IMG-LOGO
Trending Now:
Hikmah

Kisah Nabi Isa dan Babi yang Melintas

Ahad 9 Juni 2019 14:0 WIB
Share:
Kisah Nabi Isa dan Babi yang Melintas
Dalam kitab al-Shumt wa Âdâb al-Lisân, Imam Ibnu Abi Dunya memasukkan riwayat dari Imam Malik bin Anas radliyallahu ‘anhu tentang Nabi Isa ‘alaihissalam dan seekor babi. Berikut riwayatnya: 

حدثني الحسين بن علي بن يزيد أنبأنا عبد الله مسلمة، حدثنا مالك بن أنس رضي الله عنه قال: مرّ بعيسي ابن مريم عليه السلام خنزير، فقال: مُرَّ بسَلام، فقيل: يا روح الله، لهذا الخنزير تقول؟ قال: أَكْرَهُ أنْ أُعَوِّدَ لِسانِي علي الشَّرِّ

Al-Husein bin Ali bin Yazid bercerita, Abdullah Maslamah bercerita, Malik bin Anas radliyallahu ‘anhu bercerita kepada kami, ia berkata:

Isa bin Maryam ‘alaihissalam berpapasan dengan seekor babi, ia berkata: “Melintaslah dengan selamat (hati-hati).” 

Kemudian ia ditanya: “Wahai ruh Allah, untuk babi ini kau berucap (seperti itu)?”

Isa menjawab: “Aku tak ingin membiasakan lidahku (mengucapkan hal-hal) buruk.” (Imam Ibnu Abi Dunya, al-Shamt wa Âdâb al-Lisân, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Arabi, 1990, h. 176-177)

****

Dari sudut pandang “terapan”, ucapan Nabi Isa ‘alaihissalam adalah pelatihan yang harus dibiasakan. Dari mulai yang paling sederhana, sampai yang paling rumit. Pembiasaan itu ia tampilkan dalam sikapnya pada seekor babi. Ia menganjurkan agar babi yang berpapasan dengannya untuk berhati-hati. Ucapannya tersebut tidak dipahami oleh orang-orang yang mendampinginya, mereka bertanya (terjemah bebas): “Kenapa kau berucap seperti itu untuk seekor babi?” Nabi Isa menjawab: “Aku tak ingin membiasakan lidahku mengucapkan hal-hal buruk.” Dalam riwayat lain, Nabi Isa menjawab:

إِنّي أخافُ أَنْ أُعَوِّد لِسَاني النطقَ بالسُوء

“Sesungguhnya aku takut membiasakan lidahku berkata-kata dengan keburukan.” (Imam Muhammad al-Zarqani, Syarh al-Zarqânî ‘alâ Muwaththa’ al-Imâm Mâlik, Beirut: Dar al-Fikr, 2018, juz 4, h. 470)

Pembiasaan itu penting karena dapat menjadi norma “rasa” dan “tubuh”, yaitu kebiasaan yang telah mendarah-daging sehingga terasa asing ketika tidak melakukannya. Contohnya orang yang terbiasa shalat, di titik tertentu ia akan merasa tidak tenang ketika tidak melakukannya, karena rasa dan tubuhnya telah ternormakan oleh “pembiasaan” itu tadi. Namun, kita harus tetap hati-hati agar shalat kita tidak menjadi aktivitas yang kering spiritualitas. Jangan sampai shalat kita termasuk dalam shalatnya orang-orang yang celaka. Allah berfirman (QS. Al-Ma’un: 4-7):

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ، الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ، الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ، وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

“Maka kecelakaan untuk orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” 

Perumpamaan lainnya adalah praktisi beladiri. Mereka memiliki kelenturan dan respon yang sangat cepat. Tubuh mereka seperti detektor yang bisa mendeteksi setiap gerakan yang hendak menyerang mereka. Oleh sebab itu, pembiasaan dalam berkata baik, sebagai bagian dari akhlak yang baik (min khusnil adab), sangat dianjurkan untuk dilatih. Agar lisan kita terjaga dari ucapan-ucapan buruk yang menyinggung perasaan. Dengan latihan, kita bisa mengontrol lisan kita di saat marah, meski kita sangat ingin meluapkannya dengan kata-kata, kita bisa menahannya. Seorang penyair mengatakan:

تَعَوَّد الْخَيْرَ فَخَيْرُ عَادَةٍ # تَدْعو إلي الغِبْطَةِ وَالسَّعادَة

Biasakanlah kebaikan. Sebaik-baik kebiasaan adalah,
yang mendatangkan kesenangan dan kebahagiaan.

(Imam Abu Umar Ibnu ‘Abdi al-Bar, al-Istidzkâr, Kairo: Dar al-Wa’yi, 1993, juz 27, h. 311)

Syair tersebut merupakan lanjutan dari penjelasan Imam Ibnu ‘Abdi al-Bar tentang riwayat yang menceritakan Nabi Isa ‘alaihissalam dan seekor babi. Sebelumnya Imam Ibnu ‘Abdi al-Bar (368-463 H) berkomentar:

إنّما قيل ذلك لعيسي لأن الخنزير كثير الأذَي لبَنِي آدم في أموالهم من زروعهم وكرومهم, وكذلك نقول لعيسي: تقول لخنزير خيرًا؟ فقال: أكْرَهُ أن أُعَوِّدَ لِسانِي النُّطْقَ بِالسّوء

“Nabi Isa ditanya seperti itu karena sesungguhnya babi itu memberi banyak kerugian kepada bani Adam (manusia) dalam hal harta benda, yaitu (dalam) pertanian dan perkebunan mereka. Karena itu (seakan-akan) kita bertanya pada Isa: ‘Kau berucap baik kepada babi (yang sering merugikan kami)?’ Ia menjawab: ‘Aku tak ingin membiasakan lidahku berkata-kata dengan keburukan.” (Imam Abu Umar Ibnu ‘Abdi al-Bar, al-Istidzkâr, 1993, juz 27, h. 311)

Ini artinya kita harus menyingkirkan keburukan dari lidah kita. Dimulai dari berucap baik kepada makhluk Allah selain manusia seperti tumbuh-tumbuhan dan binatang, dan dilanjutkan dengan berucap baik kepada sesama manusia. Meski binatang atau manusia tersebut sering menyakiti kita. Karena latihan terbaik dalam menjaga hati adalah bersabar dan berbuat baik kepada orang yang paling kita benci, termasuk kepada binatang. 

Maka, pantas saja kita sering mendengar kiai-kiai kita terdahulu sangat berhati-hati memperlakukan binatang. Mereka tidak berani melintasi ayam atau binatang apapun yang sedang makan, bahkan rela mengambil jalan memutar yang lebih jauh. Jika dengan binatang saja mereka bisa sedemikian santun, apalagi dengan manusia.

Karena itu, di hari yang fitri ini, kita harus meluaskan maaf kita, mengujarkan kebaikan dan menjauhkan keburukan dari lisan kita. Kita harus memulai pembersihan lidah kita dari meminta maaf pada orang yang kita kenal dan mengenal kita, karena tidak mungkin selama bergaul tidak ada salah terbuat dan singgung terucap. Kita juga harus meminta maaf kepada orang yang mengenal kita tapi kita tidak mengenal mereka, karena bisa jadi kita tidak membalas sapaan mereka dan memberi senyum sebagai hak mereka.

Kita pun harus meminta maaf kepada orang yang kita kenal tapi mereka tak mengenal kita, bisa jadi kita pernah menggunjing mereka, membicarakan keburukan mereka tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan jangan lupa, kita juga harus meminta maaf kepada orang yang tidak kita kenal dan mereka pun tidak mengenal kita, bisa jadi kita pernah bermuka masam kepada mereka, menginjak kaki mereka tanpa sengaja, menyerobot antrean mereka dan lain sebagainya. 

Ya, memang sukar menemui mereka satu persatu, apalagi orang yang tidak kita kenal. Paling tidak kita berdoa kepada Allah agar diampuni segala kesalahan, dan memohon kepada Allah untuk meluaskan pintu maaf mereka. Tentu saja, sebelum itu, kita harus memaafkan mereka terlebih dahulu, baik orang yang kita kenal maupun orang yang tidak kita kenal. Dengan begitu, kita tidak terlalu malu untuk berdoa: “Ya Allah, luaskanlah pintu maaf bagi orang-orang yang pernah kusalahi, kusinggingi, dan kusakiti, terkhusus untuk orang-orang yang tak kukenali dan tak mengenalku. Karena aku tak berdaya memikirkan cara lain selain memohon kepada-Mu.”

Selamat hari raya Idul Fitri, mohon maaf atas segala salah, baik kesalahan yang tersengaja maupun tidak, dan kesalahan yang tertampak maupun tersembunyi. Wallahu a’lam bish shawwab...


Muhammad Afiq Zahara, alumnus PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen

Share:
Sabtu 8 Juni 2019 20:30 WIB
Mendapat Berkah al-Fatihah yang Multiguna
Mendapat Berkah al-Fatihah yang Multiguna
Al-Fâtihah itu multiguna, multifungsi. Setidaknya bisa diibaratkan kunci Inggris, simpel dan praktis. Dikatakan multiguna, karena al-Fâtihah adalah umm al-qur'ân dan umm al-kitâb (induk kitab suci Al-Qur’an), juga asâs al-qur'ân (fondasi Al-Qur’an), al-sab‘ al-matsânî (tujuh ayat yang dibaca berulang kali dalam setiap shalat), al-qur'ân al-'adhîm (surat yang mencakup tujuan Al-Qur’an, tauhid, nubuwwah, hari akhir, dan ibadah), al-syifâ' (obat), serta al-shalâh (shalat/doa). 

Terkait keluhuran al-Fâtihah ini, Syekh al-Shâwî al-Mâlikî dalam Hâsyiyât al-Shâwi ‘alâ Tafsir al-Jalâlain menyebutkan nama (sebutan) surat al-Fâtihah sebanyak 20 nama, bahkan Syekh Abu Dhiyâ’ Nūr al-Dîn Ibn ‘Alî al-Syibrâmilisî al-Qâhirî (w. 1087 H) dalam Hâsyiyat atas kitab Nihâyat al-Muhtâj karya Syihâb al-Dîn al-Ramlî, menyebutkan 30 nama. Nama-nama inilah yang menunjukkan betapa al-Fâtihah itu multiguna dan multifungsi.  

Al-Fâtihah itu terbagi kepada dua bagian besar: bagian Allah Ta’ala dan bagian manusia. Ayat al-Rahmân al-Rahîm hingga Mâliki Yaum al-Dîn adalah bagian Allah Ta’ala. Ayat iyyâka na'budu waiyyâka nasta'în, bagian awal ayat ini (iyyâka na'budu) adalah bagian/hak Allah Ta’ala—yang menjadi kewajiban atas manusia untuk menyembah dan beribadah kepada-Nya, dan sebagian ayatnya yang akhir (waiyyâka nasta'în) menjadi bagian/hak hamba (manusia), dan baginya apa saja kebaikan yang ia mohonkan.

Bagian ayat ihdinash shirâtha-l-mustaqîm dan seterusnya, khusus bagian manusia, terserah apa saja kebaikan dan kemanfaatan yang ia mohonkan kepada Allah Ta’ala. Poin penting ini berdasarkan hadits qudsi dalam riwayat Muslim, Ahmad, dan Ashâb al-Sunan al-Arba'ah dari Abu Hurairah r.a.

Jadi, al-Fâtihah itu multiguna, multi fungsi. Sungguhpun demikian, apakah kita sudah memahaminya dan mengamalkannya dengan sebaik-baiknya?

Sebagai bentuk tahadduts bin-ni'mah (menyampaikan anugerah nikmat Allah SWT) berkaitan dengan al-Fâtihah, yang saya rasakan berkahnya, saya ingin menyampaikannya, dengan harapan ada manfaatnya. Khusus mengaji surat al-Fâtihah saya telah menulis buku. Buku ini mulanya adalah naskah-naskah ngaji tafsir surat-surat pendek, tahun 2009-an di Mushalla Darussalam Kampung Pabuaran Sibang Kelurahan Pabuaran Kecamatan Karawaci Kota Tangerang Provinsi Banten. Saat menyampaikan materi ini, biasanya materi dibatasi satu atau dua halaman kertas A4 satu spasi, yang saya print out, terkadang difotokopi atau diprint untuk jamaah pengajian sekitar 15 hingga 20-an orang. Lantas sekitar tahun 2010 materi khusus tafsir surat al-Fâtihah saya buat draf buku, dilengkapi dengan penjelasan, disertai catatan kaki (foot note), yang akhirnya dapat dibukukan tahun 2015, dengan judul Mutiara Al-Fâtihah. 

Dan berkahnya al-Fâtihah tampak: mengantarkan saya bisa lanjut studi doktoral (S3) tahun 2012, bisa keliling Negeri Kinanah Egypt (Mesir) tahun 2015 selama satu bulan full, ziarah Kota Suci Madinah al-Munawarah dan Makkah al-Mukarramah dalam rangka umrah (Sya’ban 1439/2018), berlanjut dakwah sebulan Ramadhan dan Syawal (2018) di Hong Kong, dan saat ini di Uni Eropa (2019), safari dakwah Ramadhan di Netherlands (Belanda), Bremen Germany dan Brussels Belgium, serta mendapatkan pengalaman dan wawasan tentang budaya dan peradaban Eropa yang kaya, seperti Ghent, sebuah kota tua di Belgia. Ini tentu menjadi berkesan bagi saya, karena disadari bahwa saya hanyalah seorang anak kampung, dari keluarga kiai kampung, ayah saya bernama Kiai Muhammad Muslim Daroini, di pelosok kampung Nusantara nun jauh dari kota metropolitan, tepatnya di Pekon (Desa) Datarajan Kecamatan Ulubelu Kabupaten Tanggamus Lampung.

Di Negeri Para Nabi ini, saya bisa mengikuti daurah (pelatihan) dan bimbingan dengan para Syekh Al-Azhar Al-Syarîf. Antara lain, Syekh Shauqî 'Allâm Mufti Agung Dâr al-Iftâ' Mesir, Almarhum Prof. Dr. Taha Jabir Al-'Alwanî pakar Ushul Fiqh, dan Prof. Dr. Hasan Hanafi, mufakkir kontemporer.

Selain itu, tentu berwisata religi, dan menikmati budaya dan peradaban Mesir Kuno. Wisata religi (ziarah) di beberapa tempat di Cairo, berziarah antara lain, di maqbarah Imam As-Syâfi'î dan guru beliau Imam Al-Wakî', yang namanya begitu fenomenal dalam bait syair gubahannya, yang biasa dijadikan puji-pujian di Nusantara khususnya di pesantren-pesantren salafiyah. Bunyi syairnya:

شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعِ سُوْءَ حِفْظِيْ ~ فَأَرْشَدَنِيْ إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِيْ
وَأَخْبَرَنِيْ بِأَنَّ الْعِلْمَ نُوْرٌ ~ وَنُوْرُ اللّٰهِ لَا يُهْدَى لِلْعَاصِيْ

“Aku mengadu kepada Wakî' perihal buruknya hafalanku ~ Lantas ia membimbingku agar meninggalkan kemaksiatan.

Ia memberitahukan kepadaku bahwa ilmu itu cahaya ~ Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat.”

Tentu ziarah ke makam Sayyidina Husain bin Sayyidina 'Alî bin Abî Thâlib ra., yang terletak di dalam masjid Sayyidina Husain ini di area pasar Khan Khalili. Juga makam Sidi Ibn 'Athâ'illâh al-Sakandarî, Shâhib al-Hikam, pengarang kitab tasawuf al-Hikam yang sangat fenomenal.

Juga ziarah ke makam Imam al-Bushîrî Shâhib al-Burdah di Alexandria. Beliau yang mengarang Shalawat Burdah yang sangat masyhur. Saya mulai mengenal dan mengafal beberapa baitnya saat usia 13 tahun, tahun 1992, dan mengaji kitab Shalawat Burdah ini sekitar tahun 1994 di Pondok Pesantren Miftahul 'Ulum Liraf Dusun Sumberagung Desa Margodadi Kecamatan Perwakilan Semberjo Kabupaten Tanggamus (pemekaran Lampung Selatan). Pondok ini didirikan oleh Buyut kami dari jalur Ibu, yaitu Almaghfurlah Kiai Abdullah Hasan.

Di antara baitnya yang sangat masyhur itu:

هُوَ الْحَبِيْبُ الَّذِيْ تُرْجَى شَفَاعَتُهُ ~ لِكُلِّ هَوْلٍ مِنَ الْأَهْوَالِ مُقْتَحِمِ
دَعَا إِلَى اللّٰهِ فَالْمُسْتَمْسِكُوْنَ بِهِ ~ مُسْتَمْسِكُوْنَ بِحَبْلِ اللّٰهِ مُنْفَصِمِ
يَا رَبِّ بِالْمُصْطَفَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا ~ وَاغْفِرْ لَنَا مَا مَضَى يَا وَاسِعَ الْكَرَمِ

Dialah (Nabi Muhammad SAW) sang kekasih yang diharapkan syafaat (pertolongan)nya ~ untuk melepaskan semua derita dan kesulitan yang menerpa.

“Dia mengajak kepada Allah, maka orang-orang yang berpegang teguh kepadaNya~ mereka itulah orang-orang yang berpegang kepada tali (agama Islam) yang tak terputus.

Ya Tuhanku, dengan berwasilah kepada seorang Nabi pilihan (al-Mushthafâ) sampaikanlah pada tercapainya tujuan-tujuan kami ~ Dan berikanlah ampunan kepada kami terhadap dosa yang telah berlalu, duhai Yang Maha Luas Kemuliaan-Nya.”

Mengenai wisata budaya yang saya nikmati tentu saja satu dari sekian banyak keajaiban dunia, yaitu Piramida di Giza, dan patung Sphinx (badan singa berkepala manusia) yang tidak jauh dari piramida ini. Beberapa tempat bersejarah lainnya yang saya kunjungi, ada Masjid Ibn Thulūn, Masjid Al-Jâmi' al-Azhar, Masjid 'Amr bin al-'Âsh al-Shahabî (awal dibangun tahun 641 M), dan Greek Orthodox Church of St. George dalam term Arab, Kanîsah Mârjarjîs (Gereja Ortodok Yunani Mari Girgis) di kawasan Fushthâth Cairo. Tentu tak terlewatkan mengunjungi benteng terkenal, Benteng Shalâhuddîn al-Ayyūbî (didirikan antara tahun 1176 dan 1183 M) dan Masjid Ali Pasha yang indah yang berada di dalam benteng ini. Selain itu, juga mengunjungi Bibliotheca Alexandria atau Perpustakaan Iskandariyah, didirikan tahun 323 SM. Juga menikmati makan kurma langsung dari kebun kurma di Matruh perbatasan Libya, dan wisata safari (off road) di padang pasir Sahara di Siwa.

Dengan menggunakan kapal pesiar Nile Cruisse, saya bersama rombongan mengarungi Sungai Nail untuk menuju ke tempat-tempat peradaban dan pusat ibukota Mesir kuno zaman Firaun, yaitu Luxor, sekitar 500 km sebelah selatan Cairo ibukota Mesir. Di tempat ini hingga Aswan, di tepi Sungai Nil, saya menerawang dan membayangkan peradaban 3000 an tahun silam bahkan lebih. Banyak ma‘bad atau temple atau kuil (tempat peribadatan zaman Firaun) yang dikunjungi, antara lain Luxor Temple, Hatshepsut Temple, Kharnak Temple, Horus Temple, Kom Ombo Temple, dan Abu Simble Temple, di bagian depannya ada monumen raksasa Ramses (Firaun) II abad ke-13 SM., merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO, dan Wâdî al-Muluk (Lembah Raja-raja Firaun).

Tentu tak terlewatkan, saya bersama rombongan, menemui Firaun (Ramses II), sang raja Mesir yang sangat masyhur nan legendaris itu, yang matinya tenggelam di lautan saat mengejak Nabi Musa As. Tapi tentu yang kami temui adalah muminya, yang berada di Lantai 2 di Mathaf al-Qâhirah (Museum Cairo) Egypt.

Pengalaman keliling wisata peradaban Mesir Kuno ini pun kembali terasa takkala, pada 24 Ramadhan 1440 bertepatan dengan 29 Mei 2019, saya mengunjungi Rijksmuseum van Oudhehen (RMO) Rapenburg 28, 2311 EW Leiden, yang berdekatan dengan Universiteit Leiden Netherlands, sekitar 24 km dari Heeswijkplein Den Haag. Di salah satu lantai dasar dari tiga lantai museum ini terdapat khusus barang-barang bersejarah tinggi peradaban Mesir Kuno.

Di tahun 2019 ini, dalam momen Ramadhan, topik-topik yang sering saya sampaikan dalam pengajian dan dakwah tentu tentang Al-Fâtihah. Topik ini didasarkan pada buku Fikih al-Fâtihah: Panduan Lengkap Memahami Induk al-Qur'an, semula judulnya Mutiara al-Fâtihah.

Materi buku Fikih al-Fâtihah ini, saya sampaikan di berbagai kesempatan safari dakwah di Uni Eropa: di Wageningen Gerderlands NL, KBRI Den Haag NL, Masjid Al-Hikmah PS Indonesia Den Haag, Persatuan Pemuda Muslim Eropa (PPME) di Waalwijk NL, Keluarga Muslim Indonesia Bremen (KMIB) Bremen Germany, dan Keluarga Pengajian Muslim Indonesia (KPMI) di Aula KBRI Brussels Belgia. 

Sebagai catatan, berdasarkan berbagai sumber melalui penelusuran Google, jumlah Muslim di Uni Eropa, ditambah Swiss dan Norwegia (baik yang tergabung dalam Schengen Area Countries yang berjumlah 26 negara, maupun selainnya --seperti Inggris), sekitar 5 persen (26 juta jiwa) dari total populasi sekitar 742 juta jiwa. Tentu dari jumlah ini, Muslim di Eropa masih minoritas. Muslim terbanyak di Perancis (sekitar 6 juta atau 6% dari total populasi penduduknya 67 juta), Jerman (sekitar 5 juta jiwa, atau 5% dari total penduduknya 83 juta jiwa), Inggris (lebih dari 4 juta, lebih dari 6% total populasi 56 juta), Italia (sekitar 3 juta, 5% dari populasi penduduknya 61 juta), dan Belanda (lebih dari 1,2 juta atau sekitar 7% populasi penduduknya 17 juta), dan Spanyol (sekitar 1 juta, atau kurang dari 3% dari total populasinya 47 juta). Adapun Muslim di Belgia, di mana saya melakukan dakwah Ramadhan dan wisata budaya di negara ini, berjumlah sekitar 629 ribu atau sekitar 6% dari total populasi 10 juta jiwa. Jumlah Muslim di Eropa diprediksi akan melonjak tajam pada 2050. 

Tentu ini menjadi perhatian penting bagi kita, terutama umat Islam di Indonesia, sebagai warga mayoritas. Hal ini jelas, karena berkaitan dengan bagaimana ketentuan menerapkan ajaran Islam mengenai kewajiban mengonsumsi dan menggunakan produk makanan dan minuman serta barang-barang yang halal, dan menerapkan syariat ajaran Islam secara maksimal. Selain itu tentu kepentingan untuk memenuhi kebutuhan memperoleh pengetahuan dan pemahaman Islam yang baik, Islam yang moderat (Islam wasathî/Islam rahmatan lil ‘alamin) di Eropa. Mari senyum dan optimis bersama al-Fâtihah. Mari berwasilah al-Fâtihah mengayunkan langkah meraih berkah. Hadânallâh waiyyâkum ajma'în.


Ustadz Ahmad Ali MD, Pendakwah dan Kabid Kurikulum dan Akademik Pendidikan Dai Penggerak NU [PDPNU] Lembaga Dakwah PBNU

Sabtu 8 Juni 2019 18:0 WIB
Lebaran dan Peringatan Nabi tentang Orang-orang Bangkrut
Lebaran dan Peringatan Nabi tentang Orang-orang Bangkrut

Suatu ketika Nabi Muhammad SAW bertanya kepada shahabat-shahabatnya: “Tahukah kalian siapa itu yang disebut orang bangkrut?” Mereka pun menjawab, “Kalau di kita, orang bangkrut ialah orang yang sudah tak lagi punya uang dan barang.”

Ternyata Nabi Muhammad SAW mempunyai maksud lain. Terbukti beliau berkata: “Sesungguhnya orang bangkrut di antara umatku ialah yang datang di hari kiamat kelak dengan membawa pahala-pahala shalat, puasa, dan zakat; namun dalam pada itu sebelumnya pernah mencaci ini, menuduh itu, memakan harta ini, mengalirkan darah itu, dan memukul ini. Maka dari pahala-pahala kebaikannya, akan diambil dan diberikan kepada si ini dan si itu, kepada orang-orang yang yang telah ia lalimi. Jika pahala-pahala kebaikannya habis sebelum semua yang menjadi tanggungannya terhadap orang-orang dipenuhi, maka akan diambil dari keburukan-keburukan orang-orang itu dan ditimpakan kepadanya; kemudian dia pun dilemparkan ke neraka.” (Dari hadis shahih riwayat imam Muslim bersumber dari shahabat Abu Hurairah). Na’udzu billah min dzalik.
 
Dari pernyataan Nabi Muhammad SAW tersebut, kita menjadi tahu betapa pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama. Sering sekali kita menyaksikan orang yang mengaku umatnya Nabi Muhammad SAW seperti sangat mengandalkan amal ibadahnya bagi keselamatan dan kebahagiaannya di akhirat kelak. Orang ini begitu yakin akan selamat dari neraka dan akan masuk ke sorga karena dia merasa sudah melaksanakan sembahyang, puasa, zakat, dan haji. Bahkan sering kita melihat orang yang seperti itu kemudian memandang sebelah mata kepada orang lain yang dinilainya tidak setekun dia dalam beribadah.
 
Sedemikian yakinnya orang yang mengandalkan amal ibadah ritualnya itu, sehingga acap kali tidak menghiraukan orang lain dan tidak merasa perlu menjaga hubungan baik dengan sesama. Maka kita menyaksikan setiap hari seorang muslim dengan ringan melecehkan sesama saudaranya. Maka kita menyaksikan seorang haji –bahkan hampir setiap tahun naik haji—yang memperlakukan buruh-buruhnya secara tidak manusiawi. Menyaksikan orang yang rajin puasa tapi sekaligus rajin memakan harta rakyat. Kita menyaksikan orang yang rajin sembahyang sekaligus rajin merampas hak orang lain. Kita menyaksikan ustadz yang rajin mengkhotbahi orang dan sekaligus memprovokasi untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap sesama. Menyaksikan kelompok orang beragama tanpa merasa bersalah melakukan tindakan sewenang-wenang kepada hamba-hamba Allah karena merasa lebih benar dan lebih dekat kepadaNya. Dan seterusnya dan sebagainya.
 
Melihat sabda Nabi Muhammad SAW di atas, nyatalah bahwa meskipun orang pulang ke alam baka dengan membawa bekal banyak berupa ibadah-ibadah ritual, bisa bangkrut bila tidak menjaga hubungannya dengan sesama. Ketika di dunia banyak menyakiti dan merampas hak orang.
 
Maka sungguh bijaksana leluhur kita yang mentradisikan adanya halal-bi-halal setelah ritual puasa Ramadhan. Dengan puasa dan shalat malam di bulan Ramadhan, diharapkan dosa-dosa yang langsung terhadap Allah, telah diampuni sesuai sabda Rasulullah SAW, “Man shâma Ramadhâna îmânan waihtisâban ghufira lahu mâ taqaddama min dzanbihi.” Barangsiapa puasa Ramadhan karena iman dan mencari pahala Allah, maka akan diampuni dosanya yang sudah-sudah. “Man qâma Ramadhâna…” Barangsiapa mendirikan ibadah di bulan Ramadhan karena iman dan mencari pahala Allah, maka akan diampuni dosanya yang sudah-sudah.
 
Setelah itu untuk menyempurnakan kefitrian kita sebagai manusia, ditradisikanlah saling bersilaturahmi dengan tujuan utama untuk saling memaafkan dan saling menghalalkan. Halal-bi-halal. Jangan sampai kesalahan-kesalahan terhadap sesama manusia kelak menjadi ganjalan dan menyita modal amal baik kita. Dengan demikian kita benar-benar lebaran, lepas dari ganjalan-ganjalan dan terbebaskan dari dosa-dosa baik yang langsung terhadap Tuhan maupun yang terhadap sesama hamba.
 
Sayangnya, di zaman modern ini, tradisi mulia lebaran dan halal-bi-halal tersebut sudah semakin terkikis maknanya. Upacara ‘mudik’ yang terus berlangsung pun, umumnya lebih merupakan ritual kangen-kangenan antarkerabat sendiri. Tradisi ‘open house’ juga lebih merupakan kunjungan silaturahmi seremonial bawahan kepada atasan. Tidak ada atau sudah jarang ada silaturahmi seperti dulu yang secara khusus berniat melebur kesalahan dan mencari kehalalan tanggungan yang terlanjur diperbuat terhadap sesama.


Oleh KH Ahmad Mustofa Bisri. Tulisan ini pernah dipubikasikan melalui akun Facebook pribadinya pada 1 September 2011 dengan judul “Lebaran”


::::::::::

Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada 25 Juni 2017, pukul 17.00. Redaksi mengunggahnya ulang tanpa mengubah isi tulisan.  

Sabtu 8 Juni 2019 12:0 WIB
Cerita Al-Qur'an tentang Kejadian-kejadian Ajaib oleh Selain Nabi
Cerita Al-Qur'an tentang Kejadian-kejadian Ajaib oleh Selain Nabi
Karamah adalah suatu pemberian Allah subhanahu wa ta’ala atas kejadian luar biasa (khariq al-‘âdah) yang diberikan kepada wali atau kekasih Allah. Eksistensi karamah diakui secara sepakat oleh empat mazhab. Ada beragam dalil Al-Qur’an yang menunjukkan bahwa kejadian di luar kebiasaan memang terjadi dan tidak hanya dianugerahkan kepada para nabi saja. 

Ada beberapa contoh yang bisa dilihat. Di antaranya adalah kisah ibunda Nabi Isa yang bernama Maryam. Maryam bukanlah profil seorang nabi. Sudah semestinya tidak pernah ada nabi dari kaum hawa. Meski demikian, Maryam yang tidak nabi ternyata juga mendapat keistimewaan dan mengalami kejadian di luar kewajaran.

Sayyidah Maryam mendapatkan kiriman makanan dari surga melalui Malaikat Jibril yang dikirimkan langsung ke kamar tempat di mana Maryam biasa melaksanakan ibadah (mihrâb), sampai-sampai Nabi Zakaria saat memasuki ruangan tersebut merasa heran: bagaimana bisa buah-buahan yang biasanya berbuah di satu musim kemarau saja atau musim hujan saja hadir dalam satu waktu, juga padahal tidak ada seorang pun yang memasuki tempat ibadah Maryam?

Kejadian ini disebutkan dalam Al-Qur’an: 

كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا قَالَ يَامَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللهِ

Artinya: “Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah.” (QS Ali Imran: 37) 

Cerita ashâbul kahfi atau yang berarti para penghuni goa merupakan salah satu bukti lain bahwa karamah diceritakan dalam Al-Qur’an, persisnya pada Surat Al-Kahfi. Dalam kisahnya, ada tujuh orang pemuda yang lari dari kejaran raja zalim bernama Dikyanus kemudian mereka tidur di dalam sebuah goa selama 309 tahun lamanya. Selain itu, mereka dikisahkan bisa berbincang-bincang dengan anjing yang menyertai mereka. Tentu hal yang seperti ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan atas kehendak Allah subhanahu wa ta’ala

Ashif bin Barkhiyya adalah salah satu orang shalih, bukan nabi. Ia hidup di masa Nabi Sulaiman. Ashif pernah diberi kemampuan luar biasa dari Allah subhanahu wa ta’ala yaitu saat Nabi Sulaiman menawarkan kepada masyarakatnya untuk memindahkan singgasana Balqis. Jin Ifrit mengaku, ia mampu memindahkan singgasana yang dimaksud ke hadapan Sulaiman sebelum majelis yang sedang berlangsung dari pagi hingga siang tersebut bubar, tapi Ashif sanggup memindahkan singgasana lebih cepat dari itu. Kira-kira seumpama pandangan diarahkan ke atas lalu berpindah pandangan, singgasana sudah tiba-tiba hadir  atas kuasa Allah subhanahu wa ta’ala.  Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ 

Artinya: “Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia". (QS An-Naml: 40) 

Karamah, selain dalam Al-Qur’an juga disebutkan dalam cerita para sahabat. Di antaranya adalah cerita Sayyidina Umar. Dalam sebuah khutbah Jumat yang disampaikan Umar, tiba-tiba Umar mengatakan “Wahai Pasukan, hati-hati, hindari gunung itu, waspadalah!” Di waktu yang sama persis, pasukan perang yang sedang berada di gunung pada negara yang jauh di sana mendengar peringatan Umar.

Hal ini menunjukkan dua karamah Umar. Pertama, Umar tahu posisi pasukan dan musuh yang tidak kasat mata. Kedua, suara Umar yang secara normal hanya terdengar di dalam masjid atau orang-orang yang berada tidak jauh darinya, namun kali ini suaranya bisa tembus melesat sangat jauh antarnegara. Bukankah ini yang dinamakan karamah?

Yang perlu menjadi catatan penting, kejadian luar biasa yang dimaksud di atas adalah kejadian yang tidak lazim. Kalau membahas antara biasa dan luar biasa, semua ciptaan Allah adalah luar biasa. Hanya saja karena biasa dilihat orang, maka banyak yang menganggap menjadi biasa. Kita tetap harus meyakini itu luar biasa. 

Allah menciptakan hujan atas segala keunikan yang luar biasa hebat. Namun, karena kita biasa menyaksikan, kita pun mudah menganggap itu adalah hal biasa. Begitu pula kita menyaksikan Allah tidak malu membuat nyamuk sebagai perumpamaan. Bagaimana rumitnya ciptaan bernama nyamuk: detail lambung, usus, hingga organ-organ dengan ukuran yang sukar dijangkau indra manusia. Dalam ususnya pun, ada bakteri pengurai makanan yang kecilnya seberapa, apakah itu bukan kerumitan yang luar biasa? Tapi karena kita biasa menyaksikan dan kurang meneliti secara mendalam, maka kita akan menganggap itu adalah hal yang biasa. 

Sekali lagi, mu’jizat, karamah atau kejadian di luar itu adalah ciptaan Allah yang luar biasa. Namun, perlu pula dicatat bahwa kejadian-kejadian “biasa” di sekitar kita pun sebenarnya luar biasa. Hal-hal itu terlihat “tidak biasa” karena kesadaran kita tentang keluarbiasaan di baliknya belum kita sepenuhnya kita dapatkan. Tak ada ciptaan Allah yang tidak luar biasa, tidak ajaib, bagi orang-orang yang mau merenunginya dengan seksama. Wallahu a'lam.


Ustadz Ahmad Mundzir, pengajar di Pesantren Raudhatul Quran an-Nasimiyyah, Semarang