IMG-LOGO
Hikmah

Bekas Hitam di Punggung Sayyidina Ali Zainal Abidin

Rabu 22 Mei 2019 20:0 WIB
Share:
Bekas Hitam di Punggung Sayyidina Ali Zainal Abidin
Dalam kitab al-Bidâyah wa al-Nihâyah, Imam Ibnu Katsir mencatat riwayat tentang Sayyidina Ali bin Husein yang memiliki bekas hitam di pundaknya. Berikut riwayatnya:

وَقَالَ الطَّبَرَانِيُّ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الخضري، حدَّثنا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عن عمر بن حارث, قال: لما مات علي بن الحسين فغسلوه جعلوا ينظرون إلى آثار سواد في ظهره, فقالوا: ما هذا؟ فقيل: كان يحمل جُرُب الدقيق ليلاً على ظهره يعطيه فقراء أهل المدينة

Al-Thabrani berkata: Muhammad bin Abdullah al-Khudlri bercerita kepadaku, Utsman bin Abi Syaibah bercerita, Jarir bercerita, dari Umar bin Harits, ia berkata:

Ketika Ali bin al-Husein wafat, orang-orang memandikan (jenazah)nya. Mereka (kaget) melihat bekas hitam di pungguhnya. Mereka bertanya: “Bekas apa ini?”

Seseorang menjawab: “Ia memanggul sekarung tepung (setiap) malam di punggungnya untuk diberikan kepada fakir miskin di Madinah.” (Imam Ibnu Katsir, al-Bidâyah wa al-Nihâyah, Beirut: Dar al-Ihya’ li al-Turats, 1988, juz 2, h. 133)

****

Nama lengkapnya adalah Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muttalib bin Hasyim bin Abdi Manaf. Ia merupakan cicit Rasulullah dari Sayyidah Fatimah. Ia satu-satunya anak laki-laki Sayyidina Husein yang selamat. Ketika pembantaian Karbala terjadi, ia masih berusia tiga belas tahun. Ia tidak dibunuh karena sedang sakit (yauma’idzin mauku’an falam yuqâtal). Banyak generasi salaf yang mengambil hadits darinya seperti Abu Salamah dan Thawus. (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubalâ’, Beirut: Muassasah al-Risalah, 2001, juz 4, h. 387-388)

Para ulama salaf sangat menghormatinya. Mereka memuji kualitas diri dan keilmuannya. Imam al-Zuhri (50-124 H) mengatakan, “mâ ra’aytu quraisyan afdlal min ‘Ali bin al-Husein” (aku tidak melihat orang Quraisy yang lebih baik dari Ali bin al-Husein). Maksudnya suku Quraisy di masa Imam al-Zuhri hidup, bukan suku Quraisy dari masa sebelumnya. Imam Malik bin Anas (93-179 H) berkata, “lam yakun fi ahlil bait mitsluh” (tidak ada di kalangan ahlul bait yang sepertinya). Imam al-Zuhri di waktu lain berkata, “wa mâ ra’aytu ahadan kâna afqah minhu” (aku tidak melihat seorang pun yang lebih paham [agama] darinya) (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubalâ’, 2001, juz 4, h. 387-390).

Membaca riwayat di atas, aktivitas “memberi” Sayyidina Ali Zainal Abidin (38-95 H) dilakukan di setiap malam. Hal ini bisa dipahami dalam dua sudut pandang. Pertama, karena ia tidak ingin kebaikannya diketahui banyak orang, dan kedua, untuk merahasiakan orang-orang yang diberi olehnya. Karena memberi di depan umum terkadang membuat perasaan yang diberi tidak nyaman.

Dalam banyak riwayat, Sayyidina Ali Zainal Abidin selalu merahasiakan pemberiannya, bahkan orang yang diberi pun tidak mengetahui siapa yang memberinya. Setelah kewafatannya, banyak kabar yang menyebar tentangnya di Madinah. Mereka saling berkata:
ما فقدنا صدقة السر حتى مات علي بن الحسين

“Kami tidak kehilangan sedekah rahasia (sembunyi-sembunyi) hingga Ali bin al-Husain wafat.” (Imam Ibnu Katsir, al-Bidâyah wa al-Nihâyah, 1988, juz 2, h. 133)

Artinya, banyak penduduk Madinah yang pernah mendapatkan sedekah rahasia dari Sayyidina Ali Zainal Abidin. Tiba-tiba barang atau uang yang dibutuhkan berada di depan rumahnya. Awalnya mereka tidak tahu, siapa yang memberikan itu. Tapi setelah Sayyidina Ali Zainal Abidin wafat, mereka tak pernah lagi menerima sedekah rahasia. Akhirnya mereka tahu bahwa Sayyidina Ali Zainal Abidin lah yang selama ini memenuhi kebutuhan mereka.

