IMG-LOGO
Ubudiyah

Cara Berbakti pada Orang Tua yang Sudah Meninggal

Ahad 14 Juli 2019 19:30 WIB
Share:
Cara Berbakti pada Orang Tua yang Sudah Meninggal
Ilustrasi (via saudigazette.com.sa)
Setiap anak utang budi sangat besar pada orang tuanya. Ibu merupakan makhluk Allah yang diciptakan untuk bisa mengandung, melahirkan, dan menumbuhkembangkan anaknya masing-masing. Cinta ibu melebihi kecintaannya kepada pribadinya sendiri. Bagi ibu, ibarat tidak makan tidak masalah yang penting anaknya bisa makan karena saking cintanya seorang ibu kepada anak. Setelah ibu, ada orang lain yang juga mempunyai kasih sayang besar kepada seorang anak, yaitu sosok ayah walaupun levelnya masih di bawah ibu. 

Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari kakeknya Bahz, ia memerintahkan untuk menghormati ibu sebanyak tiga kali lipat dibanding ayah. Hadits ini tidak berarti ayah tidak terhormat. Hormat kepada ayah tetap wajib, sedangkan kewajiban hormat kepada ibu tiga kali lipat daripada hormat kepada ayah, baru kemudian kerabat paling dekat, dekat, dan mulai yang lebih jauh. 

 حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا بَهْزٌ، حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ جَدِّي، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَنْ أَبَرُّ؟ قَالَ: " أُمَّكَ "، قَالَ: قُلْتُ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: " أُمَّكَ "، قَالَ: قُلْتُ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: " أُمَّكَ، ثُمَّ أَبَاكَ، ثُمَّ الْأَقْرَبَ فَالْأَقْرَبَ " 

Artinya: “Saya tanya kepada Rasulullah ﷺ, ‘Ya Rasul, siapa yang paling berhak saya sikapi dengan sebaik mungkin?’ Jawab Rasul, ‘Ibumu’, ‘Lalu siapa lagi, Ya Rasul?’ ‘Ibumu’, ‘Siapa lagi, Ya Rasul?’ ‘Ibumu’. 'Lalu siapa lagi?' ‘Baru kemudian bapakmu, keluarga terdekat, dekat, dan seterusnya’.” (Musnad Ahmad: 20048)

Dalam hadits lain, ada seorang sahabat yang sudah bersusah payah sepenuh tenaga mencurahkan keringatnya untuk membahagiakan ibunya. Saat lelaki itu melaporkan kebaikannya kepada Baginda Nabi, Rasulullah menyatakan bahwa hal tersebut tidak bisa membalas secara seimbang dengan jerih payah yang dilakukan ibu walau satu tarikan napas panjangnya. Sebab, lazimnya seorang ibu melayani anak dengan harapan akan panjang umurnya, tapi seorang anak merawat ibu dengan harapan pendek umurnya supaya tidak merepotkan. 

ﺍَﻥَّ ﺭَﺟُﻼً ﺍَﺗَﻰ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺹ ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺍِﻥَّ ﻟِﻰْ ﺍُﻣًّﺎ، ﺍَﻧَﺎ ﻣَﻄِﻴَّﺘُﻬَﺎ ﺍُﻗْﻌِﺪُﻫَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻇَﻬْﺮِﻯ ﻭَ ﻻَ ﺍَﺻْﺮِﻑُ ﻋَﻨْﻬَﺎ ﻭَﺟْﻬِﻰ ﻭَ ﺍَﺭُﺩُّ ﺍِﻟَﻴْﻬَﺎ ﻛَﺴْﺒِﻰ، ﻓَﻬَﻞْ ﺟَﺰَﻳْﺘُﻬَﺎ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻻَ، ﻭَ ﻻَ ﺑِﺰَﻓْﺮَﺓٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ . ﻗَﺎﻝَ : ﻭَ ﻟِﻢَ؟ ﻗَﺎﻝَ : ِﻻَﻧَّﻬَﺎ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﺗَﺨْﺪُﻣُﻚَ ﻭَ ﻫِﻲَ ﺗُﺤِﺐُّ ﺣَﻴَﺎﺗَﻚَ . ﻭَ ﺍَﻧْﺖَ ﺗَﺨْﺪُﻣُﻬَﺎ ﺗُﺤِﺐُّ ﻣَﻮْﺗَﻬَﺎ .

Artinya: “Sesungguhnya ada seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ, lalu bertanya ‘Sesungguhnya saya mempunyai seorang ibu, dia saya gendong di punggung saya. Saya tidak pernah bermuka masam kepadanya. Upah kerja saya kasihkan kepada dia. Apakah yang demikian itu saya telah membalas budinya?’ Rasulullah ﷺ menjawab ‘Belum, walau satu tarikan napas panjangnya’. 

Orang tersebut kemudian bertanya lagi ‘Mengapa demikian ya Rasulullah?’ Jawab Rasul, ‘Karena ibumu memelihara kamu dengan berharap agar kamu panjang umur, sedangkan kamu memeliharanya itu dengan berharap ia lekas mati’.” (HR Abul Hasan al-Mawardi) 

Abu Umamah pernah bercerita dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Majah. Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah:  

يَا رَسُولَ اللهِ، مَا حَقُّ الْوَالِدَيْنِ عَلَى وَلَدِهِمَا؟ قَالَ: هُمَا جَنَّتُكَ وَنَارُكَ

Artinya: “Ya Rasulallah, apa hak yang semestinya diterima oleh kedua orang tua dan harus dipikul oleh anaknya?, jawab Rasul ‘Mereka adalah surga dan nerakamu’.” (HR Ibnu Majah: 3662) 

Dalam hadits ini dijelaskan bahwa kedua orang tua adalah di antara faktor seorang anak bisa masuk surga atau neraka. Apabila anak patuh kepada orang tua, berarti bisa masuk surga. Jika anak tidak patuh, berarti neraka. Maksud kepatuhan di sini selama tidak sampai melanggar norma agama. Jika melanggar norma, tidak boleh diikuti petunjuknya karena aturannya adalah tidak ada ketaatan untuk maksiat kepada Tuhan. 

Baca:
Cara Berbakti pada Orang Tua yang Masih Hidup
Tata Krama terhadap Orang Tua Menurut al-Ghazali
Masih banyak lagi hadits-hadits yang menjelaskan tentang hubungan orang tua terhadap anak maupun sebaliknya. Namun sehebat apa pun orang yang hidup di alam dunia ini, pastilah akan merasakan kematian. Ibu dan ayah masing-masing merupakan makhluk Allah subhanahu wa ta’ala yang sudah digariskan oleh Allah pasti akan mengalami kematian. Sebagai balas budi anak kepada kedua orang tua, bagaimana sikap anak kepada orang tua ketika mereka sudah meninggal dunia?

Abu Usaid pernah menceritakan sebuah hadits berikut:

بَيْنَمَا أَنَا جَالِسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، هَلْ بَقِيَ عَلَيَّ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ بَعْدَ مَوْتِهِمَا أَبَرُّهُمَا بِهِ؟ قَالَ: " نَعَمْ خِصَالٌ أَرْبَعَةٌ: الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا، وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا، وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا، وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا، وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا رَحِمَ لَكَ إِلَّا مِنْ قِبَلِهِمَا، فَهُوَ الَّذِي بَقِيَ عَلَيْكَ مِنْ بِرِّهِمَا بَعْدَ مَوْتِهِمَا 

Artinya: “Suatu ketika saya sedang duduk-duduk bersama Rasulullah ﷺ. Tiba-tiba ada seorang laki-laki dari sahabat Anshar sowan. Ia bertanya kepada Rasul, ‘Ya Rasul, apakah saya bisa berbaik budi kepada kedua orang tua saya yang sudah meninggal?’ Rasul lalu menjawab, ‘Iya, ada empat hal, yaitu (1) mendoakan mereka, (2) memohonkan ampunan untuk keduanya, (3) menunaikan janji mereka dan memuliakan teman mereka, dan (4) menjalin silaturahim dengan orang-orang yang tidak akan menjadi saudaramu kecuali melalui perantara ayah-ibumu. Itulah budi baik yang harus kamu lakukan setelah mereka meninggal’.” (Musnad Ahmad: 16059) 

Hadits di atas dapat dipahami bahwa memintakan ampun kepada orang yang sudah meninggal adalah bermanfaat sebab Rasulullah memerintahkan untuk mendoakan kedua orang tua yang meninggal. Rasul tidak pernah menyuruh kepada orang dengan kegiatan yang sia-sia (mulghah). Semua perkataan Nabi Muhammad adalah wahyu. Dia tidak pernah berbicara sesuai keinginan hawa nafsuya. Selain itu, istighfar atau memohonkan ampunan bagi orang tua yang meninggal juga diperintahkan. 

Baca juga:
Lafal Doa untuk Kedua Orang Tua yang Telah Meninggal
Kisah Doa Sang Anak untuk Orang Tua di Alam Kubur
Pelajaran yang bisa dipetik lagi dari hadits di atas dan hal ini banyak dilupakan oleh generasi saat ini adalah memuliakan teman-temannya orang tua dan menyambung persaudaraan baik dari jalur ayah maupun jalur ibu. Keduanya sangat penting supaya orang-orang di sekeliling mereka akan selalu terjaga hubungannya. Istilah lain dalam bahasa Jawa, supaya tidak kepaten obor  (api silaturahim padam begitu saja).

Dengan demikian, berbakti kepada kedua orang tua tidak berhenti saat mereka masih hidup, namun sampai mereka meninggal pun, anak tetap harus berbakti kepada mereka dengan cara-cara yang dituntunkan oleh Rasulullah ﷺ. Wallahu a’lam.


Ustadz Ahmad Mundzir, pengajar di Pesantren Raudhatul Quran an-Nasimiyyah, Semarang  

Share:
Selasa 2 Juli 2019 18:0 WIB
Cara Berbakti pada Orang Tua yang Masih Hidup
Cara Berbakti pada Orang Tua yang Masih Hidup
Ilustrasi (BBC)
Setiap anak pasti mempunyai utang budi kepada orang tua atas jasa-jasa yang telah dicurahkan sepenuh hati mulai dari mengandung, menyusui, hingga tumbuh kembang dari usia kanak-kanak bahkan sampai dewasa.

Dalam sebuah hadits riwayat Abu Hurairah, Rasulullah mengatakan bahwa seorang anak tidak akan bisa membalas budi orang tua kecuali seumpama orang tua tersebut jadi budak lalu si anak membelinya untuk dimerdekakan dari status budak.

لَا يَجْزِي وَلَدٌ وَالِدًا، إِلَّا أَنْ يَجِدَهُ مَمْلُوكًا فَيَشْتَرِيَهُ فَيُعْتِقَهُ

Artinya: “Seorang anak tidak akan mampu membalas orang tua kecuali ia menemukan orang tuanya jadi budak lalu ia membelinya kemudian memerdekakan.” (HR Muslim: 25) 

Namun, apakah di zaman sekarang ada orang tua yang menjadi budak? Tentu tidak ada karena kita sudah tidak berada di era perbudakan. Apabila demikian kondisinya, maka tidak ada anak satu pun yang bisa membalas curahan kebaikan orang tuanya. 

Tentu saja tak bisa membalas dengan balasan seimbang, bukan berarti anak tidak wajib membalas kebaikan orang tua. Ia harus membalas kebaikan-kebaikan orang tua. Salah satu caranya adalah dengan menafkahi mereka saat masih hidup, bahkan ketika keduanya adalah non-Muslim. Tanggung jawab ini mesti dilakukan ketika orang tua memang tidak mampu sementara anak memiliki kecukupan harta. 

