IMG-LOGO
Ubudiyah

Yang Paling Baik, Dzikir dalam Hati atau dengan Lisan?

Selasa 28 Mei 2019 12:0 WIB
Share:
Yang Paling Baik, Dzikir dalam Hati atau dengan Lisan?
Berdzikir diperintahkan berulang kali dalam Al-Qur’an dan hadits, dalam berbagai kondisi. Dalam Al-Qur’an, Allah menjelaskan ciri seorang ulul albab adalah orang yang senantiasa berzikir, sebagaimana dalam ayat berikut:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ 

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring” (QS. Ali Imran: 191).

Lumrahnya, yang dinamakan dzikir adalah bacaan ibadah tertentu yang diucapkan dan bisa terdengar. Tetapi tak jarang juga dzikir dilakukan dalam hati saja sehingga tak ada siapa pun yang tahu. Manakah di antara kedua praktik ini yang terbaik? Imam at-Thabari, sebagaimana dinukil oleh Ibnu Batthal menjelaskan masalah ini sebagai berikut:

 فإن قيل: أى الذكرين أعظم ثوابًا الذكر الذى هو بالقلب، أو الذكر الذى هو باللسان؟ قيل: قد اختلف السلف فى ذلك، فروى عن عائشة أنها قالت: لأن أذكر الله فى نفسى أحب إلىَّ أن أذكره بلسانى سبعين مرة. وقال آخرون: ذكر الله باللسان أفضل. روى عن أبى عبيدة بن عبد الله بن مسعود قال: ما دام قلب الرجل يذكر الله تعالى فهو فى صلاة، وإن كان فى السوق، وإن تحرك بذلك اللسان والشفتان فهو أعظم. 

“Apabila dikatakan dzikir yang manakah yang lebih besar pahalanya, apakah yang di hati saja ataukah yang dengan lisan?, dijawab:  Ulama Salaf berbeda tentang hal itu. Diriwayatkan dari Aisyah bahwa ia berkata: “Aku berdzikir kepada Allah dalam hati lebih aku sukai daripada Aku berzikir dengan lisanku 70 kali".  Tokoh lain berkata: “Dzikir dengan lisan kepada Allah adalah lebih utama".  Diriwayatkan dari Abu Ubaidah bin Abdullah bin Masud ia berkata: “Selama hati seseorang berdzikir kepada Allah maka ia berada dalam doa meskipun ia di pasar. Apabila lisan dan kedua bibirnya bergerak mengucapkannya, maka itu lebih besar pahalanya.” (Ibnu Batthal, Syarh Shahih al-Bukhari, X, 430)

Imam  at-Thabari  kemudian mencoba mengompromikan kedua pendapat itu dengan merinci apakah ada potensi riya (keinginan untuk dipuji orang) dalam dzikir itu dan apakah pelakunya adalah seorang panutan atau bukan. Ia berkata: 

والصواب عندى أن إخفاء النوافل أفضل من ظهورها لمن لم يكن إمامًا يقتدى به، وإن كان فى محفل اجتمع أهله لغير ذكر الله أو فى سوق وذلك أنه أسلم له من الرياء، وقد روينا من حديث سعد بن أبى وقاص عن النبى (صلى الله عليه وسلم) أنه قال: (خير الرزق ما يكفى، وخير الذكر الخفى) ولمن كان بالخلاء أن يذكر الله بقلبه ولسانه؛ لأن شغل جارحتين بما يرضى الله تعالى أفضل

"Yang benar menurutku adalah menyamarkan ibadah sunnah adalah lebih utama daripada menampakannya bagi selain imam yang diikuti oleh orang lain apabila ia berada dalam kerumunan orang yang tidak berdzikir kepada Allah atau berada di pasar, karena dzikir samar itu  lebih aman baginya dari riya. ...  Dan bagi orang yang sendirian hendaknya berdzikir kepada Allah dengan hati dan lisannya karena sibuknya anggota badan dengan sesuatu yang diridhoi Allah adalah lebih utama." (Ibnu Batthal, Syarh Shahih al-Bukhari, X, 430)

