IMG-LOGO
Haji, Umrah, dan Kurban

Saat Berhadats di Pertengahan Tawaf

Kamis 18 Juli 2019 15:0 WIB
Share:
Saat Berhadats di Pertengahan Tawaf
Tawaf merupakan salah satu ritual yang identik dengan pelaksanaan haji dan umrah. Perintah tawaf ditegaskan langsung dalam firman Allah subhanahu wata’ala:

وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

“Dan betawaflah mereka di baitullah yang kuno,” (QS. Al-Hajj: 29).

Ada lima jenis tawaf yang dikenal dalam bab manasik. Tawaf ifadlah, tawaf qudum, tawaf wada’, tawaf sunnah, dan tawaf umrah. Tawaf dilakukan sebanyak tujuh kali putaran dimulai dari hajar aswad hingga mengelilingi seluruh bagian Ka’bah.

Tawaf harus dilakukan dalam keadaan suci. Problem muncul saat di pertengahan tawaf, jamaah haji mengalami hadats, semisal kentut atau bersentuhan kulit dengan lawan jenis bukan mahram. Pertanyaannya kemudian, setelah kembali dari bersuci, apakah jamaah haji wajib memulai putaran tawaf dari awal? Atau cukup melanjutkan putaran tawaf yang didapat?

Tawaf memiliki kesamaan dengan shalat dari sisi pelaksanaannya yang mensyaratkan keadaan suci (dari hadats dan najis) dan menutup aurat. Ketentuan ini berlandaskan pada beberapa hadits Nabi, di antaranya:

أنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ لِعَائِشَةَ لَمَّا حَاضَتْ وَهِيَ مُحْرِمَةٌ اصْنَعِي مَا يَصْنَعُ الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لَا تَطُوفِي بِالْبَيْتِ حَتَّى تَغْتَسِلِي

“Bahwa Nabi berkata kepada Aisyah saat ia haidl dan tengah berihram; lakukanlah apa yang dilakukan orang berhaji, hanya engkau tidak diperkenankan tawaf di baitullah hingga engkau mandi,” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

 الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ صَلَاةٌ إِلَّا أَنَّ اللهَ تَعَالَى أَحَلَّ لَكُمْ فِيهِ الْكَلاَمَ فَمَنْ تَكَلَّمَ فَلَا يَتَكَلَّمْ إِلَّا بِخَيْرٍ رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَقَالَ صَحِيْحُ الْإِسْنَادِ

“Tawaf di baitullah seperti shalat, hanya Allah di dalamnya menghalalkan bagi kalian berbicara. Barangsiapa berbicara, maka janganlah berbicara kecuali kebaikan,” (HR. al-Hakim, beliau berkata hadits ini sahih sanadnya).

Bila di pertengahan tawaf jamaah haji berhadats, maka tawaf harus dihentikan untuk sementara. Jamaah haji berkewajiban untuk berwudhu terlebih dahulu. Setelah kembali dari bersuci, cukup melanjutkan putaran tawaf yang telah dilakukan. Semisal sudah mendapat empat kali putaran, maka cukup menambah tiga kali putaran lagi tanpa perlu mengulang tawaf dari awal. Hal ini baik pemisah waktu antara bersuci dan pelaksanaan tawaf lama atau sebentar.

Ketentuan ini juga berlaku dalam kasus terkena najis atau terbukanya aurat di pertengahan tawaf, setelah auratnya kembali tertutup atau najisnya dihilangkan, cukup melanjutkan bilangan tawaf yang didapat.

Kasus ini berbeda dengan shalat, di mana saat berhadats di pertengahan shalat, wajib mengulangi shalatnya dari awal setelah kembali suci. Ulama fiqih menjelaskan terdapat perbedaan yang mendasar antara shalat dan tawaf, bahwa shalat memiliki lebih banyak aktivitas yang dilarang, seperti gerakan-gerakan yang berat atau berbicara. Berbeda dengan tawaf yang lebih ringan ketentuannya, di mana hal-hal tersebut diperbolehkan saat melakukan tawaf.

Syekh Zakariyya al-Anshari menegaskan:

 ـ (فَلَوْ أَحْدَثَ أَوْ تَنَجَّسَ) بَدَنُهُ أَوْ ثَوْبُهُ أَوْ مَطَافُهُ بِنَجَسٍ غَيْرِ مَعْفُوٍّ عَنْهُ (أَوْ عَرِيَ) مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى السَّتْرِ فِي أَثْنَاءِ الطَّوَافِ (تَطَهَّرَ وَسَتَرَ) عَوْرَتَهُ وَبَنَى عَلَى طَوَافِهِ وَلَوْ تَعَمَّدَ ذَلِكَ بِخِلَافِ الصَّلَاةِ إذْ يُحْتَمَلُ فِيهِ مَا لَا يُحْتَمَلُ فِيهَا كَكَثِيرِ الْفِعْلِ وَالْكَلَامِ سَوَاءٌ أَطَالَ الْفَصْلُ أَمْ قَصُرَ لِعَدَمِ اشْتِرَاطِ الْمُوَالَاةِ فِيهِ كَالْوُضُوءِ لِأَنَّ كُلًّا مِنْهُمَا عِبَادَةٌ يَجُوزُ أَنْ يَتَخَلَّلَهَا مَا لَيْسَ مِنْهَا بِخِلَافِ الصَّلَاةِ 

“Bila berhadats atau terkena najis, baik badan, pakaian atau tempat tawafnya dengan najis yang tidak dimaafkan, atau telanjang besertaan mampu menutup aurat di pertengahan tawaf, maka bersucilah dan tutuplah auratnya. Dan meneruskan (bilangan) tawafnya, meski dilakukan secara sengaja. Berbeda dengan shalat, sebab dimaafkan di dalam tawaf sesuatu yang tidak dimaafkan di dalam shalat seperti gerakan yang banyak dan berbicara, baik pemisahnya lama atau pendek, sebab tidak disyaratkan berkesinambungan di dalam tawaf seperti wudhu, sebab masing-masing dari keduanya merupakan ibadah yang diperbolehkan diselingi dengan aktivitas yang tidak berhubungan dengannya, berbeda dengan shalat,” (Syekh Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, juz 3, hal. 180).

Namun demikian, dalam persoalan ini sebaiknya jamaah haji memulai putaran tawaf dari awal setelah kembali suci, supaya bisa keluar dari perbedaan ulama yang mewajibkan memulai putaran tawaf. Di antara ulama yang mewajibkan memulai putaran tawaf dari awal saat berhadats di pertengahan tawaf adalah ulama mazhab Maliki. Anjuran ini berdasarkan kaidah fiqih “keluar dari perbedaan pendapat ulama disunnahkan”.

Syekh Zakariyya al-Anshari berkata:

ـ (وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَسْتَأْنِفَ) الطَّوَافَ خُرُوجًا مِنْ خِلَافِ مَنْ أَوْجَبَ الِاسْتِئْنَافَ 

“Disunnahkan memulai tawaf, karena keluar dari perbedaan ulama yang mewajibkan memulai tawaf,” (Syekh Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, juz 3, hal. 180).

Demikian penjelasan yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat.


Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pondok Pesantren Raudlatul Quran, Geyongan, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat.

Share:
Rabu 17 Juli 2019 14:30 WIB
Lafal Salam di Makam Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidna Umar
Lafal Salam di Makam Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidna Umar
Ketika ziarah di makam Rasulullah, jamaah haji dan peziarah seyogianya tidak melupakan dua sahabat Rasulullah SAW, yaitu Sayidina Abu Bakar As-Shiddiq dan Sayyidina Umar bin Khattab yang dimakamkan di samping nya. Mereka dianjurkan untuk menyalami kedua sahabat terbaik Rasulullah.

Berikut ini lafal salam kepada Sayidina Abu Bakar As-Shiddiq RA yang dapat dibaca peziarah.

السَلَامُ عَلَيْكَ يَا أَبَا بَكْرٍ

Assalāmu alaika yā Abā Bakrin

السَلَامُ عَلَيْكَ يَا خَلِيْفَةَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَفِيَّهِ وَثَانِيَهِ فِي الغَارِ

Assalāmu alaika yā Khalīfata Rasūlillāh wa Shafiyyahū wa tsāniyahū fil ghār.

