IMG-LOGO
Tafsir

Benarkah Allah Menjanjikan Kembalinya Khilafah?

Kamis 27 Juni 2019 21:0 WIB
Share:
Benarkah Allah Menjanjikan Kembalinya Khilafah?
Ilustrasi eks-HTI (ist)
Tafsir Surat an-Nur ayat 55
Belakangan ini kembali para pendukung khilafah mengelabui publik dengan mengklaim bahwa “Kembalinya khilafah sebagai wujud kekuasaan umat Islam merupakan janji Allah SWT dalam QS an-Nur ayat 55:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS An-Nur: 55)

Bahkan ada dari kalangan mereka yang berani mengklaim siapa yang tidak percaya dengan janji Allah akan kedatangan kembali Khilafah telah murtad. Benarkah klaim Pro-Khilafah ini? Kajian komparasi sejumlah kitab tafsir klasik dan kontemporer nyata-nyata menunjukkan bahwa pemahaman mereka keliru besar.

Kita mulai dengan asbabun nuzul ayat ini. Tafsir al-Munir karya Syekh Wahbah az-Zuhayli menyebutkan:

Ketika Rasulullah SAW bersama para sahabatnya sampai ke Madinah, dan disambut serta dijamin keperluan hidupnya oleh kaum Ansar, mereka tidak melepaskan senjatanya siang dan malam, karena selalu diincar oleh kaum kafir.

Mereka berkata kepada Nabi: “Kapan engkau dapat melihat kami hidup aman dan tenteram tiada takut kecuali kepada Allah.” Ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai jaminan dari Allah SWT bahwa mereka akan dianugerahi kekuasaan di muka bumi.

Pertanyaannya kapankah janji Allah ini terpenuhi? Pelacakan saya terhadap sejumlah kitab tafsir menunjukkan ada 3 pendapat.

Pertama, janji Allah ini telah tertunaikan pada masa Nabi Muhammad dalam peristiwa Fathu Makkah, dimana Nabi dan pasukannya memasuki kota Mekkah dengan tanpa perlawanan. Tafsir generasi awal cenderung memahaminya seperti ini. Lihat Tafsir Ibn Abbas (1/298) dan Tafsir Muqatil (3/206).

Kedua, sebagian kitab Tafsir mengatakan janji ini telah tuntas dipenuhi Allah pada masa Nabi Muhammad dan al-Khulafa ar-Rasyidun (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali). Lihat Ibn Katsir (6/77), Bahrul Ulum (2/52), al-Baghawi (3/426), al-Kasyaf (3/521), al-Baydhawi (4/112), an-Nasafi (2/515), Dar al-Mansur(6/215). Alasan mereka adalah adanya Hadits Sahih dimana Nabi mengatakan kekhilafahan itu hanya berlansung selama 30 tahun. Dan itu terpenuhi dalam periode al-Khulafa ar-Rasyidun.

Tafsir at-Thabari menyebutkan ada yang membatasi periode janji Allah terpenuhi sampai tiba masa pembunuhan Khalifah Utsman. Karena kekacauan (fitnatul kubra) mulai terjadi sejak periode akhir Sayidina Utsman itu.

Tafsir ar-Razi malah menyebutkan pendapat yang membatasinya hanya pada 3 Khalifah pertama karena pada masa inilah ekspansi Islam meluas, namun pada masa Sayidina Ali disibukkan oleh perpecahan dan perang saudara.

Tafsir ar-Razi juga menyebutkan adanya pendapat yang menentang memasukkan period el-Khulafa ar-Rasyidun dalam kandungan ayat ini karena penggalan ayat selanjutnya “sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa,” padahal kekuasaan sebelum Islam itu tidak datang lewat kekhilafahan.

Jadi ayat ini cukup hanya pada periode Nabi Muhammad saja. Penggalan ayat ini dimaknai sebagaimana kekuasaan Bani Israil dan para Nabi sebelumnya seperti Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman.

Ketiga, ada beberapa kitab tafsir yang meluaskan lagi kandungan ayat ini, yang tidak hanya terbatas pada masa Nabi Muhammad dan/atau al-Khulafa ar-Rasyidun, tapi juga pada masa-masa selanjutnya termasuk masa sekarang dan akan datang.

