IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Hadits

Ini Enam Fungsi Asbabul Wurud Hadits

Selasa 28 Mei 2019 17:0 WIB
Share:
Ini Enam Fungsi Asbabul Wurud Hadits
(Foto: @via at-thahawi.com)
Untuk memahami konteks yang tersimpan dalam sebuah hadits, seseorang membutuhkan pengetahuan akan kehidupan Nabi SAW secara mendetail, khususnya kejadian-kejadian yang berkaitan dengan munculnya sebuah hadits. Hal ini oleh para ulama disebut sebagai asbabul wurud hadits.

Ilmu asbabul wurud memiliki beberapa fungsi. Secara umum, fungsi-fungsi dari asbabul wurud ini telah tergambar dalam definisi asbabul wurud menurut As-Suyuthi, yaitu:

ما يكون طريقا لتحديد المراد من الحديث من عموم أو خصوص أو إطلاق أوتقييد أو نسخ أو نحو ذالك.

Artinya, “Setiap hal yang menjadi metode untuk membatasi makna hadits, baik dari makna umum, khusus, mutlak-muqayyad, atau naskh, dan semacamnya.”

Atau dalam bahasa yang lebih mudah, As-Suyūṭī menyebutnya dengan:

ما ورد الحديث أيام وقوعه

Artinya, “Suatu kejadian yang mengiringi sebuah hadits pada masa terjadinya kejadian tersebut,” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Lummāʽ fi Asbābil Ḥadīts, [Beirut, Dārul Kutub: 1984 M], halaman 11).

Dalam definisinya di atas, As-Suyūṭī menjelaskan enam fungsi asbabul wurud.

Pertama, Takhshīsul ʽAmm
Salah satu contoh dari faedah ini adalah hadits yang menjelaskan bahwa pahala orang yang shalat dengan duduk adalah setengah dari pahala orang yang shalat dengan berdiri.

صلاة القاعد على النصف من صلاة القائم

Artinya, “(Pahala) shalat orang yang duduk adalah setengah dari pahala shalat dengan berdiri.”

Hadits di atas sebenarnya bukan untuk semua orang yang shalat dengan duduk, melainkan hanya untuk orang yang shalat dengan duduk dalam keadaan tertentu. Hadits di atas mungkin secara sekilas kelihatan masih umum. Tapi jika kita runut asbabul wurudnya, hadits tersebut ditujukan kepada orang-orang di Madinah saat itu yang shalat dengan duduk.

Pada saat itu nabi mengetahui, Nabi pun bertanya kepada Abdullāh bin Umar terkait alasan mereka shalat duduk. Mereka menjawab bahwa mereka shalat duduk karena mereka terkena wabah penyakit panas. Kemudian Rasul bersabda hadits di atas. Para sahabat yang masih mampu berdiri pun lebih memilih berdiri daripada duduk, (Lihat At-Ṭhabrānī, Musnadus Syamīyyīn, [Beirut, Muassasatur Risālah: 1984 M], juz I, halaman 370).

As-Suyūṭī pun menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pahala setengah dari orang yang berdiri adalah untuk orang-orang yang masih kuat dan mampu untuk berdiri tetapi ia lebih memilih duduk.

Dalam hadits lain riwayat Muslim juga disebutkan bahwa Rasulullah SAW tidak meninggal hingga beliau shalat dengan duduk.

عن جابر بن سمرة أن النبي ﷺ لم يمت حتى صلى قاعدا.

Artinya, “Dari Jābir bin Samurah bahwa Rasulullah SAW tidak meninggal dunia hingga beliau shalat dengan duduk,” (Lihat Muslim, Ṣhaḥīḥ Muslim, [Beirut, Dāru Jil: tanpa catatan tahun], juz II, halaman 165).

Ini menunjukkan bahwa Rasul SAW selalu dengan sekuat tenaga berusaha berdiri hingga beliau sakit parah yang menyebabkan kewafatannya. Artinya, Rasul hanya shalat dengan duduk ketika ia sakit parah yang menyebabkan ia meninggal dunia, (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Lummāʽ fi Asbābil Ḥadīts, [Beirut, Dārul Kutub: 1984 M], halaman 11).

Kedua, Taqyīdul Muṭhlāq
Yang dimaksud dengan taqyīd al-muṭlāq adalah pembatasan kata yang masih terlalu umum. Salah satu contohnya adalah hadits tentang balasan bagi orang yang berbuat baik kemudian banyak orang yang menirunya. Orang yang berbuat baik tersebut akan mendapatkan pahala orang-orang yang telah meniru perbuatannya tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang-orang tersebut.

من سن سنة حسنة عمل بها بعده كان له مثل أجر من عمل بها من غير ان ينقص من أجره شيء ومن سن سنة سيئة كان عليه مثل وزر من عمل بها من غير ان ينقص من أوزارهم شيء

Artinya, “Siapa pun orang yang mencontohkan suatu sunnah (perbuatan) yang baik  yang diamalkan oleh orang lain setelahnya maka ia mendapat pahala sebanyak pahala orang lain yang telah melakukan perbuatan baik tersebut tanpa mengurangi pahala orang-orang yang telah melakukannya. Siapun orang yang mencontohkan suatu perbuatan yang jelek maka maka ia mendapat dosa sebanyak dosa orang lain yang telah melakukan perbuatan jelek tersebut tanpa mengurangi dosa orang-orang yang telah melakukannya,” (Lihat Abdullāh Abū Muḥammad Ad-Dārimī, Sunan Ad-Dārimī, [Beirut, Dārul Kutub: 1407 H], juz I, halaman 60).

Dalam hadits di atas, kata sunnah hasanah terlihat masih umum, ditandai dengan tanda nakirah, yaitu tanwīn (ـً). Ini tentu menimbulkan pertanyaan, perbuatan baik seperti apa? Apakah perbuatan baik yang terdapat unsur dalilnya dalam naṣ agama atau boleh juga perbutan baik yang tidak ada naṣ agamanya?

Menurut As-Suyūṭī, yang dimaksud sunnah hasanah dalam hal ini adalah perbuatan baik yang terdapat dalam naṣ agama. As-Suyūṭī kemudian menyebutkan redaksi hadits yang lebih lengkap, bahwa suatu hari Rasul SAW berkhotbah dan berpesan untuk bertakwa, kemudian para sahabat datang membawa beberapa barang untuk disedekahkan, mulai baju, uang, perhiasan, makanan pokok, hingga ada seseorang Ansor yang datang dengan bungkusan yang sangat berat dan membuatnya tak bisa mengangkatnya, hingga wajah Rasul SAW terlihat semringah. Kemudian Rasul bersabda hadits di atas. (Lihat Al-Bazzār, Musnad Al-Bazzār, [Madinah, Maktabah Ulūm wal Hukm: 2009 M], juz X, halaman 145).

Dari redaksi hadits yang disebutkan secara lengkap di atas, As-Suyūṭi berkesimpulan bahwa yang dimaksud sunnah ḥasanah atau perbuatan baik dalam hadits di atas, adalah perbuatan baik yang telah diajarkan Rasul dalam naṣ agama, baik dalam Al-Qur’an maupun hadits.

Ketiga, Tafṣīlul Mujmal
Yang dimaksud dengan tafṣīlul mujmal adalah memperinci sesuatu yang masih global. Contoh dari faedah ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Mālik tentang Rasulullah SAW yang memerintahkan Biāl untuk menggenapkan kalimat azan dan mengganjilkan kalimat iqamah.

أمر بلال أن يشفع الأذان ويوتر الإقامة

Artinya, “Bilāl diperintahkan untuk menggenapkan kalimat adzan (dua-dua) dan mengganjilkan kalimat iqamah (satu-satu).”

Namun hadits ini seolah bertentangan dengan pendapat jumhūr ulama yang menyebutkan bahwa kalimat takbir dalam adzan itu tidak hanya dua kali, tapi empat kali (tarbīʽ). Sedangkan kalimat takbir dalam iqamah adalah dua kali.

Yang dimaksud mengganjilkan dalam hadits di atas adalah empat kali. Hal ini bisa dilihat dari asbabul wurud hadits tersebut yang menjelaskan sejarah kalimat adzan, yaitu melalui proses mimpi Abdullāh bin Zaid. Kemudian Abdullāh datang kepada Rasulullah SAW dan menceritakan mimpinya, yaitu menyebutkan kalimat takbīr empat kali saat adzan dan dua kali saat iqamah. Baru kemudian Rasul SAW meminta Abdullāh mengajarkan kalimat itu kepada Bilāl, (Lihat Ibnu Ḥibbān, Ṣaḥīḥ Ibnu Ḥibbān, [Beirut, Muassasatur Risālah: 1993 M], juz IV, halaman 572).

Inilah yang dimaksud oleh As-Suyūṭī bahwa asbabul wurud hadits di atas, yang berupa penjelasan Abdullāh bin Zaid tentang kalimat lengkap adzan menjelaskan hal-hal yang masih global dalam kalimat menggenapkan dan mengganjilkan.

Keempat, Membatasi hadits yang menjadi nāsikh (penghapus) dan menjelaskan nāsikh dan mansūkh.
Seperti contoh dalam sebuah hadits yang menjelaskan bahwa orang yang berbekam dan orang yang membekam puasanya batal.

أفطر الحاجم والمحجوم

Artinya, “Batal puasanya orang yang membekam dan dibekam,” (HR Ahmad).

Namun dalam hadits lain disebutkan bahwa orang yang berbekam tidak batal, karena Rasulullah SAW juga pernah berbekam dalam keadaan sedang puasa dan sedang berihram.

إحتجم النبي ﷺ وهو صائم محرم

Artinya, “Rasulullah Saw berbekam dan beliau dalam keadaan sedang puasa dan berihram (menggunakan pakaian ihram),” (HR Ibnu Mājjah).

Juga dalam hadits lain riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa orang yang mimpi basah, muntah, dan berbekam tidak membatalkan puasa.

لا يفطر من قاء ولا من احتلم ولا من احتجم

Artinya, “Tidak batal puasa orang yang mutah (tidak disengaja), mimpi basah, dan berbekam,” (HR Abu Dawud).

Secara sekilas kelihatan bahwa hadits yang pertama dinasakh. As-Suyuṭī menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat terkait hadits mana yang menasakh dan dinasakh. Imam Alī bin Al-Madīnī dan Ibnu Mundzīr berpendapat bahwa yang menasakh adalah hadits yang pertama. Sedangkan Imam As-Syafi’i berpendapat bahwa yang menasakh adalah hadits yang kedua, (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Lummāʽ fi Asbābil Ḥadīts, [Beirut, Dārul Kutub: 1984 M], halaman 15).

Dalam riwayat Al-Baihaqi disebutkan bahwa sebab Rasul bersabda tentang batalnya puasa dua orang yang sedang berbekam, baik dari orang yang membekam maupun dibekam adalah kerena keduanya juga melakukan ghibah.

مر رسول الله صلى الله عليه وسلم على رجل بين يدي حجام وذلك في رمضان وهما يغتابان رجلا فقال افطر الحجام والمحجوم

Artinya, “Rasulullah SAW berjalan di antara dua orang yang sedang melakukan bekam. Dan hal itu terjadi pada bulan Ramadhan, keduanya sedang menggunjing orang lain. Kemudian Rasul SAW bersabda, telah batal puasanya orang yang membekam dan dibekam,” (Lihat Al-Baihāqī, Syuʽābul Īmān, [Beirut, Darul Fikr: 1410 H], juz V, halaman 307).

Ini menunjukkan bahwa sebenarnya tidak ada pertantangan dan nasikh mansukh antara satu hadits di atas dengan yang lain. Hanya saja hadits yang pertama perlu dicari asbābul wurūdnya untuk mengurai dan menjelaskan apakah ada nasakh dan mansukh.

Kelima, Menjelaskan illat suatu hukum
Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa Rasul SAW pernah melarang seorang untuk minum langsung dari mulut sebuah wadah air (kendi). Dalam hadits yang lain dijelaskan bahwa ada seseorang yang minum dari mulut sebuah kendi kemudian perutnya sakit.

Inilah yang dimaksud oleh As-Suyūṭī, bahwa asbabul wurud bisa digunakan untuk melihat illat suatu hukum. Dalam kasus minum air ini, illatnya adalah dapat membuat sakit perut, tersedak, dan lain sebagainya, (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Lummāʽ fi Asbābil Ḥadīts, [Beirut, Dārul Kutub: 1984 M], halaman 17).

Keenam, Menjelaskan hal yang masih musykil (sulit dipahami)
Contohnya ketika Rasul SAW bersabda bahwa orang yang diperdebatkan hisabnya, dia akan diazab. Lalu Aisyah bertanya bukankah hisab akan dipermudah. Kemudian Rasul menjawab, yang dimaksud hisab itu adalah hanya diperlihatkan (عرض). Sedangkan orang yang diperdebatkan hisabnya dia akan hancur.

Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits riwayat Imam Al-Bukhari.

أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَتْ لَا تَسْمَعُ شَيْئًا لَا تَعْرِفُهُ إِلَّا رَاجَعَتْ فِيهِ حَتَّى تَعْرِفَهُ وَأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ حُوسِبَ عُذِّبَ قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ أَوَلَيْسَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى ( فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا ) قَالَتْ فَقَالَ إِنَّمَا ذَلِكِ الْعَرْضُ وَلَكِنْ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَهْلِكْ

Artinya, “Sungguh Aisyah istri Nabi SAW tidaklah mendengar sesuatu yang tidak dia mengerti kecuali menanyakannya kepada Nabi SAW sampai dia mengerti, dan Nabi SAW pernah bersabda, ‘Siapa yang dihisab berarti dia disiksa’ Aisyah berkata, maka aku bertanya kepada Nabi, ‘Bukankah Allah SWT berfirman, ‘Kelak dia akan dihisab dengan hisab yang ringan.’’ Aisyah berkata, maka Nabi SAW bersabda, ‘Sungguh yang dimaksud itu adalah pemaparan (amalan). Akan tetapi barang siapa yang didebat hisabnya pasti celaka,’" (Lihat Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ Al-Bukhārī, [Beirut, Dāru Ṭūqin Najāt: 1422 H], juz I, halaman 32).

Hadits di atas menunjukkan bahwa sababu wurūdil hadits bisa digunakan sebagai penjelas atas hal yang masih musykil. Wallahu a’lam.


Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, Pegiat Kajian Tafsir dan Hadits.
Share:
Senin 20 Mei 2019 16:0 WIB
Jika ada Hadits yang Berbeda, Apakah Secara Otomatis Bertentangan?
Jika ada Hadits yang Berbeda, Apakah Secara Otomatis Bertentangan?
Suatu hari, seorang sahabat menghadap kepada Nabi Muhammad SAW. Ia ingin meminta pendapat dan pengajaran nabi terkait hal apa yang paling utama. Rasulullah SAW menjawab dan memberikan saran bahwa hal yang paling utama adalah jangan marah.

Di lain hari, ketika ada seorang sahabat lain bertanya kepada nabi terkait hal yang paling utama, nabi bukan lagi menjawabnya dengan “jangan marah.” Tetapi dengan hal lain yang berbeda. Lantas, apakah jawaban nabi yang berbeda ini secara otomatis bertentangan?

Kiai Ali Mustafa Yaqub (wafat 2016) menyebutkan bahwa walaupun teks hadits dalam satu tema sangat beragam, namun ia memiliki kesatuan yang tidak bisa terpisahkan. (Lihat Ali Mustafa Yaqub, At-Ṭuruqus Ṣhaḥīḥah fi Fahmis Sunnatin Nabawīyah, [Ciputat, Maktabah Darus Sunnah: 2016 H], halaman 131).

Kiai Ali Mustafa Yaqub meyakini bahwa hadits pada mulanya bermuara pada satu sumber, yaitu Rasulullah SAW. Terkadang Rasul menyampaikan suatu teks hadits yang tidak disampaikan kepada sahabat yang lain. Selain itu, kadang kala sebuah hadits dalam jalur riwayat yang satu berbeda dengan jalur riwayat lain. 

Hal ini bisa jadi karena Rasul menyampaikan hal yang berbeda dalam dua riwayat tersebut, karena Rasul melihat suatu kebaikan dalam riwayat yang pertama, tetapi tidak melihat kebaikan dalam riwayat lain.

Hal ini juga ditegaskan oleh Yusuf Al-Qaradhawi bahwa perbedaan riwayat dalam suatu hadits bukan berarti secara otomatis bertentangan. (Lihat Yusuf Al-Qaradhawi, Kaifa Nataʽāmal maʽas Sunnatin Nabawīyyah, [Kairo, Darus Syuruq: 2002 M], halaman 133).

Hal ini, sebagaimana diungkapkan oleh Kiai Ali Mustafa, bisa juga berhubungan dengan siapa yang dihadapi oleh Rasulullah SAW. Dalam beberapa kasus, Rasulullah menjawab pertanyaan yang disampaikan kepada beliau dengan jawaban yang berbeda, walaupun pertanyaan yang disampaikan sama.

Misalnya, dalam pertanyaan di atas, “Siapakah orang yang paling mulia.” Dalam satu kasus Nabi SAW mewasiatkan agar tidak marah, di kasus lain, Rasul memerintahkan untuk bersedekah dan lain sebagainya. Itu adalah salah satu contoh bagaimana perbedaan hadits itu dipengaruhi oleh siapa periwayatnya dan siapa mukhattabnya.

Selain itu, terkadang sumber perbedaan ini muncul dari kalangan sahabat atau tabiin yang meriwayatkan matan hadits. Inti matannya satu dari Rasulullah SAW, namun penyampaian redaksinya dari rawi yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh kebolehan menyampaikan atau meriwayatkan hadits dengan bil maʽnā (menyampaikan hadits dengan maknanya). Terkadang juga hadits dari Rasulullah dalam suatu riwayat disampaikan dengan lebar dan dalam riwayat lain disampaikan dengan ringkas. (Lihat Ali Mustafa Yaqub, At-Ṭuruqus Ṣhaḥīḥah fi Fahmis Sunnatin Nabawīyah, [Ciputat, Maktabah Darus Sunnah: 2016 H], halaman 131).

Imam Ahmad bin Hanbal (wafat 242 H) mengungkapkan bahwa jika tidak mengumpulkan seluruh jalur periwayatan hadits, maka kita tidak akan bisa memahaminya. Menurut Imam Ahmad, hadits yang satu dan yang lainnya itu saling menafsirkan. Hal ini juga ditegaskan oleh Qadhi Iyadh bahwa hadits yang jelas pengertiannya akan menjelaskan hadits lain yang musykil. (Lihat Al-Khaṭib Al-Baghdadi, Al-Jāmīʽ li Akhlāqir Rāwī wa Adabis Sāmīʽ, [Beirut, Maktabah Al-Maʽarif: 1989 M], juz IV, halaman 388).

Hal ini juga menunjukkan bahwa harus ada pemahaman penuh terhadap konteks situasi dan kondisi sosial pada saat Rasul SAW menyampaikan hadits saat itu. Analisis konteks sosio-historis sendiri penting untuk memahami bagaimana lahirnya suatu teks hadits.

Untuk memahami konteks ini, seseorang membutuhkan pengetahuan akan kehidupan Nabi SAW secara mendetail baik di Mekkah maupun Madinah; iklim sosial, ekonomi, politik dan hukum;  norma, hukum, adat, kebiasaan, institusi dan nilai yang berlaku di wilayah tersebut. Wallahu a’lam.


Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, pegiat kajian tafsir dan hadits.
Rabu 24 April 2019 23:40 WIB
Memahami Hadits Tidak Ada Orang Berjenggot di Surga
Memahami Hadits Tidak Ada Orang Berjenggot di Surga
Kita pernah mendengar riwayat Imam At-Tirmidzi yang mengisahkan bagaimana Rasulullah SAW bergurau dengan seorang perempuan tua yang meminta doanya agar Allah memasukkan nenek itu ke dalam surga. “Maaf bu, surga takkan dimasuki oleh perempuan tua,” jawab Rasulullah SAW.

Ketika nenek itu menangis, Rasulullah SAW meminta para sahabat mengejarnya, “Kabarkan kepadanya bahwa dia tidak akan masuk ke surga dalam keadaan usia lanjut karena Allah berfirman, ‘Sungguhnya Kami menciptakan mereka dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya,'” (Surat Al-Waqi’ah ayat 35-37).

Pada riwayat lain, Imam At-Tirmidzi juga menyebutkan sifat-sifat ahli surga kelak di mana di dalamnya tidak ada orang tua, orang dengan bulu kumis, jenggot, dan bulu lainnya.

عن معاذ بن جبل رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال يَدْخُلُ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ جُرْدًا مُرْدًا مُكَحَّلِينَ، بني ثَلاَثٍ وَثَلاَثِينَ رواه الترمذي

Artinya, “Dari Muadz bin Jabal, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, ‘Penghuni surga kelak masuk ke dalamnya dalam keadaan tak berbulu, muda, dan bercelak mata, sekira usia 33 tahun,’” (HR At-Tirmidzi).

Imam Zakiyuddin Abdul Azhim Al-Mundziri dalam Kitab At-Targhib wat Tarhib minal Haditsis Syarif, mengutip riwayat lain Imam At-Tirmidzi yang menyebutkan bahwa di surga tidak ada orang tua dan orang berbulu. Mereka akan senantiasa muda. Pakaian yang mereka kenakan takkan mengalami usang.

ورواه أيضا من حديث أبي هريرة رضي الله عنه وقال غريب ولفظه قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أَهْلُ الْجَنَّةِ جُرْدٌ مُرْدٌ كُحْلٌ لَا يَفْنَى شَبَابُهُمْ وَلَا تَبْلَى ثِيَابُهُمْ 

Artinya, “Imam At-Tirmidzi juga meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah RA. Ia berkata, ini hadits gharib dengan lafal, Rasulullah SAW bersabda, ‘Penghuni surga tidak berbulu, muda, dan bercelak mata. Masa muda mereka takkan sirna. Pakaian mereka takkan lusuh,’” (Lihat Imam Zakiyuddin Abdul Azhim Al-Mundziri, At-Targhib wat Tarhib minal Haditsis Syarif, [Beirut, Darul Fikr: 1998 M/1418 H], juz IV, halaman 299).

Menurut Said M Al-Lahham yang menahqiq Kitab At-Targhib wat Tarhib, kata “Jurdun dan murdun” bermakna bahwa di tubuh penghuni surga tidak ada bulu, tidak ada jenggot, dan mereka berusia muda. Mereka akan kekal termasuk semua benda yang ada di hadapan mereka, (Lihat Said M Al-Lahham dalam tahqiq At-Targhib wat Tarhib minal Haditsis Syarif, [Beirut, Darul Fikr: 1998 M/1418 H], juz IV, halaman 299).

Hadits Rasulullah SAW berikut ini yang diriwayatkan sejumlah perawi menyebutkan hal serupa. Hanya saja, pada riwayat ini disebutkan perihal warna kulit, bentuk rambut, dan perawakan penghuni surga.

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال قال رسول الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم قَالَ : يَدْخُلُ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ جُرْدًا مُرْدًا بِيضًا جِعَادًا مُكَحَّلِينَ، أَبْنَاءَ ثَلاَثٍ وَثَلاَثِينَ، وَهُمْ عَلَى خَلْقِ آدَمَ، طُولُهُ سِتُّونَ ذِرَاعًا فِي عَرْضِ سَبْعَةِ أَذْرُعٍ رواه أحمد وابن أبي الدنيا والطبراني والبيهقي كلهم من رواية علي بن زيد بن جدعان عن ابن المسيب عنه

Artinya, “Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Penghuni surga kelak masuk ke dalamnya dalam keadaan tak berbulu, muda, putih, berambut ikal, dan bercelak mata, sekira usia 33 tahun. Perawakan mereka seperti Nabi Adam AS, yaitu tinggi 60 hasta dan lebar 7 hasta,’” (HR Ahmad, Ibnu Abid Dunia, At-Thabarani, dan Al-Baihaqi. Semuanya mendapat riwayat dari Ali bin Zaid bin Jad’an, dari Ibnul Musayyab, dari Abu Hurairah RA).

Adapun hadits berikut ini menerangkan hal serupa. Hadits riwayat Imam Al-Baihaqi ini menyebutkan bahwa usia manusia di dunia beragam. Sebagian orang wafat di masa tua. Sebagian lagi wafat di waktu muda. Bahkan ada orang yang wafat melalui insiden keguguran.

Panjang usia manusia di dunia memang ditakdirkan beragam. Semua itu tidak masalah. Tetapi usia penghuni surga kelak seragam sekira di angka 30 tahun atau 33 tahun.

وعن المقدام رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال مَا مِنْ أَحَدٍ يَمُوْتُ سِقْطاً وَلَا هَرِماً وَإِنَّمَا النَّاسُ فِيْمَا بَيْنَ ذَلِكَ إِلَّا بُعِثَ ابْنَ ثَلَاثٍ وَثَلَاثِيْنَ سَنَةً، فَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ كَانَ عَلَى مَسْحَةِ آدَمَ، وَصُوْرَةِ يُوْسُفَ، وَقَلْبِ أيُّوبَ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ عَظُمُوْا وَفَخُمُوْا كَالجِبَالِ رواه البيهقي بإسناد حسن

Artinya, “Dari Al-Miqdam RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidak ada satu pun orang nanti, baik yang mati keguguran atau mati ketuaan, hanya sanya di antara itu melainkan akan dibangkitkan sekira berusia 33 tahun. Jika ia penghuni surga, maka ia akan seperti perawakan Nabi Adam AS, rupa Nabi Yusuf AS, dan hati Nabi Ayub AS. Tetapi jika ia penghuni neraka, maka ia akan membesar dan membengkak seperti bukit,’” (HR Al-Baihaqi dengan sanad yang baik).

Lalu bagaimana dengan berjenggot di dunia? Ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama menyatakan bahwa pemeliharaan jenggot termasuk anjuran agama. Sementara ulama lain menyatakan bahwa pemeliharaan jenggot tidak termasuk anjuran agama, tetapi semata budaya sesuai aspek kepantasan. 

Kedua perbedaan pendapat ini dapat ditemukan setidaknya di kitab-kitab ushul fiqih dan metodologi pemahaman hadits.

Terlepas dari perbedaan pendapat di kalangan ulama perihal jenggot, yang jelas kita berdoa mengharapkan rahmat Allah dan syafaat Rasulullah SAW yang dengan itu kita menjadi penghuni surga kelak. Amin. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Sabtu 20 April 2019 20:0 WIB
Memahami Hadits ‘Perempuan Tercipta dari Tulang Rusuk Kaum Adam’
Memahami Hadits ‘Perempuan Tercipta dari Tulang Rusuk Kaum Adam’
Ilustrasi (Shutterstock)
Perempuan tercipta dari tulang rusuk lelaki, adalah kiasan yang maklum di masyarakat kita. Kiasan ini kerap dimaksudkan bahwa perempuan adalah ‘bagian yang hilang’ dari seorang lelaki. Kita sering mendengar ada orang berujar, “Saya belum berjumpa dengan tulang rusuk yang hilang,” demikian kata mereka yang mengaku belum dapat jodoh.

Usut punya usut, perumpamaan ini populer salah satunya melalui kisah Siti Hawa, yang konon diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam ‘alaihis salam. Banyak riwayat hadits menyebutkan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk. Berikut salah satunya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ، فَإِنَّ المَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ”

Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Rasulullah bersabda: "Berwasiatlah (dalam kebaikan) pada wanita, karena wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah pangkalnya. Jika kamu coba meluruskan tulang rusuk yang bengkok itu, maka dia bisa patah. Namun bila kamu biarkan maka dia akan tetap bengkok. Untuk itu nasehatilah para wanita". (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam Shahih al-Bukhari, hadits di atas setidaknya terdapat dalam dua bab: satu riwayat dalam bab tentang “Pentingnya berwasiat/memberi nasehat untuk perempuan”, dan riwayat lainnya dalam bab tentang “Penciptaan Nabi Adam dan keturunannya”. Kiranya dari hadits inilah dipahami secara harfiah asal mula perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk lelaki.

Ibnu Hajar al Asqalani mengomentari hadits tersebut:

قِيلَ فِيهِ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّ حَوَّاءَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعِ آدَمَ الْأَيْسَرِ وَقِيلَ من ضلعه الْقصير أخرجه بن إِسْحَاقَ...

Artinya: "Disebutkan bahwa hadits di atas adalah isyarat bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam yang kiri, dan ada pula yang mengatakan tulang rusuk yang pendek, sebagaimana dicatat Ibnu Ishaq... (Ibnu Hajar al Asqalani. Fathul Bari Syarah Shahih al Bukhari. Beirut – Darul Ma’rifah juz 6 hal. 368)

Nah, selanjutnya hadits di atas kerap dirujuk sebagai penafsir ayat pertama surah An Nisa’: 

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً

Artinya: “Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan menciptakan darinya pasangannya; Allah memperkembangbiakkan dari keduanya laki-laki yang banyak dan perempuan...” (QS. An Nisa’: 1)

Kata min nafsin wâhidah banyak dipahami mufassir bahwa maksud diri yang satu itu adalah Adam, dan Allah menciptakan pasangan untuk Nabi Adam itu dari diri beliau sendiri. 

Demikianlah ulama klasik kembali ke makna zhahir teks, dengan memahami bahwa Hawa diciptakan dari tubuh Adam, dan ditunjang tafsiran melalui hadits di atas, bagian tubuh itu adalah tulang rusuk.

Perlu Anda ketahui, anatomi tulang rusuk manusia normal terdiri dari 12 pasang tulang, pria maupun perempuan, tiada yang berkurang sepasang. Karena itulah, persoalan asal muasal manusia ini oleh sebagian ulama digolongkan perkara ahwalul ghaib yang berada dalam domain iman, termasuk meyakini asal usul perempuan dari tulang rusuk. 

Riwayat seputar perempuan diciptakan dari tulang rusuk ini ternyata bervariasi. Ada yang menyebutkan خلقت من ضلع yang berarti tercipta dari tulang rusuk – bermakna lugas, ada riwayat lain menyebutkan إنّ المرأة كالضلع  yang artinya perempuan itu bagai tulang rusuk – yang menunjukkan kiasan. Semisal riwayat berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “المَرْأَةُ كَالضِّلَعِ، إِنْ أَقَمْتَهَا كَسَرْتَهَا، وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيهَا عِوَجٌ”

Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasul bersabda "Wanita itu bagaikan tulang rusuk, bila kamu memaksa untuk meluruskannya, niscaya kamu akan mematahkannya, dan jika kamu bersikap baik, maka kamu dapat berdekatan dengannya, meski padanya terdapat kebengkokan (ketidaksempurnaan).” (HR. Bukhari)

Imam Al Bukhari mencantumkan hadits ini dalam bab “Bersikap lembut pada perempuan”. Agaknya dari sini ada kalangan ulama yang mengambil makna bahwa perempuan bukan tercipta dari tulang rusuk, tapi tercipta bagai tulang rusuk atau memiliki sifat-sifatnya seperti dinyatakan hadits di atas.

Hadits di atas secara metaforik mengingatkan para pria agar menghadapi perempuan dengan bijaksana. Hal ini seperti dicatat oleh Imam an Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim. Secara kodrati, jika tidak berhati-hati kepada perempuan, pria mudah bersikap kasar atau malah kurang ajar. Jika terlampau keras, risikonya jelas: tulang rusuk akan patah, atau dalam kata lain, perempuan akan teraniaya.

KH. Ali Mustafa Yaqub dalam bukunya Cara Benar Memahami Hadis mengemukakan pendapat tentang perbedaan riwayat hadits-hadits hubungan perempuan dan tulang rusuk di atas. 

Bagi sementara orang, memahami bahwa perempuan benar-benar tercipta dari tulang rusuk adalah sesuatu yang dikategorikan KH. Ali Mustafa Yaqub sebagai makna yang perlu dijelaskan lagi lewat hadits lain. Menurut beliau: sumber hadits adalah Nabi seorang, maka hadits mestinya saling menjelaskan satu sama lainnya. 

Makna kiasan dianggap lebih mampu menjelaskan tema hadits tersebut, sehingga dapat dipahami: perempuan diciptakan dari sifat-sifat seperti tulang rusuk – yang bengkok, dan tidak bisa diluruskan apalagi secara paksa. Pemahaman ini kiranya lebih mudah dipahami oleh nalar.

Kurang lebih demikian seputar pemahaman hadits “perempuan diciptakan dari tulang rusuk”. Ragam pemahaman di atas bisa didapat dari kecenderungan sang ulama baik dari pemahaman maupun pengajaran gurunya, atau dengan penilaian dan telaah beliau atas riwayat yang bermacam-macam. Wallahu a’lam.


(Muhammad Iqbal Syauqi)