IMG-LOGO
Ubudiyah

Silaturahim via Online, Cukupkah?

Kamis 6 Juni 2019 18:0 WIB
Share:
Silaturahim via Online, Cukupkah?
Silaturahim atau menyambung tali kekerabatan tak diragukan lagi adalah ajaran agama dengan sejuta manfaat. Ketika tali asih tetap tersambung dengan berbagai pihak, maka hidup akan menjadi jauh lebih mudah dan indah. Anjuran silaturahim terdapat dalam banyak ayat al-Qur’an maupun hadits beserta sederet keutamaannya. Orang yang gemar melakukan silaturahim dalam Al-Qur’an tergolong sebagai salah satu kriteria Ulul Albâb (QS. ar-Ra’d: 21). 

Bila dahulu bersilaturahim biasanya dilakukan dengan bertemu secara langsung, maka perkembangan zaman tidak lagi mengharuskan demikian. Orang-orang di masa modern lebih sering bersilaturahim secara online via berbagai aplikasi media sosial. Selain simpel, cara ini juga jauh lebih murah. Tapi apakah hal semacam ini sudah cukup untuk disebut sebagai silaturrahim sehingga juga menghasilkan pahala yang sama?

Imam Zakariya al-Anshari menjelaskan tata cara silaturahim sebagai berikut:

 ـ (وَصِلَةُ الرَّحِمِ) أَيْ الْقَرَابَةِ (مَأْمُورٌ بِهَا) وَهِيَ فِعْلُك مَعَ قَرِيبِك مَا تُعَدُّ بِهِ وَاصِلًا غَيْرَ مُنَافِرٍ وَمُقَاطِعٍ لَهُ (وَتَكُونُ) صِلَتُهُمَا (بِالْمَالِ وَقَضَاءِ الْحَوَائِجِ وَالزِّيَارَةِ وَالْمُكَاتَبَةِ، وَالْمُرَاسَلَةِ بِالسَّلَامِ) وَنَحْوِهَا

“Menyambung tali rahim atau kekerabatan adalah diperintahkan, yakni tindakan Anda kepada kerabat Anda yang sekiranya dengan itu dianggap menyambung, tidak mengabaikan dan memutus. Caranya ada kalanya dengan memberi harta, menunaikan kebutuhannya, mengunjunginya, saling menyurati, saling berkirim salam dan lain sebagainya,” (Zakaria al-Anshari, Asna al-Mathâlib, II, 486).

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa silaturahim tak harus bertemu secara langsung, tetapi bisa juga dengan berkirim salam atau pesan. Dengan ini kita bisa menyimpulkan bahwa berkirim pesan melalui media sosial juga cukup memenuhi syarat untuk disebut sebagai silaturahim. Keterangan serupa itu juga disampaikan oleh Syeikh Muhammad Ramli dalam Syarh al-Minhâj (al-Ghurar al-Bahiyah, III, 393) dan Syeikh Zainudin al-Malibari (I’ânat at-Thalibîn, III, 182).

Namun demikian, silaturrahim via media online tidaklah sempurna sebab ada sesuatu yang tak bisa dilakukan ketika tidak berjumpa secara fisik, di antaranya adalah bersalaman. Nabi Muhamad ﷺ bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ، فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا

“Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu saling bersalaman, kecuali keduanya diampuni dosanya sebelum keduanya berpisah,” (HR. Abu Dawud).

Tentu saja pengampunan besar ini akan terlewat ketika kita mencukupkan diri bersilaturahim via internet. Selain itu, keakraban dan saling percaya akan lebih terjalin ketika bertatap muka secara langsung. Jadi, pertimbangkan untuk tetap bertemu secara fisik apabila kondisi memungkinkan.  Semoga bermanfaat.


Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja NU Center Jawa Timur.

Share:
Kamis 6 Juni 2019 21:30 WIB
Tiga Hikmah Pakai Baju Baru di Hari Raya
Tiga Hikmah Pakai Baju Baru di Hari Raya
Ilustrasi (via mawdoo3.com)

Menjelang hari raya Idul Fitri, orang disibukkan dengan berburu baju baru sesuai selera dan kondisi dompetnya. Seolah-oleh memakai baju baru di hari raya telah menjadi keharusan yang tidak boleh ditinggalkan. Dalam agamapun terdapat hadits, atsar, dan ijtihad ulama yang menganjurkannya. Salah satunya adalah hadits berikut ini:

عَنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ قَالَ: أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِى الْعِيدَيْنِ أَنْ نَلْبِسَ أَجْوَدَ مَا نَجِدُ 

Artinya, “Diriwayatkan dari Al-Hasan bin Ali RA, ia berkata, ‘Rasulullah SAW telah memerintahkan kami pada dua hari raya agar memakai pakaian terbaik yang kami temukan,’” (HR Al-Baihaqi dan Al-Hakim).

Hadits lain menceritakan sahabat Ibnu Umar RA yang mengenakan pakaian bagus di hari raya.

عَنْ نَافِعٍ : أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ يَلْبَسُ فِى الْعِيدَيْنِ أَحْسَنَ ثِيَابِهِ

Artinya, “Diriwayatkan dari Nafi’ bahwa Ibnu Umar RA memakai baju terbaiknya di dua hari raya,” (HR Al-Baihaqi dan Ibnu Abid Dunya dengan sanad shahih).

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى ... فَأُحِبُّ في الْعِيدَيْنِ أَنْ يَخْرُجَ بِأَحْسَنَ ما يَجِدُ من الثِّيَابِ 

Artinya, “Imam As-Syafi’i rahimahullahu ta’ala berkata, ‘… maka aku senang dalam dua hari raya orang hendaknya ke luar dengan baju terbaik yang ia temukan,’” (Lihat Muhammad bin Idris As-Syafi’i, Al-Umm, [Beirut, Darul Ma’rifah: 1393 H], juz I, halaman 248).

Kemudian hadits, atsar, dan ijtihad ulama yang menganjurkan memakai baju terbaik pada hari raya ini dimaknai sebagai anjuran untuk memakai baju baru sebagaimana dikatakan oleh pakar fiqih Maliki Syekh Ahmad bin Ghunaim An-Nafrawi (wafat 1126 H/1714 M), “Yang dimaksud dengan ‘baju baik’ (yang disunahkan) dalam hari raya adalah baju baru, meskipun berwarna hitam.” (Lihat Ahmad bin Ghunaim An-Nafrawi, Al-Fawakihud Dawani, [Tanpa keterangan tempat, Maktabah Ats-Tsaqafah Ad-Diniyyah: tanpa keterangan tahun], juz II, halaman 651).

Lalu apa hikmah di balik anjuran memakai baju baru pada saat hari raya? Setidaknya ada tiga hal: pertama sebagai wujud syukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan; kedua untuk mengagungkan hari raya; dan ketiga untuk mengagungkan malaikat yang hadir (di sekeliling manusia) pada hari raya.

Ulama menjelaskan:

وَمِنْ مَظَاهِرِ الشُّكْرِ لُبْسُ أَحْسَنِ الثِّيَابِ يَوْمَ الْفِطْرِ

Artinya, “Dan di antara ekspresi syukur (kepada Allah) adalah memakai pakaian terbaik pada hari raya Idul Fitri,” (Lihat Muhammad Thahir bin ‘Asyur, At-Tahrir wat Tanwir, [Tunis: Darut Tunisiyyah: tanpa catatan tahun], juz II, halaman 177).

Abu Sa’id Al-Khadimi mengatakan sebagai berikut:

إنَّمَا هُوَ لِتَعْظِيمِ تِلْكَ الْأَوْقَاتِ لَا لِتَحْسِينِ مَنْظَرِ النَّاسِ، أَوْ لِتَعْظِيمِ الْمَلَائِكَةِ الْحَاضِرِينَ فِي تِلْكَ الْأَوْقَاتِ.

Artinya, “Anjuran memakai baju bagus pada hari Jumat dan hari raya niscaya untuk mengagungkan waktu-waktu tersebut, bukan agar telihat baik dalam pandangan manusia; atau untuk mengagungkan malaikat yang hadir (di sekeliling manusia) pada waktu-waktu tersebut,” (Lihat Abu Sa’id Al-Khadimi, Bariqah Mahmadiyyah, juz II, halaman 440).

Inilah tiga hikmah dianjurkannya memakai baju baru di hari raya yang selayaknya dijaga dan diperhatikan, bukan karena alasan untuk pamer dan gagah-gagahan di hadapan orang. Wallahu a’lam.


Ustadz Ahmad Muntaha, Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail PWNU Jatim


::::

Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada 15 Juni 2018, pukul 11.00. Redaksi mengunggahnya ulang dengan sedikit penyuntingan.

Kamis 6 Juni 2019 18:30 WIB
Waspada Jebakan Setan di Musim Lebaran!
Waspada Jebakan Setan di Musim Lebaran!
Ramadhan, dengan berbagai amalan ketaatan di dalamnya, telah membentuk pribadi para hamba yang lebih bertakwa dari sebelumnya. Pada bulan Ramadhan setiap Muslim akan lebih berhati-hati dalam bertindak, sebisa mungkin tidak melakukan kesalahan agar puasa yang dilakukannya tak sia-sia kosong tanpa pahala.

Selama Ramadhan pula setiap Muslim seakan berlomba untuk sebaik-sebaiknya melaksanakan setiap perintah Allah. Mereka berusaha melaksanakan shalat tepat pada waktunya. Kesunnahan yang biasanya ditinggalkan kini dengan enteng mereka lakukan. Mulut yang sebelum Ramadhan sering lepas kontrol dengan banyaknya mengeluarkan ujaran kebencian, berita hoaks, cacian dan makian, selama Ramadhan ditahan untuk hanya mengatakan yang baik-baik saja.

Pun dengan tangan, yang sebelumnya begitu erat menggenggam hingga susah untuk mengulurkan tangan, selama Ramadhan tetiba begitu mudahnya terbuka memberikan bantuan pada sesama. Banyak amal ketakwaan terlaksanakan selama Ramadhan. Banyak insan terwujud bertakwa karena Ramadhan.

Setelah Ramadhan usai datanglah Syawal. Ditandai dengan sebuah perayaan kemenangan di satu dua hari bulan Syawal, dalam sebuah momen hari raya. Pada hari-hari ini banyak orang merayakannya dengan berkumpul bersama dengan banyak keluarga, makan makanan enak, minum minuman segar, berlibur ke tempat tamasya, dan lain sebagainya.

Pada saat perayaan hari kemenangan inilah seorang muslim dituntut untuk waspada. Jangan sampai ingar bingar perayaan nikmat kemenangan justru menjerumuskannya ke dalam jebakan setan yang menjadikannya kehilangan sikap dan sifat ketakwaan yang sebelumnya sebulan penuh telah ia bangun.

Bagaimana hal itu terjadi?

Sebagaimana diketahui kaprahnya orang merayakan hari raya tak lepas dari berbagai macam makanan dan minuman. Kiranya ini hal yang lumrah dan wajar. Hanya saja mesti bijak dalam menyikapi dan mengkonsumsinya. Bila tidak maka hari raya yang semestinya menjadi momen atas sebuah kemenangan yang mesti dipertahankan justru akan menjatuhkan kita kembali pada titik nol kekalahan. Kemenangan yang dibangun sebulan lamanya harus sirna dalam sehari perayaannya.

Setelah sebulan penuh kita berpuasa menahan lapar dan dahaga, bahkan ketika di malam hari yang semestinya diperbolehkan untuk makan dan minum sepuasnya pun tetap saja kita hanya makan dan minum sekedarnya, sering kita lihat atau bahkan kita lakukan sendiri satu perilaku di hari raya di mana seseorang makan dan minum sepuasnya tanpa batas. Orang Jawa mengatakan kemaruk. Mumpung sudah boleh makan dan minum, mumpung sedang banyak makanan enak, nafsu makan pun tak dikendalikan.

Perilaku seperti ini menjadi perangkap setan yang luar biasa ampuh untuk mempurukkan kembali seorang muslim dari kemenangannya. Setelah sebulan penuh setan dikekang dan tak bisa menggoda umat manusia, ia berputus asa atas terampuninya semua dosa di bulan Ramadhan. Ia merasa sia-sia berusaha menjadikan manusia sebagai temannya. Namun di hari raya, setelah setan kembali dilepas dari kekangannya, ia mendapati pintu masuk dan jalan yang terbuka lebar untuk kembali menjerumuskan umat manusia. Jalan dan pintu masuk itu adalah makanan. 

Para ulama menjelaskan kepada umat bahwa ada banyak pintu masuk setan ke dalam diri manusia. Satu di antara pintu-pintu masuk itu adalah makanan. Syekh Ihsan Jampes misalnya dalam kitab Sirajut Thalibin menuturkan:

ومن أبوابه العظيمة الشبع من الطعام وان كان حلالا صافيا لا شبهة فيه. فان الشبع يقوي الشهوات والشهوات أسلحة الشيطان

Artinya: “Termasuk pintu masuknya setan yang besar adalah kenyang dari makanan meskipun makanan itu halal dan bersih, tak ada keraguan syubhat di dalamnya. Karena kenyang dapat menguatkan syahwat dan syahwat dapat merupakan senjata setan.” (Syekh Ihsan Jampes, Sirajut Thalibin, Indonesia, Maktabah Dar Ihya Al-Kutub Al-Arabiyah, juz I, hal. 283).

Dengan hanya berbisik “mumpung sudah lebaran, makanlah sepuasnya” setan dapat menghancurkan kembali bangunan ketakwaan yang telah didirikan seorang muslim. Kemenangan yang diraih pada hari itu juga kembali lepas menjadi kekalahan.

Bagaimana bisa? Ketika seseorang dengan begitu semangat menyantap apa saja yang terhidang di depannya, perutnya kekenyangan. Di saat perut sarat dengan isi melemahlah semangat untuk beribadah. Di saat perutnya kenyang ia akan merasa berat dan mengantuk sehingga malas dan lemah melakukan amalan-amalan kebaikan yang sebelumnya begitu semangat ia lakukan di bulan Ramadhan. Karena kekenyangan membuatnya tak segera bangkit memenuhi panggilan azan. Karena kekenyangan ia tak lagi bersemangat melakukan amalan-amalan sunah yang sebulan sebelumnya rutin ia langgengkan.

Dalam sebuah dialog antara Iblis dengan Nabi Yahya ‘alaihissalam sempat Iblis menuturkan, “setiap kali engkau kenyang maka kami akan menjadikanmu merasa berat melakukan shalat dan mengingat Allah.”

Makan berlebihan tak hanya menjadikan seseorang malas beribadah dan mengingat Allah. Perut yang kenyang, apalagi kekenyangan, menjadikan pemiliknya menguat syahwatnya. Seorang yang kuat syahwatnya ia akan dengan mudah dijerumuskan oleh setan untuk melakukan tindakan-tindakan yang tak dibenarkan oleh agama. 

Maka selepas rampungnya Ramadhan tak jarang seseorang kembali pada perilaku-perilaku buruk baik berupa tindakan maupun ucapan. Perilaku merasa benar sendiri, tindakan mengintimidasi, mencaci maki, mengumbar kalimat kotor, membully, menebar berita hoax, memfitnah dan lain sebagainya sering kali kembali terulang setelah rampungnya Ramadhan baik di dunia maya maupun nyata.

Ya, ketakwaaan yang dibangun sebulan penuh, di hari pertama bulan Syawal yang semestinya makin meningkat kuat dan kokoh justru menjadi rapuh karena satu hal; makanan dan kekenyangan. Dan bila terbukanya pintu setan ini tak disadari sejak dini hingga efeknya terus berlanjut tak terhenti, bukan mustahil bila bangunan takwa selama Ramadhan tak hanya rapuh tapi pada akhirnya akan roboh.

Dalam keadaan demikian kemenangan beralih ke tangan setan. Kerja seharinya di awal bulan Syawal berbuah kekalahan umat manusia bertahun dan berabad lamanya. Yahya bin Mu’adz Ar-Razi, sebagaimana dikuti Al-Ghzali dalam Minhajul ‘Abidin, menuturkan; setan telah selesai bekerja sementara engkau masih sibuk dengan hasil kerjanya. Setan selalu melihatmu, sementara engkau tak melihatnya. Engkau melupakannya, sementara ia tak pernah melupakanmu. Dari nafsumu setan memiliki pembantu-pembantu untuk mengalahkan dirimu.

Selamat berhari raya, semoga ketakwaan terus terjaga. Mabruk lakum, insya Allah.

Wallahu a’lam. (Yazid Muttaqin)

::::

Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada 15 Juni 2018, pukul 07.00. Redaksi mengunggahnya ulang dengan sedikit penyuntingan.


Kamis 6 Juni 2019 13:0 WIB
Pentingnya Menyambung Tali Kekeluargaan di Hari Lebaran
Pentingnya Menyambung Tali Kekeluargaan di Hari Lebaran
Mengenali nasab (garis keturunan) itu sangat penting sebab memungkinkan terjalinnya terus-menerus tali persaudaraan. Hal ini dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu álaihi wasallam sebagaimana beliau sabdakan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari sebagai berikut:

اعرفوا أنسابكم تصلوا أرحامكم ، فإنه لا قرب لرحم إذا قطعت ، وإن كانت قريبة ، ولا بعد لها إذا وصلت وإن كانت بعيدة 

Artinya, “Kenalilah nasab-nasabmu, maka tali persaudaraanmu akan terus bersambung. Sesungguhnya jika tali persaudaraan terputus, maka hubungan itu menjadi jauh meskipun sebetulnya dekat. Sebaliknya tali persaudaraan itu menjadi dekat bilamana kamu terus menyambungnya sekalipun telah jauh hubungannya.” 

Baca juga:
Larangan Memutus Hubungan Kekeluargaan dalam Islam
Makna Silaturrahim dalam Sabda Nabi Muhammad
Tradisi ahlen, yakni pertemuan antar bani atau antar keluarga dalam trah tertentu di hari-hari Lebaran merupakan salah satu cara mengenalkan dan mengenali garis keturunan. Demikian pula tradisi saling berkunjung ke rumah sanak saudara yang memiliki hubungan nasab juga merupakan cara mengenalkan dan mengenali garis keturunan sekaligus menyambung tali persaudaraan agar tidak putus.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu álaihi wasallam telah dengan jelas mengisyaratkan bahwa sungguhpun suatu hubungan genealogis telah cukup jauh, tapi bisa dekat ketika jalinan silaturahim terus berlangsung. Dalam struktur silsilah Jawa generasi pertama disebut anak, generasi kedua putu, generasi ketiga buyut, generasi keempat canggah, generasi kelima wareng, generasi keenam udeg-udeg, generasi ketujuh gantung, generasi kedelapan siwur, generasi kesembilan debok bosok, dan generasi kesepuluh galih asem

Hubungan antarsesama generasi keenam (udeg-udeg) atau generasi ketujuh (gantung) misalnya, tentu sudah cukup jauh. Namun, hubungan itu bisa menjadi dekat apabila mereka saling mengenal garis keturunannya dan terus menerus menjalin silaturahim dengan baik. Sebaliknya sungguhpun dekat suatu hubungan genealogis, misal sesama generasi kedua (putu), hubungan mereka bisa jauh apabila sama-sama tidak saling menyadari garis keturunannya. 

Ketika di antara mereka yang sesama generasi kedua (putu) tersebut tidak terjalin silaturahim, maka potensi putusnya tali persaudaraan mereka cukup besar. Inilah yang sangat diwanti-wanti oleh Rasulullah agar jangan sampai terjadi pada umat beliau. 

Peringatan Rasulullah shallallahu álaihi wasallam tersebut penting untuk diperhatikan sebab dalam hadits yang lain beliau bersabda:
 
تعلموا من أنسابكم ما تصلون به أرحامكم ، فإن صلة الرحم محبة في الأهل مثراة في المال، منسأة في الأثر

Artinya, “Belajarlah dari nasab-nasabmu hal-hal yang mempererat persaudaraan, sesungguhnya mempererat persaudaraan menumbuhkan kecintaan terhadap sanak saudara, memperbanyak rejeki (harta), dan memperpanjang umur.” (HR. Tirmidzi)

Jadi menjalin silaturahim dengan sanak saudara yang memiliki hubungan nasab itu penting, terlebih di saat-saat Lebaran dimana terdapat banyak kesempatan karena merupakan hari-hari libur secara nasional. Tradisi pertemuan antar bani atau ahlen dan saling berkunjung ke rumah sanak saudara adalah salah satu contoh cara bagaimana kedua hadits di atas diamalkan. 

Di balik itu semua, ternyata terdapat banyak hikmah sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas, yakni: Pertama, menumbuhkan cinta di dalam internal sanak saudara yang memungkinkan terjadinya gotong royong atau saling menolong. Juga tidak menutup kemungkinan terjalinnya hubungan yang lebih dekat lagi, seperti perkawinan (dengan tetap memperhatikan ketentuan syariat). 

Kedua, memperbanyak rezeki (harta). Semua rejeki berasal dari Allah subhanu wata’ala karena Dia-lah Sang Pemberi Rejeki. Tetapi tanpa bersosialisasi dengan sesama manusia, rejeki sulit didapat sebab seringkali rejeki dihasilkan dengan berinteraksi dan komunikasi. Silaturahim dengan sanak saudara memperluas wilayah jangkauan rejeki.  

Ketiga, memperpanjang umur. Kalimat ini bisa bermakna harfiah, dan bisa pula bermakna majaz. Silaturahim dengan sanak saudara memperpanjang umur bisa berarti Allah akan memberi umur panjang seperti usia bisa mencapai lebih dari 70 tahun. Dalam makna majaz, hal ini bisa berarti seseorang mendapat banyak kesempatan berbuat kebaikan meski usianya sendiri relatif pendek sehingga amal kebaikannya setara dengan mereka yang berumur panjang. 

Itulah pentingnya ahlen dan saling berkunjung antar saudara di Hari Lebaran. Kedua tradisi ini hanyalah sebagian dari teknis atau cara bagaiamana kedua hadits di atas diamalkan. Persoalan adanya tuduhan bidáh dari pihak tertentu, tidak perlu kita cemaskan. Bukankah kita telah memahami bahwa kategori bidáh ada lima, yakni: haram, sunah, wajib, makruh, dan mubah sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Izzuddin Abdul Aziz bin Abdussalam As-Salami, dalam kitab Al-Qawaídu Al-Kubra, Al-Mausum bi Qawaidil Ahkam fi Ishlahil Anam, hal. 337. 


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.