IMG-LOGO
Hikmah

Keistimewaan Nabi Muhammad: Akhlak, Akhlak, Akhlak

Rabu 3 Juli 2019 8:0 WIB
Share:
Keistimewaan Nabi Muhammad: Akhlak, Akhlak, Akhlak
Seperti seorang ratu dalam film Snow White (Putri Salju) yang bertanya ke cermin ajaib siapa yang paling cantik, sejarah peradaban manusia pun bertanya-tanya siapakah yang paling rupawan atau tampan. Tidak hanya kisah kanak-kanak, bahkan seorang filosof seperti Nietzsche pun menulis Thus Spoke Zarathustra yang bicara mengenai konsep ‘manusia unggul’ (Übermensch) yang lebih dari lainnya.

Ini sekali lagi mengingatkan kita pada komik yang kemudian difilmkan mengenai ‘manusia baja’ alias Superman. Berasal dari planet di luar bumi dan memiliki kekuatan super di atas kemanusiaan penduduk bumi. Tidak cukup dengan itu Hollywood membanjiri kita dengan berbagai kisah manusia yang memiliki kemampuan luar biasa dari mulai X-Men, Spiderman, Hulk, yang berasal dari bumi, maupun yang dari “langit” seperti Thor. Tradisi wayang pun punya jenis manusia unggul seperti Gatotkaca, yang melegenda di tengah masyarakat kita.

Akan tetapi Muhammad bin Abdillah yang diklaim sebagai Nabi terakhir oleh umat Islam bukanlah seorang yang punya kekuatan super power, bahkan bila dibandingkan dengan para Nabi sebelumnya yang memiliki berbagai keajaiban (baca: mu’jizat). Inilah Nabi yang bukan anak raja, seperti Sulaiman bin Dawud. Inilah Nabi yang tidak memiliki tongkat ajaib seperti Musa. Inilah Nabi yang tidak bisa membangkitkan orang yang sudah mati seperti mu’jizat Isa. Juga bukan seperti Yusuf yang gantengnya mampu membuat para perempuan tak sadar mengiris jemari mereka sendiri.

Tidak! Yang diceritakan kepada kita adalah Muhammad seorang yang bersahaja, yang tidur beralaskan tikar kasar, mengganjal perutnya dengan batu karena menahan lapar. Muhammad yang pergi berperang dan pernah kalah. Nabi yatim piatu yang besar dalam asuhan kakek dan kemudian pamannya. Bahkan penduduk Mekkah pun keheranan bagaimana orang seperti ini bisa-bisanya mengklaim sebagai Nabi, padahal dia jalan di pasar dan makan sebagaimana orang lainnya. Mungkin seharusnya rasul terakhir itu berupa malaikat atau sosok yg dari luar bumi.

Hari kelahirannya pun bukan di hari besar seperti hari Jumat. Dia lahir di hari Senin. Bukan lahir di bulan yang disucikan oleh orang Arab, tapi di bulan biasa, yaitu Rabi’ul Awal. Padahal orang kampung saja punya perhitungan tentang tanggal dan hari kelahiran sebagai indikasi kebesaran sang anak di masa mendatang. Muhammad menjadi tokoh hebat bukan karena itu semua.

Kalau meminjam dialog Batman ketika bertarung dengan Superman, “apakah anda bisa berdarah?” Muhammad seperti kita juga, beliau berdarah, menikah, makan dan minum, serta pergi berdagang. Muhammad bukanlah pria yang memiliki otot kawat dan tulang dari besi.

Jelas sudah Muhammad bukan orang yang memenuhi kriteria angan dan imaji kita seperti tradisi dan kisah kanak-kanak, komik, novel filosofis maupun film yang laris di pasaran.

Lantas dimana letak keistimewaan seorang Muhammad?

Mengapa pula bangsa Arab mau mendukungnya padahal ajaran yang dia bawa tidak menempatkan bangsa Arab —iya, bangsanya sendiri— sebagai bangsa yang paling unggul sedunia. Kita tahu Yahudi selalu merasa sebagai bangsa pilihan Tuhan. Bahkan Hitler pun merasa Bangsa Arya sebagai yang paling unggul. Tidak heran keduanya saling bermusuhan.

Tapi Muhammad? Ajaran yang dia terima jelas mengatakan bahwa yang paling unggul di sisi Tuhan itu adalah mereka yang paling bertakwa. Tidak ada keutamaan bangsa Arab dari orang Madura, Afrika, Dayak, Cina, atau Bugis. Itu karena Muhammad mengklaim bahwa beliau diutus tidak hanya untuk bangsa dimana dia hidup dan berinteraksi, tapi untuk semua manusia di akhir jaman.

Sekali lagi, apa sih yang membuat Muhammad menjadi istimewa dan pantas kita teladani?

Ada tiga jawabannya?

Pertama, akhlak.
Kedua, akhlak.
Ketiga, akhlak.

Iya, Muhammad terang-terangan menjelaskan misinya, yaitu untuk menyempurnakan akhlak mulia. Kalimat yang dipilihnya pun sudah mengandung sebuah akhlak. Dia tidak mengatakan akhlak sebelumnya jelek dan hancur lebur. Dia tidak hendak mengoreksi, apalagi mencaci dan menghakimi, seperti kebanyakan para da’i saat ini. Muhammad datang untuk “menyempurnakan” akhlak yang “mulia” (perhatikan kata yang diberi dua tanda petik). Luar biasa bukan?!

Untuk mengemban misi ini tentu Muhammad sendiri harus membuktikan diirnya pantas sebagai uswatun hasanah (teladan yang baik). Sebelum diangkat sebagai Nabi pun penduduk Mekkah sudah mengenal kejujurannya sehingga beliau digelar al-Amin. Track record itu penting. Muhammad pun menolak kerajaan atau harta yang ditawarkan.

Lantas kalau beliau sudah berhasil menyempurnakan akhlak yang mulia, maka hasilnya akan seperti apa? Kali ini Tuhan yang mewakili untuk memberi jawaban lewat ayat suci. Hasil dari gemblengan akhlak yang mulia itu akan melahirkan Islam yang berupa rahmat bagi semesta alam.

Duh, sampai di sini kita berhenti sejenak. Ini bukan sosok pahlawan atau manusia unggul seperti di komik, novel dan film, yang setelah mengalahkan kejahatan kemudian selesai —atau paling tidak menunggu musuh baru sampai film berikutnya. Ini sosok yang tidak menjadikan kemenangan semata sebagai sebuah tujuan. Bahkan Qur’an pun menegaskan bahwa bukan tugas Muhammad untuk memaksa semua orang menjadi Muslim. Tidak ada paksaan dalam beragama.

Ketika pasukannya baru saja memenangkan pertarungan di daerah Badar yang secara kalkulasi manusia biasa mustahil dimenangkan, sosok ini malah mengingatkan bahwa itu pertarungan kecil. Karena pertarungan yang sesungguhnya adalah melawan nafsu diri kita masing-masing. Pasukannya sendiri malah tidak bisa mengontrol nafsu duniawi mereka saat pertempuran berikutnya di bukit uhud yang membuat mereka kalah. Pelajaran pahit!

Tapi apa itu semua cukup untuk menjadikan Muhammad sebagai sosok yang istimewa dalam panggung sejarah peradaban manusia?

Tuhan memberinya kitab suci al-Qur’an. Inilah mu’jizat Muhammad. Adakah keajaiban pada kitab suci yang dijadikan andalan Nabi terakhir ini? Karena Muhammad adalah sosok panutan untuk semua bangsa dan melintasi zaman hingga hari kiamat nanti, tentu saja mu’jizatnya juga harus melintasi batas ruang dan waktu; tidak bisa hanya temporer atau lokal seperti mu’jiat para Nabi sebelumnya.

Musa menghadapi zaman dimana penyihir begitu ditakuti, maka mu’jizat Musa pun cocok untuk zaman itu. Tapi mu’jizat Muhammad harus melampaui zamannya sendiri.

Lantas bagaimana kitab suci al-Qur’an melintasi itu semua? Apakah lewat peperangan dan kekerasan menaklukkan dunia? Apakah lewat penjajahan dan penindasan terhadap umat lain? Tidak!

Misi utama sosok ini yang hendak menyempurnakan peradaban manusia yang berakhlak mulia sebagai rahmat untuk semesta alam diwujudkan dalam wahyu pertama. Ketika menerima perintah pertama yang diterimanya di gua hira, isinya berupa Iqra’ (bacalah!). Inilah cikal-bakal munculnya peradaban Islam.

Lewat ilmu pengetahuan misi Muhammad melintasi batas wilayah, zaman dan generasi. Itu sebabnya Iqbal, cendekiawan besar dari Pakistan, menulis bahwa “Muhammad adalah mukadimah bagi alam semesta”.

Maka lewat apresiasi terhadap ilmu pengetahuan yang etis dan mengandung rahmat ilahi, Muhammad telah menginspirasi jejak peradaban manusia. Iqbal, bolehlah kita kutip sekali lagi, untuk menjelaskan bagaimana manusia mampu mengkreasi dari apa yang sudah Tuhan ciptakan sebelumnya.

“Kau mencipta malam, aku mencipta lampu untuk meneranginya. Kau membuat lempung, darinya aku bikin cawan minuman.”

Di sinilah keistimewaan seorang manusia bernama Muhammad. Ajaran yang dibawanya plus keteladanan etis yang diwariskannya merupakan kontribusi penting bagi peradaban semesta.

Maulid adalah memori kolektif kita akan perjuangan Nabi Muhammad menginstitusionalisasikan akhlak mulia, perintah Iqra’ dan Islam yang rahmatan lil 'alamin. Tanpa kesadaran akan jejak silam, kita mustahil bisa move on. Maka Maulid jangan direduksi hanya menjadi perdebatan tahunan masalah bid’ah atau tidak. Maulid Nabi adalah momen kita untuk kembali mengambil pelajaran dari sosok yang Allah dan malaikat pun bershalawat kepadanya.

Allahumma shalli ‘alayhi zinata ‘arsyika wa mablagha ridhaka wa midada kalimatika wa muntaha rahmatika.

Ya Allah Limpahkan shalawat kepada Nabi Muhammad seindah ‘ArasyMu, sebanyak ridhaMu, kalimatMu dan rahmatMu.


Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCINU Australia-New Zealand, Dosen Senior Monash Law School


Share:
Rabu 3 Juli 2019 19:45 WIB
Kisah Hikmah: Haji Mudah di Balik Musibah
Kisah Hikmah: Haji Mudah di Balik Musibah
Ilustrasi (Gulf Business)
Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima. Wajib bagi setiap Muslim melaksanakannya sekali dalam seumur hidup.
 
وَلِلهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah. Yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah]. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha-Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (Q.S. Ali Imran[3]: 97).

Ada yang khas dalam haji dibanding ibadah selainnya. Dalam konteks Muslim Indonesia, orang yang telah menjalankan ibadah haji akan menyandang sebutan “haji” atau “hajjah”—hal yang tidak dijumpai pada ibadah shalat, puasa, dan zakat meski sama-sama rukun Islam. Teringat ketika Ustadz Hasan, salah satu muthawif umrah menjelaskan bahwa ketika seseorang sudah menjalankan ibadah haji sempurnalah Islamnya, seluruh kewajiban dijalankan dan sunnah-sunnahnya ditingkatkan.

Yang mesti dicatat pula, perintah haji adalah bagi mereka yang mampu. Ini artinya ketika seorang Muslim belum mampu melaksanakannya misalnya karena faktor biaya, kendaraan, keamanan, kekuatan fisik, maupun kesehatan maka ia tidak terkena hukum dosa.
Ada satu kisah nyata di tahun 2018 tepatnya di Klaten Jawa Tengah. Pak Fulan—sebut saja demikian—bersama istri, dijadwal oleh pemerintah berangkat haji pada tahun 2018. Atas kuasa Allah subhanahu wata’ala Pak Fulan mengalami sakit keras sehingga mengharuskan operasi: terdapat tumor pada ususnya. Semakin hari kondisi Pak Fulan semakin melemah sehingga tidak mungkin bisa berangkat di tahun 2018. Dengan kondisi demikian, akhirnya istri berangkat sendiri tanpa didampingi suami ataupun anak, karena kondisinya masih sehat dan kuat. 

