IMG-LOGO
Tafsir

FaceApp dan Tafsir Surat An-Nisa ayat 119

Senin 22 Juli 2019 0:45 WIB
Share:
FaceApp dan Tafsir Surat An-Nisa ayat 119
Foto: okezone
Kecanggihan teknologi visual saat ini memungkinkan orang masa kini untuk melihat wajah di zaman tertentu melalui aplikasi rekayasa foto atau FaceApp. Melalui aplikasi ini, seseorang dapat melihat simulasi wajahnya di usia tertentu dengan rekayasa digital aplikasi tersebut.
 
Aplikasi rekayasa foto wajah ini kemudian digunakan banyak masyarakat di pelbagai belahan dunia untuk misalnya memenuhi rasa penasaran bentuk wajahnya seperti apa di usia senja kelak. Sebagian orang menggunakan aplikasi ini hanya untuk sekadar bermain.
 
Namun, ketika penggunaan aplikasi ini dianggap tampak biasa sebagaimana penggunaan aplikasi digital lainnya, masyarakat Indonesia dikejutkan oleh berita yang menyebutkan larangan Islam atas penggunaan FaceApp karena dianggap mengubah ciptaan Allah dengan kutipan Surat An-Nisa ayat 119. Surat An-Nisa ayat 119 dijadikan dasar larangan penggunaan FaceApp karena pengubahan ciptaan Allah dalam surat tersebut merupakan perintah setan.
 
Adapun potongan Surat An-Nisa ayat 119 berbunyi “Falayughayyirunna khalqallāh,” (Lalu mereka mengubah ciptaan Allah). Petikan dari Surat An-Nisa ayat 119 ini dijadikan dasar pengharaman oleh alumnus tersebut atas penggunaan FaceApp.
 
Berikut ini adalah kutipan lengkap Surat An-Nisa ayat 119:
 
وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الْأَنْعَامِ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا
 
Artinya, “’Dan aku [setan] benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya.’ Barang siapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sungguh ia mengalami kerugian yang nyata.”
 
Secara harfiah, Surat An-Nisa ayat 119 diterjemahkan demikian. Tetapi pada kesempatan ini kita akan mengangkat dua tafsir atas Surat An-Nisa ayat 119, yaitu At-Tafsirul Wajiz karya Syekh Wahbah Az-Zuhaily dan Mahasinut Ta’wil karya Syekh Jamaluddin Al-Qasimi.
 
Menurut Syekh Wahbah Az-Zuhaily, pengubahan ciptaan Allah yang dilarang agama berupa organ fisik manusia sesuai fitrahnya dan nilai-nilai kebaikan.
 
ولآمرنهم بتغيير الفطرة التي فطروا عليها تغييرا ماديا كخصاء الآدميين أو معنويا كالانغماس في الشر 
 
Artinya, “Kami [setan] akan memerintahkan mereka [manusia] untuk mengubah fitrah yang telah ditetapkan untuk mereka, baik secara material, yaitu mengebiri manusia maupun secara nilai, yaitu tenggelam dalam kejahatan,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhaily, At-Tafsirul Wajiz, [Damaskus, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan kedua, halaman 98).
 
Adapun Syekh Jamaluddin Al-Qasimi menafsirkan “ciptaan Allah” dengan mengutip sejumlah tafsir. Menurutnya, “ciptaan Allah” yang dimaksud adalah agama Allah sebagaimana penafsiran sahabat Ibnu Abbas dan banyak ahli tafsir.
 
Pandangan ini didukung oleh Surat Ar-Rum ayat 30 yang menyebut agama-Nya sebagai fitrah manusia dan ciptaan Allah dan hadits riwayat Bukhari serta Muslim bahwa setiap manusia terlahir dalam kondisi fitrah, yaitu Islam, tetapi kemudian diubah oleh orang tuanya [lingkungan] menjadi agama lain.
 
قوله (وَلآمُرَنّهُمْ فَلَيُغَيّرُنّ خَلْقَ اللّهِ) أي : دين الله عز وجل ، ورواه ابن أبي حاتم عن ابن عباس وكثيرين
 
Artinya, “(Aku [setan] akan memerintahkan mereka [manusia] untuk mengubah ciptaan Allah) maksudnya agama Allah sebagaimana riwayat Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Abbas dan banyak ahli tafsir,” (Lihat M Jamaluddin Al-Qasimi, Tafsirul Qasimi atau Mahasinut Ta‘wil, [tanpa catatan kota dan tahun], cetakan pertama, juz V, halaman 1568).
 