Dalam internal mazhab Syafi’i dan juga menurut beberapa ulama lainnya, dzikir dalam hati saja atau dzikir yang terucap sangat pelan sehingga pengucapnya sendiri tak mendengar, tidaklah bisa disebut kegiatan berdzikir sehingga tak ada pahalanya. Imam Ibnu Hajar al-Haitami menjelaskan pendapat para ulama tersebut sebagaimana berikut:

وَأَمَّا حَيْثُ لَمْ يُسْمِعْ نَفْسَهُ فَلَا يُعَدُّ بِحَرَكَةِ لِسَانِهِ وَإِنَّمَا الْعِبْرَةُ بِمَا فِي قَلْبِهِ عَلَى أَنَّ جَمَاعَةً مِنْ أَئِمَّتِنَا وَغَيْرِهِمْ يَقُولُونَ: لَا ثَوَابَ فِي ذِكْرِ الْقَلْبِ وَحْدَهُ وَلَا مَعَ اللِّسَانِ حَيْثُ لَمْ يُسْمِعْ نَفْسَهُ

“Adapun sekiranya seseorang tidak membuat dirinya sendiri mendengar [apa yang diucapkan],  maka gerakan lisannya tidaklah  diperhitungkan tetapi yang diperhitungkan adalah apa yang ada dalam hatinya  saja, meskipun  sekelompok para imam Syafi’iyah dan lainnya berkata: "tidak ada pahala dalam dzikir dalam hati saja, juga dalam dzikir yang bersama lisan tetapi dirinya sendiri tidak mendengarnya". (ar-Ramli, Nihayat al-Muhtaj Ila Syarh al-Minhaj, III, 182). 

Akan tetapi, ketiadaan pahala tersebut menurut Ibnu Hajar al-Haitami bila dipandang dari aspek dzikir secara khusus. Akan tetapi dari aspek menyibukkan hati dengan mengingat Alah, maka tetaplah berpahala, bahkan sangat baik. Ia menjelaskan:

وَيَنْبَغِي حَمْلُهُ عَلَى أَنَّهُ لَا ثَوَابَ عَلَيْهِ مِنْ حَيْثُ الذِّكْرِ الْمَخْصُوصِ، أَمَّا اشْتِغَالُ الْقَلْبِ بِذَلِكَ وَتَأَمَّلْهُ لِمَعَانِيهِ وَاسْتِغْرَاقِهِ فِي شُهُودِهِ فَلَا شَكَّ أَنَّهُ بِمُقْتَضَى الْأَدِلَّةِ يُثَابُ عَلَيْهِ مِنْ هَذِهِ الْحَيْثِيَّةِ الثَّوَابَ الْجَزِيلَ، وَيُؤَيِّدُهُ خَبَرُ الْبَيْهَقِيّ «الذِّكْرُ الَّذِي لَا تَسْمَعُهُ الْحَفَظَةُ يَزِيدُ عَلَى الذِّكْرِ الَّذِي تَسْمَعُهُ الْحَفَظَةُ سَبْعِينَ ضِعْفًا» اهـ بِحُرُوفِهِ

“[Ketiadaan pahala dzikir dalam hati atau dzikir sangat pelan higga tak terdengar itu] sebaiknya diletakkan dalam konteks dzikir secara khusus. Adapun menyibukkan hati dengannya dan menghayati maknanya dan menghabiskan waktu merenungkannya maka tak diragukan bahwasanya sesuai tuntutan berbagai dalil yang ada ia mendapat pahala besar dari aspek ini. Hal ini diperkuat dengan hadis dari al-Baihaqi: “Dzikir yang tak didengar para malaikat pencatat lebih bertambah pahalanya 70 kali daripada dzikir yang didengar oleh para malaikat.” (ar-Ramli, Nihayat al-Muhtaj Ila Syarh al-Minhaj, III, 182). 

Maksudnya, misalnya Nabi Muhammad ﷺ menganjurkan agar membaca tasbih, tahmid dan takbir sebanyak 33 kali sehabis shalat wajib, maka anjuran ini hanya akan dianggap terlaksana dan mendapat pahalanya bila dibaca dengan lisan, tak cukup dibesitkan dalam hati saja. Inilah yang dimaksud pahala dzikir secara khusus. Namun bagi yang membacanya dalam hati bukan berarti tak mendapat pahala sama sekali tetapi ia mendapat pahala dari aspek merenung dan mengingat Allah, dan ini juga besar pahalanya. 

Bila semua penjelasan ini digabungkan, maka kesimpulannya adalah: Dzikir yang diperintahkan secara khusus haruslah diucapkan dengan lisan agar mendapat pahala dari perintah khusus tersebut. Bila tidak diucapkan, masih ada pahala bagi yang mengingat Allah dalam hatinya. Adapun dzikir yang umum tanpa ada perintah khusus sehingga bisa dibaca kapan saja di mana saja, maka perlu dilihat potensi riya di dalamnya. Bila ada potensi riya ketika membacanya, maka lebih utama dilakukan dalam hati. Akan tetapi bila aman dari potensi riya, misalnya ketika sendirian atau dilakukan oleh seorang panutan agar tindakannya ditiru orang lain, maka lebih utama dilakukan dengan hati sekaligus diucapkan dengan lisan. Wallahu a’lam.


Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Pengurus LBM PWNU Jawa Timur.

Share:
Ahad 21 April 2019 11:30 WIB
Apakah Gosok Gigi Perlu Niat Khusus?
Apakah Gosok Gigi Perlu Niat Khusus?
Gosok gigi atau bersiwak hukumnya sunnah muakkadah, sebuah kesunnahan yang sangat dianjurkan. Selain mempunyai manfaat menghilangkan bau mulut, bersiwak juga mempunyai hikmah mempermudah keluarnya ruh saat sakaratul maut kelak dan mampu mendatangkan ridla dari Allah subhanahu wa ta’ala

Baca: Mengganti Kayu Siwak dengan Sikat dan Pasta Gigi?
Apakah bersiwak atau menggosok gigi membutuhkan niat khusus? 

Menurut Imam al-Ramli, orang yang bersiwak (menggosok gigi) akan mendapatkan nilai pahala apabila dibarengi dengan niat bersiwak, atau melakukan kesunnahan atau mengikuti perilaku Nabi Muhammad ﷺ. Tanpa niat, gosok gigi tidak dianggap menjalankan sunnah Rasul yang bernilai pahala kecuali apabila saat ia bersiwak bertepatan di tengah-tengah menjalankan prosesi ibadah—jika demikian, tidak lagi memerlukan niat. 

Misalnya, ada orang yang sudah berniat wudhu, sedangkan bersiwak termasuk kesunahan dalam permulaan wudhu, kemudian ia bersiwak tanpa niat, hal ini telah mendapatkan nilai sunnah. Contoh yang lain adalah orang yang bersiwak setelah ia membaca takbiratul ihram shalat, walaupun tanpa niat, bersiwak di tengah-tengah prosesi ibadah yang seperti demikian  tetap dinilai menjalankan sunnah dan mendapatkan pahala. 

ـ (قوله ويسن أن ينوي بالسواك السنة) بأن يقول: نويت الاستياك، فلو استاك اتفاقا من غير نية لم تحصل السنة فلا ثواب له. ومحل ذلك ما لم يكن فى ضمن عبادة، كأن وقع بعد نية الوضوء او بعد الاحرام بالصلاة على ما قاله العلامة الرملي. والا فلا يحتاج لنية لأن النية ما وقع فيه شملته
 
