IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Pelajaran di Balik Nabi Muhammad Melewatkan Shalat Ashar saat Perang Khandaq

Rabu 22 Mei 2019 21:0 WIB
Share:
Pelajaran di Balik Nabi Muhammad Melewatkan Shalat Ashar saat Perang Khandaq
Ilustrasi shalat (viata-libera.co)
Perang Khandaq atau Perang Ahzab adalah salah satu peperangan yang diikuti langsung oleh Nabi Muhammad. Sebelum peperangan berkecamuk, sesuai usulan Salman al-Farisi, Nabi Muhammad memimpin para sahabatnya menggali parit di luar Kota Madinah. Tujuannya adalah untuk menghalau pasukan musuh dengan jumlah besar yang hendak menyerbu Kota Madinah. 

Disebutkan, ada 10 ribu pasukan aliansi -yang digalang Yahudi Madinah- dari kaum musyrik Makkah, kabilah Ghatafan, Bani Sulaim, dan beberapa suku lainnya yang siap menyerang umat Islam di Madinah. Jumlah tersebut bahkan lebih banyak daripada keseluruhan pendudukan Madinah pada saat itu. 

Nabi Muhammad memerintahkan setiap 10 orang laki-laki untuk menggali parit sepanjang 40 hasta. Beliau terus memantau mereka setiap harinya. Menurut riwayat Anas, Nabi Muhammad pergi ke parit pada pagi hari yang sangat dingin untuk mengecek sudah sejauh mana proyek tersebut berjalan. Bahkan, Nabi Muhammad ikut mencangkul manakala ada sahabatnya menemui tanah yang sangat keras dan tidak bisa digali. Dengan membaca doa, Nabi Muhammad berhasil menghancurkan tanah keras itu dengan sekali hantaman.

Merujuk buku Sirah Nabawiyah (Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, 2012), Nabi Muhammad dan pasukan umat Islam yang berjumlah tiga ribu personil keluar rumah manakala 10 ribu pasukan musuh sudah berada di luar Kota Madinah. Ketika pasukan musyrik hendak melancarkan serbuan ke arah pasukan Muslim, mereka terkaget karena di depannya ada parit yang besar dan panjang. Mereka akhirnya tidak jadi langsung menyerang dan memutuskan untuk mengepung pasukan Islam.   

Pasukan musyrik Quraisy tidak tinggal diam. Mereka terus mencari cara agar bisa melewati parit tersebut sehingga bisa menyerbu pasukan umat Islam secara langsung, namun usaha mereka selalu gagal. Kejadian pengepungan itu berjalan hingga beberapa hari. Hal itu membuat pasukan Muslim sibuk melakukan serangan balik manakala ada yang mencoba menyeberang parit. Akibatnya, Nabi Muhammad dan pasukan Muslim tidak sempat melaksanakan Shalat Ashar.

“Ya Rasulullah, aku tidak sempat Shalat Ashar hingga matahari hampir terbenam,” kata Sayyidina Umar bin Khattab.

“Demi Allah, aku juga belum shalat,” jawab Nabi Muhammad. Beliau kemudian berwudhu dan mengerjakan Shalat Ashar ketika matahari sudah benar-benar terbenam atau di waktu Shalat Maghrib. Setelah itu, beliau langsung menyambungnya dengan Shalat Maghrib. 

Ada ‘pelajaran’ tersendiri di balik Nabi Muhammad melewatkan Shalat Ashar saat Perang Khandaq tersebut. Menurut Said Ramadhan al-Buthi dalam bukunya The Great Episodes of Muhammad saw (2017), tindakan Nabi Muhammad itu menjadi dalil wajibnya meng-qadha (mengganti) shalat yang tertinggal atau terlewatkan. Kata al-Buthy, penetapan dalil ini tidak dapat dibantah oleh sebagian pendapat ulama yang menyebutkan bahwa penundaan shalat karena kesibukan seperti itu hanya berlaku pada saat itu saja, dengan dalil ketetapan itu sudah dihapus (nasakh) ketika shalat khauf disyariatkan.

Karena bagaimanapun, nasakh shalat khauf diberlakukan untuk untuk menghapus ketetapan diperbolehkannya menunda shalat karena kesibukan tertentu, bukan untuk menghapus ketatapan qadha shalat. Dengan kata lain, di-nasakh-nya kebolehan menunda shalat tidak serta merta me-nasakh kewajiban qadha shalat yang telah diwajibkan sebelumnya dan memiliki  hukum tetap. Di samping itu, shalat khauf sudah disyariatkan sebelum Perang Khandaq meletus, yaitu pada Perang Dzat al-Riqa'. 

Dalam Musnad Ahmad dan Asy-Syafi’i, Nabi Muhammad dan pasukan Muslim disebutkan tidak sempat melaksanakan Shalat Ddzuhur, Shalat Ashar, Shalat Maghrib, dan Shalat Isya pada saat Perang Khandaq. Lalu kemudian Nabi Muhammad mengerjakan shalat-shalat wajib yang terlewatkan tersebut secara sekaligus atau men-jama’-nya.

“Bahwa Perang Khandaq berjalan selama beberapa hari. Memang pada sebagian hari ada cara men-jama’ shalat seperti yang pertama dan sebagian hari yang lain ada cara menjama’ seperti yang kedua,” kata an-Nawawi dalam kitabnya Sharh Muslim, mengompromikan beberapa riwayat di atas. (A Muchlishon Rochmat)
Share:
Selasa 21 Mei 2019 18:0 WIB
Yang Istimewa di Balik Nama ‘Muhammad’
Yang Istimewa di Balik Nama ‘Muhammad’
Nama Muhammad atau Ahmad adalah nama yang sakral. Berkandungan sejarah dan cahaya. Nama yang terucap tidak sembarangan; nama yang dicita-citakan semesta; nama yang dinantikan jagat raya; nama yang menebar cahaya dan pahala; nama yang menandai masa; nama yang mendamaikan raga dan jiwa; nama yang terlalu banyak kebaikan meliputinya, hingga bahasa tak mungkin merangkai semuanya.

Nama Muhammad bukan nama pemberian manusia, tapi nama yang disampaikan Allah kepada kakek dan ibunya. Dalam satu riwayat diceritakan bahwa ibu Rasulullah, Sayyidah Aminah, bercerita pernah didatangi malaikat ketika mengandung, dan malaikat itu berkata kepadanya:

إنَّكِ قَدْ حَمَلْتِ بِسَيِّدِ هَذِهِ الْأُمَّةِ، فَإِذَا وَقَعَ إلَى الْأَرْضِ فَقُولِي: أُعِيذُهُ بِالْوَاحِدِ، مِنْ شَرِّ كُلِّ حَاسِدٍ، ثُمَّ سَمِّيهِ مُحَمَّدًا

“Sesungguhnya kau sedang mengandung pemimpin umat ini. Maka, ketika ia terlahir ke dunia, ucapkanlah: “aku memohon perlindungan untuknya kepada Tuhan yang Maha Esa, dari kejahatan setiap orang yang hasud, dan namai ia ‘Muhammad’.” (Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, Beirut: Darul Kutub al-A’rabiy, 1990,juz 1, hlm 180)

Begitu pula kakeknya, Abdul Muttalib, ia mendapatkan inspirasi nama Muhammad dari mimpi. Dalam kitab al-Raudl al-Unuf, Imam al-Muhaddits Abu al-Qasim al-Suhaili (w. 581 H) mengatakan, Abdul Muttalib melihat dalam mimpinya rantai dari emas keluar dari punggungnya. Ujungnya menyebar ke langit, bumi, timur dan barat. Lalu rangkaian rantai itu menjadi pohon yang setiap daunnya mengeluarkan cahaya, dan penduduk bumi di Barat dan Timur semuanya bergantung kepadanya. Imam al-Suhaili menulis:

فَعُبّرَتْ له بِمَولود يكون من صلبه يتبعه أهل المشرق والمغرب, ويحمده أهل السّماء والأرض، فلِذلك سَمّاه محَمَّدًا

“Maka ditafsirkan mimpi itu dengan dilahirkannya seorang (anak) dari tulang punggungnya yang akan diikuti oleh manusia dari Timur dan Barat. Penduduk langit dan bumi akan memujinya. Karena itu, Abdul Muttalib menamainya Muhammad.” (Imam al-Muhaddits Abu al-Qasim al-Suhaili, al-Radul al-Unuf wa ma’ahu al-Sîrah al-Nabawiyyah li Ibni Hisyâm, Beirut: Dar al-Hadits, 2008, juz 1, h. 309-310)

Karena itu, ketika ada seseorang yang bertanya kepada Abdul Muttalib, “mâ sammayta ibnaka?” (kau namai siapa cucumu?). Ia menjawab, “Muhammad.” Orang itu bertanya lagi, “kaifa sammayta bi ismin laisa li ahadin min âbâ’ika wa qaumika?” (kenapa kau namai ia dengan nama yang tidak seorang pun dari nenek moyang dan kaummu [menggunakannya]). Abdul Muttalib berkata, “innî la arjû an yahmadahu ahlul ardli kulluhum” (sesungguhnya aku sangat ingin semua penduduk bumi memujinya). (Imam al-Muhaddits Abu al-Qasim al-Suhaili, al-Radul al-Unuf wa ma’ahu al-Sîrah al-Nabawiyyah li Ibni Hisyâm, 2008, juz 1, h. 309)

Dua riwayat di atas menunjukkan bahwa nama Muhammad diberikan langsung oleh Allah melalui malaikat dan isyarat lewat mimpi. Bahkan menurut beberapa riwayat, Nabi Adam ‘alaihissalam melihat nama Muhammad tercatat di ‘Arsy, lalu Allah berfirman kepadanya (HR. Imam al-Hakim): “law lâ Muhammad mâ khalaqtuka” (Andai tidak [karena] Muhammad, Aku tidak akan menciptakanmu). Dalam riwayat lain (HR. Imam al-Tirmidzi), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya: “yâ Rasûlullah, matâ wajabat laka al-nubuwwah?” (wahai Rasulullah, kapankah ditetapkan padamu kenabian?). Rasulullah menjawab: “wa Âdam bainar rûh wal jasad” (ketika Adam [masih] berada di antara ruh dan jasad). Imam Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H) menguraikan hadits di atas cukup panjang, ringkasnya sebagai berikut:

وهذه الرواية تدل على أنه ﷺ حينئذ استخرج من ظهر آدم ونبىء وأخذ ميثاقه فيحتمل أن يكون ذلك دليلا على أن استخراج ذرية آدم من ظهره وأخذ الميثاق منهم كان قبل نفخ الروح في آدم, وقد روي هذا عن سلمان الفارسي وغيره من السلف ويستدل له أيضا بظاهر قوله تعالى: وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ

“Riwayat ini mengindikasikan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada waktu itu dikeluarkan dari punggung Adam dan (diangkat menjadi) nabi, lalu Adam mengambil perjanjian (dari)nya. Riwayat tersebut berisi dalil atas dikeluarkannya keturunan Adam dari punggungnya, dan mengambil perjanjian dari mereka sebelum ditiupkan ruh kedalam Adam. Riwayat (pendapat seperti) ini berasal dari Salman al-Farisi dan (ulama) lainnya dari generasi salaf. Dalil pendukungnya adalah zahir (lafad) firman Allah (al-A’raf: 11): Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam.” (Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathâ’if al-Ma’ârif fî mâ li Mawâsim al-‘Âm min al-Wadhâ’if, Kairo: Dar al-Hadits, 2005, h. 115)

Imam Mujahid (21-104 H) dan ulama salaf lainnya menafsirkan ayat di atas dengan, “ikhrâj dzurriyyati Âdam min dhahrihi qabla amril malâ’ikati bis sujûd lahu” (dikeluarkannya keturunan Adam dari punggungnya sebelum malaikat diperintahkan sujud kepadanya). Tapi, banyak juga ulama salaf yang berpendapat dikeluarkannya keturunan Adam dilakukan sebelum ditiupkan ruh ke dalam Adam (kâna ba’d nafkhir rûhi fîhi). Mengomentari banyaknya riwayat tersebut, Imam Ibnu Rajab al-Hanbali berpendapat bahwa keluarnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diistimewakan karena terjadi sebelum ditiupkan ruh kepada Adam. Dasar argumentasinya adalah, karena Nabi Muhammad adalah prima kausa (penyebab utama) diciptakannya manusia dan alam semesta (al-maqshûd min khalqil nau’il insâniyyi). (Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathâ’if al-Ma’ârif fî mâ li Mawâsim al-‘Âm min al-Wadhâ’if, 2005, h. 115) 

Diriwayatkan dari Imam Qatadah (61-118 H) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (HR. Imam Ibnu Sa’d dan Imam al-Thabrani):

كنتُ أوَّل النّبِيّين في الخلق وأخرهم في البعث

“Aku adalah nabi pertama yang diciptakan dan yang paling akhir diutus.” (Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathâ’if al-Ma’ârif fî mâ li Mawâsim al-‘Âm min al-Wadhâ’if, 2005, h. 116)

Karena itu, ketika Nabi Adam ‘alaihissalam merasa ajalnya sudah dekat, ia memanggil anaknya, Syits dan berwasiat kepadanya. Dalam sebuah riwayat dikatakan (Riwayat Imam Ibnu ‘Asakir):

ﻭﻗﺪ ﺃﺧﺮﺝ ﺍﺑﻦ ﻋﺴﺎﻛﺮ ﻋﻦ ﻛﻌﺐ ﺍﻷﺧﺒﺎﺭ ﺃﻥ ﺁﺩﻡ ﺃﻭﺻﻰ ﺍﺑﻨﻪ ﺷﻴﺚ ﻓﻘﺎﻝ ﻛﻠﻤﺎ ﺫﻛﺮﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﺎﺫﻛﺮ ﺇﻟﻰ ﺟﻨﺒﻪ ﺍﺳﻢ ﻣﺤﻤﺪ ﻓﺈﻧﻲ ﺭﺃﻳﺖ ﺍﺳﻤﻪ ﻣﻜﺘﻮﺑﺎ ﻋﻠﻰ ﺳﺎﻕ ﺍﻟﻌﺮﺵ ﻭﺃﻧﺎ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺮﻭﺡ ﻭﺍﻟﺘﻴﻦ ﺛﻢ ﺇﻧﻲ ﻃﺮﻓﺖ ﻓﻠﻢ ﺃﺭﻯ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ﻣﻮﺿﻌﺎ ﺇﻻ ﺭﺃﻳﺖ ﺍﺳﻢ ﻣﺤﻤﺪ ﻣﻜﺘﻮﺑﺎ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻟﻢ ﺃﺭﻯ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻗﺼﺮﺍ ﻭﻻ ﻏﺮﻓﺔ ﺇﻻ ﺍﺳﻢ ﻣﺤﻤﺪ ﻣﻜﺘﻮﺑﺎ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻟﻘﺪ ﺭﺃﻳﺖ ﺍﺳﻢ ﻣﺤﻤﺪ ﻣﻜﺘﻮﺑﺎ ﻋﻠﻰ ﻧﺤﻮﺭ ﺍﻟﺤﻮﺭ ﺍﻟﻌﻴﻦ ﻭﻋﻠﻰ ﻭﺭﻕ ﻗﺼﺐ ﺁﺟﺎﻡ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻭﻋﻠﻰ ﻭﺭﻕ ﺷﺠﺮﺓ ﻃﻮﺑﻰ ﻭﻋﻠﻰ ﻭﺭﻕ ﺳﺪﺭﺓ ﺍﻟﻤﻨﺘﻬﻰ ﻭﻋﻠﻰ ﺃﻃﺮﺍﻑ ﺍﻟﺤﺠﺐ ﻭﺑﻴﻦ ﺃﻋﻴﻦ ﺍﻟﻤﻼﺋﻜﺔ ﻓﺄﻛﺜﺮ ﺫﻛﺮﻩ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻤﻼﺋﻜﺔ ﺗﺬﻛﺮﻩ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺳﺎﻋﺎﺗﻬﺎ

“Ibnu Asakir mengeluarkan sebuah riwayat dari Ka’b, bahwa sesungguhnya Adam memberi wasiat kepada anaknya, Syits. Adam berkata: “Setiap kali kau berdzikir kepada Allah, berdzikirlah juga untuk nama yang mendampingi-Nya, Muhammad. Karena sesungguhnya aku melihat nama Muhammad tertulis di sisi ‘Arsy, sementara aku (masih) di antara ruh dan tanah. Kemudian aku pindahkan pandanganku, aku tidak melihat satu tempat pun di langit kecuali aku melihat nama Muhammad tertulis di sana. Tidak kulihat di surga, gedung dan kamar kecuali nama Muhammad tertulis di sana. Sungguh aku melihat nama Muhammad tertulis di leher para bidadari, tertulis di dedaunan tumbuhan surga, tertulis di dedaunan pohon Thuba, tertulis di dedaunan Sidratul Muntaha, tertulis di sudut-sudut sekat dan tertulis di antara mata-mata malaikat. Maka, perbanyaklah dzikir menyebut namanya, karena malaikat juga berdzikir (menyebut nama)nya di setiap saat.” (Imam Jalaluddin al-Suyuthi, al-Hâwî li al-Fatâwî, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyyah, 2015, juz 2, h. 137)

Sebagai tambahan, Syits adalah seorang nabi. Ia merupakan anak Nabi Adam yang paling baik pekertinya, pengetahuannya dan ibadahnya. Imam Wahb bin Munabbih (34-114 H) mengatakan: “kâna Syîts min ajmali waladi Âdam wa afdlalihim wa asybahihim bihi wa ahabbihim ilaihi” (Syits adalah anak Adam yang paling baik, paling mulia, paling mirip dengannya, dan paling dicintai oleh Adam) (Imam al-Nawawi, Tahdzîb al-Asmâ’ wa al-Lughât, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyyah, tt, h. 248).

Sementara nama Ahmad, menurut Imam al-Suhaili, adalah penyebutan dalam lisan Nabi Musa dan Isa (ammâ Ahmad fahuwa ismuhu alladzi summiya bihi ‘ala lisâni ‘Isa wa Mûsa). Nabi Isa ‘alaihissalam berkata (QS. As-Saff: 6): “dan memberi kabar gembira dengan kedatangan rasul setelahku bernama Ahmad.” Begitu pun Nabi Musa ketika berdoa kepada Allah menggunakan nama Ahmad. Ia berdoa:

اللهُمّ اجْعَلْنِي مِنْ أُمَّةِ أحْمَدَ، فبِأحْمد ذُكِر قَبْل أن يُذْكر بمحمد، لِأنّ حَمْدَه لربّه كان قبل حَمْد النّاس له، فلمّا وُجِد وبُعث كان محَمَّدًا بالفعلِ

“Ya Allah, jadikanlah aku termasuk umat Ahmad. Dengan nama Ahmad, ia disebut sebelum disebut Muhammad, karena pujiannya kepada Tuhannya sebelum pujian (seluruh) manusia kepadaNya. Maka, ketika ia berwujud dan diutus, ia menjadi Muhammad karena perilakunya.” (Imam al-Muhaddits Abu al-Qasim al-Suhaili, al-Radul al-Unuf wa ma’ahu al-Sîrah al-Nabawiyyah li Ibni Hisyâm, 2008, juz 1, h. 310-311)

Nama Muhammad adalah nama yang sangat istimewa dipandang dari sudut pandang apapaun, bahkan dari segi jumlah hurufnya. Menurut Imam Syamsuddin al-Safiri al-Syafi’i (w. 906 H), salah satu keistimewaan nama Muhammad adalah kesesuaian jumlahnya dengan nama Allah (Lafdul Jalalah). Ia menulis:

كونه علي أربعة أحرف، والحكمة في جعله كذلك ليوافق الله تعالي فإن عدد لفظ الجلالة أربعة أحرف كمحمّد

“(Nama) Muhammad terdiri dari empat huruf. Hikmahnya adalah agar sesuai dengan (nama) Allah ta’ala, karena jumlah Lafdul Jalalah adalah empat huruf seperti (nama) Muhammad.” (Imam Syamsuddin Muhammad al-Safiri, al-Majâlis al-Wa’dhiyyah fî Syarh Ahâdîts Khair al-Bariyyah min Shahîh al-Imâm al-Bukhârî, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyyah, 2004, juz 2, h. 117)

Kesesuaian itu penting karena Allah dan Muhammad tidak bisa dipisahkan dari iman Islam. Siapa pun yang berkehendak menjadi Muslim, ia harus mengucapkan dua kalimat syahadat; penegasan tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya. Jika tidak, imannya tidak sempurna. Itulah pentingnya nama Muhammad. Nama yang bisa mengubah nasib manusia di akhirat kelak. Wallahu a’lam bish shawwab...


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen

Selasa 21 Mei 2019 15:0 WIB
Kasih Sayang Nabi Muhammad pada Seekor Anjing
Kasih Sayang Nabi Muhammad pada Seekor Anjing
“Seorang perempuan masuk neraka gara-gara seekor kucing, dia mengikat kucing tersebut, lalu tidak memberi makan dan tidak pula membiarkannya memakan seranggga tanah,” sabda Nabi Muhammad

Nabi Muhammad adalah orang yang sangat halus, lembut, dan penuh kasih sayang kepada semuanya. Bukan hanya kepada umat manusia saja, tetapi juga kepada seluruh makhluk Allah di muka bumi ini -termasuk kepada binatang. Beliau termasuk orang yang sangat menyayangi binatang. Tidak rela dan akan langsung menegur manakala ada orang yang mempermainkan dan menyakiti salah satu makhluk ciptaan Allah itu.

Sifat kasih sayang Nabi Muhammad sudah ditegaskan Allah di dalam QS at-Taubah ayat 128. Di situ disebutkan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang nabi yang penyantun dan penyayang. Juga dalam QS al-Anbiya ayat 107: "Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam."  Di sini jelas bahwa Nabi Muhammad adalah rahmat bagi seluruh alam, bukan manusia saja.

Banyak riwayat yang menceritakan tentang sikap kasih sayang Nabi Muhammad pada binatang. Diantaranya beliau memberi makan hewan-hewan piarannya sendiri, memotong kain bajunya manakala kucingnya tidur di atasnya –sehingga kucingnya tidar terbangun, dan tidak segan-segan menegur sahabatnya yang menyakiti dan tidak memberi makan hewan peliharannya. 

Menariknya, kasih sayang Nabi Muhamm pada binatang tidak diskriminatif. Tidak hanya tertuju pada hewan yang boleh dan halal di makan saja, namun beliau juga mencurahkan kasih sayangnya pada hewan yang tidak boleh dimakan. Juga pada binatang yang diharamkan sekalipun seperti anjing. 

Dalam kitab al-Maghazi karya al-Waqidi, seperti dikutip dari buku Akhlak Rasul Menurut Al-Bukhari dan Muslim (Abdul Mun’im al-Hasyimi, 2018), Nabi Muhammad pernah ‘menyelamatkan’ seekor anjing yang sedang menyusui anak-anaknya. Ceritanya, ketika itu Nabi Muhammad dan pasukan umat Islam sedang dalam perjalanan dari Madinah menuju Makkah saat misi Fathu Makkah (pembebasan Kota Makkah). Di tengah perjalanan, Nabi Muhammad melihat ada seekor anjing betina sedang menggonggong dan menyusui anak-anaknya.

Seketika itu, beliau memerintahkan salah seorang sahabatnya untuk berdiri di dekat anjing tersebut. Tujuannya adalah agar para tentara umat Islam tidak mengganggu anjing yang sedang menyusui tersebut. Juga agar anjing tersebut tidak menggigit para tentara. Sehingga masing-masing tentara dan anjing bisa terus melanjutkan aktivitasnya, tanpa saling mengganggu satu sama lain.

Begitulah sikap kasih sayang Nabi Muhammad kepada seekor anjing. Masih menurut keterangan kitab tersebut, kalau seandainya Nabi Muhammad tidak memiliki sifat belas kasihan yang luar biasa pada hewan, maka beliau tidak akan memiliki perhatian seperti itu. Yakni mengupayakan agar para tentaranya tidak sampai mengusik seekor anjing betina yang sedang menyusui. 

Dari kisah tersebut, bisa diambil pelajaran bahwa kasih sayang Nabi Muhammad pada hewan tidak hanya sebatas ucapan saja, tetapi juga sudah menjadi perbuatan atau akhlak. Karena bagaimanapun, sekali lagi, sebagaimana manusia binatang juga adalah makhluk ciptaan Allah yang perlu diberikan kasih sayang dan perlakuan yang baik. 

“Barang siapa tidak mengasihi, dia tidak akan dikasihi,” demikian kata Nabi Muhammad saw. dalam sebuah hadits riwayat al-Bukhari. (A Muchlishon Rochmat)
Ahad 19 Mei 2019 23:59 WIB
Sikap Nabi Muhammad saat Sahabatnya Dibunuh Seorang Yahudi
Sikap Nabi Muhammad saat Sahabatnya Dibunuh Seorang Yahudi
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap sesuatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adil­lah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa..,” (QS Al-Maidah: 8).

Nabi Muhammad adalah seorang yang berlaku adil kepada semuanya; kepada dirinya, keluarganya, sahabatnya, dan umat Islam sendiri. Nabi Muhammad menjadikan keadilan sebagai sebuah hukum dan sistem yang harus ditegakkan dalam setiap situasi dan kondisi apapun. Perbedaan agama, suku, ras, dan etnik tidak membuat beliau berlaku tidak adil. 

Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad bersabda: Demi Allah, seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri, aku pasti memotong tangannya. Pada saat itu, hukuman dari seorang pencuri adalah potong tangan. Melalui hadits itu, Nabi Muhammad menegaskan bahwa keadilan harus ditegakkan setegak-tegaknya. Apabila salah, maka harus dihukum. Tidak peduli yang melakukan kesalahan itu keluarganya sendiri, bahkan putri tercintanya.

Tidak hanya itu, Nabi Muhammad juga menegakkan keadilan kepada mereka yang tidak se-iman atau tidak se-agama dengannya. Sikap adil Nabi Muhammad juga meliputi non-Muslim. Jika terjadi perselisihan antara Muslim dan non-Muslim, Nabi Muhammad melihat siapa yang salah. Jika yang salam pihak Muslim, maka beliau akan menghukumnya. Demikian sebaliknya.

Dalam buku Akhlak Rasul Menurut Al-Bukhari dan Muslim (Abdul Mun’im al-Hasyimi, 2018), dikisahkan suatu ketika seorang Yahudi membunuh salah seorang sahabat Nabi, Abdullah bin Sahl al-Anshari. Setelah diadili, memang betul kalau seorang Yahudi tersebut lah yang salah. Sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan Nabi Muhammad pada saat itu, maka siapapun yang melakukan pembunuhan maka ia harus membayar denda sebanyak 100 ekor unta betina.

Nabi Muhammad meminta seorang Yahudi tersebut untuk membayar 100 ekor unta betina sebagai konsekuensi atas perbuatannya tersebut. Beliau tidak minta lebih dari 100 ekor unta betina kepada seorang Yahudi tersebut. Padahal saat itu, para sahabatnya tengah memerlukan lebih banyak unta jantan untuk menambah kekuatan tentara Islam. 

Demikianlah Nabi Muhammad, menegakkan keadilan sesuai dengan ketetapan yang sudah ditetapkannya. Beliau tidak memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Sikap adil Nabi Muhammad itu seharusnya menjadi pegangan dan teladan bagi seluruh umat Islam agar juga berlaku adil kepada siapapun, termasuk kepada non-Muslim sekalipun. Karena sesuai dengan firman Allah di atas, jangan sampai kebencian terhadap suatu kaum membuat seorang Mukmin berbuat tidak adil. (Muchlishon)