Syekh Jamaluddin Al-Qasimi juga mengutip pandangan ulama tafsir lain yang menyebutkan bahwa pengubahan ciptaan Allah atau fitrah Allah untuk manusia itu berupa pengubahan organ fisik manusia dan juga hewan yaitu praktik kebiri.
 
Meski demikian, pengubahan organ fisik manusia yang diperintahkan setan itu tidak berlaku mutlak karena pada kesempatan lain agama Islam memerintahkan kita untuk menjaga kebersihan dalam bentuk pengubahan ciptaan Allah atau fitrah tersebut, yaitu khitan, cukur, potong kuku, dan lain sebagainya.
 
Bagaimana dengan penggunaan FaceApp? Jika maksudnya untuk merendahkan orang lain, tentu ini perbuatan buruk yang dilarang agama. Tetapi jika maksudnya untuk merenung bahwa masa muda bersifat sementara dan masa tua segera menanti, tentu tafakur seperti ini dianjurkan.
 
Lantas, apakah hubungan penggunaan FaceApp dan Surat An-Nisa ayat 119? Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Tags:
Share:
Kamis 27 Juni 2019 21:0 WIB
Benarkah Allah Menjanjikan Kembalinya Khilafah?
Benarkah Allah Menjanjikan Kembalinya Khilafah?
Ilustrasi eks-HTI (ist)
Tafsir Surat an-Nur ayat 55
Belakangan ini kembali para pendukung khilafah mengelabui publik dengan mengklaim bahwa “Kembalinya khilafah sebagai wujud kekuasaan umat Islam merupakan janji Allah SWT dalam QS an-Nur ayat 55:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS An-Nur: 55)

Bahkan ada dari kalangan mereka yang berani mengklaim siapa yang tidak percaya dengan janji Allah akan kedatangan kembali Khilafah telah murtad. Benarkah klaim Pro-Khilafah ini? Kajian komparasi sejumlah kitab tafsir klasik dan kontemporer nyata-nyata menunjukkan bahwa pemahaman mereka keliru besar.

Kita mulai dengan asbabun nuzul ayat ini. Tafsir al-Munir karya Syekh Wahbah az-Zuhayli menyebutkan:

Ketika Rasulullah SAW bersama para sahabatnya sampai ke Madinah, dan disambut serta dijamin keperluan hidupnya oleh kaum Ansar, mereka tidak melepaskan senjatanya siang dan malam, karena selalu diincar oleh kaum kafir.

Mereka berkata kepada Nabi: “Kapan engkau dapat melihat kami hidup aman dan tenteram tiada takut kecuali kepada Allah.” Ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai jaminan dari Allah SWT bahwa mereka akan dianugerahi kekuasaan di muka bumi.

Pertanyaannya kapankah janji Allah ini terpenuhi? Pelacakan saya terhadap sejumlah kitab tafsir menunjukkan ada 3 pendapat.

Pertama, janji Allah ini telah tertunaikan pada masa Nabi Muhammad dalam peristiwa Fathu Makkah, dimana Nabi dan pasukannya memasuki kota Mekkah dengan tanpa perlawanan. Tafsir generasi awal cenderung memahaminya seperti ini. Lihat Tafsir Ibn Abbas (1/298) dan Tafsir Muqatil (3/206).

Kedua, sebagian kitab Tafsir mengatakan janji ini telah tuntas dipenuhi Allah pada masa Nabi Muhammad dan al-Khulafa ar-Rasyidun (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali). Lihat Ibn Katsir (6/77), Bahrul Ulum (2/52), al-Baghawi (3/426), al-Kasyaf (3/521), al-Baydhawi (4/112), an-Nasafi (2/515), Dar al-Mansur(6/215). Alasan mereka adalah adanya Hadits Sahih dimana Nabi mengatakan kekhilafahan itu hanya berlansung selama 30 tahun. Dan itu terpenuhi dalam periode al-Khulafa ar-Rasyidun.

Tafsir at-Thabari menyebutkan ada yang membatasi periode janji Allah terpenuhi sampai tiba masa pembunuhan Khalifah Utsman. Karena kekacauan (fitnatul kubra) mulai terjadi sejak periode akhir Sayidina Utsman itu.

Tafsir ar-Razi malah menyebutkan pendapat yang membatasinya hanya pada 3 Khalifah pertama karena pada masa inilah ekspansi Islam meluas, namun pada masa Sayidina Ali disibukkan oleh perpecahan dan perang saudara.

Tafsir ar-Razi juga menyebutkan adanya pendapat yang menentang memasukkan period el-Khulafa ar-Rasyidun dalam kandungan ayat ini karena penggalan ayat selanjutnya “sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa,” padahal kekuasaan sebelum Islam itu tidak datang lewat kekhilafahan.

Jadi ayat ini cukup hanya pada periode Nabi Muhammad saja. Penggalan ayat ini dimaknai sebagaimana kekuasaan Bani Israil dan para Nabi sebelumnya seperti Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman.

Ketiga, ada beberapa kitab tafsir yang meluaskan lagi kandungan ayat ini, yang tidak hanya terbatas pada masa Nabi Muhammad dan/atau al-Khulafa ar-Rasyidun, tapi juga pada masa-masa selanjutnya termasuk masa sekarang dan akan datang.

Tafsir Fathul Qadir (4/55) memaknai kekuasaan sebelum Nabi itu tidak hanya terbatas pada Bani Israil, dan karenanya juga tidak membatasi makna ayat ini pada masa Nabi di Mekkah dan khalifah yang empat, tapi menggunakan keumuman ayat. Tafsir al-Qurthubi (12/299) juga menyetujui keumuman ayat ini. Namun, apa implikasi dari keumuman ayat ini?

Sa’id Hawa dalam Asas at-Tafsir (7/3802) menganggap janji Allah dalam ayat ini akan terus berlangsung sampai semua akan masuk Islam. Tafsir al-Wasith (6/1457) karya Majma’ al-Bunuts Islamiyah di al-Azhar Mesir juga mengisyaratkan bahwa janji Allah ini terwujud ketika Islam tersebar di penjuru dunia timur dan barat. Jadi tidak dibatasi pada masa lalu saja. Berarti ini masalah dakwah, bukan soal kekhilafahan.

Nah, yang menarik, semua kitab tafsir di atas, termasuk mereka yang menganggap ayat ini berlaku umum, tidak satupun menyinggung akan kembalinya Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah seperti yang sering digelorakan oleh kelompok Pro-Khilafah. Para ulama tafsir itu bahkan tidak mengutip riwayat Musnad Ahmad soal ini, yang amat populer di kalangan HTI, namun sudah pernah saya jelaskan dengan tuntas dan detil bahwa sanadnya pun lemah dan bermasalah.

Kesimpulannya: QS an-Nur ayat 55 tidak bicara soal institusi atau sistem pemerintah khilafah. Al-Qur’an memang tidak pernah menyinggung sistem kenegaraan dengan detil. Ayat ini juga tidak bicara tentang akan kembalinya khilafah setelah bubar. Tidak ada janji Allah akan kembalinya sistem khilafah. Ini hanya halusinasi kaum HTI saja yang tidak bisa menerima kenyataan kita hidup damai dan aman di NKRI.

Umat Islam bisa berkuasa menurut ayat ini dan ayat selanjutnya dengan jalan beriman dan beramal soleh, tidak menyekutukan-Nya, menegakkan Shalat, membayar zakat dan taat pada Rasulullah SAW. Dengan jalan inilah Allah akan meridhai, memberi rasa aman dan memberi kita rahmat. Namun siapa yang kufur terhadap nikmat yang Allah berikan mereka itulah orang yang fasiq, sebagaimana dinyatakan dengan jelas oleh ayat ini.

Janganlah kita kufur terhadap nikmat Allah berupa hidup yang damai dan tentram di NKRI. Kita tinggal mensyukurinya dengan terus bekerja mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur sebagaimana amanat Pembukaan UUD 1945. Wa Allahu a’lam bish shawab


Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School


Rabu 26 Juni 2019 15:0 WIB
Keterangan Al-Qur’an tentang Arti Politik
Keterangan Al-Qur’an tentang Arti Politik
Ilustrasi via Beritagar
Kata politik pada mulanya terambil dari bahasa Yunani dan atau Latin politicos atau politõcus yang  berarti  relating to citizen. Keduanya berasal dari kata polis yang berarti kota. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan kata politik sebagai segala urusan dan tindakan (kebijakan, siasat,  dan sebagainya) mengenai pemerintahan negara atau terhadap negara lain. Juga dalam arti kebijakan, cara  bertindak (dalam menghadapi atau menangani satu masalah).

Dalam kamus-kamus bahasa Arab modern, kata politik biasanya diterjemahkan dengan kata siyasah. Kata ini terambil dari akar kata sasa-yasusu yang biasa diartikan mengemudi, mengendalikan, mengatur, dan sebagainya. Dari akar kata yang sama ditemukan kata sus yang berarti penuh kuman, kutu, atau rusak.

Menurut Pakar Tafsir Muhammad Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (2000) menjelaskan bahwa dalam Al-Qur’an tidak ditemukan kata yang terbentuk dari akar kata sasa-yasusu, namun ini bukan berarti bahwa Al-Qur’an tidak menguraikan soal politik.

Sekian banyak ulama Al-Qur’an yang menyusun karya ilmiah dalam bidang politik dengan menggunakan Al-Qur’an dan  sunnah Nabi sebagai rujukan. Sebagai informasi, Ibnu Taimiyah (1263-1328) menamai salah satu karya ilmiahnya dengan as-siyasah asy-syar'iyah (politik keagamaan).

Uraian Al-Qur’an tentang politik secara sepintas dapat ditemukan pada ayat-ayat yang berakar kata hukm. Kata ini pada mulanya berarti menghalangi atau melarang dalam rangka perbaikan. Dari akar kata yang sama terbentuk kata hikmah yang pada mulanya berarti kendali. Makna ini sejalan dengan asal makna kata sasa-yasusu-sais siyasat, yang berarti mengemudi, mengendalikan, pengendali, dan cara pengendalian.

Hukm dalam bahasa Arab tidak selalu sama artinya dengan kata hukum dalam bahasa Indonesia yang oleh kamus dinyatakan antara lain berarti putusan.  Dalam bahasa Arab kata ini berbentuk kata jadian, yang bisa mengandung berbagai makna, bukan hanya bisa digunakan dalam arti "pelaku hukum" atau diperlakukan atasnya hukum, tetapi juga ia dapat berarti perbuatan dan  sifat.

Sebagai "perbuatan" kata hukm berarti membuat atau menjalankan putusan, dan sebagai sifat yang menunjuk kepada  sesuatu yang diputuskan. Kata tersebut jika dipahami sebagai membuat atau menjalankan keputusan, maka tentu pembuatan dan upaya menjalankan itu, baru dapat tergambar jika ada sekelompok yang terhadapnya berlaku hukum tersebut. Ini menghasilkan upaya politik.

Kata siyasah sebagaimana dikemukakan di atas diartikan dengan politik dan juga sebagaimana terbaca, sama dengan kata hikmat. Di sisi lain terdapat persamaan makna antara pengertian kata hikmat dan politik.

Sementara ulama mengartikan hikmat sebagai kebijaksanaan, atau kemampuan menangani satu masalah sehingga mendatangkan manfaat atau menghindarkan mudharat. Pengertian ini sejalan dengan makna kedua yang dikemukakan Kamus Besar Bahasa Indonesia tentang arti politik, sebagaimana dikutip di atas.

Dalam Al-Qur’an ditemukan dua puluh kali kata hikmah, kesemuanya dalam konteks pujian. Salah satu di antaranya adalah surat Al-Baqarah (2): 269: Siapa yang dianugerahi hikmah, maka dia telah dianugerahi kebajikan yang banyak.

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

“Allah menganugerahkan al hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al-Qur'an dan As-Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS Al-Baqarah: 269)

Melihat perpolitikan tanah air saat ini, hendaknya partai politik dan para kadernya memahami kembali makna dan tujuan berpolitik yang bermuara pada kebijaksanaan atau hikmat untuk mewujudkan kebermanfaatan masyarakat banyak.

Akhlak dan respon negatif yang banyak bertebaran di media sosial juga hadir dari para simpatisan politik. Hal ini tidak lepas dari cara berpolitik para elitnya. Padahal partai politik dan para kadernya juga punya kewajiban dan tanggung jawab melakukan edukasi politik kepada warga negara dengan cara yang baik dan benar. (Fathoni)
Rabu 26 Juni 2019 13:30 WIB
Tafsir Shiratal Mustaqim: Apa Jalan Lurus Itu?
Tafsir Shiratal Mustaqim: Apa Jalan Lurus Itu?
Ilustrasi (ist)
Menurut Imam Abu Ja’far ibnu Jarir semua kalangan ahli tafsir telah sepakat bahwa yang dimaksud dengan shiratal mustaqim ialah “jalan yang jelas lagi tidak berbelok-belok (lurus)”. Namun ketika bicara secara konkrit apa yg dimaksud, Tafsir at-Thabari kemudian menampilkan sejumlah riwayat berbeda untuk mengurai makna konkrit shiratal mustaqim:

1. Kitabullah (Al-Qur’an)

‎وحدثنا أحمد بن إسحاق الأهوازي، قال: حدثنا أبو أحمد الزبيري، قال: حدثنا حمزة الزيات، عن أبي المختار الطائي، عن ابن أخي الحارث الأعور، عن الحارث، عن علي، قال: «الصراط المستقيم كتاب الله تعالى»

2. Islam

‎حدثني محمود بن خداش الطالقاني، قال: حدثنا حميد بن عبد الرحمن الرواسي، قال: حدثنا علي، والحسن، ابنا صالح، جميعا عن عبد الله بن محمد بن عقيل، عن جابر بن عبد الله: ” {اهدنا الصراط المستقيم} [الفاتحة: ٦] قال: الإسلام

3. Thariq (jalan)

وحدثنا القاسم بن الحسن، قال: حدثنا الحسين بن داود، قال: حدثني حجاج، عن ابن جريج، قال: قال ابن عباس في قوله: ” {اهدنا الصراط المستقيم} [الفاتحة: ٦] قال: الطريق

4. Nabi Muhammad, Abu Bakar dan Umar bin Khattab

‎حدثنا عبد الله بن كثير أبو صديف الآملي، قال: حدثنا هاشم بن القاسم، قال: حدثنا حمزة بن أبي المغيرة، عن عاصم، عن أبي العالية، في قوله: ” {اهدنا الصراط المستقيم} [الفاتحة: ٦] قال: هو رسول الله صلى الله عليه وسلم وصاحباه من بعده: أبو بكر وعمر
‎قال: فذكرت ذلك للحسن، فقال: «صدق أبو العالية ونصح»

Sekarang kita tahu paling tidak ada empat makna yang berbeda. Namun, Tafsir a-Razi punya pandangan tersendiri:

‎قال بعضهم: الصراط المستقيم: الإسلام، وقال بعضهم: القرآن، وهذا لا يصح، لأن قوله: صراط الذين أنعمت عليهم بدل من الصراط المستقيم، وإذا كان كذلك كان التقدير اهدنا صراط من أنعمت عليهم من المتقدمين، ومن تقدمنا من الأمم/ ما كان لهم القرآن والإسلام، وإذا بطل ذلك ثبت أن المراد اهدنا صراط المحقين المستحقين للجنة،

Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa shiratal mustaqim itu Islam atau ada juga yang bilang itu al-Qur’an (lihat kutipan Tafsir at-Thabari di atas). Menurut Imam ar-Razi, pandangan Ini tidak benar, karena ayat selanjutnya (ayat 7) shiratalladzina an’amta ‘alaihim secara nahwu (gramatika Arab) adalah badal atau pengganti yang memperjelas makna shiratal mustaqim di ayat 6.

Ini menunjukkan ayat ihdinas shiratal mustaqim itu berkenaan dengan orang-orang terdahulu (yang telah diberi nikmat), dan orang-orang terdahulu itu tidak memiliki Islam dan Qur’an. Ketika kemungkinan pemahaman di atas dihilangkan, maka makna yang lebih pas adalah: tunjuki kami ke jalan orang-orang yang benar dan berhak mendapatkan surga.

Pendapat Imam ar-Razi kelihatannya diikuti oleh Tafsir al-Maraghi, tapi bukan berarti pendapat yang dikutip Tafsir at-Thabari dibuang semuanya. Syekh Mustafa al-Maraghi mencoba menjembataninya:

وقد أمرنا باتباع صراط من تقدمنا، لأن دين الله واحد فى جميع الأزمان: فهو إيمان بالله ورسله واليوم الآخر، وتخلق بفاضل الأخلاق وعمل الخير وترك الشر، وما عدا ذلك فهو فروع وأحكام تختلف باختلاف الزمان والمكان،

Kita telah diperintah untuk mengikuti jalan orang-orang sebelum kita (ini seperti diungkap oleh Tafsir ar-Razi), karena agama Allah itu satu di setiap jaman, yaitu iman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan hari akhir, dan berakhlak dengan akhlak utama dan amal yang baik serta meninggalkan kejelekan. Selain dari itu adalah perkara cabang dan hukum yang berbeda sesuai dengan perbedaan zaman dan tempat. Di sini, al-Maraghi tidak menolak pandangan bahwa shiratal mustaqim yang dimaksud adalah agama Allah yang intinya satu, dengan pokok ajaran yang sama, meski berbeda tempat dan waktunya.

Tafsir al-Qurtubi menyebutkan pendapat lain selain yang sudah disebutkan di atas, yaitu:

وقال الفُضيل بن عِيَاض: «الصراط المستقيم» طريق الحج، وهذا خاص والعموم أولى. قال محمد بن الحنفية في قوله عزّ وجل: { ٱهْدِنَا ٱلصِّرَاطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ } [الفاتحة: 6]: هو دين الله الذي لا يقبل من العباد غيره. وقال عاصم الأحْوَل عن أبي العالية: { ٱلصِّرَاطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ } رسول الله صلى الله عليه وسلم وصاحباه من بعده. قال عاصم فقلت للحسن: إن أبا العالية يقول: «الصراط المستقيم» رسول الله صلى الله عليه وسلم وصاحباه، قال: صدق ونصح.

Pertama, disebutkan pendapat Fudhail bin ‘Iyad bahwa shiratal mustaqim itu maksudnya jalan menuju ibadah haji. Kata Imam al-Qurthubi, ini makna khusus, sedangkan makna umum lebih baik. Beliau terus mengutip keterangan dari Muhammad bin al-Hanafiyah bahwa yang dimaksud itu adalah agama Allah. Sedangkan kutipan berikutnya sama dengan yang ada di Tafsir at-Thabari di atas, yaitu makna shiratal mustaqim adalah Rasulullah dan kedua sahabatnya.

Ungkapan Imam al-Qurthubi bahwa makna umum dari shiratal mustaqim lebih baik, boleh jadi dipenuhi oleh Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir:

والصراط المستقيم: الطريق المعتدل: طريق الإسلام الذي بعثت به أنبياءك ورسلك، وختمت برسالاتهم رسالة خاتم النبيين، وهو جملة ما يوصل إلى السعادة في الدنيا والآخرة، من عقائد وأحكام وآداب وتشريع ديني، كالعلم الصحيح بالله والنبوة وأحوال الاجتماع.

Ini jalan yang moderat/tengah. Jalan Islam yang diutus dengan para Nabi dan Rasul, dan ditutup dengan khataman nabiyyin (Nabi Muhammad SAW). Dan ini adalah keseluruhan dari apa yang dapat membawa kepada kebahagiaan di dunia dan akherat, baik dari sisi aqidah, hukum, adab, dan tasyri’ diniy seperti ilmu yang benar tebtang Allah, kenabian dan hal-ihwal kemasyarakatan.

Tafsir Ibn Katsir memberikan kesimpulan yang bagus dari diskusi dan perbedaan pendapat para ulama di atas:

“Semua pendapat di atas adalah benar, satu sama lainnya saling memperkuat, karena barang siapa mengikuti Nabi Saw. dan kedua sahabat yang sesudahnya (yaitu Abu Bakar dan Umar), berarti dia mengikuti jalan yang haq (benar); dan barang siapa yang mengikuti jalan yang benar, berarti dia mengikuti jalan Islam. Barang siapa mengikuti jalan Islam, berarti mengikuti Al-Qur’an, yaitu Kitabullah atau tali Allah yang kuat atau jalan yang lurus. Semua definisi yang telah dikemukakan di atas benar, masing-masing membenarkan yang lainnya.”

Terakhir M. Abu Zahrah dalam kitab tafsirnya Zaharatut Tafasir mengingatkan kita semua bahwa doa itu intinya ibadah. Beliau mengutip sebuah riwayat, “Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah dibandingkan doa”. (HR Tirmidzi, Ibn Majah dan Ahmad).

Ini artinya, kawan-kawan sekalian, doa yang dilakukan pada amalan utama seperti shalat, dan redaksi doanya telah diajarkan langsung oleh Allah pada surat yang utama (al-Fatihah), dan kita baca setiap hari minimal 17 kali (saat shalat fardhu) tentu merupakan sesuatu yang sangat penting.

Ihdinas shiratal mustaqim (tunjukilah kami jalan yang lurus).

Next time, saat kita mengucapkan doa ini, resapilah semua makna doa ini sebagaimana yang telah dijelaskan kandungannya oleh para ulama di atas. Menggetarkan!


Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School