Selama menjalani pengobatan kurang lebih 10 bulan Pak Fulan dirawat oleh putra dan keluarga dengan telaten sehingga pada tahun 2019 kondisinya semakin membaik. Tekad Pak Fulan begitu kuat untuk bisa berangkat ke Baitullah. Beliau merasa sudah lebih baik dan kuat untuk memenuhi panggilan haji. Setelah cek kesehatan atas izin Allah SWT Pak Fulan dinyatakan bisa berangkat haji di tahun 2019 ini. 

Mengingat kondisi yang baru saja mengalami sakit selama kurang lebih 10 bulan ini, tentu kondisi fisik tidak sekuat sebelumnya. Dengan hasil musyawarah akhirnya pemerintah membolehkan salah satu keluarga untuk mendampingi keberangkatannya. Dengan syarat sudah terdaftar sebagai calon jamaah haji.

Yang menarik dalam kisah ini ternyata ketika Allah memanggil hamba-Nya ke Baitullah tidak mengenal aturan pemerintah atau siapa pun. Anak dari Pak Fulan yang seharusnya keberangkaatan di tahun 2030-an ia bisa berangkat di tahun 2019. Di balik musibah yang menimpa keluarga Pak Fulan, atas kesabarannya dan keluarga, akhirnya bisa berangkat bersama putra tercinta menuju rumah Allah.

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ 

“Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah kebaikan, maka akan diberi musibah,” (H.R. Bukhari).

Mahasuci dan bijaksana Allah yang mengatur kehidupan di bumi dan di langit dengan cermat dan tepat. Tidak ada kata tertunda, hanya saja Allah pilihkan waktu yang terbaik. Kesabaran berbuah kebahagiaan. Semoga keduanya dijadikan haji yang mabrur. Amiin.


Jaenuri, Dosen Fakultas Agama Islam UNU Surakarta

======
NU Online mengajak kepada pembaca semua untuk berbagi kisah inspiratif penuh hikmah baik tentang diri sendiri atau orang lain. Silakan kirim ke email: redaksi@nu.or.id

Selasa 2 Juli 2019 19:0 WIB
Sepenggal Kisah Kedermawanan: Mbah Dullah Kajen dan Jasnya
Sepenggal Kisah Kedermawanan: Mbah Dullah Kajen dan Jasnya
KH Abdullah Zein Salam (Mbah Dullah) dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
KH Abdullah Zain Salam dari Kajen, Pati, Jawa Tengah, (Mbah Dullah) dikenal sebagai seorang yang sangat dermawan. Salah satu kisah masyhur tentang kedermawanan Mbah Dullah adalah beliau selalu memberi makanan orang-orang setelah mereka selesai mengaji kepadanya. Menariknya, mereka yang ikut ngaji dengan Mbah Dullah bisa ratusan –bahkan ribuan- orang dalam satu waktu. Dan mereka dikasih makan semua. 

Saking murah hatinya, Mbah Dullah juga tidak segan-segan memberikan barang pribadinya manakala ada seseorang yang menyatakan suka atau tertarik dengan barang yang dimiliki Mbah Dullah tersebut. Barang-barang tersebut langsung dikasihkan, tanpa ada rasa berat hari sedikitpun di hati Mbah Dullah. 

Salah satu barang Mbah Dullah yang diberikan kepada orang setelah mereka menyatakan tertarik dengan barang tersebut adalah jas. Mengutip buku Keteladanan KH Abdullah Zain Salam (Jamal Ma’mur Asmani, 2018), suatu ketika Mbah Dullah mengenakan sebuah setelan jas, KH Muslich Abdurrahman kemudian memuji kalau jas yang dipakai Mbah Dullah tersebut bagus. Beberapa saat setelah itu, Mbah Dullah memberikan jasnya itu untuk Kiai Muslich.

Hal yang sama juga terjadi pada Kiai Tamyiz. Suatu ketika Mbah Dullah memiliki sebuah jas bagus, Kiai Tamyiz yang mengetahui hal itu menjadi tertarik dengan jas yang dimiliki Mbah Dullah tersebut. Tidak lama berselang, Mbah Dullah kembali memberikan jasnya itu untuk Kiai Tamyiz.

