IMG-LOGO
Hikmah

Nabi Adam Bertanya, Kenapa Allah Tak Membuat Sama Keturunannya?

Ahad 7 Juli 2019 16:30 WIB
Share:
Nabi Adam Bertanya, Kenapa Allah Tak Membuat Sama Keturunannya?
Ilustrasi (listchallenges.com)

Dalam kitab al-Zuhd, Imam Ahmad bin Hanbal memasukkan sebuah riwayat tentang Nabi Adam yang bertanya kepada Allah tentang perbedaan kedudukan yang terjadi di antara anak-cucunya. Berikut riwayatnya:

حدثّنا عبد الله، جدّثنا أبي، حدّثنا عبد الصمد، حَدَّثَنَا أَبُوْ هِلَالٍ، حَدَّثَنَا بَكْرٌ قَالَ: لَمَّا عُرِضَ عَلَى آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ ذُرِّيَّتُهُ فَرَأَى فَضْلَ بَعْضِهِمْ عَلَى بَعْضٍ قَالَ: يَا رَبِّ، فَهَلَّا سَوَّيْتَ بَيْنَهُمْ؟ قَالَ: يَا آدَمُ، إِنِّيْ أَحْبَبْتُ أَنْ أُشْكَرَ

Abdullah bercerita, ayahku bercerita, Abdus Shamad bercerita, Abu Hilal bercerita, Bakr bercerita kepada kita, ia berkata:

Ketika diperlihatkan kepada Adam ‘alaihissalam (kehidupan) keturunannya (kelak), ia melihat keutamaan (yang dimiliki) sebagian mereka terhadap sebagian (lainnya).

Adam berkata: “Wahai Tuhan, kenapa Kau tidak menyamakan di antara mereka (saja)?”

Allah menjawab: “Wahai Adam, sesungguhnya Aku sangat senang jika Aku disyukuri.” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, Kairo: Dar al-Rayyan li al-Turats, 1992, h. 61)

****

Kelebihan atau keutamaan yang dimaksud bukan melulu soal kaya-miskin dan tampan-jelek, melainkan kelapangan hidup yang mengarah pada kebahagiaan abadi. Sebab, di posisi apa pun manusia berada, manusia memiliki masalahnya sendiri-sendiri; manusia memiliki kebahagiannya sendiri-sendiri. Belum tentu orang miskin lebih banyak masalahnya dari orang kaya. Begitu pun sebaliknya, belum tentu orang kaya lebih sedikit masalahnya dari orang miskin. Karena itu, jika keutamaan (kelebihan) yang dimaksud hanya soal kaya-miskin dan tampan-jelek, orang-orang hanya akan bersyukur ketika mendapatkan dua hal itu. Padahal Allah berfirman (QS. Ibrahim: 7):

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Dalam tafsirnya, Imam Ibnu Katsir menerangkan kalimat, “lain syakartum” (jika kalian mensyukuri) dengan lanjutan “ni’matî ‘alaikum la’azîdannakum minhâ” (nikmat-Ku kepada kalian, maka akan Kutambahkan nikmat-Ku kepada kalian). (Imam Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adhîm, Riyad: Dar Tayyibah, 2002, juz 4, h. 480). Artinya, syukur dalam ayat di atas adalah mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang beragam bentuknya, tidak selalu soal harta benda. Hal ini diperkuat oleh penjelasan Tafsîr al-Thabarî:

لئن شكرتم ربَّكم، بطاعتكم إياه فيما أمركم ونهاكم، لأزيدنكم في أياديه عندكم ونعمهِ عليكم

“Jika kalian bersyukur pada Tuhan kalian dengan ketaatan kepada-Nya atas apa yang diperintahkan-Nya dan apa yang dilarang-Nya kepada kalian, maka Dia akan menambah anugerah-anugerah-Nya di sisi kalian dan (menambah) nikmat-nikmat-Nya kepada kalian.” (Imam Abu Ja’far bin Jarir al-Thabari, Tafsîr al-Thabari, Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 1994, juz 4, h. 441)

Ini menunjukkan bahwa bersyukur kepada Allah harus ditampilkan dengan ketaatan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, maka Allah akan menambahkan anugerah dan nikmat-Nya. Dengan demikian, maka bisa dipahami alasan di balik perbedaan derajat kemuliaan atau keutamaan anak-cucu Adam. Karena sebagian dari mereka gemar mensyukuri nikmat Allah sehingga Allah terus menambah kemuliannya, dan sebagian lainnya malas mensyukuri nikmat Allah bahkan tidak sedikit yang mengkufurinya. Di sinilah awal mula terjadinya ketidak-samaan antar satu sama lainnya.

Karena itu Allah menjawab pertanyaan Adam dengan kalimat, “Wahai Adam, sesungguhnya Aku sangat senang jika Aku disyukuri.” Itu artinya, syukur kita kepada Allah bisa menjadi pembeda kedudukan kita di sisi-Nya, bahkan dengan cara yang paling sederhana sekalipun. Imam Ibrahim al-Nakha’i (47-96 H) mengatakan:

شُكْرُهُ أَنْ يُسَمِّيَ إِذَا أَكَلَ، وَيَحْمَدُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا فَرِغَ

“Syukur adalah menyebut nama-(Nya) ketika makan, dan memuji Allah ‘Azza wa Jalla ketika selesai (makan).” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, 1992, h. 61)

Dengan mengamalkan “menyebut nama-Nya ketika makan dan memuji-Nya ketika selesai”, kita sedang melatih diri kita sendiri untuk memahami dan mengenali nikmat-nikmat Allah di sekitar kita. Kita harus akui bahwa makanan termasuk nikmat Allah yang sering kita lalaikan kedudukannya. Kita hanya memakannya tanpa merasakan atau mengenalinya sebagai nikmat.

Persoalannya adalah, jika hal yang setiap hari kita lakukan (makan), dan makanan yang merupakan kebutuhan sehari-hari tidak menyadarkan kita untuk bersyukur, lalu bagaimana dengan hal-hal yang jarang kita lakukan dan tidak termasuk kebutuhan sehari-hari. Tentu saja kita akan lebih melalaikannya. Karena itu, “menyebut nama Allah ketika makan dan memuji-Nya setelah makan” bisa menjadi awal dari pelatihan diri kita. Agar kita lebih terdidik dalam memahami setiap nikmat Allah. Kemudian perlahan-lahan kita akan mulai mengenali nikmat-nikmat-Nya yang lain dan merasakannya, sehingga kita akan bersungguh-sungguh dalam bersyukur dan menjadi orang yang dilebihkan Allah karena syukur kita kepada-Nya.

Pertanyaanya, sudahkah kita memulainya? Wallahu a’alm bish shawwab...


Muhammad Afiq Zahara, alumnus PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen



Share:
Ahad 7 Juli 2019 19:0 WIB
Ketika Mbah Dullah Salam ‘Mengingatkan’ KH Sahal Mahfudh
Ketika Mbah Dullah Salam ‘Mengingatkan’ KH Sahal Mahfudh
KH Abdullah Zain Salam (Twitter @ammar_abdillah)
Salah satu sikap yang melekat kuat pada sosok KH Abdullah Zain Salam atau Mbah Dullah Salam Kajen, Pati adalah selalu berharap kepada Allah. Mbah Dullah selalu menghindari sifat thama’ (mengharap bantuan orang lain), entah itu pemberian harta benda ataupun kedudukan dari orang lain. Ia begitu memperhatikan betul agar dirinya terbebas dari sifat thama’.  

Ada satu kisah masyhur tentang bagaimana Mbah Dullah menghindari sifat thama’. Dikisahkan, setiap kali menghadiri acara pernikahan, Mbah Dullah selalu mampir ke warung terlebih dahulu sebelum tiba di tempat acara. Maklum, orang biasanya berharap mendapatkan makan atau sesuatu yang lain tiap kali menghadiri acara-acara seperti itu. Namun demikian tidak dengan Mbah Dullah. Ia ‘membunuh’ perasaan thama’nya itu dengan cara makan di warung sebelum tiba ke rumah yang empunya acara. 

Dalam hal menghindari sifat thama’ Mbah Dullah tidak hanya tegas kepada dirinya tapi juga kepada keluarga dan murid-muridnya. Ia selalu menanamkan dan mengingatkan agar mereka menjauhi sifat thama’. Sebuah sifat tercela dan membinasakan. Karena bagaimanapun juga, manusia tidak boleh berharap kecuali hanya kepada Allah swt semata. 

