IMG-LOGO
Trending Now:
Ekonomi Syariah

Dari Pinjaman Online ke Pegadaian Online

Rabu 19 Juni 2019 9:30 WIB
Share:
Dari Pinjaman Online ke Pegadaian Online
Pembahasan tentang pegadaian online terkait erat dengan pinjaman online. Beberapa waktu yang lalu, penulis pernah menyampaikan bahwa saat ini fintech  (financial technology) sudah merambah ke dunia pinjaman online. Dari pinjaman ini, ada yang memakai sistem konvensional dan ada yang memakai sistem syariah. Yang menarik adalah sistem syariah ini. Ternyata mekanismenya adalah masih sama dengan offline, yaitu berbasis akad jual beli. Bagaimana bisa? Simak alurnya!

  1. Anda ingin membeli sesuatu secara online tapi tidak punya uang. Anda copy dan kirim link barang yang akan Anda beli tersebut ke link pinjaman online syariah. 
  2. Selanjutnya, pihak pinjaman online ini membeli barang yang Anda kirim link-nya tadi secara cash.
  3. Barang yang sudah dibeli oleh provider pinjaman online syariah tadi selanjutnya dijual ke Anda secara kredit oleh provider.
  4. Setelah Anda menerima barang, Anda membayar harga barang yang Anda beli ke pihak provider dengan jalan mencicil. 
Pinjaman ini dimaksudkan apabila rupa pinjaman itu adalah berupa barang. Bagaimana jika Anda seseorang yang ingin mendapatkan pinjaman uang secara online dan berbasis pinjaman syariah? Jelasnya, alurnya hampir sama dengan pinjaman berupa barang. Cermati alur berikut!

  1. Anda mengirim gambar barang yang hendak dijadikan penjamin pinjaman ke provider. 
  2. Selanjutnya provider menilai kekuatan harga dari barang tersebut, lalu melakukan negosiasi harga dengan Anda.
  3. Selanjutnya pihak provider membeli barang Anda secara cash sesuai dengan nilai yang disepakati. 
  4. Setelah itu, pihak provider menjual kembali barang tersebut ke Anda secara kredit, kemudian dilakukan kalkulasi skema cicilan. 
  5. Jika sudah setuju, Anda lalu menerima uang harga cash barang yang dijadikan jaminan dari provider.

Bermula dari skema pinjaman online berbasis syariah ini, selanjutnya berkembang istilah pegadaian online. Sistem ini dikembangkan pertama kalinya oleh PT Pegadaian dan dinamakan sebagai PDS (Pegadaian Digital System). Mekanisme pelaksanaannya hampir sama, namun berbeda karena ada sisi kunjungan ke rumah, tempat nasabah pegadaian itu berada. Simak alurnya!

  1. Anda hendak menggadaikan mobil atau kendaraan lainnya di pegadaian. 
  2. Anda diminta untuk mengisi data lewat aplikasi PDS
  3. Selanjutnya, pihak pegadaian mengunjungi Anda dan melihat mobil atau barang yang digadaikan
  4. Di saat itu dilakukan penaksiran langsung terhadap kemampuan harga barang yang digadaikan ditambah kalkulasi sewa titip tempat penyimpanan
  5. Uang yang Anda butuhkan dicairkan
  6. Pegadaian membawa barang Anda untuk dititipkan di tempat penyimpanan pegadaian

Perbedaan antara pinjaman syariah online dan pegadaian online terletak pada pola eksekusi barang. Jika pada pegadaian, barangnya harus dititipkan di tempat gadai, sementara pinjaman syariah online, barang masih bisa dipakai oleh nasabah, karena penerapan sistem jual belinya. 

Karena dalam pegadaian, barang gadai (marhun) adalah masih milik dari penggadai (râhin), maka râhin dikenai biaya sewa tempat penitipan sebagai aplikasi dari biaya perawatan / penjagaan barang gadai. Ingat bahwa perawatan barang yang digadaikan adalah masih menjadi tanggung jawab râhin disebabkan karena belum adanya pindah kepemilikan. Umumnya biaya sewa tempat simpan barang ini ditetapkan sebesar 0.7% dari harga barang dengan minimal booking sewa tempat selama 15 hari dan kelipatannya. 

