IMG-LOGO
Hikmah

Ali Zainal Abidin, Najis Lalat, dan Adab kepada Allah

Rabu 12 Juni 2019 9:0 WIB
Share:
Ali Zainal Abidin, Najis Lalat, dan Adab kepada Allah
Dalam kitab Tanbîh al-Mughtarrin, Imam Abdul Wahhab al-Sya’rani mencatat kisah Sayyidina Ali Zainal Abidin dan anaknya:

وقد بلغنا أن الإمام زين العابدين رضي الله عنه قال لولده: اتخذ لي ثوبا البسه عند قضاء الحاجة وأنزعه وقت شروعي في الصلاة فإني رأيت الذباب يجلس علي النجاسة ثم يقع علي ثوبي, فقال له ولده: إنه لم يكن لرسول الله صلي الله عليه وسلم إلا ثوب واحد لصلاته وخلائه, فرجع الإمام عما كان عزم علي فعله.

Telah sampai kepada kita kabar bahwa Imam Zainal Abidin radliyallahu ‘anhu berkata kepada anaknya:

“Ambilkan baju untukku yang telah kupakai ketika buang hajat dan kulepas ketika hendak shalat, karena aku melihat lalat yang hinggap di atas najis kemudian hinggap di bajuku.”

Anaknya berkata pada Imam Zainal Abidin: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya memiliki satu baju yang dipakainya untuk shalat dan ke toilet.”

Lalu Imam Zainal Abidin mengurungkan keinginannya setelah mendengar perkataan anaknya. (Imam Abdul Wahhab al-Sya’rani, Tanbîh al-Mughtarrin, Kairo: al-Maktabah al-Taufiqiyah, tt, hlm 23)

*****

Imam Abdul Wahhab al-Sya’rani memandang riwayat di atas tidak bisa dijadikan dalil pelarangan membedakan pakaian untuk buang hajat dan shalat. Menurutnya, penukilan kaidah yang benar bukan karena Rasulullah tidak melakukannya, tapi “ada” atau “tidak”nya lalat (terkena najis) yang hinggap di pakaian yang hendak dipakai untuk shalat. Imam al-Sya’rani berkata:

المنقول أن رسول الله صلي الله عليه وسلم—لم يكن الذباب ينزل علي ثوبه ولا علي بدنه, فلا يصلح ما ذكر دليلا

“Penukilan yang benar adalah bahwa sesunggunya Rasulullah Saw—tidak ada lalat yang hinggap di bajunya, dan tidak pula hinggap di tubuhnya, maka tidak tepat menjadikan riwayat di atas sebagai dalil.” (Imam Abdul Wahhab al-Sya’rani, Tanbîh al-Mughtarrin, hlm 24)

Jadi bukan soal boleh atau tidaknya, tapi soal ada-tidaknya lalat yang terkena najis hinggap di baju Rasulullah. Jika lalat yang terkena najis hinggap di baju Rasulullah, tentunya Rasul akan mengganti bajunya ketika hendak shalat.

Di sisi lain, Rasulullah adalah sumber keteladanan. Pemberi contoh untuk semua orang, dan tidak semua orang berkeadaan sama. Pasti ada yang membedakannya satu sama lainnya. Ada yang tinggal di daerah kurang air; ada yang di daerah melimpah air; ada yang di daerah dingin; ada yang di daerah panas, dan lain sebagainya. Belum lagi tingkat keilmuan dan kejiwaan yang berbeda-beda. Ada yang bodoh; ada yang pintar; ada yang tekun; ada yang agak malas, dan setersunya. 

