IMG-LOGO
Ubudiyah

Lafal Niat Mandi Sunnah Shalat Idul Fitri

Selasa 4 Juni 2019 16:0 WIB
Share:
Lafal Niat Mandi Sunnah Shalat Idul Fitri
Ilustrasi (utilities-me.com)
Salah satu amaliah yang dianjurkan di hari raya (Idul Fitri/Idul Adha) adalah mandi sunnah sebelum shalat Id. Hal ini sebagaimana dijelaskan Imam al-Ghazali dalam risalahnya berjudul al-Adab fid Din dalam Majmu'ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, t.th., halaman 437) sebagai berikut:

والاغتسال في صبيحة يومه

Artinya, “Mandi pagi di hari itu (Hari Id).”

Yang dimaksud mandi di sini bukan mandi biasa, tetapi mandi di pagi hari dengan mengguyur seluruh tubuh dan anggota badan, yakni dari rambut di kepala hingga telapak kaki dengan air. 
Waktu pelaksanaan mandi bisa sebelum atau setelah shalat subuh di pagi hari itu sebagaimana petunjuk Imam al-Ghazali di atas. Atau jauh sebelumnya, yakni mulai tengah malam sebagaimana penjelasan Syekh al-Baijuri dalam kitabnya Hasyiyatu Asy-Syaikh Ibrahim al- Baijuri ala Syarh al-Allamah Ibn al-Qasim al-Ghazi ‘ala Matn asy-Syaikh Abi Syuja’ (Beirut: Dar al-Kitab al-Ilmiyyah, 1999) Cetakan 2, Juz I, hal. 153 sebagai barikut:

ويدخل وقت هذا الغسل بنصف الليل 

Artinya, “Waktu masuknya mandi sunnah (Idul Fitri/Idul Adha) adalah pada tengah malam.”

Adapun lafal niatnya sebagaimana petunjuk Syekh al-Baijuri dalam kitab tersebut sebagai berikut: 

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِعِيْدِ اْلفِطْرِ سُنَّةً لِلهِ تَعَالَى

(Nawaitul ghusla li ‘îdil fithri sunnatan lillâhi ta’âlâ)

Artinya: “Aku niat mandi untuk merayakan Idul Adha/Idul Fitri sebagai sunnah karena Allah taála.”

Demikianlah lafal niat mandi sunnah shalat Idul Fitri yang cukup pendek dan mudah dihafal. Selamat menjalankan.


Ustadz Muhammad Ishom, pengajar di Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Tags:
Share:
Selasa 4 Juni 2019 12:30 WIB
8 Kesunnahan saat Idul Fitri dan Penjelasannya
8 Kesunnahan saat Idul Fitri dan Penjelasannya
Ilustrasi (via gencbirikim.net)
Hari raya Idul Fitri merupakan momen seluruh umat Islam bersuka cita menyambut hari kemenangan. Namun, Islam juga mengajarkan tentang beberapa hal agar kita mengisi saat-saat lebaran tersebut dengan gembira tapi juga bernilai ibadah. Berikut ini penjelasannya.

Pertama, shalat Idul Fitri.

Shalat Idul Fitri hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dikukuhkan). Bahkan, sebagian pendapat menyatakan fardlu kifayah (kewajiban kolektif). Salah satu dalil kesunnahannya adalah firman Allah dalam surat al-Kautasar:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka shalatlah kepada Tuhanmu dan berkurbanlah,” (QS. Al-Kautsar ayat 2).

Mayoritas pakar tafsir menegaskan bahwa yang dimaksud shalat di dalam ayat itu adalah shalat hari raya (Idul Fitri dan Idul Adlha). Dalil lainnya adalah bahwa Nabi rutin melaksanakan shalat Idul fitri di setiap tahunnya. Pertama kali beliau mendirikannya adalah pada tahun kedua sejak hijrah ke Madinah, pada tahun di mana perintah kewajiban puasa Ramadhan turun di bulan Sya’bannya (Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz 3, hal. 39).

Shalat Idul Fitri disunnahkan bagi laki-laki dan perempuan. Dianjurkan untuk dilaksanakan secara berjamaah. Lebih utama dilaksanakan di masjid dari pada di tempat lainnya, termasuk lapangan. Hal ini bila daya tampung masjid memadai. Bila sempit, maka lebih utama di lapangan. 

Syekh Kamaluddin al-Damiri berkata:

 (وَفِعْلُهَا بِالْمَسْجِدِ أَفْضَلُ)؛ لِأَنَّ الْمَسَاجِدَ خَيْرُ الْبِقَاعِ وَأَشْرَفُهَا وَأَنْظَفُهَا، وَلِأَنَّ الْأَئِمَّةَ لَمْ يَزَالُوْا يُصَلُّوْنَ الْعِيْدَ بِمَكَّةَ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَهَذَا إِذَا اتَّسَعَ كَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَبَيْتِ الْمَقْدِسِ، وَإِلَّا .. فَالصَّحْرَاءُ أَفْضَلُ؛ لِأَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم صَلَّى فِي الصَّحْرَاءِ لِضَيْقِ مَسْجِدِهِ، فَلَوْ صَلَّى الْإِمَامُ بِهِمْ فِي هَذِهِ الْحَالَةِ فِي الْمَسْجِدِ .. كُرِهَ لِلْمَشَقَّةِ عَلَيْهِمْ.