Jadi, misalnya harga gadai kendaraan adalah sebesar 100 juta dengan tempo pelunasan selama satu tahun, maka biaya sewa tempat ini dapat dihitung sebagai berikut: (0.7% × 100 juta) x 2 x 12 bulan = 16.8 juta rupiah per tahun

Biaya ini wajib dikeluarkan râhin sebagai bagian dari akad ijârah (sewa-menyewa) tempat dan umumnya dihitung secara bersama-sama dengan pokok pinjaman gadai. Jika gadainya 100 juta, maka angka ini ditambahkan dengan biaya sewa sebesar 16.8 juta, sehingga total pengembalian adalah sebesar 116.8 juta rupiah. 

Berapakah biaya cicilan per bulannya? Jika dicicil setiap bulan dengan hitungan flat rate (cicilan yang mendatar sama besarnya), maka biaya cicilan akan menjadi: 116.8 juta /12 bulan = 9.733 juta rupiah per bulan. Tentu harga ini masih belum termasuk di dalamnya berupa biaya admin. Wallahu a'lam bish shawab.


Ustadz Muhammad Syamsudin, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur

Share:
Rabu 19 Juni 2019 21:30 WIB
Mengenal Uang Kertas dalam Perspektif Islam
Mengenal Uang Kertas dalam Perspektif Islam
ilustrasi: peruri

Pada awalnya manusia tidak mengenal uang, sehingga melakukan pertukaran antar barang dan jasa secara barter samapai mereka mendapat petunjuk dari Allah SWT untuk membuat uang. Kemudian Allah SWT menciptakan barang tambang emas dan perak sebagai nilai untuk setiap harta. Dinar dan Dirham berfungsi sebagai medium untuk mengukur harga komoditas, disamping juga berfungsi untuk alat tukar transaksi dan barang simpanan kekayaan.

Bangsa Yunani membuat ”uang komoditas” yang disebar antara mereka. Kemudian mereka membuat emas dan perak yang berupa batangan sampai masa dimulainya percetakan uang tahun 406 SM. Mata uang utama mereka adalah Drachma yang terbuat dari perak. Bangsa Romawi pada masa sebelum abad ke-3 SM. menggunakan mata uang yang terbuat dari perunggu yang disebut aes (Aes Signatum Aes Rude). Mereka juga menggunakan mata uang koin yang terbuat dari tembaga. Kemudian mereka mencetak Denarius dari emas yang kemudian menjadi mata uang utama imperium Romawi yang dicetak pada tahu 268 SM.

Bangsa Persia mengadopsi percetakan uang dari bangsa Lydia setelah penyerangan mereka pada tahun 546 SM. Uang dicetak dari emas dan perak dengan perbandingan (rasio) 1:13,5. Suatu hal yang membuat naiknya nilai emas dari perak. Uang yang semula berbentuk persegi empat kemudian mereka ubah menjadi bundar dan mereka ukir pada uang itu ukiran tempat peribadatan dan tempat nyala api. Bangsa Arab di Hijaz pada masa Jahiliyah tidak memiliki mata uang tersendiri. Mereka menggunakan mata uang yang mereka peroleh berupa Dinar Emas Hercules, Byziantum dan Dirham Perak dinasti Sasanid dari Iraq, dan sebagian  mata uang bangsa Himyar, Yaman. Sedangkan penduduk Mekkah tidak memperjualbelikan Dinar kecuali emas yang tidak ditempa dan tidak diolah.

