IMG-LOGO
Hikmah

Sepenggal Kisah Kedermawanan: Mbah Dullah Kajen dan Jasnya

Selasa 2 Juli 2019 19:0 WIB
Share:
Sepenggal Kisah Kedermawanan: Mbah Dullah Kajen dan Jasnya
KH Abdullah Zein Salam (Mbah Dullah) dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
KH Abdullah Zain Salam dari Kajen, Pati, Jawa Tengah, (Mbah Dullah) dikenal sebagai seorang yang sangat dermawan. Salah satu kisah masyhur tentang kedermawanan Mbah Dullah adalah beliau selalu memberi makanan orang-orang setelah mereka selesai mengaji kepadanya. Menariknya, mereka yang ikut ngaji dengan Mbah Dullah bisa ratusan –bahkan ribuan- orang dalam satu waktu. Dan mereka dikasih makan semua. 

Saking murah hatinya, Mbah Dullah juga tidak segan-segan memberikan barang pribadinya manakala ada seseorang yang menyatakan suka atau tertarik dengan barang yang dimiliki Mbah Dullah tersebut. Barang-barang tersebut langsung dikasihkan, tanpa ada rasa berat hari sedikitpun di hati Mbah Dullah. 

Salah satu barang Mbah Dullah yang diberikan kepada orang setelah mereka menyatakan tertarik dengan barang tersebut adalah jas. Mengutip buku Keteladanan KH Abdullah Zain Salam (Jamal Ma’mur Asmani, 2018), suatu ketika Mbah Dullah mengenakan sebuah setelan jas, KH Muslich Abdurrahman kemudian memuji kalau jas yang dipakai Mbah Dullah tersebut bagus. Beberapa saat setelah itu, Mbah Dullah memberikan jasnya itu untuk Kiai Muslich.

Hal yang sama juga terjadi pada Kiai Tamyiz. Suatu ketika Mbah Dullah memiliki sebuah jas bagus, Kiai Tamyiz yang mengetahui hal itu menjadi tertarik dengan jas yang dimiliki Mbah Dullah tersebut. Tidak lama berselang, Mbah Dullah kembali memberikan jasnya itu untuk Kiai Tamyiz.

Pengasuh Pesantren Al Hikmah Kajen yang merupakan cucu Mbah Dullah, Mujibur Rachman Ma’mun, juga menyampaikan kisah terkait kakeknya dengan jasnya. Menurut penuturan Gus Mujib, suatu ketika Mbah Dullah mengutus seorang santrinya membeli kain wol untuk dibuat jas. 

Mbah Dullah memberikan santri tersebut contoh kain yang dimaksud agar tidak salah beli. Santri tersebut akhirnya menemukan jenis kain yang dipesan Mbah Dullah tersebut di sebuah mal di Semarang, setelah sebelumnya mencari di toko-toko kain di Kudus namun tidak menemukannya. Harganya, 3 jutaan per meter. Dia kemudian membawa kain tersebut ke salah seorang penjahit terkenal di Semarang untuk dibikin jas, sesuai dengan arahan Mbah Dullah. 

Karena kenal dengan Mbah Dullah, penjahit tersebut menawarkan diri akan mengantarkan jas tersebut ke Kajen manakala sudah jadi, sekaligus sowan ke Mbah Dullah. Singkat cerita, penjahit yang diketahui berasal dari Demak tersebut datang ke Kajen untuk mengantarkan jas Mbah Dullah yang sudah jadi. Untuk tabarrukan, penjahit tersebut tidak memungut biaya. 

Mbah Dullah kemudian menjajal jas tersebut. Bagus dan enak dipakai. Penjahit tersebut kemudian undur diri. Beberapa saat kemudian, tamu lain yang tadi ikut sowan ke Ndalem Mbah Dullah –dengan basa-basi- mengatakan kalau jas yang dikenakan Mbah Dullah bagus sekali. Mbah Dullah yang mendengar hal itu langsung bertanya apakah dia suka dengan jas tersebut. Iya, bagus sekali, kata tamu tersebut.

Jas itu dimasukkan lagi ke dalam pembungkusnya. Mbah Dullah kemudian menyerahkan jas tersebut kepada tamu tersebut. “Nek Jenengan remen, monggo Jenengan betho mawon, kangge Jenengan. (Kalau kamu suka, silahkan kamu bawa saja, buat kamu (jasnya),” kata Mbah Dullah kepada tamunya itu. Sang tamu awalnya tersipu malu, namun setelah setengah dipaksa akhirnya dia membawa jas Mbah Dullah tersebut. 

Begitulah Mbah Dullah yang begitu dermawan. Sampai-sampai barang yang baru sampai di tangannya langsung diberikan kepada orang lain yang tertarik dengan barang tersebut. Mbah Dullah meneladani Nabi Muhammad dalam hal kedermawanan. Beliau menempatkan ‘apa yang dimilikinya’ di tangannya, bukan di hati. Sehingga beliau enteng saja memberikan, menghibahkan, atau mensedekahkan barang-barangnya untuk orang lain. (Muchlishon)
Share:
Selasa 25 Juni 2019 22:15 WIB
Pelajaran dari Anjing dan Orang yang Bertukar Hukuman Mati
Pelajaran dari Anjing dan Orang yang Bertukar Hukuman Mati
Ada satu peristiwa menarik di kota Tarsus, Turki. Dalam sebuah perjalanan, terdapat  seorang ulama yang melihat seekor anjing tampak mengikutinya dari belakang. Setiap kali ulama ini berbelok ke kanan, anjing itu juga ikut ke kanan. Demikian pula ketika berbelok ke kiri. Hingga ketika ulama tersebut sampai pada batas kota atau di benteng yang bernama pintu jihad, anjing tadi tiba-tiba kembali ke arah kota lagi. 

Setelah beberapa saat, tiba-tiba tampak anjing yang tadi menguntit dari belakang. Tapi kali ini ia datang tidak sendirian. Ia kembali datang bersama dengan 20 anjing  yang lain. Ternyata pada saat anjing tadi mengikuti ulama yang sedang berjalan tadi, ia melihat ada bangkai hewan di jalan. Anjing tidak langsung melahap bangkai sendirian. Ia perlu mengundang teman-temannya untuk memakan bangkai bersama-sama. Sangat terlihat ada solidaritas antarmereka. 

Anehnya, pada saat mereka semua makan, anjing pengundang malah tidak ikut makan. Ia hanya menikmati pemandangan 20 teman anjingnya tengah lahap makan. Baru setelah kedua puluh anjing tampak kenyang, anjing pengundang tersebut mendekat lalu memakan sisa makanan yang tinggal tulang-tulang yang berserakan. Solidaritas seperti ini dikenal dengan istilah altruisme. 

Altruisme adalah perhatian terhadap kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri. Perilaku ini merupakan kebajikan yang ada dalam banyak budaya dan dianggap penting oleh beberapa agama. Gagasan ini sering digambarkan sebagai aturan emas etika.

Dalam Islam, altruisme sangat dianjurkan sehingga Allah mengapresiasi perilaku sahabat Anshar yang mengutamakan kepentingan Nabi dan sahabat Muhajirin walaupun mereka sendiri dalam keadaan kekurangan.

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya: “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS Al-Hasyr: 9)

Oleh karena itu, para ulama sebagai orang yang dianggap lebih tahu tentang agama seharusnya ketika makan, giliran makannya adalah yang paling terakhir setelah orang-orang lain selesai makan. 

Manusia terkadang perlu belajar fabel. Fabel (bahasa Inggris: fable) adalah cerita yang menceritakan kehidupan hewan yang berperilaku menyerupai manusia. Buku Kalilah wa Dimnah termasuk buku yang menceritakan tentang teladan akhlak melalui kisah-kisah binatang. 

Altruisme juga diajarkan dalam sebuah kisah dalam buku terbitan Mesir, Sirajul Muluk karya Abu Bakar at-Turtusi yang merupakan kitab khusus memberikan konseling pada penguasa. 

Satu ketika di Mesir ada masjid terbakar. Umat Islam cepat-cepat berasumsi bahwa yang membakar pasti orang Nasrani, meski sangkaan itu belum benar-benar dibuktikan. Beberapa pemeluk agama Islam mengambil langkah sembrono. Mereka membakar hotel yang dimiliki salah seorang Nasrani. Tak jelas siapa yang menghasud dan membakar marah warga sehingga orang Nasrani mesti menjadi korban balas dendam. 

Para pembakar hotel Nasrani ditangkap. Dan setelah melalui pengadilan, umat Islam yang membakar dieksekusi dengan pidana tiga macam. Pidananya sesuai hasil undian. Ada tiga lembar undian yang masing-masing berbeda isinya. Satu lembar berisi hukuman dibunuh, lembar satunya lagi potong tangan, dan yang terakhir adalah hukuman cambuk. Apabila narapidana kebetulan ketika mengambil undian mendapatkan cambuk, maka dicambuk. Begitu pula yang hukuman potong tangan dan mati. Memang hal ini terlihat sedikit aneh, namun memang pernah terjadi di Mesir di masa silam. 

Ada satu orang yang mendapat hukuman mati, tapi ia tidak siap dieksekusi. Ia mengaku tidak tega dengan ibunya di rumah. “Andaikan aku tidak punya ibu, niscaya aku siap dihukum mati. Bagaimana perasaan ibuku jika tahu anaknya dihukum mati, aku tidak siap,” keluhnya. 

Ada narapidana lain yang mendengar jeritan hati temannya ini. Kebetulan ia mendapatkan jatah hukuman cambuk. Dengan rela hati, kedua manusia tadi bertukar hukuman. 

Tidak diketahui ulama atau orang shalih siapa yang bersedia melakukan hal tersebut karena hal ini termasuk altruisme tingkat tinggi. Apabila masing-masing kita punya jiwa seperti lelaki yang berkenan mengorbankan jiwanya tersebut, tidak akan ada konflik. (Ahmad Mundzir)


Kisah tersebut disarikan dari ceramah KH Abdul Qayyum Manshur saat memberikan taushiyah pada acara Silaturrahim dan Halal bi Halal Ngumpulke Balung Pisah Nahdlatul Ulama di Rumah Dinas Walikota Semarang, Ahad, 23 Juni 2019. 



Ahad 23 Juni 2019 13:30 WIB
Mengaca dari Kaum Sombong yang Ingin Saingi Tuhan
Mengaca dari Kaum Sombong yang Ingin Saingi Tuhan
Ilustrasi (Ist.)
Terinspirasi kitab sejarah yang mengisahkan keindahan dan kenikmatan surga, Syaddad bin Aad, keturunan dari anak seorang raja bernama Aad, memimpikan surga berada di dunia. Ia pun merealisasikan ambisinya dengan membangun sebuah kota yang dinamai Iram yang mempekerjakan ribuan pekerja dalam jangka waktu 300-an tahun. Ia menata Kota Iram sedemikian rupa dengan pohon-pohon dan aliran sungai yang dilapisi emas dan perak.

Ia tidak mengatur sendiri mega proyek yang ia impikan ini. Ia berkolaborasi dengan saudaranya yang bernama Syadid. Keduanya memimpin kerajaan dengan kejam. Syaddad termasuk orang yang diberikan umur panjang hingga mencapai 1200 tahun. Ia juga menikahi kurang lebih 1000 perempuan dan merupakan penguasa dunia pertama setelah Nabi Nuh AS.

Namun, dasar niat yang dimiliki Syaddad dalam membangun surga di dunia ini bukan untuk mensyukuri nikmat dari Allah namun wujud kesombongan untuk menyaingi kekuasaanNya. Allah pun mengutus seorang Nabi untuk mengajak Syaddad dan kaum ‘Aad kepada kebenaran. Nabi yang diutus oleh Allah adalah Nabi Hud AS.

Namun bukannya Syaddad dan anak buahnya mengikuti ajakan Nabi Hud AS, mereka malah mengabaikan dan melecehkannya. Bahkan mereka menantang Nabi Hud AS untuk menurunkan azab dari Allah sebagai bukti kebenaran ajakannya.

Kesombongan inilah yang menyebabkan Allah tak segan-segan menimpakan adzab kepada kaum ‘Aad dengan kemarau berkepanjangan selama tiga tahun lamanya. Mereka pun kehilangan lahan pertanian dan perkebunan serta surga dunia yang selama ini mereka bangun dan bangga-banggakan.

Adzab ini pun tak membuat mereka jera dengan tetap tidak mengikuti ajakan Nabi Hud AS untuk beriman kepada Allah. Allah pun kembali menurunkan adzab berupa angin Samun yang memporak-porandakan wilayah mereka sampai gunung-gunung pun ikut hancur. Berhembus kencang selama delapan hari tujuh malam angin ini membuat sebagian Kaum ‘Aad takut dan tewas.

Kisah ini termaktub dalam QS Al Haqqah ayat 6-8 yang artinya: “Adapun kaum ‘Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu liat kaum ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorang pun yang tinggal di antara mereka."

Inilah gambaran nasib pemimpin dan kaum sombong yang terlena dengan kemewahan dunia dan kekayaan yang mereka miliki. Mereka berani melupakan Allah, mengingkari Nabi yang diutus kepada mereka, dan ingin mengalahkan kekuasaan Allah yang tanpa batas.

Perlu kita sadari bahwa semua orang pasti mengharapkan kesuksesan dan kebahagiaan hidup di dunia. Namun semua itu tidak bisa diukur dari banyaknya harta dan pengikut yang dimiliki. Banyak orang yang berambisi mengumpulkan harta sebanyak mungkin untuk meraih kebahagiaan. Namun sebenarnya harta justru bisa menjauhkan seseorang untuk meraih kebahagiaan karena dapat membutakan hati nurani bahkan bisa membuatnya jauh dari Sang Pencipta.

Kita harus mengingat bahwa kehidupan di dunia pasti akan mengalami pasang surut. Kadang bahagia, kadang sedih. Terkadang merasa dekat dengan Allah, terkadang terasa jauh hingga hati menjadi gersang. Ketika kita berada di bawah, maka janganlah putus asa dan ketika berada di posisi atas maka janganlah kecongkakan dan kesombongan menutupi hati kita.

Kehidupan di seluruh zaman dan masa selalu mengalami perubahan. Karena memang setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya. Kita sendiri lah yang mampu dan mengetahui apa yang terbaik yang bisa kita lakukan.

Harus ada "paksaan" kepada diri sendiri untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah jika kita merasa jauh. Harus ada komitmen untuk menyadari bahwa manusia adalah makhluk kecil tak berdaya di hadapan-Nya. Kepada Allah lah semua pergerakan kehidupan ini berasal dan kepadanya pula semua akan dikembalikan.

Muhammad Faizin (Disarikan dari Materi Ngaji Ahad (Jihad) Pagi oleh KH Sujadi, Tafsir Surat Al Fajr ayat 1-7 di Gedung PCNU Pringsewu, Lampung)
Rabu 19 Juni 2019 18:0 WIB
Kisah-kisah Doa yang Dikabulkan
Kisah-kisah Doa yang Dikabulkan
Dalam kitab al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, Imam Abu Bakr al-Thurthusyi mencatat beberapa riwayat tentang doa yang dikabulkan. Berikut beberapa riwayatnya untuk dijadikan pelajaran.

Riwayat yang pertama menceritakan Sayyidina ‘Uqbah bin Nafi’ yang sembuh dari kebutaan setelah diajarkan doa dalam mimpinya. Ia adalah kemenakan Sayyidina ‘Amr bin ‘Ash dan seorang jenderal yang bertugas sejak era Khalifah Umar bin Khattab sampai Daulah Umayyah. Lahir di Makkah tahun 1 H, dan wafat di Aljazair tahun 63 H. Berikut kisahnya:

وحكي عن الليث بن سعد أنه قال: رأيت عقبة بن نافع ضريرا ثمّ رأيته بصيرا، فقلت له: بم رد الله عليك بصرك؟ فقال: أتيت في المنام فقيل لي: قل يا قريب يا مجيب يا سميع الدعاء، يا لطيف لما يشاء، رُدّ عليَّ بصري، فقلتها فرد الله عليَّ بصري

Diceritakan dari al-Laits bin Sa’d, ia berkata: “Aku melihat ‘Uqbah bin Nafi’ dalam keadaan buta, kemudian aku melihatnya (sudah bisa) melihat (kembali).”

Aku bertanya kepadanya: “Dengan apa Allah mengembalikan penglihatanmu?”

Ia menjawab: “Aku bermimpi dan dikatakan kepadaku: ‘Ucapkanlah: Yâ qarîb, ya mujîb, ya samî’ad du’â, ya lathîf li mâ yasyâ’u, rudda ‘alayya basharî (wahai Tuhan yang Maha-Dekat, wahai yang Maha-Mengabulkan, wahai yang Maha-Mendengarkan doa, wahai yang Maha-Lembut atas apa-apa yang dikehendaki-Nya, kembalikanlah penglihatanku). Kemudian aku mengucapkan doa tersebut dan Allah mengembalikan penglihatanku.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2002, h. 40-41)

Riwayat kedua menceritakan Imam Abdul Malik bin Habib al-Qurthubi (174-238 H), seorang ulama mazhab Maliki dari Cordova, Andalusia. Ketika itu ia sedang dalam perjalanan menggunakan perahu, dan air laut bergelombang sangat besar. Berikut riwayatnya:

وروي أبو محمد بن أبي زيد أن عبد الملك بن حبيب الذي يقال له: عالم الأندلس كان مستجابا، وأن البحر هاج بهم في اللجة، فقام فتوضأ ثمّ رفع يديه إلي السماء فقال: اللهم ماذا العذاب الذي أوتينا، وما هذه القدرة؟ اللهم إن كنت تعلم أن رحلتي هذه كانت لوجهك خالصا، ولإحياء سنن رسولك فاكشف عنا هذا الغم، وأرنا رحمتك كما أريتنا عذابك، فكشف الله عنهم بلطفه في الوقت

Diriwayatkan dari Abu Muhammad bin Abu Zaid bahwa Abdul Malik bin Habib, seorang ahli ilmu dari Andalusia, (pernah) dikabulkan doanya. (Ketika itu) terjadi ombak laut yang sangat besar. Kemudian Abdul Malik bin Habib berwudhu dan menengadahkan kedua tangannya ke langit. Ia berucap: “Ya Allah, azab apa ini yang ditimpakan kepada kami, dan qudrah (kehendak) apa ini? Ya Allah, kiranya Engkau tahu bahwa sesungguhnya perjalananku ini semata-mata untuk (mengharapkan ridha)-Mu, dan untuk menghidupkan sunnah Rasul-Mu, maka hilangkanlah kesusahan ini dari kami, dan perlihatkanlah rahmat-Mu kepada kami sebagaimana Engkau telah memperlihatkan azab-Mu.” Kemudian Allah menghilangkan kesusahan mereka seketika itu juga dengan kemaha-lembutan-Nya.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, , 2002, h. 38-39)

Riwayat ketiga menceritakan mimpi Imam Ibnu Khuzaimah tentang Imam Ahmad bin Hanbal, pendiri mazhab Hanbali. Imam Ibnu Khuzaimah (223-311 H) adalah seorang ahli hadits dan fiqih dari mazhab Syafi’i. Ia terkenal dengan kitab kumpulan haditsnya, Shahîh Ibnu Khuzaimah. Berikut riwayatnya:

وحكي عن ابن خزيمة أنه قال: لما مات أحمد بن حنبل كنت بالاسكندرية، فاغتممت، ورأيت أحمد بن حنبل في المنام وهو يتبختر، فقلت: يا أبا عبد الله؟ أي مشية هذه؟
فقال مشية الخدام في دار السلام، قلت: ما فعل الله بك؟ قال: غفر لي، وتوجني، وألبسني نعلين من ذهب، وقال: يا أحمد، هذا بقولك القرآن كلامي، ثم قال: يا أحمد ادعني بتلك الدعوات التي بلغتك عن سفيان الثوري وكنت تدعو بها في دار الدنيا
فقلت: يا رب كل شيء بقدرتك علي كل شيء، اغفر لي كل شيء ولا تسألني عن شيء، فقال: يا أحمد هذه الجنة فادخلها، فدخلتها

Diceritakan dari Ibnu Khuzaimah, ia berkata: Ketika Ahmad bin Hanbal meninggal, aku sedang berada di Iskandariah, aku pun bersedih. Lalu aku melihat Ahmad bin Hanbal dalam mimpi, ia berjalan dengan gaya yang menawan. Aku pun bertanya: “Wahai Abu Abdillah, jalan macam apa ini?”