“Melakukan shalat hari raya di masjid lebih utama, karena masjid-masjid adalah sebaik-baiknya, semulia-mulianya dan sebersih-sebersihnya tempat. Dan karena para Imam senantiasa shalat hari raya di Mekah di Masjidil Haram. Hal ini bila masjid luas, seperti masjidil haram dan Bait al-Maqdis. Bila tidak demikian, maka tanah lapang lebih utama, karena Nabi shalat di lapangan sebab sempitnya masjid beliau. Apabila Imam shalat bersama masyarakat dalam kondisi demikian di masjid, maka makruh, karena memberatkan mereka”. (Syekh Kamaluddin al-Damiri, al-Najm al-Wahhaj, juz 6, hal. 456)

Khusus bagi perempuan, sunnah keluar rumah untuk shalat Idul fitri di masjid, lapangan atau tempat lainnya bila ia adalah wanita tua yang tidak berpenampilan genit dengan syarat memakai pakaian sederhana tanpa parfum serta mendapat izin suami (bagi yang bersuami). Sedangkan bagi yang tidak memenuhi ketentuan tersebut, seperti wanita muda atau perempuan tua yang genit, yang lebih baik adalah shalat Idul Fitri di rumah, makruh bagi mereka keluar rumah untuk mengikuti shalat Idul Fitri, bahkan haram bila tanpa izin suami atau mengundang syahwat laki-laki yang bukan mahramnya (Syekh Abdul Hamid al-Syarwani, Hasyiyah al-Syarwani, juz 3, hal. 40).

Waktu shalat Idul Fitri dimulai sejak terbitnya matahari sampai masuk waktu zhuhur (tergelincirnya matahari), sunnah mengakhirkannya hingga matahari naik satu tombak (7 dzira’/ + 3,36 M), bahkan melakukan shalat Idul Fitri sebelum batas waktu tersebut hukumnya makruh, karena ada ulama yang tidak mengesahkannya (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz 3, hal. 39).

Shalat Idul Fitri dilakukan sebanyak dua rakaat, dengan niat shalat Idul fitri. Contoh lafal niatnya: “nawaitu shalâta ‘îdil fithri sunnatan ma’mûman lillâhi ta‘âlâ (aku niat shalat Idul Fitri sunnah, bermakmum, karena Allah”. Di rakaat pertama, sebelum membaca Surat al-Fatihah, sunnah takbir sebanyak tujuh kali, di rakaat kedua sebelum membaca surat al-Fatihah sebanyak lima kali.

Baca juga:
Tata Cara Shalat Idul Fitri
12 Adab Menyambut Hari Raya Menurut Imam Al-Ghazali
Kedua, mandi.

Sunnah bagi siapapun, laki-laki, perempuan bahkan wanita yang tengah haidl atau nifas melakukan mandi Idul Fitri. Kesunnahan ini juga berlaku bagi yang tidak menghadiri shalat Idul Fitri, seperti orang sakit. Waktu mandi ini dimulai sejak tengah malam Idul Fitri sampai tenggelamnya matahari di keesokan harinya. Lebih utama dilakukan dilakukan setelah terbit fajar (Syekh Sulaiman al-Bujairimi, Tuhfah al-Habib ‘Ala Syarh al-Khathib, juz 1, hal. 252). Contoh niatnya adalah:

نَوَيْتُ غُسْلَ عِيْدِ الْفِطْرِ سُنَّةً لِلهِ تَعَالَى

“Aku niat mandi Idul fitri, sunnah karena Allah”. 

Ketiga, menghidupi malam Id dengan ibadah.

Dianjurkan menghidupi malam hari raya dengan shalat, membaca shalawat, membaca Al-Qur’an, membaca kitab, dan bentuk ibadah lainnya. Anjuran ini berdasarkan hadits Nabi:

مَنْ أَحْيَا لَيْلَتَيْ الْعِيدِ لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوتُ الْقُلُوبُ

“Barangsiapa menghidupi dua malam hari raya, hatinya tidak mati di hari matinya beberapa hati”. (HR. al-Daruquthni).

Hadits ini tergolong lemah, namun tetap bisa dipakai sebab berkaitan dengan keutamaan amal, tidak berbicara halal-haram atau akidah.

Kesunnahan ini bisa hasil dengan menghidupi sebagian besar malam hari raya. Pendapat lain cukup dengan sesaat. Riwayat dari Ibnu Abbas, dengan cara shalat Isya berjamaah dan bertekad melaksanakan shalat Subuh berjamaah.

Pada malam hari Idul Fitri ini juga disunnahkan untuk memberbanyak do’a, sebab termasuk waktu yang mustajab (diijabah) sebagaimana terkabulnya doa di malam Jumat, dua malam awal bulan Rajab, malam Idul Adha dan malam Nishfu Sya’ban (Syekh Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, juz 1, hal. 281).

Keempat, memperbanyak bacaan takbir.

Salah satu syi’ar yang identik dengan Idul Fitri adalah kumandang takbirnya. Anjuran memperbanyak takbir ini berdasarkan firman Allah:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ

“Dan sempurnakanlah bilangan Ramadhan, dan bertakbirlah kalian kepada Allah”. (QS. Al-Baqarah: 185).

Ada dua jenis takbir Idul Fitri. Pertama, muqayyad (dibatasi), yaitu takbir yang dilakukan setelah shalat, baik fardhu atau sunnah. Setiap selesai shalat, dianjurkan untuk membaca takbir. Kedua, mursal (dibebaskan), yaitu takbir yang tidak terbatas setelah shalat, bisa dilakukan di setiap kondisi. Takbir Idul Fitri bisa dikumandangkan di mana saja, di rumah, jalan, masjid, pasar atau tempat lainnya. 

Kesunnahan takbir Idul fitri dimulai sejak tenggelamnya matahari pada malam 1 Syawal sampai takbiratul Ihramnya Imam shalat Id bagi yang berjamaah, atau takbiratul Ihramnya mushalli sendiri, bagi yang shalat sendirian. Pendapat lain menyatakan waktunya habis saat masuk waktu shalat Id yang dianjurkan, yaitu ketika matahari naik kira-kira satu tombak (+ 3,36 M), baik Imam sudah melaksanakan Takbiratul Ihram atau tidak. (Syekh Sa’id Bin Muhammad Ba’ali Ba’isyun, Busyra al-Karim, hal. 426).

Salah satu contoh bacaan takbir yang utama adalah:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللهُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

(Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz 3, hal. 54).

Keempat, makan sebelum berangkat shalat Id.

Sebelum berangkat shalat Idul fitri, disunnahkan makan terlebih dahulu. Anjuran ini berbeda dengan shalat Idul Adha yang disunnahkan makan setelahnya. Hal tersebut karena mengikuti sunnah Nabi. Lebih utama yang dimakan adalah kurma dalam hitungan ganjil, bisa satu butir, tiga butir dan seterusnya. Makruh hukumnya meninggalkan anjuran makan ini sebagaimana dikutip al-Imam al-Nawawi dari kitab al-Umm. (Syekh Khathib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, juz 1, hal. 592).

Kelima, berjalan kaki menuju tempat shalat.

Berjalan kaki menuju tempat shalat Id hukumnya sunnah, berdasarkan ucapan Sayyidina Ali:

مِنْ السُّنَّةِ أَنْ يَخْرُجَ إلَى الْعِيدِ مَاشِيًا

“Termasuk sunnah Nabi adalah keluar menuju tempat shalat Id dengan berjalan”. (HR. al-Tirmidzi dan beliau menyatakannya sebagai hadits Hasan).

Bagi yang tidak mampu berjalan kaki seperti orang tua, orang lumpuh dan lain sebagainya diperbolehkan untuk menaiki kendaraan. Demikian pula boleh kepulangan dari shalat Id dilakukan dengan tidak berjalan kaki. (Syekh Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, juz 1, hal. 282).

Keenam, membedakan rute jalan pergi dan pulang tempat shalat Id.

Berdasarkan hadits riwayat al-Bukhari, rute perjalanan pulang dan pergi ke tempat shalat Id hendaknya berbeda, dianjurkan rute keberangkatan lebih panjang dari pada jalan pulang. Di antara hikmahnya adalah agar memperbanyak pahala menuju tempa ibadah. Anjuran ini juga berlaku saat perjalanan haji, membesuk orang sakit dan ibadah lainnya, sebagaimana ditegaskan al-Imam al-Nawawi dalam kitab Riyadl al-Shalihin. (Syekh Khathib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, juz 1, hal. 591).

Ketujuh, berhias.

Idul fitri adalah waktunya berhias dan berpenampilan sebaik mungkin untuk menampakan kebahagiaan di hari yang berkah itu. Berhias bisa dilakukan dengan membersihkan badan, memotong kuku, memakai wewangian terbaik dan pakaian terbaik. Lebih utama memakai pakaian putih, kecuali bila selain putih ada yang lebih bagus, maka lebih utama mengenakan pakaian yang paling bagus, semisal baju baru. Dari keterangan ini dapat dipahami bahwa tradisi membeli baju baru saat lebaran menemukan dasar yang kuat dalam teks agama, dalam rangka menebarkan syiar kebahagiaan di hari raya Idul Fitri. 

Kesunnahan berhias ini berlaku bagi siapapun, meski bagi orang yang tidak turut hadir di pelaksnaan shalat Idul Fitri. Khusus bagi perempuan, anjuran berhias tetap harus memperhatikan batas-batas syariat, seperti tidak membuka aurat, tidak mempertontonkan penampilan yang memikat laki-laki lain yang bukan mahramnya dan lain sebagainya. (Syekh Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, juz 1, hal. 281).

Kedelapan, tahniah (memberi ucapan selamat).

Hari raya adalah hari yang penuh dengan kegembiraan. Karena itu, dianjurkan untuk saling memberikan selamat atas kebahagiaan yang diraih saat hari raya. Di antara dalil kesunnahannya adalah beberapa hadits yang disampaikan al-Imam al-Baihaqi, beliau dalam kitab Sunannya menginventarisir beberapa hadits dan ucapan para sahabat tentang tradisi ucapan selamat di hari raya. Meski tergolong lemah sanadnya, namun rangkaian beberapa dalil tersebut dapat dibuat pijakan untuk persoalan ucapan hari raya yang berkaitan dengan keutamaan amal ini.