Tafsir Fathul Qadir (4/55) memaknai kekuasaan sebelum Nabi itu tidak hanya terbatas pada Bani Israil, dan karenanya juga tidak membatasi makna ayat ini pada masa Nabi di Mekkah dan khalifah yang empat, tapi menggunakan keumuman ayat. Tafsir al-Qurthubi (12/299) juga menyetujui keumuman ayat ini. Namun, apa implikasi dari keumuman ayat ini?

Sa’id Hawa dalam Asas at-Tafsir (7/3802) menganggap janji Allah dalam ayat ini akan terus berlangsung sampai semua akan masuk Islam. Tafsir al-Wasith (6/1457) karya Majma’ al-Bunuts Islamiyah di al-Azhar Mesir juga mengisyaratkan bahwa janji Allah ini terwujud ketika Islam tersebar di penjuru dunia timur dan barat. Jadi tidak dibatasi pada masa lalu saja. Berarti ini masalah dakwah, bukan soal kekhilafahan.

Nah, yang menarik, semua kitab tafsir di atas, termasuk mereka yang menganggap ayat ini berlaku umum, tidak satupun menyinggung akan kembalinya Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah seperti yang sering digelorakan oleh kelompok Pro-Khilafah. Para ulama tafsir itu bahkan tidak mengutip riwayat Musnad Ahmad soal ini, yang amat populer di kalangan HTI, namun sudah pernah saya jelaskan dengan tuntas dan detil bahwa sanadnya pun lemah dan bermasalah.

Kesimpulannya: QS an-Nur ayat 55 tidak bicara soal institusi atau sistem pemerintah khilafah. Al-Qur’an memang tidak pernah menyinggung sistem kenegaraan dengan detil. Ayat ini juga tidak bicara tentang akan kembalinya khilafah setelah bubar. Tidak ada janji Allah akan kembalinya sistem khilafah. Ini hanya halusinasi kaum HTI saja yang tidak bisa menerima kenyataan kita hidup damai dan aman di NKRI.

Umat Islam bisa berkuasa menurut ayat ini dan ayat selanjutnya dengan jalan beriman dan beramal soleh, tidak menyekutukan-Nya, menegakkan Shalat, membayar zakat dan taat pada Rasulullah SAW. Dengan jalan inilah Allah akan meridhai, memberi rasa aman dan memberi kita rahmat. Namun siapa yang kufur terhadap nikmat yang Allah berikan mereka itulah orang yang fasiq, sebagaimana dinyatakan dengan jelas oleh ayat ini.

Janganlah kita kufur terhadap nikmat Allah berupa hidup yang damai dan tentram di NKRI. Kita tinggal mensyukurinya dengan terus bekerja mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur sebagaimana amanat Pembukaan UUD 1945. Wa Allahu a’lam bish shawab


Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School


Tags:
Share:
Rabu 26 Juni 2019 15:0 WIB
Keterangan Al-Qur’an tentang Arti Politik
Keterangan Al-Qur’an tentang Arti Politik
Ilustrasi via Beritagar
Kata politik pada mulanya terambil dari bahasa Yunani dan atau Latin politicos atau politõcus yang  berarti  relating to citizen. Keduanya berasal dari kata polis yang berarti kota. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan kata politik sebagai segala urusan dan tindakan (kebijakan, siasat,  dan sebagainya) mengenai pemerintahan negara atau terhadap negara lain. Juga dalam arti kebijakan, cara  bertindak (dalam menghadapi atau menangani satu masalah).

Dalam kamus-kamus bahasa Arab modern, kata politik biasanya diterjemahkan dengan kata siyasah. Kata ini terambil dari akar kata sasa-yasusu yang biasa diartikan mengemudi, mengendalikan, mengatur, dan sebagainya. Dari akar kata yang sama ditemukan kata sus yang berarti penuh kuman, kutu, atau rusak.

Menurut Pakar Tafsir Muhammad Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (2000) menjelaskan bahwa dalam Al-Qur’an tidak ditemukan kata yang terbentuk dari akar kata sasa-yasusu, namun ini bukan berarti bahwa Al-Qur’an tidak menguraikan soal politik.