Artinya: “Dan disunnahkan berniat dalam bersiwak dalam rangka untuk melaksanakan kesunnahan. Misalnya dalam hati membaca ‘saya niat bersiwak’. Apabila kebetulan ada orang yang bersiwak tanpa niat, maka tidak mendapatkan nilai sunnah yang berakibat tidak mendapatkan pahala. Kriteria seperti ini berlaku apabila seseorang tersebut tidak dalam prosesi ibadah berlangsung. Misalnya, ada orang yang bersiwak setelah ia berniat wudhu atau orang sudah takbiratul ihram shalat kemudian ia baru bersiwak, maka pada saat seperti ini tidak lagi membutuhkan niat. Keterangan demikian berdasar atas pernyataan Al-Allamah al-Ramli. Sebab, menurut Imam Ramli, jika bersiwak di tengah-tengah ibadah, niatnya sudah tercakup dengan niat ibadah di atasnya. (Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Al-Baijuri, [Darul Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, 1999], juz 1, halaman 84) 

Imam Birmawi berbeda pandangan dengan Imam Al-Ramli. Menurutnya, niat dalam siwak hanya sebagai penyempurna saja. Apabila gosok gigi dilakukan tanpa niat, akan tetap mendapatkan kesunahan bersiwak. 

وَتَحْصُلُ السُّنَّةُ الْكَامِلَةُ بِالنِّيَّةِ وَيَحْصُلُ أَصْلُهَا بِلَا نِيَّةٍ مَا لَمْ يَكُنْ فِي ضِمْنِ عِبَادَةٍ اهـ بِرْمَاوِيٌّ

Artinya: “Kesunahan itu bisa didapatkan secara sempurna apabila dilakukan dengan niat. Namun esensi kesunahan itu sendiri tetap berhasil diperoleh walaupun dilakukan tanpa niat selama tidak di dalam prosesi ibadah. Demikian pernyataan Syekh Birmawi.” (Syekh Sulaiman Al-Jamal, Hasyiyah Al-Jamal, [Darul Fikr], juz 1, halaman 117).

Jadi dapat diambil kesimpulan, menurut Imam Al-Ramli, orang bersiwak akan mendapatkan nilai sunnah jika dibarengi niat, sedangkan Imam Birmawi menyatakan bahwa niat hanya sebagai penyempurna saja. Yang sama, antara pandangan kedua ulama tersebut, menyatakan apabila bersiwak dilaksanakan di dalam prosesi ibadah, masing-masing sepakat tidak membutuhkan niat. Ini memang berlaku bagi semua ibadah sunnah. 

Contohnya, jika di dalam shalat, disunnahkan membaca surat, tasbih, mengangkat tangan dan lain sebagainya, karena kegiatan tersebut masuk dalam prosesi shalat, maka tidak membutuhkan niat satu persatu. Jadi, kesunnahan yang sudah menjadi bagian dari suatu ibadah, tidak membutuhkan niat satu per satu. Misalnya akan mendahulukan membasuh tangan kanan dalam wudhu niat lagi, nanti mengusap kedua telinga, niat sendiri, berkesinambungan niat sendiri, tidak demikian. Cukup dengan niat wudhu, atau shalat, maka kesunnahan yang ada di dalamnya tidak membutuhkan shalat. 

Berbeda apabila perilaku sunnah yang dilaksanakan di luar kegiatan ibadah. Contohnya adalah orang i'tikaf di dalam masjid. Karena pelaksanaan niatnya tidak di dalam prosesi ibadah tertentu, maka orang yang ingin mendapatkan pahala sunnah beri’tikaf, ia perlu niat terlebih dahulu. Begitu pula orang yang bersiwak, jika dilaksanakan di luar prosesi ibadah, apabila mengikuti Imam al-Ramli memerlukan niat khusus. Wallahu a’alam


Ustadz Ahmad Mundzir, pengajar di Pesantren Raudhatul Quran an-Nasimiyyah, Semarang 
Kamis 18 April 2019 15:30 WIB
Mengapa Allah Tak Merahasiakan Malam Nisfu Sya’ban?
Mengapa Allah Tak Merahasiakan Malam Nisfu Sya’ban?
Malam nisfu Sya’ban memiliki keutamaan yang besar, ia termasuk waktu yang mustajabah dibuat berdoa. Perisitiwa-peristiwa besar terjadi di malam penuh berkah tersebut. Demikian pula dengan malam Lailatul Qadar, memiliki keistimewaan yang sangat agung. Ia adalah malam yang diharapkan oleh setiap Muslim di seluruh penjuru dunia. 

Allah memperlihatkan malam nisfu Sya’ban kepada siapa pun. Tidak ada yang dirahasiakan tentang terjadinya malam nisfu Sya’ban. Waktu dan tanggalnya sudah jelas dan tidak berubah-ubah di setiap tahunnya, yaitu malam tanggal 15 bulan Sya’ban. 

Berbeda dengan malam Lailatul Qadar. Allah sangat merahasiakan kapan malam seribu bulan tersebut terjadi. Bisa tanggal 21, 23, 25, 27 atau bahkan di sepanjang bulan Ramadlan berpotensi Lailatul Qadar, namun kapan persisnya benar-benar menjadi misteri. 

Pertanyaannya kemudian, mengapa Allah tak merahasiakan malam nisfu Sya’ban tapi merahasiakan Lailatul Qadar? Padahal, keduanya sama-sama malam yang dipenuhi limpahan rahmat.

Syekh Abdul Qadir al-Jilani menegaskan bahwa Lailatul Qadar dirahasiakan karena ia lebih dominan sisi rahmat dan ampunan di dalamnya. Barangsiapa menghidupi Lailatul Qadar, ia diberi kemuliaan dan pahala yang tidak terhingga. Oleh karena itu, Allah merahasiakannya agar umat Islam tidak mengandalkan Lailatul Qadar sebagai satu-satunya waktu untuk beribadah secara serius. Dengan dirahasiakannya Lailatul Qadar, semakin tampak siapa hamba yang betul-betul menjaga konsistensi ibadahnya dan siapa yang hanya beribadah secara musiman.

Hal ini berbeda dengan malam Nisfu Sya’ban. Meski di dalamnya dipenuhi limpahan rahmat, namun pada malam tersebut lebih dominan sisi “penentuan nasib” seorang manusia. Di malam nisfu Sya’ban, amal perbuatan manusia selama satu tahun dilaporkan di hadapan-Nya. Manusia diuji selama satu tahun, apakah ia semakin dekat dengan-Nya atau justru semakin diperbudak oleh nafsunya. Di malam tersebut Allah memberi keputusan siapa yang layak mendapat ridha-Nya dan siapa yang tertimpa azab-Nya. Di malam tersebut tampak siapa yang beruntung dan celaka. Oleh karena hal tersebut, malam nisfu Sya’ban tidak dirahasiakan oleh Allah. 

Syekh Abdul Qadir al-Jilani mengatakan:

وقيل إن الحكمة في أن الله تعالى أظهر ليلة البراءة وأخفى ليلة القدر لأن ليلة القدر ليلة الرحمة والغفران والعتق من النيران، أخفاها الله لئلا يتكلوا عليها 

“Dikatakan, hikmah Allah memperlihatkan malam pembebasan (nisfu Sya’ban) dan menyamarkan Lailatul Qadar adalah bahwa Lailatul Qadar merupakan malam kasih sayang, pengampunan, dan pemerdekaan dari neraka. Allah menyamarkan Lailatul Qadar agar para manusia tidak mengandalkannya.”

وأظهر ليلة البراءة لأنها ليلة الحكم والقضاء وليلة السخط والرضاء ليلة القبول والرد والوصول والصد، ليلة السعادة والشقاء والكرامة والنقاء فواحد فيها يسعد والآخر فيها يبعد، وواحد يجزى ويخزى وواحد يكرم وواحد يحرم، واحد يهجر وواحد يؤجر

“Dan Allah memperlihatkan malam pembebasan (nisfu Sya’ban) karena ia adalah malam penghakiman dan pemutusan, malam kemurkaan dan keridhaan, malam penerimaan dan penolakan, malam peyampaian dan penolakan, malam kebahagiaan dan kecelakaan, malam kemuliaan dan pembersihan. Sebagian orang beruntung, sebagian yang lain dijauhkan dari rahmat-Nya, ada yang dibalas pahala, ada pula yang dihinakan, ada yang dimuliakan, ada pula yang dicegah dari rahmat-Nya, salah seorang didiamkan, salah seorang diberi pahala.”  (Syekh Abdul Qadir al-Jilani, Ghunyah al-Thalibin, hal. 283)

Demikianlah hikmah mengapa Allah tidak merahasiakan malam nisfu Sya’ban. Semoga di malam nisfu Sya’ban kita termasuk dari hamba-hamba-Nya yang beruntung.


Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pesantren Raudlatul Qur’an, Geyongan Arjawinangun Cirebon Jawa Barat
Rabu 17 April 2019 18:0 WIB
Doa Syekh Abdul Qadir al-Jilani di Malam Nisfu Sya’ban
Doa Syekh Abdul Qadir al-Jilani di Malam Nisfu Sya’ban
Malam nisfu Sya’ban (malam tanggal 15 Sya’ban) merupakan malam yang istimewa. Menurut Syekh Abdul Qadir al-Jilani, malam nisfu Sya’ban adalah malam yang diberkati Allah (lailah mubarakah). Malam tersebut disebut juga dengan “malam pembebasan” (lailatul bara’ah).

Disebut malam yang diberkati (mubarakah) karena di dalamnya turun rahmat, keberkahan, kebaikan, dan pengampunan bagi manusia, jin dan penduduk bumi yang lain.

Ulama berjuluk sulthanul auliya’ (pemimpin para wali) tersebut menegaskan:

ومنها سمي ليلة البراءة مباركة لما فيها من نزول الرحمة والبركة والخير والعفو والغفران لأهل الأرض

“Dan di antaranya, malam pembebasan disebut dengan ‘mubarakah’ (yang diberkati) karena di dalamnya terdapat turunnya rahmat, keberkahan, kebaikan, dan pengampunan bagi penduduk bumi.” (Syekh Abdul Qadir al-Jilani, Ghunyah al-Thalibin, juz 3, hal. 278).

Baca juga:
Seputar Amalan dan Keutamaan Bulan Sya‘ban
Beberapa Peristiwa Penting di Bulan Sya’ban
Tiga Amalan Utama pada Malam Nisfu Sya’ban
Malam nisfu Sya’ban disebut malam pembebasan karena pada malam tersebut Allah membebaskan orang-orang yang celaka dari siksa-Nya, dan membebaskan para kekasih-Nya dari kehinaan.

Syekh Abdul Qadir al-Jilani menegaskan:

وقيل وانما سميت ليلة البراءة لأن فيها براءتين براءة للأشقياء من الرحمن وبراءة للأولياء من الخذلان

“Dikatakan bahwa malam nisfu Sya’ban disebut malam pembebasan karena di dalamnya terdapat dua pembebasan. Pertama, pembebasan untuk orang-orang celaka dari siksa Allah yang Maha-Penyayang. Kedua, pembebasan untuk para kekasih Allah dari kehinaan.” (Syekh Abdul Qadir al-Jilani, Ghunyah al-Thalibin, juz 3, hal. 283)

Karena itu, dianjurkan untuk memperbanyak dzikir dan berdoa di malam yang penuh rahmat tersebut. Lantas apa doa yang dianjurkan dibaca?

Berikut ini adalah doa yang dibaca di malam nisfu Sya’ban dari Syekh Abdul Qadir al-Jilani, yang mengutip doa dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ، مَصَابِيْحِ الْحِكْمَةِ وَمَوَالِيْ النِّعْمَةِ، وَمَعَادِنِ الْعِصْمَةِ، وَاعْصِمْنِيْ بِهِمْ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ. وَلَا تَأْخُذْنِيْ عَلَى غِرَّةٍ وَلَا عَلَى غَفْلَةٍ، وَلَا تَجْعَلْ عَوَاقِبَ أَمْرِيْ حَسْرَةً وَنَدَامَةً، وَارْضَ عَنِّيْ، فَإِنَّ مَغْفِرَتَكَ لِلظَّالِمِيْنَ، وَأَنَا مِنَ الظَّالِمِيْنَ، اللهم اغْفِرْ لِيْ مَا لَا يَضُرُّكَ، وَأَعْطِنِيْ مَا لَا يَنْفَعُكَ، فَإِنَّكَ الْوَاسِعَةُ رَحْمَتُهُ، اَلْبَدِيْعَةُ حِكْمَتُهُ، فَأَعْطِنِي السَّعَةَ وَالدَّعَةَ، وَالْأَمْنَ وَالصِّحَّةَ وَالشُّكْرَ وَالْمُعَافَاةَ، وَالتَّقْوَى، وَأَفْرِغِ الصَّبْرَ وَالصِّدْقَ عَلَيَّ، وَعَلَى أَوْلِيَائِيْ فِيْكَ، وَأَعْطِنِي الْيُسْرَ، وَلَا تَجْعَلْ مَعَهُ الْعُسْرَ، وَأَعِمَّ بِذَلِكَ أَهْلِيْ وَوَلَدِيْ وَإِخْوَانِيْ فِيْكَ، وَمَنْ وَلَدَنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