Argumen lainnya adalah dalil-dalil umum mengenai anjuran bersyukur saat mendapat nikmat atau terhindari dari mara bahaya, seperti disyariatkannya sujud syukur. Demikian pula riwayat al-Bukhari dan Muslim tentang kisah taubatnya Ka’ab bin Malik setelah beliau absen dari perang Tabuk, Talhah bin Ubaidillah memberinya ucapan selamat begitu mendengar pertaubatnya diterima. Ucapan selamat itu dilakukan dihadapan Nabi dan beliau tidak mengingkarinya.

Tidak ada aturan baku mengenai redaksi ucapan selamat ini. Salah satu contohnya “taqabbala allâhu minnâ wa minkum”, “kullu ‘âmin wa antum bi khair”, “selamat hari raya Idul Fitri”, “minal aidin wa al-faizin”, “mohon maaf lahir batin”, dan lain sebagainya. Pada prinsipnya, setiap kata yang ditradisikan sebagai ucapan selamat dalam momen hari raya, maka sudah bisa mendapatkan kesunnahan tahniah ini.

Bahkan, Syekh Ali Syibramalisi menegaskan tahniah juga bisa diwujudkan dalam bentuk saling bersalam-salaman. Karena itu, sangat tidak tepat klaim dari sebagian kalangan bahwa ucapan selamat hari raya yang berkembang di Indonesia tidak memiliki dasar dalil agama.

Berkaitan dengan ihwal tahniah ini, Syekh Abdul Hamid al-Syarwani menegaskan:

ـ (خَاتِمَةٌ) قَالَ الْقَمُولِيُّ لَمْ أَرَ لِأَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِنَا كَلَامًا فِي التَّهْنِئَةِ بِالْعِيدِ وَالْأَعْوَامِ وَالْأَشْهُرِ كَمَا يَفْعَلُهُ النَّاسُ لَكِنْ نَقَلَ الْحَافِظُ الْمُنْذِرِيُّ عَنْ الْحَافِظِ الْمَقْدِسِيَّ أَنَّهُ أَجَابَ عَنْ ذَلِكَ بِأَنَّ النَّاسَ لَمْ يَزَالُوا مُخْتَلِفِينَ فِيهِ وَاَلَّذِي أَرَاهُ مُبَاحٌ لَا سُنَّةَ فِيهِ وَلَا بِدْعَةَ 

“Sebuah penutup. Al-Qamuli berkata, aku tidak melihat dari para Ashab (ulama Syafi’iyah) berkomentar tentang ucapan selamat hari raya, beberapa tahun dan bulan tertentu seperti yang dilakukan banyak orang. Tetapi al-Hafizh al-Mundziri mengutip dari al-Hafizh al-Maqdisi bahwa beliau menjawab masalah tersebut bahwa orang-orang senantiasa berbeda pendapat di dalamnya. Pendapatku, hal tersebut hukumnya mubah, tidak sunnah, tidak bid’ah.”

وَأَجَابَ الشِّهَابُ ابْنُ حَجَرٍ بَعْدَ اطِّلَاعِهِ عَلَى ذَلِكَ بِأَنَّهَا مَشْرُوعَةٌ وَاحْتَجَّ لَهُ بِأَنَّ الْبَيْهَقِيَّ عَقَدَ لِذَلِكَ بَابًا فَقَالَ بَابُ مَا رُوِيَ فِي قَوْلِ النَّاسِ بَعْضِهِمْ لِبَعْضٍ فِي الْعِيدِ تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ وَسَاقَ مَا ذَكَرَهُ مِنْ أَخْبَارٍ وَآثَارٍ ضَعِيفَةٍ لَكِنَّ مَجْمُوعَهَا يُحْتَجُّ بِهِ فِي مِثْلِ ذَلِكَ 

“Al-Syihab Ibnu Hajar setelah menelaah hal tersebut menjawab bahwa tahniah disyariatkan. Beliau berargumen bahwa al-Baihaqi membuat bab tersendiri tentang tahniah, beliau berkata; bab riwayat tentang ucapan manusia satu kepada lainnya saat hari raya; semoga Allah menerima kami dan kalian;. Ibnu Hajar menyebutkan statemen al-Baihaqi tentang hadits-hadits dan ucapan para sahabat yang lemah (riwayatnya), akan tetapi rangkain dalil-dalil tersebut bisa dibuat argumen dalam urusan sejenis tahniah ini”.

ثُمَّ قَالَ وَيُحْتَجُّ لِعُمُومِ التَّهْنِئَةِ لِمَا يَحْدُثُ مِنْ نِعْمَةٍ أَوْ يَنْدَفِعُ مِنْ نِقْمَةٍ بِمَشْرُوعِيَّةِ سُجُودِ الشُّكْرِ وَالتَّعْزِيَةِ وَبِمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ عَنْ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ فِي قِصَّةِ تَوْبَتِهِ لَمَّا تَخَلَّفَ عَنْ غَزْوَةِ تَبُوكَ أَنَّهُ لَمَّا بُشِّرَ بِقَبُولِ تَوْبَتِهِ وَمَضَى إلَى النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَامَ إلَيْهِ طَلْحَةُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ فَهَنَّأَهُ أَيْ وَأَقَرَّهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - مُغْنِي وَنِهَايَةٌ 

“Kemudian Ibnu Hajar berkata; argumen umum persoalan tahniah adalah disyariatkannya sujud syukur dan ta’ziyyah saat mendapat nikmat atau terhindar dari bahaya. Demikian pula hadits riwayat al-Bukhari Muslim dari Ka’ab bin Malik dalam kisah taubatnya saat beliau tidak menghadiri perang Tabuk bahwa ketika beliau diberitau penerimaan taubatnya dan menghadap Nabi, Thalhah bin Ubaidillah berdiri dan memberinya ucapan selamat, maksudnya Nabi menyetujuinya. Keterangan dari Kitab Mughni dan Nihayah”.