Pengasuh Pesantren Al Hikmah Kajen yang merupakan cucu Mbah Dullah, Mujibur Rachman Ma’mun, juga menyampaikan kisah terkait kakeknya dengan jasnya. Menurut penuturan Gus Mujib, suatu ketika Mbah Dullah mengutus seorang santrinya membeli kain wol untuk dibuat jas. 

Mbah Dullah memberikan santri tersebut contoh kain yang dimaksud agar tidak salah beli. Santri tersebut akhirnya menemukan jenis kain yang dipesan Mbah Dullah tersebut di sebuah mal di Semarang, setelah sebelumnya mencari di toko-toko kain di Kudus namun tidak menemukannya. Harganya, 3 jutaan per meter. Dia kemudian membawa kain tersebut ke salah seorang penjahit terkenal di Semarang untuk dibikin jas, sesuai dengan arahan Mbah Dullah. 

Karena kenal dengan Mbah Dullah, penjahit tersebut menawarkan diri akan mengantarkan jas tersebut ke Kajen manakala sudah jadi, sekaligus sowan ke Mbah Dullah. Singkat cerita, penjahit yang diketahui berasal dari Demak tersebut datang ke Kajen untuk mengantarkan jas Mbah Dullah yang sudah jadi. Untuk tabarrukan, penjahit tersebut tidak memungut biaya. 

Mbah Dullah kemudian menjajal jas tersebut. Bagus dan enak dipakai. Penjahit tersebut kemudian undur diri. Beberapa saat kemudian, tamu lain yang tadi ikut sowan ke Ndalem Mbah Dullah –dengan basa-basi- mengatakan kalau jas yang dikenakan Mbah Dullah bagus sekali. Mbah Dullah yang mendengar hal itu langsung bertanya apakah dia suka dengan jas tersebut. Iya, bagus sekali, kata tamu tersebut.

Jas itu dimasukkan lagi ke dalam pembungkusnya. Mbah Dullah kemudian menyerahkan jas tersebut kepada tamu tersebut. “Nek Jenengan remen, monggo Jenengan betho mawon, kangge Jenengan. (Kalau kamu suka, silahkan kamu bawa saja, buat kamu (jasnya),” kata Mbah Dullah kepada tamunya itu. Sang tamu awalnya tersipu malu, namun setelah setengah dipaksa akhirnya dia membawa jas Mbah Dullah tersebut. 

Begitulah Mbah Dullah yang begitu dermawan. Sampai-sampai barang yang baru sampai di tangannya langsung diberikan kepada orang lain yang tertarik dengan barang tersebut. Mbah Dullah meneladani Nabi Muhammad dalam hal kedermawanan. Beliau menempatkan ‘apa yang dimilikinya’ di tangannya, bukan di hati. Sehingga beliau enteng saja memberikan, menghibahkan, atau mensedekahkan barang-barangnya untuk orang lain. (Muchlishon)
Selasa 25 Juni 2019 22:15 WIB
Pelajaran dari Anjing dan Orang yang Bertukar Hukuman Mati
Pelajaran dari Anjing dan Orang yang Bertukar Hukuman Mati
Ada satu peristiwa menarik di kota Tarsus, Turki. Dalam sebuah perjalanan, terdapat  seorang ulama yang melihat seekor anjing tampak mengikutinya dari belakang. Setiap kali ulama ini berbelok ke kanan, anjing itu juga ikut ke kanan. Demikian pula ketika berbelok ke kiri. Hingga ketika ulama tersebut sampai pada batas kota atau di benteng yang bernama pintu jihad, anjing tadi tiba-tiba kembali ke arah kota lagi. 

Setelah beberapa saat, tiba-tiba tampak anjing yang tadi menguntit dari belakang. Tapi kali ini ia datang tidak sendirian. Ia kembali datang bersama dengan 20 anjing  yang lain. Ternyata pada saat anjing tadi mengikuti ulama yang sedang berjalan tadi, ia melihat ada bangkai hewan di jalan. Anjing tidak langsung melahap bangkai sendirian. Ia perlu mengundang teman-temannya untuk memakan bangkai bersama-sama. Sangat terlihat ada solidaritas antarmereka. 

