, sang maha guru para ulama nusantara tersebut berkata:

لكنه مكروه ومع ذلك تحصل فضيلة الجماعة. قال السويفي: والكراهة لا تنفي الفضيلة والثواب لاختلاف الجهة بل الحرمة لا تنفي الفضيلة كالصلاة في أرض مغصوبة

“Namun hal tersebut (berbedanya niat shalat imam dan makmum) makruh. Meski demikian, keutamaan jamaah tetap bisa dihasilkan. Al-Imam al-Suwaifi berkata, kemakruhan tidak menafikan keutamaan dan pahala jamaah, sebab berbedanya sudut pandang, bahkan keharaman tidak menafikan keutamaan, seperti shalat di tanah ghasaban”. (Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani, Kasyifah al-Saja, hal.182).

Demikian penjelasan mengenai hukum melaksanakan shalat tarawih bermakmum dengan imam shalat witir. Sebisa mungkin jamaah shalat tarawih yang dilakukan diminimalisir kecacatannya, semisal mengupayakan hadir tepat waktu agar tidak tertinggal  dari imam. Semoga bermanfaat.


Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pesantren Raudlatul Qur’an, Geyongan Arjawinangun Cirebon Jawa Barat.
Senin 20 Mei 2019 17:15 WIB
Kapan Makan dan Minum karena Lupa Tak Membatalkan Puasa?
Kapan Makan dan Minum karena Lupa Tak Membatalkan Puasa?
Sudah maklum bahwa makan dan minum dalam rentang antara terbit fajar hingga sebelum terbenamnya matahari adalah salah satu hal yang dapat membatalkan puasa. Namun, batalnya puasa dengan makan dan minum hanya ketika seseorang memang sengaja melakukannya dan mengetahui tentang hukum tersebut.

Berbeda ketika makan dan minum dilakukan oleh orang yang belum mengetahui bahwa makan dan minum saat puasa adalah hal yang membatalkan, misalnya karena ia baru masuk Islam atau jauh dari jangkauan ulama yang mengajarinya, maka puasa yang dilakukannya tidak dihukumi batal. 

Makan dan minum juga tidak membatalkan puasa ketika dilakukan oleh seseorang dalam keadaan lupa. Hal ini secara tegas disampaikan dalam hadits:

مَنْ أَكَلَ نَاسِيًا وَهُوَ صَائِمٌ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ، فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ

“Barangsiapa makan karena lupa sementara ia sedang berpuasa, hendaklah ia menyempurnakan puasanya karena sesungguhnya Allah telah memberinya makan dan minum.” (HR Bukhari Muslim)

Dalam hadits lain juga dijelaskan bahwa orang yang makan dalam keadaan lupa tidak ada kewajiban mengqadha puasanya atau membayar denda kafarat, berikut teks hadits tersebut:

مَنْ أَفْطَرَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ نَاسِيًا فَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِ وَلَا كَفَارَةَ

“Barangsiapa yang ifthar pada bulan Ramadhan karena lupa maka tidak ada (kewajiban) qadha baginya, tidak juga kafarat.” (HR Hakim)

Sedangkan makna lupa (an-nisyan) yang dimaksud dalam permasalahan ini adalah melakukan suatu hal tanpa disertai pengetahuan yang ia miliki. Lebih jelasnya, simak penjelasan dalam kitab Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah berikut:

النسيان هو عدم استحضار الإنسان ما كان يعلمه، بدون نظر وتفكير، مع علمه بأمور كثيرة

“Lupa adalah absennya seseorang dari apa yang ia tahu, tanpa merenungkan dan memikirkan (terlebih dahulu), padahal ia memiliki pengetahuan yang luas” (Kementrian Wakaf dan Urusan Keagamaan Kuwait, Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, juz 14, hal. 229).

Berdasarkan hal tersebut, maka tidak dikategorikan sebagai “lupa” bagi orang yang tidak termasuk dalam kategori di atas. Misalnya seperti orang yang makan karena menyangka sudah maghrib berdasarkan informasi yang keliru, maka puasanya dihukumi batal, sebab dalam hal ini ia tidak tepat jika dikatakan sebagai “orang yang lupa” tapi lebih karena keteledorannya dalam menggali informasi tentang waktu maghrib hingga memunculkan prasangka yang salah.

