IMG-LOGO
Haji, Umrah, dan Kurban

Lafal Niat Shalat Sunnah Tawaf

Jumat 12 Juli 2019 8:0 WIB
Share:
Lafal Niat Shalat Sunnah Tawaf
(Foto: pixabay)
Shalat sunnah tawaf biasa disebut juga dua rakaat tawaf. Shalat wajib dan shalat rawatibnya sudah memadai untuk menggantikan shalat sunnah dua rakaat tawaf. Tetapi jamaah haji atau umrah tetap dianjurkan untuk melakukan shalat sunnah dua rakaat tawaf sebagaimana saran Imam An-Nawawi.

Adapun berikut ini adalah lafal niat shalat sunnah dua rakaat tawaf:

أُصَلِّيْ سُنَّةً الطَّوَافِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً للهِ تَعَالَى

Ushallî sunnatat thawāf rak‘ataini mustaqbilal qiblati, adā’an lillâhi ta‘âlâ

Artinya, “Aku menyengaja shalat sunnah tawaf dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai karena Allah ta‘ala.”

Shalat dua rakaat tawaf termasuk salah satu shalat sunnah yang mengandung keutamaan.

وحاصل التفضيل أن تقول أفضل النفل صلاة عيد الأضحى، ثم الفطر، ثم كسوف الشمس، ثم خسوف القمر، ثم ركعتا الفجر ثم الاستسقاء، ثم الوتر، ثم بقية الرواتب المؤكدة، ثم الرواتب غير المؤكدة، ثم التراويح، ثم الضحا، ثم ركعتا الطواف ثم التحية ثم الإحرام وقيل الثلاثة سواء وهو المعتمد ثم سنة الوضوء ثم النفل المطلق في الليل ثم في النهار

Artinya, “Simpulan keutamaan shalat sunnah secara urut dari yang teratas ke bawah menempatkan shalat Idul Adha, shalat Idul Fitri, shalat gerhana matahari, shalat gerhana bulan, shalat sunnah fajar, shalat istisqa, shalat witir, shalat rawatib muakkad, shalat rawatib ghairu muakkad, shalat tarawih, shalat dhuha, shalat dua rakaat tawaf, shalat tahiyyatul masjid, shalat sunnah ihram–sebagian ulama berpendapat tiga shalat ini sama saja–, shalat sunnah wudhu, shalat sunnah mutlak malam (tahajud), dan shalat sunnah mutlak siang,” (Syekh Sulaiman Al-Bujairimi, Hasyiyatul Bujairimi alal Khathib, [Beirut, Darul Fikr: tanpa tahun], juz II, halaman 77).

Syekh Abu Zakariya Al-Anshari dalam Asnal Mathalib fi Raudhatit Thalib menempatkan shalat sunnah dua rakaat tawaf sebagaimana shalat sunnah lainnya perihal bacaan.

Jika dilakukan pada siang hari, maka bacaan shalat sunnah tawaf dilafalkan dengan sir (perlahan). Sebaliknya, jika dilakukan pada malam hari, maka bacaan shalat sunnah tawaf dilafalkan secara jahar (lantang). Tetapi jika ada jamaah lain yang terganggu oleh bacaan jahar, maka bacaan shalat sunnah tawaf sebaiknya dilafalkan secara sir sebagaimana keterangan Syekh Abu Zakariya Al-Anshari dalam Asnal Mathalib.

Imam Al-Khatib As-Syarbini dalam Al-Iqna menyebutkan pelaksanaan shalat sunnah tawaf diutamakan di belakang Maqam Ibrahim. Jika tidak memungkinkan di belakang Maqam Ibrahim, shalat sunnah tawaf baiknya dikerjakan di Hijir Ismail.

Jika tidak memungkinkan di Hijir Ismail, shalat sunnah tawaf dapat dikerjakan di sisi mana saja Masjidil Haram. Tetapi jika tidak memungkinkan juga, shalat sunnah tawaf dapat dikerjakan di luar Masjidil Haram yang masih termasuk ke dalam tanah haram Makkah.

Semoga lafal niat shalat sunnah dua rakaat tawaf ini membantu jamaah haji dan umrah fokus dalam niat shalat di dalam hati. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)
Share:
Jumat 12 Juli 2019 21:30 WIB
Status Hewan Kurban dari Non-Muslim
Status Hewan Kurban dari Non-Muslim
Ilustrasi (Salaam Gateway)
Kurban adalah jenis hewan tertentu yang disembelih mulai hari Nahr (10 Dzulhijjah) sampai akhir hari Tasyriq (13 Dzulhijjah) dengan tujuan taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah).

Menurut mazhab Syafi’i hukum berkurban adalah sunnah ‘ain bagi yang tidak memiliki keluarga dan sunnah kifayah bagi setiap anggota keluarga yang mampu. Sunnah kifayah adalah kesunnahan yang sifatnya kolektif. Artinya, jika salah satu anggota keluarga sudah ada yang melakukannya, maka sudah dapat menggugurkan hukum makruh bagi yang lainnya. Kurban bisa menjadi wajib apabila seseorang pernah nazar untuk melaksanakannya.

Berkurban memiliki sisi positif tidak hanya berkaitan dengan penghambaan kepada Sang Khaliq, tapi juga sebagai bentuk solidaritas kepada sesama. Oleh karenanya, pahala berkurban sangat besar sebagaimana dijelaskan dalam beberapa hadits Nabi.

Dalam realitasnya, saat musim kurban berlangsung, tidak hanya kalangan umat Islam yang berpartisipasi, tapi non-Muslim juga kadang ikut ambil bagian. Biasanya pengusaha non-Muslim atau dari kalangan yang lain turut serta menyumbangkan binatang kurban, mereka memasrahkannya kepada ustadz, kiai atau tokoh agama lainnya untuk disembelih dan dibagikan pada saat momen lebaran haji.

Pertanyaannya adalah, bagaimana status kurban non-Muslim tersebut? Apa sikap yang harus dilakukan tokoh agama saat dipasrahi binatang kurban dari non-Muslim?

Berkurban adalah salah satu bentuk ibadah yang membutuhkan niat. Oleh karenanya disyaratkan pelakunya harus Muslim. Ini adalah ketentuan umum untuk setiap ibadah yang membutuhkan niat. Memang ada beberapa persoalan tertentu bahwa niatnya non-Muslim dinyatakan sah, tapi ibadah kurban tidak masuk dalam persoalan yang dikecualikan tersebut.

Syekh Muhammad bin Ali Ba’athiyah berkata:

فائدة من شروط النية إسلام الناوي ولا يشترط إسلامه في عدة صور ذكرها صاحب كتاب المواكب العلية وهي خمس صور

“Faidah. Di antara syarat-syarat niat adalah islamnya orang yang niat. Tidak disyaratkan islamnya dalam beberapa persoalan yang disebutkan oleh pengarang kitab al-Mawakib al-Aliyyah, yaitu ada lima kasus,” (Syekh Muhammad bin Ali bin Muhammad Ba’athiyah, Ghayah al-Muna Syarh Safinah al-Saja, hal. 159).

Meski tidak sah atas nama kurban, bukan berarti sumbangan binatang kurban yang diberikan oleh non-Muslim tidak memiliki manfaat sama sekali. Binatang tersebut tetap boleh diterima atas nama sedekah. Dari sedekah itu, non-Muslim tetap mendapat manfaat pahalanya. Para ulama menegaskan, amal ibadah non-Muslim yang tidak membutuhkan niat, seperti sedekah, dicatatkan pahalanya untuk sang pelaku, bisa bermanfaat di dunia dengan memperbanyak rezeki dan meringankan siksaan di akhirat.

Syekh Sulaiman al-Jamal menegaskan:

ـ «من أحيا أرضا ميتة فله فيها أجر وما أكلت العوافي» أي طلاب الرزق «منها فهو له صدقة» رواه النسائي وغيره وصححه ابن حبان

“Orang yang menghidupi bumi mati maka ia mendapat pahalanya. Apa yang dimakan para pencari rezeki dari tanah tersebut adalah sedekah untuknya,” (Hadits riwayat al-Nasai dan lainnya, disahihkan oleh Ibnu Hibban).

