IMG-LOGO
Trending Now:
Tasawuf/Akhlak

9 Adab Orang Bersedekah Menurut Imam al-Ghazali

Kamis 30 Mei 2019 20:0 WIB
Share:
9 Adab Orang Bersedekah Menurut Imam al-Ghazali
Ilustrasi (steemit.com)
Salah satu amaliah sunnah di bulan Ramadhan adalah memperbanyak sedekah. Sedekah di bulan suci lebih utama dibandingkan di bulan-bulan lainnya. Bagaiamana agar menjadi pensedekah yang baik telah dijelaskan oleh Imam al-Ghazali dalam risalahnya berjudul al-Adab fid Din dalam Majmu'ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah) hal. 438, sebagai berikut: 

آداب المتصدق: ينبغي له أداؤها قبل المسألة ، وإخفاء الصدقة عند العطاء ، وكتمانها بعد العطاء ، والرفق بالسائل ولا يبدؤه برد الجواب ، ويرد عليه بالوسوسة في الوسوسة ، ويمنع نفسه البخل ، ويعطيه ما سأل أو يرده ردا جميلا ، فإن عارضه العدو إبليس لعنه الله أن السائل ليس يستحق فلا يرجع بما أنعم الله به عليه بل هو مستحق لها

Artinya: “Adab orang bersedekah, yakni: hendaknya memberikan sedekah sebelum diminta, tidak diketahui orang (lain) ketika memberikan, menjaga kerahasiaan setelah memberikan, bersikap ramah terhadap orang yang memintanya, tidak menjawab dengan penolakan, hendaknya menjawab dengan suara lirih ketika menolak, menghindari sikap bakhil, memberikan apa yang diminta atau menolaknya dengan penolakan yang baik; jika iblis la’natullah menghalanginya dengan membisikkan bahwa sesungguhnya si peminta tidak berhak menerima, maka hendaknya ia tidak menarik kembali apa yang telah diberikan Allah sebagai nikmat sedang peminta itu berhak atasnya.”

Dari kutipan di atas dapat diuraikan kesembilan adab orang bersedekah sebagaia berikut:

Pertama, hendaknya memberikan sedekah sebelum ada permintaan. Memberikan sedekah tidak perlu menunggu hingga ada orang meminta. Sedekah dapat diberikan kapan saja, terlebih di bulan Ramadhan, terutama kepada mereka yang membutuhkan uluran tangan. 

Kedua, tidak diketahui orang (lain) ketika memberikan. Sedekah kepada perorangan sebaiknya tidak diketahui orang lain. Hal ini untuk menjaga privasinya. Sedekah kepada bukan perorangan kadang-kadang diumumkan dalam laporan oleh pihak pengelola sebagai bentuk akuntabilitas dan transparansi. Hal ini tidak menjadi masalah, dan diharapkan tidak mempengaruhi atau mengurangi keikhlasan orang bersedekah. 

Ketiga, menjaga kerahasiaan setelah memberikan. Sedekah yang diberikan kepada siapapun sebaiknya tidak diceritakan oleh pihak pemberi kepada siapa pun kecuali ada alasan yang memaksa. Hal ini untuk menghindari riya’ yang dapat menghilangkan pahalanya. 

Keempat, bersikap ramah terhadap orang yang memintanya. Seorang pemberi sedekah atau donatur tidak boleh bersikap arogan kepada para peminta sedekah. Ia tidak boleh memandang rendah kepada mereka sebab dalam sedekah sebetulnya masing-masing pihak mendapatkan manfaat masing-asing baik secara agama maupun sosial.

Kelima, tidak menjawab dengan penolakan. Sebaiknya permintaan sedekah tidak ditolak kecuali ada alasan-alasan tertentu yang relevan. Bagaimanapun tangan di atas lebih dari pada tangan di bawah. Artinya lebih baik memberi dari pada diberi, apalagi menolaknya. 

Keenam, hendaknya menjawab dengan suara lirih ketika menolak. Dalam keadaan tertentu seseorang mungkin berpikir lebih baik tidak memenuhi permintaan sedekah yang sudah ada di depannnya. Jika memang demikian halnya, maka penolakan itu hendaknya dengan suara lembut atau lirih. Maksudnya penolakan itu bisa dilakukan tanpa harus membentak-bentak atau berkata kasar kepada pihak peminta yang tentu saja bisa menyakiti perasaannya.

Ketujuh, menghindari sikap bakhil. Dalam memberikan sedekah atau infaq sebaiknya seseorang tidak sengaja bersikap bakhil dengan memberikan sedekah dalam jumlah yang tidak memadai. Sikap semacam ini bisa menimbulkan penyesalan kelak di kemudian hari ketika seseorang menyadari amal kebaikannya ternyata kurang semasa hidupnya. 

Kedelapan, memberikan apa yang diminta, atau menolaknya dengan penolakan yang baik. Dalam mengahadapi peminta, memamg hanya ada dua pilihan, yakni memberi atau menolak. Jika terpaksa memang harus menolak karena ada pertimbangan-pertimbangan tetentu, maka sekali lagi penolakan itu harus dilakukan dengan cara yang baik. 

Kesembilan, jika iblis la’natullah menghalangi dengan berbisik bahwa si peminta sebetulnya tidak berhak menerima, maka hendaknya ia tidak menarik kembali apa yang telah diberikan Allah sebagai nikmat sedang peminta itu memang berhak atasnya. Terkadang setan memang menggoda anak cucu Adam untuk menarik kembali sedekah yang telah diberikan dengan berbagai alasan. Bisikan semacam ini sebaiknya tidak usah diindahkan. 

Itulah kesembilan adab orang bersedekah sebagaimana dinasihatkan oleh Imam al-Ghazali. Kesembilan tersebut penting untuk diperhatikan bagi siapa saja yang bermaksud memberikan sedekahnya kepada pihak lain. Intinya adalah bersedekah tak perlu menunggu diminta, dilakukan secara ikhlas dan tidak bakhil serta menjaga kerahasiaannya. Jika terpaksa harus menolak suatu permintaan, maka cara menolaknya harus baik. Menarik kembali sedekah yang telah diberikan kepada orang lain harus dihindari. 


Ustadz Muhammad Ishom, pengajar di Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta. 


Tags:
Share:
Ahad 5 Mei 2019 0:30 WIB
Jalan Ikhlas Imam Al-Ghazali dalam Kitab Mukasyafatul Qulub
Jalan Ikhlas Imam Al-Ghazali dalam Kitab Mukasyafatul Qulub
(Foto: @istock)
Dalam Kitab Mukâsyafatul Qulûb, Imam Al-Ghazali bercerita, ada seseorang melaksanakan shalat. Ketika ia sampai pada bacaan Surat Al-Fatihah “Hanya kepada-Mu aku menyembah (iyyâka na’budu)", terdengar suara lirih yang mengatakan kepadanya, “Tidak. Engkau tidak menyembah Sang Khalik, tapi engkau menyembah makhluk!” Seketika itu ia menghentikan shalatnya dan mulai menjalani hidup menyendiri (uzlah).

Ia shalat lagi dan ketika sampai pada bacaan “Hanya kepada-Mu aku menyembah (iyyâka na’budu)", terdengar suara lirih, “Tidak. Engkau tidak menyembah Tuhanmu, tapi engkau menyembah hartamu!” Ia lantas menyedekahkan hartanya.

Setelah menyedekahkan hartanya, ia mulai melaksanakan shalat. Ketika sampai pada bacaan “Hanya kepada-Mu aku menyembah (iyyâka na’budu)", terdengar suara lirih yang menyatakan, “Tidak. Engkau tidak menyembah Tuhanmu, tapi engkau menyembah pakaianmu!” Tak ayal, ia segera menyedekahkan semua pakaiannya kecuali sekadar yang ia pakai.

Merasa sudah melepas semuanya, ia segera melaksanakan shalat. Ketika sampai pada bacaan “Hanya kepada-Mu aku menyembah (iyyâka na’budu)", terdengar suara lirih yang terakhir, “Kali ini engkau benar-benar telah menyembah Allah!”...

Kitab Mukâsyafatul Qulûb adalah kitab tasawuf karya Imam Ghazali. Dalam tasawuf, pesan-pesan yang disampaikan sering menggunakan ungkapan metaforik dan menohok. Perlu renungan lebih jauh untuk memahaminya dengan baik agar sesuai dengan kondisi sosial, ekonomi, dan psikologi orang yang serius menjalankan laku tasawuf.

Pesan-pesan dalam tasawuf tidak selalu mudah untuk ditular-nalarkan kepada orang lain, namun jauh lebih berguna jika dihayati sebagai jalan spiritual untuk diri sendiri.

Daripada sering memaki dan menyebar fitnah atas nama Tuhan yang suci, kita jauh lebih baik selalu bersikap mawas merawat batin ini. Inilah pentingnya ilmu tasawuf. Wallahu a'lam.


Penulis adalah KH Muhammad Taufik Damas, Wakil Katib Syuriyah PWNU DKI Jakarta.
Senin 22 April 2019 20:3 WIB
Janji Rasulullah yang Belum Sempat Dipenuhi Hingga Wafatnya
Janji Rasulullah yang Belum Sempat Dipenuhi Hingga Wafatnya
(Foto: @bbc)
Rasulullah SAW adalah manusia biasa yang juga mengalami wafat. Tetapi siapa yang mengira Rasulullah masih menyisakan janji dengan sahabatnya yang belum sempat dipenuhi hingga ia wafat. Hal ini dikisahkan dalam riwayat Bukhari dan Muslim.

Rasulullah SAW suatu ketika pernah menjanjikan sebagian harta jizyah dari Bahrain kepada sahabat Jabir bin Abdillah RA. Ternyata hingga Rasulullah SAW wafat, sahabat Al-Ala Al-Hadhrami yang ditugasi oleh Rasulullah di sana tidak juga mengirimkan harta jizyah ke Madinah sebagaimana kisah lengkapnya berikut ini.

وعن جابر - رضي الله عنه - ، قال : قال لي النبي - صلى الله عليه وسلم - : (لو قد جاء مال البحرين أعطيتك هكذا وهكذا وهكذا) فلم يجئ مال البحرين حتى قبض النبي - صلى الله عليه وسلم - ، فلما جاء مال البحرين أمر أبو بكر - رضي الله عنه - فنادى : من كان له عند رسول الله - صلى الله عليه وسلم - عدة أو دين فليأتنا ، فأتيته وقلت له : إن النبي - صلى الله عليه وسلم - قال لي كذا وكذا ، فحثى لي حثية فعددتها ، فإذا هي خمسمائة ، فقال لي : خذ مثليها . متفق عليه

Artinya, “Dari Jabir RA, ia berkata, Nabi Muhammad SAW pernah berkata kepadaku, ‘Kalau harta dari Bahrain datang, Aku akan berikan kepadamu segini, segini, segini.’ Harta dari Bahrain itu tak kunjung tiba hingga Rasulullah SAW wafat. Ketika harta itu datang, Khalifah Abu Bakar RA berseru, ‘Siapa yang pernah terikat janji atau piutang dengan Rasulullah, silakan datangi kami.’ Aku lalu menemui Abu Bakar RA dan mengatakan, ‘Rasulullah SAW pernah mengatakan kepadaku demikian, demikian.’ Abu Bakar RA lalu meraup harta tersebut untukku. Setelah kuhitung, ternyata ada 500. Ia berkata kepadaku, ‘Ambillah dua kali darinya,’” (HR Imam Bukahri dan Muslim).

Kisah ini mengajarkan umat Islam agar seseorang dan juga sahabat atau penerusnya untuk istiqamah dalam memenuhi janji atau kesepakatan yang pernah dibuat. Kisah Rasulullah dan sahabat Abu Bakar RA merupakan cerita teladan bagi umat Islam sepanjang zaman.

Oleh karena itu, pihak keluarga musibah di masyarakat kita pada saat penshalatan jenazah lazim mengumumkan kepada jamaah di masjid bahwa masalah utang, piutang, dan masalah muamalah lainnya yang berkaitan dengan jenazah akan berurusan dengan pihak keluarga. Hal ini sejalan dengan pengamalan hadits Rasulullah SAW berikut ini:

وعن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما : أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - ، قال : (أربع من كن فيه كان منافقا خالصا ، ومن كانت فيه خصلة منهن كانت فيه خصلة من النفاق حتى يدعها : إذا اؤتمن خان، وإذا حدث كذب، وإذا عاهد غدر، وإذا خاصم فجر) متفق عليه.

Artinya, “Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash RA, Rasulullah SAW bersabda, ‘Jika ada empat tanda ini pada diri seseorang, maka ia seorang munafik murni. Siapa saja yang terdapat salah satu tanda ini padanya, maka unsur kemunafikan ada padanya hingga ia meninggalkan tanda tersebut: jika diberikan amanat, ia mengkhianatinya. Jika berbicara, ia berdusta. Jika menyepakati perjanjian, ia melanggarnya. Jika bertikai, ia melakukan kebatilan,’” (HR Imam Bukhari dan Muslim).

Keteladanan yang dilakukan para sahabat Rasulullah SAW dan apa yang dilakukan oleh masyarakat terkait jenazah tidak berlebihan karena pemenuhan janji sesama manusia akan terbawa meski yang terlibat telah wafat.

Semua hal yang berkaitan dengan pemenuhan janji, kesepakatan, dan kontrak akan dimintakan pertanggungjawabannya kelak.

وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا

Artinya, “Tepatilah janji (kesepakatan/kontrak) karena janji itu dimintakan pertanggungjawabannya,” (Surat Al-Isra ayat 34).

Semua keterangan ini dikutip oleh Imam An-Nawawi dalam Kitab Riyadhus Shalihin. Keterangan-keterangan ini mengingatkan umat Islam untuk teguh dan konsisten dalam memenuhi janji, menerima (konsekuensi) sebuah kesepakatan, dan mematuhi segala bentuk kontrak atau ikatan yang dibuat bersama. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)
Ahad 21 April 2019 18:35 WIB
Ini Beda Nasionalis Tulen dan Nasionalis Gadungan
Ini Beda Nasionalis Tulen dan Nasionalis Gadungan
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyebut kata “nasionalis” dengan dua pengertian, pertama, pecinta nusa dan bangsa sendiri dan kedua, orang yang memperjuangkan kepentingan bangsanya; patriot. Sedangkan patriot adalah pencinta (pembela) tanah air.

Adapun patriotisme adalah nama lain dari semangat cinta tanah air. Dalam KBBI, patriotisme adalah sikap seseorang yang bersedia mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah airnya; semangat cinta tanah air.

Tetapi tiada sesuatu yang membuat Syekh Musthafa Al-Ghalayaini, salah seorang pemerhati bahasa dan sastra Arab (1886 M-1944 M) yang tinggal di Beirut, Libanon, daripada orang yang mengaku sebagai seorang nasionalis yang menebus kejayaan tanah airnya dengan darah dan hartanya, tetapi justru dia yang paling kuat meruntuhkan sendi-sendi kebangsaan dengan pelbagai kezaliman dan potensi yang ada padanya.

Dalam Kitab Izhatun Nasyi’in (Nasihat untuk Para Pemuda), karya yang ditulis di Beirut pada 1913 M, Syekh Musthafa Al-Ghalayaini menyimpulkan bahwa seorang anak bangsa yang mengaku sebagai seorang nasionalis pada kenyataannya juga dapat berbohong melalui pernyataan palsu karena tidak cocok dengan perilakunya.

ليس كل من ينادي بالوطنية وطنيا حتى تراه عاملا للوطن بما يحييه باذلا ما عز وهان في سبيل ترقيه يسعى مع الساعين في إعلاء شأنه وينصب مع الناصبين في حفظ كيانه

Artinya, “Tidak setiap orang yang mendakwakan diri sebagai seorang nasionalis adalah nasionalis sejati kecuali kau menyaksikan dia berbuat sesuatu untuk menghidupkan tanah airnya, mendermakan barang berharga miliknya, rela terhina untuk meninggikan harkat bangsanya, terlibat bersama rekan seperjuangan demi mengangkat negerinya, dan rela bersusah payah dan letih bersama yang lain dalam menjaga eksistensi tanah airnya,” (Lihat Syekh Musthafa Al-Ghalayaini, Izhatun Nasyi’in, [Beirut, Sayida: 1953 M/1373 H], cetakan kesembilan, halaman 81).

Menurut Syekh Musthafa Al-Ghalayaini, tidak sedikit anak bangsa yang berteriak kencang sebagai nasionalis sejati. Ternyata ia adalah seorang nasionalis gadungan karena perilakunya justru seperti kanker yang menggerogoti keutuhan negara dan bangsanya.

أما من يسعى فيما يفت في عضده ويكسر في ساعده فقد بعد ما بينه وبين الوطنية ولو رفع عقيرته وملأ الأقطار صراخا ونادى في الأمة أن أني من الوطنيين المخلصين

Artinya, “Adapun orang yang berupaya mencerai-beraikan kekuatan negaranya dan menghancurkan pilar-pilar bangsanya, maka ia jauh dari sikap nasionalisme meski teriakannya lantang memenuhi kolong langit setiap pelosok negerinya dan meski dia berkata di tengah rakyat, ‘Saya seorang nasionalis tulen,’” (Lihat Syekh Musthafa Al-Ghalayaini, Izhatun Nasyi’in, [Beirut, Sayida: 1953 M/1373 H], cetakan kesembilan, halaman 81).

Syekh Musthafa Al-Ghalayaini pada karyanya terutama tema Al-Wathaniyyah (Nasionalisme) menjelaskan sikap seorang nasionalis sejati. Menurutnya, seorang nasionalis tulen akan mengorbankan diri demi kemaslahatan negeri dan rakyatnya.

الوطنية الحق هي حب إصلاح الوطن والسعي في خدمته، والوطني كل الوطني من يموت ليحيا وطنه ويمرض لتصح أمته.

Artinya, “Sikap nasionalisme sejati adalah semangat memperbaiki tanah air dan berupaya mengabdikan diri untuknya. Sedangkan seorang nasionalis tulen adalah orang yang rela mengorbankan nyawanya demi kejayaan tanah airnya dan rela sakit menderita demi keselamatan rakyatnya,” (Lihat Syekh Musthafa Al-Ghalayaini, Izhatun Nasyi’in, [Beirut, Sayida: 1953 M/1373 H], cetakan kesembilan, halaman 82).

Syekh Musthafa Al-Ghalayaini yang juga penulis kitab nahwu Jami‘ud Durus Al-Arabiyyah, sebuah kitab nahwu rujukan di kampus-kampus Islam negeri di Indonesia, mengingatkan para pemuda akan kewajiban-kewajiban anak bangsa terhadap tanah airnya.

ألا إن للوطن على أبنائه حقوقا فكما لا يكون الابن ابنا حقيقيا حتى يقوم بواجب الأبوة فكذلك ابن الوطن لا يكون ابنا بارا حتى ينهض بأعباء خدمته ويدفع عن حماه المؤذين ويذود عن حياضه المدلسين 

Artinya, “Ketauhilah bahwa anak bangsa atau putra tanah air memiliki kewajiban. Seseorang tidak dapat dikatakan berbakti sebelum ia menjalankan kewajiban khidmat terhadap orang tuanya. Demikian juga seorang anak bangsa. Ia takkan disebut anak bangsa yang berbakti sebelum bangkit berkhidmat memikul beban negerinya, membela kedaulatan negaranya dari ancaman pihak-pihak yang jahat, dan melindungi sumber daya bangsanya dari para penipu,” (Lihat Syekh Musthafa Al-Ghalayaini, Izhatun Nasyi’in, [Beirut, Sayida: 1953 M/1373 H], cetakan kesembilan, halaman 82).

Meski Kitab Izhatun Nasyi’in berarti Nasihat untuk Para Pemuda, pesan-pesan Syekh Musthafa Al-Ghalayaini ini layak diperhatikan oleh semua elemen bangsa dari pelbagai usia dan latar belakang agama, suku, rasa, dan antargolongan.

Pesan-pesan Syekh Musthafa Al-Ghalayaini dalam Bahasa Arab ini memang ditulis di Beirut pada 1913 M silam. Meski demikian, semangat nasionalisme yang terkandung di dalamnya bersifat universal dan relevan untuk semua anak bangsa di dunia, termasuk anak bangsa Indonesia saat ini karena cinta tanah air berkaitan erat dengan keimanan seseorang. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)