Baca juga:
Anak Wajib Menafkahi Orang Tua
Waktu dan Besaran Nafkah Anak kepada Orang Tua
Seorang anak juga mesti selalu berbaik budi dan tidak berkata kasar kepada mereka. 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: 

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Artinya: “Dan kalian sembahlah Allah dan jangan kalian sekutukan Ia dengan apa pun, dan dengan bersikap baik kepada kedua orang tua.” (QS An-Nisa’: 36) 

Dalam Tafsir Ibnu Katsir (2/298) dijelaskan, orang tua sangat penting untuk dihormati karena Allah menjadikan orang tua sebagai media atau wasilah seorang anak bisa lahir ke alam dunia ini. Oleh karena itu, di dalam ayat Al-Qur’an, Allah berulang kali memerintahkan berbaik budi kepada kedua orang tua setelah Al-Qur’an menyebut kata Allah. Jadi kalimat kedua orang tua (wâlidain) sering jatuh setelah kata perintah pengesaan atau penghambaan kepada Allah. Selain ayat di atas, bisa dilihat pada ayat berikut: 

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ

Artinya: “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” (QS Luqman: 41) 

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS Al-Isra’: 23) 

Apa pun alasannya, seorang anak harus berkata kepada orang tua dengan tutur kata yang sopan. Bisa saja ada anak ditakdirkan menjumpai orang tuanya dalam keadaan sudah tua renta, pikun, atau daya kecerdasan otaknya menurun sehingga terjadi satu dua ketidaksepakatan antara yang tua dengan yang muda. Kondisi demikian mesti dimaklumi. Maka di Surat Al-Isra’ dan ayat yang sama, Allah melarang anak berkata kasar meskipun sedikit saja dengan kalimat “hus” misalnya, dan membentak. Terlebih lagi memukul mereka, tentu hal ini sangat dilarang oleh agama Islam.

إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Artinya: "Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS Al-Isra’: 23) 

Selain berbuat baik, seorang anak bisa berbakti kepada orang tua dengan cara mendoakannya dengan kebaikan-kebaikan yang melimpah. Dalam satu hadits, Rasulullah bersabda: 

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ 

Artinya: "Apabila Manusia meninggal Dunia maka terputuslah amalnya kecuali karena tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya". (HR. Muslim: 1631)

Di antara investasi terbesar orang tua adalah anak yang shalih yang mau mendoakan kedua orang tuanya. Maka, sebagian ulama menyatakan bahwa ciri-ciri anak yang shalih adalah anak yang mau mendoakan kedua orang tuanya. Hal ini terlihat dalam diksi hadits “aw waladin shâlihin yad’û lah (anak shalih yang mendoakan orang tua)". Logikanya apabila tidak mau mendoakan, berarti tidak disebut anak shalih. 

Dengan demikian, ada dua hal pokok yang perlu digarisbawahi bagi anak yang ingin berbakti kepada orang tua, yaitu berbuat baik kepada mereka dengan cara berbicara yang halus, baik, tidak menyentuh kemarahan mereka dan mendoakan mereka selalu. Wallahu a’lam.  


Ustadz Ahmad Mundzir, pengajar di Pesantren Raudhatul Quran an-Nasimiyyah, Semarang 
Selasa 25 Juni 2019 13:30 WIB
Bagaimana Rasio Menjelaskan Ketentuan Ibadah?
Bagaimana Rasio Menjelaskan Ketentuan Ibadah?
Dalam agama ada aturan-aturan yang bersifat rasional sebab hakikatnya merupakan nilai universal. Misalnya kewajiban membantu sesama, menegakkan yang ma'ruf, menghilangkan yang munkar, dan banyak lainnya. Yang seperti ini dikenal dengan istilah aturan ta'aqquli atau aturan yang motif dan tujuannya mudah dipahami nalar. 

Selain itu, ada juga aturan-aturan yang sifatnya tak bisa ditanya alasan penentuannya. Misalnya jumlah rakaat shalat, gerakan-gerakan shalat, makanan apa saja yang haram, kewajiban iddah, larangan bagi orang berhadats, kenajisan benda tertentu, dan sebagainya yang bersifat teknis. Yang seperti ini disebut dengan istilah ta'abbudi atau hal yang dilakukan karena faktor semata ibadah. Hal ta'abbudi ini dituntut untuk diikuti saja tanpa bisa ditanya alasannya kenapa dan tak bisa juga digugat atau diganti dengan yang lain. Menolaknya berarti dianggap tidak patuh pada aturan agama, titik.

Banyak orang menganggap wilayah ta'abbudi ini sebagai wilayah irasional dari agama. Alasannya karena wilayah ini tak bisa dicerna alasan pewajibannya, apa tujuannya dan apa output-nya. Sepintas anggapan ini benar, tapi sebenarnya tidak tepat. 

Perintah yang bersifat ta'abbudi sejak awal dimaksudkan sebagai instrumen tes kepatuhan, tak ada tujuan lain. Dengan instrumen ini, maka yang patuh dan yang tak patuh akan terlihat jelas. 

Secara rasional, semua tes kepatuhan haruslah bersifat berbeda dengan kehendak umum dari orang yang diuji dan tidak dapat dijelaskan alasan spesifik di balik tes itu olehnya. Misalnya seorang bos mau mengetes kepatuhan pegawainya, maka ia harus memerintahkan sesuatu yang sesuai kriteria di atas, misalnya memerintahkan masuk kantor jam 7.00 dan keluar jam 15.00. Bos itu tak perlu menjelaskan kenapa jam itu dipilih dan apa bedanya antara jam 7.00 dengan 6.59 atau dengan 7.01. Tak perlu juga ia menjelaskan nalar di balik penentuan jam itu. Tindakan Bos ini sangat rasional.

Akan menjadi irasional bila si bos memakai instrumen tes yang memang sesuai kehendak orang yang diuji. Misalnya dengan mengatakan bahwa pegawai yang patuh adalah pegawai yang makan dua kali sehari. Ini instrumen tes yang irasional dan selamanya tak akan pernah menghasilkan nilai kepatuhan. 

Hal yang sama terjadi bila misalnya nalar di balik penentuan jam masuk 7.00 itu disampaikan dan menjadi hal yang bisa dinegosiasi keberlakuannya. Misalnya dengan mengatakan bahwa 7.00 ditetapkan karena untuk melayani klien yang datang. Artinya bila jelas klien tak datang maka aturan ini gugur. Ini sama dengan mengatakan lampu merah boleh diterobos bila sudah jelas aman. Instrumen tes yang demikian akan tidak efektif sebagai alat ukur sebab akan banyak alasan untuk menggugurkannya.

Jadi, ketidakjelasan alasan di balik perintah ta'abbudi justru adalah cara paling rasional untuk mengukur tingkat kepatuhan seorang hamba. Bila misalnya larangan memakan babi diberi alasan tertentu yang spesifik sebagai illat (alasan penentu hukum), semisal alasannya karena daging babi berbahaya, maka akan banyak orang yang memakannya dengan alasan sama sekali tak berbahaya baginya. Bila alasannya kotor dan menjijikkan, maka akan banyak yang memakannya dengan alasan dagingnya sudah dibersihkan dan tak menjijikkan baginya. 

Hal yang sama berlaku pada seluruh perintah ta'abbudi lainnya. Bila gerakan shalat dan waktunya dijelaskan untuk tujuan tertentu sebagai illatnya, maka akan muncul varian shalat alternatif yang secara akal juga memenuhi kriteria yang sama. Akhirnya, syariat itu sendiri menjadi tidak baku yang konsekuensinya tak punya alat ukur kepatuhan yang terukur.

Kesimpulannya, adanya perintah-perintah yang ta'abbudi adalah hal yang rasional dalam agama. Justru irasional bila sama sekali tak ada yang berkarakteristik ta'abbudi. Bahkan, seluruh gerakan upacara bendera saja dibuat "serupa dengan ta'abbudi" sehingga tak bisa dipertanyakan kenapa gerakan dan sikapnya harus begini atau begitu tanpa boleh ditawar lagi. Namun demikian tak bisa disimpulkan bahwa upacara bendera itu tidak rasional.


Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center Jawa Timur.

Kamis 20 Juni 2019 16:0 WIB
12 Kesunnahan saat Gosok Gigi atau Bersiwak
12 Kesunnahan saat Gosok Gigi atau Bersiwak
Gosok gigi atau bersiwak sekilas terlihat sepele, tapi sesungguhnya mempunyai peranan penting, baik terkait interaksi sosial maupun pelaksanaan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kita bisa bayangkan bagaimana perasaan seseorang ketika diskusi bersama orang lain dengan jarak yang sangat dekat tiba-tiba mencium bau mulut tidak sedap. Bukankah itu mengganggu?

Begitu pula orang yang sedang melaksanakan shalat. Karena tidak gosok gigi, sisa-sisa makanan yang ada di mulut bisa amat mengganggu konsentrasi shalat atau kalau tertelan malah justru bisa membatalkan shalat. Ternyata ada banyak hikmah dari gosok gigi yang disunnahkan oleh syariat tersebut. 

Baca: Apakah Gosok Gigi Perlu Niat Khusus? 
Gosok gigi atau bersiwak cukup penting diperhatikan. Bahkan, kita disunnahkan mengajari anak kecil bersiwak. Tujuannya bukan untuk kesehatan mulutnya semata tapi juga membiasakan mereka melakukan kesunahan-kesunahan sejak dini sebagai bekal kelak saat dewasa.

قَالُوا وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يُعَوِّدَ الصَّبِيَّ السِّوَاكَ لِيَأْلُفَهُ كَسَائِرِ الْعِبَادَاتِ

Artinya: “Para ulama mengatakan bahwa disunnahkan untuk melatih kebiasaan anak kecil untuk bersiwak supaya anak terbiasa melakukannya sebagaimana ibadah-ibadah yang lain,” (Imam Nawawi, Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab, [Dar al-Fikr], juz 1, hal. 283).

Dalam bersiwak diutamakan memakai jenis kayu arok, namun apabila menggunakan selain kayu tersebut yang penting adalah kasar seperti gosok gigi, maka tetap mendapatkan kesunnahan. Demikian disampaikan banyak ulama termasuk di antaranya Imam Nawawi. 

Bersiwak juga disunnahkan dilakukan secara berulang kali untuk shalat yang mempunyai takbiratul ihram berulang-ulang seperti shalat tarawih, dhuha, shalat qabliyah ba’diyah empat rakaat yang dilakukan dengan dua kali salam, dan lain sebagainya. Kesimpulan ini diambil dari redaksi hadits yang menggunakan frasa “niscaya saya perintahkan kepada mereka untuk bersiwak setiap kali shalat.”

إذَا أَرَادَ أَنْ يُصَلِّيَ صَلَاةً ذَاتَ تَسْلِيمَاتٍ كَالتَّرَاوِيحِ وَالضُّحَى وَأَرْبَعَ رَكَعَاتٍ سُنَّةَ الظُّهْرِ أَوْ الْعَصْرِ وَالتَّهَجُّدَ وَنَحْوَ ذَلِكَ اُسْتُحِبَّ أَنْ يَسْتَاكَ لِكُلِّ رَكْعَتَيْنِ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَأَمَرْتهمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ أَوْ مَعَ كُلِّ صَلَاةٍ وَهُوَ حَدِيثٌ صَحِيحٌ كَمَا سَبَقَ

Artinya: “Jika ada orang yang ingin melakukan shalat yang mempunyai banyak salam seperti shalat tarawih, dhuha, shalat empat rakaat sunnah dzuhur dan ashar, tahajjud, dan lain sebagainya, maka disunnahkan bersiwak setiap kali dua rakaat karena berdasar sabda Rasulullah ﷺ ‘niscaya akan aku perintahkan kepada mereka untuk bersiwak pada setiap kali shalat.’ Hadits tersebut shahih,” (Imam Nawawi, Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab, hal. 283). 

Keterangan-keterangan di atas menunjukkan betapa siwak atau gosok gigi merupakan kegiatan yang tidak wajib tapi perlu kita perhatikan sebab sedemikian pentingnya. Lalu bagaimana tata cara gosok gigi atau bersiwak yang disunnahkan? Berikut kesunnahan dalam bersiwak sesuai dengan kitab Al Baijuri, juz 1, halaman 84-85: 

Pertama, dimulai dari niat. Orang yang gosok gigi secara kebetulan atau memang sudah menjadi rutinitasnya setiap hari, bisa tak mendapat kesunnahan bersiwak ketika dijalankan tanpa niat melakukan kesunahan.

