IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Kecintaan Nabi Muhammad pada Cucu Perempuannya, Umamah

Kamis 11 Juli 2019 13:0 WIB
Share:
Kecintaan Nabi Muhammad pada Cucu Perempuannya, Umamah
“Rasulullah saw. pernah shalat dengan Umamah binti Amr bin al-Ash di pundaknya. Beliau meletakkan ketika rukuk dan mengangkatnya kembali ketika beliau berdiri,” kata Abdullah bin Harits bin Naufal dan Abu Qatadah dalam sebuah riwayat.

Nabi Muhammad begitu sayang kepada cucu-cucunya. Beliau kerap kali membawa mereka di atas punggungnya. Memeluk, membelai, dan mencium mereka dengan penuh kasih sayang. Bahkan, Nabi Muhammad beberapa kali memosisikan dirinya ‘seperti kuda’, sementara cucu-cucunya naik di atas punggungnya. Kasih sayang dan perlakuan seperti itu tidak hanya ditujukan Nabi Muhammad kepada Hasan dan Husain, tapi juga dengan cucu perempuannya, Umamah. 

Umamah adalah anak dari Sayyidah Zainab, putri sulung Nabi Muhammad dengan Sayyidah Khadijah. Sementara bapaknya adalah Amr bin al-Ash bin Rabi’, biasanya dikenal Abul Ash bin Rabi’. Seorang yang masih kerabat dengan Nabi Muhammad. Abul Ash adalah anak dari Halah binti Khuwailid, saudara perempuan dari Sayyidah Khadijah binti Khuwailid.

Sebagaimana riwayat Abdullah bin Harits bin Naufal dan Abu Qatadah, Nabi Muhammad juga pernah mengajak Umamah ketika sedang shalat; beliau menggendong Umamah di pundaknya, meletakkannya ketika rukuk, dan mengangkatnya lagi saat berdiri. Persis ketika Nabi Muhammad mengajak Hasan dan Husain ketika shalat.

Tidak hanya itu, kecintaan Nabi Muhammad kepada cucu perempuannya itu juga terlihat ketika beliau memberikan hadiah kepada Umamah. Dalam buku Purnama Madinah: 600 Sahabat Wanita Rasulullah saw. yang Menyemarakkan Kota Nabi (Ibn Sa’ad, 1997) dikisahkan, suatu ketika Negus memberikan perhiasan kepada Nabi Muhammad, termasuk sebuah cincin emas. Setelah menerima hadiah itu, Nabi Muhammad kemudian memberikannya kepada cucunya, Umamah.

“Hiasilah dirimu dengan ini, gadis kecil,” kata Nabi Muhammad kepada Umamah.

Pada kesempatan lain, sebagaimana riwayat Ali bin Zaid bon Jid’an, Nabi Muhammad pulang ke rumah dengan membawa sebuah kalung batu onyx. Kepada para anak dan istrinya, Nabi mengatakan bahwa dirinya akan memberikan kalung batu onyx tersebut kepada orang yang paling dicintainya. 

Mendengar hal itu, para keluarga Nabi semula menyangka bahwa kalung tersebut akan diberikan kepada Sayyidah Aisyah. Namun dugaan mereka meleset. Nabi Muhammad malah memanggil Umamah dan meletakkan kalung itu di tangannya, bukan Sayyidah Aisyah. Pada saat itu, Nabi yang melihat ada kotoran di mata Umamah langsung membersihkannya dengan tangannya.

Sikap Nabi Muhammad terhadap Umamah dan cucu-cucunya yang lain tentu ‘aneh’ bagi masyarakat Makkah pada saat itu. Mengapa? Karena pada saat itu hubungan seorang kakek dengan cucunya sangat lah kaku dan keras, tidak luwes sebagai sikap yang ditunjukkan Nabi Muhammad; mencium, membelai, bermain-main bersama dengan cucu-cucunya.

Umamah adalah anak kedua –anak terakhir- dari Abul Ash dan Sayyidah Zainab. Kakaknya, Ali meninggal saat masih kecil. Nantinya, Umamah dipersunting oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib setelah wafatnya Sayyidah Fathimah az-Zahra. (A Muchlishon Rochmat)
Share:
Selasa 9 Juli 2019 17:0 WIB
Shalat Terakhir Nabi Muhammad
Shalat Terakhir Nabi Muhammad
“Mungkin aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian setelah tahun ini dan aku tidak akan berhaji lagi setelah tahun ini,” kata Nabi Muhammad di hadapan para sahabatnya saat haji wada’ pada tahun ke-10 Hijriyah. 

Nabi Muhammad merasakan sakit pada kepalanya setelah menghadiri penguburan jenazah di kuburan Baqi'. Kejadian itu terjadi pada hari Senin di akhir bulan Safar tahun ke-10 Hijriyah dan dinilai sebagai awal mula sakit yang diderita Nabi Muhammad sebelum wafat. Adalah istrinya, Sayyidah Aisyah, yang menceritakan hal tersebut. Semula Sayyidah Aisyah mengeluh kepada Nabi Muhammad kalau kepalanya sakit. Kepada Sayyidah Aisyah, Nabi Muhammad kemudian mengaku kalau kepalanya juga sakit.

Menurunnya kondisi kesehatan Nabi Muhammad juga dipengaruhi oleh efek racun dalam daging domba hadiah Zainab binti al-Harits setelah Perang Khaibar lalu atau akhir tahun ke-6 H. Zainab binti al-Harits adalah salah satu Yahudi Khaibar yang tidak terima dengan hasil perang Khaibar. Ia tidak rela dengan kaum Muslim karena telah membunuh orang-orang terkasihnya. Ia mencari berbagai macam cara untuk membalas dendam dan membunuh Nabi Muhammad.

Ia kemudian berpura-pura memberikan hadiah makanan kesukaan Nabi Muhammad, daging domba panggang. Naasnya, hidangan tersebut ditaburi dengan racun yang paling mematikan.  Nabi Muhammad bersama para sahabat memakan domba panggang tersebut dengan lahap. Hingga ketika hendak menyantap bagian paha depan, Nabi Muhammad baru menyadari kalau hidangan itu mengandung racun setelah melihat kaki domba. Riwayat lain menyebutkan bahwa Nabi Muhammad diberi tahu oleh tulang domba yang berada di tangannya (setelah mendapatkan wahyu Allah) kalau makanan itu beracun. 

Nabi Muhammad beserta pasukan umat Islam pergi ke Khaibar. Beliau meminta penduduknya menyerah karena sebelumnya diketahui kalau Khaibar dijadikan tempat konsolidasi untuk menyerang Madinah. Penduduk Khaibar yang mayoritas kaum Yahudi menolak seruan Nabi Muhammad. 

Kondisi kesehatan Nabi Muhammad semakin menurun beberapa bulan setelah kepalanya sakit usai dari Baqi'. Beliau menderita sakit yang cukup parah sehingga membuat para keluarga dan sahabatnya bersedih dan khawatir. Mereka tidak rela kalau Nabi Muhammad akan secepat itu meninggalkannya. 

Meski sudah sakit parah, Nabi Muhammad masih tetap menjadi imam shalat lima waktu. Merujuk buku Sirah Nabi (Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, 2012), pada hari-hari terakhirnya Nabi Muhammad hendak pergi ke masjid untuk mengimami Shalat Isya. Namun karena kondisinya yang tidak memungkinkan, beliau akhirnya pingsan. Setelah bangun, beliau berupaya untuk berangkat ke masjid lagi. Namun Lagi-lagi pingsan. Hal ini berlangsung hingga tiga kali. 

Akhirnya Nabi Muhammad meminta Sayyidina Abu Bakar as-Shiddiq untuk menjadi imam shalat, menggantikan posisis beliau yang tidak sanggup mengimami lagi. Maka sejak saat itu, Sayyidina Abu Bakar menjadi imam shalat di Masjid Nabawi. Total ada 17 shalat dimana Sayyidina Abu Bakar menjadi imam dan Nabi Muhammad masih hidup. 

Pada hari terakhir, Nabi Muhammad merasakan kalau kondisinya membaik. Demam yang menyergap tubuhnya selama ini menjadi reda. Beliau kemudian menuju ke masjid untuk mengerjakan Shalat Shubuh. Sebagaimana keterangan dalam buku Tarikh Muhammad saw: Teladan Perilaku Umat (Tahia al-Ismail, 1996), Nabi Muhammad dibopong Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan al-Fadhl bin Abbas ketika hendak menuju masjid. Para sahabat gembira sekali ketika melihat kondisi Nabi Muhammad yang membaik sehingga bisa datang ke masjid. 

Sayyidina Abu Bakar yang sudah mengambil posisi imam shalat hendak mundur setelah melihat kedatangan Nabi Muhammad. Ia mempersilahkan Nabi Muhammad untuk mengimami Shalat Shubuh, namun Nabi Muhammad tidak berkenan. Beliau meletakkan tangannya di pundak Sayyidina Abu Bakar dan memintanya tetap menjadi imam shalat. Dan Shalat Shubuh ini menjadi shalat terakhir Nabi Muhammad bersama para sahabatnya. Peristiwa ini terjadi pada hari Sabtu atau Ahad di hari-hari terakhir wafatnya Nabi.

Setelah shalat, Nabi Menyampaikan ceramah. Para sahabat duduk mengelilingi Nabi Muhammad dan mendengarkan ceramah dengan seksama. Kata Nabi Muhammad, “Api terus berkobar dan godaan datang seperti potongan-potongan malam yang gelap. Aku tidak menghalalkan kecuali yang dihalalkan oleh Al-Qur’an dan aku tidak akan mengharamkan kecuali yang diharamkan oleh Al-Qur’an.”

“Sepeninggalku kalian akan banyak berselisih. Apa saja yang sesuai dengan Al-Qur’an itu berasal dariku, apa saja yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an itu bukan dariku,” lanjut Nabi Muhammad.

Kemudian pada hari Senin waktu shubuh Nabi Muhammad menyingkap biliknya. Beliau melihat Sayyidina Abu Bakar mengimami Shalat Shubuh di masjid dan memperhatikan para jamaah. Ia kemudian tersenyum. 

Mengetahui hal itu, Sayyidina Abu Bakar hendak mundur ke belakang di shaf makmum. Ia mengira Nabi Muhammad akan menuju ke masjid dan mengimami mereka. Namun, Nabi Muhammad memberikan isyarat agar Sayyidina Abu Bakar menyempurnakan shalatnya. Beliau kemudian menutup biliknya dan masuk kembali ke dalam kamar. Setelah kejadian itu, Nabi Muhammad tidak memperoleh kesempatan untuk melaksanakan shalat lagi karena ajalnya sudah datang. (A Muchlishon Rochmat)
Ahad 7 Juli 2019 6:0 WIB
Bahkan Nabi Muhammad Memberikan Bajunya Jika Ada yang Memintanya
Bahkan Nabi Muhammad Memberikan Bajunya Jika Ada yang Memintanya
null
Salah seorang sahabat, Anal bin Malik, menilai kalau Nabi Muhammad adalah orang paling dermawan (ajwadun nas). Penilaian itu tentu tidak salah dan tidak berlebihan jika melihat beberapa kisah Nabi Muhammad yang memberikan hartanya kepada mereka yang membutuhkan atau meminta. Di samping itu, Nabi Muhammad juga tidak pernah menimbun harta kekayaan untuk dirinya atau keluarganya. Semuanya diberikan kepada mereka yang kekurangan.

Nabi Muhammad berlaku dermawan kepada siapapun. Tidak hanya kepada laki-laki dan perempuan saja, namun juga kepada anak-anak juga. Beliau juga tidak segan-segan memberikan barang yang dimilikinya atau dikenakannya jika ada seseorang yang memintanya, meski pada saat itu beliau sendiri juga tengah membutuhkannya. 

Terkait hal itu, ada sebuah kisah menarik sebagaimana yang terekam dalam buku Akhlak Rasul Menurut Al-Bukhari dan Muslim (Abdul Mun’im al-Hasyimi, 2018). Dikisahkan, suatu ketika ada seorang anak kecil mendatangi Nabi Muhammad. Sesuai dengan perintah ibunya, anak kecil tersebut kemudian mengutarakan maksudnya, yaitu meminta baju kepada Nabi Muhammad.

“Sesungguhnya ibuku meminta pakaian darimu,” kata anak kecil itu. Nabi Muhammad tidak langsung memberinya. Beliau meminta anak kecil itu untuk datang lagi pada waktu siang hari. Setelah mendapat jawaban seperti itu, anak kecil itu balik kepada ibunya. Ia menceritakan bahwa Nabi Muhammad akan memberinya baju siang nanti.

Namun ibu anak kecil itu ‘tidak terima’ dengan jawaban yang ada. Ia kemudian meminta anaknya untuk kembali menemui Nabi Muhammad dan meminta baju yang saat itu sedang dikenakannya. Nabi Muhammad kemudian masuk ke dalam rumah, melepaskan baju yang dikenakannya, dan langsung memberikannya kepada anak kecil itu. Padahal saat itu, adzan sudah dikumandangkan. Para sahabat menunggu kedatangan Nabi Muhammad untuk mengimami shalat, namun beliau tidak kunjung tiba di masjid karena masih berbenah setelah bajunya diberikan kepada anak kecil tersebut.

Kisah lain menyebutkan bahwa suatu ketika seorang sahabat menghadiahi Nabi Muhammad selembar baju. Nabi Muhammad menerimanya karena pada saat itu beliau sedang membutuhkannya. Namun tiba-tiba seorang sahabat yang berada di samping Nabi Muhammad memintanya, setelah memuji baju tersebut begitu indah. Tanpa berat hati, Nabi Muhammad langsung memberikan baju tersebut kepada sahabat yang memintanya.

“Tidakkah kamu tahu Rasulullah sedang memerlukan baju itu, dan beliau tidak mau menolak permintaan orang yang meminta kepadanya!” kata para sahabat lainnya memarahi sahabat yang meminta baju tersebut usai Nabi Muhammad pergi.

Sikap dermawan sudah sangat melekat pada diri Nabi Muhammad. Beliau akan langsung memberikan apa yang baru saja didapatnya kepada mereka yang meminta atau membutuhkannya. Jika ada orang yang minta-minta kepada Nabi Muhammad –sementara beliau sedang tidak punya uang- maka beliau akan hutang kepada sahabatnya untuk kemudian uangnya diberikan kepada orang yang meminta tersebut. Ketika Nabi Muhammad sudah ada uang, maka hutang tersebut akan dilunasinya.

Begitulah sikap dermawan Nabi Muhammad. Saking dermawannya, beliau tidak pernah menolak orang yang meminta kepadanya meski dirinya sedang membutuhkan atau tidak memiliki uang untuk diberikan sekalipun. (A Muchlishon Rochmat)
Jumat 5 Juli 2019 19:0 WIB
Cara Wahyu Diturunkan dan Kondisi Nabi Muhammad saat Menerimanya
Cara Wahyu Diturunkan dan Kondisi Nabi Muhammad saat Menerimanya
Nabi Muhammad saw pertama kali menerima wahyu ketika usianya 40 tahun. Saat itu, beliau yang sedang berkhalwat atau bertahannus di Gua Hira menerima wahyu yang pertama, yaitu Al-Qur’an Surat al-Alaq ayat 1-5. Peristiwa itu sekaligus menjadi ‘tanda’ bahwa beliau sudah diangkat menjadi Nabi dan Rasul Allah.

Nabi Muhammad kemudian menerima wahyu dari Allah melalui malaikat Jibril secara bertahap selama 23 tahun setelahnya (masa kenabian), atau hingga beliau wafat. Tidak hanya ayat-ayat Al-Qur’an, wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad juga berupa hadits-hadits qudsi. 

Lantas, bagaimana proses wahyu dari Allah tersebut sampai kepada Nabi Muhammad? Apakah caranya sama atau berbeda-beda? Dan bagaimana kondisi Nabi Muhammad ketika memperoleh wahyu dari Allah?

Merujuk buku Syakhshiyah Ar-Rasul (Muhammad Rawwas Qal’ah Ji, 2008), ada beberapa cara wahyu diturunkan kepada Nabi Muhammad. Pertama, Jibril mendatangi langsung Nabi Muhammad dalam bentuk laki-laki. Suatu ketika Jibril menemui Nabi Muhammad dengan mengenakan pakaian serba putih dan berambut hitam. Tidak ada seorang sahabat Nabi pun yang mengenalinya. Jibril kemudian menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad dengan cara bercakap-cakap dengannya. Kadang kala, Jibril mendatangi Nabi Muhammad dengan menyerupai seorang sahabat yang bernama Dihyah al-Kalbi.

Kedua, wahyu turun kepada Nabi Muhammad seperti bunyi lonceng. Menurut Nabi Muhammad, cara itulah yang paling berat. Karena ketika wahyu turun dalam bentuk lonceng, Nabi Muhammad bisa berkeringat meski pada saat turunnya wahyu tersebut sedang musim dingin. Beliau juga sampai sesak nafas ketika wahyu turun dalam bentuk lonceng.

“Kadangkala ia (wahyu) datang dalam bentuk bunyi lonceng –ini yang paling berat bagiku- kemudian ia diangkat dariku setelah aku menyadari apa yang difirmankan,” kata Nabi Muhammad.

Ketiga, Jibril meniupkan wahyu ke dalam hati Nabi Muhammad. Melalui cara ini, Nabi Muhammad tiba-tiba saja merasakan wahyu sudah ada di dalam hatinya, tentunya setelah Jibril memasukkannya ke dalam lubuknya. Di samping itu, wahyu diturunkan dengan cara Jibril menemui Nabi Muhammad dengan wujud aslinya, bukan menyamar menjadi seorang lelaki atau sahabat Dihyah al-Kalbi.

Turunnya wahyu adalah peristiwa yang dahsyat. Nabi Muhammad mengalami ‘hal yang tidak biasa’ saat wahyu turun. Sampai-sampai beliau menyatakan bahwa setiap kali menerima wahyu maka dirinya selalu menyangka rohnya hendak dicabut. Lantas, bagaimana saja kondisi Nabi Muhammad ketika wahyu turun?

Setidaknya, Nabi Muhammad mengalami lima kondisi saat menerima wahyu. Pertama, wajahnya memerah. Saking dahsyatnya turunnya wahyu, wajah Nabi Muhammad sampai memerah. Kedua, berkeringat. Seperti yang disinggung di atas, manakala wahyu turun dalam bentuk lonceng maka Nabi Muhammad bercucuran keringat meski turunnya saat musim dingin. 

Ketiga, sempoyongan. Turunnya wahyu juga membuat Nabi Muhammad sempoyongan, meski kesadaran dan kestabilan beliau tidak sampai hilang. Keempat, tubuh Nabi Muhammad menjadi berat. Kelima, Nabi Muhammad seperti mendengar suara gerombolan lebah. 

Begitulah cara wahyu diturunkan dan kondisi Nabi Muhammad saat menerimanya. Biasanya para sahabat mengerubungi Nabi Muhammad saat beliau mendapatkan wahyu. Nabi Muhammad kemudian menyampaikan wahyu yang baru saja diterimanya kepada mereka. Dan mereka kemudian menghafalnya. (Muchlishon)