IMG-LOGO
Trending Now:
Sirah Nabawiyah

Shalat Terakhir Nabi Muhammad

Selasa 9 Juli 2019 17:0 WIB
Share:
Shalat Terakhir Nabi Muhammad
“Mungkin aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian setelah tahun ini dan aku tidak akan berhaji lagi setelah tahun ini,” kata Nabi Muhammad di hadapan para sahabatnya saat haji wada’ pada tahun ke-10 Hijriyah. 

Nabi Muhammad merasakan sakit pada kepalanya setelah menghadiri penguburan jenazah di kuburan Baqi'. Kejadian itu terjadi pada hari Senin di akhir bulan Safar tahun ke-10 Hijriyah dan dinilai sebagai awal mula sakit yang diderita Nabi Muhammad sebelum wafat. Adalah istrinya, Sayyidah Aisyah, yang menceritakan hal tersebut. Semula Sayyidah Aisyah mengeluh kepada Nabi Muhammad kalau kepalanya sakit. Kepada Sayyidah Aisyah, Nabi Muhammad kemudian mengaku kalau kepalanya juga sakit.

Menurunnya kondisi kesehatan Nabi Muhammad juga dipengaruhi oleh efek racun dalam daging domba hadiah Zainab binti al-Harits setelah Perang Khaibar lalu atau akhir tahun ke-6 H. Zainab binti al-Harits adalah salah satu Yahudi Khaibar yang tidak terima dengan hasil perang Khaibar. Ia tidak rela dengan kaum Muslim karena telah membunuh orang-orang terkasihnya. Ia mencari berbagai macam cara untuk membalas dendam dan membunuh Nabi Muhammad.

Ia kemudian berpura-pura memberikan hadiah makanan kesukaan Nabi Muhammad, daging domba panggang. Naasnya, hidangan tersebut ditaburi dengan racun yang paling mematikan.  Nabi Muhammad bersama para sahabat memakan domba panggang tersebut dengan lahap. Hingga ketika hendak menyantap bagian paha depan, Nabi Muhammad baru menyadari kalau hidangan itu mengandung racun setelah melihat kaki domba. Riwayat lain menyebutkan bahwa Nabi Muhammad diberi tahu oleh tulang domba yang berada di tangannya (setelah mendapatkan wahyu Allah) kalau makanan itu beracun. 

Nabi Muhammad beserta pasukan umat Islam pergi ke Khaibar. Beliau meminta penduduknya menyerah karena sebelumnya diketahui kalau Khaibar dijadikan tempat konsolidasi untuk menyerang Madinah. Penduduk Khaibar yang mayoritas kaum Yahudi menolak seruan Nabi Muhammad. 

Kondisi kesehatan Nabi Muhammad semakin menurun beberapa bulan setelah kepalanya sakit usai dari Baqi'. Beliau menderita sakit yang cukup parah sehingga membuat para keluarga dan sahabatnya bersedih dan khawatir. Mereka tidak rela kalau Nabi Muhammad akan secepat itu meninggalkannya. 

Meski sudah sakit parah, Nabi Muhammad masih tetap menjadi imam shalat lima waktu. Merujuk buku Sirah Nabi (Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, 2012), pada hari-hari terakhirnya Nabi Muhammad hendak pergi ke masjid untuk mengimami Shalat Isya. Namun karena kondisinya yang tidak memungkinkan, beliau akhirnya pingsan. Setelah bangun, beliau berupaya untuk berangkat ke masjid lagi. Namun Lagi-lagi pingsan. Hal ini berlangsung hingga tiga kali. 

Akhirnya Nabi Muhammad meminta Sayyidina Abu Bakar as-Shiddiq untuk menjadi imam shalat, menggantikan posisis beliau yang tidak sanggup mengimami lagi. Maka sejak saat itu, Sayyidina Abu Bakar menjadi imam shalat di Masjid Nabawi. Total ada 17 shalat dimana Sayyidina Abu Bakar menjadi imam dan Nabi Muhammad masih hidup. 

