IMG-LOGO
Ilmu Tauhid

Bagaimana Aqidah Penyandang Tunarungu Sekaligus Tunanetra?

Selasa 28 Mei 2019 19:30 WIB
Share:
Bagaimana Aqidah Penyandang Tunarungu Sekaligus Tunanetra?
Aqidah adalah masalah paling pokok dalam agama Islam. Berbeda dengan persoalan fiqih yang sangat lentur dan bisa menampung banyak sekali perbedaan pendapat dari yang berat hingga ringan, persoalan aqidah dituntut untuk seragam sesuai dalil yang meyakinkan dari Al-Qur’an dan hadits. Kesalahan dalam masalah aqidah bisa berujung pada vonis sesat bahkan kafir, tergantung seberapa parah kesalahannya. Sebab itulah para ulama amat hati-hati bila sudah menyangkut persoalan aqidah.

Namun, bagaimana dengan aqidah seseorang yang menyandang tunarungu (tuli) dan tunanetra (buta) sekaligus? Jenis disabilitas ganda ini adalah jenis paling sulit untuk menerima informasi sebab jalur informasi utama berupa suara dan penglihatan terputus darinya. Dengan keterbatasan ini, sulit sekali untuk memberinya pemahaman yang baik tentang berbagai hal yang rumit, termasuk soal aqidah. Kemungkinan besar, penyandang disabilitas ganda semacam ini akan mereka-reka sendiri tentang Tuhan dan besar kemungkinan rekaannya akan salah. Kemungkinan ia akan jatuh pada penyembahan berhala, syirik atau mungkin tidak bertuhan sama sekali cukup besar sebab keterbatasan informasi yang ia dapat. 

Dalam hal semacam ini, para ulama ahli aqidah menyatakan bahwa manusia dengan keterbatasan akses mendengar sekaligus melihat itu tetaplah selamat di akhirat, meskipun ia salah dalam hal aqidah. Syekh Ibrahim al-Baijuri, salah satu Grand Syekh al-Azhar di masanya menjelaskan:

قال بعض أئمة الشافعية: لو خلق الله إنسانا أعمى أصم سقط عنه وجوب النظر والتكاليف وهو صحيح كما في شرح المصنف

“Sebagian para imam mazhab Syafi’iyah berkata: Bila Allah menciptakan seorang manusia tunanetra sekaligus tunarungu, maka gugurlah kewajiban berpikir tentang Tuhan dan segala tuntutan hukum baginya. Itu adalah pendapat yang sahih, seperti dalam penjelasan penulis.” (Ibrahim al-Baijuri, Hasyiyat al-Baijuri ‘ala Jauharat at-Tauhid, 68)

Pendapat ini berdasarkan firman Allah:

 وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًۭا 

"Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. al-Isra’: 15)

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penyandang disabilitas semacam ini statusnya bebas dari berbagai tuntutan hukum seperti halnya orang yang tinggal jauh di pedalaman yang sama sekali tak pernah mendapat akses dakwah. Bila ia salah dalam berpikir atau bertindak, maka ia tidaklah dianggap berdosa sebab ajaran Islam memang tak bisa sampai padanya. Namun bila dengan cara tertentu penyandang disabilitas tersebut bisa mengakses informasi dakwah dari orang lain, maka barulah dalam hal tersebut ia terkena beban hukum dan harus taat. Wallahu a'lam.


Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center Jawa Timur.
Tags:
Share:
Senin 27 Mei 2019 20:30 WIB
Kewajiban Pertama Seorang Manusia Menurut Ahlussunnah wal Jama’ah
Kewajiban Pertama Seorang Manusia Menurut Ahlussunnah wal Jama’ah
Apa kewajiban pertama bagi seorang manusia? Para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah-Maturidiyah) berbeda pendapat dalam menjawab pertanyaan yang sepintas sederhana ini.  Imam Abu Hasan al-Asy'ari mengatakan bahwa yang paling pertama kali diwajibkan bagi seorang manusia adalah mengenal Allah subhanahu wa ta'ala (Ibrahim al-Bajuri, Hasyiyah Jauharat at-Tauhîd, 82).

Imam al-Hafidz al-Baihaqy menjelaskan dalil hal ini sebagaimana berikut:

أَوَّل مَا يَجِبُ عَلَى الْعَبْدِ مَعْرِفَتُهُ وَالْإِقْرَارُ بِهِ قَالَ اللَّهُ جَلَّ ثَنَاؤُهُ لِنَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ} [محمد: 19] ، وَقَالَ لَهُ وَلِأُمَّتِهِ: {فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَوْلَاكُمْ} [الأنفال: 40] ، وَقَالَ: {فَاعْلَموا أَنَّمَا أُنْزِلَ بِعِلْمِ اللَّهِ وَأَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ} ، وَقَالَ: {قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا} [البقرة: 136] الْآيَةَ. فَوَجَبَ بِالْآيَاتِ قَبْلَهَا مَعْرِفَةُ اللَّهِ تَعَالَى وَعِلْمُهُ، وَوَجَبَ بِهَذِهِ الْآيَةِ الِاعْتِرَافُ بِهِ وَالشَّهَادَةُ لَهُ بِمَا عَرَّفَهُ. وَدَلَّتِ السُّنَّةُ عَلَى مِثْلِ مَا دَلَّ عَلَيْهِ الْكِتَابُ

"Hal pertama yang wajib bagi seorang hamba yaitu mengenal Allah dan mengakuinya. Allah berfirman kepada Nabi Muhammad ﷺ: "Ketahuilah bahwasanya tiada Tuhan selain Allah" [QS: Muhammad: 19] dan juga berfirman kepada umatnya: "Ketahuilah bahwa Allah adalah Tuhan kalian" [QS. al-Anfal: 40] dan "Maka ketahuilah bahwasanya Alquran itu diturunkan dengan pengetahuan dari Allah dan bahwasanya tiada Tuhan selain Dia, maka Apakah kalian menerimanya?" [QS.Hud: 14]dan "Katakanlah kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami" [ QS. al-Baqarah: 136]. Maka dengan ayat-ayat itu menjadi wajib untuk mengenal dan mengetahui Allah Ta'ala.  Dengan ayat-ayat ini wajiblah mengenal Allah dan bersaksi terhadap apa yang ia ketahui tentang Allah. Demikian juga hadis nabi menunjukkan apa yang ditunjukkan oleh al-Qur’an tadi.” (al-Baihaqi, al-I’tiqâd wa al-Hidâyah Ila Sabîl ar-Rasyâd, 35)

Jawaban ini adalah jawaban yang paling banyak dipakai di kalangan ulama Asy'ariyah dari masa ke masa sehingga Syekh Ibnu Ruslan, dalam Nadham Zubad-nya yang biasa dijadikan kurikulum standar di berbagai pesantren Indonesia, menjelaskan sebagaimana berikut:

اول وَاجِب على الْإِنْسَان  # معرفَة الْإِلَه باستيقان

"Hal yang pertama diwajibkan atas manusia adalah mengetahui tentang Tuhan dengan meyakininya" (Ibnu Ruslam, az-Zubad, 5)

Adapun para Imam Asy'ariyah yang lain menjawabnya dengan sedikit berbeda. Ini bukti bahwa dalam mazhab Asy'ariyah, atau lebih tepatnya manhaj Asy'ariyah, tidaklah dikenal istilah taklid atau ikut-ikutan pada tokoh tertentu saja. Dalam hal kewajiban pertama ini, Imam Al Baqillani mengatakan:

 أول ما فرض الله عز وجل على جميع العباد النظر في آياته

"Hal pertama yang diwajibkan oleh Allah azza wa jalla atas semua hamba adalah berpikir tentang tanda-tanda kekuasaannya.” (al-Baqillani, al-Inshâf, 33)

Jadi, menurut beliau ada yang lebih awal daripada pengetahuan itu sendiri, yaitu berpikir. Faktanya, memang sebelum seseorang dianggap tahu atau mengenal Tuhan, pastilah mereka terlebih dahulu berpikir. Barulah setelah proses berpikir ini selesai, maka ia menjadi tahu dan yakin tentang Tuhan. Sedangkan Imam al-Juwaini melihat ada hal lain sebelum proses berpikir itu sendiri sehingga ia berkata:

أول ما يجب على العاقل البالغ باستكمال سن البلوغ أو الحلم شرعاً، القصد إلى النظر الصحيح

"Awal hal yang wajib bagi seorang berakal yang dianggap baligh dengan genapnya usia baligh atau bermimpi basah secara syariat adalah menyegaja berpikir yang benar.” (al-Juwaini: al-Irsyâd Ila Qawâthi' al-Adillah fi Awwâl al-I'tiqâd, 25)

Jadi, baginya kewajiban pertama manusia adalah berniat untuk berpikir. Kita tahu bahwa sebelum proses berpikir dimulai, orangnya pasti berniat dulu untuk berpikir baru kemudian proses berpikirnya dimulai.  Dengan kata lain, yang berusaha ditekankan di sini adalah bahwa proses berpikir itu selalu dalam keadaan sadar dan memang disengaja.

Sebenarnya ketiga jawaban ini mengarah pada hal yang sama tetapi diungkapkan dengan cara yang berbeda dan dari perspektif yang berbeda pula. Ketiganya punya benang merah yang sama, yaitu: pengetahuan tentang Tuhan. Sedang pengetahuan tentang Tuhan itu sendiri pastilah mencakup proses berpikir (nadhar) yang pastinya punya unsur  kesengajaan (qashdu) untuk melakukannya. Hal ini adalah satu paket yang tidak terpisah dalam sebuah pengetahuan. Intinya, sebenarnya perbedaannya hanya redaksional semata, bukan perbedaan esensial yang bisa dipertentangkan. Grand Syaikh al-Azhar di masanya, Syekh al-Bajuri, dalam Syarahnya terhadap Jauharah al-Tauhid menjelaskan bahwa awal kewajiban yang menjadi tujuan utama adalah mengetahui tentang Allah, awal kewajiban yang berupa sarana terdekat untuk tahu adalah berpikir dan yang berupa sarana yang lebih jauh adalah menyengaja berpikir (Ibrahim al-Bajuri, Hasyiyah Jauharat at-Tauhid, 83).

Imam Ar Ramli menjelaskan bahwa pengetahuan tentang Allah adalah pondasi dari segala kewajiban yang lain bagi seorang muslim sebab tanpanya tidak ada kewajiban atau kesunnahan yang akan dianggap sah. (ar-Ramli, Ghayat al-Bayan Syarh Zubad ibn Ruslan, 5). Jika ada seorang manusia melakukan gerakan shalat, maka itu percuma bila ia tak meyakini bahwa Allah itu ada. Demikian juga percuma seseorang beribadah bila ia masih ragu bahwa Allah mengetahui dan mendengarnya atau tidak. Semua bentuk ibadah hanya akan sah bila yang bersangkutan sudah tahu betul dan meyakini tentang Allah dan sifat-sifatnya.

Dari uraian ini, terlihat jelas bahwa poin utama dari kewajiban pertama ini adalah untuk meneguhkan makna syahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah. Tanpa tahu dan yakin tentang keberadaan Allah, keesaan dan kehebatan-Nya, maka tak mungkin seseorang akan bersyahadat menjadi seorang Muslim. Dari sini tampak kesalahan segelintir orang yang menganggap sesat jawaban ulama Asy’ariyah tentang kewajiban pertama di atas dengan alasan bahwa kewajiban pertama seorang manusia adalah bersyahadat, bukan tahu atau berpikir. Justru tahu dan berpikir itulah yang menjadi kunci adanya syahadat dan bukan sebaliknya. Wallahu a'lam.


Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center Jawa Timur.

Jumat 3 Mei 2019 13:0 WIB
Pernah Keluar dari Surga, Bagaimana soal Kemaksuman Nabi Adam?
Pernah Keluar dari Surga, Bagaimana soal Kemaksuman Nabi Adam?
Dalam kitab ‘Ishmah al-Anbiyâ’, terdapat pembahasan menarik soal kemaksuman para nabi. Imam Fakhruddin al-Razi (544-606 H) mengumpulkan berbagai pendapat yang ia sebut “syubhat”, karena mempertanyakan kemaksuman para nabi, terkhusus Nabi Adam ‘alaihissalam. Salah satu kelompok yang berpendapat demikian adalah sebagian kecil dari sekte Khawarij dan Rafidah. Imam Fakhruddin al-Razi menulis:

واجتمعت الأمة علي أن الأنبياء معصومون عن الكفر والبدعة إلا الفُضَيْلية من الخوارج فإنهم يجوزون الكفر علي الأنبياء عليهم الصلاة والسلام, وذلك لأن عندهم يجوز صدور الذنوب عنهم, وكل ذنب فهو كفر عندهم, فبهذا الطريق جوزوا صدور الكفر عنهم, والروافض فإنهم يجوزون عليهم إظهار كلمة الكفر علي سبيل التقية

“Umat Islam telah sepakat bahwa para nabi terjaga dari kekufuran dan bid’ah kecuali kelompok kecil dari Khawarij. Mereka berpendapat para nabi bisa saja melakukan kekufuran, (alasan pendapat) tersebut adalah, karena para nabi dapat melakukan dosa. Bagi kelompok ini, setiap dosa adalah kekufuran. Dengan cara berpikir (semacam ini), maka kekufuran bisa terjadi pada para nabi, sementara kelompok Rafidah berpendapat bahwa para nabi boleh menampakkan ucapan kekufuran dalam rangka taqiyah.” (Imam Fakhruddin al-Razi, ‘Ishmah al-Anbiyâ’, Kairo: Maktabah al-Tsaqafah al-Diniyyah, 1986, h. 39)

Dua kelompok di atas ini sekadar contoh saja. Sebenarnya banyak kelompok lain yang memiliki pendapat sama meski dalam kerangka berbeda. Fokus pembahasan kali ini hanya pada kemaksuman Nabi Adam agar tidak melebar terlalu jauh. Perihal kemaksuman Nabi Adam, penentangan mereka berdasarkan enam aspek sebagai landasan argumentasinya. Pertama, Adam adalah orang yang durhaka berdasarkan firman Allah (QS. Thâhâ: 121): “wa ‘ashâ adamu rabbahu faghawâ—dan durhakalah Adam kepada Tuhannya dan sesatlah ia.” Kedua, “annahu tâ’ib wal tâ’ib mudznib—Adam bertaubat, dan orang yang bertaubat adalah pendosa,” sebagaimana firman Allah (QS. Thâhâ: 121): “Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.” (Imam Fakhruddin al-Razi, ‘Ishmah al-Anbiyâ’, 1986, h. 49)

Ketiga, “annahu irtikabal manhâ ‘anhu—Adam telah melanggar larangan,” sebagaimana firman Allah (QS. Al-A’raf: 22): “Bukankah telah kularang kamu berdua dari pohon kayu itu.” Keempat, “annahu ta’âlâ sammâhu dhâliman—Allah menamakan Adam sebagai orang zalim,” dalam firman-Nya (QS. Al-Baqarah: 35): “Yang menyebabkanmu termasuk golongan orang-orang yang zalim.” Kelima, “annahu i’tarafa bi annahu lawlâ maghfiratullah ta’âlâ lahu lakâna khâsiran—Adam mengakui jika bukan karena ampunan Allah untuknya, ia termasuk orang yang merugi,” dalam firmanNya (QS. Al-A’raf: 23): “Dan jika Kau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” Keenam, “annahu akhraja minal jannah bi sababi waswasatis syaitân—Adam dikeluarkan dari surga karena mengikuti bisikan syaitan.” (Imam Fakhruddin al-Razi, ‘Ishmah al-Anbiyâ’, 1986, h. 49-50)

Menanggapi pendapat-pendapa di atas, Imam Fakruddin al-Razi mengatakan, “anna dzalika kâna qablan nubuwwah, falâ yakûnu wâridan ‘alaina—sesungguhnya semua rangkain tersebut terjadi sebelum masa kenabian, maka tidak bisa diterapkan pada kita semua.” (Imam Fakruddin al-Razi, ‘Ishmah al-Anbiyâ’, 1986, h. 50). Karena Nabi Adam adalah manusia pertama yang beriman kepada Allah secara langsung, sehingga belum mempunyai objek dakwahnya sebagai nabi. Jadi, menurut Imam Fakhruddin al-Razi, enam argumentasi di atas tidak bisa diterapkan atau dijadikan dalil untuk mempertanyakan konsep kemaksuman, terkhusus kemaksuman Nabi Adam.

Meski demikian, menggunakan standar logika yang sama, ia mengurai satu persatu enam argumentasi tersebut. Secara singkat dapat dirangkum sebagai berikut:

Pertama, mereka berkata, “al-ma’shiyyah mukhâlafatul amr—kemaksiatan adalah menyalahi perintah,” tapi “amr” (perintah) tidak melulu berarti kewajiban, bisa jadi sekadar sunnah atau anjuran. Karena itu, menurutnya, kedurhakaan tidak bisa disandangkan kepada Nabi Adam, sebab dalam skema logika ini, Nabi Adam hanya meninggalkan anjuran, bukan kewajiban. Kedua, mereka berkata, “annahu tâ’ib—Adam melakukan taubat.” Harus dipahami bahwa taubat tidak disyaratkan harus berdosa terelebih dahulu, bahkan bagi ulama yang meyakini kemaksuman secara mutlak, bahwa sebaik-baiknya taubat dilakukan tanpa harus berdosa terlebih dahulu. Dalilnya adalah riwayat doa, “allahummaj’alnâ minat tawwâbîn—ya Allah jadikanlah kami orang-orang yang bertaubat.” (Imam Fakhruddin al-Razi, ‘Ishmah al-Anbiyâ’, 1986, h. 50-52).

Ketiga, mereka berkata, “fahuwa irtikâb al-manhâ—Adam melanggar larangan.” Imam Fakhruddin al-Razi berpendapat bahwa larangan tidak hanya mengarah pada pengharaman saja, tapi juga “musytarak bainat tahrîm wat tanzîh—gabungan antara pengharaman dan pensucian.” Artinya, sisi meninggalkan (melakukan sesuatu) lebih diberatkan dari mengerjakan sesuatu. Imam al-Razi menerima bahwa larangan lebih sering mengarah pada pengharaman. Hanya saja, jika menggunakan dasar logika mereka, bisa saja dikatakan Nabi Adam melakukannya dalam keadaan lupa, sebagaimana firman Allah (QS. Thâhâ: 115: “’azman lahû najid wa lam fanasiya—maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.” Karena itu, ia tidak berdosa karena taklif (beban agama) diangkat dari orang yang lupa. (Imam Fakhruddin al-Razi, ‘Ishmah al-Anbiyâ’, 1986, h. 52).

Keempat, mereka mengatakan, “annallaha ta’âlâ sammâhu dhâliman—Allah ta’ala menyebutnya sebagai orang zalim.” Dalam pandangan orang-orang yang memegang teguh kemaksuman para nabi, zalim tidak melulu orang yang melakukan dosa. Bagi mereka, “anna tarkal awlâ dhulmun—meninggalkan perbuatan yang utama adalah zalim.” Karena ia telah menyampingkan dirinya sendiri dari melakukan perbuatan utama yang mendatangkan pahala. Orang tersebut, menurut mereka, laik disebut orang yang zalim terhadap dirinya sendiri. Sebab, menurut mereka, “li anna haqîqatal dhulmi wadl’usy syai’ fî ghairi maudli’ihi—hakikat zalim adalah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya.” (Imam Fakruddin al-Razi, ‘Ishmah al-Anbiyâ’, 1986, h. 53).

Kelima, jawabannya sudah tergambar dari rangkain jawaban sebelumnya, terutama soal meninggalkan perbuatan yang utama. Keenam, jawaban argumentasi ini tidak ada dalam ayat (annahu laisa fîl âyah), kata Imam al-Razi. Baginya, keluarnya Adam dari surga bukan karena mengikuti bisikan setan, tapi keberaniannya melakukan perbuatan tersebut. Ia mendasarkan argumentasinya pada rencana Allah menciptakan khalifah di muka bumi sebelum menciptakan Adam. Jika tujuan utama penciptaan Adam adalah menjadi khalifah di muka bumi, bagaimana bisa ada orang yang mengatakan, “innahu waqa’a dzalika ‘uqubah was tikhfâfan—keluarnya Adam sebagai bentuk realisasi hukuman dan peremehan(nya atas ketetapan Allah).” (Imam Fakhruddin al-Razi, ‘Ishmah al-Anbiyâ’, 1986, h. 53-54).

Itulah sebagian uraian singkat perihal kemaksuman Nabi Adam. Sebenarnya masih banyak argumentasi yang diajukan kelompok penentang kemaksuman, dan banyak juga uraian yang diberikan Imam Fakhruddin al-Razi. Yang ditampilkan di sini sekadar rangkuman singkat yang mengambil garis lurusnya saja. Karena pada dasarnya, inti dari bantahan Imam Fakhruddin al-Razi terletak pada pernyataan awalnya, bahwa semua rangkaian perbuatan Nabi Adam terjadi sebelum adanya masa kenabian, sehingga enam argumentasi tersebut tidak bisa diterapkan padanya. Di samping itu, Adam bukan rasul pertama yang diutus Allah untuk umat manusia. Dalam salah satu riwayat (HR. Imam al-Bukhari) diceritakan, ketika orang-orang mukmin berkumpul pada hari kiamat, mereka mendatangi Adam dan meminta syafaatnya. Adam menjawab bahwa ia tidak berhak memberikan syafaat karena telah melakukan kesalahan, kemudian ia berkata:

وَلَكِنِ ائْتُوا نُوحًا، فَإِنَّهُ أَوَّلُ رَسُولٍ بَعَثَهُ اللَّهُ إِلَى أَهْلِ الأَرْضِ

“Tetapi datanglah pada Nuh, karena sesungguhnya dia adalah rasul pertama yang diutus Allah kepada penduduk bumi.” (HR. Imam al-Bukhari dan Imam Muslim)

Meski demikian, Imam Fakhruddin al-Razi tetap mengurai satu persatu dari enam argumentasi tersebut, dengan menggunakan pendekatan yang kurang lebih sama dengan mereka. Paling tidak, uraiannya dapat memberikan gambaran singkat dari sudut pandang yang lain.

Selain itu, jika poin enam dari uraian Imam al-Razi diperlebar, keluarnya Adam dari surga memang sudah ditetapkan, karena Allah ingin menempatkan khalifah-Nya di muka bumi. Jika Adam tetap di surga, ia tidak bertemu dengan maksud penciptaannya. Menurut Syekh Ahmad Sam’ani dalam Rauh al-Arwâh fi Syarh Asmâ’ al-Mulk al-Fattâh, Adam diturunkan dari surga bukan karena kesalahannya. Andaipun ia tidak berbuat salah, ia tetap akan diturunkan. 

Artinya, bisa jadi seluruh rangkain kejadian tersebut adalah pertunjukan keteladanan sebagai percontohan agar manusia menjadi makhluk yang baik (khalifatullah fil ardl). Keteladanan membutuhkan contoh, dan sudah sepantasnya manusia pertama memberikan contohnya. Sepanjang hidupnya, bisa dikatakan, ia telah mengalami segalanya. Bercengkerama langsung dengan Tuhannya; mendapatkan pelajaran dari-Nya; menikmati keindahan surga-Nya; merasai cinta kepada sesamanya (Hawa); mendapatkan kehormatan dari makhluk lainnya (disujudi); ditentang makhluk lainnya (Iblis); mengalami cinta pada Tuhannya; mengalami rasa bersalah pada Tuhannya (memohon ampun); menggoda istrinya; tergoda oleh selainnya; terlempar dari surga; merasakan nikmatnya diampuni; merasakan perpisahan panjang dari kekasihnya; memiliki anak yang baik sekaligus yang buruk; mengalami kematian anaknya; berhadapan dengan anaknya yang saling membunuh; dan seterusnya. Seakan-akan, kehidupan Adam adalah gambaran dari berbagai keadaan yang akan dialami manusia, dan berbagai watak yang melingkupinya.

Wallahu a’lam bish shawwab...


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesasntren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Sabtu 27 April 2019 15:0 WIB
Definisi Umat Islam dalam Kitab ‘al-Farq bain al-Firaq’
Definisi Umat Islam dalam Kitab ‘al-Farq bain al-Firaq’
Kitab al-Farq bain al-Firaq ditulis oleh ulama bermazhab Asy’ari dalam aqidah, dan Syafi’i dalam fiqih, bernama Abu Manshur Abdul Qahir al-Baghdadi (w. 429 H), berisi tentang penjelasan doktrinal berbagai sekte dalam Islam. Ditulis sebagai uraian terhadap hadits yang berbicara soal terpecahnya umat Islam dalam tujuh puluh tiga firqah (sekte), dan hanya satu yang selamat. Kitab ini menjabarkan semua sekte yang berkembang pada saat itu disertai dengan penjelasan tentang keyakinan Ahlusunnah wal Jama’ah yang benar.

Dalam salah satu babnya, kitab ini secara spesifik membahas “siapa umat Islam” atau “siapa orang yang bisa diberi predikat Muslim.” Imam Abdul Qahir al-Baghdadi mengatakan, terjadi perbedaan pendapat mengenai siapa yang secara umum bisa disebut beragama Islam. Ia mengutip banyak pendapat dari berbagai sekte, diawali dengan pendapat Abu al-Qasim al-Ka’bi (273-319 H), salah satu ulama Mu’tazilah yang pandangannya tentang tauhid banyak berbeda dengan pandangan umum Mu’tazilah, pengikutnya biasa disebut “al-Ka’biyyah.” Abu al-Qasim al-Ka’bi berkata:

أَن قَول الْقَائِل أمة الاسلام تقع على كل مقرّ بنبوة مُحَمَّد صلى الله عَلَيْهِ وَسلم وان كل مَا جَاءَ بِهِ حق 

“Sesungguhnya perkataan umat Islam merujuk pada setiap orang yang mengakui (mengikrarkan) kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan (meyakini) setiap yang datang darinya adalah kebenaran.” (Imam Abdul Qahir al-Baghdadi, al-Farq bain al-Firaq, Kairo: Maktabah Ibnu Sina, tt, h. 29)

Pandangan lain dikemukakan oleh kelompok “al-Karrâmiyyah”, sebuah sekte mujassimah Khurasan. Namanya dinisbatkan pada pendirinya Muhammad bin Karrâm. Kelompok “al-Karrâmiyyah” terpecah menjadi tiga golongan: Haqâ’iqiyyah, Tharâ’iqiyyah, dan Ishâqiyyah. Ketiga golongan ini tidak saling mengafirkan satu sama lain, tapi mereka memvonis kafir seluruh umat Islam yang di luar sektenya. Mereka berkata:

أَن امة الاسلام جَامِعَة لكل من أقرّ بشهادتي الاسلام لفظا وَقَالُوا كل من قَالَ لَا اله الا الله مُحَمَّد رَسُول الله فَهُوَ مُؤمن حَقًا وَهُوَ من أهل مِلَّة الاسلام سَوَاء كَانَ مخلصا فِيهِ أَو منافقا مُضْمر الْكفْر فِيهِ والزندقة وَلِهَذَا زَعَمُوا أَن الْمُنَافِقين فِي عهد رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم كَانُوا مُؤمنين حَقًا وَكَانَ ايمانهم كايمان جِبْرِيل وميكائيل والانبياء وَالْمَلَائِكَة مَعَ اعْتِقَادهم النِّفَاق وَإِظْهَار الشَّهَادَتَيْنِ

“Sesungguhnya umat Islam adalah komunitas untuk setiap orang yang mengikrarkan dua kalimat syahadat dengan ucapan.’ Mereka (juga) mengatakan: ‘setiap orang yang mengucapkan, ‘tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah’, dia adalah orang yang beriman secara hakiki, dan termasuk pemeluk agama Islam, entah dia orang yang tulus dalam (memeluk)nya atau seorang munafik yang menyembunyikan kekufurannya, serta zindiq.’ Mereka berpendapat, ‘orang-orang munafik di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang beriman secara hakiki. Iman mereka seperti imannya Jibril, Mikail, para nabi dan para malikat, yang keimanannya dibarengi kemunafikan dan menampakkan (pengikraran) dua syahadat.” (Imam Abdul Qahir al-Baghdadi, al-Farq bain al-Firaq, h. 29)

Pendapat ini, menurut Imam Abdul Qahir al-Baghdadi terbantahkan oleh pendapat yang dikemukakan kalangan ‘Iswiyyah, sekte Yahudi Isfahan, yang didirikan oleh Abu ‘Isa Ishaq bin Ya’qub al-Asfahani yang hidup di masa kepemimpinan Marwan bin Muhammad (w. 132 H) dari Dinasti Umayyah, dan sekte Yahudi lainnya, Musykâniyyah. Imam Abdul Qahir al-Baghdadi menulis:

فانهم يقرونَ بنبوة نَبينَا مُحَمَّد صلى الله عَلَيْهِ وَسلم وَبِأَن كل مَا جَاءَ بِهِ حق وَلَكنهُمْ زَعَمُوا انه بعث الى الْعَرَب لَا الى بنى اسرائيل وَقَالُوا: ايضا مُحَمَّد رَسُول الله وَمَا هم معدودين فِي فرق الاسلام

“Mereka (kelompok ‘Iswiyyah) mengakui kenabian nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan meyakini setiap yang datang darinya adalah kebenaran, tapi mereka berpandangan bahwa Nabi Muhammad (hanya) diutus untuk bangsa Arab, tidak untuk Bani Israil.’ Mereka juga mengatakan bahwa Muhammad adalah rasulullah. (Meski demikian) mereka tidak termasuk dalam sekte Islam.” (Imam Abdul Qahir al-Baghdadi, al-Farq bain al-Firaq, h. 29-30)

وَقوم من موشكانية الْيَهُود حكوا عَن زعيمهم الْمَعْرُوف بمشكان أَنه قَالَ: إن مُحَمَّدًا رَسُول الله الى الْعَرَب والى سَائِر النَّاس مَا خلا الْيَهُود, وَأَنه قَالَ: إن الْقُرْآن حق وكل الاذان وَالْإِقَامَة والصلوات الْخمس وَصِيَام شهر رَمَضَان وَحج الْكَعْبَة كل ذَلِك حق غير أَنه مَشْرُوع للْمُسلمين دون الْيَهُود, وَرُبمَا فعل ذَلِك بعض الموشكانية, وقد أقرُّوا بشهادتي أَن لَا اله الا الله وَأَن مُحَمَّدًا رَسُول الله, واقروا بِأَن دينه حق, وَمَا هم مَعَ ذَلِك من أمة الاسلام لقَولهم بَان شَرِيعَة الاسلام لَا تلزمهم

“Satu kelompok dari Yahudi Muskaniyyah menuturkan pandangan (pemimpin) mereka yang dikenal dengan Musykan, ia berkata: ‘Sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah untuk bangsa Arab dan seluruh manusia di dunia kecuali Yahudi.’ Ia (juga) berkata: ‘Sesungguhnya Al-Qur’an adalah benar. Setiap azan, iqamah, shalat lima waktu, puasa ramadan, dan pergi haji ke Baitullah, semuanya adalah benar, (dan) disyariatkan untuk umat islam, tapi tidak untuk orang Yahudi.’ (Bahkan), terkadang sebagian pengikut al-Musykaniyyah mengamalkan (ibadah-ibadah umat Islam) yang disebut di atas. Mereka (juga) mengikrarkan dua syahadat bahwa, ‘sesungguhnya tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah.’ Mereka (juga) meyakini bahwa agama Islam adalah agama yang benar. (Meski demikian), dengan berbagai (keyakinan)nya, mereka tidak termasuk umat Islam karena ucapan mereka bahwa syariat Islam tidak menetapi mereka.” (Imam Abdul Qahir al-Baghdadi, al-Farq bain al-Firaq, h. 30)

Dua pandangan sekte Yahudi tersebut, bagi Imam Abdul Qahir al-Baghdadi, merupakan bantahan terhadap dua pendapat awal, bahwa menjadi Muslim tidak cukup hanya dengan mengikrarkan syahadat dan meyakini kebenarannya, tanpa mempertimbangkan banyak aspek lainnya. Jika menjadi Muslim cukup dengan itu, maka dua sekte Yahudi di atas sudah bisa dianggap sebagai Muslim, karena mereka mengikrarkan syahadat dan meyakini kebenaran risalah yang dibawanya, bahkan sebagian dari mereka mengamalkan ibadah Islam. 


Baca juga:
Menurut Aswaja, Sejauh Mana Menganggap Kafir Diperbolehkan?
Mazhabnya Syafi'i tapi Aqidahnya Asy'ari?
Hoaks tentang Aqidah Asy'ariyah dalam Masalah Keimanan
Dengan memasukkan pendapat dua sekte Yahudi, Imam Abdul Qahir al-Baghdadi ingin mengatakan bahwa ia tidak sependapat dengan dua pendapat di atas. Di paragraf berikutnya, ia mengungkapkan pendapatnya sendiri. Ia menulis:

وَالصَّحِيح عندنَا أَن أمة الاسلام تجمع المقرين بحدوث الْعَالم وتوحيد صانعه وَقدمه وَصِفَاته وعدله وحكمته وَنفى التَّشْبِيه عَنهُ وبنبوة مُحَمَّد صلى الله عَلَيْهِ وَسلم ورسالته الى الكافة وبتأييد شَرِيعَته وَبِأَن كل مَا جَاءَ بِهِ حق وَبِأَن الْقُرْآن منبع أَحْكَام الشَّرِيعَة وَأَن الْكَعْبَة هِيَ الْقبْلَة الَّتِي تجب الصَّلَاة اليها فَكل من أقرّ بذلك كُله وَلم يشبه ببدعة تُؤَدّى الى الْكفْر فَهُوَ السنى الموحد 

“Dan yang benar menurut kami, bahwa umat Islam adalah umat yang meyakini (berikrar) atas baharunya alam semesta, keesaan Penciptanya, keqadiman-Nya, sifat-sifat-Nya, keadilan-Nya, hukum-hukum-Nya, peniadaan menyamakan-Nya, dan (meyakini) kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam serta risalahnya secara menyeluruh, (meyakini) tetapnya syariat-Nya, (meyakini) bahwa setiap yang dibawanya adalah benar. (Meyakini) Al-Qur’an adalah sumber hukum-hukum syariat, dan Ka’bah adalah kiblat yang diwajibkan shalat menghadapnya. Maka, setiap orang yang meyakini (berikrar) dengan semua itu, dan tidak terkontaminasi dengan bid’ah yang bisa membawa pada kekufuran, dia adalah Ahlussunnah yang mengesakan Tuhan.” (Imam Abdul Qahir al-Baghdadi, al-Farq bain al-Firaq, h. 30)

Perkataan Imam Abdul Qahir al-Baghdadi di atas adalah aqidah dalam bentuk teori, meski terkesan sama dengan pendapat-pendapat sebelumnya, tapi sebenarnya ada perbedaan yang cukup mencolok. Imam Abdul Qahir menguraikan pengertian “umat Islam” lebih terperinci, dari meyakini bahwa alam semesta ini baharu karena tidak ada yang qadim selain Allah, hingga meyakini Al-Qur’an sebagai sumber hukum-hukum syariat. Artinya, aqidah dibawa masuk ke dalam banyak aspek, termasuk fiqih atau syariat. 

Selain itu, Imam Abdul Qahir al-Baghdadi juga memberi batasan, yaitu tidak melakukan bid’ah yang bisa membawa pada kekufuran. Bid’ah yang dimaksud oleh Imam Abdul Qahir al-Baghdadi adalah bid’ah teologis (aqidah), bukan bid’ah syariah yang dimensinya sangat luas. Ia membagi bid’ah teologis dalam dua kelompok besar: pertama, kelompok yang tidak termasuk umat Islam, seperti Bathiniyyah, Bayaniyyah, atau kelompok yang meyakini sisi ketuhanan para Imam, mempercayai titisan, atau bid’ahnya mazhab al-Maimuniyyah dari Khawarij yang membolehkan menikahi cucu perempuan dan cucu laki-laki dari anak perempuan, atau bid’ahnya mazhab al-Yazidiyyah dari sekte Ibadiyah yang meyakini bahwa syariat Islam akan terhapus di akhir zaman, dan masih banyak yang lainnya. (Imam Abdul Qahir al-Baghdadi, al-Farq bain al-Firaq, h. 31)

Kedua, kelompok yang sebagian ajarannya masih termasuk umat Islam, dan sebagian lagi tidak, seperti Mu’tazilah, Khawarij, Najjariyyah, Jahmiyyah, Mujassimah dan lain sebagainya. Mereka masih termasuk umat Islam dalam sebagian hukum, sehingga mereka berhak dikuburkan di perkuburan Islam, boleh shalat di masjid, dan seterusnya. Begitu juga sebaliknya, mereka tidak termasuk umat Islam dalam bagian hukum yang lain, contohnya mereka tidak diperbolehkan menjadi imam, dan lain sebagainya. (Imam Abdul Qahir al-Baghdadi, al-Farq bain al-Firaq, h. 31)

Sebagai penutup, terlepas dari pembahasan teologis di atas, seorang Muslim harus memahami konsekuensi mengikat dari dua kalimat syahadat. Jika hanya mencukupkan diri dengan mengikrarkan dua kalimat syahadat, ia sekadar Muslim, tapi tidak sampai pada cita-cita kesalehan yang diharapkan, apalagi jika ikrarnya tidak diikuti keimanan di hatinya, seperti kaum munafik di zaman nabi. Karena itu, banyak sekali hadits yang diawali dengan, “lâ yu’minu ahadukum—tidak dianggap beriman salah satu dari kalian,” dan, “man amana billlahi wal yaumil akhir—barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir.” Hal ini menunjukkan bahwa wilayah kerja iman sangat luas, tidak sekadar berkutat di area keyakinan. Sebab, banyak orang beriman tapi masih bermaksiat; banyak orang beriman tapi tetap berbuat dosa. Inilah pentingnya iman dijadikan sebagai motor penggerak, agar manusia bergerak ke arah kebaikan yang dicita-citakan Al-Qur’an dan al-Sunnah.

Wallahu a’lam bi al-shawwab


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen dan PP. Al-Islam, Kaliketing, Doro, Pekalongan