Anehnya, pada saat mereka semua makan, anjing pengundang malah tidak ikut makan. Ia hanya menikmati pemandangan 20 teman anjingnya tengah lahap makan. Baru setelah kedua puluh anjing tampak kenyang, anjing pengundang tersebut mendekat lalu memakan sisa makanan yang tinggal tulang-tulang yang berserakan. Solidaritas seperti ini dikenal dengan istilah altruisme. 

Altruisme adalah perhatian terhadap kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri. Perilaku ini merupakan kebajikan yang ada dalam banyak budaya dan dianggap penting oleh beberapa agama. Gagasan ini sering digambarkan sebagai aturan emas etika.

Dalam Islam, altruisme sangat dianjurkan sehingga Allah mengapresiasi perilaku sahabat Anshar yang mengutamakan kepentingan Nabi dan sahabat Muhajirin walaupun mereka sendiri dalam keadaan kekurangan.

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya: “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS Al-Hasyr: 9)

Oleh karena itu, para ulama sebagai orang yang dianggap lebih tahu tentang agama seharusnya ketika makan, giliran makannya adalah yang paling terakhir setelah orang-orang lain selesai makan. 

Manusia terkadang perlu belajar fabel. Fabel (bahasa Inggris: fable) adalah cerita yang menceritakan kehidupan hewan yang berperilaku menyerupai manusia. Buku Kalilah wa Dimnah termasuk buku yang menceritakan tentang teladan akhlak melalui kisah-kisah binatang. 

Altruisme juga diajarkan dalam sebuah kisah dalam buku terbitan Mesir, Sirajul Muluk karya Abu Bakar at-Turtusi yang merupakan kitab khusus memberikan konseling pada penguasa. 

Satu ketika di Mesir ada masjid terbakar. Umat Islam cepat-cepat berasumsi bahwa yang membakar pasti orang Nasrani, meski sangkaan itu belum benar-benar dibuktikan. Beberapa pemeluk agama Islam mengambil langkah sembrono. Mereka membakar hotel yang dimiliki salah seorang Nasrani. Tak jelas siapa yang menghasud dan membakar marah warga sehingga orang Nasrani mesti menjadi korban balas dendam. 

Para pembakar hotel Nasrani ditangkap. Dan setelah melalui pengadilan, umat Islam yang membakar dieksekusi dengan pidana tiga macam. Pidananya sesuai hasil undian. Ada tiga lembar undian yang masing-masing berbeda isinya. Satu lembar berisi hukuman dibunuh, lembar satunya lagi potong tangan, dan yang terakhir adalah hukuman cambuk. Apabila narapidana kebetulan ketika mengambil undian mendapatkan cambuk, maka dicambuk. Begitu pula yang hukuman potong tangan dan mati. Memang hal ini terlihat sedikit aneh, namun memang pernah terjadi di Mesir di masa silam. 

Ada satu orang yang mendapat hukuman mati, tapi ia tidak siap dieksekusi. Ia mengaku tidak tega dengan ibunya di rumah. “Andaikan aku tidak punya ibu, niscaya aku siap dihukum mati. Bagaimana perasaan ibuku jika tahu anaknya dihukum mati, aku tidak siap,” keluhnya. 

Ada narapidana lain yang mendengar jeritan hati temannya ini. Kebetulan ia mendapatkan jatah hukuman cambuk. Dengan rela hati, kedua manusia tadi bertukar hukuman. 

Tidak diketahui ulama atau orang shalih siapa yang bersedia melakukan hal tersebut karena hal ini termasuk altruisme tingkat tinggi. Apabila masing-masing kita punya jiwa seperti lelaki yang berkenan mengorbankan jiwanya tersebut, tidak akan ada konflik. (Ahmad Mundzir)


Kisah tersebut disarikan dari ceramah KH Abdul Qayyum Manshur saat memberikan taushiyah pada acara Silaturrahim dan Halal bi Halal Ngumpulke Balung Pisah Nahdlatul Ulama di Rumah Dinas Walikota Semarang, Ahad, 23 Juni 2019.