IMG-LOGO
Trending Now:
Ramadhan

Apakah Shalat Tarawih Dapat Diqadha?

Senin 27 Mei 2019 17:0 WIB
Share:
Apakah Shalat Tarawih Dapat Diqadha?
(Foto: @the new york times)
Waktu shalat tarawih adalah rentang di antara shalat Isya dan terbitnya fajar. Oleh karenanya, tarawih harus dilakukan setelah melaksanakan shalat Isya dan sebelum masuk waktu subuh. Namun, karena satu dan beberapa hal, terkadang seseorang tidak bisa melakukan tarawih pada waktunya, semisal karena sakit.

Bagaimana hukum mengqadha shalat tarawih yang tertinggal dari waktunya? Kalau boleh, sampai batas kapan mengqadhanya? Apakah dibatasi hanya di bulan Ramadhan?

Di dalam khazanah fiqih mazhab Syafi’i, shalat sunah terbagi menjadi tiga macam.

Pertama, An-Naflul Muthlaq, yaitu shalat yang tidak diberi batas waktu, kapan saja dapat dilakukan asalkan tidak di waktu-waktu terlarang seperti setelah shalat Ashar. Shalat sunah jenis ini tidak mengenal istilah qadha, sebab ia tidak memiliki waktu secara khusus. Sementara qadha adalah shalat yang dilakukan di luar waktunya. Namun menurut Al-Imam Al-Adzra’i, bila seseorang memiliki wiridan khusus melaksanakan shalat sunah mutlak di waktu tertentu, sunah baginya untuk mengqadhanya bila shalat yang sudah menjadi kebiasaannya tertinggal dari waktunya.

Kedua, An-Naflul Muaqqat, yaitu shalat sunah yang diberi durasi waktu tertentu. Syariat telah memberinya waktu khusus untuk pelaksanaan shalat jenis ini. Pelaksanaan jenis shalat ini juga tidak dibatasi oleh sebab tertentu seperti terjadinya gerhana atau musim kemarau panjang yang mengakibatkan minimnya air. Contoh shalat yang masuk jenis kedua ini adalah shalat rawatib (shalat qabliyyah dan ba’diyyah), shalat Dhuha, shalat tarawih dan lain-lain.

Menurut pendapat yang kuat dalam mazhab Syafi’i, bila shalat-shalat tersebut terlewat dari waktunya, hukum mengqadhanya adalah sunah. Pendapat ini berpijak dari beberapa hadits Nabi, di antaranya Nabi mengqadha shalat dua rakaat ba’diyyah Zhuhur (HR Al-Bukhari dan Muslim), Nabi mengqadha shalat qabliyyah Subuh saat beliau tertidur di sebuah jurang (HR Abu Dawud) dan hadits Nabi “Barang siapa tertidur atau lupa shalat, hendaklah ia mengerjakannya ketika ingat,” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Ketiga, An-Naflu Dzus Sabab, yaitu shalat yang pelaksanaannya dibatasi dengan sebab tertentu, seperti shalat gerhana matahari (kusyufus syams) yang dibatasi dengan terjadinya gerhana matahari, shalat gerhana bulan (khusuful qamar) yang dibatasi dengan peristiwa gerhana bulan dan shalat Istisqa yang dibatasi dengan kondisi darurat air. Ketika sebab-sebabnya sudah hilang, maka jenis shalat ketiga ini tidak lagi dianjurkan untuk dilakukan. Ulama Syafi’iyyah menegaskan, jenis shalat ketiga ini tidak disunahkan untuk diqadha.

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa hukum mengqadha shalat Tarawih adalah sunah. Lalu kapan waktu mengqadhanya? Apakah harus di malam hari juga? Apakah harus masih di bulan Ramadhan?

Ulama menegaskan bahwa tidak ada batasan waktu kapan shalat tarawih diqadha’, boleh dilakukan kapan pun, bisa di pagi, siang atau malam hari. Pelaksanaan qadha tarawih juga tidak harus di bulan Ramadhan, bisa dilakukan di Syawal atau bulan-bulan lainnya.

Namun sebaiknya, shalat tarawih yang tertinggal agar segera diqadha’, sebab mempercepat kebaikan adalah hal yang dianjurkan agama. Tata cara shalat qadha tarawih sama seperti shalat tarawih yang dilakukan pada waktunya.

Adapun contoh niatnya adalah “Ushalli sunnata rak’ataini minat Tarawihi qadha’an lillahi ta’ala,” (Saya niat shalat sunah dua rakaat dari Tarawih secara qadha’ karena Allah).

Penjelasan di atas berdasarkan referensi berikut ini:

وَلَوْ فَاتَ النَّفَلُ الْمُؤَقَّتُ سُنَّتْ الْجَمَاعَةُ فِيهِ كَصَلَاةِ الْعِيدِ أَوْ لَا كَصَلَاةِ الضُّحَى نُدِبَ قَضَاؤُهُ فِي الْأَظْهَرِ لِحَدِيثِ الصَّحِيحَيْنِ مَنْ نَامَ عَنْ صَلَاةٍ أَوْ نَسِيَهَا فَلْيُصَلِّهَا إذَا ذَكَرَهَا

Artinya, “Bila terlewat shalat sunah yang diberi batasan waktu, baik yang disunahkan berjamaah seperti shalat hari raya atau tidak seperti shalat Dhuha, maka sunah mengqadha’nya menurut pendapat Al-Azhar. Hal ini karena haditsnya Al-Bukhari dan Muslim; Barang siapa tertidur dari shalat atau lupa darinya, maka shalatlah ketika ia ingat;”

وَلِأَنَّهُ - صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَضَى رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ لَمَّا نَامَ فِي الْوَادِي عَنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ إلَى أَنْ طَلَعَتْ الشَّمْسُ. رَوَاهُ أَبُو دَاوُد بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ، وَفِي مُسْلِمٍ نَحْوُهُ

Artinya, “Karena Nabi mengqadha’ dua rakaat qabliyyah Subuh ketika beliau tertidur di jurang dari shalat Subuh sampai matahari terbit. Hadits riwayat Abu Dawud dengan sanad yang shahih. Di dalam Shahih Muslim juga disampaikan riwayat senada.”

وَقَضَى رَكْعَتَيْ سُنَّةِ الظُّهْرِ الْمُتَأَخِّرَةِ بَعْدَ الْعَصْرِ رَوَاهُ الشَّيْخَانِ، وَلِأَنَّهَا صَلَاةٌ مُؤَقَّتَةٌ فَقُضِيَتْ كَالْفَرَائِضِ، وَسَوَاءٌ السَّفَرُ وَالْحَضَرُ كَمَا صَرَّحَ بِهِ ابْنُ الْمُقْرِي

Artinya, “Nabi mengqadha’ dua rakaat ba’diyyah Zhuhur setelah shalat Ashar. Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim. Karena shalat tersebut adalah shalat yang diberi batasan waktu, maka diqadha seperti shalat fardhu. Ketentuan ini berlaku baik untuk shalat sunah yang tertinggal saat berpergian dan saat di rumah seperti dijelaskan oleh Imam Ibnul Muqri,” (Lihat Syekh Khathib As-Syarbini, Mughnil Muhtaj, juz I, halaman 457).

Di dalam referensi lain disebutkan:

وَلَوْ فَاتَ النَّفَلُ الْمُؤَقَّتُ كَصَلَاةِ الْعِيدِ وَالضُّحَى وَالرَّوَاتِبِ نُدِبَ قَضَاؤُهُ أَبَدًا فِي الْأَظْهَرِ لِلْأَحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ فِي ذَلِكَ كَقَضَائِهِ - صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - سُنَّةَ الصُّبْحِ  فِي قِصَّةِ الْوَادِي بَعْدَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَسُنَّةَ الظُّهْرِ الْبَعْدِيَّةَ بَعْدَ الْعَصْرِ لَمَّا اشْتَغَلَ عَنْهَا بِالْوَفْدِ؛ وَلِأَنَّهَا صَلَاةٌ مُؤَقَّتَةٌ فَقُضِيَتْ كَالْفَرَائِضِ، وَلَا فَرْقَ فِي ذَلِكَ بَيْنَ الْحَضَرِ وَالسَّفَرِ كَمَا صَرَّحَ بِهِ ابْنُ الْمُقْرِي. 

Artinya, “Jika tertinggal shalat sunah yang diberi batasan waktu seperti shalat hari raya, shalat Dhuha dan shalat rawatib, maka sunah mengaqadha’nya kapan pun menurut pendapat Al-Azhhar, karena beberapa hadits yang shahih tentang hal itu, seperti nabi mengqadha’ shalat sunah Shubuh dalam peristiwa jurang setelah terbitnya matahari, nabi mengqadha ba’diyyah Zhuhur setelah Ashar ketika beliau sibuk dengan utusan, dan karena shalat tersebut diberi batas waktu, maka diqadha sebagaimana shalat fardhu. Tidak ada perbedaan dalam hal ini antara shalat yang tertinggal saat kondisi di rumah dan bepergian seperti yang dijelaskan Imam Ibnul Muqri.”

وَالثَّانِي لَا يُقْضَى كَغَيْرِ الْمُؤَقَّتِ

Artinya, “Menurut pendapat kedua, tidak sunah diqadha’, (karena disamakan) dengan shalat selain yang diberi batas waktu”.

وَخَرَجَ بِالْمُؤَقَّتِ ذُو السَّبَبِ كَكُسُوفٍ وَاسْتِسْقَاءٍ وَتَحِيَّةٍ فَلَا مَدْخَلَ لِلْقَضَاءِ فِيهِ، وَالصَّلَاةُ بَعْدَ الِاسْتِسْقَاءِ شُكْرًا عَلَيْهِ لَا قَضَاءً

Artinya, “Terkecuali dari ucapan shalat yang diberi batas waktu, shalat sunah yang memiliki sebab seperti shalat gerhana matahari, istisqa dan tahiyyatul masjid, maka tidak ada ruang mengqadha’ di dalamnya. Demikian pula shalat setelah pelaksanaan shalat istisqa untuk mensyukuri (turunnya hujan), bukan dalam rangka mengqadha.”

نَعَمْ لَوْ قَطَعَ نَفْلًا مُطْلَقًا اُسْتُحِبَّ قَضَاؤُهُ، وَكَذَا لَوْ فَاتَهُ وِرْدُهُ مِنْ النَّفْلِ الْمُطْلَقِ كَمَا قَالَهُ الْأَذْرَعِيُّ

Artinya, “Namun demikian, bila seseorang telah memastikan waktu shalat sunah mutlak, maka sunah mengqadhanya. Demikian pula bila wiridannya dari shalat sunah mutlak tertinggal, (sunah diqada’kan) seperti dikatakan Imam Al-Adzra’i,” (Lihat Syekh Muhammad bin Ahmad Ar-Ramli, Nihayatul Muhtaj, juz II, halaman 121).

Mengomentari referensi An-Nihayah tersebut, Syekh Ali Syibramalisi menegaskan:

قَوْلُهُ: أَبَدًا فِي الْأَظْهَرِ) أَيْ فَلَا يُتَقَيَّدُ قَضَاءُ فَائِتِ النَّهَارِ بِبَقِيَّتِهِ وَلَا فَائِتِ اللَّيْلِ بِبَقِيَّتِهِ خِلَافًا لِمَنْ قَالَ بِهِ. اهـ مَحَلِّيٌّ بِالْمَعْنَى

Artinya, “Ucapan Ar-Ramli; kapan pun menurut pendapat Al-Azhhar; maksudnya (waktu) mengqadha shalat sunah siang hari yang tertinggal tidak dibatasi dengan sisa waktu siang, demikian pula shalat sunah malam yang tertinggal tidak dibatasi dengan sisa waktu malam, berbeda menurut ulama yang berpendapat dengan pembatasan tersebut,” (Lihat Syekh Ali Syibramalisi, Hasyiyah ‘ala Nihayatil Muhtaj, juz II, halaman 121).

Demikian penjelasan mengenai hukum mengqadha shalat tarawih. Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam.


Ustadz M Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pondok Pesantren Raudlatul Quran, Geyongan, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat.
Tags:
Share:
Senin 27 Mei 2019 13:45 WIB
Perbedaan Pendapat Ulama tentang Waktu Nuzulul Quran
Perbedaan Pendapat Ulama tentang Waktu Nuzulul Quran
(Foto: @emaze.com)
Peringatan nuzulul quran biasanya jatuh pada tanggal 17 Ramadhan. Ini merupakan waktu yang sangat umum, bahkan sudah menjadi hari libur nasional yang telah ditetapkan pemerintah Republik Indonesia.

Namun ternyata, tanggal 17 Ramadhan sebagai waktu nuzulul quran bukanlah pendapat yang tunggal, beberapa ulama memiliki pendapat lain tentang waktu nuzulul quran. Jika dibagi, ada sekitar lima pendapat terkait kapan waktu turunnya Al-Quran.

Pertama, pada tanggal 17 Ramadhan. Sebagaimana sedikit dijelaskan di atas, ini adalah waktu yang paling maklum dan sering menjadi acuan penyelenggaraan peringatan nuzulul quran.

Pendapat ini didasarkan pada Surat Al-Anfal ayat 41:

وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya, “Dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Menurut para ulama, yang dimaksud dengan “Yaumul Furqān” adalah waktu bertemunya dua pasukan, yaitu pasukan kaum muslimin dan kafir quraisy di Badar, atau biasa kita sebut dengan perang badar.

Imam At-Thabari misalnya mengutip pendapat Al-Hasan bin Ali terkait maksud dari yaumul taqāl jamʽān.

قال الحسن بن علي بن أبي طالب رضي الله عنه: كانت ليلة "الفرقان يوم التقى الجمعان"، لسبع عشرة من شهر رمضان.

Artinya, “Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib RA berkata, ‘Yang dimaksud dengan malam ‘al-furqan yaumul taqāl Jamʽān’ adalah tanggal 17 bulan Ramadhan,’” (Lihat Muhammad bin Jarīr At-Thabāri, Jāmiʽul Bayān fi Ta’wīlil Quran, [Beirut, Muassasatur Risalah: 2000], juz XIII, halaman 562).

Pendapat ini juga diafirmasi oleh Ibnu Katsir yang mengutip pendapat Al-Waqidi bahwa awal permulaan wahyu adalah tanggal 17 Ramadhan.

وروى الواقدي بسنده عن أبي جعفر الباقر أنه قال: كان ابتداء الوحي إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم 

Artinya, “Diriwayatkan oleh Al-Waqidi dengan sanadnya yang sampai kepada Abu Jafar Al-Baqir bahwa ia berkata, ‘Permulaan wahyu sampai kepada Rasulullah SAW pada hari Senin tanggal 17 Ramadhan.’ Diriwayatkan juga pada tanggal 24 Ramadhan,” (Lihat Ismail bin Umar bin Katsir, Al-Bidāyah wan Nihāyah, [Beirut,  Maktabah Al-Maarif: tanpa catatan tahun], juz III, halaman VI).

Dari pendapat Ibnu Katsir ini juga mulai muncul pendapat kedua yang menyebutkan bahwa nuzulul Quran terjadi pada tanggal 24 Ramadhan.

Pendapat yang menyebutkan bahwa Nuzulul Quran terjadi pada tanggal 24 Ramadhan ini didasarkan pada pendapat Imam Ahmad bin Hanbal dari Al-Wasilah yang menyebutkan tanggal-tanggal diturunkannya kitab-kitab suci, mulai dari suhuf Ibrahim, Injil, Taurat, hingga Al-Quran.

قال الإمام أحمد بن حنبل، رحمه الله: حدثنا أبو سعيد مولى بني هاشم، حدثنا عمران أبو العوام، عن قتادة، عن أبي المليح، عن واثلة -يعني ابن الأسقع-أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: "أنزلت صحف إبراهيم في أول ليلة من رمضان. وأنزلت التوراة لست مضين من رمضان، والإنجيل لثلاث عشرة خلت من رمضان وأنزل الله القرآن لأربع وعشرين خلت من رمضان"

Artinya, “Imam Ahmad bin Hanbal rahimhullah berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Said Maula (mantan budak) Bani Hasyim, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Imran Abu al-Awam, dari Qatadah, dari Abu Malih, dari Wasilah, yaitu Ibn al-Asqaʽ sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda: Suhuf Ibrahim diturunkan pada awal malam bulan Ramadhan, Taurat diturunkan pada tanggal enam Ramadhan, Injil diturunkan pada tanggal 23 Ramadhan, dan Al-Quran diturunkan pada tanggal 24 Ramadhan,” (Lihat Ibnu Katsir, Tafsīrul Quranil Adhim, [Beirut, Darul Fikr: 1994 M], juz I, halaman 268).

Pendapat ini dianggap lebih nyambung oleh para ulama karena dalam beberapa ayat Al-Quran disebutkan bahwa Al-Quran diturunkan pada malam lailatul qadar.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Artinya, “Sesungguhnya kami menurunkan Al-Quran pada malam Lailatul Qadar.”

Sedangkan nabi sendiri telah memberikan kisi-kisi kepada para sahabat untuk mencari malam lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan.

Pendapat lain menyebutkan bahwa Nuzulul Quran terjadi pada tanggal 18, juga ada yang menyebutkan pada tanggal 19 Ramadhan. Hal ini disebutkan oleh Ibnul Atsir dalam salah satu kitabnya yang berjudul “Al-Kāmil fit Tārikh”.

وكان نزول الوحي عليه يوم الأثنين بلا خلاف واختلفوا في أي الأثانين كان ذلك فقال أبو قلابة الجرمي أنزل الفرقان على النبي لثمان عشرة ليلة خلت من رمضان وقال آخرون كان ذلك لتسع عشرة مضت من رمضان

Artinya, “Tidak ada perbedaan tentang terjadinya Nuzulul Quran pada hari senin. Namun para ulama berbeda pendapat di hari senin yang mana tepatnya. Abu Qilabah berpendapat bahwa Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW pada tanggal 18 Ramadhan. Sedangkan pendapat yang lain menyebutkan 19 Ramadhan.”

Dari berbagai pendapat di atas, ada satu persamaan, yaitu semua sepakat bahwa Nuzulul Quran terjadi pada bulan Ramadhan. Sedangkan perbedaan pendapat terkait tanggalnya tak perlu diperdebatkan lebih dalam.

Memperingati malam Nuzulul Quran tak harus dengan peringatan yang disesuaikan dengan tanggalnya yang benar, yang paling penting adalah perilaku dan sikap kita sebagai seorang muslim untuk tetap senantiasa membaca, mentadabburi dan mengamalkannya. Wallahu a‘lam.


Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, Pegiat Kajian Tafsir dan Hadits.
Ahad 26 Mei 2019 23:40 WIB
Mengungkap Makna Malam Lailatul Qadar
Mengungkap Makna Malam Lailatul Qadar
Selain membaca tanda-tanda dan berusaha mendapatkan malam lailatul qadar, hendaknya setiap umat Islam juga memahami makna lailatul qadar.

Untuk memperoleh pemahaman yang jernih terkait malam lailatul qadar, Prof Muhammad Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Qur’an (1999) memberikan penjelasan terkait arti dan makna kata qadar. Penulis Kitab Tafsir Al-Misbah tersebut memaparkan tiga arti pada kata qadar, sebagai berikut:

Pertama, qadar berarti penetapan atau pengaturan sehingga lailatul qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Pendapat ini dikuatkan oleh penganutnya dengan Firman Allah pada QS Ad-Dukhan ayat 3. Ada ulama yang memahami penetapan itu dalam batas setahun. 

Al-Qur’an yang turun pada malam lailatul qadar diartikan bahwa pada malam itu Allah SWT mengatur dan menetapkan khiththah dan strategi bagi Nabi-Nya, Muhammad SAW guna mengajak manusia kepada agama yang benar yang pada akhirnya akan menetapkan perjalanan sejarah umat manusia, baik sebagai individu maupun kelompok.

Kedua, qadar berati kemuliaan. Malam tersebut adalah malam mulia yang tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Qur’an serta karena ia menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih.

Kata qadar yang berarti mulia ditemukan dalam ayat ke-91 Surat Al-An’am yang berbicara tentang kaum musyrik: Ma qadaru Allaha haqqa qadrihi idz qalu ma anzala Allahu ‘ala basyarin min syay’i (mereka itu tidak memuliakan Allah sebagaimana kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia).

Ketiga, qadar berarti sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam Surat Al-Qadar: Pada malam itu turun malikat-malaikat dan ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.

Kata qadar yang berarti sempit digunakan oleh Al-Qur’an antara lain dalam ayat ke-26 Surat Ar-Ra’du: “Allah yabsuthu al-rizqa liman yasya’ wa yaqdiru” (Allah melapangkan rezeki bagi yang dikehendaki dan mempersempitnya bagi yang dikehendakinya).

Berikut QS Al-Qadr ayat 1-5:

(1) إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan.

(2) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?

(3) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.

(4) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.

(5) سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ
Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. 

Benarkah pertanda datangnya malam lailatul qadar di antaranya membekunya air, heningnya malam, menunduknya pepohonan, dan sebagainya?

