IMG-LOGO
Ramadhan

Mengungkap Makna Malam Lailatul Qadar

Ahad 26 Mei 2019 23:40 WIB
Share:
Mengungkap Makna Malam Lailatul Qadar
Selain membaca tanda-tanda dan berusaha mendapatkan malam lailatul qadar, hendaknya setiap umat Islam juga memahami makna lailatul qadar.

Untuk memperoleh pemahaman yang jernih terkait malam lailatul qadar, Prof Muhammad Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Qur’an (1999) memberikan penjelasan terkait arti dan makna kata qadar. Penulis Kitab Tafsir Al-Misbah tersebut memaparkan tiga arti pada kata qadar, sebagai berikut:

Pertama, qadar berarti penetapan atau pengaturan sehingga lailatul qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Pendapat ini dikuatkan oleh penganutnya dengan Firman Allah pada QS Ad-Dukhan ayat 3. Ada ulama yang memahami penetapan itu dalam batas setahun. 

Al-Qur’an yang turun pada malam lailatul qadar diartikan bahwa pada malam itu Allah SWT mengatur dan menetapkan khiththah dan strategi bagi Nabi-Nya, Muhammad SAW guna mengajak manusia kepada agama yang benar yang pada akhirnya akan menetapkan perjalanan sejarah umat manusia, baik sebagai individu maupun kelompok.

Kedua, qadar berati kemuliaan. Malam tersebut adalah malam mulia yang tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Qur’an serta karena ia menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih.

Kata qadar yang berarti mulia ditemukan dalam ayat ke-91 Surat Al-An’am yang berbicara tentang kaum musyrik: Ma qadaru Allaha haqqa qadrihi idz qalu ma anzala Allahu ‘ala basyarin min syay’i (mereka itu tidak memuliakan Allah sebagaimana kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia).

Ketiga, qadar berarti sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam Surat Al-Qadar: Pada malam itu turun malikat-malaikat dan ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.

Kata qadar yang berarti sempit digunakan oleh Al-Qur’an antara lain dalam ayat ke-26 Surat Ar-Ra’du: “Allah yabsuthu al-rizqa liman yasya’ wa yaqdiru” (Allah melapangkan rezeki bagi yang dikehendaki dan mempersempitnya bagi yang dikehendakinya).

Berikut QS Al-Qadr ayat 1-5:

(1) إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan.

(2) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?

(3) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.

(4) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.

(5) سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ
Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. 

Benarkah pertanda datangnya malam lailatul qadar di antaranya membekunya air, heningnya malam, menunduknya pepohonan, dan sebagainya?

Tanda-tanda tersebut harus diimani oleh setiap Muslim berdasarkan pernyataan Al-Qur’an, bahwa “Ada suatu malam yang bernama Lailatul Qadar” (QS Al-Qadr: 1) dan malam itu merupakan “malam yang penuh berkah di mana dijelaskan atau ditetapkan segala urusan besar dengan kebijaksanaan” (QS Ad-Dukhan: 3). (Fathoni)
Share:
Ahad 26 Mei 2019 20:30 WIB
Pentingnya Lailatul Qadar bagi Umat Nabi Muhammad
Pentingnya Lailatul Qadar bagi Umat Nabi Muhammad
Lailatul qadar atau malam kemuliaan adalah sebuah malam di bulan Ramadhan yang memiliki nilai kebaikan lebih dari 1.000 bulan. Hal ini sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an, surat Al-Qadr, ayat 1-3 sebagai berikut:

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (١) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (٢) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ (٣) ـ

Artinya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan (1), Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?(2), Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”

Jika dikonversi menjadi tahun, 1.000 bulan sama dengan 83 tahun. Bagi umat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam keberadaan lailatul qadar ini sangat penting sebab dapat “menambah” umur mereka dalam berbuat kebaikan. Umumnya mereka berumur pendek dibandingkan dengan umat-umat para Nabi terdahulu.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits berikut:

أعمار أمتي ما بين الستين إلى السبعين ، وأقلهم من يجوز ذلك 

Artinya: “Umur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun. Sedikit di antara mereka yang melewati usia tersebut.” (HR At-Tirmidzi) 

Umur umat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada umumnya memang tidak panjang sebagaimana digambarkan dalam hadits di atas. Rasulullah sendiri hanya mencapai usia 63 tahun. Sedikit sekali dari mereka yang umurnya mencapai lebih dari 60-70 tahun. Umur yang tidak panjang itu tidak mungkin mereka gunakan seluruhnya hanya untuk beribadah kepada Allah sebab mereka umumnya tidur selama 8 jam per hari. 

Dalam kaitan itu Imam al-Ghazali menjelaskan dalam risalahnya berjudul Bidayatul Hidayah dalam Majmu'ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah), hal. 405, sebagai berikut: 

فيكفيك إن عشت مثلا ستين سنة أن تضيع منها عشرين سنة وهو ثلث عمرك

Artinya, “Jika engkau berumur seumpama 60 tahun cukup bagimu membuang 20 tahun darinya, atau 1/3 dari umurmu itu.”

Dari nasihat Imam al-Ghazali di atas dapat diketahui bahwa jika umur seseorang adalah 60 tahun, maka sesungguhnya waktu yang dia gunakan untuk beraktivitas hanyalah kira-kira 40 tahun. Itu saja tidak semua aktivitas merupakan ibadah karena kadang-kadang mereka melakukan kegiatan-kegiatan lain di luar ibadah termasuk berbagai kemaksiatan. 

Permasalahan itulah yang menjadikan lailatul qadar sangat penting bagi umat Islam untuk diraih guna“menambah” umur sepanjang 83 tahun. Semakin banyak amal kebaikan seseorang dalam hidupnya, tentu semakin baik orang itu di hadapan Allah subhanu wata’ala.

Dengan demikian jika seseorang dari umat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, misalnya, berumur 60 tahun dan berhasil mendapatkan lailatul qadar, maka kalkulasi kebaikannya kira-kira seperti ini: 40 tahun + 83 tahun = 123 tahun. Angka ini setara dengan angka usia nabi Musa alaihis salam, yakni.120 tahun

Hassan Ata Al-Mannan dalam artikelnya berjudul Tartibul Ambiya’ wa A’maruhum menyebutkan, antara lain, bahwa umur Nabi Adam alaihis salam adalah 1.000 tahun; Nabi Nuh alaihis salam 950 tahun, Nabi Ibrahim alaihis salam 200 tahun, Nabi Hud alaihis salam 464 tahun, dan Nabi Musa alaihis salam 120 tahun. Artinya dengan umur yang panjang para nabi terdahulu beserta umatnya memiliki waktu yang lebih panjang dari pada umat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dalam memperbanyak amal kebaikan. 

Untuk itulah Rasulullah memberikan contoh bagi umatnya untuk menghidupkan malam-malam selama 10 hari terakhir di bulan Ramadhan dengan berbagai ibadah, terutama i’tikaf. Diharapkan umat Rasulullah dapat mencontoh beliau supaya dapat meraih lailatul qadar yang jatuhnya di antara malam-malam tersebut. Dengan meraih lailatul qadar, umat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dapat memperpendek selisih akumulasi kebaikan dengan umat-umat terdahulu yang umurnya panjang-panjang. 


Ustadz Muhammad Ishom, pengajar di Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta. 

Ahad 26 Mei 2019 16:15 WIB
Doa Buka Puasa, Dibaca Sesudah Berbuka atau Sebelumnya?
Doa Buka Puasa, Dibaca Sesudah Berbuka atau Sebelumnya?
Terdapat sejumlah etika yang baik untuk dilakukan pada saat melaksanakan berbuka puasa. Salah satunya adalah membaca doa pada waktu berbuka. Terkait lafal doa berbuka puasa, ada beberapa versi yang dijelaskan dalam beberapa hadits. Di antaranya hadits riwayat sahabat Mu’adz bin Zuhrah:

كَانَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ : اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

“Rasulullah ketika Berbuka, beliau berdoa: ‘Ya Allah hanya untuk-Mu kami berpuasa dan atas rezeki yang Engkau berikan kami berbuka,” (HR. Abu Daud).

Sedangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah melafalkan doa sebagaimana berikut:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، إِذَا أَفْطَرَ قَالَ : ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ

“Rasulullah ketika berbuka, Beliau berdoa: ‘Telah hilang rasa haus dan urat-urat telah basah serta pahala tetap, insyaallah,” (HR. Abu Daud).

Dua lafal doa di atas umumnya oleh umat islam di Indonesia digabung menjadi satu dan dibaca sebelum berbuka puasa. Lantas, sudah tepatkah praktek demikian?

Dalam kitab Fath al-Mu’in dijelaskan bahwa ketentuan doa berbuka puasa yang baik adalah membaca doa sesuai dengan lafal doa dalam hadits riwayat sahabat Mu’adz bin Zuhrah di atas. Sedangkan lafal doa dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar ditambahkan ketika seseorang berbuka dengan menggunakan air. Berikut penjelasan mengenai hal ini:

ويسن أن يقول عقب الفطر: اللهم لك صمت، وعلى رزقك أفطرت ويزيد - من أفطر بالماء -: ذهب الظمأ، وابتلت العروق، وثبت الاجر إن شاء الله تعالى.

“Disunnahkan membaca doa setelah selesai berbuka “Allâhumma laka shumtu wa ‘alâ rizqika aftharthu” dan bagi orang yang berbuka dengan air ditambahkan doa: “Dzahabadh dhamâ’u wabtalatl-‘urûqu wa tsabata-l-ajru insyâ-a-Llâh,” (Fath al-Mu’in, juz 2, hal. 279).

Namun demikian, nyaris tak ada orang berbuka puasa hanya berupa makanan tanpa minuman, kecuali sangat terdesak. Sehingga, bacaan yang sering kita dapati adalah penggabungan doa dari hadits tersebut:

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلى رِزْقِكَ أفْطَرْتُ ذَهَبَ الظَّمأُ وابْتَلَّتِ العُرُوقُ وَثَبَتَ الأجْرُ إِنْ شاءَ اللَّهُ تَعالى

Allâhumma laka shumtu wa ‘alâ rizqika afthartu dzahaba-dh-dhama’u wabtalatil ‘urûqu wa tsabatal ajru insyâ-allâh ta‘âlâ

Artinya, “Ya Allah, untuk-Mulah aku berpuasa, atas rezekimulah aku berbuka. Telah sirna rasa dahaga, urat-urat telah basah, dan (semoga) pahala telah ditetapkan, insyaaallah.”

Hal yang sering disalahpahami banyak orang adalah tentang pelaksanaan membaca doa ini. Umumnya masyarakat membaca doa buka puasa ini sebelum menyantap makanan atau meminum minuman di saat masuk waktu maghrib. Padahal, cara membaca doa yang paling benar adalah membacanya ketika setelah selesainya berbuka puasa. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam kitab Hasyiyah I’anah at-Thalibin:

ـ (وقوله: عقب الفطر) أي عقب ما يحصل به الفطر، لا قبله، ولا عنده

“Maksud dari (membaca doa buka puasa) “setelah berbuka” adalah selesainya berbuka puasa, bukan (dibaca) sebelumnya dan bukan saat berbuka,” (Syekh Abu Bakar Muhammad Syatha, Hasyiyah I’anah at-Thalibin, juz 2, hal. 279).

Salah satu pijakan dalil penempatan membaca doa berbuka dilakukan setelah selesai berbuka puasa adalah dengan memandang makna yang terkandung dalam doa berbuka tersebut, khususnya pada doa berbuka yang tercantum dalam hadits riwayat Abdullah bin Umar di atas yang hanya pantas (al-munasib) diucapkan kala selesai berbuka puasa.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa meskipun dengan membaca doa di atas sebelum berbuka puasa, telah mendapatkan kesunnahan (husul ashli as-sunnah), tapi tetap yang paling utama adalah membacanya tatkala selesai berbuka. Dalam kitab Busyra al-Karim dijelaskan:

ويسنّ أن يقول عنده أي عند إرادته والأولى بعده: اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت

“Disunnahkan bagi orang ketika hendak berbuka—tapi yang lebih utama setelah berbuka—membaca doa  “Allâhumma laka shumtu wa ‘alâ rizqika aftharthu,” (Syekh Said bin Muhammad Ba’ali, Busyra al-Karim, hal. 598).

Walhasil, membaca doa berbuka puasa sebaiknya dilakukan setelah selesai berbuka, hal ini dimaksudkan agar kita memperoleh kesunnahan yang sempurna (kamal as-sunnah) dalam membaca doa. Semoga amal ibadah puasa kita diberi kelancaran dan diterima Allah subhanahu wata’ala. Amin yâ rabbal ‘âlamin. Wallahu a’lam.


Ustadz M. Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah Kaliwining Rambipuji Jember 
Ahad 26 Mei 2019 14:0 WIB
Kapan Saat yang Tepat Memburu Lailatul Qadar?
Kapan Saat yang Tepat Memburu Lailatul Qadar?
Lailatul Qadar adalah momen paling istimewa dalam Ramadhan. Amal ibadah di malam ini dianggap lebih baik dari seribu bulan. Namun, kapankah malam spesial ini akan terjadi agar kita bisa memburunya dengan tepat?

Para ulama berbeda pendapat tentang kapan terjadinya Lailatul Qadar, menjadi beberapa kelompok sebagaimana berikut:

Kelompok pertama, mereka mengatakan bahwa Lailatul Qadar waktunya berpindah-pindah selama satu tahun. Menurut pendapat ini, malam spesial ini tidak bisa ditentukan tanggalnya dan tidak hanya terjadi di saat bulan Ramadhan saja. Bisa saja Lailatul Qadar terjadi di bulan lain. Namun sedikit ulama yang mendukung pendapat ini. Di antara mereka adalah riwayat yang dinisbatkan pada sahabat Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ikrimah dan ulama Ahli Kufah. (Ibnu Hajar, Fath al-Bary, IV, 263; Ibnu Katsir, Tafsir Ibni Katsir, VIII, 446)

Kelompok kedua, mereka mengatakan waktunya di bulan Ramadhan saja. Bagi kelompok ini, malam spesial ini tidak terjadi di luar bulan Ramadhan. Mereka terbagi menjadi dua golongan, yakni:

a. Golongan yang meyakini bahwa tanggalnya tetap dan tak berubah setiap tahunnya. 

Pendapat ini adalah salah satu riwayat Imam Syafi’i (Ibnu Katsir, Tafsir Ibni Katsir, VIII, 450) dan merupakan pendapat banyak tokoh ulama lain. Ulama dalam golongan ini berbeda pendapat lagi tentang penentuan tanggal pastinya menjadi banyak sekali pendapat. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bary menukilnya sebagai berikut:

  • Setiap tanggal 1 Ramadhan. Ini pendapat Sahabat Abu Razinal-Uqaili. 
  • Setiap tanggal 15 ramadhan.Ini pendapat Ibnu Mulaqqin.
  • Setiap tanggal 17 Ramadhan saat Nuzulul Qur’an. Ini pendapat Zaid bin Arqam. 
  • Setiap tanggal 18 Ramadhan. Ini pendapat al-Quthb al-Halabi.
  • Setiap tanggal 19 Ramadhan. Ini pendapat Zaid bin Tsabit dan salah satu riwayat dari Ibnu Mas’ud. 
  • Setiap tanggal 20 Ramadhan. Ini pendapat yang cenderung dipilih Imam Syafi’i
  • Setiap tanggal 20 bila Ramadhan berjumlah 30 hari dan tanggal 21 bila Ramadhan berjumlah 29 hari. Ini adalah pendapat Ibnu Hazm
  • Setiap tanggal 22 Ramadhan berdasarkan hadits riwayat Sahabat Abdillah bin Unais
  • Setiap tanggal 23 Ramadhan berdasarkan hadits lain riwayat Sahabat Abdillah bin Unais dan Mu’awiyah dan beberapa sahabat lain.
  • Setiap tanggal 24 Ramadhan berdasarkan riwayat Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Sya’bi, al-Hasan dan Qatadah.
  • Setiap tanggal 25 Ramadhan. Ini pendapat Sahabat Abi Bakrah
  • Setiap tanggal 26 Ramadhan. Ini dinisbatkan sebagai pendapat Ibadl.
  • Setiap tanggal 27 Ramadhan, pendapat banyak ulama Hanabilah, Syafi’iyah, salah satu pendapat Abu Hanifah, berdasarkan beberapa hadits Nabi yang diriwayatkan banyak sahabat. Pendapat ini sangat populer hingga menurut ulama Hanafiyah bila ada orang yang berkata pada istrinya: “Kamu wanita yang dicerai pada malam Lailatul Qadar”, maka itu berarti talaknya jatuh pada tanggal 27 Ramadhan. Inilah yang dipakai oleh ulama Saudi saat ini sehingga masyarakat tumpah ruah di Masjidil Haram setiap malam tanggal 27 Ramadhan.
  • Setiap tanggal 28 Ramadhan, pendapat sebagian ulama.
  • Setiap tanggal 29 Ramadhan, pendapat yang diceritakan Ibnul Arabi,
  • Setiap tanggal 30 Ramadhan, pendapat yang diceritakan Ibad’ dan as-Suruji dan diriwayatkan dari Mu’awiyah dan Abu Hurairah

b. Golongan yang meyakini bahwa tanggalnya terus berubah setiap tahunnya tanpa bisa dipastikan kapan. Sebagian ulama, yakni Utsman bin Abi al-Ash dan Hasan al-Bashri dan sebagian Syafi’iyah menyatakan bahwa yang paling bisa diharapkan adalah sepuluh hari kedua bulan Ramadhan. Sedangkan mayoritas ulama mengatakan bahwa yang paling bisa diharapkan adalah tanggal ganjil di sepuluh malam terakhir. Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani, ini adalah pendapat terkuat (Ibnu Hajar, Fath al-Bary, IV, 263). Imam Nawawi berkata:

مذهَبُنا ومذهَبُ جُمهورِ العُلَماءِ أنَّها في العَشرِ الأواخِرِ مِن رَمَضانَ وفي أوتارِها أرجى

“Mazhab kami adalah mazhab mayoritas ulama bahwa Lailatul Qadar terjadi di sepuluh terakhir Ramadhan dan paling bisa diharapkan di malam ganjilnya.” (An-Nawawi, Raudlatat-Thalibin, II, 389)

Pendapat ini berdasarkan hadits populer berikut:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ 

Carilah Lailatul Qadar di malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

Menurut golongan mayoritas ulama tersebut, tanggal Lailatul Qadar adalah misteri yang tidak perlu diungkap. Ibnu Katsir menerangkan bahwa waktu Lailatul Qadar memang disembunyikan agar umat senantiasa menghidupkan tiap malamnya di bulan Ramadhan tanpa memilih-milih tanggal berapa. Bila orang tahu tanggalnya, maka akan giat di tanggal tertentu saja (Ibnu Katsir, Tafsir Ibni Katsir, VIII, 451).

Memilih-milih tanggal untuk memburunya justru berisiko tinggi untuk luput. Apalagi di Indonesia ini yang terbiasa dengan perbedaan penentuan tanggal awal Ramadhan, umat Islam tentu akan bingung tanggal versi siapa yang benar? Jadi seyogianya perburuan Lailatul Qadar dilakukan dengan menghidupkan tiap malam yang tersisa dari bulan yang penuh berkah ini. Semoga bermanfaat.

Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center Jawa Timur.