Baca juga:
Berbuka karena Menyangka Sudah Maghrib, Puasa Batal?
Delapan Hal yang Membatalkan Puasa
Namun, makan dan minum dalam keadaan lupa akan menyebabkan batalnya puasa ketika makanan atau minuman yang dikonsumsi telah mencapai jumlah yang banyak. Hal ini dikarenakan, makan dalam keadaan lupa dalam jumlah banyak saat puasa adalah hal yang sangat jarang terjadi, bahkan bisa disebut hal yang langka. Sebab pada umumnya, orang yang berpuasa ketika makan dalam keadaan lupa, tidak berselang lama ingatannya bahwa “dia sedang puasa” akan muncul. Ketentuan ini misalnya dijelaskan dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj:

ـ (وإن أكل ناسيا لم يفطرإلا أن يكثر في الأصح) لندرة النسيان حينئذ

“Jika seseorang makan dalam keadaan lupa, maka puasanya tidak batal, kecuali ketika yang dimakan banyak (maka dapat membatalkan) menurut qaul ashah, karena lupa sampai makan dalam jumlah banyak adalah hal yang langka” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz 13, hal. 348).

Dalam referensi lain dijelaskan bahwa alasan batalnya puasa bagi orang yang makan dalam keadaan lupa adalah karena hal demikian mudah untuk dijaga agar tidak terjadi. Sedangkan makanan yang dianggap hitungan “banyak” menurut sebagian ulama dibatasi dengan mengonsumsi makanan sebanyak tiga suapan atau lebih. Hal ini seperti penjelasan Syekh Zakariya al-Anshari:

 ـ (و) بطل بالأكل (كثيرا) ثلاث لقم فأكثر (ناسيا) لسهولة التحرز عنه غالبا كبطلان الصلاة بالكلام الكثير ناسيا وهذا ما صححه الرافعي وصحح النووي مقابله لعموم خبر من نسي السابق

“Puasa menjadi batal sebab makan dengan jumlah yang banyak dalam keadaan lupa, misalnya tiga kali suapan atau lebih. Batalnya puasa ini dikarenakan mudahnya menjaga atas kejadian demikian secara umum, sama seperti batalnya shalat sebab berbicara dengan perkataan yang banyak. Pendapat ini merupakan pendapat yang dishahihkan oleh Imam ar-Rafi’i, sedangkan Imam a-An-Nawawi berpandangan sebaliknya (tidak batal), berdasarkan keumuman hadits yang menjelaskan orang yang lupa (puasa) yang telah dijelaskan terdahulu” (Syekh Zakariya al-Anshari, Syarh al-Bahjah al-Wardiyah, juz 7, hal. 58).

Namun batasan tersebut sempat disangsikan oleh sebagian ulama, karena tiga suapan menurut mereka masih dalam jumlah yang sedikit. Meski akhirnya terjawab kembali bahwa alasan membatasi dengan tiga suapan karena mengunyah tiga suapan membutuhkan waktu yang cukup lama, sehingga sangat memungkinkan orang untuk mengingat bahwa dirinya sedang berpuasa. Simak ulasan dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj berikut:

وضبط في الأنوار الكثير بثلاث لقم وفيه نظر فقد ضبطوا القليل ثم بثلاث كلمات وأربع
ـ (قوله وفيه نظر فقد ضبطوا إلخ) قد يفرق بأن الثلاث اللقم تستدعي زمنا طويلا في مضغهن 

“Dalam kitab al-Anwar ulama membatasi ‘jumlah banyak’ dengan tiga kali suapan. Namun hal demikian perlu ditinjau ulang, sebab para ulama membatasi ‘sedikit’ dalam pembahasan berbicara ketika shalat dengan tiga sampai empat kalimat. Namun bisa juga dibedakan (antara permasalahan makan karena lupa saat puasa dan berbicara ketika shalat) bahwa tiga suapan membutuhkan waktu yang cukup lama dalam mengunyahnya” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz 13, hal. 348).

Ketika permasalahan ini kita tarik dalam membatasi “minuman yang banyak” maka dapat di-ilhaq-kan (disamakan) sekiranya minuman yang diminum dalam keadaan lupa telah terlewat waktu yang cukup lama, seperti waktu yang dibutuhkan dalam mengunyah tiga suap makanan. 

Meski para ulama menghukumi batal bagi orang yang lupa makan dalam jumlah banyak, tapi tetap tidak bisa dipungkiri bahwa dalam permasalahan ini terdapat ulama yang berpandangan bahwa makan dalam jumlah banyak dalam keadaan lupa tidak sampai membatalkan puasa, dengan berpijak pada makna umum dari nash hadits. Pendapat ini misalnya seperti yang dikemukakan oleh Imam an-Nawawi. 

Sehingga dapat disimpulkan bahwa makan dan minum dalam keadaan lupa tidak sampai membatalkan puasa, ketika makanan dan minuman yang dikonsumsi hanya sedikit. Sedangkan ketika jumlah makanan dan minuman yang telah dikonsumsi dalam jumlah yang banyak, seperti tiga suapan misalnya, maka dalam hal ini para ulama berbeda pendapat, sebagian berpandangan tetap sahnya puasa, sedangkan ulama lain menghukumi batal puasanya. Dua pendapat ini sama-sama bisa kita amalkan selaku penganut mazhab Syafi’i.

Maka sebaiknya bagi orang yang menjalankan puasa agar menata niat dalam menjalankan ibadah puasa dan melaksanakannya dengan sungguh-sungguh. Jika ia tidak sengaja melakukan sesuatu yang membatalkan puasa, seperti makan dan minum misalnya, maka ketika telah ingat kembali, agar secepatnya beristighfar dan membersihkan sisa-sisa makanan dan minuman yang terselip dalam mulut, agar tidak ada bagian dari makanan dan minuman yang tertelan, hingga dapat membatalkan puasanya. Wallahu a’lam


Ustadz M. Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah Kaliwining Rambipuji Jember 

Senin 20 Mei 2019 7:45 WIB
Sejarah, Hukum, dan Praktik Tarawih
Sejarah, Hukum, dan Praktik Tarawih
Ilustrasi (4to40.com)

Shalat tarawih merupakan salah satu praktik untuk menghidupkan malam Ramadhan (qiyamu Ramadhan). Ibadah ini memiliki keutamaan-keutamaan yang memang ditemukan landasannya dari hadits Rasulullah. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa ibadah (tarawih) di bulan Ramadhan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yang telah lampau” (HR al-Bukhari, Muslim, dan lainnya).


Hukum Shalat Tarawih

Shalat tarawih adalah shalat khusus pada malam bulan Ramadhan yang dilaksanakan setelah shalat Isya’ dan sebelum shalat witir. Hukum melaksanakan shalat tarawih adalah sunnah bagi kaum laki-laki dan perempuan, di antaranya berdasarkan hadits yang disebutkan di atas.

Anjuran shalat tarawih juga tertuang dalam hadits lain dengan redaksi yang berbeda:


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرَغِّبُ فِي قِيَامِ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَأْمُرَهُمْ فِيهِ بِعَزِيمَةٍ فَيَقُولُ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ 

Artinya: “Dari Abi Hurairah radliyallahu 'anh Rasulullah gemar menghidupkan bulan Ramadhan dengan anjuran yang tidak keras. Beliau berkata: ‘Barangsiapa yang melakukan ibadah (shalat tarawih) di bulan Ramadhan hanya karena iman dan mengharapkan ridha dari Allah, maka baginya di ampuni dosa-dosanya yang telah lewat” (HR Muslim).

Ulama sepakat bahwa redaksi “qâma ramadlâna” di dalam hadits tersebut mengacu pada makna shalat tarawih. Meskipun, ulama berbeda pendapat mengenai dosa jenis apakah yang diampuni dalam hadits tersebut. Ikhtilaf di antara mereka juga terjadi dalam hadits-hadits serupa. Menurut al-Imam al-Haramain, yang diampuni hanya dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar hanya bisa diampuni dengan cara bertobat. Sementara menurut Imam Ibnu al-Mundzir, redaksi “” (dosa) dalam hadits tersebut termasuk kategori lafadh ‘âm (kata umum) yang berarti mencakup segala dosa, baik kecil atau besar.

Baca: Dalil dan Keutamaan Shalat Tarawih

Sejarah Shalat Tarawih

Shalat tarawih adalah shalat yang dilakukan hanya pada bulan Ramadhan, dan shalat tarawih ini dikerjakan Nabi pada tanggal 23 Ramadhan tahun kedua hijriah. Rasulullah pada masa itu mengerjakannya tidak selalu di masjid, melainkan kadang di rumah. Sebagaimana dijelaskan dalam hadist:


عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنْ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ (رواه البخاري ومسلم)

Artinya: “Dari ‘Aisyah Ummil Mu’minin radliyallahu ‘anha, sesungguhnya Rasulullah pada suatu malam shalat di masjid, lalu banyak orang shalat mengikuti beliau. Pada hari ketiga atau keempat, jamaah sudah berkumpul (menunggu Nabi) tapi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam justru tidak keluar menemui mereka. Pagi harinya beliau bersabda, 'Sunguh aku lihat apa yang kalian perbuat tadi malam. Tapi aku tidak datang ke masjid karena aku takut sekali bila shalat ini diwajibkan pada kalian.” Sayyidah ‘Aisyah berkata, 'Hal itu terjadi pada bulan Ramadhan’.” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadist ini menerangkan bahwa Nabi Muhammad memang pernah melaksanakan shalat tarawih pada malam awal-awal bulan Ramadhan. Hingga akhirnya, saat melihat antusiasme yang begitu tinggi dari sahabat-sahabat beliau, Nabi justru mengurungkan niatnya datang ke masjid pada hari ketiga atau keempat. Pertama, bisa jadi karena beliau khawatir, sewaktu-waktu Allah menurunkan wahyu yang mewajibkan shalat tarawih kepada umatnya. Tentu hal tersebut bakal memberatkan umat generasi berikutnya yang belum tentu memiliki semangat yang sama dengan para sahabat Nabi itu.

Kedua, mungkin beliau takut timbulnya salah persepsi di kalangan umat bahwa shalat tarawih wajib karena merupakan perbuatan baik yang tak pernah ditinggalkan Rasulullah. Sebagaimana keterangan dalam Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari:


أَنَّهُ إِذَا وَاظَبَ عَلَى شَيْء مِنْ أَعْمَال الْبِرّ وَاقْتَدَى النَّاس بِهِ فِيهِ أَنَّهُ يُفْرَض عَلَيْهِمْ

Artinya: “Sesungguhnya Nabi ketika menekuni suatu amal kebaikan dan diikuti umatnya, maka perkara tersebut telah diwajibkan atas umatnya.”

Langkah tersebut menunjukkan betapa bijaksana dan sangat sayangnya Nabi kepada umatnya. Pada hadist di atas dapat ditarik kesimpulan: (1) Nabi melaksanakan shalat tarawih berjamaah di masjid hanya dua malam. Dan beliau tidak hadir melaksanakan shalat tarawih bersama-sama di masjid karena takut atau khawatir shalat tarawih akan diwajibkan kepada umatnya. (2) Shalat tarawih hukumnya adalah sunnah, karena sangat digemari oleh Rasulullah dan beliau mengajak orang-orang untuk mengerjakannya. (3) Dalam hadist di atas tidak ada penyebutan bilangan rakaat dan ketentuan rakaat shalat tarawih secara rinci.


Shalat Tarawih pada Masa Abu Bakar dan Umar

Shalat tarawih adalah bagian dari shalat sunnah mu’akkadadah (shalat sunnah yang sangat dianjurkan). Jumlah rakaat shalat tarawih adalah 20 rakaat tanpa witir, sebagaimana yang telah dikerjakan Sayyidina Umar bin Khattab dan mayoritas sahabat lainnya yang sudah disepakati oleh umatnya. Kesepakatan itu datang dari mayoritas ulama salaf dan khalaf, mulai masa sahabat Umar sampai sekarang ini, bahkan ini sudah menjadi ijma’ sahabat dan semua ulama mazhab: Syafi’i, Hanafi, Hanbali, dan mayoritas mazhab Maliki. Di kalangan mazhab Maliki masih ada ikhtilaf (perbedaan pendapat), antara 20 rakaat dan 36 rakaat, berdasar hadist riwayat Imam Malik bin Anas radliyallahu ‘anh bahwa Imam Darul Hijrah Madinah berpendapat shalat tarawih itu lebih dari 20 rakaat sampai 36 rakaat: “Saya dapati orang-orang melakukan ibadah malam di bulan Ramadhan, yakni shalat tarawih, dengan tiga puluh sembilan rakaat—yang tiga adalah shalat witir.”

Imam Malik sendiri memilih 8 rakaat tapi mayorits Malikiyah sesuai dengan pendapat mayoritas Syafi’iyyah, Hanabilah, dan Hanafiyyah yang sepakat bahwa shalat tarawih adalah 20 rakaat, hal ini merupakan pendapat yang lebih kuat dan sempurna ijma’-nya.


Baca: Mengapa Jumlah Rakaat Tarawih Berbeda-beda? Ini Penjelasannya

Umat Islam pada masa Khalifah Abu Bakar radliyallahu ‘anh melaksanakan shalat tarawih secara sendiri-sendiri (munfarid) atau berkelompok tiga, empat, atau enam orang. Saat itu belum ada shalat tarawih berjamaah dengan satu imam di masjid. Ketetapan tentang jumlah rakaat shalat tarawih pun belum tertuang secara jelas. Para shahabat ada yang melaksanakan shalat 8 rakaat kemudian menyempurnakan di rumahnya seperti pada keterangan di awal.

Shalat tarawih berubah keadaannya ketika Umar bin Khattab berinisatif untuk menggelarnya secara berjamaah, setelah menyaksikan umat Islam shalat tarawih yang tampak tak kompak, sebagian shalat secara sendiri-sendiri, sebagian lain berjamaah. Sebuah hadits shahih memaparkan:


عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ: خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ إِنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلاَةِ قَارِئِهِمْ قَالَ عُمَرُ نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ 

Artinya: “Dari ‘Abdirrahman bin ‘Abdil Qari’, beliau berkata: ‘Saya keluar bersama Sayyidina Umar bin Khattab radliyallahu ‘anh ke masjid pada bulan Ramadhan. (Didapati dalam masjid tersebut) orang yang shalat tarawih berbeda-beda. Ada yang shalat sendiri-sendiri dan ada juga yang shalat berjamaah. Lalu Sayyidina Umar berkata: ‘Saya punya pendapat andai mereka aku kumpulkan dalam jamaah satu imam, niscaya itu lebih bagus.” Lalu beliau mengumpulkan kepada mereka dengan seorang imam, yakni sahabat Ubay bin Ka’ab. Kemudian satu malam berikutnya, kami datang lagi ke masjid. Orang-orang sudah melaksanakan shalat tarawih dengan berjamaah di belakang satu imam. Umar berkata, ‘Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini (shalat tarawih dengan berjamaah),” (HR Bukhari).

Hal ini juga ditopang oleh hadits lainnya:

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا النَّاسُ فِي رَمَضَانَ يُصَلُّونَ فِي نَاحِيَةِ الْمَسْجِدِ فَقَالَ مَا هَؤُلَاءِ ؟ فَقِيلَ: هَؤُلَاءِ نَاسٌ لَيْسَ مَعَهُمْ قُرْآنٌ وَأُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ يُصَلِّي وَهُمْ يُصَلُّونَ بِصَلَاتِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصَابُوا وَنِعْمَ مَا صَنَعُوا 

Artinya: “Dari Abi Hurairah radliyallahu ‘anh, beliau berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dan melihat banyak orang yang melakukan shalat di bulan Ramadhan (tarawih) di sudut masjid. Beliau bertanya, ‘Siapa mereka?’ Kemudian dijawab, ‘Mereka adalah orang-orang yang tidak mempunyai Al-Qur’an (tidak bisa menghafal atau tidak hafal Al-Qur’an). Dan sahabat Ubay bin Ka’ab pun shalat mengimami mereka, lalu Nabi berkata, ‘Mereka itu benar, dan sebaik-baik perbuatan adalah yang mereka lakukan,” (HR Abu Dawud).


Dari sini sudah sangat jelas bahwa pertama kali orang yang mengumpulkan para sahabat untuk melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah adalah Sayyidina Umar bin Khattab, salah satu sahabat terdekat Nabi. Jamaah shalat tarawih pada waktu itu dilakukan dengan jumlah 20 rakaat. Sebagaimana keterangan:


عَنْ يَزِيدَ بْنِ رُومَانَ قَالَ: كَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ فِي زَمَنِ عُمَرَرضي الله عنه فِي رَمَضَانَ بِثَلاَثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً 

“Dari Yazid bin Ruman telah berkata, ‘Manusia senantiasa melaksanakan shalat pada masa Umar radliyallahu ‘anh di bulan Ramadhan sebanyak 23 rakaat (20 rakaat tarawih, disambung 3 rakaat witir),” (HR Malik).

Bukti lain dari keterangan tersebut adalah hadist yang diriwayatkan Sa’ib bin Yazid:


عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ: كَانُوا يَقُومُونَ عَلَى عَهْدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ بِعِشْرِينَ رَكْعَةً (رواه البيهقي وَصَحَّحَ إِسْنَادَهُ النَّوَوِيُّ وَغَيْرُهُ) ـ 

Artinya: “Dari Sa’ib bin Yazid, ia berkata, ‘Para sahabat melaksanakan shalat (tarawih) pada masa Umar ra di bulan Ramadhan sebanyak 20 rakaat,” (HR. Al-Baihaqi, sanadnya dishahihkan oleh Imam Nawawi dan lainnya).

Dua dalil di atas cukup menjelaskan bahwa pendapat terkuat soal jumlah rakaat shalat tarawih adalah 20 rakaat. Apa yang diinisiasi Sayyidina Umar bin Khattab tak hanya disetujui tapi juga dipraktikkan para sahabat Nabi yang lain kala itu, termasuk Sayyidah Aisyah, istri Baginda Nabi. Hal ini mempertegas ijma’ (konsensus) sahabat karena tiada satu orang pun yang mengingkari atau menentang. Tak heran, bila para ulama empat mazhab atau mazhab lainnya pun mayoritas memilih pendapat ini.

Inisiatif Sayyidina Umar yang kemudian diikuti para sahabat dan ulama setelahnya adalah sangat wajar bila kita menengok sabda Nabi:


أَنَّ رَسُولَ اللهِ قَالَ إِنَّ اللهَ جَعَلَ الْحَقَّ عَلَى لِسَانِ عُمَرَ وَقَلْبِهِ

Artinya: “Sesungguhnya Allah telah menjadikan kebenaran melalui lisan dan hati umar.” (HR. Turmudzi).

Hadits tersebut menunjukkan kredibilitas Sayyidina Umar yang mendapat “stempel” langsung dari Rasulullah, sehingga mustahil beliau berbuat penyimpangan, apalagi dalam hal ibadah. Penjelasan yang lain adalah hadits berikut:


وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِي عُضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ (أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُدَ وَابْنُ مَاجَهْ وَالتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ وَقَالَ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ) ـ

Artinya: “Dan sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Ikutilah sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan pentunjuk setelah aku meninggal, maka berpegang teguhlah padanya dengan erat.”


Hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:


عَنْ حُذَيْفَةُ هُوَ الَّذِي يَرْوِي عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِقْتَدُوا بِاَللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ ( أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ حَسَنٌ)ـ 


Artinya: “Dari Hudzaifah radliyallahu ‘anh, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ikutilah dua orang setelahku, yakni Abu Bakar dan Umar,” (HR Turmudzi).


Shalat Tarawih Menurut Pandangan Ulama


فَذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ – مِنْ الْحَنَفِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ وَبَعْضِ الْمَالِكِيَّةِ إلَى أَنَّ التَّرَاوِيحَ عِشْرُونَ رَكْعَةً لِمَا رَوَاهُ مَالِكٌ عَنْ يَزِيدَ بْنِ رُومَانَ وَالْبَيْهَقِيُّ عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ مِنْ قِيَامِ النَّاسِ فِي زَمَانِ عُمَرَ رضي الله تعالى عنه بِعِشْرِينَ رَكْعَةً وَجَمَعَ عُمَرُ النَّاسَ عَلَى هَذَا الْعَدَدِ مِنْ الرَّكَعَاتِ جَمْعًا مُسْتَمِرًّا قَالَ الْكَاسَانِيُّ: جَمَعَ عُمَرُ أَصْحَابَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي شَهْرِ رَمَضَانَ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ رضي الله تعالى عنه فَصَلَّى بِهِمْ عِشْرِينَ رَكْعَةً وَلَمْ يُنْكِرْ عَلَيْهِ أَحَدٌ فَيَكُونُ إجْمَاعًا مِنْهُمْ عَلَى ذَلِكَ. وَقَالَ الدُّسُوقِيُّ وَغَيْرُهُ: كَانَ عَلَيْهِ عَمَلُ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ. وَقَالَ ابْنُ عَابِدِينَ: عَلَيْهِ عَمَلُ النَّاسِ شَرْقًا وَغَرْبًا. وَقَالَ عَلِيٌّ السَّنْهُورِيُّ: هُوَ الَّذِي عَلَيْهِ عَمَلُ النَّاسِ وَاسْتَمَرَّ إلَى زَمَانِنَا فِي سَائِرِ الْأَمْصَارِ وَقَالَ الْحَنَابِلَةُ: وَهَذَا فِي مَظِنَّةِ الشُّهْرَةِ بِحَضْرَةِ الصَّحَابَةِ فَكَانَ إجْمَاعًا وَالنُّصُوصُ فِي ذَلِكَ كَثِيرَةٌ. (الموسوعة الفقهية . ج ٢٧ ص ١٤٢) ـ


Artinya: “Menurut pendapat jumhur (mayoritas ulama Hanafiyah, Syafi’iyah, Hanabilah, dan sebagian Malikiyah), shalat tarawih adalah 20 rakaat berdasar hadist yang telah diriwayatkan Malik bin Yazid bin Ruman dan Imam al-Baihaqi dari Sa’ib bin Yazid tentang shalatnya umat Islam di masa Sayyidina Umar bin Khattab radliyallahu ‘anh, yakni 20 rakaat. Umar mengumpulkan orang-orang untuk melakukan tarawih 20 rakaat secara berjamaah dan masih berlangsung hingga sekarang. Imam al-Kasani berkata, ‘Umar telah mengumpulkan para sahabat Rasulullah, lantas Ubay bin Ka’ab mengimami mereka shalat 20 rakaat, dan tidak ada satu orang pun yang mengingkarinya, maka hal itu sudah menjadi ijma’ (kesepakatan) mereka.’ 

Imam Ad-Dasukyi dan lainnya berkata, ‘Itulah yang dilakukan para sahabat dan tabi’in.’ Imam Ibnu ‘Abidin berkata, ‘Itulah yang dilakukan orang-orang mulai dari bumi timur sampai bumi barat.’ ‘Ali As-Sanhuri berkata, ‘Itulah yang dilakukan orang-orang sejak dulu sampai masaku dan masa yang akan datang selamanya.’ Para ulama mazhab Hanbali mengatakan, ‘Hal sudah menjadi keyakinan yang masyhur di masa para sahabat, maka ini merupakan ijma’ dan banyak dalil-dalil nash yang menjelaskannya.’” (Mausû’ah Fiqhiyyah, juz 27, h. 142) 


Dari keterangan yang terdapat dalam kitab Tashhih Hadits Shalah at-Tarawih Isyrina Rak‘atan, Imam Ibnu Taimiyyah juga sepakat dan berpendapat bahwa rakaat shalat tarawih 20 rakaat, dan beliau menfatwakan sebagaimana berikut, “Telah terbukti bahwa sahabat Ubay bin Ka’ab mengerjakan shalat Ramadhan bersama-sama orang lainnya pada waktu itu sebanyak 20 rakaat, lalu mengerjakan witir 3 rakaat, kemudian mayoritas ulama mengatakan bahwa itu adalah sunnah. Karena pekerjaan itu dilaksanakan di tengah-tengah kaum Muhajiriin dan Anshor, dan tidak ada satu pun di antara mereka yang menentang atau melanggar perbuatan itu”. Dalam kitab Majmu’ Fatawyi Al-Najdiyyah diterangakan tentang jawaban Syekh ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdil Wahab tentang bilangan rakaat shalat tarawih. Ia mengatakan bahwa setelah sahabat Umar mengumpulkan manusia untuk melaksanakan shalat berjamaah kepada sahabat Ubay bin Ka’ab, maka shalat yang mereka lakukan adalah 20 rakaat”.

Praktik Shalat Tarawih dan Witir

Secara umum tak ada perbedaan antara shalat tarawih dan shalat sunnah lainnya, kecuali ia harus dilakukan setelah shalat Isya’ dan pada bulan Ramadhan. Shalat tarawih dianjurkan dilaksanakan secara berjamaah, meskipun bagi yang uzur memenuhi keutamaan ini bisa menunaikannya secara sendirian (munfarid).

Tak ada berbedaan soal rukun-rukun antara shalat tarawih, shalat witir, dan shalat fardhu. Keharusan membaca surat-surat tertentu setelah al-Fatihah pun tidak ada. Orang yang shalat tarawih atau witir dipersilakan memilih surat dan ayat mana saja, meskipun tentu saja surat atau ayat yang lebih panjang lebih utama. Sebagian ulama merekomendasikan surat-surat tertentu untuk dibaca.

Baca juga:
Tata Cara Shalat Tarawih Sendiri
Bacaan Surat Al-Qur’an dalam Shalat Tarawih
Bacaan Surat Al-Qur’an dalam Shalat Witir

Mungkin yang khas dijumpai pada malam Ramadhan adalah doa yang dipanjatkan masyarakat Muslim Tanah Air selepas shalat tarawih. Doa tersebut biasa dikenal dengan nama “doa kamilin”. Kata “kâmilîn” berarti orang-orang yang sempurna. Nama ini diambil dari redaksi pertama doa tersebut yang memohon kesempurnaan iman kepada Allah. Doa ini dipraktikkan para ulama di mana-mana melalui rantai ijazah (sanad amalan) yang jelas.


Baca:
Doa Kamilin, Dibaca Sesudah Shalat Tarawih
Susunan Wirid dan Doa Setelah Shalat Witir
Bacaan Bilal dan Jawabannya dalam Tarawih

Shalat tarawih dan witir menjadi istimewa bukan hanya karena dilaksanakan pada bulan suci Ramadhan, tapi juga lantaran keduanya dilakukan pada malam hari. Dalam Islam, di sela Ramadhan dikenal peristiwa lailatul qadar atau malam yang disebut lebih baik dari seribu bulan. Artinya, pelaksanaan shalat tarawih dan witir, juga ibadah-ibadah lain di malam Ramadhan, merupakan kesempatan untuk meraup berlipat pahala, keutamaan dan keberkahan. Semoga kita semua dapat istiqamah menjalankannya. Wallahu a’lam bish shawab.



:::

Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online 23 Juli 2012 19:12, ditulis oleh KH Abdul Nashir Fattah, Rais Syuriyah PCNU Jombang. Redaksi menayangkan ulang pada Ramadhan kali dengan sejumlah penyuntingan dan penambahan, terutama di bagian praktik shalat tarawih dan witir. (Red: Mahbib)