Pada hari terakhir, Nabi Muhammad merasakan kalau kondisinya membaik. Demam yang menyergap tubuhnya selama ini menjadi reda. Beliau kemudian menuju ke masjid untuk mengerjakan Shalat Shubuh. Sebagaimana keterangan dalam buku Tarikh Muhammad saw: Teladan Perilaku Umat (Tahia al-Ismail, 1996), Nabi Muhammad dibopong Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan al-Fadhl bin Abbas ketika hendak menuju masjid. Para sahabat gembira sekali ketika melihat kondisi Nabi Muhammad yang membaik sehingga bisa datang ke masjid. 

Sayyidina Abu Bakar yang sudah mengambil posisi imam shalat hendak mundur setelah melihat kedatangan Nabi Muhammad. Ia mempersilahkan Nabi Muhammad untuk mengimami Shalat Shubuh, namun Nabi Muhammad tidak berkenan. Beliau meletakkan tangannya di pundak Sayyidina Abu Bakar dan memintanya tetap menjadi imam shalat. Dan Shalat Shubuh ini menjadi shalat terakhir Nabi Muhammad bersama para sahabatnya. Peristiwa ini terjadi pada hari Sabtu atau Ahad di hari-hari terakhir wafatnya Nabi.

Setelah shalat, Nabi Menyampaikan ceramah. Para sahabat duduk mengelilingi Nabi Muhammad dan mendengarkan ceramah dengan seksama. Kata Nabi Muhammad, “Api terus berkobar dan godaan datang seperti potongan-potongan malam yang gelap. Aku tidak menghalalkan kecuali yang dihalalkan oleh Al-Qur’an dan aku tidak akan mengharamkan kecuali yang diharamkan oleh Al-Qur’an.”

“Sepeninggalku kalian akan banyak berselisih. Apa saja yang sesuai dengan Al-Qur’an itu berasal dariku, apa saja yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an itu bukan dariku,” lanjut Nabi Muhammad.

Kemudian pada hari Senin waktu shubuh Nabi Muhammad menyingkap biliknya. Beliau melihat Sayyidina Abu Bakar mengimami Shalat Shubuh di masjid dan memperhatikan para jamaah. Ia kemudian tersenyum. 

Mengetahui hal itu, Sayyidina Abu Bakar hendak mundur ke belakang di shaf makmum. Ia mengira Nabi Muhammad akan menuju ke masjid dan mengimami mereka. Namun, Nabi Muhammad memberikan isyarat agar Sayyidina Abu Bakar menyempurnakan shalatnya. Beliau kemudian menutup biliknya dan masuk kembali ke dalam kamar. Setelah kejadian itu, Nabi Muhammad tidak memperoleh kesempatan untuk melaksanakan shalat lagi karena ajalnya sudah datang. (A Muchlishon Rochmat)
Share:
Ahad 7 Juli 2019 6:0 WIB
Bahkan Nabi Muhammad Memberikan Bajunya Jika Ada yang Memintanya
Bahkan Nabi Muhammad Memberikan Bajunya Jika Ada yang Memintanya
null
Salah seorang sahabat, Anal bin Malik, menilai kalau Nabi Muhammad adalah orang paling dermawan (ajwadun nas). Penilaian itu tentu tidak salah dan tidak berlebihan jika melihat beberapa kisah Nabi Muhammad yang memberikan hartanya kepada mereka yang membutuhkan atau meminta. Di samping itu, Nabi Muhammad juga tidak pernah menimbun harta kekayaan untuk dirinya atau keluarganya. Semuanya diberikan kepada mereka yang kekurangan.

Nabi Muhammad berlaku dermawan kepada siapapun. Tidak hanya kepada laki-laki dan perempuan saja, namun juga kepada anak-anak juga. Beliau juga tidak segan-segan memberikan barang yang dimilikinya atau dikenakannya jika ada seseorang yang memintanya, meski pada saat itu beliau sendiri juga tengah membutuhkannya. 

Terkait hal itu, ada sebuah kisah menarik sebagaimana yang terekam dalam buku Akhlak Rasul Menurut Al-Bukhari dan Muslim (Abdul Mun’im al-Hasyimi, 2018). Dikisahkan, suatu ketika ada seorang anak kecil mendatangi Nabi Muhammad. Sesuai dengan perintah ibunya, anak kecil tersebut kemudian mengutarakan maksudnya, yaitu meminta baju kepada Nabi Muhammad.