جَزَاكَ اللهُ عَنْ أُمَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرًا

Jazākallāhu ‘an ummati Rasūlillāhi shallallāhu ‘alaihi wa sallama khairan.

Sedangkan lafal salam kepada Sayyidina Umar bin Khattab RA adalah sebagai berikut:

السَلَامُ عَلَيْكَ يَا أَمِيْرَ المُؤْمِنِيْنَ٬ عُمَرُ الفَارُوْقُ٬ الَّذِيْ أَعَزَّ اللهُ بِهِ الإِسْلَامَ

Assalāmu alaika yā Amīral Mukminīn, Umarul Fārūq, alladzī a‘azzallāhu bihil Islām.

جَزَاكَ اللهُ عَنْ أُمَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرًا

Jazākallāhu ‘an ummati Nabiyyihī shallallāhu ‘alaihi wa sallama khairan.

Lafal salam ini dikutip dari Kitab Nihayatuz Zain karya Syekh M Nawawi Banten. Lafal alternatif ini dapat digunakan oleh peziarah untuk berucap salam kepada kedua sahabat mulia Rasulullah SAW.

ثم يتحول إلى جهة يمينه قدر ذراع للسلام على أبي بكر رضي الله عنه لأن رأسه عند منكب رسول الله صلى الله عليه وسلم فيقول السلام عليك يا أبا بكر السلام عليك يا خليفة رسول الله صلى الله عليه وسلم وصفيه وثانيه في الغار جزاك الله عن أمة رسول الله صلى الله عليه وسلم خيرا ثم يتحول إلى جهة يمينه قدر ذراع للسلام على عمر رضي الله عنه لأن رأسه عند منكب أبي بكر رضي الله عنه فيقول السلام عليك يا أمير المؤمنين عمر الفاروق الذي أعز الله به الإسلام جزاك الله عن أمة نبيه صلى الله عليه وسلم خيرا

Artinya, “Kemudian peziarah berpaling ke arah kanan sekira sehasta untuk mengucap salam kepada Sayyidina Abu Bakar RA karena posisi kepala Sayyidina Abu Bakar RA sejajar dengan posisi bahu Rasulullah SAW. Peziarah lalu membaca, ‘Assalāmu alaika yā Abā Bakrin. Assalāmu alaika yā Khalīfata Rasūlillāh wa Shafiyyahū wa tsāniyahū fil ghār. Jazākallāhu ‘an ummati Rasūlillāhi shallallāhu ‘alaihi wa sallama khairan.’ Peziarah kemudian berpindah ke arah kanannya sekira sehasta untuk mengucap salam kepada Sayyidina Umar RA karena posisi kepala Sayyidina Umar RA sejajar dengan posisi bahu Sayyidina Abu Bakar RA. Ia kemudian mengucap, ‘Assalāmu alaika yā Amīral Mukminīn, Umarul Fārūq, alladzī a‘azzallāhu bihil Islām. Jazākallāhu ‘an ummati Nabiyyihī shallallāhu ‘alaihi wa sallama khairan,’” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, [Bandung, Al-Ma’arif: tanpa catatan tahun], halaman 219).

Para peziarah makam Rasulullah dan kedua sahabatnya dapat menggunakan lafal salam lain yang memiliki makna serupa dengan makna lafal salam di atas. Semoga lafal ini bermanfaat bagi paziarah. Wallahu a'lam. (Alhafiz K)
Rabu 17 Juli 2019 8:15 WIB
Lafal Titip Salam untuk Rasulullah
Lafal Titip Salam untuk Rasulullah
(Foto: dream)
Tidak sedikit sahabat dan kerabat yang menitip salamnya kepada jamaah haji atau umrah untuk Rasulullah SAW. Mereka menitipkan amanatnya untuk disampaikan oleh jamaah haji ketika berada di makam Rasulullah SAW, Madinah.

Jamaah haji atau jamaah umrah yang mendapatkan amanat tersebut dapat menggunakan lafal berikut ini:

السَلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللهِ مِنْ فُلَانٍ بْنِ فُلَانٍ

As-salāmu ‘alayka yā rasūlallāh min fulān ibni fulān (sebut nama kerabat dan sahabat yang menitipkan salamnya).

Artinya, “Sejahtera atasmu wahai Rasulullah dari si fulan bin fulan (sebut nama kerabat dan sahabat yang menitipkan salamnya).”

Salam tersebut merupakan lafal alternatif yang disarankan oleh Syekh M Nawawi Banten sebagaimana keterangannya dalam Kitab Nihayatuz Zain.

Jamaah haji dan umrah dapat menggunakan lafal lain dengan makna serupa, dan jamaah haji juga dapat menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerahnya dalam menyampaikan salam sahabat atau kerabatnya.

ثم إن كان أحد أوصاه بالسلام فليقل السلام عليك يا رسول الله من فلان بن فلان أو نحو هذا

Artinya, “Jika seseorang menitip salam kepada jamaah haji atau umrah, maka ia di makam Rasulullah mengucap, ‘As-salāmu ‘alayka yā rasūlallāh min fulān ibni fulān,’ atau lafal salam dengan makna serupa,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, [Bandung, Al-Ma’arif: tanpa catatan tahun], halaman 219).

Lafal ini tentu saja dibaca setelah jamaah haji mengucapkan salamnya sendiri untuk Rasulullah. Lafal ini dibaca dengan konsentrasi ketika jamaah haji duduk sekira tiga hasta dari tembok sambil memandang penuh takzim makam Rasulullah lalu memejamkan mata jika memungkinkan posisi tersebut.

فإنه صلى الله عليه وسلم يسمع ويعلم وقوفك بين يديه

Artinya, “Rasulullah mendengar suaramu dan mengetahui keberadaanmu di dekatnya,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, [Bandung, Al-Ma’arif: tanpa catatan tahun], halaman 219).

Adapun salam jamaah haji, jamaah umrah, atau peziarah makam Rasulullah dapat mengucapkan lafal salam berikut ini:

السَلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللهِ

Assalāmu alaika yā Rasūlallāh.

السَلَامُ عَلَيْكَ يَا نَبِيَّ اللهِ

Assalāmu alaika yā Nabiyyallāh.

السَلَامُ عَلَيْكَ يَا حَبِيْبَ اللهِ

Assalāmu alaika yā Habīballāh.

السَلَامُ عَلَيْكَ يَا صَفْوَةَ اللهِ

Assalāmu alaika yā Shafwatallāh.

السَلَامُ عَلَيْكَ يَا سَيِّدَ المُرْسَلِيْنَ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ

Assalāmu alaika yā Sayyidal mursalīnat thayyibīnat thāhirīn.

السَلَامُ عَلَيْكَ وَعَلَى أَزْوَاجِكَ الطَّاهِرَاتِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ

Assalāmu alaika wa ‘alā azwājikat thāhirāt ummahātil mukminīn.

السَلَامُ عَلَيْكَ وَعَلَى أَصْحَابِكَ أَجْمَعِيْنَ

Assalāmu alaika wa ‘alā ashhābika ajma‘īn.

السَلَامُ عَلَيْكَ وَعَلَى الأَنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِيْنَ وَسَائِرِ عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ

Assalāmu alaika wa ‘alal anbiyā’I wal mursalīn, wa sā’iri ‘ibādillāhis shālihīn.

السَلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

Assalāmu alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullāhi wa barakātuh.

Semua lafal salam ini dikutip dari Kitab Nihayatuz Zain karya Syekh M Nawawi Banten. Wallahu a'lam. (Alhafiz K)
Selasa 16 Juli 2019 5:0 WIB
Niat Badal Umrah
Niat Badal Umrah
foto: setkab.go
Sejumlah lembaga menyediakan layanan badal haji dan umrah untuk masyarakat yang memerlukan jasa tersebut. Lembaga ini menjalankan praktik peribadatan haji dan umrah seorang jamaah yang dibadalkan.

Badal haji atau umrah dapat dilakukan dengan syarat orang yang membadalkan sudah pernah menjalankan ibadah haji dan orang yang dibadalkan sudah uzur baik karena sakit, renta/lansia, atau wafat seperti keterangan riwayat hadits berikut ini:

 أن النبي صلى الله عليه وسلم سمع رجلا يقول لبيك عن شبرمة، فقال: من شبرمة؟ قال: أخ لي أو قريب لي، قال: حججت عن نفسك؟ قال: لا، قال: حج عن نفسك ثم حج عن شبرمة

Artinya, “Rasulullah SAW mendengar seorang sahabat melafalkan talbiyah, ‘Labbayka untuk Syabramah.’ Ia bertanya, ‘Syabramah siapa?’ ‘saudara atau kerabatku,’ kata orang tersebut. ‘Kau sudah berhaji?’ ‘Belum,’ jawabnya. ‘Kau sendiri harus berhaji terlebih dahulu, kemudian boleh membadalkan,’” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Dalam pembadalan haji atau umrah, semua ketentuan ibadah keduanya berlaku, termasuk anjuran pelafalan niat badal haji atau badal umrah. Pelafalan niat dianjurkan untuk kemantapan niat di dalam hati.

ويستحب التلفظ بالنية التي يريدها مما مر، لتأكد ما في القلب كسائر العبادات فيقول بقلبه وجوبا وبلسانه ندبا

Artinya, “(Jamaah) dianjurkan untuk melafalkan niat ibadah (haji atau umrah) yang dia kehendaki sebagaimana penjelasan telah lalu untuk memantapkan hatinya, sebagaimana ibadah yang lain. Ia wajib menyatakan niat dalam hatinya, dan sunah melafalkan dengan lisannya,” (Lihat Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim, [Beirut, Darul Fikr: 1433-1434 H/2012 M], juz II, halaman 517).

Adapun berikut ini adalah lafal niat badal umrah yang dapat dibaca oleh lembaga atau relawan yang akan melaksanakan badal umrah orang lain:

نَوَيْتُ العُمْرَةَ عَنْ فُلَانٍ وَأَحْرَمْتُ بِهِ للهِ تَعَالَى

Nawaytul ‘umrata ‘an fulān (sebut nama jamaah umrah yang dibadalkan) wa ahramtu bihī lillāi ta‘ālā.

Artinya, “Aku menyengaja ibadah umrah untuk si fulan (sebut nama jamaah yang dibadalkan) dan aku ihram umrah karena Allah ta‘ala.”

Sementara berikut ini adalah lafal alternatif niat badal umrah: 

نَوَيْتُ العُمْرَةَ وَأَحْرَمْتُ بِهِ للهِ تَعَالَى عَنْ فُلَانٍ

Nawaytul ‘umrata wa ahramtu bihī lillāi ta‘ālā ‘an fulān (sebut nama jamaah umrah yang dibadalkan).

Artinya, “Aku menyengaja ibadah umrah dan aku ihram umrah karena Allah ta‘ala untuk si fulan (sebut nama jamaah yang dibadalkan).”

Lafal niat badal umrah ini dapat ditarik dari keterangan Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin dalam karyanya Busyral Karim.

وإن حج أو اعتمر عن غيره قال نويت الحج أو العمرة عن فلان وأحرمت به لله تعالى ولو أخر لفظ عن فلان عن وأحرمت به لم يضر على المعتمد إن كان عازما عند نويت الحج مثلا أن يأتي به وإلا وقع للحاج نفسه 

Artinya, “Jika seseorang melaksanakan ibadah haji atau umrah untuk membadalkan orang lain, maka ia mengatakan, ‘Nawaytul hajja awil ‘umrata ‘an fulān wa ahramtu bihī lillāi ta‘ālā.’ Tetapi jika ia meletakkan kata ‘an fulān’ setelah kata ‘wa ahramtu bihī,’ maka tidak masalah menurut pandangan muktamad dengan catatan ia merencanakan pelafalannya di akhir. Tetapi jika tidak bermaksud melafalkannya, maka ibadah haji atau umrah yang dia lakukan jatuh untuk dirinya, (bukan untuk jamaah yang dibadalkannya),” (Lihat Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim, [Beirut, Darul Fikr: 1433-1434 H/2012 M], juz II, halaman 517).

Semoga lafal niat badal umrah ini membantu atau setidaknya mengingatkan lembaga, keluarga, atau relawan yang membadalkan umrah orang lain. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)