IMG-LOGO
Hikmah

Wanita Ahli Ibadah yang Tak Pernah Tidur Malam

Ahad 26 Mei 2019 17:0 WIB
Share:
Wanita Ahli Ibadah yang Tak Pernah Tidur Malam
Ilustrasi (Shutterstock)
Dalam kitab Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb, Sayyid Abdul Aziz al-Darani mencatat kisah wanita ahli ibadah. Berikut kisahnya:

كانت امرأة متعبدة لا تنام من الليل إلا يسيرا فعوتبت في ذلك فقالت: كفي بطول الرقدة في القبور رقادا

Ada seorang wanita ahli ibadah. Dia tidak pernah tidur di malam hari kecuali sebentar saja. Karena itu seseorang menegurnya. Wanita itu menjawab: 

“Cukuplah tidur lama di kuburan (kelak) sebagai tidur (peristirahatanku).” (Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb, Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003, h. 145)

****

Dengan mengajukan kisah ini, Sayyid Abdul Aziz hendak mengajak kita untuk mempersiapkan diri secara batin dalam menjalani kehidupan. Niat yang tulus hanya akan hadir dari kesiapan jiwa yang baik. Salah satu cara penyiapan jiwa yang baik adalah dengan memperkuat perasaan takut akan siksa-Nya dan rindu akan ridha-Nya. Penggunaan kata “tidur lama di kuburan kelak sebagai tidur peristirahatan” memberikan beberapa hal untuk dipahami.

Pertama, untuk merasakan istirahat panjang di alam kubur seperti halnya tidur di saat hidup, kita harus bersih dari dosa atau hanya memiliki sedikit dosa, dan banyak amal. Banyaknya amal pun belum bisa menjamin kenikmatan istirahat kita di alam kubur tanpa rahmat Allah subhanahu wata'ala

Kedua, bahwa dunia adalah tempat pencari bekal untuk kehidupan yang sesungguhnya, yaitu kehidupan akhirat. Dan yang terakhir, ketiga, orang yang tidak menyiapkan bekal dan menanggung banyak dosa tidak bisa beristirahat dengan tenang di kuburnya. Dia akan disiksa karena dosa dan kejahatannya selama hidup.

Sebelum berkisah tentang wanita ahli ibadah tersebut, Sayyid Abdul Aziz al-Darani memberikan pertanyaan kontemplatif. Beliau menulis:

تفكر لماذا خلقت؟ فمن يرد الله به خير يفقهه في الدين. النفس لا تكاد توافقك طوعا فخذ آلة الحرب

“Berpikirlah kenapa kau diciptakan? Karena orang yang Allah kehendaki kebaikan akan dipahamkan (dididik) dalam persoalan agama. Nafsu nyaris tidak akan mengikutimu dengan sukarela, ambillah peralatan perang (untuk berjuang melawannya).” (Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb, 2003, h. 145)

Sayyid Abdul Aziz mendorong kita untuk berpikir kenapa kita diciptakan. Pertanyaan itu dijawab Allah dengan sederhana (QS. Al-Dzariyat: 56), “li-ya’budûni—agar manusia dan jin mengabdi/menyembah kepadaKu.” Jawaban ini memiliki sisi teoritis sekaligus praksis. Bisa saja kita memberikan jawaban panjang lebar menggunakan berbagai pendekatan, tapi efeknya tidak akan sebesar jawaban simple di atas yang bisa dipahami semua orang dalam kehidupan sehari-hari. Jawaban yang bisa katakan sebagai sumber asal pedoman hidup manusia, yaitu menyembah dan mengabdi kepadaNya.

Jawaban ini pun bergaris lurus dengan pernyataan Sayyid Abdul Aziz al-Darani tentang orang yang dikehendaki Allah kebaikan, dia akan dipahamkan dalam persoalan agama. Pernyataan tersebut sebenarnya berasal dari hadits (HR. Imam al-Bukhari), “man yuridillahu bihi khairan yufaqqihhu fid dîn—barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan baginya, Allah akan memahamkannya dalam urusan agama.” 

Bukan berarti jika ada orang jahat, itu karena Allah tidak menghendakinya kebaikan, bukan. Kita harus memandang hadis tersebut sebagai kehendak Tuhan yang Mahabaik, yaitu “kehendak kebaikan” untuk seluruh ciptaan-Nya, khususnya manusia. Tidak mungkin Tuhan menghendaki keburukan untuk makhluk-Nya, tidak mungkin. Tuhan selalu menghendaki kebaikan untuk seluruh makhluk-Nya. Salah satu buktinya adalah diturunkannya berbagai kitab suci dan diutusnya para nabi dari masa ke masa untuk mendidik manusia dan memahamkannya dalam agama. 

Karena itu, Sayyid Abdul Aziz al-Darani menasihati kita untuk mengambil perlengkapan perang melawan hawa nafsu. Orang yang dikuasai oleh hawa nafsunya, akan sukar menerima pendidikan dan pemahaman agama dengan baik, padahal itu kehendak Allah. Artinya, orang yang mengacuhkan ketetapan Allah yang berupa “menghendaki kebaikan”, dia telah berdosa. 

Hadis itu mendorong kita untuk welcome pada kehendak kebaikan Allah untuk manusia, sehingga kita bisa menerima pendidikan dan pemahaman agama yang menyelematkan kita di dunia dan akhirat. Seringkali kita sendiri yang tidak merasakan pendidikan yang Allah berikan pada kita. Padahal, jika kita melihat ke segala arah, mengukur ke dalam diri, dan mengamati gerak semesta, kita akan menemukan banyak pengetahuan, bahkan dari kerapian bebek yang melintasi jalanan.

Bulan Ramadan ini adalah waktu yang tepat untuk memperbaharui hati kita agar lebih bersih dari sebelumnya, dengan berpuasa, memperbanyak ibadah dan memanjatkan doa kepadaNya. Oleh karena itu, di tengah-tengah munajatnya, Sayyid Abdul Aziz al-Darani mengakui ketidak-mampuannya sebagai manusia dengan cara menghamba. Di hadapan-Nya, ia merendahkan diri dan akalnya serendah-rendahnya. Ia berujar:

تحيّرت العقول في وصف جلالك وعجزت الأفهام عن الإحاطة بكمالك

“Akal kebingungan dalam menggambarkan kebesaranMu dan pengetahuan terlalu lemah untuk meliput kesempurnaanMu.” ((Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb, 2003, h. 146)

Karena itu, kita harus terus memohon petunjuk Allah. Karena secerdas apapun akal kita, tak mungkin dapat mengumpulkan bahasa untuk menggambarkan kebesaranNya. Sebanyak apapun pengetahuan kita, tak mungkin bisa merangkai kata untuk melukiskan kesempurnaan-Nya. Semoga kita bisa terhindar dari segala keburukan. Amin. Wallahu a’lam bish shawwab..


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.
Share:
Sabtu 25 Mei 2019 15:0 WIB
Dialog Dua Malaikat tentang Manusia
Dialog Dua Malaikat tentang Manusia
Dalam kitab Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû li ‘Allâm al-Ghuyûb, Sayyid Abdul Aziz al-Darani (w. 697 H) mencatat sebuah riwayat yang mengisahkan dialog dua malaikat. Diceritakan oleh Sayyid Abdul Aziz al-Darani:

أنّ ملكين من السماء كل يوم يقول احدهما: يا ليت الخلق لم يخلقوا, ويقول الآخر: ليتهم إذا خلقوا علموا لماذا خلقوا, ويقول الأول: ليتهم إذا علموا لماذا خلقوا عملوا بما علموا, ويقول الآخر: ليتهم إذا لم يعلموا تابوا مما عملوا, ويقال: العمر بضاعة والرابح من صرفه في الطاعة

Sesungguhnya dua malaikat dari langit setiap hari (turun). Salah satu dari dua malaikat tersebut berkata: “Alangkah baiknya kiranya manusia tidak diciptakan!” 

Berkata malaikat yang lain: “Alangkah baiknya, andai mereka tahu kenapa mereka diciptakan!” 

Berkata malaikat yang pertama: “Sekiranya mereka tahu kenapa mereka diciptakan, tentu mereka akan beramal saleh dengan pengetahuannya.” 

Berkata lagi malaikat lainnya: “Kiranya mereka belum beramal saleh, mereka (harus) bertobat dari apa yang telah mereka lakukan.”

Dikabarkan bahwa “umur adalah barang dagangan. Orang yang memperoleh laba adalah orang yang membelanjakannya dalam ketaatan.” (Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2003, h. 146)

****

Dengan mengutip riwayat di atas, Sayyid Abdul Aziz al-Darani hendak menyadarkan manusia dari tidur panjangnya. Mengingatkan manusia bahwa sekali waktu di zaman yang sangat dahulu malaikat pernah mempertanyakan kebijakan Tuhan yang hendak menciptakan manusia. Pertanyaan para malaikat itu bukan pertanyaan biasa, tapi pertanyaan yang langsung disertai tuduhan terhadap manusia (QS. Al-Baqarah: 30), “ataj’alu fîhâ man yufsidu fîhâ wa yasfiku al-dimâ’a—apakah Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu, orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah.” Riwayat di atas mengingatkan kita akan hal itu, bahwa manusia dengan segudang kualitas baiknya memiliki potensi berbuat jahat dan dosa.

Dalam kajian kali ini, kita tidak akan membicarakan kejahatan dan dosa yang “wah”, kita akan fokuskan kajian kita pada aspek acuhnya manusia terhadap dirinya sendiri. Syekh Hamza Yusuf sering melabeli manusia dengan istilah “orang yang tidur berjalan” untuk menunjukkan ketidak-mampuan manusia dalam mengenali kualitas dirinya. Dia (manusia) hidup, bernapas, tidak sedang tidur, bergerak, tapi kesadarannya sebagai manusia dan makhluk yang diproyeksikan Tuhan sebagai khalifah di muka bumi tidak berfungsi dengan baik. Jangankan menjadi khalifah di muka bumi yang berarti harus menjadi “khair al-nâs anfa’uhum li al-nâs—sebaik-baik manusia adalah yang paling berguna untuk lainnya”, menjadi khalifah untuk dirinya sendiri saja masih jauh dari kata sampai.

Karena itu, dalam diskusi dua malaikat di atas, kita bisa temukan kerangka sederhana tentang taraf kesadaran manusia. Kerangka sederhana itu bisa kita anggap sebagai, atau paling tidak cara pandang malaikat dalam memahami manusia. Malaikat pertama membayangkan andai saja manusia tidak diciptakan, pasti tidak ada kejahatan di muka bumi ini. Malaikat yang lain memandang, andai saja manusia menyadari kenapa mereka diciptakan. Kemudian diteruskan oleh malaikat pertama, “tentu mereka akan banyak beramal saleh.” Namun, menurut malaikat kedua, mengetahui alasan kenapa mereka diciptakan (untuk mengabdi kepada Allah), masih belum cukup. Karena banyak orang yang mengetahuinya, tapi tetap bermaksiat. Sebab itu, malaikat kedua berharap manusia agar lekas bertobat dari apa yang telah mereka lakukan. 

Ini berarti tobat merupakan tangga pertama yang harus dinaiki manusia untuk menuju Tuhannya. Hampir semua manusia tahu bahwa berbohong adalah dosa, tapi banyak manusia yang tetap melakukannya. Pengetahuannya tidak menjadi detektor efektif dalam dirinya, sekedar deteksi sepintas lalu yang tidak berpengaruh apa-apa.

Ditambah lagi di akhir riwayat, Sayyid Abdul Aziz al-Darani mengutip sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa umur manusia adalah barang dagangan, orang yang meraup untung besar adalah orang yang membelanjakannya dalam ketaatan. Artinya, kita sedang berpacu dengan waktu. Kematian bisa datang kapan saja. Tanggal kadaluarsa manusia tidak bisa dipastikan seperti produk-produk masa kini. Setiap waktu adalah peluang. Berdagang dengan Allah tidak terbatas oleh waktu dan tempat tertentu, kapanpun dan dimanapun.

Dengan mengutip riwayat tersebut, Sayyid Abdul Aziz al-Darani ingin mencambuk hati kita agar lebih waras dalam menjalani kehidupan. Sadar bahwa kita sedang hidup, tidak sekedar berjalan kesana-kemari tanpa membawa dan memberi kemanfaatan untuk diri sendiri dan orang di sekitar kita. Apalagi nikmat Tuhan telah begitu banyak mengelilingi kita, terutama nikmat mengenali-Nya; nikmat menjadi hamba-Nya; dan nikmat menjadi umat Rasul terkasih-Nya, Sayyidina wa Maulana Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian ia bersyukur dengan mengujar:

إلهي إنّ قلوبنا موقنة بصدق ما وعدت ونفوسنا طامعة بحسن ما عوّدت, ألهمتنا معرفة وجودك وعاماتنا بكرمك وجودك وزيّنتنا بصدق توحيدك وأنطقتنا بتمجيدك وتقديسك وتحميدك وأكرمتنا بصدق محمد خير خلقك صلي الله عليه وعلي آله وصحبه وسلم

“Tuhanku, sungguh hati kami yakin dengan kebenaran yang Kau janjikan, dan jiwa kami rakus dengan kebaikan yang Kau biasakan. Kau anugerahi kami ilham pengetahuan wujudMu, memperlakukan kami dengan kemuliaan-Mu dan kedermawanan-Mu, menghiasi kami dengan kebenaran tauhid-Mu, memberi kami kemampuan berucap untuk mengangungkan-Mu, menyucikan-Mu, dan memuji-Mu, serta memuliakan kami dengan meyakini kenabian Muhammad SAW, sebaik-baik dari makhluk-Mu.” (Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb, 2003, h. 147)

Wallahu a’lam bish shawwab...


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Jumat 24 Mei 2019 15:0 WIB
Nasihat Orang Kampung tentang Cara Berteman yang Baik
Nasihat Orang Kampung tentang Cara Berteman yang Baik
Dalam kitab al-Shadâqah wa al-Shadîq, Imam Abu Hayyan al-Tawhidi (310-414 H) mencatat jawaban orang Arab Badui (Arab Kampung) ketika ditanya siapa orang yang paling baik pergaulannya:

وقيل لأعرابي: من أكرم الناس عشرة؟ قال: من إن قرب منح، وإن بعد مدح، وإن ظلم صفح، وإن ضويق فسح، فمن ظفر به فقد أفلح ونجح

Seorang Arab Badui (orang Arab kampung) ditanya: “Siapakah orang yang paling mulia pergaulannya?”

Ia menjawab: “Orang yang jika dekat ia memberi; jika jauh ia memuji; jika dizalimi ia memaafkan; jika dipersempit ia melapangkan. Siapa saja yang mendapatkan (teman seperti itu), maka ia benar-benar beruntung dan sukses.” (Imam Abu Hayyan al-Tawhidi, al-Shadâqah wa al-Shadîq, Beirut: Dar al-Fikr al-Mu’ashir, 1998, h. 39)

****

Mungkin ini adalah salah satu alasan kenapa orang Arab Perkotaan (hadlari) zaman dulu menitipkan anaknya di perkampungan untuk disusui dan dibesarkan, seperti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Sayyidina Hamzah bin Abdul Muttalib, dan lain sebagainya. Karena kebanyakan orang kampung memiliki ketulusan dan keluguan yang murni. Mereka cerdas dengan caranya sendiri. Seringkali kebijaksanaan keluar dari perilaku dan ucapan mereka, dengan apa adanya, tidak dibuat-buat dan dicitrakan. 

Kebijaksanaan mereka tidak berasal dari pengajaran sistematis seperti masyarakat perkotaan, tapi pergaulan mereka dengan alam, lingkungan, realitas sosial, dan budaya berbagi di kalangannya. Orang Arab Badui, meskipun kasar, mereka terkenal sangat dermawan dan murah hati. Sayyidina Qais bin Sa’d, seorang sahabat nabi yang kedermawanannya dianggap tanpa tanding, ketika ditanya, ‘apakah ada orang yang melebihi kedermawananmu?’ Ia menjawab, ‘ada’. 

Kemudian ia bercerita suatu hari ia dan temannya melakukan perjalanan dan menginap di tenda orang Arab Badui. Sang tuan rumah menyembelihkan mereka unta untuk hidangan makan malam. Di pagi harinya, tuan rumah menyembelihkan mereka unta lagi. Qais bin Sa’id terkejut dan bertanya, “tuan, bukankah daging unta sisa tadi malam masih banyak, kenapa menyembelihkan kami unta lagi?” Jawaban orang Arab Badui itu membuat Qais bin Sa’d lebih terkejut. Ia menjawab, “innî lâ ath’amu adlyâfîl ghâbb—aku tidak mau memberi makanan yang telah bermalam kepada tamu-tamuku.” 

Mereka menginap di tenda orang Arab Badui selama tiga hari, dan setiap hari mereka memakan daging unta yang baru disembelih. Ketika hendak melanjutkan perjalanan, Qais bin Sa’d memberi isteri orang Arab Badui itu uang seratus dinar. Belum terlalu jauh mereka berjalan, sang suami memanggil dengan suara keras, “wahai pengendara yang sangat tercela, kalian membayar hidangan yang kuberikan pada kalian sebagai tamu?” Lalu ia melanjutkan ucapannya dengan marah, “lata’khudznahu wa illâ tha’antukum bi ramhî—ambillah kembali uangmu ini, jika tidak, akan kutikam kau dengan tombakku!” (Imam Abu al-Qasim al-Qusyairi, al-Risâlah al-Qusyairiyyah, Kairo: Dar al-Salam, 2014, h. 136)

Kisah di atas adalah contoh kemurahan hati mereka. Mereka sangat marah jika kemurahan hatinya dinilai dengan uang. Karena itu, bagi mereka, teman yang ideal adalah teman yang selalu membuka, bukan dibuka. Jika disakiti, ia memaafkan sebelum diminta; jika dibakhili, ia memberi sebelum diminta; jika dibenci, ia menyayangi sebelum diminta, sehingga wajar saja jika mereka mengatakan: “Orang yang jika dekat ia memberi; jika jauh ia memuji; jika dizalimi ia memaafkan; jika dipersempit ia melapangkan. Siapa saja yang mendapatkan (teman seperti itu), maka ia benar-benar beruntung dan sukses.” 

Oleh karena itu, kita harus terbuka dalam berteman, menjaga di depan sekaligus mengawasinya di belakang. Kita harus memahami bahwa teman kita adalah manusia, yang bisa benar dan salah. Agar kita tidak terlalu kecewa ketika ia berbuat salah, dan tidak terlalu melebihkan ketika ia berlaku benar. Sebab, asas dasar dalam pertemanan adalah menerima kekurangan temannya, bukan mengharapkan kelebihannya. Jika kita bisa menerima kekurangan teman kita, kita akan lebih bahagia dalam menerima kelebihannya.

Dengan demikian, kita sudah menyiapkan beribu-ribu maaf untuk kesalahan yang telah, sedang, dan akan diperbuatnya. Ketika ia menzalimi kita, kita tidak terkejut karena sudah menyiapkan maaf untuknya. Tidak hanya itu, kita malah berterima kasih kepadanya karena meningkatkan semangat ibadah kita. Bagi orang yang selalu mengintrospeksi diri, ia tidak akan menerima kebencian sebagaimana kebencian itu sendiri. Ia akan menelaahnya terlebih dahulu, apakah itu murni kebencian atau ada yang melatar-belakanginya. Andaipun tidak menemukan latar belakang kebencian tersebut, ia tetap merasa perlu memohon ampun kepada Allah karena ketidak-sadaran dirinya akan kesalahannya.

Kisah Aban bin Abi ‘Ayyas bisa menjadi pelajaran. Suatu hari seseorang mendatanginya dan menceritakan bahwa fulan mencaci makinya. Aban bin Abi ‘Ayyas menjawab:

أَقْرِئْهُ السَّلَامَ، وَأَعْلِمْهُ أَنَّهُ قَدْ هَيَّجَنِي عَلَى الِاسْتِغْفَارِ

Sampaikan salam(ku) kepadanya, dan beritahu dia bahwa dia telah membangkitkan (semangat)ku untuk beristigfar (memohon ampun kepada Allah).” (Imam Ibnu Abi Dunya, al-Shumt wa Adâb al-Lisân, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Arabi, 1410 H, h. 268)

Dengan mendalami nasihat orang Arab Badui di atas, semoga kita bisa menjadi teman yang membuat temannya merasa beruntung berteman dengan kita. Amin. Wallahu a’lam bish shawwab...


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.


Kamis 23 Mei 2019 22:0 WIB
Ketika Sayyidina Ali bin Abi Thalib Bekerja pada Orang Yahudi
Ketika Sayyidina Ali bin Abi Thalib Bekerja pada Orang Yahudi
null
Para sahabat begitu perhatian dan cinta kepada Nabi Muhammad. Mereka siap melakukan apapun untuk sekedar meringankan beban yang dialami Nabi Muhammad. Mereka juga siap mengorbankan harta, tenaga, dan bahkan nyawanya demi orang yang dicintainya itu. Bahkan, kecintaan mereka kepada Nabi Muhammad lebih besar daripada kecintaan mereka terhadap diri sendiri ataupun keluarganya. 

Sayyidina Ali bin Abi Thalib adalah salah seorang yang sangat mencintai Nabi Muhammad. Saking cintanya, ia lebih mendahulukan kepentingan Nabi Muhammad dan mengakhirkan kepentingan pribadi. Salah satu bentuk kecintaan Sayyidina Ali bin Abi Thalib kepada Nabi Muhammad adalah dengan memberikan bantuan manakala yang dicintainya itu mengalami kesulitan. 

Merujuk buku Hayatush Shahabah (Syaikh Muhammad Yusuf al-Kandahlawi, 2019), suatu ketika Nabi Muhammad mengalami kesulitan ekonomi. Keadaan itu membuat Nabi Muhammad tidak makan karena memang tidak ada yang bisa dimakan. Lambat laun kabar itu sampai ke telinga Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Setelah mengetahui kabar itu, Sayyidina Ali langsung pergi mencari pekerjaan sehingga mendapatkan upah. Nantinya upah itu akan diberikan kepada Nabi Muhammad.

Sayyidina Ali mendatangi seorang Yahudi yang memiliki kebun kurma. Kepada seorang Yahudi tersebut, ia mengaku siap bekerja untuk mengairi kebun kurmanya. Terjadi diskusi antara mereka berdua soal imbalan. Akhirnya disepakati, setiap Sayyidina Ali menimba satu ember dari sumur maka ia akan mendapatkan imbalan satu butir kurma.

Ia berhasil menimba 17 ember air. Sesuai kesepakatan, maka Sayyidina Ali menerima 17 butir kurma. Dia memilih kurma ajwah sebagai upahnya. Kurma-kurma tersebut kemudian diberikan kepada Nabi Muhammad. Hal itu membuat Nabi Muhammad bertanya kepada Sayyidina Ali perihal darimana asalnya kurma-kurma itu. 

“Aku pergi bekerja demi memperoleh makanan untukmu,” jawab Sayyidina Ali.

Ketika Nabi menanyakan perihal apa yang mendorong melakukan itu, Sayyidina Ali menjawab bahwa rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya lah yang mendorongnya bekerja dan memberikan upahnya kepadanya.

“Barang siapa mencintai Allah, hendaklah ia mempersiapkan perlindungan yang langgeng dari kemalangan,” kata Nabi Muhammad saw.

Dari kisah di atas bisa ditarik beberapa poin penting. Pertama, para sahabat sangat mencintai Nabi Muhammad. Tidak hanya sahabat, seluruh umat Islam juga begitu cinta dengan Nabi Muhammad. Mereka mencintai Nabi Muhammad begitu dalam, hingga mengalahkan cintanya kepada diri dan sanak famili sendiri.

Kedua, siapa yang mencintai Nabi maka ia akan bersamanya di akhirat kelak. Dalam sebuah riwayat Anas disebutkan, suatu ketika ada seorang yang bertanya kepada Nabi Muhammad tentang datangnya hari kiamat. Nabi bertanya balik, ‘Apa yang sudah disiapkan untuk menghadapi kiamat?’ Kata orang tersebut, dia tidak mempersiapkan apapun kecuali mencintai Allah dan Rasul-Nya. 

“Engkau bersama orang yang engkau cintai,” kata Nabi Muhammad. 

Ketiga, tidak ada larangan bekerja di tempat non-Muslim. Sayyidina Ali bekerja di kebun kurma miliki seorang Yahudi dan Nabi Muhammad tidak menegurnya. Jadi tidak ada larangan bagi seorang Muslim bekerja pada non-Muslim, asal pekerjaannya tersebut dalam bidang yang halal dan sesuai dengan ketentuan Islam. (Muchlishon)