Allâhumma shalli ‘alâ Muhammadin wa âlihi, Mashâbihil hikmati wa mawâlin ni’mati, wa ma‘âdinil ‘ishmati, wa‘shimni bihim min kulli sû-in, wa lâ ta’khudznî ‘alâ ghirratin wa lâ ‘ala ghaflatin, wa lâ taj‘al ‘awâqiba amri hasratan wa nadâmatan, wardla ‘annî, fainna maghfirataka lidh dhâlimin, wa anâ minadh dhâlimîna, allâhumma ighfir lî mâ lâ yadlurruka, wa a‘thinî mâ lâ yanfa’uka, fainnaka al-wâsi’atu rahmatuhu, al-badî‘atu hikmatuhu, fa a‘thini as-sa‘ata wad da‘ata, wal-amna wash-shihhata wasy-syukra wal-mu‘âfata wattaqwa, wa afrighiash-shabra wash-shidqa ‘alayya, wa ‘alâ auliyâi fîka, wa a‘thinî al-yusra, walâ taj‘al ma‘ahu al-‘usra, wa a‘imma bi dzâlika ahlî wa waladî wa ikhwanî fîka, wa man waladanî minal muslimîna wal muslimâti wal mu’minîna wal mu’minâti.

“Ya Allah limpahkan rahmat ta’dhim-Mu kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, lampu-lampu hikmah, tuan-tuan nikmat, sumber-sumber penjagaan. Jagalah aku dari segala keburukan lantaran mereka, janganlah engkau hukum aku atas kelengahan dan kelalaian, janganlah engkau jadikan akhir urusanku suatu kerugian dan penyesalan, ridhailah aku, sesungguhnya ampunanMu untuk orang-orang zhalim dan aku termasuk dari mereka, ya Allah ampunilah bagiku dosa yang tidak merugikanMu, berilah aku anugerah yang tidak memberi manfaat kepadaMu, sesungguhnya rahmat-Mu luas, hikmah-Mu indah, berilah aku kelapangan, ketenangan, keamanan, kesehatan, syukur, perlindungan (dari segala penyakit) dan ketakwaan. Tuangkanlah kesabaran dan kejujuran kepadaku, kepada kekasih-kekasihku karena-Mu, berilah aku kemudahan dan janganlah jadikan bersamanya kesulitan, liputilah dengan karunia-karunia tersebut kepada keluargaku, anaku, saudar-saudaraku karena-Mu dan para orang tua yang melahirkanku dari kaum muslimin muslimat, serta kaum mukiminin dan mukminat.” (Syekh Abdul Qadir al-Jilani, Ghunyah al-Thalibin, juz 3, hal. 249)

Pada dasarnya, tidak ada ketentuan mengenai doa atau amalan yang dibaca di malam nisfu Sya’ban, bahkan bisa dari doa yang dibuat sendiri. Namun lebih utama bila doa atau amalan tersebut dari para guru, ulama, atau orang-orang pilihan-Nya. Demikianlah semoga bermanfaat. Wallahu a'lam.


Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pesantren Raudlatul Qur’an, Geyongan Arjawinangun Cirebon Jawa Barat