IMG-LOGO
Doa

Belajar dari Cara Nabi Ibrahim Berdoa

Ahad 16 Juni 2019 10:0 WIB
Share:
Belajar dari Cara Nabi Ibrahim Berdoa
Imam Abu Bakr Muhammad bin al-Walid al-Thurthusyi al-Andalusi (450/451-520 H) menulis sebuah kitab berisi kumpulan doa dari Rasulullah, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu. Kitab ini ditulis sekitar satu setengah abad sebelum al-Adzkar karya Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf al-Nawawi (631-676 H). Dalam bab ketiga, Imam Abu Bakr menjelaskan soal adab-adab berdoa kepada Allah (fî adâb al-du’â lillah). Ia menulis:

فمن آدابه أن تعلم أن سيرة الأنبياء والمرسلين والأولياء الصالحين، (إن) أرادوا استقصاء حاجة عند مولاهم، أن يبادروا قبل السؤال فيقوموا بين يدي ربهم فيصفوا أقدامهم ويبسطوا أكفهم ويرسلوا دموعهم علي خدودهم، فيبدؤوا بالتوبة من معاصيهم والتنصل من مخالفتهم، ويستبطنوا الخشوع في قلوبهم 

Sebagian dari adab berdoa, kau harus mengetahui cara para nabi, rasul, dan wali yang saleh. (Jika) hendak memohon hajat kepada Tuhannya, mereka bergegas (menyiapkan diri) sebelum meminta, bersimpuh di hadapan Tuhannya, menata (posisi) kaki, membentangkan telapak tangan, mengalirkan air mata di pipi mereka. Kemudian, mereka memulainya dengan tobat dari kemaksiatan dan membebaskan (diri) dari pelanggaran, memasukan kekhusyu’an di hati mereka yang terdalam.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2002, h. 17)

Kemudian, Imam Abu Bakr menjadikan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sebagai contoh. Ketika berdoa, Nabi Ibrahim memulainya dengan memuji Tuhannya (bada’a bits tsanâ’i ‘ala rabbihi qabla su’âlihi). Dalam surat al-Syu’ara: 78-82 dikatakan:

الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ، وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ، وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ، وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ، وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ

(Yaitu Tuhan) yang telah menciptakanku, dan Dialah yang memberi petunjuk (kepada)ku. Dan Tuhan yang memberi makan dan minum kepadaku. Dan Ketika aku sakit, Dia menyembuhkanku. Dan Tuhan yang akan mematikanku, kemudian menghidupkanku (kembali). Dan Tuhan yang sangat kuinginkan mengampuni kesalahanku di hari kiamat (kelak).”

Ayat tersebut merupakan ucapan Nabi Ibrahim sebelum berdoa kepada Allah, karena di ayat berikutnya Nabi Ibrahim berdoa (QS. Al-Syu’ara: 83): “rabbi hab lî hukman wa alhiqnî bish shâlihîn” (Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh). Sebelum berdoa, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memuji Allah dengan lima pujian. Imam Abu Bakr al-Thurthusyi menjelaskan:

فأثني علي الله سبحانه بخمسة أثنية: أنه الخالق الهادي، المطعم المسقي، الشافي من الأوصاب، والمحيي والمميت، والغافر

Nabi Ibrahim memuji Allah subhanahu (wa ta’ala) dengan lima pujian: (1) Sang Pencipta yang memberikan petunjuk, (2) Sang Pemberi makan dan minum, (3) Sang Penyembuh segala penyakit, (4) Yang maha menghidupkan dan mematikan, dan (5) Maha mengampuni." (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 18)

Hal ini menunjukkan bahwa pujian sebelum berdoa sangat penting. Para nabi, rasul dan wali terdahulu melakukannya. Contohnya Nabi Musa, ketika beliau memohon kepada Allah, beliau mendahuluinya dengan kalimat (QS. Al-A’raf: 155), “anta waliyyunâ faghfir lanâ war hamnâ” (Engkau adalah Pemimpin kami, maka ampunilah [dosa-dosa] kami dan rahmatilah kami). Mereka biasa mendahului doa-doa mereka dengan pujian, penyucian, pengagungan dan seterusnya. Imam Abu Bakr al-Thurthusyi menulis:

فيبدؤون بالثناء علي معبودهم وتقديسه وتنزيهه وتعظيمه والثناء عليه بما هو اهله ثم يرغبون في الدعاء

Mereka mendahului (doanya) dengan pujian kepada Tuhan yang disembah, menguduskan-Nya, menyucikan-Nya, mengagungkan-Nya, dan memuji-Nya dengan pujian yang berhak diberikan kepadaNya, kemudian (mengajukan) permohonan dalam doa (mereka).” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 17)

Baca juga:
Belajar dari Doa-doa Nabi Ibrahim
Doa-doa Nabi Ibrahim di Makkah
Doa Nabi Ibrahim AS Minta Dikaruniai Anak
Untuk memperkuat pentingnya memuji Allah sebelum berdoa, Imam Abu Bakr al-Thurthusyi mengutip hadits syafaat yang diriwayatkan Imam al-Bukhari. Dalam hadits tersebut diceritakan bahwa banyak orang akan meminta syafaat kepada para nabi di hari kiamat kelak. Setiap nabi menceritakan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya dan meminta mereka meminta kepada nabi lainnya. Kemudian Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

فأقول أنا لها فأستأذن علي ربّي، فإذا رأيته وقعت ساجدا فيدعني ما يشاء ثم يقال: ارفع رأسك وسل تعطه وقل تسمع، واشفع تشفع، فيلهمني محامد أحمده بها، فأحمده بتلك المحامد

Aku berkata: Aku memiliki syafaat. Aku telah minta izin kepada Tuhanku. Saat aku melihat-Nya aku lekas bersujud, dan Allah membiarkanku (dalam keadaan ini selama) yang Dia kehendaki. Kemudian Dia berfirman: ‘Angkatlah kepalamu. Mintalah maka kau akan diberi. Berkatalah maka kau akan didengar. Berikanlah syafaat maka kau akan diberi syafaat. Kemudian Allah mewahyukan kepadaku pujian-pujian (untuk) aku memuji-Nya dengan itu, maka aku memuji-Nya dengan pujian-pujian tersebut.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 18-19)

Dalam riwayat di atas, Allah mengajarkan langsung pujian-pujian untuk-Nya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Artinya. Allah menghendaki hamba-hamba-Nya untuk memuji-Nya. Karena itu, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar seseorang berdoa tanpa memuji Allah dan bershalawat kepadanya, Rasulullah mengatakan: “’ajjala hadza” (ini tergesa-gesa). Kemudian beliau memanggilnya dan mengatakan (HR. Imam Abu Daud dan Imam al-Tirmidzi): 

إذا صلي أحدكم فليبدأ بتحميد ربّه والثناء عليه ثمّ يصلي علي النبيّ صلي الله عليه وسلم, ثمّ يدعو بعد بما شاء

Jika salah satu dari kalian berdoa, maka dahuluilah dengan bertahmid kepada Tuhannya dan memujiNya, kemudian bershalawatlah atas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berdoa setelahnya dengan apa yang ia maui.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 19)

Wallahu a’lam bish shawwab.


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen

Share:
Ahad 16 Juni 2019 12:35 WIB
Doa Pikiran Terang dan Ide Inspiratif
Doa Pikiran Terang dan Ide Inspiratif
(Foto: @linkedln)
Sekali waktu kita dihadapkan pada situasi sumpek, jenuh, dan buntu dalam berpikir. Dalam situasi ini kita juga menemukan doa yang dapat dibaca ketika kita menghadapi situasi demikian. Doa ini diharapkan dapat membuat terang pikiran.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ لِيْ نُوْرًا فِيْ قَلْبِيْ، وَنُوْرًا فِيْ قَبْرِيْ، وَنُوْرًا فِيْ سَمْعِيْ، وَنُوْرًا فِيْ بَصَرِيْ، وَنُوْرًا فِيْ شَعْرِيْ، وَنُوْرًا فِيْ بَشَرِيْ، وَنُوْرًا فِيْ لَحْمِيْ، وَنُوْرًا فِيْ دَمِيْ، وَنُوْرًا فِيْ عِظَامِيْ. وَنُوْرًا مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَنُوْرًا مِنْ خَلْفِيْ، وَنُوْرًا عَنْ يَمِيْنِيْ، وَنُوْرًا عَنْ شِمَالِيْ، وَنُوْرًا مِنْ فَوْقِيْ، وَنُوْرًا مِنْ تَحْتِيْ. اَللّٰهُمَّ زِدْنِيْ نُوْرًا، وَاَعْطِنِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْ لِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْنِيْ نُوْرًا

Allāhummaj‘al lī nūran fī qalbī, wa nūran fī qabrī, wa nūran fī sam‘ī, wa nūran fī basharī, wa nūran fī sya‘rī, wa nūran fī basyarī, wa nūran fī lahmī, wa nūran fī damī, wa nūran fī ‘izhāmī, wa nūran min bayni yadayya, wa nūran fī khalfī, wa nūran ‘an yamīnī, wa nūran ‘an syimālī, wa nūran min fawqī, wa nūran min tahtī. Allāhumma zidnī nūrā. Wa a‘thinī nūrā. Waj‘al lī nūrā. Waj‘alnī nūrā.

Artinya, "Ya Allah jadikanlah cahaya pada hatiku, kuburku, pendengaranku, penglihatanku, rambutku, kulitku, dagingku, darahku, tulang-tulangku, di hadapanku, belakangku, sisi kananku, sisi kiriku, sisi atasku, dan pada sisi bawahku. Ya Allah tambahkanlah cahaya bagiku. Berikanlah cahaya kepadaku. Jadikanlah cahaya bagiku. Jadikanlah diriku bercahaya."

Doa ini diharapkan dapat membuka jalan pikiran yang macet dan buntu serta membuka jalan bagi inspirasi-inspirasi yang cemerlang.

Doa ini dikutip dari Kitab Majmu’ Syarif. Semoga doa ini bermanfaat bagi kita semua. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Kamis 13 Juni 2019 17:30 WIB
Doa Khusus dari Rasulullah untuk Shalat Hajat
Doa Khusus dari Rasulullah untuk Shalat Hajat

Dalam berbagai literatur fiqih dan buku-buku tuntunan shalat banyak ditemukan amalan dan do’a-do’a keseharian. Dari yang bersifat umum hingga do’a istimewa. Diantara do’a yang banyak ragamnya adalah do’a yang disediakan untuk shalat hajat. Akan tetapi kebanyakan penyebutan do’a-do’a itu tidak menyertakan sumber asalnya. Baik yang berasal dari ulama shalihin maupun langsung dari hadits Rasulullah saw.<>

Oleh karena itu sungguh ada manfaatnya apabila dalam tulisan ini diceritakan sebuah kisah tentang seorang yang tidak sempurna penglihatannya datang kepada Rasulullah saw untuk meminta do’a kesembuhan. Akan tetapi Rasulullah saw malah memerintahkannya untuk mendirikan shalat hajat lalu berdo’a yaitu:

اللهم انى اسألك واتوجه اليك بمحمد نبي الرحمة يا محمد انى قد توجهت بك الى ربى فى حاجتى هذه لتقضى. اللهم فشفعه في

Allahumma ini as’aluka wa atawajjahu ilaika bi muhammadin nabiyyir rahmah, ya Muhammadu inni qad tawajjahtu bika ila Rabbi fi hajati hazdihi litaqdhi. Allahumma fa syaffi’hu fiyya.

Artinya:

Ya allah Sesungguhnya aku bermohon kepada Engkau, dan aku menghadap kepada engkau dengan Muhammad Nabiyyir Rahmah, Wahai Muhammad sesungguhnya aku menghadap Tuhanku bersamamu dalam memohonkan hajatku ini agar dikabulkan. Ya Allah perkenankanlah dia (Muhammad saw) memberikan syafaatnya kepadaku. 

Adapun keterangan lengkapnya sebagaimana ditahrijkan oleh At-Tiridzi dan Ibnu Majah hadits riwayat Utsman bin Hunaif.

إن رجلا ضرير البصري اتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال ادع الله لي انيعافينى فقال ان شئت اخرت لك فهو خير وان شئت دعوت فقال ادعه فامره ان يتوضأ فيحسن وضوءه ويصلى ركعتين ويدعو بهذا الدعاء : اللهم انى اسألك واتوجه اليك بمحمد نبي الرحمة يا محمد انى قد توجهت بك الى ربى فى حاجتى هذه لتقضى. اللهم فشفعه في

Bahwasannya ada seorang laki-laki yang penglihatannya rusak datang kepada Rasulullah saw sambil berkata “do’akanlah kepada Allah untukku, agar disembuhkan-Nya aku ini”. Rasulullah saw balik menjawab “kalau kamu mau, aku dapat menundanya untukmu dan itu lebih baik, atau kalau kamu mau aku akan mendo’akan” maka orang itupun memohon “doakanlah untukku!” . Kemudian Rasulullah saw menyuruhnya berwudhu, maka wudhulah orang tersebut dengan baik dan shalat dua raka’at dan berdo’a dengan do’a ini “Allahumma ini as’aluka wa atawajjahu ilaika bi muhammadin nabiyyir rahmah, ya Muhammadu inni qad tawajjahtu bika ila Rabbi fi hajati hazdihi litaqdhi. Allahumma fa syaffi’hu fiyya”.

Demikianlah Rasulullah saw menganjurkan dan membolehkan seseorang bertawassul menggunakan nama beliau sebagai seorang Nabi dan Rasul, meskipun dalam shalat hajat. (ulil H)


Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada Rabu, 22 Oktober 2014 pukul 06:00. Redaksi mengunggahnya ulang dengan sedikit penyuntingan.

Kamis 13 Juni 2019 15:45 WIB
Doa Shalat Dhuha versi Syekh Ibnu Alwan
Doa Shalat Dhuha versi Syekh Ibnu Alwan
(Foto: @ibtimes)
Kita lebih sering mendengar lafal “Allāhumma innad dhuhā’a dhuhā’uka, dan seterusnya” sebagai doa shalat Dhuha. Sebenarnya ini hanya satu dari dua versi doa shalat Dhuha yang diajarkan oleh para ulama.

Syekh Nawawi Al-Bantani menceritakan bahwa kita memiliki dua riwayat atau versi doa shalat Dhuha. Lafal “Allāhumma innad dhuhā’a dhuhā’uka, dan seterusnya” yang sering kita dengar adalah doa shalat Dhuha versi Syekh Sayyidi M Bakri.

Adapun berikut ini adalah doa yang dibaca setelah shalat Dhuha versi Syekh Ibnu Alwan.

اللَّهُمَّ فُكَّ أَقْفَالَ قُلُوْبِنَا بِمَشِيْئَتِكَ وَأَحْسِنْ تَوْفِيْقَنَا بِدَوَامِ الصِّدْقِ فِي إِرَادَتِكَ وَانْشُرْ عَلَيْنَا فِي هَذِهِ السَّاعَةِ رَايَةَ هِدَايَتِكَ وَقَلِّدْنَا بِسُيُوْفِ وِلَايَتِكَ وَتَوِّجْنَا بِتِيْجَانِ مَعْرِفَتِكَ وَأَمْطِرْ عَلَيْنَا مِنْ سَحَائِبِ رَحْمَتِكَ وَاسْقِنَا مِنْ شَرَابِ مَحَبَّتِكَ وَأَثْبِتْنَا فِي دِيْوَانِ خَاصَّتِكَ وَأَوْقِفْنَا فِي مِيْدَانِ مُلَاحَظَتِكَ وَصُفَّ سَرَائِرَنَا وَنَوِّرْ أَبْصَارَنَا وَاجْمَعْنَا فِي حَظَائِرِ قُدْسِكَ وَآنِسْنَا بِلَطِيْفِ أُنْسِكَ وَلَا تَقْطَعْنَا بِغَيْرِكَ عَنْ نَفْسِكَ

اللَّهُمَّ مَا كَانَ مِنَّا مِنْ إِقْبَالٍ إِلَى غَيْرِكَ وَإِعْرَاضٍ عَنْكَ تَعَمُّدًا أَوْ خَطَأً أَوْ نِسْيَانًا فَأَزِلْهُ عَنَّا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Artinya, “Ya Allah, bukalah gembok hati kami dengan kehendak-Mu, perbaikilah taufik kami dengan senantiasa benar dalam iradah-Mu, tebarkanlah panji hidayah-Mu di atas kami pada saat ini, ikatlah kami dengan pedang kuasa-Mu, muliakanlah kami dengan mahkota makrifat-Mu, basahilah kami dengan hujan dari awan rahmat-Mu, berilah kami minuman dari air cinta-Mu, tetapkanlah kami di lingkaran orang-orang yang istimewa menurut-Mu, tetapkan kami di lapangan perhatian-Mu, rapikanlah niat kami, terangilah pandangan kami, kumpulkanlah kami di surga-Mu, sayangilah kami dengan kelembutan kasih-Mu, dan jangan Kau putuskan hubungan kami dan diri-Mu dengan ‘kehadiran’ yang lain.

Ya Allah, sesuatu yang dapat menghadapkan kami kepada selain-Mu dan dapat memalingkan kami dari-Mu baik sengaja, tidak sengaja, maupun karena lupa, maka lenyapkan dari kami. Sungguh, Kau berkuasa atas segala sesuatu,” (Lihat Syekh Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah: 2004 M/1422 H], halaman 101).

Mereka yang terbiasa dengan doa shalat Dhuha versi Syekh Sayyidi M Bakri tetap dapat membaca doa shalat Dhuha sesuai kebiasaannya. Tetapi mereka yang ingin membaca doa shalat Dhuha versi Syekh Ibnu Alwan juga tidak masalah karena kedua versi doa ini berisi permohonan yang baik.

Tetapi ada baiknya, mereka menggabungkan dua versi doa shalat Dhuha ini. Keduanya dibaca setelah shalat sunnah Dhuha di samping doa-doa yang lain. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)