Tanda-tanda tersebut harus diimani oleh setiap Muslim berdasarkan pernyataan Al-Qur’an, bahwa “Ada suatu malam yang bernama Lailatul Qadar” (QS Al-Qadr: 1) dan malam itu merupakan “malam yang penuh berkah di mana dijelaskan atau ditetapkan segala urusan besar dengan kebijaksanaan” (QS Ad-Dukhan: 3). (Fathoni)
Ahad 26 Mei 2019 20:30 WIB
Pentingnya Lailatul Qadar bagi Umat Nabi Muhammad
Pentingnya Lailatul Qadar bagi Umat Nabi Muhammad
Lailatul qadar atau malam kemuliaan adalah sebuah malam di bulan Ramadhan yang memiliki nilai kebaikan lebih dari 1.000 bulan. Hal ini sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an, surat Al-Qadr, ayat 1-3 sebagai berikut:

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (١) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (٢) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ (٣) ـ

Artinya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan (1), Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?(2), Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”

Jika dikonversi menjadi tahun, 1.000 bulan sama dengan 83 tahun. Bagi umat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam keberadaan lailatul qadar ini sangat penting sebab dapat “menambah” umur mereka dalam berbuat kebaikan. Umumnya mereka berumur pendek dibandingkan dengan umat-umat para Nabi terdahulu.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits berikut:

أعمار أمتي ما بين الستين إلى السبعين ، وأقلهم من يجوز ذلك 

Artinya: “Umur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun. Sedikit di antara mereka yang melewati usia tersebut.” (HR At-Tirmidzi) 

Umur umat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada umumnya memang tidak panjang sebagaimana digambarkan dalam hadits di atas. Rasulullah sendiri hanya mencapai usia 63 tahun. Sedikit sekali dari mereka yang umurnya mencapai lebih dari 60-70 tahun. Umur yang tidak panjang itu tidak mungkin mereka gunakan seluruhnya hanya untuk beribadah kepada Allah sebab mereka umumnya tidur selama 8 jam per hari. 

Dalam kaitan itu Imam al-Ghazali menjelaskan dalam risalahnya berjudul Bidayatul Hidayah dalam Majmu'ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah), hal. 405, sebagai berikut: 

فيكفيك إن عشت مثلا ستين سنة أن تضيع منها عشرين سنة وهو ثلث عمرك

Artinya, “Jika engkau berumur seumpama 60 tahun cukup bagimu membuang 20 tahun darinya, atau 1/3 dari umurmu itu.”

Dari nasihat Imam al-Ghazali di atas dapat diketahui bahwa jika umur seseorang adalah 60 tahun, maka sesungguhnya waktu yang dia gunakan untuk beraktivitas hanyalah kira-kira 40 tahun. Itu saja tidak semua aktivitas merupakan ibadah karena kadang-kadang mereka melakukan kegiatan-kegiatan lain di luar ibadah termasuk berbagai kemaksiatan. 

Permasalahan itulah yang menjadikan lailatul qadar sangat penting bagi umat Islam untuk diraih guna“menambah” umur sepanjang 83 tahun. Semakin banyak amal kebaikan seseorang dalam hidupnya, tentu semakin baik orang itu di hadapan Allah subhanu wata’ala.

Dengan demikian jika seseorang dari umat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, misalnya, berumur 60 tahun dan berhasil mendapatkan lailatul qadar, maka kalkulasi kebaikannya kira-kira seperti ini: 40 tahun + 83 tahun = 123 tahun. Angka ini setara dengan angka usia nabi Musa alaihis salam, yakni.120 tahun

Hassan Ata Al-Mannan dalam artikelnya berjudul Tartibul Ambiya’ wa A’maruhum menyebutkan, antara lain, bahwa umur Nabi Adam alaihis salam adalah 1.000 tahun; Nabi Nuh alaihis salam 950 tahun, Nabi Ibrahim alaihis salam 200 tahun, Nabi Hud alaihis salam 464 tahun, dan Nabi Musa alaihis salam 120 tahun. Artinya dengan umur yang panjang para nabi terdahulu beserta umatnya memiliki waktu yang lebih panjang dari pada umat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dalam memperbanyak amal kebaikan. 

Untuk itulah Rasulullah memberikan contoh bagi umatnya untuk menghidupkan malam-malam selama 10 hari terakhir di bulan Ramadhan dengan berbagai ibadah, terutama i’tikaf. Diharapkan umat Rasulullah dapat mencontoh beliau supaya dapat meraih lailatul qadar yang jatuhnya di antara malam-malam tersebut. Dengan meraih lailatul qadar, umat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dapat memperpendek selisih akumulasi kebaikan dengan umat-umat terdahulu yang umurnya panjang-panjang. 


Ustadz Muhammad Ishom, pengajar di Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.