ـ (قوله أي طلاب الرزق) أي من إنسان أو بهيمة أو طير وفيه دليل على أن الذمي ليس له الإحياء لأن الأجر لا يكون إلا للمسلم اهـ. إسعاد اهـ. زيادي

“Ucapan Syekh Zakariyya, para pencari rezeki, maksudnya manusia, binatang atau burung. Di dalam hadits tersebut menunjukan bahwa kafir dzimmi tidak diperbolehkan menghidup-hidupi bumi mati, karena pahala tidak dapat didapat kecuali oleh seorang muslim.”

 أقول وقد تمنع دلالته على منع إحياء الذمي وقوله فهو له صدقة لا يؤخذ منه التخصيص بالمسلم لأن الكافر له الصدقة ويثاب عليها أما في الدنيا فبكثرة المال والبنين وأما في الآخرة فبتخفيف العذاب كباقي المطلوبات التي لا تتوقف على نية بخلاف ما يتوقف عليها فإنه لا يصح خصوصا

“Aku berkata, petunjuk bahwa hadits tersebut melarang menghidupi bumi mati bagi kafir dzimmi ditolak. Sabda Nabi; maka sedekah baginya; tidak bisa diambil kesimpulan mengkhususkan kepada muslim, sebab orang kafir sah bersedekah dan mendapat pahala atasnya. Adapun di dunia, dengan banyaknya harta dan anak. Adapun di akhirat, dengan diringankan siksa seperti anjuran-anjuran syariat lainnya yang tidak membutuhkan niat, berbeda dengan ibadah yang membutuhkan niat, maka tidak sah dilakukan oleh orang kafir,” (Syekh Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah al-Jamal, juz 3, hal. 561).

Berkaitan dengan penerimaan distribusi binatang kurban dari non-Muslim oleh tokoh agama, hukumnya diperbolehkan. Binatang tersebut halal dengan catatan yang menyembelih orang Islam. Secara teori, kebolehan menerima binatang kurban dari non-Muslim juga disyaratkan tidak berdampak merugikan umat Islam, seperti ditemukan indikasi kuat adanya konspirasi terselebung untuk menghancurkan umat Islam. Namun di negara demokrasi seperti Indonesia, kekhawatiran-kekhawatiran tersebut jarang sekali  terjadi. Umumnya, penerimaan daging kurban dari non-Muslim dilakukan atas dasar menjaga hubungan baik dan toleransi antarumat beragama.

Imam al-Bukhari dalam kitab sahihnya menegaskan kebolehan menerima pemberian hadiah dari non-Muslim dengan mengutip beberapa hadits yang menjadi tendesi atas pendapatnya. Sang pemimpin pakar hadits itu menegaskan:

بَاب قَبُولِ الْهَدِيَّةِ مِنْ الْمُشْرِكِينَ وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ ﷺ هَاجَرَ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام بِسَارَةَ فَدَخَلَ قَرْيَةً فِيهَا مَلِكٌ أَوْ جَبَّارٌ فَقَالَ أَعْطُوهَا آجَرَ وَأُهْدِيَتْ لِلنَّبِيِّ ﷺ شَاةٌ فِيهَا سُمٌّ وَقَالَ أَبُو حُمَيْدٍ أَهْدَى مَلِكُ أَيْلَةَ لِلنَّبِيِّ ﷺ بَغْلَةً بَيْضَاءَ وَكَسَاهُ بُرْدًا وَكَتَبَ لَهُ بِبَحْرِهِمْ

“Bab (kebolehan) menerima hadiah dari orang-orang musyrik. Abu Hurairah berkata dari Nabi bahwa Nabi Ibrahim Hijrah bersama Sarah (istrinya), lalu memasuki daerah yang di dalamnya ada sosok raja atau sang diktator, sang raja berkata, berilah dia hadiah. Nabi Muhammad diberi hadiah kambing yang terdapat racunnya. Abu Hamid berkata; Raja Ayla memberi hadiah kepada Nabi keledai putih dan selimut serta menyurati Nabi di Negara mereka,” (HR. al-Bukhari).

Syekh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam komentarnya atas referensi di atas mengatakan bahwa pendapat al-Bukhari tegas mengenai kebolehan menerima hadiah non-Muslim. Menurut al-Asqalani, al-Bukhari secara tidak langsung  memvonis lemah riwayat lain yang melarang pemberian non-Muslim.

Dalam karya monumentalnya, Fath al-Bari, Syekh Ibnu Hajar al-Asqalani berkata:

ـ (قوله باب قبول الهدية من المشركين) أي جواز ذلك وكأنه أشار إلى ضعف الحديث الوارد في رد هدية المشرك 

“Ucapan al-Bukhari; bab menerima hadiah dari orang-orang musyrik. Maksudnya kebolehan menerimanya. Al-Bukhari seakan-akan memberi isyarat tentang lemahnya hadits yang menolak hadiah orang musyrik,” (Syekh Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, juz 5, hal. 230).

Al-Asqalani juga mengutip beberapa pendapat ulama yang mengkomparasikan beberapa hadits yang bertentangan mengenai masalah tersebut. Menurutnya, pendapat yang kuat adalah bahwa hadits yang melarang menerima pemberian non-Muslim konteksnya adalah pemberian yang terindikasi kuat bertujuan menghancurkan orang Islam atau berdampak merugikan mereka. Sedangkan hadits yang membolehkannya diarahkan kepada tujuan menghibur dan kepentingan mendakwahkan Islam. 

Pakar hadits dari Asqalan tersebut menegaskan:

وأورد المصنف عدة أحاديث دالة على الجواز فجمع بينها الطبري بأن الامتناع فيما أهدي له خاصة والقبول فيما أهدي للمسلمين وفيه نظر لأن من جملة أدلة الجواز ما وقعت الهدية فيه له خاصة وجمع غيره بأن الامتناع في حق من يريد بهديته التودد والموالاة والقبول في حق من يرجى بذلك تأنيسه وتأليفه على الإسلام وهذا أقوى من الأول

“Sang pengarang menyebutkan beberapa hadits yang menunjukan kebolehan menerima hadiah non-Muslim. Al-Imam al-Thabari mengkomparasakan bahwa penolakan Nabi diarahkan kepada hadiah yang secara khusus diberikan kepada beliau, dan hadits yang menerima diarahkan kepada pemberian untuk orang-orang Islam secara umum. Pendapat ini perlu dikaji ulang, sebab di antara dalil yang membolehkan adalah hadiah yang secara khusus diberikan kepada Nabi. Ulama lain memberikan jalan tengah bahwa penolakan Nabi konteksnya adalah non-Muslim yang bertujuan konspirasi (jahat), dan penerimaan Nabi konteksnya adalah non-Muslim yang dengan menerima hadiahnya dimaksudkan menghibur dan memberinya simpati agar masuk Islam. Ini adalah pendapat yang lebih kuat dibandingkan yang pertama. (Syekh Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, juz 5, hal. 231).

Walhasil, status hukum kurbannya non-Muslim adalah tidak sah sebagai kurban. Namun distribusi binatang kurban dari mereka tetap boleh diterima oleh orang Islam atas nama sedekah, bahkan menjadi langkah yang tepat untuk menjaga keharmonisan antarumat beragama. Binatang pemberian non-Muslim tersebut halal dimakan dengan syarat penyembelihnya adalah orang Islam.


Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pondok Pesantren Raudlatul Quran, Geyongan, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat.

Kamis 11 Juli 2019 10:0 WIB
5 Tolok Ukur Seseorang Dikatakan Mampu Berhaji
5 Tolok Ukur Seseorang Dikatakan Mampu Berhaji
Ilustrasi (via muslimvillage.com)
Adanya kemampuan merupakan salah satu syarat wajib haji. Karena itu yang tidak termasuk kategori mampu, tidak wajib melaksanakan haji. Allah subhanahu wata’ala menegaskan hal ini dalam firman-Nya:

وَلِلهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah,” (QS Ali Imran 97).