Karena saking hati-hatinya menjaga hati dari perasaan thama’, Mbah Dullah pernah ‘mengingatkan’ KH Sahal Mahfudh. Pada saat itu, Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM) Kajen, Pati sedang dalam proses pembangunan. Dalam sebuah acara, Kiai Sahal berpidato di hadapan Mbah Dullah dan insan PIM. Kiai Sahal menjelaskan perkembangan pembangunan gedung PIM. Kata Kiai Sahal, hingga dirinya berdiri dan berpidato tersebut pembangunan PIM belum mendapatkan bantuan dari pemerintah. Mendengar kalimat seperti itu, Mbah Dullah langsung ‘mengingatkan’ Kiai Sahal. Ia kemudia dawuh:

Kok durung, ora ngunu Hal (Kok belum mendapatkan bantuan, yang benar tidak mendapatkan bantuan pemerintah gitu Hal),” kata Mbah Dullah mengingatkan Kiai Sahal, seperti dikutip dari buku Keteladanan KH Abdullah Zain Salam (Jamal Ma’mur Asmani, 2018).

Bagi Mbah Dullah, kata ‘belum’ dalam pidato Kiai Sahal tersebut mengindikasikan bahwa keponakannya itu masih berharap akan mendapatkan bantuan pemerintah. Sementara kata ‘tidak’ berarti tidak mengharapkan bantuan dari pemerintah.  

Kegigihan menghindari sifat thama’ menjadikan Mbah Dullah menolak amplop atau bantuan yang dialamatkan untuknya. Ia menyarankan agar amplop-amplop atau bantuan untuk beliau diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Mbah Dullah bekerja sendiri untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, tidak mengharapkan bantuan dari orang lain. Sehingga tidak ada sifat thama’ di dalam hatinya. (Muchlishon)
Jumat 5 Juli 2019 21:0 WIB
Kisah Ali bin Abi Thalib dan Seorang Bekas Budak
Kisah Ali bin Abi Thalib dan Seorang Bekas Budak
Sayyidina Ali bin Abi Thalib dikenal sebagai seorang sahabat Nabi Muhammad yang pemberani, alim, berwawasan luas, dan cerdas. Di samping itu, Sayyidina Ali bin Abi Thalib adalah seorang yang adil dan tidak membeda-bedakan seseorang berdasarkan status sosialnya. Ia menganggap, semua manusia memiliki hak dan kewajiban yang sama. Tidak peduli apakah dia seorang budak, bekas budak, atau merdeka. 

Dikisahkan, suatu ketika ada dua orang perempuan –yang satu seorang Arab dan satunya seorang bekas budak- mendatangi Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Mereka berdua sengaja menemui Sayyidina Ali dengan tujuan untuk meminta sesuatu. Maka kemudian Sayyidina Ali menyiapkan satu takar makanan dan uang 40 dirham untuk keduanya. 

Keduanya kemudian mengambil bagiannya masing-masing. Setelah mendapatkan makanan dan uang dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib, seorang perempuan bekas budak tersebut langsung pulang. Namun demikian tidak dengan perempuan Arab tersebut. Ia menghadap Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan melayangkan protes. Iya, ia tidak berterimakasih tetapi malah memprotes Sayyidina Ali. 

Perempuan Arab tersebut merasa memiliki status yang lebih tinggi sehingga seharusnya ia mendapatkan bagian yang lebih banyak daripada bekas budak tersebut. “Wahai Amirul Mukminin, mengapa engkau beri aku jumlah yang sama seperti perempuan tadi, sedangkan aku ini perempuan Arab dan ia bekas sahaya?” kata perempuan Arab itu. 

Sayyidina Ali bin Abi Thalib merespons protes perempuan Arab tersebut dengan santai. Kata Sayyidina Ali, semua manusia itu memiliki kedudukan yang sama. Ia mengibaratkannya dengan persamaan antara anak cucu Ismail as. dengan anak cucu Ishaq as. Tidak ada keistimewaan atau kelebihan antara satu dengan yang lainnya. Keduanya sama. 

“Aku tidak menemukan di dalam Kitab Allah kelebihan anak cucu Ismail as. dibandingkan dengan anak cucu Ishaq as.,” jawab Sayyidina Ali bin Abi Thalib, seperti dikutip buku Hayatush Shahabah (Syaikh Muhammad Yusuf al-Kandahlawi, 2019).

Pada kesempatan lain, Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah menerima kiriman harta dan roti dari Isfahan. Harta dan roti tersebut kemudian dibagi menjadi tujuh bagian dengan jumlah yang sama. Sayyidina Ali bin Abi Thalib kemudian mengundang tujuh pemimpin kaum untuk mengambil harta yang sudah dibagi sama tersebut. Sayyidina Ali bin Abi Thalib juga mengundi untuk menentukan siapa yang berhak mengambil pertama, kedua, hingga ketujuh.

Begitulah cara Sayyidina Ali bin Abi Thalib memperlakukan seseorang. Ia tidak memandang status orang ketika memberikan sesuatu. Oleh karenanya, ia tidak memberi lebih banyak mereka yang statusnya lebih tinggi dan memberi lebih sedikit mereka yang statusnya rendah. Semuanya dibagi rata dan sama. Tidak ada yang lebih banyak ataupun lebih sedikit. (Muchlishon)
Rabu 3 Juli 2019 19:45 WIB
Kisah Hikmah: Haji Mudah di Balik Musibah
Kisah Hikmah: Haji Mudah di Balik Musibah
Ilustrasi (Gulf Business)
Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima. Wajib bagi setiap Muslim melaksanakannya sekali dalam seumur hidup.
 
وَلِلهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah. Yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah]. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha-Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (Q.S. Ali Imran[3]: 97).

Ada yang khas dalam haji dibanding ibadah selainnya. Dalam konteks Muslim Indonesia, orang yang telah menjalankan ibadah haji akan menyandang sebutan “haji” atau “hajjah”—hal yang tidak dijumpai pada ibadah shalat, puasa, dan zakat meski sama-sama rukun Islam. Teringat ketika Ustadz Hasan, salah satu muthawif umrah menjelaskan bahwa ketika seseorang sudah menjalankan ibadah haji sempurnalah Islamnya, seluruh kewajiban dijalankan dan sunnah-sunnahnya ditingkatkan.

Yang mesti dicatat pula, perintah haji adalah bagi mereka yang mampu. Ini artinya ketika seorang Muslim belum mampu melaksanakannya misalnya karena faktor biaya, kendaraan, keamanan, kekuatan fisik, maupun kesehatan maka ia tidak terkena hukum dosa.
Ada satu kisah nyata di tahun 2018 tepatnya di Klaten Jawa Tengah. Pak Fulan—sebut saja demikian—bersama istri, dijadwal oleh pemerintah berangkat haji pada tahun 2018. Atas kuasa Allah subhanahu wata’ala Pak Fulan mengalami sakit keras sehingga mengharuskan operasi: terdapat tumor pada ususnya. Semakin hari kondisi Pak Fulan semakin melemah sehingga tidak mungkin bisa berangkat di tahun 2018. Dengan kondisi demikian, akhirnya istri berangkat sendiri tanpa didampingi suami ataupun anak, karena kondisinya masih sehat dan kuat. 

Selama menjalani pengobatan kurang lebih 10 bulan Pak Fulan dirawat oleh putra dan keluarga dengan telaten sehingga pada tahun 2019 kondisinya semakin membaik. Tekad Pak Fulan begitu kuat untuk bisa berangkat ke Baitullah. Beliau merasa sudah lebih baik dan kuat untuk memenuhi panggilan haji. Setelah cek kesehatan atas izin Allah SWT Pak Fulan dinyatakan bisa berangkat haji di tahun 2019 ini. 

Mengingat kondisi yang baru saja mengalami sakit selama kurang lebih 10 bulan ini, tentu kondisi fisik tidak sekuat sebelumnya. Dengan hasil musyawarah akhirnya pemerintah membolehkan salah satu keluarga untuk mendampingi keberangkatannya. Dengan syarat sudah terdaftar sebagai calon jamaah haji.

Yang menarik dalam kisah ini ternyata ketika Allah memanggil hamba-Nya ke Baitullah tidak mengenal aturan pemerintah atau siapa pun. Anak dari Pak Fulan yang seharusnya keberangkaatan di tahun 2030-an ia bisa berangkat di tahun 2019. Di balik musibah yang menimpa keluarga Pak Fulan, atas kesabarannya dan keluarga, akhirnya bisa berangkat bersama putra tercinta menuju rumah Allah.

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ 

“Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah kebaikan, maka akan diberi musibah,” (H.R. Bukhari).

Mahasuci dan bijaksana Allah yang mengatur kehidupan di bumi dan di langit dengan cermat dan tepat. Tidak ada kata tertunda, hanya saja Allah pilihkan waktu yang terbaik. Kesabaran berbuah kebahagiaan. Semoga keduanya dijadikan haji yang mabrur. Amiin.


Jaenuri, Dosen Fakultas Agama Islam UNU Surakarta

======
NU Online mengajak kepada pembaca semua untuk berbagi kisah inspiratif penuh hikmah baik tentang diri sendiri atau orang lain. Silakan kirim ke email: redaksi@nu.or.id