Sekian banyak ulama Al-Qur’an yang menyusun karya ilmiah dalam bidang politik dengan menggunakan Al-Qur’an dan  sunnah Nabi sebagai rujukan. Sebagai informasi, Ibnu Taimiyah (1263-1328) menamai salah satu karya ilmiahnya dengan as-siyasah asy-syar'iyah (politik keagamaan).

Uraian Al-Qur’an tentang politik secara sepintas dapat ditemukan pada ayat-ayat yang berakar kata hukm. Kata ini pada mulanya berarti menghalangi atau melarang dalam rangka perbaikan. Dari akar kata yang sama terbentuk kata hikmah yang pada mulanya berarti kendali. Makna ini sejalan dengan asal makna kata sasa-yasusu-sais siyasat, yang berarti mengemudi, mengendalikan, pengendali, dan cara pengendalian.

Hukm dalam bahasa Arab tidak selalu sama artinya dengan kata hukum dalam bahasa Indonesia yang oleh kamus dinyatakan antara lain berarti putusan.  Dalam bahasa Arab kata ini berbentuk kata jadian, yang bisa mengandung berbagai makna, bukan hanya bisa digunakan dalam arti "pelaku hukum" atau diperlakukan atasnya hukum, tetapi juga ia dapat berarti perbuatan dan  sifat.

Sebagai "perbuatan" kata hukm berarti membuat atau menjalankan putusan, dan sebagai sifat yang menunjuk kepada  sesuatu yang diputuskan. Kata tersebut jika dipahami sebagai membuat atau menjalankan keputusan, maka tentu pembuatan dan upaya menjalankan itu, baru dapat tergambar jika ada sekelompok yang terhadapnya berlaku hukum tersebut. Ini menghasilkan upaya politik.

Kata siyasah sebagaimana dikemukakan di atas diartikan dengan politik dan juga sebagaimana terbaca, sama dengan kata hikmat. Di sisi lain terdapat persamaan makna antara pengertian kata hikmat dan politik.

Sementara ulama mengartikan hikmat sebagai kebijaksanaan, atau kemampuan menangani satu masalah sehingga mendatangkan manfaat atau menghindarkan mudharat. Pengertian ini sejalan dengan makna kedua yang dikemukakan Kamus Besar Bahasa Indonesia tentang arti politik, sebagaimana dikutip di atas.

Dalam Al-Qur’an ditemukan dua puluh kali kata hikmah, kesemuanya dalam konteks pujian. Salah satu di antaranya adalah surat Al-Baqarah (2): 269: Siapa yang dianugerahi hikmah, maka dia telah dianugerahi kebajikan yang banyak.

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

“Allah menganugerahkan al hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al-Qur'an dan As-Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS Al-Baqarah: 269)

Melihat perpolitikan tanah air saat ini, hendaknya partai politik dan para kadernya memahami kembali makna dan tujuan berpolitik yang bermuara pada kebijaksanaan atau hikmat untuk mewujudkan kebermanfaatan masyarakat banyak.

Akhlak dan respon negatif yang banyak bertebaran di media sosial juga hadir dari para simpatisan politik. Hal ini tidak lepas dari cara berpolitik para elitnya. Padahal partai politik dan para kadernya juga punya kewajiban dan tanggung jawab melakukan edukasi politik kepada warga negara dengan cara yang baik dan benar. (Fathoni)
Rabu 26 Juni 2019 13:30 WIB
Tafsir Shiratal Mustaqim: Apa Jalan Lurus Itu?
Tafsir Shiratal Mustaqim: Apa Jalan Lurus Itu?
Ilustrasi (ist)
Menurut Imam Abu Ja’far ibnu Jarir semua kalangan ahli tafsir telah sepakat bahwa yang dimaksud dengan shiratal mustaqim ialah “jalan yang jelas lagi tidak berbelok-belok (lurus)”. Namun ketika bicara secara konkrit apa yg dimaksud, Tafsir at-Thabari kemudian menampilkan sejumlah riwayat berbeda untuk mengurai makna konkrit shiratal mustaqim:

1. Kitabullah (Al-Qur’an)

‎وحدثنا أحمد بن إسحاق الأهوازي، قال: حدثنا أبو أحمد الزبيري، قال: حدثنا حمزة الزيات، عن أبي المختار الطائي، عن ابن أخي الحارث الأعور، عن الحارث، عن علي، قال: «الصراط المستقيم كتاب الله تعالى»

2. Islam

‎حدثني محمود بن خداش الطالقاني، قال: حدثنا حميد بن عبد الرحمن الرواسي، قال: حدثنا علي، والحسن، ابنا صالح، جميعا عن عبد الله بن محمد بن عقيل، عن جابر بن عبد الله: ” {اهدنا الصراط المستقيم} [الفاتحة: ٦] قال: الإسلام

3. Thariq (jalan)

وحدثنا القاسم بن الحسن، قال: حدثنا الحسين بن داود، قال: حدثني حجاج، عن ابن جريج، قال: قال ابن عباس في قوله: ” {اهدنا الصراط المستقيم} [الفاتحة: ٦] قال: الطريق

4. Nabi Muhammad, Abu Bakar dan Umar bin Khattab

‎حدثنا عبد الله بن كثير أبو صديف الآملي، قال: حدثنا هاشم بن القاسم، قال: حدثنا حمزة بن أبي المغيرة، عن عاصم، عن أبي العالية، في قوله: ” {اهدنا الصراط المستقيم} [الفاتحة: ٦] قال: هو رسول الله صلى الله عليه وسلم وصاحباه من بعده: أبو بكر وعمر
‎قال: فذكرت ذلك للحسن، فقال: «صدق أبو العالية ونصح»

Sekarang kita tahu paling tidak ada empat makna yang berbeda. Namun, Tafsir a-Razi punya pandangan tersendiri:

‎قال بعضهم: الصراط المستقيم: الإسلام، وقال بعضهم: القرآن، وهذا لا يصح، لأن قوله: صراط الذين أنعمت عليهم بدل من الصراط المستقيم، وإذا كان كذلك كان التقدير اهدنا صراط من أنعمت عليهم من المتقدمين، ومن تقدمنا من الأمم/ ما كان لهم القرآن والإسلام، وإذا بطل ذلك ثبت أن المراد اهدنا صراط المحقين المستحقين للجنة،

Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa shiratal mustaqim itu Islam atau ada juga yang bilang itu al-Qur’an (lihat kutipan Tafsir at-Thabari di atas). Menurut Imam ar-Razi, pandangan Ini tidak benar, karena ayat selanjutnya (ayat 7) shiratalladzina an’amta ‘alaihim secara nahwu (gramatika Arab) adalah badal atau pengganti yang memperjelas makna shiratal mustaqim di ayat 6.

Ini menunjukkan ayat ihdinas shiratal mustaqim itu berkenaan dengan orang-orang terdahulu (yang telah diberi nikmat), dan orang-orang terdahulu itu tidak memiliki Islam dan Qur’an. Ketika kemungkinan pemahaman di atas dihilangkan, maka makna yang lebih pas adalah: tunjuki kami ke jalan orang-orang yang benar dan berhak mendapatkan surga.

Pendapat Imam ar-Razi kelihatannya diikuti oleh Tafsir al-Maraghi, tapi bukan berarti pendapat yang dikutip Tafsir at-Thabari dibuang semuanya. Syekh Mustafa al-Maraghi mencoba menjembataninya:

وقد أمرنا باتباع صراط من تقدمنا، لأن دين الله واحد فى جميع الأزمان: فهو إيمان بالله ورسله واليوم الآخر، وتخلق بفاضل الأخلاق وعمل الخير وترك الشر، وما عدا ذلك فهو فروع وأحكام تختلف باختلاف الزمان والمكان،

Kita telah diperintah untuk mengikuti jalan orang-orang sebelum kita (ini seperti diungkap oleh Tafsir ar-Razi), karena agama Allah itu satu di setiap jaman, yaitu iman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan hari akhir, dan berakhlak dengan akhlak utama dan amal yang baik serta meninggalkan kejelekan. Selain dari itu adalah perkara cabang dan hukum yang berbeda sesuai dengan perbedaan zaman dan tempat. Di sini, al-Maraghi tidak menolak pandangan bahwa shiratal mustaqim yang dimaksud adalah agama Allah yang intinya satu, dengan pokok ajaran yang sama, meski berbeda tempat dan waktunya.

Tafsir al-Qurtubi menyebutkan pendapat lain selain yang sudah disebutkan di atas, yaitu:

وقال الفُضيل بن عِيَاض: «الصراط المستقيم» طريق الحج، وهذا خاص والعموم أولى. قال محمد بن الحنفية في قوله عزّ وجل: { ٱهْدِنَا ٱلصِّرَاطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ } [الفاتحة: 6]: هو دين الله الذي لا يقبل من العباد غيره. وقال عاصم الأحْوَل عن أبي العالية: { ٱلصِّرَاطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ } رسول الله صلى الله عليه وسلم وصاحباه من بعده. قال عاصم فقلت للحسن: إن أبا العالية يقول: «الصراط المستقيم» رسول الله صلى الله عليه وسلم وصاحباه، قال: صدق ونصح.

Pertama, disebutkan pendapat Fudhail bin ‘Iyad bahwa shiratal mustaqim itu maksudnya jalan menuju ibadah haji. Kata Imam al-Qurthubi, ini makna khusus, sedangkan makna umum lebih baik. Beliau terus mengutip keterangan dari Muhammad bin al-Hanafiyah bahwa yang dimaksud itu adalah agama Allah. Sedangkan kutipan berikutnya sama dengan yang ada di Tafsir at-Thabari di atas, yaitu makna shiratal mustaqim adalah Rasulullah dan kedua sahabatnya.

Ungkapan Imam al-Qurthubi bahwa makna umum dari shiratal mustaqim lebih baik, boleh jadi dipenuhi oleh Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir:

والصراط المستقيم: الطريق المعتدل: طريق الإسلام الذي بعثت به أنبياءك ورسلك، وختمت برسالاتهم رسالة خاتم النبيين، وهو جملة ما يوصل إلى السعادة في الدنيا والآخرة، من عقائد وأحكام وآداب وتشريع ديني، كالعلم الصحيح بالله والنبوة وأحوال الاجتماع.

Ini jalan yang moderat/tengah. Jalan Islam yang diutus dengan para Nabi dan Rasul, dan ditutup dengan khataman nabiyyin (Nabi Muhammad SAW). Dan ini adalah keseluruhan dari apa yang dapat membawa kepada kebahagiaan di dunia dan akherat, baik dari sisi aqidah, hukum, adab, dan tasyri’ diniy seperti ilmu yang benar tebtang Allah, kenabian dan hal-ihwal kemasyarakatan.

Tafsir Ibn Katsir memberikan kesimpulan yang bagus dari diskusi dan perbedaan pendapat para ulama di atas:

“Semua pendapat di atas adalah benar, satu sama lainnya saling memperkuat, karena barang siapa mengikuti Nabi Saw. dan kedua sahabat yang sesudahnya (yaitu Abu Bakar dan Umar), berarti dia mengikuti jalan yang haq (benar); dan barang siapa yang mengikuti jalan yang benar, berarti dia mengikuti jalan Islam. Barang siapa mengikuti jalan Islam, berarti mengikuti Al-Qur’an, yaitu Kitabullah atau tali Allah yang kuat atau jalan yang lurus. Semua definisi yang telah dikemukakan di atas benar, masing-masing membenarkan yang lainnya.”

Terakhir M. Abu Zahrah dalam kitab tafsirnya Zaharatut Tafasir mengingatkan kita semua bahwa doa itu intinya ibadah. Beliau mengutip sebuah riwayat, “Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah dibandingkan doa”. (HR Tirmidzi, Ibn Majah dan Ahmad).

Ini artinya, kawan-kawan sekalian, doa yang dilakukan pada amalan utama seperti shalat, dan redaksi doanya telah diajarkan langsung oleh Allah pada surat yang utama (al-Fatihah), dan kita baca setiap hari minimal 17 kali (saat shalat fardhu) tentu merupakan sesuatu yang sangat penting.

Ihdinas shiratal mustaqim (tunjukilah kami jalan yang lurus).

Next time, saat kita mengucapkan doa ini, resapilah semua makna doa ini sebagaimana yang telah dijelaskan kandungannya oleh para ulama di atas. Menggetarkan!


Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School


Selasa 25 Juni 2019 17:0 WIB
Kuda atau Unta? Ketika Ibnu Abbas dan Ali bin Abi Thalib Berbeda dalam Tafsir Surat Al-'Adiyat
Kuda atau Unta? Ketika Ibnu Abbas dan Ali bin Abi Thalib Berbeda dalam Tafsir Surat Al-'Adiyat
Ilustrasi via ok.ru
Seringkali satu kata dalam Al-Qur’an mengandung lebih dari satu arti. Akibat perbedaan tafsir satu kata, maka makna satu ayat atau bahkan satu surah dalam Al-Qur’an bisa berbeda tafsirannya antara satu kitab tafsir dengan kitab tafsir lainnya. Ingat, ayatnya sama, tidak berubah. Tafsinya yang berbeda.

Tulisan-tulisan saya selalu mengajak kita semua untuk menyelami samudera tafsir Al-Qur’an dengan mengapresiasi perbedaan pendapat yang ada. Saya tampilkan rujukan yang otoritatif yang diakui dunia Islam, langsung dengan teks dari kitab tafsir, agar bisa sama-sama kita pelajari.

Kali ini saya bahas mengenai ayat pertama dalam surat Al-‘Adiyat:

‎وَالْعَادِيَاتِ ضَبْحًا

Terjemahan versi Kemenag: “Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah”

Terjemahan tersebut tidak keliru. Namun itu hanya mengungkap satu versi penafsiran. Apa tafsiran lainnya?

Pertama kita ungkap dari kitab Tafsir at-Thabari. Di medsos, ada yang membantah saya dengan mengatakan Imam Thabari ini Syi’ah. Tuduhan ini jelas keliru. Ibn Jarir bin Yazid Thabari yg ahli tafsir & tarikh itu wafat 923M. Beliau Sunni. Ini yg dijadikan rujukan secara luas. Ada nama lain: Ibn Jarir bin Rustum Thabari yang dibilang Syi’ah itu wafat th 940M, dan bikan Thabari ini yang kita jadikan rujukan.

Ibn Hajar al-Asqalani (wafat 1449) mengatakan bahwa kitab Tafsir at-Thabari merupakan yang terbaik dalam jenis tafsir dengan pendekatan riwayah. Ini disebabkan dalam kitab tafsirnya imam at-Thabari mendahulukan mengutip riwayat dari generasi awal. Kitab tafsir setelahnya seperti Ibn Katsir dan Suyuthi seringkali mengutip Tafsir at-Thabari. Jadi, jelas yah Tafsir Thabari ini bukan Syi’ah, Liberal, sesat ataupun orientalis.

Dalam ayat pertama surat al-‘Adiyat, beliau menjelaskan perbedaan penafsiran. Pertama, kata al-‘Adiyat dipahami sebagai kuda (al-khayl) yang ada dalam peperangan (huwa fil qital). Pendapat ini berasal dari Ibn Abbas, seperti saya kutip di bawah ini:

‎ذكر من قال ذلك حدثني محمد بن سعد، قال: ثني أبي، قال: ثني عمي، قال: ثني أبي، عن أبيه، عن ابن عباس، في قوله {والعاديات ضبحا} [العاديات: ١] قال: الخيل

‎حدثني محمد بن عمرو، قال: ثنا أبو عاصم، قال: ثنا عيسى، وحدثني الحارث، قال: ثنا الحسن، قال: ثنا ورقاء، جميعا عن ابن أبي نجيح، عن مجاهد، [ص: ٥٧١] في قول الله: {والعاديات ضبحا} [العاديات: ١] قال ابن عباس: «هو في القتال»

Pendapat ini juga diamini oleh kitab tafsir lainnya seperti Tafsir Jalalain:

‎{ وَٱلْعَٰدِيَٰتِ } الخيل تعدو في الغزو وتضبح

Alasan Ibn Abbas direkam juga oleh Tafsir at-Thabari:

‎حدثني إبراهيم بن سعيد الجوهري، قال: ثنا سفيان، عن ابن جريج، عن عطاء، قال: «ليس شيء من الدواب يضبح غير الكلب والفرس»

Karena kata selanjutnya adalah “dhabha” maka yang mengeluarkan suara dengusan nafas itu kalau gak kuda atau anjing. Ini artinya kata al-‘adiyat dipahami secara tekstual dengan penggalan kata berikutnya: wal ‘adiyati dhabha. Karena tidak mungkin maknanya anjing, maka ini dipahami oleh Ibn Abbas sebagai kuda yang mendengus saat dipacu dalam peperangan. Tafsir al-Qurthubi juga mengutip pernyataan Ibn Abbas ini. Pendapat Ibn ‘Abbas ini juga diperkuat oleh Ikrimah yang mengatakan: “apakah kamu tidak melihat bagaimana kuda mendengus ketika berlari?”

Pendapat kedua mengatakan bahwa al-‘adiyat ini adakah unta (al-ibil). Yang berpendapat begini adalah Ali bin Abi Thalib.

Ibn Abbas adalah pemuda yang terkenal pintar karena didoakan langsung oleh Nabi Muhammad SAW: Allahumma faqihhu fid din wa ‘alimhut ta’wil. Bahkan Umar bin Khattab sering menanyakan tafsir ayat kepada Ibn Abbas. Sementara itu Ali bin Abi Thalib juga terkenal cerdas. Dalam satu riwayat dikatakan Nabi Muhammad Saw bersabda: “aku ini kota ilmu, dan Ali adalah pintunya.”

Kedua sahabat Nabi yang luar biasa ini ternyata bisa berbeda pandangan dalam mengurai makna ayat ini. Tafsir at-Thabari kemudian menampilkan kisah menarik di bawah ini:

‎حدثني يونس، قال: أخبرنا ابن وهب، قال: أخبرنا أبو صخر، عن أبي معاوية البجلي، عن سعيد بن جبير، عن ابن عباس، حدثه قال: ” بينما أنا في الحجر جالس، أتاني رجل يسأل عن {العاديات ضبحا} [العاديات: ١] فقلت له: الخيل حين تغير في سبيل الله، ثم تأوي إلى الليل، فيصنعون طعامهم، ويورون نارهم. فانفتل عني، فذهب إلى علي بن أبي طالب رضى الله عنه وهو تحت سقاية زمزم، فسأله عن {العاديات ضبحا} [العاديات: ١] فقال: سألت عنها أحدا قبلي؟ قال: نعم، سألت عنها ابن عباس، فقال: الخيل حين تغير في سبيل الله، قال: اذهب فادعه لي؛ فلما وقفت على رأسه قال: تفتي الناس بما لا علم لك به، والله لكانت أول غزوة في [ص: ٥٧٤] الإسلام لبدر، وما كان معنا إلا فرسان: فرس للزبير، وفرس للمقداد فكيف تكون العاديات ضبحا. إنما العاديات ضبحا من عرفة إلى مزدلفة إلى منى؛ قال ابن عباس: فنزعت عن قولي، ورجعت إلى الذي قال علي رضي الله عنه “

Ibn Abbas berkisah: “ketika aku sedang berada di Hijir Isma’il, tiba-tiba datanglah kepadaku seorang lelaki yang bertanya mengenai makna firman-Nya: wal ‘adiyati dhabha. Maka aku menjawab, bahwa makna yang dimaksud adalah kuda ketika digunakan untuk berperang di jalan Allah, kemudian di malam hari diistirahatkan dan mereka membuat makanan (memasak makanan)nya, dan untuk itulah maka mereka menyalakan api (dapur)nya buat masak.

“Setelah itu lelaki tersebut pergi meninggalkan diriku menuju ke tempat Ali bin Abi Thalib, yang saat itu tengah berada di dekat sumur zamzam. Lalu lelaki itu menanyakan kepada Ali makna ayat tersebut, tetapi Ali balik bertanya, ‘Apakah engkau pernah menanyakannya kepada seseorang sebelumku?’ Lelaki itu menjawab, “Ya, aku telah menanyakannya kepada Ibnu Abbas, dan ia mengatakan bahwa makna yang dimaksud adalah kuda ketika menyerang di jalan Allah.“

“Imam Ali berkata, ‘Pergilah dan panggillah dia untuk menghadap kepadaku.’ Ketika Ibnu Abbas telah berada di hadapan Ali, maka Ali berkata, ‘Apakah engkau memberi fatwa kepada manusia dengan sesuatu yang tiada pengetahuanmu mengenainya? Demi Allah, sesungguhnya ketika mula-mula perang terjadi di masa Islam (yaitu Perang Badar), tiada pada kami pasukan berkuda kecuali hanya dua ekor kuda. Yang satu milik Az-Zubair dan yang lainnya milik Al-Miqdad. Maka mana mungkin yang dimaksud dengan al-‘adiyati dhabha adalah kuda. Sesungguhnya yang dimaksud dengan al-‘adiyati dabhan ialah unta ketika berlari dari ‘Arafah ke Muzdalifah dan dari Muzdalifah ke Mina (saat haji).”

“Ibnu Abbas mengatakan bahwa lalu ia mencabut ucapannya itu dan mengikuti pendapat yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib.”

Ini dialog yang sangat menarik. Tafsir Ibn Katsir, Fathul Qadir Syaukani, Dar al Mansur Suyuthi, al-Qurthubi dan lainnya mengutip dialog di atas.

Kita lihat bagaimana Ibn Abbas mengaitkan makna al-‘adiyat sebagai kuda perang, namun si penanya masih mencari second opinion, dengan mendatangi Imam Ali. Ini indikasi kita diperbolehkan untuk bertanya kepada ulama yang berbeda.

Selanjutnya dalam dialog ini, Imam Ali yang lebih senior menegur Ibn Abbas bahwa pendapatnya itu keliru. Saat di perang badar, pasukan Nabi hanya punya dua kuda perang. Jadi sesuai konteksnya, Imam Ali membantah dengan menggunakan argumen empirik, tidak mungkin maknanya adakah kuda perang. Selanjutnya Imam Ali menyampaikan pandangannya bahwa al-‘adiyat itu unta yang dibawa jamaah haji.

Mendengar bantahan Imam Ali, Ibn Abbas berkata bahwa dia menarik pendapatnya semula dan mengikuti pendapat Imam Ali. Mungkin Ibn Abbas memilih bersikap santun di depan senior, atau boleh jadi saat itu posisi Imam Ali adalah Khalifah yang harus ditaati.

Namun demikian, para ulama masih mencatat pendapat Ibn Abbas ini dalam kitab tafsir mereka. Tafsir al-Mawardi misalnya menyimpulkan adanya kedua pendapat yang berbeda ini, termasuk dengan pendukungnya masing-masing.

أحدهما: أنها الخيل في الجهاد، قاله ابن عباس وأنس والحسن

‎الثاني: أنها الإبل في الحج، قاله عليٌّ رضي الله عنه وابن مسعود

Yang mengatakan kuda dalam peperangan adalah Ibn Abbas, Anas dan al-Hasan. Yang mengatakan unta saat haji adalah Ali bin Abi Thalib dan Ibn Mas’ud.

Imam at-Thabari dalam tafsirnya berpendapat:

‎وأولى القولين في ذلك عندي بالصواب: قول من قال: عني بالعاديات: الخيل، وذلك أن الإبل لا تضبح، وإنما تضبح الخيل

Beliau mengatakan yang lebih tepat adalah pendapat yang berkata al-‘adiyat itu adalah kuda. Alasannya adalah hanya kuda yang mendengus. Unta tidak mendengus.

Tafsir Ibn Katsir menceritakan bahwa sebenarnya Ibn Abbas menjelaskan lebih lanjut soal pasukan kuda, yang menurut Imam Ali tidak mungkin karena hanya ada dua kuda (kata al-‘adiyat ini bentuk jamak). Kata Ibn Abbas yg dimaksud adalah pasukan khusus yang dikirim Nabi Muhammad selama sebulan dan tidak ada kabar hingga turunnya ayat ini. jadi, bukan pasukan kuda saat perang badar. Tapi riwayat mengenai pasukan khusus ini dianggap lemah oleh Ibn Katsir.

Tafsir ar-Razi juga menyatakan bahwa dari perspektif teks mengindikasikan ayat ini berkenaan dengan kuda, bukan unta. Sekali lagi, kita melihat sumber perdebatan ini adalah antara teks ayat (Ibn Abbas) dan konteks empirik (Ali bin Abi Thalib).

Jadi, siapa yang benar? Boleh jadi keduanya benar dan kita dipaksa untuk terus belajar menyusuri padang pasir tafsir al-Qur’an, baik dengan mengendarai unta atau kuda. Ilmu al-Qur’an itu begitu luas. Wallahu a’lam bisshawab.


Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School