Berkaitan memahami kata mampu dalam ayat diatas, ulama membaginya menjadi dua kategori. Pertama, mampu melaksanakan haji dengan dirinya sendiri. Kedua, mampu melaksanakan haji dengan digantikan orang lain.

Seseorang bisa disebut mampu melaksanakan ibadah haji dengan dirinya sendiri apabila memenuhi lima syarat sebagai berikut.

1. Kesehatan Jasmani

Ibadah haji adalah ibadah yang membutuhkan tenaga ekstra, sehingga kondisi tubuh harus benar-benar sehat dan memungkinkan untuk melaksanakan rangkaian ibadah haji.Orang yang lumpuh, tua renta atau memiliki penyakit permanen yang membuatnya tidak memungkinkan menjalani aktivitas manasik dan menempuh perjalanan jauh, bukan kategori orang yang mampu menjalankan haji dengan sendiri, tapi hukumnya menyesuaikan kemampuan finansial yang dimiliki. Bila ia memiliki dana yang cukup untuk menyewa orang lain agar menggantikan hajinya, maka wajib dilakukan.

Syekh Sa’id bin Muhammad Ba’asyin berkata:

ـ (الخامس) وهو في الحقيقة السادس (أن يبيت على الراحلة بلا مشقة شديدة) وإلا لم يجب عليه بنفسه بل هو معضوب وسيأتي

“Syarat wajib kelima  adalah orang yang berhaji dapat menetap di kendaraan dengan tanpa kepayahan yang sangat, andai tidak seperti itu maka tidak wajib untuk melaksanakan haji dengan dirinya sendiri.Akan tetapi ia adalah orang lumpuh dan akanada penjelasannya nanti.”(Al-Syekh Sa’id bin Muhammad Ba’asyan, Busyra al-Karim, juz 2, hal. 88).

2. Sarana Transportasi yang Memadai

Orang yang bertempat tinggal jauh dari tanah suci dengan jarak 2 marhalah (+81 km) atau lebih, maka kewajiban haji baginya disyaratkan adanya sarana transportasi yang layak untuk bisa digunakan pergi haji, baik dengan menyewa atau memilikinya sendiri. Ketentuan ini juga berlaku bagi orang rumahnya dekat dengan tanah suci, namun tidak mampu menempuh perjalanan menuju tanah haram dengan berjalan kaki.Dalam konteks jamaah haji di Indonesia,syarat kedua ini bisa diartikan memiliki biaya sewa pesawat dan alat transportasi yang dibutuhkan selama menjalani manasik.

Syekh Zainuddin Abdul Aziz Al-Malibari berkata:

والراحلة أو ثمنها إن كان بينه وبين مكة مرحلتان أو دونهما وضعف عن المشي

“Dan adanya kendaraan atau ongkosnya ketika jarak antara ia dan Makkah 2 marhalah atau dibawah 2 marhalahtetapi ia tidak mampu untuk berjalan.”(Syekh Zainuddin Abdul Aziz Al-Malibari, Fathul Muin Hamisy Hasyiyah I’anah al-Thalibin, Al-Hidayah, juz 2, hal. 282).

Sarana transportasi yang dimaksud ini disyaratkan melebihi kebutuhan sandang pangan, bagi dirinya dan keluarga yang wajib ditanggung nafkahnya, terhitung sejak keberangkatan sampai pulang menunaikan ibadah haji.Demikian pula disyaratkan melebihi dari utangnya serta harta yang wajib ditunaikan untuk membantu faqir miskin yang mengalami darurat sandang pangan. Dalam fiqih, membantu mereka hukumnya fardhu kifayah (wajib kolektif).

Dengan demikian, orang yang keluarganya terkatung-katung, tetangganya kelaparan atau utangnya menumpuk, tidak berkewajiban berangkat haji. Perlu kesadaran yang maksimal bahwa agama hanya mewajibkan haji bagi orang yang mempunyai ongkos pembiayaan haji setelah nafkah wajib dan tanggungan kepada orang lain terpenuhi, sehingga tidak berdampak mengorbankan hak-hak orang lain yang wajib ditunaikan.

