IMG-LOGO
Trending Now:
Haji, Umrah, dan Kurban

Beda Hak Orang Kaya dan Miskin atas Daging Kurban

Selasa 23 Juli 2019 12:0 WIB
Share:
Beda Hak Orang Kaya dan Miskin atas Daging Kurban
Orang kaya memang boleh menerima daging kurban, tapi hak atas daging tidak bersifat mutlak. (Ilustrasi: steemit.com)
Kurban menemukan relevansinya dalam kehidupan sosial manusia, sebab ia tidak hanya berkaitan dengan penghambaan kepada Allah, tapi juga sarana untuk saling berbagi antarsesama.

Saat musim kurban, seluruh elemen masyarakat Muslim bersama-sama menikmati “hidangan” Tuhan dengan penuh suka cita. Distribusi daging kurban tidak hanya dirasakan orang miskin, orang kaya juga turut serta menerimanya. Namun, tahukah anda ternyata ada perbedaan hak penerimaan antara kurban yang diterima orang kaya dan miskin? Berikut ini penjelasannya.

Ulama Syafi’iyyah menegaskan bahwa kurban yang diterima orang miskin berstatus tamlik (memberi hak kepemilikan secara penuh). Kurban yang diterima mereka menjadi hak miliknya secara utuh. Oleh karenanya, ia diperbolehkan mengalokasikan kurban yang diterimanya secara bebas, dengan menjual, menghibahkan, menyedekahkan, memakan, menyuguhkan kepada tamu, dan lain sebagainya. 

Sementara kurban yang diterima orang kaya tidak menjadi hak miliknya secara utuh, ia hanya diperbolehkan menerima kurban untuk alokasi yang bersifat konsumtif, tidak diperkenankan mengalokasikannya untuk alokasi yang bersifat memindahkan kepemilikan secara penuh dan bebas. Oleh karenanya, orang kaya hanya diperkenankan memakan dan memberikan kepada orang lain untuk dimakan saja, seperti disuguhkan atau disedekahkan kepada tamu. Tidak diperbolehkan bagi orang kaya menjual, menghibahkan, mewasiatkan, atau alokasi serupa yang memberikan hak penuh kepada pihak yang diberi.   

Hikmah dari pembatasan ini adalah agar distribusi daging kurban tidak dimonopoli untuk kepentingan orang kaya, sebab mereka pada dasarnya tidak perlu dibantu. Pihak yang justru paling berhak mendapat bantuan adalah orang miskin. Oleh karenanya, fuqaha menandaskan, “inna ghâyatahu ka hâlil mudlahhi” (orang kaya penerima sedekah kurban seperti orang yang berkurban).

Menurut Syekh Muhammad bin Ahmad al-Ramli, yang dimaksud orang kaya dalam konteks ini adalah orang yang tidak halal menerima zakat, yaitu orang yang memiliki harta atau pekerjaan yang mencukupi kebutuhan dirinya dan keluarganya. Dari keterangan al-Ramli ini bisa dipahami, orang miskin dalam konteks penerima sedekah kurban adalah berkebalikan dari standar kaya di atas, yaitu orang yang aset harta dan pekerjaannya tidak mencukupi kebutuhannya dan keluarganya.

Penjelasan di atas berdasarkan referensi berikut ini:

وللفقير التصرف في المأخوذ ولو بنحو بيع المسلم لملكه ما يعطاه ، بخلاف الغني فليس له نحو البيع بل له التصرف في المهدي له بنحو أكل وتصدق وضيافة ولو لغني ، لأن غايته أنه كالمضحي نفسه ، قاله في التحفة والنهاية 

“Bagi orang fakir boleh memanfaatkan kurban yang diambil (secara bebas) meski dengan semisal menjualnya kepada orang Islam, sebab ia memilikinya. Berbeda dari orang kaya, ia tidak diperkenankan menjualnya, tetapi ia hanya diperbolehkan mengalokasikan kurban yang diberikan kepadanya dengan semisal makan, sedekah, dan menghidangkan meski kepada orang kaya, sebab puncaknya ia seperti orang yang berkurban itu sendiri. Keterangan ini disampaikan dalam kitab al-Tuhfah dan al-Nihayah.”

وجوّز (م ر) أن يكون المراد بالغني من تحرم عليه الزكاة ، قال باعشن : والقول بأنهم أي الأغنياء يتصرفون فيه بما شاءوا ضعيف وإن أطالوا في الاستدلال له.

“Al-Imam al-Ramli menduga yang dimaksud orang kaya adalah orang yang haram menerima zakat. Berkata Syekh Ba’asyin, pendapat yang menyatakan bahwa orang-orang kaya berhak memanfaatkan (tasaruf) kurban semaunya adalah pendapat yang lemah, meski ulama memanjangkan argumen untuk mendukungnya,” (Syekh Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur Ba’alawi, Bughyah al-Mustarsyidin, hal. 549).

Dalam referensi lain, disebutkan:

وله إطعام أغنياء لا تمليكهم.

“Diperbolehkan bagi orang berkurban memberi makan kepada orang kaya, tidak memberinya hak milik.”

(قوله: لا تمليكهم) أي لا يجوز تمليك الأغنياء منها شيئا. ومحله إن كان ملكهم ذلك ليتصرفوا فيه بالبيع ونحوه كأن قال لهم ملكتكم هذا لتتصرفوا في بما شئتم أما إذا ملكهم إياه لا لذلك بل للأكل وحده فيجوز، ويكون هدية لهم وهم يتصرفون فيه بنحو أكل وتصدق وضيافة لغني أو فقير لا ببيع وهبة وهذا بخلاف الفقراء، فيجوز تمليكهم اللحم ليتصرفوا فيه بما شاؤا ببيع أو غيره.

“Ucapan Syekh Zainuddin; tidak memberinya hak milik; maksudnya tidak diperbolehkan memberi kepemilikan kepada mereka satu pun dari hewan kurban. Keterangan ini konteksnya adalah bila kepemilikan mereka atas hewan kurban untuk dimanfaatkan dengan cara menjual dan semacamnya. Seperti mudlahhi (orang yang berkurban) berkata kepada mereka, ‘Aku berikan kepemilikan daging kurban ini supaya kalian bisa mengalokasikannya sesuka hati.’ Adapun bila memberi mereka kepemilikan bukan karena hal demikian, tapi hanya untuk dimakan, maka boleh, dan menjadi hadiah untuk mereka. Mereka berhak memanfaatkan dengan semisal memakan, menyedekahkan, dan menyuguhkan meski kepada orang kaya, bukan dengan menjual dan menghibahkan. Hal ini berbeda dengan orang-orang fakir, maka boleh memberi kepemilikan daging kurban kepada mereka supaya mereka dengan sesuka hati memanfaatkan dengan menjual atau lainnya,” (Syekh Abu Bakr bin Muhammad Syatha al-Bakri, Hasyiyah I’anah al-Thalibin, juz.2, hal.379).

Demikian penjelasan mengenai perbedaan alokasi kurban yang diterima orang kaya dan miskin. Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam.

Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pondok Pesantren Raudlatul Quran, Geyongan, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat.
Share:

Baca Juga

Senin 22 Juli 2019 17:15 WIB
Doa Perpisahan di Makam Rasulullah
Doa Perpisahan di Makam Rasulullah
null
Jamaah haji dan umrah asal Indonesia dan mereka yang datang dari pelbagai penjuru dunia akan kembali ke tanah air masing-masing. Mereka yang ingin meninggalkan tanah suci disarankan untuk menziarahi makam Rasulullah SAW.

Ziarah makam Rasulullah SAW sebelum meninggalkan tanah suci merupakan ibadah sejenis haji wada (perpisahan). Pada ziarah makam terakhir ini kita dianjurkan untuk membaca doa perpisahan sebagaimana disarankan oleh Syekh M Nawawi Banten berikut ini:

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ هَذَا آخِرَ العَهْدِ بَيْنِي وَبَيْنَ مَسْجِدِهِ وَحَرَمِهِ وَيَسِّرْ لِيَ العَوْدَ إِلَى زِيَارَتِهِ وَالعُكُوْفَ فِي حَضْرَتِهِ سَبِيْلًا سَهْلًا وَارْزُقْنِيَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَرُدَّنَا إِلَى أَهْلِنَا سَالِمِيْنَ غَانِمِيْنَ

Allāhumma lā taj‘al ākhiral ‘ahdi baynī wa bayna masjidihī wa haramihī. Wa yassir liyal ‘awda ilā ziyāratihī, wal ‘ukūfa fī hadhratihī sabīlan sahlan. Warzuqniyal ‘afwa wal ‘āfiyata fid duniya wal ākhirah. Wa ruddanā ilā ahlinā sālimīna ghānimīn.

