IMG-LOGO
Doa

Cara Bersikap saat Doa Tak Kunjung Terkabul

Senin 17 Juni 2019 20:30 WIB
Cara Bersikap saat Doa Tak Kunjung Terkabul
Ilustrasi (123rf.com)
Dalam kitab al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, Imam Abu Bakr al-Thurthusyi memberi peringatan untuk para pendoa, bahwa mereka harus menguatkan pengharapan mereka kepada Allah (an yuqawiyya rajâ’ahu fi maulâhu) dan tidak berputus asa dari rahmat-Nya (lâ yaqnathu min rahmatillah), apalagi jika doanya dirasa tak kunjung dikabulkan. Ia mengatakan:

وإن تأخرت الإجابة فلا تستبطئ ما سألت، فإن لكلّ شيء أجلا، والدعاء لا يغلب ما سبق في المعلوم

Andai doa tak kunjung dikabulkan, janganlah kau menangguhkan (mengendurkan) apa yang yang kau minta. Karena sesungguhnya di setiap hal ada waktunya, dan doa tidak (bisa) menyelisihi apa yang telah ditentukan sebelumnya.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2002, h. 20)

Artinya, setiap doa memiliki waktunya sendiri-sendiri. Kita hanya bisa meminta. Soal kapan dan bagaimana bentuk pengabulannya, kita harus berpasrah diri kepada Allah. Karena Dialah yang paling tahu apa yang terbaik untuk kita. Yang perlu kita lakukan adalah melapangkan hati kita, menyerahkan segalanya, tidak terburu-buru menuntut pengabulannya, tidak berputus asa dari rahmat-Nya, dan tetap yakin Allah pasti mengabulkannya (husnudhan). 

Dalam kitab yang sama, Imam Abu Bakr al-Thurthusyi mengutip beberapa riwayat tentang pentingnya keyakinan penuh dalam berdoa, dan jangan terburu-buru menyimpulkan ketika doa tak kungjung dikabulkan. Riwayat yang pertama dikutip dari Imam Malik bin Anas dalam al-Muwaththâ. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لا يقل الداعي في دعائه: اللهم ارحمني إن شئت، ليعزم المسألة، فإنه لا مكره له

Janganlah orang yang berdoa mengatakan dalam doanya: Ya Allah rahmatilah aku jika Engkau berkenan. Hendaklah ia memohon dengan penuh harap, karena sesungguhnya tidak ada yang bisa memaksa-Nya.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 20)

Imam Abu Bakr al-Thurthusyi menjelaskan riwayat di atas dengan mengatakan:

يعني أن الله تعالي لا يُكره علي الإعطاء، فإن شاء أعطي وإن شاء منع

Yakni sesungguhnya Allah tidak benci untuk memberi. Jika Dia menghendaki, Dia memberi. Jika Dia menghendaki, Dia mencegah (tidak memberi).” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 20)

Inilah maksud tidak ada yang bisa memaksa-Nya. Karena Allah berhak mengabulkan doa makhluk-Nya dengan cara-Nya sendiri.

Riwayat yang kedua dikutip dari Imam al-Bukhari dan Imam Abu Dawud, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يستجاب لأحدكم ما لم يعجل، فيقول: قد دعوت فلم يستجب لي

Akan dikabulkan (doa) salah seorang di antara kalian selama ia tidak tergesa-gesa (menuntut pengabulannya), sampai ia berkata: ‘Sungguh aku telah berdoa, namun belum juga dikabulkan untukku.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 20)

Hadits di atas menunjukkan pentingnya bersabar dalam berdoa. Sebab, dengan mengatakan, “aku telah berdoa, namun belum juga dikabulkan untukku”, secara tidak langsung telah berprasangka buruk kepada Allah, dan menunjukkan ketidak-yakinan bahwa doanya akan terkabul. Jadi, sikap yang harus ditunjukkan adalah bersabar, berprasangka baik kepada Allah dan berkeyakinan penuh Allah akan mengabulkannya.

Yang terpenting adalah, jangan sekali-kali kita menampakkan sikap tak percaya dan mengeluhkan Tuhan yang tak kunjung mengabulkan doa kita. Karena pengabulan doa memiliki banyak ragam. Bisa jadi ditunda; bisa jadi dipercepat; bisa jadi diganti dengan yang lebih baik sebagai anugerah, atau diganti yang lebih ringan sebagai ujian. Bayangkan saja jika semua doa dikabulkan seketika, dunia akan terlihat berbeda. Karena semua orang menghasrati keinginannya sendiri-sendiri. Di samping keinginan juga bermacam-macam wajahnya. 

Contohnya, di satu sisi ada keinginan seorang perampok agar selalu berhasil merampok; penjudi agar selalu menang; koruptor agar selalu selamat berkorupsi; pelacur agar selalu laris dan keinginan-keinginan sejenis lainnya. Di sisi lain, ada keinginan seorang polisi agar berhasil menangkap perampok; santri agar orang-orang terdekatnya menjauhi perjudian; penegak hukum agar koruptor habis, dan keinginan-keinginan sejenis lainnya. Artinya, ada silang keinginan yang satu sama lainnya saling berhadapan. 

Oleh sebab itu, semua doa, meski dijamin pengabulannya, tidak bisa lepas dari ketetapan Allah. Di sinilah pentingnya bagaimana kita bersikap ketika “merasa” doa kita tidak kunjung dikabulkan.

Di sisi lain, banyak manusia yang tidak mampu mengenali terkabulnya doa. Mereka menganggap doanya tidak pernah dikabulkan. Padahal, jika mereka melihat ke dalam diri dan sekitarnya, mereka akan menemukan begitu banyak wujud pengabulan doa, terutama anugerah yang mereka terima tanpa mereka pernah memintanya sama sekali. 

Itu artinya, kita kurang bersyukur atas semua anugerah yang kita terima, tapi kita selalu menuntut hal lain yang mungkin kita akan lalai mensyukurinya kembali ketika tuntutan itu terpenuhi. Jadi, sebelum mengeluhkan doa yang tak kunjung terkabul, kita harus memeriksa diri kita terlebih dahulu, apakah kita telah cukup bersabar dan bersyukur atas semua ujian dan anugerah yang Allah berikan, sehingga kita tidak akan pernah meragukan Allah dan berkata: “Sesungguhnya aku telah berdoa, namun belum juga dikabulkan.” Wallahu a’lam bish shawwab...


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen. 


Tags:
Share:
Ahad 16 Juni 2019 12:35 WIB
Doa Pikiran Terang dan Ide Inspiratif
Doa Pikiran Terang dan Ide Inspiratif
(Foto: @linkedln)
Sekali waktu kita dihadapkan pada situasi sumpek, jenuh, dan buntu dalam berpikir. Dalam situasi ini kita juga menemukan doa yang dapat dibaca ketika kita menghadapi situasi demikian. Doa ini diharapkan dapat membuat terang pikiran.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ لِيْ نُوْرًا فِيْ قَلْبِيْ، وَنُوْرًا فِيْ قَبْرِيْ، وَنُوْرًا فِيْ سَمْعِيْ، وَنُوْرًا فِيْ بَصَرِيْ، وَنُوْرًا فِيْ شَعْرِيْ، وَنُوْرًا فِيْ بَشَرِيْ، وَنُوْرًا فِيْ لَحْمِيْ، وَنُوْرًا فِيْ دَمِيْ، وَنُوْرًا فِيْ عِظَامِيْ. وَنُوْرًا مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَنُوْرًا مِنْ خَلْفِيْ، وَنُوْرًا عَنْ يَمِيْنِيْ، وَنُوْرًا عَنْ شِمَالِيْ، وَنُوْرًا مِنْ فَوْقِيْ، وَنُوْرًا مِنْ تَحْتِيْ. اَللّٰهُمَّ زِدْنِيْ نُوْرًا، وَاَعْطِنِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْ لِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْنِيْ نُوْرًا

Allāhummaj‘al lī nūran fī qalbī, wa nūran fī qabrī, wa nūran fī sam‘ī, wa nūran fī basharī, wa nūran fī sya‘rī, wa nūran fī basyarī, wa nūran fī lahmī, wa nūran fī damī, wa nūran fī ‘izhāmī, wa nūran min bayni yadayya, wa nūran fī khalfī, wa nūran ‘an yamīnī, wa nūran ‘an syimālī, wa nūran min fawqī, wa nūran min tahtī. Allāhumma zidnī nūrā. Wa a‘thinī nūrā. Waj‘al lī nūrā. Waj‘alnī nūrā.

Artinya, "Ya Allah jadikanlah cahaya pada hatiku, kuburku, pendengaranku, penglihatanku, rambutku, kulitku, dagingku, darahku, tulang-tulangku, di hadapanku, belakangku, sisi kananku, sisi kiriku, sisi atasku, dan pada sisi bawahku. Ya Allah tambahkanlah cahaya bagiku. Berikanlah cahaya kepadaku. Jadikanlah cahaya bagiku. Jadikanlah diriku bercahaya."

Doa ini diharapkan dapat membuka jalan pikiran yang macet dan buntu serta membuka jalan bagi inspirasi-inspirasi yang cemerlang.

Doa ini dikutip dari Kitab Majmu’ Syarif. Semoga doa ini bermanfaat bagi kita semua. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Ahad 16 Juni 2019 10:0 WIB
Belajar dari Cara Nabi Ibrahim Berdoa
Belajar dari Cara Nabi Ibrahim Berdoa
Imam Abu Bakr Muhammad bin al-Walid al-Thurthusyi al-Andalusi (450/451-520 H) menulis sebuah kitab berisi kumpulan doa dari Rasulullah, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu. Kitab ini ditulis sekitar satu setengah abad sebelum al-Adzkar karya Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf al-Nawawi (631-676 H). Dalam bab ketiga, Imam Abu Bakr menjelaskan soal adab-adab berdoa kepada Allah (fî adâb al-du’â lillah). Ia menulis:

فمن آدابه أن تعلم أن سيرة الأنبياء والمرسلين والأولياء الصالحين، (إن) أرادوا استقصاء حاجة عند مولاهم، أن يبادروا قبل السؤال فيقوموا بين يدي ربهم فيصفوا أقدامهم ويبسطوا أكفهم ويرسلوا دموعهم علي خدودهم، فيبدؤوا بالتوبة من معاصيهم والتنصل من مخالفتهم، ويستبطنوا الخشوع في قلوبهم 

Sebagian dari adab berdoa, kau harus mengetahui cara para nabi, rasul, dan wali yang saleh. (Jika) hendak memohon hajat kepada Tuhannya, mereka bergegas (menyiapkan diri) sebelum meminta, bersimpuh di hadapan Tuhannya, menata (posisi) kaki, membentangkan telapak tangan, mengalirkan air mata di pipi mereka. Kemudian, mereka memulainya dengan tobat dari kemaksiatan dan membebaskan (diri) dari pelanggaran, memasukan kekhusyu’an di hati mereka yang terdalam.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2002, h. 17)

Kemudian, Imam Abu Bakr menjadikan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sebagai contoh. Ketika berdoa, Nabi Ibrahim memulainya dengan memuji Tuhannya (bada’a bits tsanâ’i ‘ala rabbihi qabla su’âlihi). Dalam surat al-Syu’ara: 78-82 dikatakan:

الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ، وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ، وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ، وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ، وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ

(Yaitu Tuhan) yang telah menciptakanku, dan Dialah yang memberi petunjuk (kepada)ku. Dan Tuhan yang memberi makan dan minum kepadaku. Dan Ketika aku sakit, Dia menyembuhkanku. Dan Tuhan yang akan mematikanku, kemudian menghidupkanku (kembali). Dan Tuhan yang sangat kuinginkan mengampuni kesalahanku di hari kiamat (kelak).”

Ayat tersebut merupakan ucapan Nabi Ibrahim sebelum berdoa kepada Allah, karena di ayat berikutnya Nabi Ibrahim berdoa (QS. Al-Syu’ara: 83): “rabbi hab lî hukman wa alhiqnî bish shâlihîn” (Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh). Sebelum berdoa, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memuji Allah dengan lima pujian. Imam Abu Bakr al-Thurthusyi menjelaskan:

فأثني علي الله سبحانه بخمسة أثنية: أنه الخالق الهادي، المطعم المسقي، الشافي من الأوصاب، والمحيي والمميت، والغافر

Nabi Ibrahim memuji Allah subhanahu (wa ta’ala) dengan lima pujian: (1) Sang Pencipta yang memberikan petunjuk, (2) Sang Pemberi makan dan minum, (3) Sang Penyembuh segala penyakit, (4) Yang maha menghidupkan dan mematikan, dan (5) Maha mengampuni." (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 18)

Hal ini menunjukkan bahwa pujian sebelum berdoa sangat penting. Para nabi, rasul dan wali terdahulu melakukannya. Contohnya Nabi Musa, ketika beliau memohon kepada Allah, beliau mendahuluinya dengan kalimat (QS. Al-A’raf: 155), “anta waliyyunâ faghfir lanâ war hamnâ” (Engkau adalah Pemimpin kami, maka ampunilah [dosa-dosa] kami dan rahmatilah kami). Mereka biasa mendahului doa-doa mereka dengan pujian, penyucian, pengagungan dan seterusnya. Imam Abu Bakr al-Thurthusyi menulis:

فيبدؤون بالثناء علي معبودهم وتقديسه وتنزيهه وتعظيمه والثناء عليه بما هو اهله ثم يرغبون في الدعاء

Mereka mendahului (doanya) dengan pujian kepada Tuhan yang disembah, menguduskan-Nya, menyucikan-Nya, mengagungkan-Nya, dan memuji-Nya dengan pujian yang berhak diberikan kepadaNya, kemudian (mengajukan) permohonan dalam doa (mereka).” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 17)

Baca juga:
Belajar dari Doa-doa Nabi Ibrahim
Doa-doa Nabi Ibrahim di Makkah
Doa Nabi Ibrahim AS Minta Dikaruniai Anak
Untuk memperkuat pentingnya memuji Allah sebelum berdoa, Imam Abu Bakr al-Thurthusyi mengutip hadits syafaat yang diriwayatkan Imam al-Bukhari. Dalam hadits tersebut diceritakan bahwa banyak orang akan meminta syafaat kepada para nabi di hari kiamat kelak. Setiap nabi menceritakan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya dan meminta mereka meminta kepada nabi lainnya. Kemudian Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

فأقول أنا لها فأستأذن علي ربّي، فإذا رأيته وقعت ساجدا فيدعني ما يشاء ثم يقال: ارفع رأسك وسل تعطه وقل تسمع، واشفع تشفع، فيلهمني محامد أحمده بها، فأحمده بتلك المحامد

Aku berkata: Aku memiliki syafaat. Aku telah minta izin kepada Tuhanku. Saat aku melihat-Nya aku lekas bersujud, dan Allah membiarkanku (dalam keadaan ini selama) yang Dia kehendaki. Kemudian Dia berfirman: ‘Angkatlah kepalamu. Mintalah maka kau akan diberi. Berkatalah maka kau akan didengar. Berikanlah syafaat maka kau akan diberi syafaat. Kemudian Allah mewahyukan kepadaku pujian-pujian (untuk) aku memuji-Nya dengan itu, maka aku memuji-Nya dengan pujian-pujian tersebut.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 18-19)

Dalam riwayat di atas, Allah mengajarkan langsung pujian-pujian untuk-Nya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Artinya. Allah menghendaki hamba-hamba-Nya untuk memuji-Nya. Karena itu, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar seseorang berdoa tanpa memuji Allah dan bershalawat kepadanya, Rasulullah mengatakan: “’ajjala hadza” (ini tergesa-gesa). Kemudian beliau memanggilnya dan mengatakan (HR. Imam Abu Daud dan Imam al-Tirmidzi): 

إذا صلي أحدكم فليبدأ بتحميد ربّه والثناء عليه ثمّ يصلي علي النبيّ صلي الله عليه وسلم, ثمّ يدعو بعد بما شاء

Jika salah satu dari kalian berdoa, maka dahuluilah dengan bertahmid kepada Tuhannya dan memujiNya, kemudian bershalawatlah atas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berdoa setelahnya dengan apa yang ia maui.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 19)

Wallahu a’lam bish shawwab.


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen

Kamis 13 Juni 2019 17:30 WIB
Doa Khusus dari Rasulullah untuk Shalat Hajat
Doa Khusus dari Rasulullah untuk Shalat Hajat

Dalam berbagai literatur fiqih dan buku-buku tuntunan shalat banyak ditemukan amalan dan do’a-do’a keseharian. Dari yang bersifat umum hingga do’a istimewa. Diantara do’a yang banyak ragamnya adalah do’a yang disediakan untuk shalat hajat. Akan tetapi kebanyakan penyebutan do’a-do’a itu tidak menyertakan sumber asalnya. Baik yang berasal dari ulama shalihin maupun langsung dari hadits Rasulullah saw.<>

Oleh karena itu sungguh ada manfaatnya apabila dalam tulisan ini diceritakan sebuah kisah tentang seorang yang tidak sempurna penglihatannya datang kepada Rasulullah saw untuk meminta do’a kesembuhan. Akan tetapi Rasulullah saw malah memerintahkannya untuk mendirikan shalat hajat lalu berdo’a yaitu:

اللهم انى اسألك واتوجه اليك بمحمد نبي الرحمة يا محمد انى قد توجهت بك الى ربى فى حاجتى هذه لتقضى. اللهم فشفعه في

Allahumma ini as’aluka wa atawajjahu ilaika bi muhammadin nabiyyir rahmah, ya Muhammadu inni qad tawajjahtu bika ila Rabbi fi hajati hazdihi litaqdhi. Allahumma fa syaffi’hu fiyya.

Artinya:

Ya allah Sesungguhnya aku bermohon kepada Engkau, dan aku menghadap kepada engkau dengan Muhammad Nabiyyir Rahmah, Wahai Muhammad sesungguhnya aku menghadap Tuhanku bersamamu dalam memohonkan hajatku ini agar dikabulkan. Ya Allah perkenankanlah dia (Muhammad saw) memberikan syafaatnya kepadaku. 

Adapun keterangan lengkapnya sebagaimana ditahrijkan oleh At-Tiridzi dan Ibnu Majah hadits riwayat Utsman bin Hunaif.

إن رجلا ضرير البصري اتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال ادع الله لي انيعافينى فقال ان شئت اخرت لك فهو خير وان شئت دعوت فقال ادعه فامره ان يتوضأ فيحسن وضوءه ويصلى ركعتين ويدعو بهذا الدعاء : اللهم انى اسألك واتوجه اليك بمحمد نبي الرحمة يا محمد انى قد توجهت بك الى ربى فى حاجتى هذه لتقضى. اللهم فشفعه في

Bahwasannya ada seorang laki-laki yang penglihatannya rusak datang kepada Rasulullah saw sambil berkata “do’akanlah kepada Allah untukku, agar disembuhkan-Nya aku ini”. Rasulullah saw balik menjawab “kalau kamu mau, aku dapat menundanya untukmu dan itu lebih baik, atau kalau kamu mau aku akan mendo’akan” maka orang itupun memohon “doakanlah untukku!” . Kemudian Rasulullah saw menyuruhnya berwudhu, maka wudhulah orang tersebut dengan baik dan shalat dua raka’at dan berdo’a dengan do’a ini “Allahumma ini as’aluka wa atawajjahu ilaika bi muhammadin nabiyyir rahmah, ya Muhammadu inni qad tawajjahtu bika ila Rabbi fi hajati hazdihi litaqdhi. Allahumma fa syaffi’hu fiyya”.

Demikianlah Rasulullah saw menganjurkan dan membolehkan seseorang bertawassul menggunakan nama beliau sebagai seorang Nabi dan Rasul, meskipun dalam shalat hajat. (ulil H)


Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada Rabu, 22 Oktober 2014 pukul 06:00. Redaksi mengunggahnya ulang dengan sedikit penyuntingan.