Pada saat Nabi Muhammad SAW diutus sebagai nabi dan rasul, beliau menetapkan apa yang telah menjadi tradisi penduduk Mekkah, Dinar emas dan dirham perak serta uang logam (uang tembaga) merupakan mata uang yang berlaku sejak zaman Rasulullah SAW Mata uang tersebut terus digunakan dalam transaksi berbagai kebutuhan dan perdagangan hingga muncul mata uang kertas (paper money), tepatnya setelah Perang Dunia I pada tahun 1914 M. Semenjak itu, banyak negara tidak lagi mempergunakan dinar emas dan dirham perak sebagai mata uang dan alat tukar, meskipun sebagian negara tetap menggunakan nama dinar untuk mata uang negara seperti negara Kuwait namun Dinar berbentuk uang kertas

Secara etimologi, kata uang dalam terjemahan bahasa Arab nuqud mempunyai beberapa makna: baik, tunda lawan tempo atau tunai, yakni memberikan bayaran segera. Disebutkan dalam hadits: Naqadani al-tsaman (نقدني الثمن yakni dia membayarku harga dengan tunai.

Kata uang  (nuqud/money) tidak terdapat dalam Al-Qur’an maupun dalam al Hadits. Karena bangsa Arab menggunakan kata dinar untuk mata uang emas dan dirham untuk mata uang perak. Mereka juga menggunakan kata wariq untuk menunjukan dirham perak dan ’ain untuk dinar emas. Sedangkan kata fulus dipakai untuk menunjukan alat tukar tambahan untuk membeli barang-barang murah.

Para ulama fiqih menyebut mata uang dengan menggunakan kata dinar, dirham dan fulus. Untuk menunjukan dinar dan dirham mereka menggunakan kata naqdain (mustanna). Menurut Al-Sarkhasy (Al-Mabsuth: 14), nuqud hanya dapat digunakan untuk transaksi atas nilai yang terkandung, karenanya nuqud tidak dapat dihargai berdasarkan bendanya.  Jadi definisi uang adalah apa yang digunakan manusia sebagai standar nilai harga, media transaksi dan media simpanan. Dengan demikian nampak jelas bahwa para fakih mendefinisikan uang dari perspektif fungsi-fungsinya dalam ekonomi, yaitu: A. Sebagai standar nilai harga komoditi dan jasa; B. Sebagai media pertukaran komoditi dan jasa; dan C. Sebagai alat simpanan.

Kesimpulannya, mata uang adalah setiap sesuatu yang dikukuhkan pemerintah sebagai uang dan memberinya kekuatan hukum yang bersifat memenuhi tanggungan dan kewajiban, serta diterima secara luas. Sedangkan uang lebih umum dari pada mata uang, karena mencakup mata uang dan yang serupa dengan uang. Dengan demikian, setiap mata uang adalah uang, tetapi tidak setiap uang itu mata uang.

Islam tidak menentukan mata uang tertentu untuk dijalankan oleh umat muslim, kalaupun Rasulullah saw menyebutkan Dinar dan Dirham bukan berarti mata uang yang harus dipraktikkan hanya terbatas kepada jenis itu saja. Hal ini dapat dilihat dari beberapa aspek. Pertama, semua teks agama yang menyebut kata Dinar dan Dirham tidak menyebut satu-satunya alat transaksi. Kedua, karakteristik muamalah (transaksi) bersifat dinamis, diserahkan kepada kreatifitas manusia sepanjang tidak berbuat zalim. Karena pada dasarnya muamalah adalah halal. Ketiga, uang kertas dapat dianalgikan (qiyas) dengan Dinar dalam aspek sebagai stándar nilai, alat tukar dan alat saving.

Perputaran uang selalu menggunakan jasa perbankan, termasuk bank syariah. Bank Syariah yang menggunakan uang kertas, baik berupa Rupiah, Riyal, Ringgit maupun Dólar tidak dapat dikatakan tidak syariah apalagi disebutnya riba. Sebab penilaian syariah atau tidaknya sebuah transaksi dapat dilihat dari dua sisi. Yaitu sisi barang yang menjadi obyek transaksi dan cara bertransaksi. Adapun obyek transaksi yang diharamkan di antaranya karena najis atau memudlaratkan. Sedangkan cara transaksi yang diharamkan ádalah karena zalim, baik krn curang, menipu atau perjudian. Adapun riba berkenaan dengan pertambahan nilai, baik karena berdasarkan waktu (riba nasi’ah) atau karena jumlahnya (riba fadl). Jadi tidak tepat menyebuk bank syariah tidak menjalankan syariah karena menggunakan uang kertas. Namun bank syariah tetap perlu meningkatkan kualitasnya.

M. Cholil Nafis, Ph D
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU, Koordinator Kekhususan Ekonomi dan Keuangan Syariah Program Pascasarjana Pusat Studi Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia


Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada Selasa, 16 November 2010 pukul 15:51. Redaksi mengunggahnya ulang dengan sedikit penyuntingan.

Rabu 19 Juni 2019 16:0 WIB
Mengenal Pasar Modal Konvensional
Mengenal Pasar Modal Konvensional
Era digital merupakan sarat dengan cepatnya informasi dan akses. Seorang santri yang sudah ditempa dengan pendidikan kitab ala pesantren pun mesti mengikuti perkembangan yang terjadi. Salah satunya adalah perkembangan yang terjadi pada merchant. Merchant saat ini sudah menjangkau pada wilayah kajian pasar modal.

Nah, di sinilah tulisan ini hendak ditekankan, yakni mengenal tentang pasar modal itu seperti apa. Tujuan dari mempelajari ini sudah pasti untuk lebih mengasah dasar keilmuan syariat sebelumnya, guna diaplikasikan dalam masyarakat serta menggunakannya sebagai kaca mata untuk memilah dan memilih produk: mana yang sesuai syariat dan mana yang tidak sesuai. 

Perlu diketahui bahwa UU Nomor 8 Tahun 1995, Pasal 1 Angka 13 mengamanatkan bahwa pasar modal merupakan kegiatan yang bersangkut paut dengan perdagangan dan penawaran umum efek perusahaan umum (publik) dan lembaga serta profesi yang berkaitan dengan efek.. Sudah pasti, setiap perusahaan publik selalu memiliki efek yang diterbitkannya. Efek adalah surat-surat berharga perusahaan, termasuk di dalamnya adalah obligasi, saham, giro dan lain sebagainya.

Baca:
Syarat agar Perdagangan di Bursa Efek Sah secara Fiqih
Fiqih Transaksi: Sertifikat sebagai Jaminan Transaksi dan Efek
Mengapa perusahaan menerbitkan efek? Jawabnya, sudah pasti juga hal ini berkaitan dengan pendanaannya. Perusahaan mau maju kadang butuh strategi menerbitkan dan menjual saham. Kadang juga melalui pemangkasan karyawan dan mengangkat karyawan baru yang lebih profesional dan relevan dengan bidang kerjanya. Kadang juga, perusahaan yang ingin go public, ia harus berutang ke pihak lain dengan jalan menerbitkan obligasi. 

Nah, pasar modal itu wilayah cakupannya mengurusi tetek bengek yang berhubungan dengan efek-efek itu semua. Jadi, di dalam pasar itu berkumpul sejumlah pialang. Ada pialang saham, pialang obligasi, giro dan lain sebagainya. Mereka semua adalah investor (pemodal) bagi perusahaan. 

Bila sebuah perusahaan menjual sahamnya, itu artinya ia sedang menarik mitra untuk masuk dalam jaring usahanya. Apabila perusahaan menjual obligasi, itu artinya perusahaan sedang mencari tambahan dana sementara infrastruktur yang dimilikinya sebagai jaminan pengembalian sudah dipandang cukup, berikut pengalamannya dalam bergerak di jalur usaha tertentu. 

Perusahaan itu ada dua model, yaitu berbentuk kemitraan terbuka dan kemitraan terbatas. Untuk kemitraan terbuka (Perseroan Terbuka) maka ia bisa menggait pemodal asing untuk masuk dalam lingkup usahnya. Sementara Kemitraan Terbatas (PT) ia hanya bisa menggait pemodal domestik dalam negeri. 

Mengingat scope pemodal bisa menjangkau wilayah sesuai jenis kemitraan yang dibentuknya, maka agar upaya penggalangan dana usaha itu berlangsung efektif, maka dilakukanlah inovasi berbasis pasar modal. Jika sebelumnya pasar modal berada dalam rumah kaca yang dinamakan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berada di Jakarta, nah seiring perkembangan jaman, pergerakan pemasaran efek ini sudah merambah ke ceruk rumah tangga dan individu. 

Melalui jaringan online yang tersedia, para perusahaan ini mulai menawarkan efeknya ke masyarakat. Akhirnya, berdirilah situs-situs broker. Tawaran yang umum disampaikan ke masyarakat adalah investasi. Netizen pernah menemukan banyak situs menawarkan investasi, bukan? Itu adalah salah satu dari situs bursa modal. Jika anda ikut di dalamnya, maka anda seolah sedang menginveskan dana anda ke perusahaan tersebut dan kelak akan menerima hasil berupa bagi hasil dari investasi. 

Yang perlu kita sadari adalah mekanisme penjaringan investasi itu. Sebelumnya yang perlu diwaspadai adalah situs investasi itu sendiri. Sebaiknya anda harus mencari tahu  terlebih dahulu, daftar situs broker yang dimaksud. Jangan-jangan itu adalah situs investasi bodong atau fiktif. Sayang bukan, bila kemudian dana anda dibawa lari orang. 

Selanjutnya, anda juga perlu mencari informasi apakah situs tersebut terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau tidak. Jika tidak masuk dalam daftar broker resmi di OJK, maka sudah pasti situs tersebut juga tidak resmi. Ini penting kiranya memperhatikan legal formalnya broker. Karena bagaimanapun, broker resmi memiliki sebuah pengawas. Dan otoritas badan yang mengawasi dalam hal ini adalah berpusat pada OJK dan BAPEPAM LK. BAPEPAM LK ini memiliki kepanjangan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan. Kewenangan lembaga ini diatur oleh UU Nomor 21 Tahun 2011 di bawah Otoritas Jasa Keuangan. Dengan begitu, dana anda mendapatkan jaminan keamanannya. 

Terakhir yang terpenting untuk diperhatikan adalah anda sedang ikut pasar modal yang mana? Apakah pasar modal konvensional ataukah pasar modal syariah? Karena bahasan kita kali ini berfokus pada kajian pasar modal konvensional, maka anda harus faham basic akadnya. 

Pada saat kita memutuskan ikut pasar modal konvensional, lalu ada penawaran pembelian saham dari perusahaan tertentu, maka hakikatnya anda sedang menjadi mitra dari perusahaan tersebut. Pasar saham ini tidak sama maksudnya dengan anda sedang menabung di deposito. Jika deposito, anda layaknya menanam saham/modal untuk jangka waktu operasional perusahaan. Misalnya 6 bulan, atau annual (tahunan). Dalam pasar modal, anda dituntut untuk menjual saham itu kembali pada waktu tertentu. Itulah sebabnya ada istilah future (perdagangan berjangka), swap, option, binary atau forward. Anda diminta untuk menentukan waktu kapan menjual dan kapan membeli. Disaat anda memutuskan membeli, maka saham itu sah menjadi milik anda. Dan di saat anda menjual, maka saham itu menjadi pemilik orang lain. 

Adanya tekanan keputusan untuk menjual dan membeli ini yang selanjutnya melahirkan kontroversi dalam wilayah fiqih. Kedudukannya hampir sama dengan jual beli mukrah (terpaksa karena adanya tekanan). Poin yang menjadi titik penting dari peranan pasar modal konvensional ini adalah menjaga stabilitas kurs mata uang yang dari situ lahir pergerakan suku bunga perbankan di lingkup bank sentral (Bank Indonesia / BI). Kurs ini juga kelak mempengaruhi pergerakan rasio bagi hasil di perbankan syariah. Nah, inilah lingkaran jebakan batman itu. Tidak ikut perdagangan di pasar modal, angka rupiah bisa jatuh di pasaran dunia. Jika ikut, kita harus dihadapkan pada pola akad yang bertentangan dengan syariat disebabkan karena kondisi mukrah kita itu. 

Hal ini belum lagi apabila kita masuk dalam dunia perdagangan efek yang berasal dari obligasi. Yang kita beli dalam pasar obligasi adalah surat utang. Kemudian surat itu kita jual lagi dalam bentuk surat utang juga ke pihak lain. Tanda bukti kepemilikan piutang dijual dengan mengambil keuntungan. Keuntungan ini sifatnya apa, termasuk ribakah atau tidak? Sama halnya dengan ada seseorang berutang kepada anda sejumlah uang, lalu bukti kepemilikan piutang itu anda jual ke orang lain dengan mengambil laba. Sahkah laba itu dalam pandangan syariat? 

Ada dua jawaban. Pertama adalah sah, manakala surat utang (obligasi) itu sifatnya adalah pengalihan tanggungan sehingga berlaku akad hawalah (pengalihan tanggungan utang). Namun, jika dirupakan akad hawalah ini, sudah pasti obligasi tersebut harus dengan harga beli. Kedua, adalah tidak sah. Mengapa? Karena tidak mungkin menjual piutang. Namun, bisa jadi juga ada yang menyangkal bahwa bukankah uang juga merupakan surat berharga yang bisa diperjualbelikan? Meskipun Imam al-Ghazali menghukuminya dhalim, namun keabsahan jual beli uang adalah boleh. Imbasnya, jual beli obligasi juga boleh. Nah, menurut anda bagaimana? Pilih boleh atau tidak hayoooo? Wallahu a'lam bish shawab.


Ustadz Muhammad Syamsudin, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur

Senin 17 Juni 2019 13:0 WIB
Bertahan di Era Disrupsi Teknologi
Bertahan di Era Disrupsi Teknologi
Tahukah Anda apa yang dimaksud dengan disrupsi? Disrupsi merupakan suatu kondisi gangguan pasca-adanya perubahan yang mendasar sebagai akibat kemajuan zaman. Dulu kita mengenal yang namanya taxi Bluebird, Angguna, atau taxi lain. Mereka menerima order dengan jalan tatap muka langsung atau perusahaan tempat penyedianya dikontak oleh konsumen. 

Seiring hadirnya telepon pintar, proses pemesanan taxi menjadi berubah. Orang tidak lagi mencari tempat mangkalnya taxi atau ojek. Mereka lebih memilih memanfaatkan aplikasi GoJek, Grab, Uber atau semacamnya untuk melakukan pemesanan via online. Dampaknya, terjadi gangguan pada level konsumen taxi argo semacam Bluebird dan sejenisnya. Konsumen mereka menurun drastis. Jika tidak disikapi secara bijak, maka keberadaan taxi Bluebird dan taxi argo lainnya kelak hanya akan tinggal nama saja. Inilah gambaran dari disrupsi itu, yang merupakan risiko perkembangan teknologi. 

Dunia perbankan hari ini juga mengalami hal yang sama. Perkembangan fintech (financial technology) dan teknologi digital lainnya memungkinkan masyarakat bertransaksi dengan tidak lagi memanfaatkan peran perbankan. Mau membayar tiket kereta, tiket pesawat, atau bahkan hal yang bersifat harian, seperti kebutuhan konsumsi PDAM, listrik, dan tagihan-tagihan lain, masyarakat cenderung lari ke fintech. Dompet digital (e-wallet) menjadi suatu alternatif di masa mendatang bagi masyarakat untuk kebutuhan membuka rekening atau investasi. Dalam hal ini, perbankan mengalami sebuah masa, sebagaimana yang sudah disebutkan di atas, yaitu masa disrupsi. 

Pertelevisian dan dunia periklanan kelak juga akan mengalami hal yang sama. Jika sebelumnya pengiklan lebih memilih media TV nasional, di kemudian hari tren ini akan beralih ke dunia digital. Mereka lebih memilih Youtube, website, atau platform online lainnya untuk memasarkan dan mengiklankan produknya. Dunia TV dalam kondisi semacam ini juga bisa disebut sedang mengalami disrupsi. 

Apakah berhenti sampai di sini? Ternyata tidak. Tim keuangan dan profesional pun juga bisa mengalami terdisrupsi manakala tidak mengembangkan keterampilan. Bahkan lembaga pendidikan atau pondok pesantren pun juga bisa terdisrupsi. Banyak kajian yang semula harus dilakukan dengan tatap muka, dapat beralih ke kajian via streaming di media-media sosial. Inilah ciri dari masa disrupsi. 

Masa disrupsi adalah masa lompatan dan perlu upaya penyelarasan dengan bijak. Tanpa upaya menyelaraskan, maka jangan heran bila kelak ada banyak lembaga keuangan, lembaga pendidikan, atau bahkan pondok pesantren, hanya tinggal nama. 

Penyelarasan utamanya harus dilakukan terhadap dampak kecerdasan artifisial (kecerdasan buatan), otomatisasi robot dan teknologi lainnya. E-money adalah merupakan bagian dari fakta terbaru. Penggunaan cryptocurrency (mata uang kripto) yang berbasis sandi (kriptografi) lambat laun akan dialami juga oleh masyarakat. 

Perlu diketahui bahwa Pemerintah pada tahun 2017 sudah mencanangkan sebuah hari pengurangan penggunaan mata uang konvensional. Pemerintah lewat Menteri Keuangan sudah mulai memberi warning kepada staf kementerian agar mulai merambah dunia sistem pembayaran non-tunai berbasis uang digital dan dompet digital (e-wallet). 

Perlu diketahui bahwa telah hadir sebuah laporan hasil penelitian yang dirilis oleh Chartered Institute of Management Accountants (CIMA). Riset ini mengabarkan bahwa mayoritas (lebih dari 50%) pemimpin keuangan global harus melakukan perubahan sikap secara signifikan selama tiga tahun ke depan terhitung sejak awal 2019 ini. Rekomendasi ini disampaikan dengan menimbang peran teknologi baru yang semakin bermunculan dan kelak dapat mengambil alih peran dan tugas-tugas tradisional. Keuntungan yang dijanjikan oleh pemanfaatan teknologi baru ini adalah bisnis menjadi lebih fokus pada penguatan dan penciptaan nilai melalui otomatisasi tugas yang berulang. Keahlian dalam bidang-bidang semacam analisis data keuangan, manajemen risiko, dan model bisnis, suatu saat bisa tergantikan oleh peran otomatisasi ini. Akibatnya, tindakan pengambilan keputusan akan berlangsung cepat. 

Di dalam penelitian yang dilakukan oleh CIMA ini juga dilaporkan bahwa 61% profesional bidang keuangan yang disurvey berharap lebih dari 20% tugas keuangan agar diotomatisasi. Dari kesekian responden, 55% dari kalangan profesional ini mengaku sudah membaca peluang untuk menuju langkah otomatisasi itu. Itu artinya, beberapa bidang pekerjaan yang sebelumnya ditangani oleh personal dengan skill tradisional, ke depan akan digantikan oleh mesin otomatisasi itu. Dengan kata lain, personal skill tradisional tersebut sedang dalam posisi disrupsi. 

Coba bayangkan! Bank BCA dan Bank Mandiri saat ini sudah merilis program pembukaan rekening via Fintech. Berbekal smartphone, calon nasabah yang menghendaki pembukaan rekening, tidak lagi perlu antre dan datang ke bank untuk melakukan pembukaan itu. Mereka cukup mengakses smartphone, membuka situs Bank Mandiri atau BCA, lalu mengikuti prosedur pembukaan rekening, dan berbekal telekonferensi mereka melakukan dialog dengan petugas customer service masing-masing bank. Dalam hitungan menit, dengan cara itu, mereka sudah langsung bisa membuka rekening. 

Mereka hanya perlu datang ke kantor cabang bank terdekat apabila membutuhkan ATM. Berangkat dari fakta ini, kira-kira posisi apa yang sedang terdisrupsi? Ya, tepat. Jawabnya adalah posisi petugas bank yang menangani pembukaan rekening. Bagaimana agar mereka tetap bertahan dalam posisinya sebagai petugas perbankan? Sudah barang tentu, mereka harus mulai memikirkan skill dan keterampilan yang dimilikinya untuk beradaptasi dengan risiko kemajuan zaman. Bagaimana dengan anda? Wallahu a'lam bi al-shawab.


Ustadz Muhammad Syamsudin, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur