IMG-LOGO
Zakat

Perbedaan antara Zakat, Sedekah, Infaq, Hibah, dan Hadiah

Sabtu 8 Juni 2019 11:0 WIB
Share:
Perbedaan antara Zakat, Sedekah, Infaq, Hibah, dan Hadiah
Ilustrasi (steemit.com)
Salah satu ajaran Islam yang sangat diutamakan adalah membantu orang lain. Dalam berbagai hadis disebutkan bahwa pahala membantu orang lain sangat besar dan pelakunya akan mendapat bantuan berkali-kali lipat dari Allah atas kesulitannya di dunia mau pun di akhirat. Hal ini bisa dibilang merupakan pengetahuan umum yang semua orang tahu sebab ajaran semacam ini juga dikenal di seluruh agama lain.

Namun dalam Islam dikenal beberapa istilah yang berbeda ketika kita membahas tentang bantuan yang bersifat materi, ada istilah zakat, sedekah, infaq, hibah dan hadiah. Berbagai istilah yang semuanya berasal dari bahasa Arab ini kadang rancu sebab tak semua orang tahu perbedaannya. 

Apa saja perbedaan istilah ini? Berikut ini ulasannya:

Zakat adalah istilah yang ditujukan untuk bantuan harta dengan jenis dan kadar tertentu yang diwajibkan oleh syariat untuk diberikan pada pihak-pihak yang tertentu pula di waktu yang juga sudah ditentukan. Jadi, berbeda dengan seluruh istilah lainnya, zakat adalah bantuan wajib yang segala aspeknya sudah diatur secara rinci oleh syariat. Bila ada aturan yang tidak ditepati, maka zakat dianggap tidak sah dan wajib diulang.

Adapun sedekah, maka mencakup segala macam bantuan dari seseorang kepada orang lainnya dengan motif mencari pahala dari Allah. Bentuknya bebas, waktu dan kadarnya pun juga bebas terserah pemberinya. Sedekah mencakup zakat sebagai sedekah yang wajib dan mencakup seluruh pemberian yang hukumnya tidak wajib, bahkan istilah sedekah juga sering digunakan untuk menyebut segala jenis kebaikan sebab ada hadis Nabi yang artinya: “Segala kebaikan adalah sedekah”  (HR. Bukhari).

Senyuman yang tulus, menyingkirkan duri dari jalan, membaca tasbih atau wirid lainnya dan segala bentuk kebaikan lain secara agama bisa disebut sebagai sedekah. Dalam praktiknya, tak ada ceritanya sedekah dianggap tidak sah atau wajib diulang sebab memang tak punya aturan khusus. Hanya saja sedekah mempunyai kode etik agar pahalanya terjaga, di antaranya harus ikhlas dan tidak diikuti dengan mengungkit-ungkit.

Sedangkan Infaq dipakai sebagai istilah bagi pemberian dalam rangka menunaikan hajat/kepentingan tertentu. Pemberian uang belanja dari suami untuk kebutuhan rumah tangga, pemberian upah pegawai dan semacamnya adalah infaq. Bila infaq ini dilakukan dengan tujuan mendapatkan pahala dari Allah, maka ia menjadi sedekah. Namun bila infaqnya dilakukan bukan dalam rangka mencari pahala, maka tidak disebut sebagai sedekah.

Adapun hibah maka secara bahasa mirip artinya seperti sedekah dalam arti memberi tanpa imbal balik apa pun. Hanya saja, motif hibah adalah untuk menjalin hubungan baik, memupuk keakraban dan menghormati pihak yang diberi.

Yang lebih spesifik dari istilah hibah adalah hadiah. Menurut istilahnya, hadiah adalah pemberian yang bertujuan untuk menghormati pihak yang diberi saja. Bila selain motif di atas juga ada motif mencari pahala dari Allah, maka hibah atau hadiah dari satu sisi juga bisa disebut sebagai sedekah.

Demikian perbedaan kelima istilah ini dalam arti asalnya sebagai bahasa Arab. Makna istilah tersebut ketika sudah diserap dalam bahasa Indonesia mungkin saja mengalami sedikit pergeseran. Semoga bermanfaat.


Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja NU Center Jawa Timur.


Sumber: at-Ta’rifât karya al-Jurjani; at-Ta’rifât al-fiqhiyyah karya Muhammad 'Amim al-Ihsan al-Barkati dan lain-lain.


Share:
Kamis 6 Juni 2019 20:0 WIB
Masalah Membayar Zakat, Infaq, dan Sedekah secara Online
Masalah Membayar Zakat, Infaq, dan Sedekah secara Online
Perkembangan e-commerce tidak mengenal ruang dan batas bidang. Jika sebelumnya kita hanya mengenal pemakaiannya pada jasa niaga atau transaksi yang ada hubunganya dengan pekerjaan, tapi kali ini, dunia e-commerce juga mulai merambah ke dunia aspek imanen. Munculnya beberapa aplikasi yang dikeluarkan oleh beberapa marketplace, seperti Grab, Go-jek, Tokopedia, dan sejumlah aplikasi lainnya yang turut menyertakan fitur pembayaran zakat secara digital, semakin banyak mendominasi beberapa aplikasi layanan. 

Menurut berita sejumlah harian, tren peralihan model pembayaran zakat ini sejatinya sudah dirasakan pengaruhnya sejak tahun 2016. BAZNAS sebagai Badan Amil Zakat Infaq dan Sedekah pernah melaporkan bahwa di tahun itu, angka kecenderungan pemakaian aplikasi online untuk membayar zakat tumbuh sebesar 12%. Tahun 2019 ini, angka tersebut diprediksi tumbuh sekitar 16%. Besar kemungkinan kenaikan angka pertumbuhan ini dipengaruhi secara signifikan oleh perilaku masyarakat yang sehari-harinya dikuasai oleh gadget, smartphone, dan media digital online lainnya. 

Menyadari preferensi masyarakat dalam menggunakan media digital ini, BAZNAS tampil dengan menghadirkan sejumlah platform. Dalam tubuh jam'iyah Nahdlatul Ulama, NUCARE-LAZISNU sebagai Lembaga Amil Zakat yang dikelola oleh warga nahdliyin, juga menghadirkan sejumlah platform untuk memenuhi ruang kosong dari pengguna media yang satu ini. 

Ditinjau dari sudut pandang sosiologi, sebenarnya ada beberapa karakter masyarakat yang saat ini mempengaruhi tingginya penggunaan e-zakat, antara lain: 

1. Masyarakat modern adalah masyarakat yang dipenuhi oleh hasrat ingin segalanya berlangsung cepat. The time is money (waktu adalah uang) menjadi karakter khas masyarakat ini. Kesibukan dan perhatiannya terhadap bidang pekerjaan yang digelutinya menjadikannya kurang efektif bila terlalu banyak melakukan gerak pindah tempat yang dipisahkan oleh jarak dan waktu. Bahkan, andaikan ada jembatan penghubung antara ruang, jarak dan waktu, jembatan itu akan dibeli oleh masyarakat modern. Nah, e-zakat dalam hal ini adalah jawaban "tepat guna" sebagai penghubung sekat ruang, jarak dan waktu itu.

2. Karakter masyarakat modern adalah karakter visual dan mesin. Visualisasi platform zakat yang menarik akan banyak mempengaruhi pola kecenderungan masyarakat dalam membayar zakat lewat aplikasi itu. Namanýa saja budaya instan, ingin segalanya berlangsung cepat, tanpa perlu menyeret waktu dan kesibukan lain yang dianggapnya sebagai bagian dari produktivitas.

3. Masyarakat modern merupakan masyarakat yang gemar belajar tanpa memandang perlunya dekat dengan seorang guru. Ruang tatap muka disatukan oleh media digital. Untuk itulah ruang pemasaran produk keagamaan terkadang memerlukan tempat yang bisa dengan cepat diakses mereka. Itulah sebabnya advertasi (proses pengiklanan) keberadaan Lembaga Amil Zakat (LAZ) dengan menawarkan tingkat penyaluran dan jaminan yang tinggi akan nilai syariahnya, akan lebih banyak diburu dibanding LAZ konvensional tanpa media. 

Ketiga alasan di atas secara tidak langsung menjadi satu tantangan tersendiri bagi LAZ. Mereka dipaksa untuk menyediakan struktur keamilan yang bisa menjawab kebutuhan tersebut dengan bekal media komunikasi dan digital. Karena bagaimanapun, zakat merupakan praktik ibadah sosial yang mewajibkan adanya akad ijab dan kabul. Hal ini berbeda dengan praktik muamalah lainnya seperti jual beli yang dalam beberapa segi, akad ijab dan kabul dapat dilakukan menurut 'urf (tradisi) yang berlaku. 

Menguak kedudukan provider e-zakat dalam hal ini penting dilakukan mengingat zakat dapat dipandang sebagai tidak sah bila: 

1. Disalurkan oleh pihak yang tidak memahami seluk beluk zakat, dan

2. Penyalurannya tidak sebagaimana keharusan syara'.

3. Zakat tersebut disalurkan di luar wilayah tempat muzakki  (orang yang mengeluarkan zakattinggal.

Misalnya, sejumlah provider e-zakat online menyediakan aplikasi pembayaran zakat fitrah. Pertanyaan yang seyogianya diantisipasi provider melalui amanah zakat fitrah ini adalah:

1. Kapan pihak provider memberi batasan waktu akhir dari pembayaran zakat? Karena bisa jadi, setelah deposito nasabah ditarik, ternyata masih ada muzakki lain yang masih turut membayar zakat fitrah secara online dengan aplikasi yang ditawarkan provider tersebut. Akibatnya, zakat muzakki terakhir tidak sah disebabkan tidak turut terambil oleh provider sebagai penyalur amanah. 

2. Kepada siapa saja zakat itu diberikan? Benarkah bahwa zakat sudah disampaikan kepada asnaf delapan atau sebagian di antaranya saja secara habis? 

3. Bila pihak provider menjadi wakil dari muzakki, sudahkah provider mengetahui nama dari masing-masing muzakki yang diwakilinya? Umumnya, sejauh pengamatan penulis, pihak provider hanya menyerahkan total dana zakat yang dikumpulkan dari muzakki kepada beberapa lembaga amil zakat infaq dan shadaqah saja tanpa turut menyertakan nama-nama muzakki-nya.

4. Dalam e-zakat, dana diserahkan dalam bentuk tunai. Pertanyaan yang harus turut disampaikan adalah apa standart tunai yang ditetapkan oleh Badan Zakat atau Lembaga Zakat tersebut? Apakah memakai makanan pokok ataukah mengikut standart harga gandum merah, gandum putih, kurma dan anggur sebagaimana ketentuan Madzhab Hanafi? 

5. Terakhir adalah di mana zakat tersebut disalurkan? Apakah di wilayah muzakki, ataukah di luar wilayah muzakki

Kelima masalah pokok ini menjadi mutlak harus disampaikan oleh provider e-zakat karena bagaimanapun mayoritas umat Islam Indonesia adalah mengikut madzhab Syafi'i. 

Demikian sekilas gambaran tentang seluk beluk e-zakat online yang sejak tahun 2016 sebenarnya sudah mulai diperkenalkan. Penting kiranya ada sebuah regulasi khusus yang mengatur hal tersebut, mengingat zakat merupakan muamalah yang spesial. Kesalahan dalam satu alur dapat berakibat pada sah atau tidak sahnya zakat. Jika tidak sah, maka kewajiban provider adalah mengganti zakatnya muzakki. Wallahu a'lam bish hawab.


Ustdaz Muhammad Syamsudin, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur

Selasa 4 Juni 2019 18:45 WIB
Zakat Fitri Bukan Zakat Fitrah
Zakat Fitri Bukan Zakat Fitrah

Kesalahan yang telah diterima sebagai kebenaran oleh masyarakat umum biasa disebut dengan salah kaprah. Memang, biasanya kesalahan semacam ini tidak terlalu subtansial. Tetapi jika berhubungan dengan masalah ibadah hendaknya segera diluruskan. Termasuk di antaranya adalah penyebutan zakat fitri dengan istilah zakat fitrah.

Zakat fitrah biasa digunakan dalam bahasa Indonesia untuk menunjukkan zakat bahan makanan pokok yang wajib ditunaikan orang Muslim setelah berpuasa Ramadhan hingga pagi shalat Idul Fitri. Seharusnya, istilah yang dipergunakan sesuai dengan teks hadits Rasulullah SAW adalah kata zakat fitri bukan zakat fitrah. Sebagaimana dalam tiga hadits berikut:

قال النبي صلى الله عليه وسلم صوم شهر رمضان معلق بين السماء والأرض ولايرفع الابزكاة الفطر

Nabi saw bersabda “puasa bulan Ramadhan digantungkan antara langit dan bumi, dan tidak akan diterima (dengan sempurna oleh Allah swt) kecuali dengan zakat fitri.

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر صاعا من تمر او صاعا من شعير على العبد والحر والذكر والأنثى والصغير والكبير من المسلمين وأمر بها ان تؤدى قبل خروج الناس الى الصلاة

Dari Ibnu Umar ra Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitri satu sha’ kurma, atau gandum bagi muslim yang hamba dan muslim yang merdeka laki-laki maupun perempuan, baik muslim anak-anak ataupun  orang tua. Dan hendaklah zakat fitrah ditunaikan sebelum orang-orang selesai mengerjakan halat id.