Sebagai suri tauladan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi contoh untuk semua kalangan dari berbagai keadaan. Beliau menjadi contoh untuk orang yang baru belajar agama; menjadi contoh untuk orang yang sedang menetapi istiqamah; menjadi contoh untuk orang yang pemalu; menjadi contoh untuk orang yang mudah marah; menjadi contoh untuk orang kaya; menjadi contoh untuk orang miskin; dan seterusnya. Dalam kasus di atas, dengan tidak memakai baju khusus untuk shalat dan buang hajat, bisa jadi Rasulullah tidak ingin memberatkan orang kurang mampu yang hanya memiliki beberapa potong baju saja, sehingga pengamalan Islam dapat diakses oleh semua kalangan, mulai dari yang baru bertobat sampai yang sedang menjalani tingkatan ihsan; dari yang masih bolong-bolong shalatnya sampai yang semua shalat sunnah dikerjakan.

Karena itu, Rasulullah mengamalkan semua rukhshah yang ditetapkan Allah kepada umatnya; berbuka puasa dan menjama’/mengqashar shalat ketika dalam perjalanan, shalat di atas kendaraan, dan lain sebagainya. Karena beliau adalah contoh untuk semua manusia dari berbagai kalangan keadaan.

Kembali ke soal pakaian khusus untuk shalat. Di paragraf berikutnya, Imam al-Sya’rani mencatat sebuah riwayat tentang Imam Abu Yazid al-Busthami yang memiliki pakain khusus untuk shalat dan buang hajat. Baginya, hal itu bukan bid’ah karena tidak menyalahi syariat sama sekali, apalagi dihukumi haram. Ia memandangnya sebagai perwujudan adab kepada Allah, tentu disesuaikan dengan kemampuan dan keadaan. Ia menjelaskan:

وإنما ذلك من باب الأدب أن لا يكون ثوب الخلاء هو ثوب الصلاة, نظير ما قالوا في تحريم استقبال القبلة واستدبارها في الغائط

“Hal itu (yang dilakukan Imam Abu Yazid) termasuk dalam bab adab, yaitu agar pakaian yang dikenakan ketika shalat bukan pakaian yang dikenakan ketika di toilet. Dasar argumentasinya berdasarkan pendapat ulama tentang haramnya buang hajat menghadap kiblat dan membelakanginya.” (Imam Abdul Wahhab al-Sya’rani, Tanbîh al-Mughtarrin, hlm 24)

Dengan kata lain, larangan buang air menghadap kiblat atau membelakanginya, dibawa ke wilayah adab (akhlak) yang lebih luas, yaitu dalam berpakaian juga. Bagi mereka, orang-orang yang selalu menjaga hatinya dengan mengingat Allah, adab kepada-Nya harus lebih didahulukan. Bahkan meludah ke arah kiblat saja mereka tidak akan berani. Karena mereka sadar bahwa Allah selalu mengawasi mereka, kapanpun, dimana pun dan dalam keadaan apapun. Contohnya Imam Abu Hanifah yang sepanjang hidupnya tidak berani menyelonjorkan kakinya, baik di saat ramai (banyak orang) maupun sendirian karena dipandang tidak beradab. Untuk mengetahui lebih lanjut bisa dibaca di tulisan sebelumnya, “Imam Abu Hanifah dan Adab di Saat Sunyi.”

Dari penjelasan di atas, kita bisa pahami bahwa penetapan hukum agama tidak semudah membaca terjemahan ayat dan hadits, begitu pun dalam hal pelarangannya. Dibutuhkan kajian komprehensif yang mendalam. Misalnya kasus di atas, urungnya Imam Ali Zainal Abidin memakai pakaian yang berbeda tidak bisa diartikan sebagai persetujuannya atas perkataan anaknya dan menjadi dalil atas pelarangannya. Ini masih bicara soal teks, belum masuk dalam konteks dan penelitian sanadnya.

Intinya, kita jangan berhenti belajar. Karena belajar sangat penting untuk meluaskan cakrawala berpikir kita. Jangan sampai kita gemar menyalahkan hal-hal yang belum kita tahu atau kuasai ilmunya. Rabbi zidnî ‘ilma war zuqnî fahma. Amin.

Wallahu a’lam bish shawwab...


Muhammad Afiq Zahara, alumnus Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.



Share:
Rabu 12 Juni 2019 16:0 WIB
Kisah Mualaf dan Rezeki Langit
Kisah Mualaf dan Rezeki Langit
Ilustrasi (incarosenaho.com)
Dua kakak beradik Majusi (penyembah api), kecewa dengan api yang mereka sembah. Pasalnya, waktu dites, api itu tidak jadi dingin, tapi malah membakar jemari si adik. Padahal sudah mereka sembah bertahun-tahun.

Di tengah galau bimbang mereka, keduanya mendengar tentang Islam. Dan di daerah nun jauh di sana, katanya, ada salah satu orang ampuh yang menyebarkan agama Islam bernama Malik bin Dinar.

Kakak beradik itu mantap berangkat ke majelis Malik bin Dinar untuk mengenal Islam. Namun, baru pertengahan jalan sang kakak surut langkah, dengan alasan khawatir cacian keluarga dan tetangganya. Sedang sang adik tetap berjalan membawa serta istri dan anaknya.

Sesampai di majelis Syekh Malik bin Dinar, keluarga kecil itu mendengarkan pengajian sampai usai. Setelahnya, baru menyampaikan kisah dan tujuannya.

Langsung, hadirin yang belum bubar menangis berjamaah! Terharu ada Majusi yang menyembah api puluhan tahun masuk Islam.

"Nantilah sebentar, jangan beranjak pergi dulu," rayu Syekh Malik bin Dinar, "Tunggulah sebentar, kami akan mengumpulkan sedikit uang untuk bekal kalian sekeluarga."

"Maaf, kami tidak ingin menjual agama ini dengan uang!" jawab mualaf itu tegas, lalu ia pamit meninggalkan majelis.

Kemudian keluarga kecil itu meninggalkan majelis Malik bin Dinar dan memasuki rumah kosong hampir roboh yang mereka temukan sebagai ganti rumah asri yang mereka tinggalkan nun jauh di sana.

Sesampai di rumah, si istri meminta:

"Yah, cobalah Ayah mencari pekerjaan di pasar, dan nanti, belilah dengan uang hasil kerjamu, sesuatu yang bisa kami makan."

Sang suami mengiyakan, lalu pergi ke pasar menawarkan tenaganya. Namun nahas, orang sebanyak itu, tidak ada satu pun yang mau menggunakan tenaganya. 

"Ah, bagaimana kalau aku bekerja pada Allah saja?" batinnya ditengah deraan putus asa.

Lalu, ia melangkahkan kaki menuju masjid, mengerjakan shalat berjam-jam hingga malam. Kemudian pulang dengan tangan hampa.

"Hari ini, kau tidak dapat apa-apa?" tanya sang istri setelah melihat lesu pada wajah suaminya.

"Hai, sayangku. Hari ini aku bekerja kepada Allah yang menguasai segenap kerajaan. Tapi Ia belum memberikan ongkos, mungkin besok akan membayarnya."

Dan keluarga kecil itu menahan lapar dalam kedinginan malam yang menusuk.

Keesokan harinya, dengan semangat tinggi, sang suami mengulangi apa yang dilakukan kemarin, yakni ke pasar dulu, kalau tidak ada yang menggunakan tenaganya baru ke Masjid untuk "berdagang" kepada Allah sampai malam.

Tapi, lagi-lagi hasilnya nihil. Pulang malam tidak membawa apa-apa. Jadilah keluarga itu hanya minum air selama dua hari, tanpa makanan.

Di hari ketiga, yang kebetulan hari Jumat, ia mengulangi aktivitasnya ke pasar. Lemas dia, sebab hari itupun tidak ada orang yang mempekejakannya. Padahal dua perut yang menunggu di rumah sudah menjerit kelaparan.

Dengan langkah gontai, ia menuju masjid, wudhu, shalat dua rakaat, lalu mengangkat tinggi-tinggi kedua tangannya:

"Ya, Tuhanku. O, Sayyidi. Wahai Maulaya. Engkau telah memuliakanku dengan mengenal agama Islam. Memahkotaiku dengan mahkota Islam. Menunjukkanku dengan mahkota hidayah. Demi agama yang Kau-rezekikan padaku dan dengan kemuliaan hari mulia yang Kau katakan berderajat agung, yakni hari Jumah. O, Tuhanku. Aku memohon kepada-Mu. Hilangkan himpitan nafkah keluargaku ini dari dada. Berilah hamba rezeki yang tiada disangka. Aku, O, Allah! Malu pada keluargaku. Aku takut, karena baru masuknya Islam, hati mereka akan berubah!"

Lalu dia meneruskan shalat sampai malam.

Di lain tempat di waktu yang sama. Tiba-tiba rumah reyot lelaki pendo'a itu diketuk orang. Setelah dibukakan oleh sang Istri. Ternyata, di depan pintu, berdiri lelaki rupawan luar biasa dengan membawa bejana emas, ditutupi kain bersulam emas, dan di dalamnya juga berisi emas seribu Dinar!

"Ini adalah upah suamimu," kata lelaki tampan itu pada istri orang yang sedang shalat di Masjid, "Katakan padanya, kalau ini baru ongkos dua hari kerjanya. Kalau hari ini dia semakin giat, maka kami akan menambahkan ongkos khusus, di hari Jumat yang istimewa ini,"

Setelah lelaki tampan itu pergi, sang istri bergegas mengambil satu emas untuk ditukarkan dengan mata uang yang terlaku di tempat penukaran. Ganti pemilik toko penukaran mata uang yang beragama Nasrani terlongong bingung dan takjub. "Ini, kualitas emas yang di bumi tidak ada! Pasti ini dari akhirat!" batinnya. Apalagi setelah dia bertanya dan dikisahkan bagaimana emas itu bisa didapatkan. Hatinya semakin mantap lalu masuk Islam. Subhanallah.

Ketika sang suami pulang dengan tangan hampa. Dalam keputusasaannya. Ia mengambil debu di pinggir jalan, membungkusnya dengan sapu tangannya. Angannya, "Kalau istriku bertanya apa isinya. Akan kujawab tepung!".

Namun ketika memasuki pelataran rumah, ia takjub dan terheran-heran. Rumahnya jadi rajin, dengan berbagai macam hiasan dan makanan lezat. Apalagi sang istri menyongsong bahagia. 

Melewati pintu, bungkusan bututnya ia letakkan di pinggir. Lalu bertanya kepada sang istri apa yang terjadi. Setelah tahu, ia langsung sujud syukur. Alhamdulillaahh...

Beberapa saat kemudian.

"Eh, Yah? Bungkusan itu isinya apa?"

"Entahlah, jangan kau tanya aku," jawab sang suami sambil mengalihkan pandangan matanya.

Tidak dijawab, malah membuat penasaran istrinya yang lalu mengambil bungkusan itu.

"Alhamdulillaah... isinya tepung, Yah,"

"Apa? Alhamdulillaah..."

Lalu dia pun sujud syukur kembali.


(Dialihbahasakan H. Muhammad Aminuddin Nuruddin Qosim, Tegalsari, Banyuwangi dari kitab al-Ushfuriyah, halaman 5-6).

Selasa 11 Juni 2019 19:30 WIB
Semua Bayi Lahir Menangis kecuali Nabi Isa dan Ibunya, Mengapa?
Semua Bayi Lahir Menangis kecuali Nabi Isa dan Ibunya, Mengapa?
Setiap bayi lahir menangis. Jika tidak, hal itu bisa jadi tanda kematiannya atau masalah lainnya. Namun hal seperti ini tidak terjadi pada diri Nabi Isa dan ibunya Siti Maryam alaihima salam. Keduanya lahir ke dunia ini tanpa menangis. Mengapa?

Ada dua perspektif untuk menjelaskan mengapa semua bayi lahir menangis, yakni perpektif medis dan perspektif teologis sebagai berikut:

Secara medis, seorang bayi lahir ke dunia dalam keadaan menangis disebabkan dorongannya sendiri untuk lahir selamat. Sebuah artikel di situs detikhealth.com berjudul Kenapa Bayi Menangis Saat Baru Lahir? (11/11/2009) menjelaskan bahwa selama dalam kandungan, bayi hidup dengan bantuan sebuah jalan yang menghubungkan jantung dan paru-parunya dengan organ dalam tubuh ibunya. Dengan cara ini bayi mendapatkan nutrisi dari darah sang ibu. 

Pada saat bayi terlahir, ia mengambil napas untuk pertama kali melalui perubahan peredaran darah. Dengan menangis, maka terbuka sirkulasi yang memungkinkan oksigen terkirim melalui paru-paru. Jadi tangisan bayi tersebut membantu membuka paru-parunya agar bisa menghirup oksigen sendiri tanpa bergantung lagi pada ibunya. Selain itu bagi bayi menangis juga merupakan salah satu cara berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya. 

Secara teologis, Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam kitabnya berjudul Sabîlul Iddikâr wal I’tibâr bimâ Yamurru bil Insân wa Yanqadli Lahu minal A’mâr (Dar Al-Hawi, 1998), Cet. II, hal. 31, menjelaskan bahwa tak seorang pun bayi selamat dari tempelengan setan ketika baru dilahirkan sehingga mereka menangis sebagaimana kutipan berikut:

فإذا وضع الإنسان من بطن أمه، استهل صارخاً. وذلك من لكزة الشيطان لعنة الله، التي لم يسلم منها إلا عيسى بن مريم وأمه عليهما السلام ، وذلك أن الله أعاذهما منها ، بقول أم مريم زوجة عمران : [وإني أعيذها بك وذريتها من الشيطان الرجيم ] آل عمران 3/36. كما ذكر ذلك في الحديث، وإن إبليس جاء ليطعن فوقعت طعنته في الحجاب. .

Artinya, “Ketika manusia dilahirkan dari perut (rahim) ibunya, ia menangis keras. Hal itu disebabkan ia ditempeleng oleh setan terkutuk yang tak seorangpun selamat darinya kecuali Nabi Isa putra Maryam dan sang ibu alaihimas salam. Hal itu disebabkan Allah melindungi mereka berdua karena ibu dari Siti Maryam, istri Imran, sebelumnya pernah berdoa demikian.’Dan sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada-Mu, untuk dia dan keturunannya, dari gangguan setan yang terkutuk.’ (Q.S. 3:36). Juga disebutkan dalam hadits, ‘Ketika Iblis datang untuk menusuknya, maka tusukan itu mengenai tabir.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari kutipan di atas dapat diuraikan hal-hal sebagai berikut:

Pertama, setiap bayi, baik laki-laki maupun perempuan, terlahir dalam keadaaan menangis disebabkan oleh ulah setan terkutuk yang sengaja menempeleng mereka. Penjelasan ini merujuk pada hadits Rasulullah shallahu alaihi wasallam sebagai berikut:

ما من مولود يولد إلا نخسه الشيطان فيستهل صارخاً من نخسة الشيطان إلا ابن مريم وأمه

Artinya,“Tidak ada seorang bayi yang terlahir tanpa mendapatkan tusukan dari setan sehingga bayi itu menangis keras karenanya kecuali putra Maryam dan ibunya. (HR. Muslim)

Tidak hanya setan, Iblis juga terlibat dalam hal ini. Artinya sejak manusia dilahirkan ke dunia Iblis dan setan telah mulai menggoda untuk merusak fitrah mereka. 

Kedua, Nabi Isa dan ibunya Siti Maryam alaihima salam adalah satu-satunya yang selamat dari tempelengan setan karena Allah melindungi keduanya disebabkan sebelumnya ibu dari Siti Maryam yang tak lain adalah istri Imran, pernah secara khusus berdoa kepada Allah agar keduanya dilindungi dari gangguan setan. Doa itu sebagaimana tertulis di dalam Al-Qurán sebagai berikut:

وَإِنِّي أُعِيْذُها بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

Artinya,“Dan sesungguhnya aku mohon kepada-Mu perlindungan untuk dia (Maryam) dan keturunannya (Isa) dari gangguan setan terkutuk.” (Q.S. 3:36)

Ketiga, kisah keterlibatan Iblis dalam hal ini sebagaimana dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslimm berbunyi, “Ketika Iblis datang untuk menikamnya, maka tikaman itu mengenai tabir.” Tujuan Iblis dan setan dalam aksinya ini adalah untuk mempengaruhi manusia agar menyimpang dari fitrahnya, yakni beriman tauhid dengan bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan satu-satunya yang wajib disembah. Kesaksian ini terjadi di alam azali ketika Allah menanyai mereka satu per satu tentang siapa Dia? 

أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا

Artinya: “Bukankah Aku (Allah) ini Tuhan kamu? Mereka menjawab: “Ya, kami menjadi saksi.” (Q.S. 7:172)

Terkait dengan godaan setan dan Iblis di atas, Sayyid Abdullah Al-Haddad selanjutnya menjelaskan bahwa sunnah hukumnya mengumandangkan adzan di telinga kanan si bayi yang baru lahir dan iqamat di telinga kirinya. Hal ini tak lain merupakan upaya penyelamatan terhadap si bayi agar ia tetap dalam dalam fitrahnya, yakni beriman tauhid. 

Dai uraian di atas, dapat diketahui bahwa Nabi Isa dan ibunya Siti Maryam alaihima salam tidak menangis ketika masing-masing dilahirkan ke dunia karena Allah memang melindunginya dari tempelengan setan. Dengan kata lain, doa istri Imran yang tak lain adalah ibundanya Siti Maryam dikabulkan oleh Allah subhanahu wataála. Keduanya, ibu dan anak ini, memang orang-orang luar biasa karena sang anak lahir dari sang ibu yang masih perawan suci – sebuah fenomena yang menguji keimanan kita sepanjang masa. 


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.

Selasa 11 Juni 2019 17:0 WIB
Pengakuan Mantan Pelajar Islam Garis Keras
Pengakuan Mantan Pelajar Islam Garis Keras

Seandainya pemuda ini berhenti belajar, yaitu dalam pengertian menerima begitu saja terhadap doktrin dan pemahaman Islam yang diajarkan para ustadznya di sebuah lembaga pendidikan Islam yang bercorak garis keras tempatnya dahulu menimba ilmu, dan tanpa mencari perbandingan pemahaman dari sumber yang lain, besar kemungkinan saat ini dia menjadi sosok ekstremis yang sinis pada dasar negara Pancasila dan bentuk NKRI serta tetap meyakini bahwa pengertian jihad dalam Al-Qur'an adalah melulu berarti perang fisik melawan non-Muslim.

Orang itu sebutlah Yanto (bukan nama sebenarnya). Lelaki asal Lamongan Jawa Timur ini pernah selama empat tahun dididik dan belajar di suatu lembaga pendidikan yang terletak di salah satu daerah di Salatiga, Jawa Tengah, yang berpaham tidak kompromis dengan tradisi lokal. Walau di lembaga pendidikan yang semula berbasis di Solo tersebut dia tempuh sampai lulus bahkan sempat menjalankan masa pengabdian selama kurang lebih satu tahun tapi kini pemikiran, sikap dan perilaku Yanto tidak ekstrem sebagaimana umumnya kelompok garis keras aliran Islam tertentu.

Padahal selama Yanto belajar di instansi pendidikan tersebut ia tidak lepas pula mendapatkan doktrin yang kontra dengan Pancasila bahkan Pancasila itu dianggap bagian dari taghut. Begitu pula pengertian tentang jihad yang ditekankan oleh guru-gurunya adalah berarti qitaal atau perang fisik, tanpa memberi alternatif tafsiran lain beserta konteks-konteks lapangan jihad yang lebar.

Tapi beruntung Yanto termasuk pelajar yang memiliki kebiasaan bertafakkur atau berefleksi pada waktu-waktu tertentu. Sehingga ada beberapa hal yang ia dapatkan di lembaga itu dirasanya janggal, terutama interpertasi makna jihad yang ekstrem. Dia pun coba membuka refrensi lain di luar yang diajarkan di lembaganya. Salah satunya ia membuka Tafsir Al-Azhar karangan Buya Hamka. Ternyata di kepustakaan yang ia telaah didapatinya bahwa arti jihad tidak sesempit yang diajarakan ustadznya. Ia memperoleh tafsiran jihad lebih luas.

Pada suatu hari sekitar tahun 2001 untuk lebih memantapkan keyakinannya, Yanto berinisiatif menemui kiai di luar madrasahnya yang sudah dikenal kealimannya. Akhirnya dia dengan mengajak salah satu temannya memutuskan sowan kepada KH. Maimun Zubair  Rembang untuk mengutarakan kebingungannya. Salah satu nasihat taktis yang sampai saat ini  tetap membekas di hati Yanto dari ucapan Mbah Maimun saat dia sowan adalah kalimat:     

"Islam dan kafir itu sama-sama Allah yang menciptakan. Kalau di dunia tidak ada yang kafir buat apa Allah menciptakan neraka segala, kok tidak cuma surga saja? Coba kenapa pula Allah menciptakan babi padahal babi diharamkan?"

Jawaban filosofis Mbah Maimun Zubair itu begitu mengena di benak Yanto dan makin menyadarkan akan kesalahan pemahaman term “jihad" yang selama ini ia peroleh dari ustadznya. Pun Yanto menjadi sadar jika ajarannya yang dahulu diserap tidak relevan diterapkan dalam kehidupam masyarakat yang plural seperti Indonesia ini.     

Usai sowan mencari perbandingan pemahaman jihad dari pada Mbah Maimun, Yanto tiap kali ada acara halaqoh atau diskusi kelompok di kelasnya sering berseberangan pendapat dengan kebanyakan kawan-kawannya yang umumnya tetap bersiskukuh pada anti Pancasila dan pro jihad perang. Meski Yanto tidak dikucilkan, tapi sejak dia sering berseberangan pendapat kemudian ia dianggap melakukan bughat.

Ketika Yanto  sudah dianggap bughat dalam komunitasnya, teman-temannya itu tidak menyerah untuk terus mempengaruhi Yanto agar kembali seideologi lagi sebagaimana semula. Bahkan kendati sudah pulang di rumah, lewat berbagai cara kawan-kawannya selalu berusaha mengajak supaya kembali berhalun "Islam ala Arab".

Pernah ia memutuskan kontak dengan teman-tema lamanya tersebut, ternyata ada saja orang baru dan nama asing yang mencoba menghubunginya, yang ujung-ujungnya mengajak berpaham Islam garis keras tersebut. Bahkan Ketika dia menikah dan ada salah satu kawan lamanya yang seangkatan dulu mengetahui dirinya akan menikah, ternyata temannya tersebut datang dan memberi kado. Isi kado itu tak lain adalah buku-buku dan majalah yang topik-topik isinya termasuk propaganda atau penyebaran semacam gerakan transnasional. Begitulah mereka memakai seribu satu modus demi menarik kembali anggota seideologinya yang sudah dicap melakukan bughat. (M. Haromain)

Ditulis berdasarkan penuturan informan yang bertemu penulis beberapa bulan lalu saat Lebaran.

Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada Ahad, 25 September 2016 pukul 15:47 Redaksi menayangkannya ulang tanpa mengubah isi tulisan.