IMG-LOGO
Hikmah

Ketika Murid-murid Nabi Isa Hendak Berjalan di Atas Air

Rabu 17 Juli 2019 20:15 WIB
Share:
Ketika Murid-murid Nabi Isa Hendak Berjalan di Atas Air
Dalam kitab al-Zuhd, Imam Ahmad bin Hanbal mencatat riwayat murid-murid Nabi Isa yang hendak meniru gurunya berjalan di atas air. Berikut riwayatnya:

حدثنا عبد الله حدثنا أبي حدثنا بهز حدثنا أبو هلال حدثنا بكر بن عبد الله قال: فقَدَ الحواريون نبيهم عليه السلام فخرجوا يطلبونه قال فوجدوه يمشي علي الماء فقال بعضهم: يا نبي الله أنمشي إليك, قال: نعم, قال فوضع رجله ثم ذهب يضع الأخري فانغمس, فقال: هات يدك يا قصير الإيمان لو أن لابن آدم مثقال حبة أو ذرة من اليقين إذا لمشي علي الماء

Abdullah bercerita, ayahku bercerita, Bahj bercerita, Abu Hilal bercerita, Bakr bin Abdullah bercerita kepada kita, ia berkata:

(Suatu ketika) para hawari (teman atau murid Nabi Isa) tidak menemukan nabinya. Mereka keluar untuk mencarinya. Mereka menemukannya tengah berjalan di atas air. Sebagian dari mereka berkata:

“Ya Nabi Allah, apakah kami (harus) berjalan (di atas air) ke arahmu?”

Nabi Isa menjawab: “Iya.”

Kemudian sebagian hawari itu meletakkan (satu) kakinya (di air) lalu meletakkan kaki lainnya, maka tenggelam lah kaki (mereka).

Nabi Isa berkata (lantang): “Kemarikan tanganmu, wahai orang yang pendek iman! Andai saja anak Adam memiliki keyakinan sebesar biji atau atom, dia pasti (bisa) berjalan di atas air.” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, Kairo: Dar al-Rayyan li al-Turats, 1992, h. 74)

****

Keyakinan memang sukar diukur dari luar. Tidak ada alat yang memungkinkan kita dapat mengukur keyakinan orang lain dengan tepat. Kita hanya bisa memprediksi atau menilainya, tapi tidak mungkin bisa memastikannya. Orang yang paling mengetahui keyakinan adalah orang itu sendiri. Bukan ayah, ibu dan teman-temannya, tapi orang itu sendiri.

Dalam kisah di atas, Nabi Isa ‘alahissalam mengkritik murid-muridnya karena kaki mereka masih tenggelam di dalam air ketika hendak mendatanginya. Ia menyebut mereka, “yâ qashîrul îmân” (wahai orang yang pendek imannya). Penyebutan Nabi Isa ini bukan tanpa alasan. Ada pelajaran besar dari penyebutan tersebut.

Jika diuraikan kira-kira seperti ini. Nabi Isa meyakini betul bahwa kebaikan Allah tidak bisa diukur dengan bahasa pujian tertinggi sekalipun. Misal diucapkan “Yang Maha-Maha-Maha-Maha-Maha” hingga berjuta-juta triliun masih jauh dari kata mendekati. Kebaikan-Nya tidak bisa diistilahkan; kasih sayang-Nya tidak bisa dibahasakan. Allah melebihi segala ukuran yang ada di pikiran dan bahasa manusia.

Dengan kebaikan dan kasih sayang yang teramat besar tersebut, Allah akan mengabulkan setiap keinginan hamba-Nya selama mereka yakin dan pasrah sepenuhnya. Kita tidak sedang bicara “yakin” yang tampak dari luar, atau “yakin” yang sekedar basa-basi karena kita mengaku orang beriman, tapi “yakin” yang murni, yang di dalamnya tidak ada keraguan sedikit pun.

Contoh paling sederhana adalah kisah di atas. Ketika murid atau sahabat Nabi Isa mencoba berjalan di atas air, kaki mereka tenggelam. Mereka tidak bisa menapaki air seperti menapaki bumi. Melihat itu, Nabi Isa tahu di hati mereka masih ada keraguan. Mereka tidak yakin bahwa mereka bisa berjalan di atas air. Padahal dengan izin Allah, tidak ada yang tidak mungkin. 

Yang perlu mereka lakukan hanyalah meminta dengan penuh keyakinan. Tak masalah jika keyakinannya hanya sebesar biji atau atom yang sangat kecil. Selama keyakinan itu murni ketika mereka memintanya, dengan izin Allah tidak ada yang mustahil. Rasulullah pernah bersabda (HR. Imam al-Tirmidzi):

لَا يَرُدُّ الْقَضَاءُ إِلَّا الدُّعَاءُ، وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمُرِ إِلَّا الْبِرُّ

“Tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali doa, dan tidak ada yang bisa menambah umur kecuali perbuatan baik.” (Imam Ibnu Mulaqqin al-Anshari al-Syafi’i, al-Badr al-Munîr fî Takhrîj al-Ahâdîts wa al-Âtsâr al-Wâqi’ah fî al-Syarh al-Kabîr, Riyadh: Dar al-Hijrah, 2004, juz 9, h. 174)

Ini menunjukkan bahwa dengan doa (permintaan/permohonan) seseorang dapat merubah takdirnya. Allah memberikan peluang besar pada manusia untuk meminta segala sesuatu. Selama di hatinya bersemayam keyakinan murni, doanya akan dikabulkan.

Jika kita bicara jujur, kita pasti mengenali ketidak-yakinan kita ketika berdoa. Misalnya ketika kita minta diberikan mobil saat ini juga, atau meminta kemampuan terbang, meskipun lidah dan hati kita mengucapkannya, lubuk hati kita yang terdalam tidak yakin doa itu akan terkabul. Tanpa sadar hati kita berujar, “Apa iya, ya? Tidak mungkin ah,” dan ujaran lainnya. Artinya kita sedang meminta sesuatu yang kita sendiri tak yakin dengan permintaan itu, sedangkan Allah Mahatahu apa yang di langit dan apa yang di bumi; apa yang di lidah dan apa yang di hati. Gerak-gerik terkecil di hati kita pun, Allah mengetahuinya.

Oleh karena itu, selama hati kita diselimuti keraguan, kita tak akan pernah mampu mencapai apa yang kita minta sendiri. Sebab itu Nabi Isa mengatakan: “Andai saja anak Adam memiliki keyakinan sebesar biji atau atom, dia pasti (bisa) berjalan di atas air.” 

Ya, Nabi Isa memang berkata seperti itu. Mungkin ada sebagian orang yang tidak mempercayainya, silahkan. Yang jelas, jika menghidupkan orang mati saja bisa dilakukan (dengan izin Allah), apalagi sekedar membuat murid-muridnya berjalan di atas air. Lagi pula, keyakinan Nabi Isa kepada Allah tidak lagi menyisakan sedikit pun keraguan di hatinya.

Pertanyaannya, pernahkah sekali saja kita yakin bahwa Allah pasti mengabulkan doa kita?

Wallahu a’lam bish shawwab.


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Share:
Selasa 16 Juli 2019 6:0 WIB
Abbad bin Bisyr, Tetap Melanjutkan Shalat Meski Terkena Anak Panah
Abbad bin Bisyr, Tetap Melanjutkan Shalat Meski Terkena Anak Panah
Ilustrasi shalat
“Ada tiga orang sahabat Anshar yang keutamaannya tidak bisa dilampaui siapapun, yaitu Sa’ad bin Mu’adz, Usaid bin Hudhair, dan Abbad bin Bisyr,” kata Sayyidah Aisyah. 

Abbad bin Bisyr merupakan sahabat Nabi dari kalangan Anshar. Ia merupakan salah seorang sahabat yang ahli ibadah (abid). Abbad masih remaja ketika Islam mulai tersebar di Madinah. Kepada Mush’ab bin Umair, Abbad bin Bisyr belajar Al-Qur’an. Suaranya yang merdu membuat Abbad terkenal sebagai pembaca Al-Qur’an dan imam. 

Di samping itu, Abbad juga sosok yang pemberani. Di begitu cinta kepada Allah dan setia kepada Nabi Muhammad. Maka wajar jika Abbad bin Bisyr selalu ada dan siap siaga manakala Nabi Muhammad membutuhkan seseorang untuk melakukan suatu hal. 

Setelah perang Dzatu Riqa, Nabi Muhammad dan pasukan umat Islam beristirahat di suatu tempat. Pada saat malam tiba, Nabi Muhammad meminta dua sahabatnya menjadi sukarelawan untuk berjaga. Abbad bin Bisyr dari kalangan Anshar dan Ammar bin Yasir dari Muhajirin menyatakan bersedia. Keduanya akan berjaga malam itu, sementara Nabi Muhammad dan pasukan umat Islam lainnya beristirahat,

Ammar bin Yasir memilih untuk berjaga pada awal hingga tengah malam, sedangkan bagian jaga Abbad bin Bisyr dari tengah sampai akhir malam. Ammar langsung berjaga saat itu juga, sementara Abbad –sambil menunggu gilirannya berjaga- melaksanakan shalat beberapa rakaat. Tidak lama setelah itu, mungkin karena kecapekan, Ammar bin Yasir ketiduran. 

Abbad tidak menyadari kalau teman jaganya itu sudah tertidur. Ia terus saja melaksanakan shalat. Hingga akhirnya seorang musuh yang mengintai dan mengawasi mereka tahu kalau pasukan jaga umat Islam tengah lengah. Maka musuh tersebut langsung mengarahkan anak panahnya ke Abbad. Sekali, dua kali, hingga tiga kali anak panah mengenai tubuh Abbad. 

Abbad bergeming, tidak terusik sedikitpun karena shalatnya yang begitu khusuk. Setiap kali anak panah mengenai dirinya, Abbad mencabutnya, melemparkannya, dan kemudian melanjutkan gerakan shalatnya. Setelah selesai shalat, Abbad baru merasakan sakit akibat terkena hujaman anak panah. 

Ia kemudian membangunkan Ammar bin Yasir dan menyuruhnya untuk berjaga. Ammar terkejut melihat Abbad yang bercucuran darah. Ammar 'protes', mengapa temannya itu tidak membangunkannya ketika anak yang pertama menghujamnya. Kalau seandainya itu dilakukan, tentu Abbad tidak terkena banyak anak panah.

“Saat itu aku tengah membaca Surat al-Kahfi. Aku tidak ingin rukuk sebelum menyelesaikan shalat itu. Namun, beberapa anak panah bersusulan menusukku sehingga aku memperpendek bacaan dan rukuk agar bisa segera membangunkanmu,” jawab Abbad bin Bisyr, dalam buku Tertawa Bersama Al-Qur’an, Menangis Bersama Al-Qur’an (Hasan Tasleden, 2014).

“Demi Allah, andai saja aku tidak mengkhawatirkan lembah ini sebagaimana telah diperintahkan Rasulullah, aku tidak akan menyelesaikan shalatku sebelum membaca Surat al-Kahfi seluruhnya,” lanjutnya.

Abbad bin Bisyr gugur dalam perang Yamamah, sebuah peperangan untuk memberantas kaum murtad dan menghilangkan kekacauan yang ditimbulkan Musailamah al-Kadzab pada masa Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq. (Muchlishon)
Senin 15 Juli 2019 20:0 WIB
Kala Mbah Dullah-Mbah Liem Ziarah ke Makam Syekh Mutamakkin
Kala Mbah Dullah-Mbah Liem Ziarah ke Makam Syekh Mutamakkin
Mbah Lim Klaten dan Mbah Dullah Kajen (@hamdan_ali26)
KH Abdullah Zain Salam (Mbah Dullah) Kajen, Pati, Jawa Tengah dikenal sebagai seorang kiai yang begitu tawadhu (rendah hati). Dia selalu ‘menempatkan dirinya lebih rendah’ dibandingkan orang lain dan merasa dirinya penuh kekurangan sehingga tidak layak untuk dimuliakan. Padahal orang-orang tahu, Mbah Dullah adalah kiai yang alim dan bahkan dianggap sebagai 'wali'.
 
Ketawadhuan Mbah Dullah tercermin sepanjang hidupnya. Bahkan sebelum wafat, Mbah Dullah berpesan agar berita wafatnya tidak diumumkan kepada khalayak ramai. Alasan yang dikemukakan Mbah Dullah penuh dengan ketawadhuan. Yakni dia malu apabila orang ramai-ramai menshalatinya sementara dirinya belum tentu termasuk dari golongan orang-orang baik.

“Kalau saya meninggal kelak, tak usah diumumkan ke mana-mana. Jangan sampai terjadi orang bergiliran, rombongan demi rombongan melakukan shalat jenazah. Saya malu terhadap perlakuan semacam itu karena belum tentu saya termasuk golongan orang-orang baik,” kata Mbah Dullah kepada putranya.

Ada ‘kisah menarik’ terkait dengan ketawadhuan Mbah Dullah. Merujuk buku Keteladanan KH Abdullah Zain Salam (Jamal Ma’mur Asmani, 2018), suatu hari Mbah Dullah dan KH Muslim Rifai Imampuro (Mbah Lim) Klaten berziarah ke makam Syekh Ahmad Mutamakkin di Kajen. Sesampai di makam, tahlil tidak langsung dilaksanakan. Terjadi ‘perdebatan kecil’ diantara keduanya terkait siapa yang menjadi imam tahlil. Mbah Dullah merasa Mbah Lim lah yang seharusnya memimpin tahlil. Sementara Mbah Lim berpikir sebaliknya.

Setelah menolak beberapa kali, Mbah Dullah akhirnya menjadi imam tahlil dan Mbah Lim makmumnya. Orang tahu bahwa suara Mbah Dullah lembut dan lambat, sementara suara Mbah Lim keras, lantang, dan cepat. Ketika sampai pada kalimat thayyibah, La Ilaha Illa Allah, maka secara tidak langsung kendali imam tahlil berpindah ke 'tangan Mbah Lim' –mengingat suaranya yang lantang. 

Mbah Dullah tidak menghentikan bacaan tahlil karena merasa Mbah Lim lah yang ketika itu menjadi imam tahlil. Begitu pun Mbah Lim. Dia mengira kalau pimpinan tahlil masih Mbah Dullah. Setelah berjalan selama satu jam, akhirnya Mbah Lim mengakhiri tahlil. Hal itu dilakukan karena tidak ada tanda-tanda Mbah Dullah akan mengakhirinya. Setelah kejadian itu, Mbah Dullah tetap memosisikan diri sebagai makmum tahlil, meskipun di awal Mbah Dullah lah yang memimpin tahlil.

Kejadian serupa terjadi ketika Mbah Lim berkunjung ke Ndalem Mbah Dullah di akhir tahun 1999-an. Ketika itu, Mbah Lim meminta doa kepada Mbah Dullah sebelum dirinya pulang ke Klaten. Lagi-lagi Mbah Dullah menolak permintaan Mbah Lim. Dia meminta Mbah Lim saja yang memimpin doa. Singkat cerita, keduanya mengangkat tangan untuk berdoa. Mbah Lim menganggap Mbah Dullah sedang memanjatkan doa sehingga dirinya mengangkat tangan untuk mengamini. Sementara Mbah Dullah merasa sebaliknya. Mbah Lim lah yang memimpin doa. 

Hingga 40 menit berlangsung, keduanya masih mengangkat tangan. Belum ada tanda-tanda doa akan diakhiri karena memang masing-masing menganggap kalau dirinya bukan lah pemimpin doa. Lima menit kemudian, Mbah Lim menutup doa dengan bacaan al-Fatihah karena pada saat itu adzan Ashar sudah berkumandang. Jadi Mbah Dullah dan Mbah Lim mengangkat tangan untuk berdoa selama 45 menit ‘tanpa tahu’ siapa sesungguhnya yang memimpin doa.

Tidak lain, itu karena sikap tawadhu keduanya. Masing-masing merasa dirinya ‘tidak layak’ memimpin karena menganggap ada orang lain yang lebih layak. Padahal semua tahu kalau kealiman dan keshalihan keduanya tidak perlu diragukan lagi. Begitu lah sikap tawadhu yang ditampilkan Mbah Dullah dan Mbah Lim. (Muchlishon)
Selasa 9 Juli 2019 13:0 WIB
Saat Umar bin Khattab 'Menjadi Penyebab' Seorang Perempuan Hamil Keguguran
Saat Umar bin Khattab 'Menjadi Penyebab' Seorang Perempuan Hamil Keguguran
Ilustrasi Sayyidina Umar in Khattab
Pada masa pemerintahan Amirul Mukminin Sayyidina Umar bin Khattab, ada seorang perempuan hamil yang ditinggal suaminya. Sang suami pergi entah kemana setelah menghamili perempuan itu. Naasnya, perempuan hamil itulah yang disalahkan kaumnya. Melihat kejadian itu, Sayyidina Umar bin Khattab kemudian mengutus seseorang untuk menemui dan mengundang perempuan itu agar menghadapnya.

Perempuan itu datang memenuhi undangan Sayyidina Umar bin Khattab dengan berat hati. Dia takut dan khawatir untuk bertemu dengan Sayyidina Umar. Ia berpikir apa yang salah dengan dirinya sehingga harus berurusan Sang Khalifah. Di tengah jalan, perempuan hamil tersebut merasakan mulas. Ia kemudian mampir di sebuah rumah dan tidak lama berselang melahirkan. Sayangnya, si jabang bayi meninggal dunia setelah menjerit dua kali.

Sayyidina Umar bin Khattab langsung mengumpulkan pejabat-pejabatnya setelah mendengar kabar perempuan tersebut keguguran dalam perjalanan untuk menghadapnya. Ia mengajak para sahabatnya berdiskusi guna menyelesaikan persoalan tersebut. Ada yang berpendapat kalau Sang Khalifah tidak bersalah atas kegugurannya perempuan itu. Alasannya, Sang Khalifah hanya berniat mendidik perempuan itu dan melaksanakan tugas kepemimpinannya.

Sayyidina Umar mendengarkan usulan dan pendapat para pejabatnya satu per satu. Hingga akhirnya ia tersadar bahwa pada saat itu Sayyidina Ali bin Abi Thalib hanya terdiam saja, tidak ikut berbicara mengemukakan pendapatnya. Maka kemudian Sayyidina Umar menghadap Sayyidina Ali dan meminta pendapatnya terkait dengan persoalan di atas.

“Kalau itu memang pendapat mereka pribadi, maka pendapat mereka itu keliru. Sedangkan kalau mereka berpendapat demikian untuk menyenangkanmu, berarti mereka tidak tulus kepadamu,” kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengawali pembicaraannya, seperti dikutip buku Hayatush Shahabah (Syaikh Muhammad Yusuf al-Kandahlawi, 2019).

Sayyidina Ali bin Abi Thalib kemudian melanjutkan pendapatnya. Ia menilai kalau dalam hal itu Sayyidina Umar bersalah karena telah membuat perempuan tersebut ketakutan hingga terjadi keguguran padanya. Oleh karena itu, Sayyidina Ali menyatakan bahwa Sang Khalifah harus membayar diyat kepada perempuan itu. Diyat dimaksudkan sebagai ganti rugi atas pembunuhan tanpa sengaja.

Sang Khalifah akhirnya mengambil pendapat Sayyidina Ali. Karena pada saat itu tidak punya uang, maka ia memerintahkan Sayyidina Ali agar menagih utangnya dari Quraisy untuk membayar diyat kepada perempuan yang keguguran itu. (Muchlishon)