Kedua, bersiwak menggunakan tangan kanan. Hal ini dilakukan karena mengikuti perilaku Rasulullah ﷺ, yang ketika menjalankan hal-hal baik menggunakan tangan kanan. Hal ini juga sebagai pembeda antara bersiwak dan istinja’ (cebok) atau kegiatan yang identik dengan barang kotor lainnya. 

Ketiga, jari kelingking berada di bawah batang siwak (atau sikat gigi). Sedangkan jari manis, jari tengah dan jari telunjuk berada di atas batang siwak dan jempol berada di bawah bagian kepada siwak. Setelah bersiwak, hendaknya batang siwak diletakkan di bagian belakang telinga kiri.

ويسن ان يجعل الخنصر من اسفله والبنصر والوسطى والسبابة فوقه والإبهام اسفل رأسه ثم يضعه بعد ان يستاك خلف أذنه اليسرى لخبر فيه

Artinya: “Disunnahkan menjadikan jari kelingking berada di bawah batang siwak, sedangkan jari manis, tengah dan telunjuk di atasnya dan jempol di bagian atas kepala siwak. Setelah bersiwak, kayu siwak diletakkan di belakang telinga bagian kiri. Hal ini berdasarkan hadits Baginda Nabi Muhammad ﷺ,” (Ibrahim Al-Bayjuri, Hasyiyah Syekh Ibrahim Al-Bayjuri, [Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut], juz 1, hal. 84). 

Masih dalam kitab yang sama, sebagian ulama menyunnahkan membaca doa berikut pada saat permulaan gosok gigi:

اَللَّهُمَّ بَيِّضْ بِهِ أَسْنَانِيْ، وَشُّدُّ بِهِ لِثَاتِىْ، وَثَبِّتْ بِهِ لَهَاتِيْ، وَبَارِكْ لِيْ فِيْهِ ياَ اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Allâhumma bayyidl bihî asnânî, wa syuddu bihî litsâtî, wa tsabbit bihî lahâtî, wa bârik fîhi, yâ Arhamar Râhimîn.

Artinya: “Ya Allah, semoga Engkau putihkan gigi-gigiku, kokohkan gusi-gusiku, kuatkan katup nafas kami, berilah kami keberkahan, wahai Dzat yang Maha-paling kasih.” 

Keempat, disunnahkan menelan ludah pada kali pertama memulai bersiwak walaupun kayu atau batang siwak yang dibuat untuk gosok gigi tidak dalam kondisi baru. Ada kesunnahan menyuci batang siwak pada setiap kali bersiwak. 

Kelima, panjang batang sikat gigi atau kayu siwak makruh jika lebih panjang dari satu jengkal. Apabila lebih dari satu jengkal, konon setan numpang naik pada sisi lebihnya. 

Keenam, disunnahkan ada guritan-guritan celah pada kayu siwak, atau kalau dalam sikat gigi ada sudah cukup karena ada bulu-bulunya. 

Ketujuh, bersikap tenang dan diam. Makruh bersiwak sambil berbicara atau berbincang dengan orang lain. 

Kedelapan, disunnahkan memulai bersiwak dari area mulut bagian kanan sampai separuh. Baru kemudian bagian separuh yang kiri. Hal itu berlaku untuk bagian dalam daripada gigi serta gigi bagian luar. 

Kesembilan, sunnah menggosok bagian pangkal gigi geraham baik secara membujur maupun melintang. 

Kesepuluh, sunnah menggosok bagian langit-langit mulut dan gigi-gigi yang masih tersisa secara melintang. 

Kesebelas, menggosok bagian lidah secara membujur. 

Kedua belas, gosokan-gosokan dilakukan secara lembut dan pelan-pelan. Wallahu a’lam. 


Ustadz Ahmad Mundzir, pengajar di Pesantren Raudhatul Quran an-Nasimiyyah, Semarang