Syekh Abdullah bin Husain Thohir bin Muhammad bin Hasyim Ba’alawi Berkata:

يجب الحج والعمرة في العمر مرة على المسلم الحر المكلف المستطيع بما يوصله ويرده إلى وطنه فاضلا عن دينه ومسكنه وكسوته اللائقين ومؤنة من عليه مؤنته مدة ذهابه وإيابه. 

“Wajib haji dan umrah seumur hidup sekali bagi muslim, merdeka, mukallaf dan mampu terhadap hal yang dapat mengantarkan dan memulangkannya ke tanah airnya, yang melebihi utangnya, tempat tinggalnya, sandangnya yang layak dan dari biaya orang yang wajib dibiayai selama pergi dan pulang haji,”(Syekh Abdullah bin Husain Thahir bin Muhammad bin Hasyim Ba’alawi, Sullam Al-Taufiq, Kediri, Maktabah Al-Salam, hal. 60-61).

Syekh Sayyid Abu Bakr bin Sayyid Muhammad Syatha Al-Dimyati berkata:

والمراد بمن يجب نفقته الزوجة والقريب والمملوك المحتاج لخدمته وأهل الضرورات من المسلمين ولو من غير أقاربه لما ذكروه في السير من أن دفع ضرورات المسلمين بإطعام جائع وكسوة عار ونحوهما فرض على من ملك أكثر من كفاية سنة وقد أهمل هذا غالب الناس حتى من ينتسب إلى الصلاح

“Yang dikehendaki dari orang yang wajib dinafkahi adalah istri, kerabat, budak yang dimilikinya yang dibutuhkan untuk melayaninya, dan orang-orang Islam yang sangat membutuhkan walaupun bukan kerabatnya karena alasan yang disebutkan dalam babAl-Sair(jihad) bahwa membantu orang-orang Islam yang sangat membutuhkan dengan cara memberi makan orang yang kelaparan, memberi pakaian orang-orang yang telanjang (tidak punya pakaian) dan selainnya merupakan kewajiban bagi orang yang memiliki lebih dari kecukupan satu tahun. Mayoritas orang acuh terhadap hal ini, bahkan orang yang disebut-sebut saleh sekalipun.” (Syekh Sayyid Abu Bakr bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyati, I’anah At-Tholibin, al-Hidayah, juz 2, hal 282).

Ketentuan di atas berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW ketika beliau menjelaskan ayat “Man Istatha’a Ilaihi Sabila”. Disebutkan dalam sebuah riwayat beliau bersabda:

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال قيل يا رسول الله ما السبيل؟ أي في هذه الآية ؟ قال صلى الله عليه وسلم  الزاد والراحلة. رواه الحاكم وقال صحيح على شرط الشيخين.

“Diriwayatkan dari Anas bin Malik R.A beliau berkata : “Ditanyakan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, wahai Rasulullah apa makna Al-Sabil dalam ayat ini ?. Beliau menjawab; bekal dan kendaraan.(H.R Al-Hakim, hadits shahih yang memenuhi standar kualifikasi versi al-Bukhari dan Muslim).

3. Aman

Aman yang dimaksud adalah terjaminnya keselamatan nyawa, harta dan harga diri seseorang, selama perjalanan dan pelaksanaan ibadah haji, sehingga andai saja terjadi beberapa hal yang dikhawatirkan mengancam keamanan seperti peperangan, perampokan atau cuaca buruk yang menghambat perjalanan menuju tanah suci, maka tidak wajib melaksanakan haji. Saat ini terjaminnya keamanan calon jamaah haji sudah sangat baik dengan pengawasan maksimal oleh pihak-pihak yang bertugas. Demikian pula dengan proses perjalanan menuju Makkah-Madinah, sudah sedemikian canggih dengan servis pelayanan yang menjamin keselamatan jamaah haji. Maka hampir dipastikan tidak ada kendala yang signifikan untuk masalah ini.

Syekh Zainuddin Al-Malibariberkata:

ويشترط أيضا الوجوب أمن الطريق على النفس والمال ولو من رصدى وإن قلّ ما يأخذه وغلبة السلامة لراكب البحر فإن غلب الهلاك لهيجان الأمواج في بعض الأحوال أو استويا لم يجب بل يحرم الركوب فيه له ولغيره.

“Dan disyaratkan bagi wajibnya haji, amannya jalan bagi diri sendiri dan harta walaupun dari perampok, walaupun hanya sedikit yang diambil.Serta dugaan kuat keselamatan bagi orang yang menaiki perahu, maka bila kemungkinan besar terjadi kematian karena dahsyatnya ombak di sebagian keadaan atau prosentasenya sama, maka tidak wajib, bahkan haram melaksanakan perjalanan jalur laut bagi dirinya dan orang lain.” (Syekh Zainuddin Abdul Aziz Al-Malibari, Fathul Muin Hamisy Hasyiyah Ianah at-Thalibin, juz 2, hal. 282 Al-Hidayah)

4. Perginya Perempuan dengan Suami, Mahram, atau Beberapa Perempuan yang Dapat Dipercaya

Dalam ibadah haji, syari’at memberikan perhatian khusus bagi jamaah haji wanita. Perempuan yang akan melaksanakan haji disyaratkan harus didampingi suami, mahram atau sekelompok wanita yang bisa dipercaya, hal ini tidak lain karena adanya larangan bagi wanita menempuh perjalanan dengan sendirian (terlebih perjalanan jauh seperti haji), sehingga sangat mengkhawatirkan keselamatan nyawa, harga diri dan hartanya.

Maka, bila tidak ada suami, mahram atau beberapa perempuan yang bisa dipercaya yang menemaninya, seorang wanita tidak wajib haji.

Syekh Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Al-Nawawi berkata:

وفي المرأة أن يخرج معها زوج أو محرم أو نسوة ثقات

“Dan bagi perempuan dia harus keluar bersamaan dengan suami, mahrom atau beberapa perempuan yang dapat dipercaya.”(Al-Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Al-Nawawi, Minhaj Al-Thalibin Hamisy Hasyiyah Qalyubi dan Umairah, Al-Hidayah, juz 2, hal. 113)

5. Rentang Waktu yang Memungkinkan untuk Menempuh Perjalanan Haji

Waktu haji yang terbatas membuat pelaksanaannya tidak seleluasa ibadah umrah. Sehingga, dalam syarat wajib haji, harus ada waktu yang memungkinkan untuk menempuh perjalanan dari tanah air menuju Makkah. 

Syekh Muhammad Nawawi bin Umar bin Ali Al-Jawi berkata:

سابعها  وجود الزمن الذي يسع السيرالمعهود للنسك من بلده إلى مكة

“Syarat wajib ke-7 adalah adanya waktu yang mencukupi untuk perjalanan haji dari negaranya ke Makkah,” (Syekh Abu Abdil Mu’thi Muhammad Nawawi bin Umar bin Ali Al-Jawi, Nihayah Al-Zain, Al-Haramain, hal. 202).

Demikian penjelasan mengenai batasan mampu melaksanakan haji. Sekian semoga bermanfaat.


Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pondok Pesantren Raudlatul Quran, Geyongan, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat.

Ahad 7 Juli 2019 18:30 WIB
Bahaya Heatstroke bagi Jamaah Haji, Cegah dengan Cara Ini!
Bahaya Heatstroke bagi Jamaah Haji, Cegah dengan Cara Ini!
null
Musim haji tahun 2019 ini bertepatan dengan musim panas di negeri Arab. Perkiraan suhu udara akan sangat tinggi, bahkan mencapai 40°C. Cuaca sangat panas semacam ini dapat mengganggu kesehatan jamaah haji, sehingga pelaksanaan haji bisa menjadi tidak maksimal.

Salah satu gangguan kesehatan akibat panas yang kerap mengancam jamaah haji dan umrah adalah gejala heatstroke. Heatstroke atau sengatan panas didefinisikan sebagai kondisi suhu tubuh meningkat sangat tinggi dengan adanya gangguan tubuh sistemik. Kondisi ini diakibatkan paparan panas ekstrem berlebih, atau peningkatan aktivitas fisik pada suhu tubuh maupun lingkungan tinggi. Keduanya adalah dua hal yang niscaya akan dihadapi jamaah haji maupun umrah.

Masyarakat Indonesia yang tidak terbiasa dengan cuaca panas ekstrem tentu perlu menyesuaikan diri. Kondisi temperatur udara yang dapat diterima oleh seseorang erat kaitannya dengan kelembaban udara. Kita tahu, kelembaban udara di beberapa lokasi ibadah haji – juga Arab Saudi secara umum – cenderung kering. Udara kering ini, membuat cairan tubuh akan mudah menguap.

Ketika suhu tubuh sangat tinggi sampai 39 celsius, tubuh dapat memasuki fase heatstroke. Rasa sangat haus, letih, mual muntah, pusing, pembuluh nadi teraba cepat dan kuat, kulit panas dan kering, hingga penurunan kesadaran menjadi gejala yang muncul pada korban heatstroke

Kurang minum, berkeringat nggobyos, dan cairan tubuh yang menguap secara masif akibat cuaca panas dapat berujung pada dehidrasi berat. Lebih berbahaya lagi saat terjadi syok hipovolemik akibat kandungan air dan elektrolit dalam darah berkurang drastis.

Akibat paling fatal dari heatstroke adalah kegagalan fungsi organ secara sistemik, yang disebut total organ failure, dengan manifestasi berupa gagal ginjal, gagal jantung, dan gagal otak – yang berujung pada kematian.

Mengingat ekstremnya lingkungan lokasi haji di Arab sekali, serta berat dan padatnya aktivitas ibadah haji, Kementerian Kesehatan RI merilis tips saat ibadah haji maupun umrah yang perlu dilakukan guna mencegah heatstroke sebagai berikut:

1. Perbanyak minum air setiap 2-3 jam, tidak perlu menunggu haus. Hal ini untuk mencegah terjadinya dehidrasi yang dapat memicu gangguan tubuh secara sistemik. Salah satu pemicu heatstroke juga kurangnya asupan cairan. Minum air secara rutin dapat mengurangi risiko ini.

2. Semprotkan air ke wajah dan bagian tubuh lainya yang terkena sinar matahari. Pada heatstroke, cuaca panas ekstrem menyebabkan penguapan cairan tubuh yang masif. Mengondisikan badan tetap lembab akan mengurangi evaporasi berlebih cairan tubuh tersebut.

3. Menggunakan pakaian yang longgar dan mudah menyerap keringat. Pakaian yang longgar akan mengurangi penguapan cairan, serta mengurangi terperangkapnya panas yang memicu peningkatan suhu tubuh.

4. Bagi jamaah berusia lanjut atau jamaah dengan kebutuhan khusus, sebaiknya berpergian dengan pendamping. Sangat riskan bagi lansia jika tidak didampingi karena berbagai risiko yang mungkin terjadi, terlebih sudah mengidap penyakit tertentu sebelumnya.

5. Menggunakan alas kaki, pakai payung dan penutup kepala jika bepergian – di luar rangkaian haji dan umrah yang melarang penggunaan asesoris tersebut. Penutup kepala dan payung dapat mengurangi paparan langsung sinar matahari sehingga hidrasi tubuh tetap terjaga.

Penanganan awal pada korban heatstroke adalah dengan memindahkan korban ke ruangan dingin, kompres kain basah dingin di ketiak atau lipat paha, atau menyiram badan korban dengan air dingin. Tindakan ini dilakukan sembari segera menghubungi dokter untuk pertolongan lebih lanjut.

Demikianlah beberapa hal tentang gejala heatstroke yang mengancam jamaah haji dan umrah, disertai cara pencegahannya. Bukankah akan lebih banyak fadhilah yang bisa didapat jika ibadah haji bisa dijalani dengan bugar, mulai berangkat hingga kembali ke Tanah Air? Semoga haji dan umrah Anda mabrur dan lancar, dan bagi yang belum berkesempatan semoga dimudahkan Allah. Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)