IMG-LOGO
Hikmah

Kisah Ulama Salaf Berhati-hati Menjawab Pertanyaan Agama

Kamis 23 Mei 2019 16:0 WIB
Share:
Kisah Ulama Salaf Berhati-hati Menjawab Pertanyaan Agama
Ilustrasi (via msf.online.com)
Dalam pendahuluan (muqaddimah) kitab Shahîh Muslim, Imam Abu al-Husein Muslim bin Hajaj al-Naisaburi memasukkan perbincangan dua ulama besar dari generasi salaf. Berikut kisahnya:

وحَدَّثَنِي أَبُو بَكْرِ بْنُ النَّضْرِ بْنِ أَبِي النَّضْرِ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو النَّضْرِ هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ، حَدَّثَنَا أَبُو عَقِيلٍ، صَاحِبُ بُهَيَّةَ، قَالَ: كُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ الْقَاسِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللهِ، وَيَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ، فَقَالَ يَحْيَى لِلْقَاسِمِ: يَا أَبَا مُحَمَّدٍ إِنَّهُ قَبِيحٌ عَلَى مِثْلِكَ، عَظِيمٌ أَنْ تُسْأَلَ عَنْ شَيْءٍ مِنْ أَمْرِ هَذَا الدِّينِ، فَلَا يُوجَدَ عِنْدَكَ مِنْهُ عِلْمٌ، وَلَا فَرَجٌ أَوْ عِلْمٌ، وَلَا مَخْرَجٌ, فَقَالَ لَهُ الْقَاسِمُ: وَعَمَّ ذَاكَ؟، قَالَ: لِأَنَّكَ ابْنُ إِمَامَيْ هُدًى ابْنُ أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، قَالَ: يَقُولُ لَهُ الْقَاسِمُ: أَقْبَحُ مِنْ ذَاكَ عِنْدَ مَنْ عَقَلَ عَنِ اللهِ أَنْ أَقُولَ بِغَيْرِ عِلْمٍ، أَوْ آخُذَ عَنْ غَيْر ثِقَةٍ، قَالَ: فَسَكَتَ فَمَا أَجَابَهُ

Menceritakan kepadaku Abu Bakr bin al-Nadlr bin Abi al-Nadlr, ia berkata: menceritakan kepadaku Abu al-Nadlr Hasyim bin al-Qasim. Abu ‘Aqil, pemilik Buhayyah, menceritakan, ia berkata:

Aku duduk di samping al-Qasim bin ‘Ubaidillah dan Yahya bin Sa’id, kemudian Yahya berkata kepada al-Qasim: “Wahai Abu Muhammad, adalah suatu yang buruk bagi orang sepertimu, ketika ditanya soal perkara agama, kau tidak memiliki pengetahuan tentangnya, tidak ada kelapangan atau ilmu, dan tidak ada solusi.”

Al-Qasim berkata kepada Yahya: “Mengapa begitu?”

Yahya menjawab: “Karena sesungguhnya kau adalah keturunan dua imam yang diberi petunjuk, yaitu keturunan Abu Bakr dan Umar.”

Al-Qasim berkata: “(Ada) yang lebih buruk dari itu bagi orang yang memenuhi kewajibannya kepada Allah, yaitu ketika aku berkata (menjawab) tanpa ilmu, atau aku mengambil (dalil/ilmu) dari (orang) yang tidak terpercaya.”

Abu ‘Aqil berkata: “Kemudian Yahya bin Sa’id diam dan tidak memberikan komentarnya lagi.” (Imam Abu al-Husein Muslim bin Hajaj al-Naisaburi, Shahîh Muslim, Riyadl: Dar al-Salam li al-Nasyr wa al-Tauji’, 2000, h. 11-12)

****

Sebelum mengulas ke sana-kemari, kita harus tahu terlebih dahulu, siapa Imam al-Qasim bin ‘Ubaidillah. Ia adalah keturunan Sayyidina Umar bin al-Khattab dari pihak ayah, dan keturunan Sayyidina Abu Bakar al-Shiddiq dari pihak ibu. Nasabnya adalah al-Qasim bin ‘Ubaidillah bin Abdullah bin Umar bin al-Khattab. Dari jalur ibunya, nasabnya adalah Ummu al-Qasim binti al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar al-Shiddiq. (Imam Yahya bin Syarraf al-Nawawi, Shahîh Muslim bi Syarh al-Nawâwî, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2017, juz 1, h. 84)

Imam Yahya bin Sa’id adalah seorang ulama hadits besar. Murid Imam Sufyan al-Tsauri, Malik bin Anas, Sufyan bin ‘Uyainah dan lain sebagainya. Ia memiliki banyak murid seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, Ali bin al-Madini dan lain sebagainya. Imam al-Dzahabi menyebutnya sebagai, “al-imâmul kabîr, amîrul mu’minîn fîl hadîts—imam besar dan amirul mu’minin dalam ilmu hadits.” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubalâ’, Beirut: Muassasah al-Risalah, 2001, juz 9, h. 176)

Suatu ketika kedua ulama besar ini terlibat perbincangan mengenai buruknya seseorang yang tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan agama. Hanya saja, Imam al-Qasim bin ‘Ubaidillah menjadi pihak yang dipojokkan di sini. Karena dalam riwayat lain (jalur Ibnu ‘Uyainah) dikatakan, bahwa, “sa’alûhu ‘an sya’in lam yakun indahu fîhi ‘ilmun—ia ditanya sesuatu yang tidak memiliki pengetahuan tentang itu.” Karena tidak tahu, Imam al-Qasim tidak menjawabnya, dan Imam Yahya berkata seperti dalam riwayat di atas.

Kemudian Imam al-Qasim mengatakan (terjemah bebas), “yang lebih buruk dari itu adalah, ketika aku menjawab tanpa pengetahuan, atau aku mengambil penjelasan/riwayat dari orang yang tidak terpercaya.” Setelah mendengar jawaban al-Qasim, Imam Yahya bin Sa’id diam tidak berkomentar apa-apa lagi.

Dalam hal ini, Imam al-Qasim sedang berlaku hati-hati dalam persoalan agama. Ia tidak mau menyesatkan umat dengan jawaban yang ia sendiri tidak yakin kebenarannya. Baginya, diam lebih baik daripada menjaga citra kealimannya dengan menjawab “asal-asalan”. Karena itu, ia memberi penekanan dalam dua hal; pertama, menghindari jawaban tanpa ilmu, dan kedua, berhati-hati dalam mengambil dalil, riwayat atau ilmu dari orang yang masih belum jelas ke-tsiqah-annya (keterpercayaannya). Kali ini kita akan fokuskan pembahasan pada poin kedua saja. Karena poin pertama sudah diuraikan di tulisan sebelumnya, “Ketika Imam Malik bin Anas Menjawab ‘Tidak Tahu’.” 

Berbicara “tsiqah” berarti berbicara sanad. Dalam tradisi ilmiah Islam, kita mengenal istilah “sanad” atau “isnad”. Kedua istilah ini biasa digunakan dalam ilmu hadits, pun juga dalam tradisi pengajaran dan pendidikan tradisional Islam. Sanad sendiri secara umum berarti nama-nama perawi yang membawa informasi dari nabi (hadits), atau peristiwa sejarah masa lalu. Sanad dijadikan standar acu dalam menilai kualitas berita (hadits atau peristiwa sejarah masa lalu). 

Oleh sebab itu, ketika kita membaca kitab hadits seperti Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim, atau membaca kitab sejarah seperti Tarîkh al-Thabarî dan Futûh al-Buldan, kita akan temui sistem pemberitaan yang sama. Dimulai dengan haddatsana/haddatsani (menceritakan kepadaku), akhbaranâ (mengabarkan kepadaku), atau yang paling sederhana “’an fulân” (dari fulan). Semua itu untuk menunjukkan mata rantai yang tersambung, sehingga kita bisa meneliti kualitas ke-tsiqah-an nama-nama dalam mata rantai tersebut.

Karena itu, Imam al-Qasim sering tidak menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya, meski ia mengetahui dalil atau riwayat tentang itu. Ia hanya akan menjawab jika sudah memastikan semuanya, dari mulai kualitas pewarta riwayat/berita/ilmu, sampai tidak ada illat yang buruk dalam isinya (al-‘illah al-qadihah). Hal ini ia lakukan karena ada sebuah riwayat yang dikatakan oleh Imam Ibnu Sirin:

إِنَّ هَذَا العِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُوْا عَمَّنْ تَأْخُذُوْنَ دِيْنَكُمْ

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (Imam Abu al-Husein Muslim bin Hajaj al-Naisaburi, Shahîh Muslim, 2000, h. 10)

Imam Abdullah bin Mubarak mengatakan:

الْإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ، وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

Isnad (atau sanad) merupakan bagian dari agama. Jika tidak ada isnad (sanad), pasti siapa pun dapat mengatakan apa yang dikehendaki(nya).” (Imam Abu al-Husein Muslim bin Hajaj al-Naisaburi, Shahîh Muslim, 2000, h. 11)

Saking pentingnya, Imam Muslim dalam pendahuluan kitab Shahîh Muslim membuat bab tersendiri tentang sanad, “bâbu bayân annal isnâd minad dîn—bab menjelaskan bahwa isnad adalah bagian dari agama.” Sebab itu, dalam kultur pesantren atau pendidikan Islam tradisional, sanad keilmuan sangat penting. Karena dengan sanad inilah pemahaman agama yang benar tersampaikan dari generasi ke generasi, dari mulai generasi muridnya Rasulallah (sahabat) sampai generasi sekarang. Bahkan, dalam tradisi pendidikan Islam klasik, kitab yang ditulis ulama juga ditransmisikan melalui jalur sanad, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Misalnya kitab al-Hikam karya Imam Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari. Kiai atau syekh yang mengajarkan kitab tersebut biasanya menyambung sanad belajarnya hingga penulis kitab. Kiai ini belajar al-Hikam dari gurunya, gurunya belajar dari gurunya lagi, terus ke atas hingga Imam Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari. Ini penting untuk menjaga keaslian ilmu dan otoritas keilmuan.

Karena itu, ulama atau orang yang terlahir dari tradisi ini, tidak akan berani mengambil ayat tanpa menelaahnya secara mendalam, apalagi hanya mengambil terjemahan ayat. Sebab, mereka diajarkan bahwa terjemahan ayat bukan ayat itu sendiri, kedudukannya tidak setara. Jika pemaknaan lafad per-lafad kitab klasik saja harus melalui kualifikasi ketat, salah satunya dengan cara menyetorkan bacaan dan maknanya kepada yang ahli (pemegang sanad kitab), apalagi Al-Qur’an yang memiliki kompleksitas makna yang lebih kaya dan beragam. 

Artinya, terjemah Al-Qur’an tidak bisa dilepaskan dari kecenderungan penafsiran tertentu. Contohnya Tafsîr al-Thabarî, untuk menafsirkan kata “alhamdulillah” di Surah Al-Fatihah, Imam Abu Ja’far al-Thabari menghabiskan kurang lebih dua halaman dengan berbagai macam perbedaan penafsiran, baik riwayat maupun bahasa. Ia memasukkan banyak riwayat sahabat dan tabi’in, kemudian membahas makna kata tersebut dari segi bahasa. Artinya, beragamnya riwayat penafsiran dan kayanya makna lafad Al-Qur’an membuatnya hampir tidak mungkin diterjemahkan dengan cara alih bahasa.

Orang yang tumbuh dalam tradisi ini juga tidak akan mudah percaya kisah atau pemaparan agama tanpa mencantumkan sumber yang jelas. Jikapun sumbernya dicantumkan, mereka tidak akan langsung percaya tanpa mengeceknya terlebih dahulu. Itu pun belum selesai. Setelah mengecek dan benar-benar menemukannya, mereka akan melakukan penelitian untuk mengetahui konteksnya, makna aslinya, cara penerapannya, sebab terjadinya dan lain sebagainya. Inilah kenapa tradisi sanad sangat penting dalam agama.

Di samping itu, selain sebagai acuan dalam ilmu agama, standar ke-tsiqah-an juga harus dipakai dalam menyaring informasi atau berita, apalagi di zaman media sosial yang tanpa batas ini. Kita harus lebih berhati-hati dalam menerima berita. Karena menyebarkan berita tanpa melakukan kroscek kebenarannya sudah termasuk perbuatan bohong. Imam al-Syafi’i menyebutnya sebagai kebohongan yang samar (al-kadzibul khafi), yaitu “dzalikal hadîts ‘an man lâ yu’rafu sidquhu—menyebarkan hadits dari orang yang tidak diketahui kejujurannya.” (Imam al-Syafi’i, al-Risâlah, h. 401). Karena itu, kita harus mulai menggunakan cara pandang teori ilmu hadits dalam memahami sebuah informasi agar kita selamat. Kita harus meneliti berasal dari mana berita itu, siapa yang pertama kali menyebarkannya, isinya masuk akal atau tidak, pengaruhnya negatif atau positif, dan seterusnya, apalagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah memberikan peringatan. Beliau bersabda (HR. Imam Muslim):

كَفَي بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang (disebut) berbohong, (jika) ia menyampaikan setiap apa yang ia dengar.”

Maka, kita perlu berhati-hati dalam menanggapi sebuah berita. Jangan dulu dibagikan jika kita tidak benar-benar tahu kebenarannya. Karena membagikan berita yang belum jelas kebenarannya akan mengarah pada dua hal; pertama, jika berita itu benar, tentu tidak ada masalah, tapi penyebarnya tetap terkena hadits “bohong” di atas, karena ia tidak melakukan kroscek terlebih dahulu. Hadits di atas adalah cara Rasulullah mengajari manusia agar berhati-hati dalam menyebarkan berita. Kedua, jika berita itu tidak benar, itu akan menjadi fitnah. Lebih susah lagi jika kita tidak memiliki kesempatan meminta maaf kepada korban fitnah tersebut. Bisa jadi kita termasuk golongan orang yang merugi (muflis) di akhirat kelak, karena amal ibadah kita dipindahkan Allah kepada orang yang kita sakiti perasaannya dan kita fitnah. Semoga saja kita terhindar dari hal itu, amin. Wallahu a’lam bish shawwab...


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Share:
Kamis 23 Mei 2019 22:0 WIB
Ketika Sayyidina Ali bin Abi Thalib Bekerja pada Orang Yahudi
Ketika Sayyidina Ali bin Abi Thalib Bekerja pada Orang Yahudi
null
Para sahabat begitu perhatian dan cinta kepada Nabi Muhammad. Mereka siap melakukan apapun untuk sekedar meringankan beban yang dialami Nabi Muhammad. Mereka juga siap mengorbankan harta, tenaga, dan bahkan nyawanya demi orang yang dicintainya itu. Bahkan, kecintaan mereka kepada Nabi Muhammad lebih besar daripada kecintaan mereka terhadap diri sendiri ataupun keluarganya. 

Sayyidina Ali bin Abi Thalib adalah salah seorang yang sangat mencintai Nabi Muhammad. Saking cintanya, ia lebih mendahulukan kepentingan Nabi Muhammad dan mengakhirkan kepentingan pribadi. Salah satu bentuk kecintaan Sayyidina Ali bin Abi Thalib kepada Nabi Muhammad adalah dengan memberikan bantuan manakala yang dicintainya itu mengalami kesulitan. 

Merujuk buku Hayatush Shahabah (Syaikh Muhammad Yusuf al-Kandahlawi, 2019), suatu ketika Nabi Muhammad mengalami kesulitan ekonomi. Keadaan itu membuat Nabi Muhammad tidak makan karena memang tidak ada yang bisa dimakan. Lambat laun kabar itu sampai ke telinga Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Setelah mengetahui kabar itu, Sayyidina Ali langsung pergi mencari pekerjaan sehingga mendapatkan upah. Nantinya upah itu akan diberikan kepada Nabi Muhammad.

Sayyidina Ali mendatangi seorang Yahudi yang memiliki kebun kurma. Kepada seorang Yahudi tersebut, ia mengaku siap bekerja untuk mengairi kebun kurmanya. Terjadi diskusi antara mereka berdua soal imbalan. Akhirnya disepakati, setiap Sayyidina Ali menimba satu ember dari sumur maka ia akan mendapatkan imbalan satu butir kurma.

Ia berhasil menimba 17 ember air. Sesuai kesepakatan, maka Sayyidina Ali menerima 17 butir kurma. Dia memilih kurma ajwah sebagai upahnya. Kurma-kurma tersebut kemudian diberikan kepada Nabi Muhammad. Hal itu membuat Nabi Muhammad bertanya kepada Sayyidina Ali perihal darimana asalnya kurma-kurma itu. 

“Aku pergi bekerja demi memperoleh makanan untukmu,” jawab Sayyidina Ali.

Ketika Nabi menanyakan perihal apa yang mendorong melakukan itu, Sayyidina Ali menjawab bahwa rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya lah yang mendorongnya bekerja dan memberikan upahnya kepadanya.

“Barang siapa mencintai Allah, hendaklah ia mempersiapkan perlindungan yang langgeng dari kemalangan,” kata Nabi Muhammad saw.

Dari kisah di atas bisa ditarik beberapa poin penting. Pertama, para sahabat sangat mencintai Nabi Muhammad. Tidak hanya sahabat, seluruh umat Islam juga begitu cinta dengan Nabi Muhammad. Mereka mencintai Nabi Muhammad begitu dalam, hingga mengalahkan cintanya kepada diri dan sanak famili sendiri.

Kedua, siapa yang mencintai Nabi maka ia akan bersamanya di akhirat kelak. Dalam sebuah riwayat Anas disebutkan, suatu ketika ada seorang yang bertanya kepada Nabi Muhammad tentang datangnya hari kiamat. Nabi bertanya balik, ‘Apa yang sudah disiapkan untuk menghadapi kiamat?’ Kata orang tersebut, dia tidak mempersiapkan apapun kecuali mencintai Allah dan Rasul-Nya. 

“Engkau bersama orang yang engkau cintai,” kata Nabi Muhammad. 

Ketiga, tidak ada larangan bekerja di tempat non-Muslim. Sayyidina Ali bekerja di kebun kurma miliki seorang Yahudi dan Nabi Muhammad tidak menegurnya. Jadi tidak ada larangan bagi seorang Muslim bekerja pada non-Muslim, asal pekerjaannya tersebut dalam bidang yang halal dan sesuai dengan ketentuan Islam. (Muchlishon)
Rabu 22 Mei 2019 20:0 WIB
Bekas Hitam di Punggung Sayyidina Ali Zainal Abidin
Bekas Hitam di Punggung Sayyidina Ali Zainal Abidin
Dalam kitab al-Bidâyah wa al-Nihâyah, Imam Ibnu Katsir mencatat riwayat tentang Sayyidina Ali bin Husein yang memiliki bekas hitam di pundaknya. Berikut riwayatnya:

وَقَالَ الطَّبَرَانِيُّ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الخضري، حدَّثنا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عن عمر بن حارث, قال: لما مات علي بن الحسين فغسلوه جعلوا ينظرون إلى آثار سواد في ظهره, فقالوا: ما هذا؟ فقيل: كان يحمل جُرُب الدقيق ليلاً على ظهره يعطيه فقراء أهل المدينة

Al-Thabrani berkata: Muhammad bin Abdullah al-Khudlri bercerita kepadaku, Utsman bin Abi Syaibah bercerita, Jarir bercerita, dari Umar bin Harits, ia berkata:

Ketika Ali bin al-Husein wafat, orang-orang memandikan (jenazah)nya. Mereka (kaget) melihat bekas hitam di pungguhnya. Mereka bertanya: “Bekas apa ini?”

Seseorang menjawab: “Ia memanggul sekarung tepung (setiap) malam di punggungnya untuk diberikan kepada fakir miskin di Madinah.” (Imam Ibnu Katsir, al-Bidâyah wa al-Nihâyah, Beirut: Dar al-Ihya’ li al-Turats, 1988, juz 2, h. 133)

****

Nama lengkapnya adalah Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muttalib bin Hasyim bin Abdi Manaf. Ia merupakan cicit Rasulullah dari Sayyidah Fatimah. Ia satu-satunya anak laki-laki Sayyidina Husein yang selamat. Ketika pembantaian Karbala terjadi, ia masih berusia tiga belas tahun. Ia tidak dibunuh karena sedang sakit (yauma’idzin mauku’an falam yuqâtal). Banyak generasi salaf yang mengambil hadits darinya seperti Abu Salamah dan Thawus. (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubalâ’, Beirut: Muassasah al-Risalah, 2001, juz 4, h. 387-388)

Para ulama salaf sangat menghormatinya. Mereka memuji kualitas diri dan keilmuannya. Imam al-Zuhri (50-124 H) mengatakan, “mâ ra’aytu quraisyan afdlal min ‘Ali bin al-Husein” (aku tidak melihat orang Quraisy yang lebih baik dari Ali bin al-Husein). Maksudnya suku Quraisy di masa Imam al-Zuhri hidup, bukan suku Quraisy dari masa sebelumnya. Imam Malik bin Anas (93-179 H) berkata, “lam yakun fi ahlil bait mitsluh” (tidak ada di kalangan ahlul bait yang sepertinya). Imam al-Zuhri di waktu lain berkata, “wa mâ ra’aytu ahadan kâna afqah minhu” (aku tidak melihat seorang pun yang lebih paham [agama] darinya) (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubalâ’, 2001, juz 4, h. 387-390).

Membaca riwayat di atas, aktivitas “memberi” Sayyidina Ali Zainal Abidin (38-95 H) dilakukan di setiap malam. Hal ini bisa dipahami dalam dua sudut pandang. Pertama, karena ia tidak ingin kebaikannya diketahui banyak orang, dan kedua, untuk merahasiakan orang-orang yang diberi olehnya. Karena memberi di depan umum terkadang membuat perasaan yang diberi tidak nyaman.

Dalam banyak riwayat, Sayyidina Ali Zainal Abidin selalu merahasiakan pemberiannya, bahkan orang yang diberi pun tidak mengetahui siapa yang memberinya. Setelah kewafatannya, banyak kabar yang menyebar tentangnya di Madinah. Mereka saling berkata:
ما فقدنا صدقة السر حتى مات علي بن الحسين

“Kami tidak kehilangan sedekah rahasia (sembunyi-sembunyi) hingga Ali bin al-Husain wafat.” (Imam Ibnu Katsir, al-Bidâyah wa al-Nihâyah, 1988, juz 2, h. 133)

Artinya, banyak penduduk Madinah yang pernah mendapatkan sedekah rahasia dari Sayyidina Ali Zainal Abidin. Tiba-tiba barang atau uang yang dibutuhkan berada di depan rumahnya. Awalnya mereka tidak tahu, siapa yang memberikan itu. Tapi setelah Sayyidina Ali Zainal Abidin wafat, mereka tak pernah lagi menerima sedekah rahasia. Akhirnya mereka tahu bahwa Sayyidina Ali Zainal Abidin lah yang selama ini memenuhi kebutuhan mereka.

Bekas hitam di punggungnya adalah bukti kegemarannya merahasiakan sedekah. Ia tidak mau menyuruh murid atau pembantunya untuk mengantarkan sedekahnya. Ia meminggulnya sendiri dan mengantarnya ke rumah orang yang membutuhkan. Artinya, ia sedang berusaha merahasiakan aktivitas malamnya dari keluarga, teman, murid dan para pembantunya. Namun, karena aktivitas bersedekah itu dilakukan hampir setiap hari, lama-kelamaan mereka mengetahuinya. Sebelumnya banyak yang menuduhnya bakhil, termasuk keluarganya sendiri. Dalam sebuah riwayat dikatakan:

وقال شيبة بن نعامة: لما مات علي وجدوه يعول مائة أهل بيت, قلت: لهذا كان يبخل، فإنه ينفق سرا ويظن أهله أنه يجمع الدراهم

“Syaibah bin Nu’amah berkata: ‘Ketika Ali (Zainal Abidin) wafat, yang berduka (sekitar) seratus ahlu baitnya (keluarganya).’ Aku berkata: ‘Ini terjadi karena ia (dianggap) kikir.’ Meski sesungguhnya ia menafkahkan (hartanya) secara sembunyi-sembunyi (rahasia), dan (bahkan) keluarganya (sendiri) menyangka ia mengumpulkan dirham-dirhamnya (uangnya).” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubalâ’, 2001, juz 4, h. 395)

Sayyidina Ali Zainal Abidin tidak mempedulikan pandangan manusia. Andaipun seluruh dunia menuduhnya kikir, ia tidak peduli. Hanya orang-orang di sekitarnya yang mengetahui cara hidupnya yang sesungguhnya, meski awalnya mereka tidak tahu, tapi karena kemurahan hati dan kedermawanan sudah melekat dengan dirinya, perlahan-lahan mereka mengetahuinya juga. Dari murid-muridnya inilah riwayat tentang kehidupannya bertahan hingga sekarang. Dalam sebuah riwayat, ia menjelaskan salah satu alasan perbuatannya:

عن أبي حمزة الثمالي، أن علي بن الحسين كان يحمل الخبز بالليل على ظهره يتبع به المساكين في الظلمة، ويقول: إن الصدقة في سواد الليل تطفئ غضب الرب

“Dari Abu Hamzah al-Tsumali, ‘sesungguhnya Ali bin al-Husein memanggul (sekarung) roti di malam hari di punggungnya (sambil) mencari orang-orang miskin dalam kegelapan.’ Ia berkata: “sesungguhnya sedekah dalam gelapnya malam dapat meredakan kemarahan Tuhan.” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubalâ’, 2001, juz 4, h. 394)

Sebagai cicit Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, Sayyidina Ali Zainal Abidin mewarisi kedermawanan moyangnya. Ia tidak merasa berat memberikan seluruh hartanya untuk orang-orang yang membutuhkan. Baginya, kedermawanan laiknya kebutuhan primer, tak ubahnya makan dan minum. Sehari saja tanpa memberi, ia merasa lapar. 

Membaca sedikit dari sekian banyak riwayat keluhuran pekerti, kemurahan hati, dan kedemawanan Sayyidina Ali Zainal Abidin, kita seharusnya mulai mengubah diri, dan menganggap perbuatan baik sebagai kebutuhan primer, bukan sekunder apalagi tersier. Jika kita bisa menganggap perbuatan baik sebagai kebutuhan primer, kita akan selalu haus menjadi bermanfaat di setiap waktu. Jika pun susah, paling tidak, kisah di atas sedikit menggugah hati kita. Itu sudah cukup baik untuk permulaan. Pertanyaannya, kapankah kita akan memulainya? Wallahu a’lam bish-shawwab..


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Rabu 22 Mei 2019 14:30 WIB
Kisah Umar bin Khattab Ditanya Malaikat Munkar-Nakir
Kisah Umar bin Khattab Ditanya Malaikat Munkar-Nakir
Adalah wajib hukumnya bagi setiap muslim dan mukmin mengimani bahwa kelak di alam kubur akan ada pertanyaan dari dua malaikat Munkar dan Nakir kepada si mayit. Kedua malaikat ini sering kali digambarkan berwajah bengis dan menakutkan. Tak ayal, terkadang seseorang bertanya-tanya pada diri sendiri; mampukah ia kelak menjawab pertanyaan kedua malaikat kubur itu, sedang melihat fisik keduanya saja sudah terbayang begitu menakutkan?

Lain halnya dengan Sayyidina Umar bin Khattab. Ketika Rasulullah menjelaskan bagaimana wujud fisik menyeramkan malaikat Munkar dan Nakir sahabat yang ditakuti setan ini justru seakan hendak melawannya.

Imam Jalaludin As-Suyuthi dalam kitabnya Al-Hâwî lil Fatâwî menuliskan sebuah riwayat dari Al-Jazuli dalam kitab Syarhur Risâlah, bahwa satu ketika Rasulullah berbicara kepada para sahabat perihal Munkar dan Nakir. Digambarkannya malaikat Munkar dan Nakir akan mendatangi seorang mayit di kuburan dalam bentuk yang begitu menyeramkan; berkulit hitam, bengis, keras, dan sifat-sifat buruk dan menakutkan lainnya. Lalu kedua malaikat itu akan menanyai si mayit.

Mendengar penuturan Rasulullah itu Sayyidina Umar bertanya, “Rasul, apakah saat di kuburan nanti aku sebagaimana sekarang ini?”

“Ya,” jawab Rasul.

“Kalau begitu,” timpal Umar kemudian, “demi Allah akan aku lawan kedua malaikat itu!”

Konon, ketika Sayyidina Umar bin Khattab meninggal dunia putra beliau yang bernama Abdullah bermimpi bertemu dengannya. Dalam mimpi itu Abdullah menanyakan ihwal bapaknya di alam kubur.

Oleh Umar pertanyaan anaknya itu dijawab, “Aku didatangi dua malaikat. Keduanya bertanya kepadaku, siapa Tuhanmu, siapa nabimu? Aku jawab, Tuhanku Allah dan nabiku Muhammad. Lalu kepadanya aku tanyakan, kalian berdua, siapa Tuhanmu? Mendapat pertanyaan seperti itu kedua malaikat itu saling berpandangan. Salah satunya berkata, ini Umar bin Khattab. Lalu keduanya pergi meninggalkanku.”

Demikian lah Sayyidina Umar bin Khattab, ia tak hanya berani di dunia saja, tapi di alam kubur pun keberaniannya tetap kuat.

Kisah tentang orang-orang yang menjawab pertanyaan Munkar dan Nakir sebagaimana jawaban Umar di atas tidak sedikit. Banyak ulama dalam berbagai kitabnya yang meriwayatkan kisah-kisah semisal. Seperti Yazid bin Harun yang ketika ditanya kedua malaikat perihal siapa Tuhan dan nabinya, beliau menjawab, “Pertanyaan seperti ini diajukan kepadaku? Sementara delapan puluh tahun lamanya aku mengajarkan jawabannya kepada banyak orang.” Lalu kedua malaikat itu pergi meninggalkannya.

As-Suyuthi dalam kitabnya di atas menjelaskan bahwa ada segolongan orang yang kelak di alam kuburnya sama sekali tak ditanya oleh kedua malaikat Munkar dan Nakir seperti para syuhada, shidiqin, dan lainnya. Mungkinkah diri kita menjadi bagian yang dikecualikan itu? Wallahu a’lam. (Yazid Muttaqin)