قَالَ ع ش قَوْلُهُ م ر تَقَبَّلَ اللَّهُ إلَخْ أَيْ وَنَحْوُ ذَلِكَ مِمَّا جَرَتْ بِهِ الْعَادَةُ فِي التَّهْنِئَةِ وَمِنْهُ الْمُصَافَحَةُ وَيُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ فِي يَوْمِ الْعِيدِ أَنَّهَا لَا تُطْلَبُ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ وَمَا بَعْدَ يَوْمِ عِيدِ الْفِطْرِ لَكِنْ جَرَتْ عَادَةُ النَّاسِ بِالتَّهْنِئَةِ فِي هَذِهِ الْأَيَّامِ وَلَا مَانِعَ مِنْهُ؛ لِأَنَّ الْمَقْصُودَ مِنْهُ التَّوَدُّدُ وَإِظْهَارُ السُّرُورِ وَيُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ يَوْمَ الْعِيدِ أَيْضًا أَنَّ وَقْتَ التَّهْنِئَةِ يَدْخُلُ بِالْفَجْرِ لَا بِلَيْلَةِ الْعِيدِ خِلَافًا لِمَا فِي بَعْضِ الْهَوَامِشِ اهـ 

“Syekh Ali Syibramalisi berkata; ucapan Imam al-Ramli Taqabbala Allahu dan seterusnya, maksudnya dan ucapan sejenis dari hal-hal yang ditradisikan dalam tahniah, di antaranya saling bersalaman. Diambil dari ucapannya al-Ramli; di hari raya; bahwa tahniah tidak dianjurkan di hari-hari tasyriq dan setelah hari Idul Fitri, akan tetapi tradisi manusia berlaku dengan memberi ucapan selamat di hari-hari tersebut ; dan (menurutku) tidak ada yang mencegah tradisi tersebut, sebab yang dituju dari tahniah adalah saling mengasihi dan menampakan kebahagiaan. Diambil dari ucapan al-Ramli; di hari raya; bahwa waktu tahniah masuk saat terbitnya fajar hari raya, bukan malam hari raya, hal ini berbeda dengan pendapat yang ada dalam sebagian catatan kaki kitab”.

وَقَدْ يُقَالُ لَا مَانِعَ مِنْهُ أَيْضًا إذَا جَرَتْ الْعَادَةُ بِذَلِكَ لِمَا ذَكَرَهُ مِنْ أَنَّ الْمَقْصُودَ مِنْهُ التَّوَدُّدُ وَإِظْهَارُ السُّرُورِ وَيُؤَيِّدُهُ نَدْبُ التَّكْبِيرِ فِي لَيْلَةِ الْعِيدِ 

“Terkadang diucapkan, tidak ada yang menghalangi hal tersebut apabila kebiasaan terlaku demikian, Karena alasan yang telah disampaikan bahwa tujuan dari tahniah adalah saling mengasihi dan menampakkan kebahagiaan. Sudut pandang ini dikuatkan dengan kesunnahan takbir di hari raya”.

وَعِبَارَةُ شَيْخِنَا وَتُسَنُّ التَّهْنِئَةُ بِالْعِيدِ وَنَحْوِهِ مِنْ الْعَامِ وَالشَّهْرِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ مَعَ الْمُصَافَحَةِ إنْ اتَّحَدَ الْجِنْسُ فَلَا يُصَافِحُ الرَّجُلُ الْمَرْأَةَ وَلَا عَكْسُهُ وَمِثْلُهَا الْأَمْرَدُ الْجَمِيلُ وَتُسَنُّ إجَابَتُهَا بِنَحْوِ تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنْكُمْ أَحْيَاكُمْ اللَّهُ لِأَمْثَالِهِ كُلَّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ اهـ.

“Redaksi guru kami (Syekh Ibrahim al-Bajuri); sunnah berucap selamat di hari raya dan lainnya berupa tahun dan bulan tertentu menurut pendapat mu’tamad (yang dibuat pegangan) beserta salam-salaman bila dengan satu jenis. Maka tidak boleh laki-laki bersalaman dengan perempuan, demikian pula sebaliknya. Dan sama dengan perempuan adalah laki-laki belia yang tampan. Sunnah menjawab ucapan selamat dengan redaksi semisal “Semoga Allah menerima kalian”, Semoga Allah menghidupi kalian untuk hal yang sama” “Semoga setiap tahun kalian berada dalam kebaikan”. (Syekh Abdul Hamid al-Syarwani, Hasyiyah al-Syarwani, juz 3, hal. 56).

Demikian penjelasan mengenai hal-hal yang disunnahkan saat hari raya Idul Fitri. Semoga di hari yang fitri, kita kembali bersih dari segala dosa dan segala penyakit hati.


Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pondok Pesantren Raudlatul Quran, Geyongan, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat.

Selasa 28 Mei 2019 12:0 WIB
Yang Paling Baik, Dzikir dalam Hati atau dengan Lisan?
Yang Paling Baik, Dzikir dalam Hati atau dengan Lisan?
Berdzikir diperintahkan berulang kali dalam Al-Qur’an dan hadits, dalam berbagai kondisi. Dalam Al-Qur’an, Allah menjelaskan ciri seorang ulul albab adalah orang yang senantiasa berzikir, sebagaimana dalam ayat berikut:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ 

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring” (QS. Ali Imran: 191).

Lumrahnya, yang dinamakan dzikir adalah bacaan ibadah tertentu yang diucapkan dan bisa terdengar. Tetapi tak jarang juga dzikir dilakukan dalam hati saja sehingga tak ada siapa pun yang tahu. Manakah di antara kedua praktik ini yang terbaik? Imam at-Thabari, sebagaimana dinukil oleh Ibnu Batthal menjelaskan masalah ini sebagai berikut:

 فإن قيل: أى الذكرين أعظم ثوابًا الذكر الذى هو بالقلب، أو الذكر الذى هو باللسان؟ قيل: قد اختلف السلف فى ذلك، فروى عن عائشة أنها قالت: لأن أذكر الله فى نفسى أحب إلىَّ أن أذكره بلسانى سبعين مرة. وقال آخرون: ذكر الله باللسان أفضل. روى عن أبى عبيدة بن عبد الله بن مسعود قال: ما دام قلب الرجل يذكر الله تعالى فهو فى صلاة، وإن كان فى السوق، وإن تحرك بذلك اللسان والشفتان فهو أعظم. 

“Apabila dikatakan dzikir yang manakah yang lebih besar pahalanya, apakah yang di hati saja ataukah yang dengan lisan?, dijawab:  Ulama Salaf berbeda tentang hal itu. Diriwayatkan dari Aisyah bahwa ia berkata: “Aku berdzikir kepada Allah dalam hati lebih aku sukai daripada Aku berzikir dengan lisanku 70 kali".  Tokoh lain berkata: “Dzikir dengan lisan kepada Allah adalah lebih utama".  Diriwayatkan dari Abu Ubaidah bin Abdullah bin Masud ia berkata: “Selama hati seseorang berdzikir kepada Allah maka ia berada dalam doa meskipun ia di pasar. Apabila lisan dan kedua bibirnya bergerak mengucapkannya, maka itu lebih besar pahalanya.” (Ibnu Batthal, Syarh Shahih al-Bukhari, X, 430)

Imam  at-Thabari  kemudian mencoba mengompromikan kedua pendapat itu dengan merinci apakah ada potensi riya (keinginan untuk dipuji orang) dalam dzikir itu dan apakah pelakunya adalah seorang panutan atau bukan. Ia berkata: 

والصواب عندى أن إخفاء النوافل أفضل من ظهورها لمن لم يكن إمامًا يقتدى به، وإن كان فى محفل اجتمع أهله لغير ذكر الله أو فى سوق وذلك أنه أسلم له من الرياء، وقد روينا من حديث سعد بن أبى وقاص عن النبى (صلى الله عليه وسلم) أنه قال: (خير الرزق ما يكفى، وخير الذكر الخفى) ولمن كان بالخلاء أن يذكر الله بقلبه ولسانه؛ لأن شغل جارحتين بما يرضى الله تعالى أفضل

"Yang benar menurutku adalah menyamarkan ibadah sunnah adalah lebih utama daripada menampakannya bagi selain imam yang diikuti oleh orang lain apabila ia berada dalam kerumunan orang yang tidak berdzikir kepada Allah atau berada di pasar, karena dzikir samar itu  lebih aman baginya dari riya. ...  Dan bagi orang yang sendirian hendaknya berdzikir kepada Allah dengan hati dan lisannya karena sibuknya anggota badan dengan sesuatu yang diridhoi Allah adalah lebih utama." (Ibnu Batthal, Syarh Shahih al-Bukhari, X, 430)

Dalam internal mazhab Syafi’i dan juga menurut beberapa ulama lainnya, dzikir dalam hati saja atau dzikir yang terucap sangat pelan sehingga pengucapnya sendiri tak mendengar, tidaklah bisa disebut kegiatan berdzikir sehingga tak ada pahalanya. Imam Ibnu Hajar al-Haitami menjelaskan pendapat para ulama tersebut sebagaimana berikut:

وَأَمَّا حَيْثُ لَمْ يُسْمِعْ نَفْسَهُ فَلَا يُعَدُّ بِحَرَكَةِ لِسَانِهِ وَإِنَّمَا الْعِبْرَةُ بِمَا فِي قَلْبِهِ عَلَى أَنَّ جَمَاعَةً مِنْ أَئِمَّتِنَا وَغَيْرِهِمْ يَقُولُونَ: لَا ثَوَابَ فِي ذِكْرِ الْقَلْبِ وَحْدَهُ وَلَا مَعَ اللِّسَانِ حَيْثُ لَمْ يُسْمِعْ نَفْسَهُ

“Adapun sekiranya seseorang tidak membuat dirinya sendiri mendengar [apa yang diucapkan],  maka gerakan lisannya tidaklah  diperhitungkan tetapi yang diperhitungkan adalah apa yang ada dalam hatinya  saja, meskipun  sekelompok para imam Syafi’iyah dan lainnya berkata: "tidak ada pahala dalam dzikir dalam hati saja, juga dalam dzikir yang bersama lisan tetapi dirinya sendiri tidak mendengarnya". (ar-Ramli, Nihayat al-Muhtaj Ila Syarh al-Minhaj, III, 182). 

Akan tetapi, ketiadaan pahala tersebut menurut Ibnu Hajar al-Haitami bila dipandang dari aspek dzikir secara khusus. Akan tetapi dari aspek menyibukkan hati dengan mengingat Alah, maka tetaplah berpahala, bahkan sangat baik. Ia menjelaskan:

وَيَنْبَغِي حَمْلُهُ عَلَى أَنَّهُ لَا ثَوَابَ عَلَيْهِ مِنْ حَيْثُ الذِّكْرِ الْمَخْصُوصِ، أَمَّا اشْتِغَالُ الْقَلْبِ بِذَلِكَ وَتَأَمَّلْهُ لِمَعَانِيهِ وَاسْتِغْرَاقِهِ فِي شُهُودِهِ فَلَا شَكَّ أَنَّهُ بِمُقْتَضَى الْأَدِلَّةِ يُثَابُ عَلَيْهِ مِنْ هَذِهِ الْحَيْثِيَّةِ الثَّوَابَ الْجَزِيلَ، وَيُؤَيِّدُهُ خَبَرُ الْبَيْهَقِيّ «الذِّكْرُ الَّذِي لَا تَسْمَعُهُ الْحَفَظَةُ يَزِيدُ عَلَى الذِّكْرِ الَّذِي تَسْمَعُهُ الْحَفَظَةُ سَبْعِينَ ضِعْفًا» اهـ بِحُرُوفِهِ

“[Ketiadaan pahala dzikir dalam hati atau dzikir sangat pelan higga tak terdengar itu] sebaiknya diletakkan dalam konteks dzikir secara khusus. Adapun menyibukkan hati dengannya dan menghayati maknanya dan menghabiskan waktu merenungkannya maka tak diragukan bahwasanya sesuai tuntutan berbagai dalil yang ada ia mendapat pahala besar dari aspek ini. Hal ini diperkuat dengan hadis dari al-Baihaqi: “Dzikir yang tak didengar para malaikat pencatat lebih bertambah pahalanya 70 kali daripada dzikir yang didengar oleh para malaikat.” (ar-Ramli, Nihayat al-Muhtaj Ila Syarh al-Minhaj, III, 182). 

Maksudnya, misalnya Nabi Muhammad ﷺ menganjurkan agar membaca tasbih, tahmid dan takbir sebanyak 33 kali sehabis shalat wajib, maka anjuran ini hanya akan dianggap terlaksana dan mendapat pahalanya bila dibaca dengan lisan, tak cukup dibesitkan dalam hati saja. Inilah yang dimaksud pahala dzikir secara khusus. Namun bagi yang membacanya dalam hati bukan berarti tak mendapat pahala sama sekali tetapi ia mendapat pahala dari aspek merenung dan mengingat Allah, dan ini juga besar pahalanya. 

Bila semua penjelasan ini digabungkan, maka kesimpulannya adalah: Dzikir yang diperintahkan secara khusus haruslah diucapkan dengan lisan agar mendapat pahala dari perintah khusus tersebut. Bila tidak diucapkan, masih ada pahala bagi yang mengingat Allah dalam hatinya. Adapun dzikir yang umum tanpa ada perintah khusus sehingga bisa dibaca kapan saja di mana saja, maka perlu dilihat potensi riya di dalamnya. Bila ada potensi riya ketika membacanya, maka lebih utama dilakukan dalam hati. Akan tetapi bila aman dari potensi riya, misalnya ketika sendirian atau dilakukan oleh seorang panutan agar tindakannya ditiru orang lain, maka lebih utama dilakukan dengan hati sekaligus diucapkan dengan lisan. Wallahu a’lam.


Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Pengurus LBM PWNU Jawa Timur.

Ahad 21 April 2019 11:30 WIB
Apakah Gosok Gigi Perlu Niat Khusus?
Apakah Gosok Gigi Perlu Niat Khusus?
Gosok gigi atau bersiwak hukumnya sunnah muakkadah, sebuah kesunnahan yang sangat dianjurkan. Selain mempunyai manfaat menghilangkan bau mulut, bersiwak juga mempunyai hikmah mempermudah keluarnya ruh saat sakaratul maut kelak dan mampu mendatangkan ridla dari Allah subhanahu wa ta’ala

Baca: Mengganti Kayu Siwak dengan Sikat dan Pasta Gigi?
Apakah bersiwak atau menggosok gigi membutuhkan niat khusus? 

Menurut Imam al-Ramli, orang yang bersiwak (menggosok gigi) akan mendapatkan nilai pahala apabila dibarengi dengan niat bersiwak, atau melakukan kesunnahan atau mengikuti perilaku Nabi Muhammad ﷺ. Tanpa niat, gosok gigi tidak dianggap menjalankan sunnah Rasul yang bernilai pahala kecuali apabila saat ia bersiwak bertepatan di tengah-tengah menjalankan prosesi ibadah—jika demikian, tidak lagi memerlukan niat. 

Misalnya, ada orang yang sudah berniat wudhu, sedangkan bersiwak termasuk kesunahan dalam permulaan wudhu, kemudian ia bersiwak tanpa niat, hal ini telah mendapatkan nilai sunnah. Contoh yang lain adalah orang yang bersiwak setelah ia membaca takbiratul ihram shalat, walaupun tanpa niat, bersiwak di tengah-tengah prosesi ibadah yang seperti demikian  tetap dinilai menjalankan sunnah dan mendapatkan pahala. 

ـ (قوله ويسن أن ينوي بالسواك السنة) بأن يقول: نويت الاستياك، فلو استاك اتفاقا من غير نية لم تحصل السنة فلا ثواب له. ومحل ذلك ما لم يكن فى ضمن عبادة، كأن وقع بعد نية الوضوء او بعد الاحرام بالصلاة على ما قاله العلامة الرملي. والا فلا يحتاج لنية لأن النية ما وقع فيه شملته
 
Artinya: “Dan disunnahkan berniat dalam bersiwak dalam rangka untuk melaksanakan kesunnahan. Misalnya dalam hati membaca ‘saya niat bersiwak’. Apabila kebetulan ada orang yang bersiwak tanpa niat, maka tidak mendapatkan nilai sunnah yang berakibat tidak mendapatkan pahala. Kriteria seperti ini berlaku apabila seseorang tersebut tidak dalam prosesi ibadah berlangsung. Misalnya, ada orang yang bersiwak setelah ia berniat wudhu atau orang sudah takbiratul ihram shalat kemudian ia baru bersiwak, maka pada saat seperti ini tidak lagi membutuhkan niat. Keterangan demikian berdasar atas pernyataan Al-Allamah al-Ramli. Sebab, menurut Imam Ramli, jika bersiwak di tengah-tengah ibadah, niatnya sudah tercakup dengan niat ibadah di atasnya. (Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Al-Baijuri, [Darul Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, 1999], juz 1, halaman 84) 

Imam Birmawi berbeda pandangan dengan Imam Al-Ramli. Menurutnya, niat dalam siwak hanya sebagai penyempurna saja. Apabila gosok gigi dilakukan tanpa niat, akan tetap mendapatkan kesunahan bersiwak. 

وَتَحْصُلُ السُّنَّةُ الْكَامِلَةُ بِالنِّيَّةِ وَيَحْصُلُ أَصْلُهَا بِلَا نِيَّةٍ مَا لَمْ يَكُنْ فِي ضِمْنِ عِبَادَةٍ اهـ بِرْمَاوِيٌّ

Artinya: “Kesunahan itu bisa didapatkan secara sempurna apabila dilakukan dengan niat. Namun esensi kesunahan itu sendiri tetap berhasil diperoleh walaupun dilakukan tanpa niat selama tidak di dalam prosesi ibadah. Demikian pernyataan Syekh Birmawi.” (Syekh Sulaiman Al-Jamal, Hasyiyah Al-Jamal, [Darul Fikr], juz 1, halaman 117).

Jadi dapat diambil kesimpulan, menurut Imam Al-Ramli, orang bersiwak akan mendapatkan nilai sunnah jika dibarengi niat, sedangkan Imam Birmawi menyatakan bahwa niat hanya sebagai penyempurna saja. Yang sama, antara pandangan kedua ulama tersebut, menyatakan apabila bersiwak dilaksanakan di dalam prosesi ibadah, masing-masing sepakat tidak membutuhkan niat. Ini memang berlaku bagi semua ibadah sunnah. 

Contohnya, jika di dalam shalat, disunnahkan membaca surat, tasbih, mengangkat tangan dan lain sebagainya, karena kegiatan tersebut masuk dalam prosesi shalat, maka tidak membutuhkan niat satu persatu. Jadi, kesunnahan yang sudah menjadi bagian dari suatu ibadah, tidak membutuhkan niat satu per satu. Misalnya akan mendahulukan membasuh tangan kanan dalam wudhu niat lagi, nanti mengusap kedua telinga, niat sendiri, berkesinambungan niat sendiri, tidak demikian. Cukup dengan niat wudhu, atau shalat, maka kesunnahan yang ada di dalamnya tidak membutuhkan shalat. 

Berbeda apabila perilaku sunnah yang dilaksanakan di luar kegiatan ibadah. Contohnya adalah orang i'tikaf di dalam masjid. Karena pelaksanaan niatnya tidak di dalam prosesi ibadah tertentu, maka orang yang ingin mendapatkan pahala sunnah beri’tikaf, ia perlu niat terlebih dahulu. Begitu pula orang yang bersiwak, jika dilaksanakan di luar prosesi ibadah, apabila mengikuti Imam al-Ramli memerlukan niat khusus. Wallahu a’alam


Ustadz Ahmad Mundzir, pengajar di Pesantren Raudhatul Quran an-Nasimiyyah, Semarang