Bekas hitam di punggungnya adalah bukti kegemarannya merahasiakan sedekah. Ia tidak mau menyuruh murid atau pembantunya untuk mengantarkan sedekahnya. Ia meminggulnya sendiri dan mengantarnya ke rumah orang yang membutuhkan. Artinya, ia sedang berusaha merahasiakan aktivitas malamnya dari keluarga, teman, murid dan para pembantunya. Namun, karena aktivitas bersedekah itu dilakukan hampir setiap hari, lama-kelamaan mereka mengetahuinya. Sebelumnya banyak yang menuduhnya bakhil, termasuk keluarganya sendiri. Dalam sebuah riwayat dikatakan:

وقال شيبة بن نعامة: لما مات علي وجدوه يعول مائة أهل بيت, قلت: لهذا كان يبخل، فإنه ينفق سرا ويظن أهله أنه يجمع الدراهم

“Syaibah bin Nu’amah berkata: ‘Ketika Ali (Zainal Abidin) wafat, yang berduka (sekitar) seratus ahlu baitnya (keluarganya).’ Aku berkata: ‘Ini terjadi karena ia (dianggap) kikir.’ Meski sesungguhnya ia menafkahkan (hartanya) secara sembunyi-sembunyi (rahasia), dan (bahkan) keluarganya (sendiri) menyangka ia mengumpulkan dirham-dirhamnya (uangnya).” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubalâ’, 2001, juz 4, h. 395)

Sayyidina Ali Zainal Abidin tidak mempedulikan pandangan manusia. Andaipun seluruh dunia menuduhnya kikir, ia tidak peduli. Hanya orang-orang di sekitarnya yang mengetahui cara hidupnya yang sesungguhnya, meski awalnya mereka tidak tahu, tapi karena kemurahan hati dan kedermawanan sudah melekat dengan dirinya, perlahan-lahan mereka mengetahuinya juga. Dari murid-muridnya inilah riwayat tentang kehidupannya bertahan hingga sekarang. Dalam sebuah riwayat, ia menjelaskan salah satu alasan perbuatannya:

عن أبي حمزة الثمالي، أن علي بن الحسين كان يحمل الخبز بالليل على ظهره يتبع به المساكين في الظلمة، ويقول: إن الصدقة في سواد الليل تطفئ غضب الرب

“Dari Abu Hamzah al-Tsumali, ‘sesungguhnya Ali bin al-Husein memanggul (sekarung) roti di malam hari di punggungnya (sambil) mencari orang-orang miskin dalam kegelapan.’ Ia berkata: “sesungguhnya sedekah dalam gelapnya malam dapat meredakan kemarahan Tuhan.” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubalâ’, 2001, juz 4, h. 394)

Sebagai cicit Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, Sayyidina Ali Zainal Abidin mewarisi kedermawanan moyangnya. Ia tidak merasa berat memberikan seluruh hartanya untuk orang-orang yang membutuhkan. Baginya, kedermawanan laiknya kebutuhan primer, tak ubahnya makan dan minum. Sehari saja tanpa memberi, ia merasa lapar. 

Membaca sedikit dari sekian banyak riwayat keluhuran pekerti, kemurahan hati, dan kedemawanan Sayyidina Ali Zainal Abidin, kita seharusnya mulai mengubah diri, dan menganggap perbuatan baik sebagai kebutuhan primer, bukan sekunder apalagi tersier. Jika kita bisa menganggap perbuatan baik sebagai kebutuhan primer, kita akan selalu haus menjadi bermanfaat di setiap waktu. Jika pun susah, paling tidak, kisah di atas sedikit menggugah hati kita. Itu sudah cukup baik untuk permulaan. Pertanyaannya, kapankah kita akan memulainya? Wallahu a’lam bish-shawwab..


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Share:
Rabu 22 Mei 2019 14:30 WIB
Kisah Umar bin Khattab Ditanya Malaikat Munkar-Nakir
Kisah Umar bin Khattab Ditanya Malaikat Munkar-Nakir
Adalah wajib hukumnya bagi setiap muslim dan mukmin mengimani bahwa kelak di alam kubur akan ada pertanyaan dari dua malaikat Munkar dan Nakir kepada si mayit. Kedua malaikat ini sering kali digambarkan berwajah bengis dan menakutkan. Tak ayal, terkadang seseorang bertanya-tanya pada diri sendiri; mampukah ia kelak menjawab pertanyaan kedua malaikat kubur itu, sedang melihat fisik keduanya saja sudah terbayang begitu menakutkan?

Lain halnya dengan Sayyidina Umar bin Khattab. Ketika Rasulullah menjelaskan bagaimana wujud fisik menyeramkan malaikat Munkar dan Nakir sahabat yang ditakuti setan ini justru seakan hendak melawannya.

Imam Jalaludin As-Suyuthi dalam kitabnya Al-Hâwî lil Fatâwî menuliskan sebuah riwayat dari Al-Jazuli dalam kitab Syarhur Risâlah, bahwa satu ketika Rasulullah berbicara kepada para sahabat perihal Munkar dan Nakir. Digambarkannya malaikat Munkar dan Nakir akan mendatangi seorang mayit di kuburan dalam bentuk yang begitu menyeramkan; berkulit hitam, bengis, keras, dan sifat-sifat buruk dan menakutkan lainnya. Lalu kedua malaikat itu akan menanyai si mayit.

Mendengar penuturan Rasulullah itu Sayyidina Umar bertanya, “Rasul, apakah saat di kuburan nanti aku sebagaimana sekarang ini?”

“Ya,” jawab Rasul.

“Kalau begitu,” timpal Umar kemudian, “demi Allah akan aku lawan kedua malaikat itu!”

Konon, ketika Sayyidina Umar bin Khattab meninggal dunia putra beliau yang bernama Abdullah bermimpi bertemu dengannya. Dalam mimpi itu Abdullah menanyakan ihwal bapaknya di alam kubur.

Oleh Umar pertanyaan anaknya itu dijawab, “Aku didatangi dua malaikat. Keduanya bertanya kepadaku, siapa Tuhanmu, siapa nabimu? Aku jawab, Tuhanku Allah dan nabiku Muhammad. Lalu kepadanya aku tanyakan, kalian berdua, siapa Tuhanmu? Mendapat pertanyaan seperti itu kedua malaikat itu saling berpandangan. Salah satunya berkata, ini Umar bin Khattab. Lalu keduanya pergi meninggalkanku.”

Demikian lah Sayyidina Umar bin Khattab, ia tak hanya berani di dunia saja, tapi di alam kubur pun keberaniannya tetap kuat.

Kisah tentang orang-orang yang menjawab pertanyaan Munkar dan Nakir sebagaimana jawaban Umar di atas tidak sedikit. Banyak ulama dalam berbagai kitabnya yang meriwayatkan kisah-kisah semisal. Seperti Yazid bin Harun yang ketika ditanya kedua malaikat perihal siapa Tuhan dan nabinya, beliau menjawab, “Pertanyaan seperti ini diajukan kepadaku? Sementara delapan puluh tahun lamanya aku mengajarkan jawabannya kepada banyak orang.” Lalu kedua malaikat itu pergi meninggalkannya.

As-Suyuthi dalam kitabnya di atas menjelaskan bahwa ada segolongan orang yang kelak di alam kuburnya sama sekali tak ditanya oleh kedua malaikat Munkar dan Nakir seperti para syuhada, shidiqin, dan lainnya. Mungkinkah diri kita menjadi bagian yang dikecualikan itu? Wallahu a’lam. (Yazid Muttaqin)

Rabu 22 Mei 2019 2:0 WIB
Senyum dan Acungan Dua Jempol Istriku Menjelang Sahur
Senyum dan Acungan Dua Jempol Istriku Menjelang Sahur
Tepat pukul 01.50 aku terbangun pagi dini hari itu. Aku segera ke kamar mandi untuk berwudhu. Aku tak ingin kembali tidur. Aku ingin beraktivitas menyiapkan makan sahur. Aku ingin sebelum istriku bangun, di meja makan sudah siap dengan segala sesuatu yang kami perlukan untuk sahur keluarga. Hari itu adalah hari terakhir bersama istri di Solo karena besok lusa sang bojo sudah mudik ke desanya di Majenang Cilacap. 

