IMG-LOGO
Hikmah

Wanita Ahli Ibadah yang Tak Pernah Tidur Malam

Ahad 26 Mei 2019 17:00 WIB
Wanita Ahli Ibadah yang Tak Pernah Tidur Malam
Ilustrasi (Shutterstock)
Dalam kitab Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb, Sayyid Abdul Aziz al-Darani mencatat kisah wanita ahli ibadah. Berikut kisahnya:

كانت امرأة متعبدة لا تنام من الليل إلا يسيرا فعوتبت في ذلك فقالت: كفي بطول الرقدة في القبور رقادا

Ada seorang wanita ahli ibadah. Dia tidak pernah tidur di malam hari kecuali sebentar saja. Karena itu seseorang menegurnya. Wanita itu menjawab: 

“Cukuplah tidur lama di kuburan (kelak) sebagai tidur (peristirahatanku).” (Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb, Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003, h. 145)

****

Dengan mengajukan kisah ini, Sayyid Abdul Aziz hendak mengajak kita untuk mempersiapkan diri secara batin dalam menjalani kehidupan. Niat yang tulus hanya akan hadir dari kesiapan jiwa yang baik. Salah satu cara penyiapan jiwa yang baik adalah dengan memperkuat perasaan takut akan siksa-Nya dan rindu akan ridha-Nya. Penggunaan kata “tidur lama di kuburan kelak sebagai tidur peristirahatan” memberikan beberapa hal untuk dipahami.

Pertama, untuk merasakan istirahat panjang di alam kubur seperti halnya tidur di saat hidup, kita harus bersih dari dosa atau hanya memiliki sedikit dosa, dan banyak amal. Banyaknya amal pun belum bisa menjamin kenikmatan istirahat kita di alam kubur tanpa rahmat Allah subhanahu wata'ala

Kedua, bahwa dunia adalah tempat pencari bekal untuk kehidupan yang sesungguhnya, yaitu kehidupan akhirat. Dan yang terakhir, ketiga, orang yang tidak menyiapkan bekal dan menanggung banyak dosa tidak bisa beristirahat dengan tenang di kuburnya. Dia akan disiksa karena dosa dan kejahatannya selama hidup.

Sebelum berkisah tentang wanita ahli ibadah tersebut, Sayyid Abdul Aziz al-Darani memberikan pertanyaan kontemplatif. Beliau menulis:

تفكر لماذا خلقت؟ فمن يرد الله به خير يفقهه في الدين. النفس لا تكاد توافقك طوعا فخذ آلة الحرب

“Berpikirlah kenapa kau diciptakan? Karena orang yang Allah kehendaki kebaikan akan dipahamkan (dididik) dalam persoalan agama. Nafsu nyaris tidak akan mengikutimu dengan sukarela, ambillah peralatan perang (untuk berjuang melawannya).” (Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb, 2003, h. 145)

Sayyid Abdul Aziz mendorong kita untuk berpikir kenapa kita diciptakan. Pertanyaan itu dijawab Allah dengan sederhana (QS. Al-Dzariyat: 56), “li-ya’budûni—agar manusia dan jin mengabdi/menyembah kepadaKu.” Jawaban ini memiliki sisi teoritis sekaligus praksis. Bisa saja kita memberikan jawaban panjang lebar menggunakan berbagai pendekatan, tapi efeknya tidak akan sebesar jawaban simple di atas yang bisa dipahami semua orang dalam kehidupan sehari-hari. Jawaban yang bisa katakan sebagai sumber asal pedoman hidup manusia, yaitu menyembah dan mengabdi kepadaNya.

Jawaban ini pun bergaris lurus dengan pernyataan Sayyid Abdul Aziz al-Darani tentang orang yang dikehendaki Allah kebaikan, dia akan dipahamkan dalam persoalan agama. Pernyataan tersebut sebenarnya berasal dari hadits (HR. Imam al-Bukhari), “man yuridillahu bihi khairan yufaqqihhu fid dîn—barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan baginya, Allah akan memahamkannya dalam urusan agama.” 

Bukan berarti jika ada orang jahat, itu karena Allah tidak menghendakinya kebaikan, bukan. Kita harus memandang hadis tersebut sebagai kehendak Tuhan yang Mahabaik, yaitu “kehendak kebaikan” untuk seluruh ciptaan-Nya, khususnya manusia. Tidak mungkin Tuhan menghendaki keburukan untuk makhluk-Nya, tidak mungkin. Tuhan selalu menghendaki kebaikan untuk seluruh makhluk-Nya. Salah satu buktinya adalah diturunkannya berbagai kitab suci dan diutusnya para nabi dari masa ke masa untuk mendidik manusia dan memahamkannya dalam agama. 

Karena itu, Sayyid Abdul Aziz al-Darani menasihati kita untuk mengambil perlengkapan perang melawan hawa nafsu. Orang yang dikuasai oleh hawa nafsunya, akan sukar menerima pendidikan dan pemahaman agama dengan baik, padahal itu kehendak Allah. Artinya, orang yang mengacuhkan ketetapan Allah yang berupa “menghendaki kebaikan”, dia telah berdosa. 

Hadis itu mendorong kita untuk welcome pada kehendak kebaikan Allah untuk manusia, sehingga kita bisa menerima pendidikan dan pemahaman agama yang menyelematkan kita di dunia dan akhirat. Seringkali kita sendiri yang tidak merasakan pendidikan yang Allah berikan pada kita. Padahal, jika kita melihat ke segala arah, mengukur ke dalam diri, dan mengamati gerak semesta, kita akan menemukan banyak pengetahuan, bahkan dari kerapian bebek yang melintasi jalanan.

Bulan Ramadan ini adalah waktu yang tepat untuk memperbaharui hati kita agar lebih bersih dari sebelumnya, dengan berpuasa, memperbanyak ibadah dan memanjatkan doa kepadaNya. Oleh karena itu, di tengah-tengah munajatnya, Sayyid Abdul Aziz al-Darani mengakui ketidak-mampuannya sebagai manusia dengan cara menghamba. Di hadapan-Nya, ia merendahkan diri dan akalnya serendah-rendahnya. Ia berujar:

تحيّرت العقول في وصف جلالك وعجزت الأفهام عن الإحاطة بكمالك

“Akal kebingungan dalam menggambarkan kebesaranMu dan pengetahuan terlalu lemah untuk meliput kesempurnaanMu.” ((Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb, 2003, h. 146)

Karena itu, kita harus terus memohon petunjuk Allah. Karena secerdas apapun akal kita, tak mungkin dapat mengumpulkan bahasa untuk menggambarkan kebesaranNya. Sebanyak apapun pengetahuan kita, tak mungkin bisa merangkai kata untuk melukiskan kesempurnaan-Nya. Semoga kita bisa terhindar dari segala keburukan. Amin. Wallahu a’lam bish shawwab..


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.
Share: