IMG-LOGO
Hikmah

Kisah-kisah Doa yang Dikabulkan

Rabu 19 Juni 2019 18:0 WIB
Share:
Kisah-kisah Doa yang Dikabulkan
Dalam kitab al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, Imam Abu Bakr al-Thurthusyi mencatat beberapa riwayat tentang doa yang dikabulkan. Berikut beberapa riwayatnya untuk dijadikan pelajaran.

Riwayat yang pertama menceritakan Sayyidina ‘Uqbah bin Nafi’ yang sembuh dari kebutaan setelah diajarkan doa dalam mimpinya. Ia adalah kemenakan Sayyidina ‘Amr bin ‘Ash dan seorang jenderal yang bertugas sejak era Khalifah Umar bin Khattab sampai Daulah Umayyah. Lahir di Makkah tahun 1 H, dan wafat di Aljazair tahun 63 H. Berikut kisahnya:

وحكي عن الليث بن سعد أنه قال: رأيت عقبة بن نافع ضريرا ثمّ رأيته بصيرا، فقلت له: بم رد الله عليك بصرك؟ فقال: أتيت في المنام فقيل لي: قل يا قريب يا مجيب يا سميع الدعاء، يا لطيف لما يشاء، رُدّ عليَّ بصري، فقلتها فرد الله عليَّ بصري

Diceritakan dari al-Laits bin Sa’d, ia berkata: “Aku melihat ‘Uqbah bin Nafi’ dalam keadaan buta, kemudian aku melihatnya (sudah bisa) melihat (kembali).”

Aku bertanya kepadanya: “Dengan apa Allah mengembalikan penglihatanmu?”

Ia menjawab: “Aku bermimpi dan dikatakan kepadaku: ‘Ucapkanlah: Yâ qarîb, ya mujîb, ya samî’ad du’â, ya lathîf li mâ yasyâ’u, rudda ‘alayya basharî (wahai Tuhan yang Maha-Dekat, wahai yang Maha-Mengabulkan, wahai yang Maha-Mendengarkan doa, wahai yang Maha-Lembut atas apa-apa yang dikehendaki-Nya, kembalikanlah penglihatanku). Kemudian aku mengucapkan doa tersebut dan Allah mengembalikan penglihatanku.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2002, h. 40-41)

Riwayat kedua menceritakan Imam Abdul Malik bin Habib al-Qurthubi (174-238 H), seorang ulama mazhab Maliki dari Cordova, Andalusia. Ketika itu ia sedang dalam perjalanan menggunakan perahu, dan air laut bergelombang sangat besar. Berikut riwayatnya:

وروي أبو محمد بن أبي زيد أن عبد الملك بن حبيب الذي يقال له: عالم الأندلس كان مستجابا، وأن البحر هاج بهم في اللجة، فقام فتوضأ ثمّ رفع يديه إلي السماء فقال: اللهم ماذا العذاب الذي أوتينا، وما هذه القدرة؟ اللهم إن كنت تعلم أن رحلتي هذه كانت لوجهك خالصا، ولإحياء سنن رسولك فاكشف عنا هذا الغم، وأرنا رحمتك كما أريتنا عذابك، فكشف الله عنهم بلطفه في الوقت

Diriwayatkan dari Abu Muhammad bin Abu Zaid bahwa Abdul Malik bin Habib, seorang ahli ilmu dari Andalusia, (pernah) dikabulkan doanya. (Ketika itu) terjadi ombak laut yang sangat besar. Kemudian Abdul Malik bin Habib berwudhu dan menengadahkan kedua tangannya ke langit. Ia berucap: “Ya Allah, azab apa ini yang ditimpakan kepada kami, dan qudrah (kehendak) apa ini? Ya Allah, kiranya Engkau tahu bahwa sesungguhnya perjalananku ini semata-mata untuk (mengharapkan ridha)-Mu, dan untuk menghidupkan sunnah Rasul-Mu, maka hilangkanlah kesusahan ini dari kami, dan perlihatkanlah rahmat-Mu kepada kami sebagaimana Engkau telah memperlihatkan azab-Mu.” Kemudian Allah menghilangkan kesusahan mereka seketika itu juga dengan kemaha-lembutan-Nya.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, , 2002, h. 38-39)

Riwayat ketiga menceritakan mimpi Imam Ibnu Khuzaimah tentang Imam Ahmad bin Hanbal, pendiri mazhab Hanbali. Imam Ibnu Khuzaimah (223-311 H) adalah seorang ahli hadits dan fiqih dari mazhab Syafi’i. Ia terkenal dengan kitab kumpulan haditsnya, Shahîh Ibnu Khuzaimah. Berikut riwayatnya:

وحكي عن ابن خزيمة أنه قال: لما مات أحمد بن حنبل كنت بالاسكندرية، فاغتممت، ورأيت أحمد بن حنبل في المنام وهو يتبختر، فقلت: يا أبا عبد الله؟ أي مشية هذه؟
فقال مشية الخدام في دار السلام، قلت: ما فعل الله بك؟ قال: غفر لي، وتوجني، وألبسني نعلين من ذهب، وقال: يا أحمد، هذا بقولك القرآن كلامي، ثم قال: يا أحمد ادعني بتلك الدعوات التي بلغتك عن سفيان الثوري وكنت تدعو بها في دار الدنيا
فقلت: يا رب كل شيء بقدرتك علي كل شيء، اغفر لي كل شيء ولا تسألني عن شيء، فقال: يا أحمد هذه الجنة فادخلها، فدخلتها

Diceritakan dari Ibnu Khuzaimah, ia berkata: Ketika Ahmad bin Hanbal meninggal, aku sedang berada di Iskandariah, aku pun bersedih. Lalu aku melihat Ahmad bin Hanbal dalam mimpi, ia berjalan dengan gaya yang menawan. Aku pun bertanya: “Wahai Abu Abdillah, jalan macam apa ini?”

Ahmad bin Hanbal menjawab: “Jalannya para pelayan di rumah keselamatan.”

Aku bertanya lagi: “Apa yang diperbuat Allah kepadamu?”

Ia menjawab: “Allah telah mengampuniku, memahkotaiku, dan memakaikan kepadaku dua sandal dari emas.” Dia berfirman: “Wahai Ahmad, (anugerahKu) ini karena perkataanmu bahwa Al-Qur’an adalah kalam-Ku,” kemudian Allah berfirman lagi: “Wahai Ahmad, berdoalah kepada-Ku dengan doa yang telah disampaikan Sufyan al-Tsauri kepadamu.” Aku pun berdoa dengan doa-doa tersebut di kehidupan dunia (ketika aku masih hidup). Aku berdoa:

“Yâ rabbi kulli syai’in, bi qudratika ‘alâ kulli syai’in, ighfir lî kella syai’in wa lâ tas’alanî ‘an syai’in (Wahai Tuhan segala sesuatu, dengan kuasa-Mu atas segala sesuatu, ampunilah aku (dari) segala sesuatu (dosa dan kesalahan), dan jangan Kau tanyakan sesuatu pun kepadaku.”

Lalu Allah berfirman: “Wahai Ahmad, surga ini, masuklah kau ke dalamnya, maka aku pun memasukinya.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, , 2002, h. 41)

Tiga riwayat di atas menunjukkan bahwa doa harus diperankan dalam kehidupan kita. Karena doa tidak sekadar bentuk formal untuk memohon sesuatu kepada Allah, tapi juga bentuk pengakuan akan kelemahan kita sebagai manusia sekaligus pengakuan akan kemaha-kuasaan Allah sebagai Tuhan semesta alam. Dengan berdoa, kita bisa merendahkan kesombongan kita, dan perlahan-lahan membangun kesadaran kita, bahwa sebaik apa pun usaha manusia, akan bertambah kebaikannya dengan memasrahkan sepenuhnya kepada Allah. Sebagai penutup, kita perlu renungkan kalimat panjang berikut ini:

قال سلفنا رضوان الله عليهم: ما من أحد إلا ويريدك لنفسه، فصدّيقك يريدك للاستمتاع بحديثك والانتفاع بك، والأب يريدك لراحة يجدها بقربك، وكشف غمة تلحقه عندك، وأستاذك ومعلمك يريدك لينتفغ بك في الآخرة لثواب ما علمك، ولذة يجدها في الدنيا بتخريجك من ظلمات الجهل إلي أنوار المعرفة
وعلي هذا النمط يجري مراد الخلائق بينهم، إلا الله سبحانه، فإنه يريدك (ليغفر لك) قال الله سبحانه: (يَدْعُوكُمْ لِيَغْفِرَ لَكُمْ)
وقال سبحانه: (فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَٰكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ) وهذا استعطاف للخلق في الدعاء

“Para ulama salaf kita, semoga Allah meridhai mereka, berkata: ‘Tiada seorang pun yang menginginkan (sesuatu) untukmu kecuali untuk dirinya sendiri. Temanmu menginginkanmu menjadi pendengar obrolannya dan ingin mengambil manfaat darimu. Seorang ayah menginginkanmu karena kesenangan yang ditemukannya dengan berada di dekatmu dan ingin (merasakan nikmatnya) melenyapkan kesusahan yang menimpamu. Guru dan pengajarmu, menginginkanmu agar mendapat manfaat darimu di akhirat (kelak) karena pahala mengajarimu dan ingin merasakan kesenangan di dunia dengan (rasa nikmatnya keberhasilan) mengeluarkanmu dari gelapnya kebodohan menuju cahaya pengetahuan.

Dan pola inilah yang berlaku (dalam pergaulan) di antara sesama manusia. Berbeda halnya dengan Allah Swt., yang menginginkanmu (agar Dia mengampunimu). Allah berfirman (QS. Ibrahim: 10): “Dia menyeru kalian agar Dia mengampuni kalian.”

Allah berfirman (QS. Al-An’am: 43): “Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitan pun menjadikan indah apa yang selalu mereka kerjakan.” Ayat ini menunjukkan permintaan kepada makhluk (manusia) untuk berdoa.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 13-14)

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish shawwab...


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen
Tags:
Share:
Selasa 18 Juni 2019 9:0 WIB
Kisah Tukang Sapu Mendapatkan 99 Keping Emas
Kisah Tukang Sapu Mendapatkan 99 Keping Emas
Ilustrasi (via 22d.info)
Alkisah, ada seorang raja yang mempunyai pola tidur tidak baik. Ia sendiri tidak tahu pasti apa sebabnya. Kebutuhan hidup dari sisi materi selalu tercukupi, bahkan bisa dikatakan hartanya melebihi kebutuhan hidupnya. Tapi aneh, sang raja tidak bisa tidur pulas melewati malam-malamnya. 

Pada satu saat, di tengah kegelisah malam sang raja, kedua kelopak matanya menatap luar jendela ruangannya. Di luar sana, tampak tukang sapu sedang menikmati pekerjaannya. Ia pungut sampah-sampah yang terserak di lingkungan istana. Menurut pandangan raja, tukang sapu ini seolah tak punya beban apa-apa walaupun kehidupannya tidak bergelimang harta. Sedangkan raja sendiri merasa belum bisa mendapatkan kenyamanan hidup sebagaimana yang dirasakan oleh salah satu pembantunya itu. 

Tiba-tiba sang raja ingin membahagiakan Pak Tukang Sapu. Atas pemberian itu, raja berharap barangkali bisa menjadikan orang tersebut tambah gembira berkat ketulusan kerjanya. Raja memberikan hadiah 100 keping emas kepada tukang sapu melalui ajudannya. 

Dengan terbungkus rapi, ajudan raja memberikan benda yang telah diamanatkan kepadanya. Setelah hadiah diterima tukang sapu, sang ajudan segera undur diri dan baru kemudian tukang sapu menghitungnya. 

Malang, setelah ia membuka bungkus pemberian raja, betapa terkejutnya. Kepingan emas yang ia hitung berulang kali itu hanya berjumlah 99 keping. Menurutnya, tidak mungkin ada raja memberikan satu hal dengan hitungan ganjil seperti yang ia alami. Hatinya galau. Tukang sapu mencari ke sana kemari kekurangan satu keping dan sampai beberapa hari belum kunjung ditemukan. 

Tukang sapu tidak bisa memastikan kurang atau hilangnya emas yang satu keping pada pemberian raja tersebut. Satu keping emas hilang entah saat di tangan siapa. Rajanya salah hitung? Atau ajudannya tidak amanah?, Atau mungkin di tangan ia sendiri sesaat sebelum ia menghitung itu ada yang tercecer hilang? Hatinya semakin dirundung kesusahan yang tidak kunjung hilang sampai menyebabkan tukang sapu tidak kembali tampak masuk kerja. 

Sang raja juga mendapati sedikit keanehan. Sejak ia memberikan kepingan emas melalui ajudan, tukang sapu yang satu tersebut menjadi tidak tampak lagi bekerja. Raja menelisik apa yang melanda si tukang sapu tersebut melalui ajudannya. 

“Ada apa dengan tukang sapu yang kemarin kamu kasih 100 keping emas itu sehingga ia beberapa hari ini tidak tampak masuk kerja?" tanya raja kepada ajudan. 

“Maaf, Baginda. Hamba kemarin ingin menguji tukang sapu tersebut. Dari 100 keping yang diberikan Baginda, ada satu keping yang kami simpan sementara. Hal ini hanya dalam rangka untuk mengujinya," kata ajudan. 

Namun, lanjut ajudan, tukang sapu itu sampai hari ini malah hari-harinya dihabiskan untuk mencari satu yang hilang. Ia tidak mensyukuri 99 keping yang masih di tangan. Sehingga hidupnya sekarang dipenuhi kegelisahan. 

Demikian kisah disampaikan oleh Habib Syech bin Abdul Qadir As-Segaf sesaat sebelum memulai qashidah pada acara yang bertajuk Jateng Bershalawat di Lapangan Simpang Lima Kota Semarang. 

Habib Syech menceritakan kisah tersebut sebagai bahan instrospeksi warga Indonesia. Indonesia dipenuhi kenikmatan oleh Allah subhanahu wa ta’ala yang begitu lengkap dalamnya. Sehingga dengan kelengkapannya yang sangat menakjubkan tersebut levelnya diibaratkan 99 keping emas. 

Hanya saja, dunia mana yang bisa tampil sempurna? Dunia penuh dengan kekurangan. Sebagian masyarakat Indonesia sekarang malah tergelincir sibuk meributkan satu keping emas yang hilang tapi lupa mensyukuri 99 keping emas yang sudah digenggam di tangan. Itu salah satu tanda orang tersebut tidak bisa mensyukuri anugerah Allah atas keindahan dan ketenteraman hidup di atas muka bumi Indonesia. Wallahu a’alam(Ahmad Mundzir)
Rabu 12 Juni 2019 16:0 WIB
Kisah Mualaf dan Rezeki Langit
Kisah Mualaf dan Rezeki Langit
Ilustrasi (incarosenaho.com)
Dua kakak beradik Majusi (penyembah api), kecewa dengan api yang mereka sembah. Pasalnya, waktu dites, api itu tidak jadi dingin, tapi malah membakar jemari si adik. Padahal sudah mereka sembah bertahun-tahun.

Di tengah galau bimbang mereka, keduanya mendengar tentang Islam. Dan di daerah nun jauh di sana, katanya, ada salah satu orang ampuh yang menyebarkan agama Islam bernama Malik bin Dinar.

Kakak beradik itu mantap berangkat ke majelis Malik bin Dinar untuk mengenal Islam. Namun, baru pertengahan jalan sang kakak surut langkah, dengan alasan khawatir cacian keluarga dan tetangganya. Sedang sang adik tetap berjalan membawa serta istri dan anaknya.

Sesampai di majelis Syekh Malik bin Dinar, keluarga kecil itu mendengarkan pengajian sampai usai. Setelahnya, baru menyampaikan kisah dan tujuannya.

Langsung, hadirin yang belum bubar menangis berjamaah! Terharu ada Majusi yang menyembah api puluhan tahun masuk Islam.

"Nantilah sebentar, jangan beranjak pergi dulu," rayu Syekh Malik bin Dinar, "Tunggulah sebentar, kami akan mengumpulkan sedikit uang untuk bekal kalian sekeluarga."

"Maaf, kami tidak ingin menjual agama ini dengan uang!" jawab mualaf itu tegas, lalu ia pamit meninggalkan majelis.

Kemudian keluarga kecil itu meninggalkan majelis Malik bin Dinar dan memasuki rumah kosong hampir roboh yang mereka temukan sebagai ganti rumah asri yang mereka tinggalkan nun jauh di sana.

Sesampai di rumah, si istri meminta:

"Yah, cobalah Ayah mencari pekerjaan di pasar, dan nanti, belilah dengan uang hasil kerjamu, sesuatu yang bisa kami makan."

Sang suami mengiyakan, lalu pergi ke pasar menawarkan tenaganya. Namun nahas, orang sebanyak itu, tidak ada satu pun yang mau menggunakan tenaganya. 

"Ah, bagaimana kalau aku bekerja pada Allah saja?" batinnya ditengah deraan putus asa.

Lalu, ia melangkahkan kaki menuju masjid, mengerjakan shalat berjam-jam hingga malam. Kemudian pulang dengan tangan hampa.

"Hari ini, kau tidak dapat apa-apa?" tanya sang istri setelah melihat lesu pada wajah suaminya.

"Hai, sayangku. Hari ini aku bekerja kepada Allah yang menguasai segenap kerajaan. Tapi Ia belum memberikan ongkos, mungkin besok akan membayarnya."

Dan keluarga kecil itu menahan lapar dalam kedinginan malam yang menusuk.

Keesokan harinya, dengan semangat tinggi, sang suami mengulangi apa yang dilakukan kemarin, yakni ke pasar dulu, kalau tidak ada yang menggunakan tenaganya baru ke Masjid untuk "berdagang" kepada Allah sampai malam.

Tapi, lagi-lagi hasilnya nihil. Pulang malam tidak membawa apa-apa. Jadilah keluarga itu hanya minum air selama dua hari, tanpa makanan.

Di hari ketiga, yang kebetulan hari Jumat, ia mengulangi aktivitasnya ke pasar. Lemas dia, sebab hari itupun tidak ada orang yang mempekejakannya. Padahal dua perut yang menunggu di rumah sudah menjerit kelaparan.

Dengan langkah gontai, ia menuju masjid, wudhu, shalat dua rakaat, lalu mengangkat tinggi-tinggi kedua tangannya:

"Ya, Tuhanku. O, Sayyidi. Wahai Maulaya. Engkau telah memuliakanku dengan mengenal agama Islam. Memahkotaiku dengan mahkota Islam. Menunjukkanku dengan mahkota hidayah. Demi agama yang Kau-rezekikan padaku dan dengan kemuliaan hari mulia yang Kau katakan berderajat agung, yakni hari Jumah. O, Tuhanku. Aku memohon kepada-Mu. Hilangkan himpitan nafkah keluargaku ini dari dada. Berilah hamba rezeki yang tiada disangka. Aku, O, Allah! Malu pada keluargaku. Aku takut, karena baru masuknya Islam, hati mereka akan berubah!"

Lalu dia meneruskan shalat sampai malam.

Di lain tempat di waktu yang sama. Tiba-tiba rumah reyot lelaki pendo'a itu diketuk orang. Setelah dibukakan oleh sang Istri. Ternyata, di depan pintu, berdiri lelaki rupawan luar biasa dengan membawa bejana emas, ditutupi kain bersulam emas, dan di dalamnya juga berisi emas seribu Dinar!

"Ini adalah upah suamimu," kata lelaki tampan itu pada istri orang yang sedang shalat di Masjid, "Katakan padanya, kalau ini baru ongkos dua hari kerjanya. Kalau hari ini dia semakin giat, maka kami akan menambahkan ongkos khusus, di hari Jumat yang istimewa ini,"

Setelah lelaki tampan itu pergi, sang istri bergegas mengambil satu emas untuk ditukarkan dengan mata uang yang terlaku di tempat penukaran. Ganti pemilik toko penukaran mata uang yang beragama Nasrani terlongong bingung dan takjub. "Ini, kualitas emas yang di bumi tidak ada! Pasti ini dari akhirat!" batinnya. Apalagi setelah dia bertanya dan dikisahkan bagaimana emas itu bisa didapatkan. Hatinya semakin mantap lalu masuk Islam. Subhanallah.

Ketika sang suami pulang dengan tangan hampa. Dalam keputusasaannya. Ia mengambil debu di pinggir jalan, membungkusnya dengan sapu tangannya. Angannya, "Kalau istriku bertanya apa isinya. Akan kujawab tepung!".

Namun ketika memasuki pelataran rumah, ia takjub dan terheran-heran. Rumahnya jadi rajin, dengan berbagai macam hiasan dan makanan lezat. Apalagi sang istri menyongsong bahagia. 

Melewati pintu, bungkusan bututnya ia letakkan di pinggir. Lalu bertanya kepada sang istri apa yang terjadi. Setelah tahu, ia langsung sujud syukur. Alhamdulillaahh...

Beberapa saat kemudian.

"Eh, Yah? Bungkusan itu isinya apa?"

"Entahlah, jangan kau tanya aku," jawab sang suami sambil mengalihkan pandangan matanya.

Tidak dijawab, malah membuat penasaran istrinya yang lalu mengambil bungkusan itu.

"Alhamdulillaah... isinya tepung, Yah,"

"Apa? Alhamdulillaah..."

Lalu dia pun sujud syukur kembali.


(Dialihbahasakan H. Muhammad Aminuddin Nuruddin Qosim, Tegalsari, Banyuwangi dari kitab al-Ushfuriyah, halaman 5-6).

Rabu 12 Juni 2019 9:0 WIB
Ali Zainal Abidin, Najis Lalat, dan Adab kepada Allah
Ali Zainal Abidin, Najis Lalat, dan Adab kepada Allah
Dalam kitab Tanbîh al-Mughtarrin, Imam Abdul Wahhab al-Sya’rani mencatat kisah Sayyidina Ali Zainal Abidin dan anaknya:

وقد بلغنا أن الإمام زين العابدين رضي الله عنه قال لولده: اتخذ لي ثوبا البسه عند قضاء الحاجة وأنزعه وقت شروعي في الصلاة فإني رأيت الذباب يجلس علي النجاسة ثم يقع علي ثوبي, فقال له ولده: إنه لم يكن لرسول الله صلي الله عليه وسلم إلا ثوب واحد لصلاته وخلائه, فرجع الإمام عما كان عزم علي فعله.

Telah sampai kepada kita kabar bahwa Imam Zainal Abidin radliyallahu ‘anhu berkata kepada anaknya:

“Ambilkan baju untukku yang telah kupakai ketika buang hajat dan kulepas ketika hendak shalat, karena aku melihat lalat yang hinggap di atas najis kemudian hinggap di bajuku.”

Anaknya berkata pada Imam Zainal Abidin: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya memiliki satu baju yang dipakainya untuk shalat dan ke toilet.”

Lalu Imam Zainal Abidin mengurungkan keinginannya setelah mendengar perkataan anaknya. (Imam Abdul Wahhab al-Sya’rani, Tanbîh al-Mughtarrin, Kairo: al-Maktabah al-Taufiqiyah, tt, hlm 23)

*****

Imam Abdul Wahhab al-Sya’rani memandang riwayat di atas tidak bisa dijadikan dalil pelarangan membedakan pakaian untuk buang hajat dan shalat. Menurutnya, penukilan kaidah yang benar bukan karena Rasulullah tidak melakukannya, tapi “ada” atau “tidak”nya lalat (terkena najis) yang hinggap di pakaian yang hendak dipakai untuk shalat. Imam al-Sya’rani berkata:

المنقول أن رسول الله صلي الله عليه وسلم—لم يكن الذباب ينزل علي ثوبه ولا علي بدنه, فلا يصلح ما ذكر دليلا

“Penukilan yang benar adalah bahwa sesunggunya Rasulullah Saw—tidak ada lalat yang hinggap di bajunya, dan tidak pula hinggap di tubuhnya, maka tidak tepat menjadikan riwayat di atas sebagai dalil.” (Imam Abdul Wahhab al-Sya’rani, Tanbîh al-Mughtarrin, hlm 24)

Jadi bukan soal boleh atau tidaknya, tapi soal ada-tidaknya lalat yang terkena najis hinggap di baju Rasulullah. Jika lalat yang terkena najis hinggap di baju Rasulullah, tentunya Rasul akan mengganti bajunya ketika hendak shalat.

Di sisi lain, Rasulullah adalah sumber keteladanan. Pemberi contoh untuk semua orang, dan tidak semua orang berkeadaan sama. Pasti ada yang membedakannya satu sama lainnya. Ada yang tinggal di daerah kurang air; ada yang di daerah melimpah air; ada yang di daerah dingin; ada yang di daerah panas, dan lain sebagainya. Belum lagi tingkat keilmuan dan kejiwaan yang berbeda-beda. Ada yang bodoh; ada yang pintar; ada yang tekun; ada yang agak malas, dan setersunya. 

Sebagai suri tauladan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi contoh untuk semua kalangan dari berbagai keadaan. Beliau menjadi contoh untuk orang yang baru belajar agama; menjadi contoh untuk orang yang sedang menetapi istiqamah; menjadi contoh untuk orang yang pemalu; menjadi contoh untuk orang yang mudah marah; menjadi contoh untuk orang kaya; menjadi contoh untuk orang miskin; dan seterusnya. Dalam kasus di atas, dengan tidak memakai baju khusus untuk shalat dan buang hajat, bisa jadi Rasulullah tidak ingin memberatkan orang kurang mampu yang hanya memiliki beberapa potong baju saja, sehingga pengamalan Islam dapat diakses oleh semua kalangan, mulai dari yang baru bertobat sampai yang sedang menjalani tingkatan ihsan; dari yang masih bolong-bolong shalatnya sampai yang semua shalat sunnah dikerjakan.

Karena itu, Rasulullah mengamalkan semua rukhshah yang ditetapkan Allah kepada umatnya; berbuka puasa dan menjama’/mengqashar shalat ketika dalam perjalanan, shalat di atas kendaraan, dan lain sebagainya. Karena beliau adalah contoh untuk semua manusia dari berbagai kalangan keadaan.

Kembali ke soal pakaian khusus untuk shalat. Di paragraf berikutnya, Imam al-Sya’rani mencatat sebuah riwayat tentang Imam Abu Yazid al-Busthami yang memiliki pakain khusus untuk shalat dan buang hajat. Baginya, hal itu bukan bid’ah karena tidak menyalahi syariat sama sekali, apalagi dihukumi haram. Ia memandangnya sebagai perwujudan adab kepada Allah, tentu disesuaikan dengan kemampuan dan keadaan. Ia menjelaskan:

وإنما ذلك من باب الأدب أن لا يكون ثوب الخلاء هو ثوب الصلاة, نظير ما قالوا في تحريم استقبال القبلة واستدبارها في الغائط

“Hal itu (yang dilakukan Imam Abu Yazid) termasuk dalam bab adab, yaitu agar pakaian yang dikenakan ketika shalat bukan pakaian yang dikenakan ketika di toilet. Dasar argumentasinya berdasarkan pendapat ulama tentang haramnya buang hajat menghadap kiblat dan membelakanginya.” (Imam Abdul Wahhab al-Sya’rani, Tanbîh al-Mughtarrin, hlm 24)

Dengan kata lain, larangan buang air menghadap kiblat atau membelakanginya, dibawa ke wilayah adab (akhlak) yang lebih luas, yaitu dalam berpakaian juga. Bagi mereka, orang-orang yang selalu menjaga hatinya dengan mengingat Allah, adab kepada-Nya harus lebih didahulukan. Bahkan meludah ke arah kiblat saja mereka tidak akan berani. Karena mereka sadar bahwa Allah selalu mengawasi mereka, kapanpun, dimana pun dan dalam keadaan apapun. Contohnya Imam Abu Hanifah yang sepanjang hidupnya tidak berani menyelonjorkan kakinya, baik di saat ramai (banyak orang) maupun sendirian karena dipandang tidak beradab. Untuk mengetahui lebih lanjut bisa dibaca di tulisan sebelumnya, “Imam Abu Hanifah dan Adab di Saat Sunyi.”

Dari penjelasan di atas, kita bisa pahami bahwa penetapan hukum agama tidak semudah membaca terjemahan ayat dan hadits, begitu pun dalam hal pelarangannya. Dibutuhkan kajian komprehensif yang mendalam. Misalnya kasus di atas, urungnya Imam Ali Zainal Abidin memakai pakaian yang berbeda tidak bisa diartikan sebagai persetujuannya atas perkataan anaknya dan menjadi dalil atas pelarangannya. Ini masih bicara soal teks, belum masuk dalam konteks dan penelitian sanadnya.

Intinya, kita jangan berhenti belajar. Karena belajar sangat penting untuk meluaskan cakrawala berpikir kita. Jangan sampai kita gemar menyalahkan hal-hal yang belum kita tahu atau kuasai ilmunya. Rabbi zidnî ‘ilma war zuqnî fahma. Amin.

Wallahu a’lam bish shawwab...


Muhammad Afiq Zahara, alumnus Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.