Kami sehari-hari memang saling memanggil “Jo” (dari kata ‘bojo’) karena kami adalah suami istri. Ini tidak berbeda halnya dengan seorang anak memanggil ibunya “Ibu”, dan “Bapak” untuk memanggil ayahnya. Kami orang Jawa. Dengan saling memanggil “Jo”, kami selalu diingatkan akan hak dan kewajiban masing-masing. “Jo” adalah penegasan kesetaraan di antara kami. 

Pada pukul 02.30, aku mulai klethekan di dapur. Aku ambil cangkir stainless steel yang agak besar. Aku akan buat teh ginasthel yang telah menjadi kesukaan seluruh keluarga. Kompor gas mulai aku nyalakan. 

Setelah cem-ceman teh siap, aku ambil 3 gelas berukuran agak besar. Aku tuangkan gula pasir ke dalamnya. Berikutnya teh kenthelan aku masukkan secukupnya. Air panas dari termos belum aku tuangkan. Aku akan menuangkannya setelah lauk untuk sahur sudah siap. Ini untuk menjamin teh masih panas ketika akan diminum. 

Dari urusan soal minuman, aku beralih ke lauk. Aku lihat persediaan lauk tidak cukup untuk keluarga. Hanya ada 2 buah martabak dan 1 potong paha ayam goreng yang keadaannya sudah tidak menarik. Aku khawatir anak-anak kurang berselera dengan menu yang ada. Aku putuskan untuk membuat mie goreng 2 bungkus saja. Aku buka kemasannya. Terdengar “kemresek” banget dan pasti bisa mengganggu yang masih tidur. Maklum hari masih dini. Dua piring yang aku siapkan untuk mie goreng pun juga menambah suara gaduh di dapur. 

Menyadari kegaduhan itu, aku mulai pelan-pelan dalam menata peralatan dapur. Aku tidak ingin istriku terbangun karena kegaduhan itu. Aku ingin dia bangun dan keluar dari kamar tidur setelah segala sesuatunya siap di meja makan. Itu artinya kegiatanku menyiapkan sahur untuk keluarga harus sudah selesai sebelum pukul 03.00. Pada jam ini istriku pasti akan bangun setelah alarm di ponselnya berbunyi. 

Sementara itu, jam di dinding telah menunjukkan pukul 02.55. Artinya 5 menit kemudian alarm di ponsel istriku akan membuat istriku segera bangun. Pada saat ini menu sahur sudah siap di meja makan. 

Di sana sudah tersaji 2 piring mie goreng; satu cething berukuran sedang berisi nasi putih; 1 piring berisi 2 buah martabak, sebungkus krupuk udang dan sepotong paha ayam goreng; 2 botol sambal sambal kecap dan bangkok; 3 gelas teh ginasthel; setumpuk piring bersih berjumlah 4 buah; 1 piring berisi beberapa sendok dan garpu; segulung tisu, dan 3 botol air mineral tanggung. Jumlah gelas dan botol air mineral memang aku siapkan hanya 3 sebab istriku suka gabung. Terkadang sama aku, kadang pula sama anak-anak.  

Tepat pukul 03.00 aku sudah bersiap diri di meja makan. Sengaja aku arahkan pandanganku ke pintu kamar di mana istriku tidur. Dari situ istriku pasti akan keluar setelah didengarnya alarm di ponselnya. Aku ingin menyaksikan bagaimana wajah ibu bagi kedua anakku saat dilihatnya di meja makan sudah tersaji hidangan makan sahur untuk keluarga, di saat mana kedua matanya masih kriyip-kriyip, rambutnya dhowal dhawul, dasternya acak-acakan, mulutnya terasa pahit, bibirnya masih kaku, kesadaranya belum utuh, langkahnya pun gontai. Hanya satu yang aku tunggu, bisakah dia tersenyum di saat seperti itu. 

“Hmmm...,“ istriku tersenyum lucu sekali dengan menatapku sambil diacungkan kedua jempolnya kepadaku.    

*** 

Itulah ringkasan cerita kegiatan sahur di keluargku lima tahun lalu, atau tepatnya pada 22 Ramadhan 1435 H/20 Juli 2014. Cerita itu kami rekam dalam sebuah buku catatan harian berjudul “Dari Sahur ke Sahur; Catatan Harian Seorang Suami” (2016).

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda sebagai berikut:

 خيركم خيركم لأهله، وأنا خيركم لأهلي 

“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik sikapnya terhadap keluarga. Dan aku adalah yang terbaik diantara kalian terhadap keluargaku.”

Dalam hadits lain yang diriwayatkan dari Al-Aswad radhiallahu anhu diceritakan sebagai berikut: 

سألت عائشة ما كان النبي صلى الله عليه وسلم يصنع في أهله قالت كان في مهنة أهله فإذا حضرت الصلاة قام إلى الصلاة

Artinya, “Aku pernah bertanya kepada Aisyah: Apa yang dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam di rumahnya? Aisyah berkata: Beliau membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, maka apabila telah masuk waktu shalat beliau keluar untuk shalat.” (HR. Al-Bukhari)

Kedua hadits itu merupakan sebagian dari banyak hadits yang telah menginspirasi saya untuk melayani istri dan anak-anak sebagaimana kisah di atas. Jika ada kesan romantis di dalamnya, itupun tak salah karena Rasulullah sendiri sering berlaku romantis terhadap istri-istri beliau seperti mencium, minum dan makan dengan wadah yang sama (sepiring berdua), bersikap lembut dan sebagainya. 


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.


======
NU Online mengajak kepada pembaca semua untuk berbagi kisah inspiratif penuh hikmah baik tentang diri sendiri atau orang lain. Silakan kirim ke email: redaksi@nu.or.id

Selasa 21 Mei 2019 17:30 WIB
Mencuci Pakaian Keluarga Melatih Sikap Anti-Diskriminasi
Mencuci Pakaian Keluarga Melatih Sikap Anti-Diskriminasi
Tepat pukul 03.00 aku terbangun oleh alarm di ponselku. Aku tidak segera bangun, tetapi sengaja memperlambat karena tidak banyak yang harus aku siapkan. Nasi dan lauk sudah ada. Tinggal bikin teh manis. Cem-ceman teh juga sudah ada, tinggal memanasi ulang. 

Tak lama setelah teh manis jadi, aku bangunkan si sulung. Agak sulit memang, mungkin karena terlambat tidur tadi malam. Akhirnya bangun juga. Hanya berdua kami makan sahur dengan nasi Padang di rumah. Maklum si bungsu dan istriku sudah mendahului mudik. Mudikku juga ke mertua. Ayah dan Ibuku sudah meninggal lama. 

Sekitar pukul 04.25 “imsak” diserukan dari masjid. Sepuluh menit kemudian adzan subuh dikumandangkan. Kami terus berjamaah di masjid. 

Turun dari masjid, aku langsung ambil seluruh pakaian yang kotor. Ada bra, daster, jilbab dan CD milik istriku. Ada pula handuk, kaos, CD anak-anakku, kemeja, sarung, celana panjang dan sebagainya. 

Meski sudah lama aku biasa mencuci pakaian seluruh anggota keluarga di rumah, tapi baru kali itu aku sadari bahwa mencuci pakaian keluarga itu baik karena di situlah sebenarnya kita dilatih untuk tidak membeda-bedakan atau melakukan diskriminasi berdasarkan jenis kelamin maupun status. 

*** 

Itulah ringkasan cerita dari salah satu kegiatan sahur di keluarga kami lima tahun lalu, atau tepatnya pada tanggal 24 Ramadhan 1435 H/22 Juli 2014. Cerita itu kami rekam dalam sebuah buku catatan harian berjudul “Dari Sahur ke Sahur; Catatan Harian Seorang Suami” (2016).

Secara gender, manusia dibedakan menjadi laki-laki dan perempuan. Dalam konteks keluarga, para anggotanya dibedakan menjadi orang tua dan anak-anak. Orang tua itu sendiri dibedakan menjadi ayah dan ibu, atau suami dan istri. 

Terkait dengan perbedaan-perbedaan itu, mereka memiliki hak dan kewajiban masing-masing yang bisa saja berbeda baik secara fiqih maupun sosial. Dengan kata lain perbedaan-perbedaan itu membawa konsekuensi adanya pembedaan. Pembedaan yang memang sudah semestinya berdasarkan norma-norma yang berlaku harus diterima secara positif. 

Sedangkan pembedaan yang tidak perlu yang disebut diskriminasi harus diminimalisasi karena sering kali menimbulkan sikap subordinatif yang tidak menguntungkan bagi pihak lain dan tidak sejalan dengan prinsip kesetaraan sosial. Kegiatan mencuci pakaian seluruh anggota keluarga merupakan salah satu cara pembiasaan mengurangi sikap diskrimainatif dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam mencuci pakaian keluarga, seseorang bersikap sama terhadap pakaian-pakaian yang dicucinya, baik itu pakaian laki-laki ataupun perempuan, pakaian suami ataupun istri dan apakah itu milik orang tua ataukah anak-anak. Singkatnya tidak ada sikap diskriminatif terhadap seluruh pakaian itu tanpa memandang siapa pemiliknya dan apa statusnya. Hal ini membentuk sikap anti diskriminasi terhadap sesama yang dimulai dari unit terkecil masyarakat, yakni keluarga. 

Rasulullah shallahu alaihi wa sallam tidak jarang melakukan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci pakaian, menjahit baju dan mengesol sandal. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Al-Aswad radhiallahu anhu sebagai berikut: 

سألت عائشة ما كان النبي صلى الله عليه وسلم يصنع في أهله قالت كان في مهنة أهله فإذا حضرت الصلاة قام إلى الصلاة

Artinya, “Aku pernah bertanya kepada Aisyah: Apa yang dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam di rumahnya? Aisyah berkata: Beliau membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, maka apabila telah masuk waktu shalat beliau keluar untuk shalat.” (HR. Al-Bukhari)

Kebiasaan Rasulullah membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga memilki korelasi dengan perilaku beliau yang tidak diskriminatif terhadap anggota keluarganya. Salah satu contohnya adalah setiap kali putri beliau – Fathimah az-Zahrah – datang dari suatu bepergian lalu masuk ke dalam rumah, Rasulullah menyambut kedatangannya dengan berdiri dan kemudian mempersilakannya duduk di kursi yang merupakan tempat duduk Rasulullah. Demikian pula sebaliknya. 

Hal tersebut sebagaimana dikutip Abu Daud Sulaiman bin al-Asyats al-Azdi al-Sijistani dalam kitab Sunan Abi Daud (Beirut: Dar ibn Hazm, 1997) Catakan I, hal. 144, sebagai berikut:

عن أم المؤمنين عائشة رضي الله عنها أنها قالت: كانت (فاطمة) إذا دخلت عليه رحب بها وقام إليها فأخذ بيدها فقبلها و أجلسها في مجلسه، وكان إذا دخل عليها قامت إليه فأخذت بيده فقبلته وأجلسته في مجلسها

Artinya, “Dari ummil mukminin Aisyah radhaiallhu anha, sesungguhnya dia mengatakan: ‘Ketika (Fathimah) masuk rumah, Rasulullah berdiri dan memegang tangan Fathimah lalu menciumnya dan kemudian mendudukannya di tempat duduk Rasulullah. Dan ketika Rasulullah masuk ke rumah, Fathimah berdiri dan memegang tangan beliau lalu mencium dan kemudian mendudukan beliau di tempat duduk Fathimah.” 

Dari kisah-kisah di atas dapat dihubungkan antara kebiasaan menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, khususnya mencuci pakaian keluarga dengan sikap tidak diskriminatif terhadap sesama tanpa memandang jenis kelamin dan status sosial yang dimulai dari dalam keluarga. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana Rasulullah shallahu alaihi wa sallam sebagai ayah dan Siti Fathimah radhiallahu anha sabagai putrinya saling menghargai, mengasihi dan bertukar tempat duduk. Perbedaan jenis kelamin dan status dalam keluarga tidak (harus) disikapi dengan perlakuan berbeda. 


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.



======
NU Online mengajak kepada pembaca semua untuk berbagi kisah inspiratif penuh hikmah baik tentang diri sendiri atau orang lain. Silakan kirim ke email: redaksi@nu.or.id