Ahmad bin Hanbal menjawab: “Jalannya para pelayan di rumah keselamatan.”

Aku bertanya lagi: “Apa yang diperbuat Allah kepadamu?”

Ia menjawab: “Allah telah mengampuniku, memahkotaiku, dan memakaikan kepadaku dua sandal dari emas.” Dia berfirman: “Wahai Ahmad, (anugerahKu) ini karena perkataanmu bahwa Al-Qur’an adalah kalam-Ku,” kemudian Allah berfirman lagi: “Wahai Ahmad, berdoalah kepada-Ku dengan doa yang telah disampaikan Sufyan al-Tsauri kepadamu.” Aku pun berdoa dengan doa-doa tersebut di kehidupan dunia (ketika aku masih hidup). Aku berdoa:

“Yâ rabbi kulli syai’in, bi qudratika ‘alâ kulli syai’in, ighfir lî kella syai’in wa lâ tas’alanî ‘an syai’in (Wahai Tuhan segala sesuatu, dengan kuasa-Mu atas segala sesuatu, ampunilah aku (dari) segala sesuatu (dosa dan kesalahan), dan jangan Kau tanyakan sesuatu pun kepadaku.”

Lalu Allah berfirman: “Wahai Ahmad, surga ini, masuklah kau ke dalamnya, maka aku pun memasukinya.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, , 2002, h. 41)

Tiga riwayat di atas menunjukkan bahwa doa harus diperankan dalam kehidupan kita. Karena doa tidak sekadar bentuk formal untuk memohon sesuatu kepada Allah, tapi juga bentuk pengakuan akan kelemahan kita sebagai manusia sekaligus pengakuan akan kemaha-kuasaan Allah sebagai Tuhan semesta alam. Dengan berdoa, kita bisa merendahkan kesombongan kita, dan perlahan-lahan membangun kesadaran kita, bahwa sebaik apa pun usaha manusia, akan bertambah kebaikannya dengan memasrahkan sepenuhnya kepada Allah. Sebagai penutup, kita perlu renungkan kalimat panjang berikut ini:

قال سلفنا رضوان الله عليهم: ما من أحد إلا ويريدك لنفسه، فصدّيقك يريدك للاستمتاع بحديثك والانتفاع بك، والأب يريدك لراحة يجدها بقربك، وكشف غمة تلحقه عندك، وأستاذك ومعلمك يريدك لينتفغ بك في الآخرة لثواب ما علمك، ولذة يجدها في الدنيا بتخريجك من ظلمات الجهل إلي أنوار المعرفة
وعلي هذا النمط يجري مراد الخلائق بينهم، إلا الله سبحانه، فإنه يريدك (ليغفر لك) قال الله سبحانه: (يَدْعُوكُمْ لِيَغْفِرَ لَكُمْ)
وقال سبحانه: (فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَٰكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ) وهذا استعطاف للخلق في الدعاء

“Para ulama salaf kita, semoga Allah meridhai mereka, berkata: ‘Tiada seorang pun yang menginginkan (sesuatu) untukmu kecuali untuk dirinya sendiri. Temanmu menginginkanmu menjadi pendengar obrolannya dan ingin mengambil manfaat darimu. Seorang ayah menginginkanmu karena kesenangan yang ditemukannya dengan berada di dekatmu dan ingin (merasakan nikmatnya) melenyapkan kesusahan yang menimpamu. Guru dan pengajarmu, menginginkanmu agar mendapat manfaat darimu di akhirat (kelak) karena pahala mengajarimu dan ingin merasakan kesenangan di dunia dengan (rasa nikmatnya keberhasilan) mengeluarkanmu dari gelapnya kebodohan menuju cahaya pengetahuan.

Dan pola inilah yang berlaku (dalam pergaulan) di antara sesama manusia. Berbeda halnya dengan Allah Swt., yang menginginkanmu (agar Dia mengampunimu). Allah berfirman (QS. Ibrahim: 10): “Dia menyeru kalian agar Dia mengampuni kalian.”

Allah berfirman (QS. Al-An’am: 43): “Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitan pun menjadikan indah apa yang selalu mereka kerjakan.” Ayat ini menunjukkan permintaan kepada makhluk (manusia) untuk berdoa.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 13-14)

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish shawwab...


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen