IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Petunjuk Sebelum Rasulullah Lahir

Senin 17 Juni 2019 15:0 WIB
Share:
Petunjuk Sebelum Rasulullah Lahir
Muhammad shalallhu ‘alaihi wa sallam tidak begitu saja hadir dan lahir menjadi nabi terakhir (khatamun nabiyyin) yang diutus oleh Allah SWT. Cahaya dan ruh Muhammad diciptakan oleh Allah sebelum Dia menciptakan alam semesta, dunia, akhirat, dan seisinya.

Ulama Tafsir Indonesia, Muhammad Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat (2000) memaparkan bahwa telah ditegaskan dalam Al-Qur’an, para nabi telah pernah diangkat janjinya untuk percaya dan membela Nabi Muhammad SAW.

"Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian dan para Nabi, 'Sungguh apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang Rasul (Muhammad) yang membenarkan kamu, niscaya kamu sungguh-sungguh akan beriman kepadanya dan menolongnya.' Allah berfirman, 'Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku yang demikian itu?' Mereka menjawab, 'Kami mengakui.'" (QS Ali 'Imran [3]: 81)

Dalam kaitan ini, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Demi (Allah) yang jiwaku berada pada genggaman-Nya, seandainya Musa as hidup, dia tidak dapat mengelak dan mengikutiku." (HR Imam Ahmad)

Tidak jelas kapan dan bagaimana perjanjian yang disinggung ayat tersebut. Setidaknya, ia mengisyaratkan bahwa Allah SWT telah merencanakan sesuatu untuk Nabi Muhammad SAW, jauh sebelum kelahiran beliau.

Karena itu pula, sementara pakar menyatakan bahwa kematian ayah beliau sebelum kelahiran, kepergiannya ke pedesaan menjauhi ibunya, serta ketidakmampuannya membaca dan menulis merupakan strategi yang dipersiapkan Tuhan kepada beliau untuk dijadikan utusan-Nya kepada seluruh umat manusia kelak.

Bahkan ulama lain meyakini bahwa pemilihan hal-hal tertentu berkaitan dengan beliau bukanlah kebetulan. Misalnya bulan lahir, hijrah, dan wafatnya pada bulan Rabi'ul Awal (musim bunga). Nama beliau Muhammad (yang terpuji), ayahnya Abdullah (hamba Allah), ibunya Aminah (yang memberi rasa aman), kakeknya yang bergelar Abdul Muththalib bernama Syaibah (orang tua yang bijaksana), sedangkan yang membantu ibunya melahirkan bernama Asy-Syifa' (yang sempurna  dan  sehat), serta yang menyusukannya adalah Halimah As-Sa'diyah (yang lapang dada dan mujur).

Semuanya mengisyaratkan keistimewaan berkaitan dengan Nabi Muhammad SAW. Makna nama-nama tersebut memiliki kaitan yang erat dengan kepribadian Nabi Muhammad SAW.

Al-Qur’an surat Al-A'raf [7]: 157 juga menginformasikan bahwa Nabi Muhammad SAW pada hakikatnya dikenal oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Hal ini antara lain disebabkan mereka mendapatkan (nama)-nya tertulis di dalam Taurat dan Injil (QS Al-A'raf [7]: 157).

“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Al-A’raf: 157)

Menurut pakar agama Islam, yang ditegaskan oleh Al-Qur’an itu, dapat terbaca antara lain dalam Perjanjian Lama, Kitab Ulangan 33 ayat 2:

"...bahwa Tuhan telah datang dari Torsina, dan telah terbit untuk mereka itu dari Seir, kelihatanlah ia dengan gemerlapan cahayanya dari gunung Paran."

Pemahaman mereka berdasarkan analisis berikut: "Gunung Paran" menurut Kitab Perjanjian Lama, Kejadian ayat 21, adalah tempat putra Ibrahim -yakni Nabi Ismail- bersama ibunya Hajar memperoleh air (Zam-Zam).

Ini berarti  bahwa tempat tersebut adalah Makkah, dan dengan demikian yang tercantum dalam Kitab Ulangan di atas mengisyaratkan tiga tempat terpancarnya cahaya wahyu Ilahi: Thur Sina tempat Nabi Musa as, Seir tempat Nabi Isa as,  dan  Makkah tempat  Nabi  Muhammad  SAW.  Sejarah membuktikan bahwa beliau satu-satunya Nabi dari Makkah.

Karena itu pula wajar jika Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 146 menyatakan bahkan mereka itu mengenalnya (Muhammad SAW), sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka, bahkan salah seorang penganut agama Yahudi yang kemudian masuk Islam, yaitu Abdullah bin Salam pernah berkata, "Kami lebih mengenal dan lebih yakin tentang kenabian Muhammad SAW daripada pengenalan dan keyakinan kami tentang anak-anak kami. Siapa tahu pasangan kami menyeleweng." (Fathoni)
Share:
Ahad 9 Juni 2019 6:0 WIB
Enam Cara Rasulullah Merayakan Idul Fitri
Enam Cara Rasulullah Merayakan Idul Fitri
Di Indonesia, Idul Fitri adalah hari raya terbesar dan termeriah bagi umat Islam. Hal ini sedikit berbeda dengan sebagian besar negara-negara Islam lainnya, dimana hari perayaan terbesar adalah Idul Adha.  

Sebagai hari raya terbesar, umat Islam Indonesia menggelar berbagai macam perayaan, seperti takbir keliling misalnya. Di samping itu, Idul Fitri juga telah membentuk tradisi dan budaya bagi Muslim Indonesia, yaitu mudik atau pulang kampung untuk bersilaturahim dengan handai taulan. Semua itu merupakan upaya Muslim dalam menyambut dan merayakan hari raya Idul Fitri.

Lalu, bagaimana Rasulullah saw. merayakan hari raya yang jatuh pada satu Syawal itu? Apa saja yang dilakukan Rasulullah saw. di hari kemenangan umat Islam itu?

Merujuk buku How Did the Prophet & His Companions Celebrate Eid?, Rasulullah saw. dan umat Islam pertama kali menggelar perayaan hari raya Idul Fitri pada tahun kedua Hijriyah (624 M) atau usai Perang Badar.

Dari beberap riwayat disebutkan bahwa ada beberapa hal yang dilakukan Rasulullah saw. untuk menyambut dan merayakan hari Idul Fitri. Pertama, takbir. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. mengumandangkan takbir pada malam terakhir Ramadhan hingga pagi hari satu Syawal. Hal ini sesuai dengan apa yang difirmankan Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 185:

“Dan hendaklah kamu sempurnakan bilangan puasa serta bertakbir (membesarkan) nama Allah atas petunjuk yang telah diberikan-Nya kepadamu, semoga dengan demikian kamu menjadi umat yang bersyukur.”

Kedua, memakai pakaian terbaik. Pada hari raya Idul Fitri, Rasulullah mandi, memakai wangi-wangian, dan mengenakan pakaian terbaik yang dimilikinya. Kisah ini terekam dalam hadist yang diriwayatkan Al-Hakim.

Ketiga, makan sebelum shalat Idul Fitri. Salah satu hari yang diharamkan berpuasa adalah hari raya Idul Fitri. Bahkan, dalam kitab-kitab fiqih disebutkan bahwa berniat tidak puasa pada saat hari Idul Fitri itu pahalanya seperti orang yang sedang puasa di hari-hari yang tidak dilarang. 

Sebelum shalat Idul Fitri, Rasulullah saw. biasa memakan kurma dengan jumlah yang ganjil; tiga, lima, atau tujuh. Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa: "Pada waktu Idul Fitri Rasulullah saw. tidak berangkat ke tempat shalat sebelum memakan beberapa buah kurma dengan jumlah yang ganjil.” (HR. Ahmad dan Bukhari) 

Keempat, shalat Idul Fitri. Rasulullah menunaikan shalat Idul Fitri bersama dengan keluarga  dan sahabat-sahabatnya –baik laki-laki, perempuan, atau pun anak-anak. Rasulullah memilih rute jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang dari tempat dilangsungkannya shalat Idul Fitri. 

Rasulullah juga mengakhirkan pelaksanaan shalat Idul Fitri, biasanya pada saat matahari sudah setinggi tombak atau sekitar dua meter. Hal ini dimaksudkan agar umat Islam memiliki waktu yang cukup untuk menunaikan zakat fitrah.

Kelima, mendatangi tempat keramaian. Suatu ketika saat hari raya Idul Fitri, Rasulullah menemani Aisyah mendatangi sebuah pertunjukan atraksi tombak dan tameng. Bahkan saking asyiknya, sebagaimana hadist riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim, Aisyah sampai menjengukkan (memunculkan) kepala di atas bahu Rasulullah sehingga dia bisa menyaksikan permainan itu dari atas bahu Rasulullah dengan puas. 

Keenam, mengunjungi rumah sahabat. Tradisi silaturahim saling mengunjungi saat hari raya Idul Fitri sudah ada sejak zaman Rasulullah. Ketika Idul Fitri tiba, Rasulullah mengunjungi rumah para sahabatnya. Begitu pun para sahabatnya. Pada kesempatan ini, Rasulullah dan sahabatnya saling mendoakan kebaikan satu sama lain. Sama seperti yang dilakukan umat Islam saat ini. Datang ke tempat sanak famili dengan saling mendoakan. (A Muchlishon Rochmat)

Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada Kamis, 14 Juni 2018 pukul 21:00. Redaksi mengunggahnya ulang tanpa mengubah isi tulisan.  
Selasa 4 Juni 2019 9:14 WIB
Saat Nabi Muhammad Rindu Kampung Halamannya, Makkah
Saat Nabi Muhammad Rindu Kampung Halamannya, Makkah
Nabi Muhammad saw lahir di Makkah pada 12 Rabi’ul Awwal tahun gajah. Beliau tinggal di Makkah selama kurang lebih 53 tahun sebelum akhirnya hijrah (pindah) ke Madinah. Selama tinggal di Makkah, setidaknya ada tiga fase yang dilalui Nabi Muhammad. Fase pertama, fase anak-anak hingga menikah atau usia 25 tahun. Pada fase ini, Nabi Muhammad tumbuh bersama dengan keluarga dan teman-temannya. Kendati demikian, beliau tidak menyembah berhala –sesuatu yang lazim dilakukan masyarakat Makkah pada saat itu, termasuk oleh kerabat dekat Nabi sendiri.

Fase kedua, menikah sampai menerima wahyu atau usia 40 tahun. Nabi Muhammad mulai merasakan ‘kegelisahan’ pada fase ini. Beliau merasa ‘ada yang salah’ dengan masyarakat Makkah yang menyembah berhala. Nabi Muhammad kemudian mulai menyendiri (ber-khalwat atau ber-tahannus) di Gua Hira untuk menenangkan pikiran dan hati. Di Gua Hira, ia bermunajat, bertaqarrub, dan bermujahadah kepada Sang Maha Pencipta. Kegiatan ini berlangsung selama beberapa bulan hingga suatu ketika malaikat Jibril mendatangai dan memberinya wahyu dari Allah. Sejak saat ini, Nabi Muhammad dikukuhkan menjadi Rasul Allah. Beliau kemudian mendakwahkan Islam kepada keluarga dekatnya secara sembunyi-sembunyi.

Hingga saat ini, kehidupan Nabi Muhammad di Makkah masih ‘aman-aman’ dan baik-baik saja. Dalam artian, belum ada yang menentang, memusuhi, dan berbuat kasar kepadanya. Kendati demikian, para elit musyrik Quraisy mulai tidak terima dengan dakwah yang disampaikan Nabi Muhammad.

Fase ketiga, turunnya wahyu untuk berdakwah secara terang-terangan hingga hijrah ke Madinah atau usia 53 tahun. Ini menjadi fase terakhir Nabi Muhammad tinggal di Makkah. Pada fase ini, Nabi Muhammad mulai menyebarkan ajaran Islam kepada penduduk Makkah secara terang-terangan. Tidak sedikit yang menjadi pengikut Nabi, namun juga banyak yang memusuhi dakwahnya. Karena motif tertentu –seperti ekonomi, takut kehilangan pengaruh, kekuasaan, dan kehormatan jika masuk Islam- mereka menentang dakwah Nabi Muhammad. Berbagai macam upaya dilakukan untuk menghentikan dakwah Islam. Mulai dari menyuap Nabi, melakukan tindak kekerasan kepada Nabi dan pengikutnya, hingga memboikot umat Islam. Namun semuanya gagal membuat Nabi Muhammad berhenti mendakwahkan Islam. 

Dari hari ke hari, kaum musyrik Makkah semakin berani menentang, menghalangi, dan bertindak kasar kepada Nabi Muhammad dan para pengikutnya. Beliau kemudian mendapatkan perintah dari Allah untuk berhijrah ke Madinah –setelah berdakwah selama 13 tahun di Makkah. Maka sejak saat itu, Nabi Muhammad meninggalkan kampung halamannya, Makkah, dan menetap di Madinah. Hingga akhir hayatnya, Nabi tinggal di Madinah selama 10 tahun.

Di Madinah, keadaan Nabi Muhammad dan umat Islam membaik. Tidak ada lagi penindasan dan kekerasan kepada mereka. Malah, banyak penduduk Madinah yang berbondong-bondong masuk Islam dan menjadi pengikut Nabi Muhammad. Di sana, Nabi Muhammad dan umat Islam juga mendapatkan keluarga baru, yaitu kaum Anshar (penduduk Madinah yang memeluk Islam). 

Kendati demikian, Nabi Muhammad terkadang rindu dengan kampung halamannya, Makkah. Kota dimana beliau menghabiskan masa anak-anak, remaja, dan dewasanya. Kota yang banyak menyimpang kenangan. Kota dimana Ka'bah berada. Ia berharap bisa berkunjung ke sana –walau sebentar, namun keadaan belum memungkinkan. Salah satu kisah kerinduan Nabi Muhammad pada Makkah terekam dalam kitab Syarah Az-Zarqani Ala Mawahib Laduniyah karya Muhammad Az-Zarqani.

Dikisahkan, suatu ketika seorang sahabat yang bernama Ashil al-Ghifari baru saja datang dari Makkah. Ia kemudian berkunjung ke rumah Nabi Muhammad setiba di Madinah. Ketika hendak menemui Nabi Muhammad, Sayyidah Aisyah bertanya kepada Ashil al-Ghifari perihal keadaan terbaru Makkah.

“Aku melihat Makkah subur wilayahnya dan menjadi bening aliran sungainya,” jawab Ashil al-Ghifari. Sayyidah Aisyah kemudian mempersilahkan Ashil duduk untuk menunggu Nabi menyelesaikan pekerjaannya di dalam kamar.

Tidak berselang lama, Nabi Muhammad keluar kamar dan menanyakan hal yang sama kepada Ashil al-Ghifari, yaitu ‘Bagaimana keadaan Makkah sekarang?’ Beliau sangat ingin tahu bagaimana kondisi Makkah terkini. Kali ini, Ashil al-Ghifari menjawab dengan jawaban yang lebih panjang dan detail dari sebelumnya. 

"Aku melihat Mekkah subur wilayahnya, telah bening aliran sungainya, telah banyak tumbuh idzkirnya (nama sejenis pohon), telah tebal rumputnya, dan telah ranum salamnya (sejenis tanaman yang biasa digunakan untuk menyamak kulit)," kata Ashil al-Ghifari.

“Cukup wahai Ashil. Jangan kau buat kami bersedih,” sela Nabi Muhammad dengan penuh rindu.

Demikianlah tabiat manusia, dia akan merindukan kampung halamannya. Begitupun dengan Nabi Muhammad. Beliau sangat merindukan Makkah setelah sekian tahun meninggalkannya. Nabi Muhammad dan umat Islam baru bisa berkunjung ke kampung halamannya, Makkah, ketika terjadi peristiwa Fathu Makkah (Pembebasan Kota Makkah) pada 10 Ramadhan tahun ke-8 Hijriyah. Iya, Nabi dan umat Islam baru bisa melunasi kerinduannya pada kampung halamannya 8 tahun setelah beliau meninggalkan kota itu. (Muchlishon)
Kamis 23 Mei 2019 23:15 WIB
Mencontoh Jihad Nabi Muhammad
Mencontoh Jihad Nabi Muhammad
Ilustrasi (NU Online)
Teladan terbaik bagi umat Islam ialah Nabi Muhammad. Secara umum, dakwah Rasulullah SAW dalam menyampaikan Islam penuh dengan ajakan, bukan pemaksaan. Ia mengedepankan akhlak baik, tutur kata santun dan ramah walaupun kerap mendapat perlakuan tidak baik. Simpul sederhana yang bisa menjadi pelajaran, Nabi Muhammad berjihad dengan akhlak dan perbuatan baik.

Rasulullah memahami betul ketika Islam disampaikan dengan cara yang keras dan kasar, niscaya umat akan menjauh. Kita semua memang bukan Nabi, tetapi setidaknya mempunyai pijakan moral dan syariat dalam menyampaikan dan menunjukkan wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin seperti yang diajarkan Rasulullah SAW.

Jauh sebelum diangkat menjadi utusan Allah SWT, Muhammad muda sudah mendapat gelar al-amin (orang yang dapat dipercaya) oleh masyarakat Arab. Perangainya yang baik dan adil kerap mendapat kepercayaan orang-orang Arab untuk menengahi segala konflik yang muncul di tengah masyarakat kala itu.

Terkati dengan jihad, lalu bagaimana dengan sejumlah peperangan yang dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya? Pertanyaan tersebut penting dijelaskan agar mindset perang bukan satu-satunya fakta sejarah Islam yang mendapat perhatian penuh karena sejarah Nabi Muhammad ialah kehidupan mulia penuh dengan kebaikan dan pelajaran hidup.

Dalam Al-Qur’an tidak kurang dari 33 ayat yang membahas tentang jihad sesuai konteks turunnya ayat dengan makna beragama dan berbeda. Ayat-ayat jihad bisa dipetakan berdasarkan periode Makkah dan Madinah. Keduanya akan sangat nampak membedakan pemaknaan ayat-ayat tentang jihad.

Al-Qur’an menunjukkan kepada umatnya bahwa jihad harus dilakukan di segala lini kehidupan sesuai dengan peran dan keahlian masing-masing manusia untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik bagi sesama. Kontekstualisasi makna jihad ini sekaligus menepis pandangan sejumlah kelompok yang memaknai jihad hanya sebagai perang dan kekerasan fisik belaka melalui pemahaman tekstual ayat-ayat Al-Qur’an.

Khamami Zada dalam Meluruskan Pandangan Keagamaan Kaum Jihadis (2018) mencatat bahwa terlalui sulit ditemukan bukti bahwa Rasulullah melakukan dan menganjurkan jihad ofensif terhadap para sahabatnya. Dari 22 perang yang diikuti Nabi—mengacu pada keterangan Ibnu Katsir—hampir tidak ditemukan bentuk peperangan dalam rangka ekspansi kekuasaan.

Jihad yang banyak terjadi—meski berupa jihad fisik—adalah peperangan dalam rangka mempertahankan kedaulatan atas hak hidup. Dalam kaidah ushul dikenal ada kedaulatan harta, kedaulatan harta benda, kedaulatan beragama, kedaulatan melanjutkan keturunan serta hak dalam hal harga diri. Nabi Muhammad dan umatnya tidak akan berperang jika tidak diperangi. Apalagi kaum musyrikin terus melakukan ancaman pembunuhan bagi umat Islam untuk menutup dakwah Rasulullah.

Sejarah mencatat, Rasulullah SAW tidak pernah bosan menghampiri umatnya untuk melakukan dakwah Islam dengan cara yang santun dan kesabaran yang tinggi. Karena tidak jarang Rasulullah mendapat perlakuan jauh dari kata ramah meskipun Nabi menyampaikannya secara ramah. Namun, berkat kesabaran dan kesejukan yang ditunjukkannya, tidak jarang pula akhirnya mereka memeluk agama Islam.

Meskipun Rasulullah tidak bisa membaca dan menulis, beliau amat cerdas memilih Zaid bin Tsabit sebagai sekretaris pribadi yang terkenal sebagai ahli bahasa-bahasa asing dunia kala itu. Gagasan Nabi ditulis oleh Zaid bin Tsabit lalu dikirim ke pusat-pusat kerajaan strategis.

Bukan hanya memilih Zaid bin Tsabit yang cerdas, Nabi juga memilih para diplomat ulungnya untuk menyampaikan langsung surat dakwah yang berisi ajakan memeluk Islam. Seperti diketahui, tradisi kerajaan terdahulu ialah suatu keberanian dan tentu sebuah penghormatan tinggi ketika ada utusan resmi menghampiri kerajaan untuk menyampaikan sebuah pesan. Apalagi pesan tersebut disampaikan secara damai dan tidak mudah karena harus mengarungi lautan dan melewati bentangan jarak yang sangat panjang bagi para utusan.

Ajaran dan seruan Nabi melalui surat direspon positif oleh kerajaan. Hasilnya menakjubkan, banyak raja dan orang-orang penting lainnya memeluk Islam. Raja-raja tersebut bukan tanpa alasan serta merta mengikuti seruan Nabi, karena mereka sebelumnya telah mendengar kabar soal utusan Allah bernama Muhammad, manusia terpercaya, jujur, dan menyampaikan kebenaran di setiap ucapannya.

Guru Besar bidang Tafsir Prof KH Nasaruddin Umar dalam Khutbah-khutbah Imam Besar (2018) mengungkapkan di antara surat-surat Rasulullah ialah kepada Muqawqis, Raja Qibthi di Mesir sekitar akhir tahun 6 H atau awal tahun 7 H sebagai berikut:

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad hamba Allah dan utusan-Nya kepada Muqawqis, Raja Qibthi. Keselamatan semoga tercurah kepada orang yang mengikuti Petunjuk-Nya, amma ba’du: aku mengajakmu dengan ajakan kedamaian. Masuklah Islam maka engkau akan selamat. Masuklah Islam maka engkau akan diberikan Allah pahala dua kali. Jika engkau menolak maka atasmu dosa penduduk Qibthi.”

Sebagai sebuah penyampai kebenaran, tentu saja seruan Nabi Muhammad disambut gembira oleh Raja Muqawqis. Surat berisi seruan yang sama juga disampaikan Rasulullah kepada Kaisar Heraclius Raja Romawi, Raja Najasyi Penguasa Habasyah, Raja Gassan Jabalah bin Aiham, Raja Thaif, dan raja-raja besar lainnya.

Dakwah Nabi Muhammad melalui surat membuahkan teladan luhur bagi umat Islam bahwa kebenaran harus disampaikan dengan ajakan dan cara yang baik. Selain itu, dakwah juga menuntut kearifan akhlak penyampainya sehingga antara hati dan perkataan merupakan satu-kesatuan. Itulah bentuk integritas Nabi yang teguh dan berani tapi tetap ramah, berakhlak baik, dan menghormati.

Teladan dakwah tersebut merupakan jihad luar biasa dari junjungan ‘alam. Dalam khotbah haji Wada’, Rasulullah SAW telah jelas-jelas menjamin segenap nyawa, harta, dan kehormatan setiap manusia, apapun agama maupun sukunya. (Fathoni)