“Sesungguhnya ibuku meminta pakaian darimu,” kata anak kecil itu. Nabi Muhammad tidak langsung memberinya. Beliau meminta anak kecil itu untuk datang lagi pada waktu siang hari. Setelah mendapat jawaban seperti itu, anak kecil itu balik kepada ibunya. Ia menceritakan bahwa Nabi Muhammad akan memberinya baju siang nanti.

Namun ibu anak kecil itu ‘tidak terima’ dengan jawaban yang ada. Ia kemudian meminta anaknya untuk kembali menemui Nabi Muhammad dan meminta baju yang saat itu sedang dikenakannya. Nabi Muhammad kemudian masuk ke dalam rumah, melepaskan baju yang dikenakannya, dan langsung memberikannya kepada anak kecil itu. Padahal saat itu, adzan sudah dikumandangkan. Para sahabat menunggu kedatangan Nabi Muhammad untuk mengimami shalat, namun beliau tidak kunjung tiba di masjid karena masih berbenah setelah bajunya diberikan kepada anak kecil tersebut.

Kisah lain menyebutkan bahwa suatu ketika seorang sahabat menghadiahi Nabi Muhammad selembar baju. Nabi Muhammad menerimanya karena pada saat itu beliau sedang membutuhkannya. Namun tiba-tiba seorang sahabat yang berada di samping Nabi Muhammad memintanya, setelah memuji baju tersebut begitu indah. Tanpa berat hati, Nabi Muhammad langsung memberikan baju tersebut kepada sahabat yang memintanya.

“Tidakkah kamu tahu Rasulullah sedang memerlukan baju itu, dan beliau tidak mau menolak permintaan orang yang meminta kepadanya!” kata para sahabat lainnya memarahi sahabat yang meminta baju tersebut usai Nabi Muhammad pergi.

Sikap dermawan sudah sangat melekat pada diri Nabi Muhammad. Beliau akan langsung memberikan apa yang baru saja didapatnya kepada mereka yang meminta atau membutuhkannya. Jika ada orang yang minta-minta kepada Nabi Muhammad –sementara beliau sedang tidak punya uang- maka beliau akan hutang kepada sahabatnya untuk kemudian uangnya diberikan kepada orang yang meminta tersebut. Ketika Nabi Muhammad sudah ada uang, maka hutang tersebut akan dilunasinya.

Begitulah sikap dermawan Nabi Muhammad. Saking dermawannya, beliau tidak pernah menolak orang yang meminta kepadanya meski dirinya sedang membutuhkan atau tidak memiliki uang untuk diberikan sekalipun. (A Muchlishon Rochmat)
Jumat 5 Juli 2019 19:0 WIB
Cara Wahyu Diturunkan dan Kondisi Nabi Muhammad saat Menerimanya
Cara Wahyu Diturunkan dan Kondisi Nabi Muhammad saat Menerimanya
Nabi Muhammad saw pertama kali menerima wahyu ketika usianya 40 tahun. Saat itu, beliau yang sedang berkhalwat atau bertahannus di Gua Hira menerima wahyu yang pertama, yaitu Al-Qur’an Surat al-Alaq ayat 1-5. Peristiwa itu sekaligus menjadi ‘tanda’ bahwa beliau sudah diangkat menjadi Nabi dan Rasul Allah.

Nabi Muhammad kemudian menerima wahyu dari Allah melalui malaikat Jibril secara bertahap selama 23 tahun setelahnya (masa kenabian), atau hingga beliau wafat. Tidak hanya ayat-ayat Al-Qur’an, wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad juga berupa hadits-hadits qudsi. 

Lantas, bagaimana proses wahyu dari Allah tersebut sampai kepada Nabi Muhammad? Apakah caranya sama atau berbeda-beda? Dan bagaimana kondisi Nabi Muhammad ketika memperoleh wahyu dari Allah?

Merujuk buku Syakhshiyah Ar-Rasul (Muhammad Rawwas Qal’ah Ji, 2008), ada beberapa cara wahyu diturunkan kepada Nabi Muhammad. Pertama, Jibril mendatangi langsung Nabi Muhammad dalam bentuk laki-laki. Suatu ketika Jibril menemui Nabi Muhammad dengan mengenakan pakaian serba putih dan berambut hitam. Tidak ada seorang sahabat Nabi pun yang mengenalinya. Jibril kemudian menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad dengan cara bercakap-cakap dengannya. Kadang kala, Jibril mendatangi Nabi Muhammad dengan menyerupai seorang sahabat yang bernama Dihyah al-Kalbi.

Kedua, wahyu turun kepada Nabi Muhammad seperti bunyi lonceng. Menurut Nabi Muhammad, cara itulah yang paling berat. Karena ketika wahyu turun dalam bentuk lonceng, Nabi Muhammad bisa berkeringat meski pada saat turunnya wahyu tersebut sedang musim dingin. Beliau juga sampai sesak nafas ketika wahyu turun dalam bentuk lonceng.

“Kadangkala ia (wahyu) datang dalam bentuk bunyi lonceng –ini yang paling berat bagiku- kemudian ia diangkat dariku setelah aku menyadari apa yang difirmankan,” kata Nabi Muhammad.

Ketiga, Jibril meniupkan wahyu ke dalam hati Nabi Muhammad. Melalui cara ini, Nabi Muhammad tiba-tiba saja merasakan wahyu sudah ada di dalam hatinya, tentunya setelah Jibril memasukkannya ke dalam lubuknya. Di samping itu, wahyu diturunkan dengan cara Jibril menemui Nabi Muhammad dengan wujud aslinya, bukan menyamar menjadi seorang lelaki atau sahabat Dihyah al-Kalbi.

Turunnya wahyu adalah peristiwa yang dahsyat. Nabi Muhammad mengalami ‘hal yang tidak biasa’ saat wahyu turun. Sampai-sampai beliau menyatakan bahwa setiap kali menerima wahyu maka dirinya selalu menyangka rohnya hendak dicabut. Lantas, bagaimana saja kondisi Nabi Muhammad ketika wahyu turun?

Setidaknya, Nabi Muhammad mengalami lima kondisi saat menerima wahyu. Pertama, wajahnya memerah. Saking dahsyatnya turunnya wahyu, wajah Nabi Muhammad sampai memerah. Kedua, berkeringat. Seperti yang disinggung di atas, manakala wahyu turun dalam bentuk lonceng maka Nabi Muhammad bercucuran keringat meski turunnya saat musim dingin. 

Ketiga, sempoyongan. Turunnya wahyu juga membuat Nabi Muhammad sempoyongan, meski kesadaran dan kestabilan beliau tidak sampai hilang. Keempat, tubuh Nabi Muhammad menjadi berat. Kelima, Nabi Muhammad seperti mendengar suara gerombolan lebah. 

Begitulah cara wahyu diturunkan dan kondisi Nabi Muhammad saat menerimanya. Biasanya para sahabat mengerubungi Nabi Muhammad saat beliau mendapatkan wahyu. Nabi Muhammad kemudian menyampaikan wahyu yang baru saja diterimanya kepada mereka. Dan mereka kemudian menghafalnya. (Muchlishon)
Kamis 4 Juli 2019 6:0 WIB
Cara Allah Menjaga Nabi Muhammad dari Musuh-musuhnya
Cara Allah Menjaga Nabi Muhammad dari Musuh-musuhnya
Banyak orang yang memusuhi Nabi Muhammad setelah beliau mulai mendakwahkan ajaran Islam secara terang-terangan. Mereka juga tidak segan-segan mencelakai, menyiksa, dan bahkan membunuh Nabi Muhammad. Hal itu terus dilakukan sampai tujuan mereka tercapai, yaitu Nabi Muhammad berhenti mendakwahkan Islam. 

Para musuh menyusun berbagai macam rencana untuk mencelakai atau membunuh Nabi Muhammad, namun tidak ada satu pun yang berhasil. Mengapa? Karena Allah lah yang secara langsung menjaga Nabi dan Rasul-Nya tersebut dari hal-hal buruk yang dilakukan musuh-musuhnya. Mengutip buku Syakhshiyah Ar-Rasul (Muhammad Rawwas Qal’ah Ji, 2008), berikut beberapa kejadian jahat yang hendak menimpa Nabi Muhammad, namun Allah kemudian menyelematkannya. 

Dalam perjalanan hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad dan Sayyidina Abu Bakar bersembunyi di Gua Tsur untuk menghindari kejaran kaum musyrik Makkah. Ada sekelompok pasukan kaum musyrik Makkah yang sampai di mulut Gua Tsur. Kejadian ini tentu membuat Nabi Muhammad dan Sayyidina Abu Bakar ketar-ketir. Namun Allah kemudian memalingkan penglihatan pasukan tersebut sehingga tidak masuk ke dalam gua.

Kejadian ini terekam dalan Al-Qur’an Surat at-Taubah ayat 40: “…Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah…,”

Dalam kesempatan lain, Nabi Muhammad dan para sahabatnya sedang beristirahat di bawah sebuah pohon. Tiba-tiba Ghaurats bin Harits berdiri di atas kepada Nabi Muhammad dengan menghunus pedangnya. Ghaurats bertanya, siapa yang bisa menghalanginya dari membunuh Nabi Muhammad –yang notabennya sudah berada di depannya tepat dan tidak dalam keadaan siaga.

Nabi Muhammad menjawab bahwa Allah lah yang melindunginya dari segala macam mara bahaya. Maka seketika itu, pedang Ghaurats terjatuh. Nabi Muhammad kemudian mengambil pedang itu dan balik bertanya siapa yang bisa menghalanginya dari membunuh Ghaurats. Kata Ghaurats, “Jadilah sebaik-baiknya penghukum.” Maka kemudian Nabi Muhammad mengampuninya.

Hal yang sama juga dialami Suroqoh bin Malik. Dia berhasil menemukan Nabi Muhammad ketika beliau dalam perjalanan hijrah ke Madinah. Suroqoh kemudian berusaha menyerang dan meringkus Nabi Muhammad untuk kemudian dibawa balik ke Makkah. Namun tiap kali hendak menyerang Nabi Muhammad, kuda yang dinaiki Suroqoh terjerembab. Suroqoh mencoba melakukannya berkali-kali, namun lagi-lagi kudanya terjatuh. Padahal kuda Suroqoh merupakan kuda terbaik. Suroqoh kemudian membiarkan Nabi Muhammad dan balik ke Makkah dengan tangan kosong.

Di lain waktu, seorang dari Bani Makhzum mendekati Nabi Muhammad ketika beliau sedang sujud. Orang tersebut membawa batu dan hendak dilemparkan kepada Nabi Muhammad. Namun rencana orang tersebut gagal karena tangannya kaku dan tidak bisa digerakkan ketika hendak melemparkan batu kepada Nabi Muhammad. Dia kemudian pulang ke kaumnya dan menceritakan kejadian aneh itu.

Bani Nadhir juga pernah memiliki rencana jahat untuk membunuh Nabi Muhammad. Mereka hendak menghabisi Nabi Muhammad dengan cara menjatuhinya batu dari atas rumah. Ketika itu, Nabi Muhammad dan para sahabat datang ke kampung Bani Nadhir untuk meminta partisipasi dalam membayar diyat dua korban yang terbunuh karena sebelumnya sudah ada perdamaian dengan mereka. 

Amru bin Jahsyi bin Ka’ab kemudian naik ke atas rumah dengan membawa batu untuk melaksanakan niat jahat tersebut. Namun rencana Bani Nahdir tersebut gagal total. Nabi Muhammad yang mendapatkan informasi dari langit tidak jadi melintasi rumah yang di atasnya ada Amru bin Jahsyi tersebut. Beliau kemudian pulang ke Madinah. 

Selain kisah-kisah di atas, tentu masih ada banyak kisah lainnya terkait dengan bagaimana Allah memelihara Nabi Muhammad dari kejahatan dan rencana buruk yang disusun musuh-musuhnya. Namun sekali lagi, semuanya gagal total. Karena yang pasti, Allah tidak akan membiarkan utusan-Nya dicelakai seperti itu. (A Muchlishon Rochmat)