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر طهرة للصائم من اللغو والرفث طعمة للمساكين فمن اداها قبل الصلاة فهى زكاة مقبولة, ومن اداها بعد الصلاة فهى صدقة من الصدقات

Dari Ibnu Abbas ra. berkata: Rasulullah saw mewajibkan zakat fitri untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perbuatan yang tidak berguna dan ucapan kotor, serta untuk memberikan makanan orang miskin. Maka barang siapa mengeluarkan zakat sebelum shalat id maka itulah zakat fitrah yang terqabul, dan barang siapa yang memberika zakat setelah shalat id maka itu termasuk shadaqah.

Itulah tiga teks hadits Rasulullah SAW yang dengan jelas menggunakan kata "zakâtul fithri" atau zakat fitri. Begitu juga teks-teks dalam kitab dan referensi berbahasa Arab.

Penjabaran ini menjadi penting karena perbedaan penggunaan kedua istilah ini berimplikasi pada perbedaan pemahaman. Kata fitri dalam kalimat zakatul fitri bermakna zakat makanan. Karena makna kata fitri dalam bahasa Arab serumpun dengan ifthar, futhur, dan kata derivasi lainnya yaitu makan atau berbuka. Hal ini bisa dilihat dari hadits kedua terakhir yang menerangkan bahwa zakat fitri itu berupa satu sha’ kurma atau gandum. Mengapa kurma atau gandum, karena kurma atau gandum merupakan bahan makanan yang dapat digunakan untuk berbuka puasa atau difungsikan sebagai makanan di hari raya Idul Fitri.

Hal ini diperkuat dengan keterangan hadits ke tiga bahwa zakatul fitri thu’matan lil masakin (zakat fitri itu bertujuan untuk memberi makan orang yang miskin). Disinilah hakikat zakat fitri itu (yang kita kenal secara salah kaprah sebagai zakat fitrah), yaitu zakat yang fungsinya memberi (bahan) makanan kepada orang-orang yang berhak di hari raya. Sehingga pada 1 syawal tidak ada orang muslim yang tidak makan karena tidak memiliki bahan makanan, dan karena pada hari itu diharamkan berpuasa.

Oleh karena itulah hari raya setelah Ramadhan di sebut dengan ‘idul fitri yang secara bahasa dapat diartikan dengan kembali berbuka atau kembali bisa makan pagi, setelah satu bulan penuh umat muslim berpuasa Ramadhan.

Keterangan tersebut, sungguh berbeda dengan istilah zakat fitrah yang lazim dimaknai sebagai zakat untuk membersihkan diri umat Muslim setelah bulan Ramadhan. Meskipun pemaknaan ini tidak salah tetapi penggunaan makna ini terlalu jauh, pasalnya makna ini merupakan makna kedua yang melangkahi makna pertamanya sebagai zakat makanan'. Ini bisa dilihat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang menghubungkan kata fitrah dengan kesucian. Padahal dalam bahasa Arab tidak ada satu keterangan pun yang menghubungakan fitri dengan suci.

Demikianlah adanya bahasa yang berlaku di masyarakat kita, meskipun salah tetap saja digunakan, dan tidak masalah selama yang terjadi hanya salah kaprah bukan salah paham. Wallahu a'lam.


(Ulil Hadrawi)



::::

Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada 26 Juli 2014, pukul 10.00. Redaksi mengunggahnya ulang tanpa mengubah isi tulisan.

Selasa 4 Juni 2019 17:30 WIB
1 Sha, Berapa Liter Beras?
1 Sha, Berapa Liter Beras?
Satu sha disebut sebagai ukuran zakat fitrah. Sha adalah wadah yang digunakan untuk minum seperti gelas. Satu sha merupakan ukuran wajib zakat fitrah untuk zakat per individu yang didasarkan pada hadits riwayat Bukhari dan Muslim. Hadits itu dikutip sebagai berikut:

عَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: - فَرَضَ رَسُولُ اَللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - زَكَاةَ اَلْفِطْرِ, صَاعًا مِنْ تَمْرٍ, أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ: عَلَى اَلْعَبْدِ وَالْحُرِّ, وَالذَّكَرِ, وَالْأُنْثَى, وَالصَّغِيرِ, وَالْكَبِيرِ, مِنَ اَلْمُسْلِمِينَ, وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ اَلنَّاسِ إِلَى اَلصَّلَاةِ - مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Artinya, “Dari Ibnu Umar RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebanyak satu sha‘ kurma atau satu sha‘ gandum bagi setiap budak, orang merdeka, laki-laki, perempuan, anak-anak, dewasa dari kalangan Muslimin. Rasulullah SAW memerintahkan pembayarannya sebelum orang-orang keluar rumah untuk shalat Id,” (HR Bukhari dan Muslim).

Sha merupakan satuan takaran yang setara dengan empat mud. Sedangkan satu mud adalah besar cakupan penuh dua telapak tangan orang dewasa pada umumnya. Dengan demikian, satu sha memuat empat kali cakupan penuh dua telapak tangan orang dewasa sebagaimana pandangan Mazhab Maliki berikut ini.

وزكاة الفطر صاع (أربعة أمداد) والمد: حفنة ملء اليدين المتوسطتين

Artinya, “Zakat fitrah sebesar satu sha, (empat mud). Satu mud adalah cakupan penuh dua telapak tangan pada umumnya,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz II, halaman 910).

Ulama Mazhab Hanbali memiliki pandangan yang sama dengan pendapat Mazhab Maliki. Menurut Mazhab Hanbali, ukuran satu sha setara dengan empat mud. Satu mud merupakan cakupan penuh dua telapak tangan orang dewasa pada umumnya.

ومقدارها صاع عراقي وهو أربع حفنات بكفي رجل معتدل القامة؛ لأنه الذي أخرج به في عهده صلّى الله عليه وسلم

Artinya, “Ukuran zakat fitrah sebesar satu sha Iraq, yaitu empat cakupan penuh dua telapak tangan pria pada umumnya karena satu sha ini menjadi ukuran zakat yang dikeluarkan di zaman Rasulullah SAW,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz II, halaman 911).

Sha adalah ukuran takaran. Dengan demikian, ia tidak mudah untuk dikonversi ke dalam timbangan atau ukuran berat. Pasalnya, ukuran berat satu sha berbeda-beda di masing-masing daerah. Tetapi satu sha yang merupakan ukuran takaran tetap dapat dikonversi ke dalam ukuran berat atau timbangan melalui ritl dan gram.

Konversi ukuran dari satuan takaran ke ukuran berat ini melahirkan perbedaan pandangan ulama perihal besaran zakat fitrah berupa makanan pokok. Sedangkan konversi zakat fitrah dari makanan pokok ke dalam bentuk uang dalam Mazhab Hanafi juga melahirkan perbedaan besaran di masing-masing daerah.

Satu sha menurut Mazhab Hanafi setara dengan delapan ritl Iraq. Satu ritl Iraq setara dengan berat 130 dirham. Dalam ukuran gram, satu sha setara dengan 3.800 gram (3,8 kg). Sementara satu sha menurut Mazhab Hanbali setara dengan 2.751 gram (2,75 kg).

Adapun menurut Mazhab Syafi‘i, satu sha setara 685 5/7 dirham atau lima 1/3 ritl Baghdad. Mazhab Maliki memiliki pandangan yang sama dengan Mazhab Syafi‘i, satu sha setara 685 5/7 dirham atau lima 1/3 ritl Baghdad.

Ad-Daruquthni meriwayatkan hadits dari Imam Malik bin Anas bahwa sha yang digunakan Nabi Muhammad SAW berukuran lima 1/3 ritl Iraq, (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz II, halaman 911). Jika dikonversi ke dalam satuan berat, maka ukuran sha menurut Mazhab Syafi‘i setara  dengan 2751 gram (2,75 kg).

Jadi satu sha itu setara dengan:
1. 3,8 kg menurut Mazhab Hanafi.
2. 2,75 kg menurut Mazhab Maliki.
3. 2,75 kg menurut Mazhab Syafi’i.
4. 2,75 kg menurut Mazhab Hanbali.

Konversi ukuran dari satuan takaran ke ukuran berat ini melahirkan perbedaan pandangan ulama perihal besaran zakat fitrah berupa makanan pokok. Sedangkan konversi zakat fitrah dari berat makanan pokok ke dalam bentuk uang dalam Mazhab Hanafi juga melahirkan perbedaan besaran sesuai dengan makanan pokok yang ditimbang.

Kurma, kismis, gandum, atau beras dengan berat yang sama tentu menghasilkan besaran yang berbeda bila dinominalkan dalam bentuk rupiah. Sedangkan masyarakat Indonesia biasanya membayarkan zakat fitrah sebesar 2,5 kg atau 3,5 liter beras. Meski demikian, semua pendapat ini merupakan turunan dari kata “sha” yang disebutkan di dalam hadits di awal tulisan. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)