IMG-LOGO
Hikmah

Abbad bin Bisyr, Tetap Melanjutkan Shalat Meski Terkena Anak Panah

Selasa 16 Juli 2019 06:00 WIB
Abbad bin Bisyr, Tetap Melanjutkan Shalat Meski Terkena Anak Panah
Ilustrasi shalat
“Ada tiga orang sahabat Anshar yang keutamaannya tidak bisa dilampaui siapapun, yaitu Sa’ad bin Mu’adz, Usaid bin Hudhair, dan Abbad bin Bisyr,” kata Sayyidah Aisyah. 

Abbad bin Bisyr merupakan sahabat Nabi dari kalangan Anshar. Ia merupakan salah seorang sahabat yang ahli ibadah (abid). Abbad masih remaja ketika Islam mulai tersebar di Madinah. Kepada Mush’ab bin Umair, Abbad bin Bisyr belajar Al-Qur’an. Suaranya yang merdu membuat Abbad terkenal sebagai pembaca Al-Qur’an dan imam. 

Di samping itu, Abbad juga sosok yang pemberani. Di begitu cinta kepada Allah dan setia kepada Nabi Muhammad. Maka wajar jika Abbad bin Bisyr selalu ada dan siap siaga manakala Nabi Muhammad membutuhkan seseorang untuk melakukan suatu hal. 

Setelah perang Dzatu Riqa, Nabi Muhammad dan pasukan umat Islam beristirahat di suatu tempat. Pada saat malam tiba, Nabi Muhammad meminta dua sahabatnya menjadi sukarelawan untuk berjaga. Abbad bin Bisyr dari kalangan Anshar dan Ammar bin Yasir dari Muhajirin menyatakan bersedia. Keduanya akan berjaga malam itu, sementara Nabi Muhammad dan pasukan umat Islam lainnya beristirahat,

Ammar bin Yasir memilih untuk berjaga pada awal hingga tengah malam, sedangkan bagian jaga Abbad bin Bisyr dari tengah sampai akhir malam. Ammar langsung berjaga saat itu juga, sementara Abbad –sambil menunggu gilirannya berjaga- melaksanakan shalat beberapa rakaat. Tidak lama setelah itu, mungkin karena kecapekan, Ammar bin Yasir ketiduran. 

Abbad tidak menyadari kalau teman jaganya itu sudah tertidur. Ia terus saja melaksanakan shalat. Hingga akhirnya seorang musuh yang mengintai dan mengawasi mereka tahu kalau pasukan jaga umat Islam tengah lengah. Maka musuh tersebut langsung mengarahkan anak panahnya ke Abbad. Sekali, dua kali, hingga tiga kali anak panah mengenai tubuh Abbad. 

Abbad bergeming, tidak terusik sedikitpun karena shalatnya yang begitu khusuk. Setiap kali anak panah mengenai dirinya, Abbad mencabutnya, melemparkannya, dan kemudian melanjutkan gerakan shalatnya. Setelah selesai shalat, Abbad baru merasakan sakit akibat terkena hujaman anak panah. 

Ia kemudian membangunkan Ammar bin Yasir dan menyuruhnya untuk berjaga. Ammar terkejut melihat Abbad yang bercucuran darah. Ammar 'protes', mengapa temannya itu tidak membangunkannya ketika anak yang pertama menghujamnya. Kalau seandainya itu dilakukan, tentu Abbad tidak terkena banyak anak panah.

“Saat itu aku tengah membaca Surat al-Kahfi. Aku tidak ingin rukuk sebelum menyelesaikan shalat itu. Namun, beberapa anak panah bersusulan menusukku sehingga aku memperpendek bacaan dan rukuk agar bisa segera membangunkanmu,” jawab Abbad bin Bisyr, dalam buku Tertawa Bersama Al-Qur’an, Menangis Bersama Al-Qur’an (Hasan Tasleden, 2014).

“Demi Allah, andai saja aku tidak mengkhawatirkan lembah ini sebagaimana telah diperintahkan Rasulullah, aku tidak akan menyelesaikan shalatku sebelum membaca Surat al-Kahfi seluruhnya,” lanjutnya.

Abbad bin Bisyr gugur dalam perang Yamamah, sebuah peperangan untuk memberantas kaum murtad dan menghilangkan kekacauan yang ditimbulkan Musailamah al-Kadzab pada masa Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq. (Muchlishon)
Share: