IMG-LOGO
Hikmah

Senyum dan Acungan Dua Jempol Istriku Menjelang Sahur

Rabu 22 Mei 2019 02:00 WIB
Senyum dan Acungan Dua Jempol Istriku Menjelang Sahur
Tepat pukul 01.50 aku terbangun pagi dini hari itu. Aku segera ke kamar mandi untuk berwudhu. Aku tak ingin kembali tidur. Aku ingin beraktivitas menyiapkan makan sahur. Aku ingin sebelum istriku bangun, di meja makan sudah siap dengan segala sesuatu yang kami perlukan untuk sahur keluarga. Hari itu adalah hari terakhir bersama istri di Solo karena besok lusa sang bojo sudah mudik ke desanya di Majenang Cilacap. 

Kami sehari-hari memang saling memanggil “Jo” (dari kata ‘bojo’) karena kami adalah suami istri. Ini tidak berbeda halnya dengan seorang anak memanggil ibunya “Ibu”, dan “Bapak” untuk memanggil ayahnya. Kami orang Jawa. Dengan saling memanggil “Jo”, kami selalu diingatkan akan hak dan kewajiban masing-masing. “Jo” adalah penegasan kesetaraan di antara kami. 

Pada pukul 02.30, aku mulai klethekan di dapur. Aku ambil cangkir stainless steel yang agak besar. Aku akan buat teh ginasthel yang telah menjadi kesukaan seluruh keluarga. Kompor gas mulai aku nyalakan. 

Setelah cem-ceman teh siap, aku ambil 3 gelas berukuran agak besar. Aku tuangkan gula pasir ke dalamnya. Berikutnya teh kenthelan aku masukkan secukupnya. Air panas dari termos belum aku tuangkan. Aku akan menuangkannya setelah lauk untuk sahur sudah siap. Ini untuk menjamin teh masih panas ketika akan diminum. 

Dari urusan soal minuman, aku beralih ke lauk. Aku lihat persediaan lauk tidak cukup untuk keluarga. Hanya ada 2 buah martabak dan 1 potong paha ayam goreng yang keadaannya sudah tidak menarik. Aku khawatir anak-anak kurang berselera dengan menu yang ada. Aku putuskan untuk membuat mie goreng 2 bungkus saja. Aku buka kemasannya. Terdengar “kemresek” banget dan pasti bisa mengganggu yang masih tidur. Maklum hari masih dini. Dua piring yang aku siapkan untuk mie goreng pun juga menambah suara gaduh di dapur. 

Menyadari kegaduhan itu, aku mulai pelan-pelan dalam menata peralatan dapur. Aku tidak ingin istriku terbangun karena kegaduhan itu. Aku ingin dia bangun dan keluar dari kamar tidur setelah segala sesuatunya siap di meja makan. Itu artinya kegiatanku menyiapkan sahur untuk keluarga harus sudah selesai sebelum pukul 03.00. Pada jam ini istriku pasti akan bangun setelah alarm di ponselnya berbunyi. 

Sementara itu, jam di dinding telah menunjukkan pukul 02.55. Artinya 5 menit kemudian alarm di ponsel istriku akan membuat istriku segera bangun. Pada saat ini menu sahur sudah siap di meja makan. 

Di sana sudah tersaji 2 piring mie goreng; satu cething berukuran sedang berisi nasi putih; 1 piring berisi 2 buah martabak, sebungkus krupuk udang dan sepotong paha ayam goreng; 2 botol sambal sambal kecap dan bangkok; 3 gelas teh ginasthel; setumpuk piring bersih berjumlah 4 buah; 1 piring berisi beberapa sendok dan garpu; segulung tisu, dan 3 botol air mineral tanggung. Jumlah gelas dan botol air mineral memang aku siapkan hanya 3 sebab istriku suka gabung. Terkadang sama aku, kadang pula sama anak-anak.  

Tepat pukul 03.00 aku sudah bersiap diri di meja makan. Sengaja aku arahkan pandanganku ke pintu kamar di mana istriku tidur. Dari situ istriku pasti akan keluar setelah didengarnya alarm di ponselnya. Aku ingin menyaksikan bagaimana wajah ibu bagi kedua anakku saat dilihatnya di meja makan sudah tersaji hidangan makan sahur untuk keluarga, di saat mana kedua matanya masih kriyip-kriyip, rambutnya dhowal dhawul, dasternya acak-acakan, mulutnya terasa pahit, bibirnya masih kaku, kesadaranya belum utuh, langkahnya pun gontai. Hanya satu yang aku tunggu, bisakah dia tersenyum di saat seperti itu. 

“Hmmm...,“ istriku tersenyum lucu sekali dengan menatapku sambil diacungkan kedua jempolnya kepadaku.    

*** 

Itulah ringkasan cerita kegiatan sahur di keluargku lima tahun lalu, atau tepatnya pada 22 Ramadhan 1435 H/20 Juli 2014. Cerita itu kami rekam dalam sebuah buku catatan harian berjudul “Dari Sahur ke Sahur; Catatan Harian Seorang Suami” (2016).

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda sebagai berikut:

 خيركم خيركم لأهله، وأنا خيركم لأهلي 

“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik sikapnya terhadap keluarga. Dan aku adalah yang terbaik diantara kalian terhadap keluargaku.”

Dalam hadits lain yang diriwayatkan dari Al-Aswad radhiallahu anhu diceritakan sebagai berikut: 

سألت عائشة ما كان النبي صلى الله عليه وسلم يصنع في أهله قالت كان في مهنة أهله فإذا حضرت الصلاة قام إلى الصلاة

Artinya, “Aku pernah bertanya kepada Aisyah: Apa yang dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam di rumahnya? Aisyah berkata: Beliau membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, maka apabila telah masuk waktu shalat beliau keluar untuk shalat.” (HR. Al-Bukhari)

Kedua hadits itu merupakan sebagian dari banyak hadits yang telah menginspirasi saya untuk melayani istri dan anak-anak sebagaimana kisah di atas. Jika ada kesan romantis di dalamnya, itupun tak salah karena Rasulullah sendiri sering berlaku romantis terhadap istri-istri beliau seperti mencium, minum dan makan dengan wadah yang sama (sepiring berdua), bersikap lembut dan sebagainya. 


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.


======
NU Online mengajak kepada pembaca semua untuk berbagi kisah inspiratif penuh hikmah baik tentang diri sendiri atau orang lain. Silakan kirim ke email: redaksi@nu.or.id

Tags:
Share: