IMG-LOGO
Bahtsul Masail

Apakah I'tikaf Wanita Harus Izin Suami?

Jumat 24 Mei 2019 16:0 WIB
Share:
Apakah I'tikaf Wanita Harus Izin Suami?
(Foto: @pinterest)
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi NU Online, di akhir Ramadhan kita dianjurkan untuk banyak-banyak mendekatkan diri kepada Allah. Selama 10 terakhir Ramadhan kita dianjurkan untuk beritikaf di masjid. Pertanyaan saya, bagaimana dengan kalangan perempuan. Apakah mereka harus meminta izin suami mereka untuk itu? Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Nuraini/Bogor)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya dan pembaca yang budiman. Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita semua. Perempuan memiliki hak untuk menjalankan ibadah itikaf. Hal ini didasarkan pada hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim melalui Sayyidatina Aisyah RA sebagai berikut:

وَعَنْهَا: - أَنَّ اَلنَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ يَعْتَكِفُ اَلْعَشْرَ اَلْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ, حَتَّى تَوَفَّاهُ اَللَّهُ, ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ - مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Artinya, “Dari Aisyah RA, Nabi Muhammad SAW beritikaf pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Aktivitas itu dilakukan hingga beliau wafat. Kemudian para istrinya mengikuti itikaf pada waktu tersebut sepeninggal Rasulullah SAW,” (HR Bukhari dan Muslim).

Adapun perihal izin suami dalam kaitannya dengan kesahihan itikaf, ulama berbeda pendapat. Ulama dari Mazhab Hanafi, Syafi’i, dan Hanbali menyatakan bahwa izin suami menjadi syarat itikaf istrinya. Dengan demikian, ibadah itikaf perempuan tanpa izin suaminya tidak sah.

Adapun pendapat Mazhab Maliki menyatakan bahwa itikaf seorang perempuan tanpa izin suaminya tetap sah karena izin suami bukan bagian dari syarat ibadah itikaf itu sendiri.

إذن الزوج لزوجته: شرط عند الحنفية والشافعية والحنابلة، فلا يصح اعتكاف المرأة بغير إذن زوجها، ولو كان اعتكافها منذوراً. ورأى المالكية أن اعتكاف المرأة بغير إذن زوجها صحيح مع الإثم

Artinya, “Izin suami atas istrinya menjadi syarat (itikaf) menurut mazhab Hanafi, Syafi’i, dan Hanbali. Itikaf perempuan tidak sah tanpa izin suaminya meski itu adalah itikaf nazar. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat bahwa itikaf seorang permepuan tanpa izin suaminya tetap sah meski dosa,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz II, halaman 706).

Adapun perihal penghentian itikaf oleh suami, para ulama berbeda pendapat. Mayoritas ulama berpendapat bahwa seorang suami boleh meminta istrinya untuk menghentikan ibadah itikafnya meski telah izin sebelumnya.

Adapun Imam Malik mengatakan bahwa seorang suami tidak berhak untuk meminta istrinya menghentikan ibadah itikaf ketika istrinya telah meminta izin sebelumnya sebagaimana dikutip dari pernyataan Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki berikut ini.

والجمهور على جواز منع زوجها لها من الاعتكاف بعد الإذن وقال مالك ليس له المنع بعد الإذن

Artinya, “Mayoritas ulama membolehkan seorang menahan istrinya untuk itikaf meski sudah izin sebelumnya. Sementara Imam Malik berpendapat bahwa seorang suami tidak berhak menahan istrinya untuk itikaf setelah istrinya mengajukan izin sebelumnya,” (Lihat Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz II, halaman 340).

Kami menyarankan pasangan suami dan istri untuk membicarakan baik-baik perihal ibadah itikaf yang direncanakan oleh istrinya. Keduanya juga perlu mempertimbangkan prioritas rumah tangganya di 10 akhir Ramadhan. Pasalnya, ibadah itikaf tidak memungkinkan seseorang untuk keluar dari masjid.

Demikian jawaban kami, semoga dipahami dengan baik. Demikian jawaban singkat ini. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Tags:
Share:
Selasa 14 Mei 2019 17:0 WIB
Tarawih 8 Rakaat Berjamaah atau 20 Rakaat Sendirian?
Tarawih 8 Rakaat Berjamaah atau 20 Rakaat Sendirian?
Ilustrasi (prayerinislam.com)
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebelumnya perkenalkan saya Rian, seorang perantau asal Bogor yang sekarang berdomisili di Bandung. Saya punya pertanyaan soal shalat tarawih. Saya seorang warga Nahdliyin yang tentunya mengerjakan shalat tarawih 20 rakaat disambung witir 3 rakaat. Namun, di daerah tempat saya tinggal sekarang kebanyakan masjid melakukan shalat tarawih delapan rakaat dan witir 3 rakaat. Mohon pendapatnya apa yang lebih utama saya lakukan, shalat sendirian 23 rakaat atau berjamaah 11 rakaat terkait shalat tarawih. Terima kasih. (Rian)

Jawaban:

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

Saudara Rian yang kami hormati. Semoga kita senantiasa diberi taufiq untuk bisa rutin menjalankan ibadah tarawih.

Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah sepakat bahwa jumlah rakaat shalat tarawih adalah 20 rakaat. Hal ini berdasarkan konsensus para sahabat Nabi di masa pemerintahan Sayyidina Umar bin al-Khathab. Meskipun para sahabat mendirikannya hanya 8 rakaat saat bermakmum kepada Nabi, tapi mereka menyempurnakannya menjadi 20 rakaat di rumahnya masing-masing. Nabi hanya shalat 8 rakaat bersama mereka karena memberi keringanan, khawatir tarawih diyakini fardhu, sehingga akan memberatkan.

Syekh Sulaiman al-Bujairimi mengatakan:

فإن قلت: أجمعوا على أن التراويح عشرون ركعة والوارد من فعله - صلى الله عليه وسلم - ثمان ركعات. قلت: أجيب بأنهم كانوا يتممون العشرين في بيوتهم بدليل أن الصحابة إذا انطلقوا إلى منازلهم يسمع لهم أزيز كأزيز الدبابير، وإنما اقتصر - صلى الله عليه وسلم - على الثمان في صلاته بهم ولم يصل بهم العشرين تخفيفا عليهم اهـ اج.

“Bila kamu bertanya, para sahabat bersepakat bahwa tarawih adalah 20 rakaat, sementara yang datang dari perilaku Nabi adalah delapan rakaat?. Aku berkata, jawabannya adalah bahwa para sahabat menyempurnakan 20 rakaat di rumahnya dengan bukti mereka ketika berangkat menuju kediamannya, didengar dari mereka suara bergemuruh layaknya serangga-serangga (karena suara shalat mereka). Nabi hanya meringkas delapan rakaat saat shalat bersama sahabat, tidak shalat sebanyak 20 rakaat, karena memberi keringanan untuk mereka,” (Syekh Sulaiman al-Bujairimi, Tuhfah al-Habib, juz 1, hal. 421).

Namun, andaikan tarawih dilakukan kurang dari 20 rakaat, maka tetap diperbolehkan dan mendapat pahala tarawih, meski pahalanya masih di bawah orang yang melaksanakannya sebanyak 20 rakaat.

Baca juga:
Dalil dan Keutamaan Shalat Tarawih
Mengapa Jumlah Rakaat Tarawih Berbeda-beda? Ini Penjelasannya
Yang bermasalah adalah ketika mereka yang melaksanakan tarawih delapan rakaat menyalahkan pihak yang tarawih 20 rakaat, bahkan sampai menganggap Sayyidina Umar bin Khatab—sebagai inisiator berjamaah tarawih 20 rakaat di masjid—menyimpang dari sunnah Nabi.

Sungguh tidak rasional, para sahabat yang alim, pakar fiqih, tafsir, dan hadits bersepakat dalam sebuah kesesatan. Padahal Nabi telah menegaskan bahwa sahabat laksana bintang-bintang yang bisa menjadi petunjuk bagi umat Islam.

Oleh karena itu, KH Abu Fadlol bin Abdus Syukur dari Tuban dengan tegas menyatakan bahwa orang yang menganggap bahwa Sayyidina Umar bin Khatab adalah pelaku bid’ah dalam urusan tarawih, tidak diragukan lagi ia sendiri yang berbuat bid’ah.

Ulama Nusantara yang dijuluki “kitab berjalan” ini mengatakan:

فإن تجرأ متجرئ على تسمية عمر رضي الله عنه مبتدعا بمعنى أنه مخالف للسنة فلا يشك عاقل في أنه هو المبتدع 

“Bila ada orang dengan berani menyebut Sayyidina Umar sebagai pelaku bid’ah, dengan arti beliau menyelisihi sunnah Nabi, maka orang yang berakal tidak ragu bahwa ia sendiri sebagai pelaku bid’ah,” (KH. Abu Fadlol bin Abdus Syukur al-Senori, Kasyfu al-Tabarih, hal. 9).

Berkaitan dengan pilihan berjamaah atau shalat sendiri dalam konteks pertanyaan di atas, perlu diketahui bahwa hukum melaksanakan tarawih secara berjamaah adalah sunnah. Namun, bila imam shalat terindikasi sebagai pelaku bid’ah, semisal menganggap para sahabat menyimpang dalam jumlah rakaat tarawih, mudah mensyirikan orang, meyakini Allah tidak dapat dilihat di akhirat dan lain sebagainya, maka hukumnya makruh bermakmum dengannya.  Kecuali bila tidak bermakmum dengan imam tersebut akan menimbulkan gejolak, maka hendaknya tetap berjamaah untuk menghindari fitnah.

Ulama berbeda pendapat bila tidak menemukan jamaah kecuali dengan imam pelaku bid’ah, apakah tetap dianjurkan berjamaah atau shalat sendiri? Menurut Imam al-Subki, lebih baik berjamaah. Sedangkan menurut Imam Ibnu Hajar dianjurkan shalat sendirian.

Syekh Zainuddin al-Malibari mengatakan:

وكره اقتداء بفاسق ومبتدع كرافضي وإن لم يوجد سواهما ما لم يخش فتنة. وقيل لا يصح الاقتداء بهما. - إلى أن قال- واختار السبكي ومن تبعه انتقاء الكراهة إذا تعذرت الجماعة إلا خلف من تكره خلفه بل هي أفضل من الانفراد.وجزم شيخنا بأنها لا تزول حينئذ بل الانفراد أفضل منها.وقال بعض أصحابنا: والأوجه عندي ما قاله السبكي رحمه الله تعالى.

“Makruh bermakmum dengan orang fasiq dan pelaku bid’ah, seperti kaum Rafidli, meski tidak ditemukan imam selainnya, selama tidak khawatir fitnah. Menurut sebagian pendapat, tidak sah bermakmum dengan keduanya. Imam al-Subuki dan pengikutnya memilih pendapat ketiadaan hukum makruh bila sulit menemukan jamaah kecuali bermakmum di belakang imam yang makruh dimakmumi, bahkan berjamaah lebih utama dari pada shalat sendiri. Guruku meyakini bahwa hukum makruh tidak hilang dalam kondisi tersebut, bahkan lebih utama shalat sendirian. Sebagian ashab (ulama penganut mazhab Syafi'i) berkata, pendapat yang kuat menurutku adalah apa yang dikatakan imam al-Subki,” (Syekh Zainuddin al-Malibari, Fath al-Mu’in Hamisy I’anah al-Thalibin, juz 2, hal. 12).

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa sebaiknya saudara tetap melaksanakan jamaah tarawih di masjid. Kecuali bila imam tarawih terindikasi orang yang menyimpang secara ideologi, maka sebaiknya mencari jamaah di tempat lain, bisa juga membuat jamaah sendiri di rumah dengan keluarga. Dan bila sulit mencari jamaah di tempat lain atau menimbulkan gejolak bila tidak berjamaah di masjid setempat, maka kami sarankan tetap mengikuti jamaah di masjid untuk menjaga keharmonisan hubungan bertetangga dengan masyarakat sekitar. 

Kami sarankan setelah selesai berjamaah di masjid, saudara menyempurnakan rakaat tarawih menjadi 20 rakaat di rumah, dan pelaksanaan shalat witir tetap setelah tarawih selesai 20 rakaat. Oleh karenanya, ketika imam shalat witir, kami sarankan anda tetap niat tarawih. Hal ini dikarenakan ada kesunnahan pelaksanaan witir setelah tarawih, di samping ada anjuran memposisikan witir sebagai penutup shalat di malam hari.

Dengan demikian, pilihannya tak selalu harus kaku dan dikotomis antara tarawih 8 rakaat secara berjamaah atau 20 rakaat secara sendirian. Karena Anda masih bisa menyempurnakan menjadi 20 rakaat di rumah setelah mengikuti tarawih berjamaah di rumah. Saat tarawih di rumah pun, kita masih punya peluang untuk tetap shalat berjamaah bersama kerabat atau teman-teman dekat.

Kami juga menyarankan, meski berdampingan dengan tetangga yang berbeda ideologi, agar tetap menjaga kerukunan, memenuhi hak-hak bertetangga, dan tetap menebarkan kedamaian di mana pun. Demikian semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.


Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pesantren Raudlatul Qur’an, Geyongan Arjawinangun Cirebon Jawa Barat.

Selasa 14 Mei 2019 16:5 WIB
Hukum Berbuka Puasa lewat Azan Maghrib di TV
Hukum Berbuka Puasa lewat Azan Maghrib di TV
(Foto: @aboutislam.net)
Assalamu alaikum wr. wb.
Redaksi NU Online, umumnya kebanyakan masyarakat menghidupkan televisi di sore hari Ramadhan untuk menunggu suara azan Maghrib. Bahkan masyarakat telah mengetahui stasiun televisi yang kerap memutar lebih awal kumandang azan maghrib dibanding stasiun televisi lainnya. Bagaimana dengan buka puasa dengan suara azan di tv? Mohon penjelasannya. Wassalamu alaikum wr. wb. (Syamsul Huda/Jakarta).

Jawaban
Penanya yang budiman, semoga dirahmati Allah SWT. Puasa adalah ibadah yang menuntut seseorang untuk menahan diri dari makanan, minuman, dan hubungan seksual sejak terbit fajar hingga matahari tenggelam atau ghurub.

Orang yang menjalankan ibadah puasa perlu memastikan tenggelamnya matahari sebagai waktu berbuka puasa. Oleh karena itu, ia perlu berhati-hati untuk menyantap hidangan takjil sebelum ada informasi pasti perihal ghurub atau matahari tenggelam.

قوله (والاحتياط أن لا يأكل آخر النهار إلا بيقين) كأن يعاين الغروب ليأمن الغلط (ويحل) الأكل آخره (بالاجتهاد) بورد أو غيره (في الأصح) كوقت الصلاة، والثاني: لا، لإمكان الصبر إلى اليقين.

Artinya, “(Seseorang tidak memakan sesuatu di ujung siang Ramadhan sebagai bentuk ihtiyath atau kehati-hatian kecuali berdasarkan keyakinan) yaitu menyaksikan matahari tenggelam agar terjamin dari kekeliruan. (Seseorang boleh) memakan sesuatu di ujung siang Ramadhan (berdasarkan ijtihad) yaitu wirid atau lainnya (menurut pendapat yang lebih shahih) seperti waktu shalat. Sedangkan pendapat kedua mengatakan tidak boleh memakan takjil karena masih memungkinkan kesabaran sampai benar-benar yakin masuk waktu maghrib,” (Lihat M Khatib As-Syarbini, Mughnil Muhtaj, [Beirut, Darul Makrifah: 1997 M/1418 H], cetakan pertama, juz I, halaman 631).

Dari keterangan ini, kita mendapatkan keterangan bahwa orang yang beribadah puasa perlu berupaya untuk mencari informasi perihal kedatangan waktu maghrib. Artinya, ia tidak boleh menduga-duga atas kedatangan waktu maghrib yang berkaitan dengan waktu berbuka puasa.

أما بغير اجتهاد فلا يجوز ولو بظن؛ لأن الأصل بقاء النهار، وقياس اعتماد الاجتهاد جواز اعتماد خبر العدل بالغروب عن مشاهدة

Artinya, “Adapun tanpa berdasarkan ijtihad, maka seseorang tidak boleh berbuka puasa meski dengan dugaan karena pada prinsipnya waktu siang masih berjalan. Sedangkan qiyas ijtihad sebagai sandaran buka puasa dimungkinkan sebagaimana kebolehan kabar seorang yang adil atas tenggelamnya matahari berdasarkan kesaksiannya,” (Lihat M Khatib As-Syarbini, Mughnil muhtaj, [Beirut, Darul Makrifah: 1997 M/1418 H], cetakan pertama, juz I, halaman 631-632).

Lalu bagaimana status azan maghrib di bulan Ramadhan yang diputar oleh pelbagai stasiun televisi?

Azan maghrib yang diputar oleh pelbagai stasiun televisi didasarkan pada semisal jadwal imsakiyah dan waktu shalat yang juga sebenarnya dimiliki masyarakat dan dapat diverifikasi di rumah masing-masing. Sementara jadwal imsakiyah dan waktu shalat disusun berdasarkan perhitungan astronomis.

Menurut hemat kami, seseorang yang beribadah puasa boleh menyandarkan diri waktu maghribnya pada azan yang diputar oleh stasiun televisi.

Namun demikian, kami menyarankan agar masyarakat menunggu sejenak buka puasanya untuk memastikan waktu maghrib dengan memindah-mindah ke stasiun tv yang lain dan memverifikasinya dengan jam dinding serta jadwal shalat dan imsakiyah agar informasi atas waktu maghrib diperoleh secara mutawatir dan dari pelbagai sumber.

Ketika waktu maghrib telah pasti, maka ketika itu kita disunnahkan untuk berbuka puasa sebagaimana keterangan Syekh Ramli berikut ini:

وَمَحَلُّ النَّدْبِ إذَا تَحَقَّقَ الْغُرُوبُ أَوْ ظَنَّهُ بِأَمَارَةٍ لِخَبَرِ {لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ} مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Artinya, “Kesunnahan penyegeraan berbuka puasa terletak pada kepastian waktu maghrib atau dugaan waktu maghrib dengan tanda-tanda tertentu berdasarkan hadits, ‘Orang-orang senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka,’ [HR Muttafaq Alaih],” (Lihat Ar-Ramli, Nihayatul Muhtaj, juz IX, halaman 408).

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Selasa 14 Mei 2019 2:0 WIB
Megengan atau Tradisi Penyambutan Ramadhan dalam Islam
Megengan atau Tradisi Penyambutan Ramadhan dalam Islam
(Foto: @3jawakers.wordpress.com)
Assalamu alaikum wr. wb.
Redaksi NU Online, sebelum masuk bulan Ramadhan masyarakat biasa mengadakan upacara kirim arwah dengan bacaan tahlil dan Surat Yasin? Orang Aceh menyebutnya meugang. Sementara orang Jawa menyebutnya megeng. Upacara ini diadakan dalam rangka menyambut kedatangan bulan Ramadhan. Bagaimana Islam memandang tradisi ini? Mohon penjelasannya. Wassalamu alaikum wr. wb. (Sofyan/Jakarta).

Jawaban
Penanya yang budiman, semoga dirahmati Allah SWT. Tradisi meugangan atau megengan berkembang juga di masyarakat Melayu selain di Aceh dan di Jawa. Dalam menyambut bulan suci Ramadhan, mereka biasanya berkumpul bersama keluarga, makan bersama, dan membaca zikir dan tahlil untuk arwah keluarga mereka yang telah wafat.

Selain itu, masyarakat juga melakukan ziarah kubur dan menggelar sedekah massal di masjid atau mushalla. Ada juga masyarakat yang melakukan kunjungan silaturahmi. Semuanya ini dilakukan dalam rangka menyambut gembira bulan suci Ramadhan.

Bagaimana Islam memandang hal seperti ini?

Riwayat Imam Ahmad dan An-Nasa’i mengabarkan kepada kita bahwa Rasulullah SAW juga mengekspresikan kegembiraannya kepada para sahabat perihal kedatangan bulan suci Ramadhan sebagaimana dikutip berikut ini:

وَقَدْ كَانَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ بِقُدُوْمِ رَمَضَانَ كَمَا أَخْرَجَهُ الإِمَامُ أَحْمَدُ وَالنَّسَائِيُّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَلَفْظُهُ لَهُ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ بِقُدُوْمِ رَمَضَانَ بِقَوْلِ قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ كُتِبَ عَلَيْكُمْ صِيَامُهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حَرُمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حَرُمَ الخَيْرَ الكَثِيْرَ

Artinya, “Rasulullah SAW memberikan kabar gembira kepada para sahabat atas kedatangan bulan Ramadhan sebagaimana riwayat Imam Ahmad dan An-Nasai dari Abu Hurairah RA. Ia menceritakan bahwa Rasulullah memberikan kabar gembira atas kedatangan bulan Ramadhan dengan sabdanya, ‘Bulan Ramadhan telah mendatangi kalian, sebuah bulan penuh berkah di mana kalian diwajibkan berpuasa di dalamnya, sebuah bulan di mana pintu langit dibuka, pintu neraka Jahim ditutup, setan-setan diikat, dan sebuah bulan di mana di dalamnya terdapat malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja yang luput dari kebaikannya, maka ia telah luput dari kebaikan yang banyak,’” (Lihat Az-Zarqani, Syarah Az-Zarqani alal Mawahibil Ladunniyah bil Minahil Muhammadiyyah, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], juz XI, halaman 222).

Bagi sebagian ulama, hadits ini menjadi dasar hukum bagi masyarakat yang mengekspresikan kegembiraan perihal kedatangan bulan suci Ramadhan. Hadits ini membuktikan bahwa satu sama lain boleh bergembira atas kedatangan bulan Ramadhan dan mereka dapat memberikan kabar gembira kepada yang lain.

قال بعض العلماء هذا الحديث أصل في تهنئة الناس بعضهم بعضا بشهر رمضان

Artinya, “Sebagian ulama berpendapat bahwa hadits ini menjadi dasar atas praktik penyambutan yang dilakukan seseorang terhadap orang lain atas kedatangan bulan Ramadhan,” (Lihat Az-Zarqani, Syarah Az-Zarqani alal Mawahibil Ladunniyah bil Minahil Muhammadiyyah, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], juz XI, halaman 223).

Adapun Al-Qamuli mengatakan bahwa ulama berbeda pendapat perihal hukum ucapan selamat atas hari Id, pergantian tahun, dan pergantian bulan yang diamalkan masyarakat. Tetapi yang jelas sejauh tradisi itu hanya berisi ucapan selamat datang atas bulan yang mulia tidak termasuk kategori sunnah atau bid’ah.

قال قمولي في الجواهر لم أر لأحد من أصحابنا كلاما في التهنئة بالعيد والأعوام والأشهر كما يفعله الناس لكن نقله الحافظ المنذري عن الحافظ أبي الحسن المقدسي أن الناس لم يزالوا مختلفين فيه والذي أراه أنه مباح لا سنة ولا بدعة انتهى

Artinya, “Al-Qamuli dalam Kitab Al-Jawahir mengatakan, ‘Saya tidak melihat pendapat para ulama kita perihal  tahniah atau penyambutan gembira atas Hari Id, pergantian tahun, atau bulan sebagaimana dilakukan oleh banyak orang. Tetapi Al-Hafiz Al-Mundziri mengutipnya dari Al-Hafiz Abul Hasan Al-Maqdisi, ‘Orang-orang selalu berbeda pendapat perihal ini. Sedangkan pendapatku adalah bahwa hal itu mubah, bukan sunnah, bukan bid’ah.’ Selesai,’” (Lihat Az-Zarqani, Syarah Az-Zarqani alal Mawahibil Ladunniyah bil Minahil Muhammadiyyah, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], juz XI, halaman 223).

Sementara pada hemat kami, praktik meugengan atau megengan di Aceh, Jawa, Melayu, dan pelbagai belahan Nusantara lainnya memuat hal-hal yang baik, yaitu zikir, tahlil, silaturahmi, makan bersama keluarga, ziarah kubur, dan sedekah yang semuanya secara umum memang dianjurkan kapan saja oleh agama Islam.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)