Artinya, “Ya Allah, jangan jadikan ini akhir kesempatan pertemuanku dan masjid serta tanah haramnya (Nabi Muhammad SAW). Mudahkanlah aku untuk berziarah kembali dan beribadah (kepada-Mu) di hadapannya dengan mudah dan ringan. Anugerahkanlah aku ampunan dan afiat di dunia dan akhirat. Dan kembalikanlah kami ke pangkuan keluarga dalam keadan selamat dan meraih banyak pahala,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, [Bandung, Al-Maarif: tanpa tahun], halaman 221).

Doa perpisahan di makam Rasulullah ini dibaca dengan harapan suatu saat lagi kita dapat kembali menziarahi makam mulia beliau. Doa perpisahan ini dibaca setelah kita mengamalkan adab ziarah di makam Rasulullah SAW.
 
Adapun perihal keutamaan ziarah makam Rasulullah disebutkan oleh Syekh Sayid Bakri bin Sayid M Syatho Dimyathi dalam I‘anatut Thalibin mengatakan:

قال بعضهم: ولزائر قبر النبي صلى الله عليه وسلم عشر كرامات. إحداهن يعطى أرفع المراتب. الثانية يبلغ أسنى المطالب. الثالثة قضاء المآرب. الرابعة بذل المواهب. الخامسة الأمن من المعاطب. السادسة التطهير من المعايب. السابعة تسهيل المصاعب. الثامنة كفاية النوائب. التاسعة حس العواقب. العاشرة رحمة رب المشارق والمغارب

Artinya, “Sebagian ulama mengatakan bahwa orang yang menziarahi makam Rasulullah SAW berhak menerima 10 kehormatan dari Allah SWT. Pertama, akan diberikan derajat tertinggi di sisi Allah. Kedua, akan disampaikan pada cita-cita tertinggi. Ketiga, akan dipenuhi kebutuhannya. Keempat, akan diberikan banyak anugerah-Nya. Kelima, akan diselamatkan dari bencana. Keenam, akan dilindungi dari aib. Ketujuh, akan dimudahkan dalam kesulitan. Kedelapan, akan diringankan bebanmya dalam musibah. Kesembilan, dapat merasakan apa yang akan terjadi. Kesepuluh, akan mendapat limpahan rahmat Allah SWT.”

Adapun jamaah haji atau umrah yang mendapatkan amanat titip salam dari keluarga, kerabat, atau sahabat mereka, harus menyampaikan salam tersebut di makam Rasulullah. Jamaah haji atau jamaah umrah yang mendapatkan amanat tersebut dapat menggunakan lafal berikut ini:

السَلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللهِ مِنْ فُلَانٍ بْنِ فُلَانٍ

As-salāmu ‘alayka yā rasūlallāh min fulān ibni fulān (sebut nama kerabat dan sahabat yang menitipkan salamnya).

Artinya, “Sejahtera atasmu wahai Rasulullah dari si fulan bin fulan (sebut nama kerabat dan sahabat yang menitipkan salamnya).” Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Sabtu 20 Juli 2019 15:0 WIB
Dahulukan Haji Pribadi atau Membiayai Haji Orang Tua?
Dahulukan Haji Pribadi atau Membiayai Haji Orang Tua?
Ilustrasi (aboutislam.net)
Berkunjung ke Tanah Suci merupakan impian semua orang. Di haramain (dua tanah haram/mulia, Makkah dan Madinah) banyak tempat-tempat bersejarah yang penuh dengan keberkahan. Impian mengunjunginya tidak hanya merupakan cita-cita pribadi, tetapi juga menyertakan orang-orang yang dicintai, semisal kedua orang tua. 

Merupakan harapan kebanyakan orang bisa membiayai haji orang tuanya. Dilema muncul ketika dana yang dimiliki hanya cukup untuk menghajikan dirinya. Satu sisi sang anak yang belum pernah haji masih terkena beban menjalankan rukun Islam yang kelima tersebut. Namun di sisi yang lain, ia juga punya tekad kuat membahagiakan orang tuanya. Dalam kondisi demikian, manakah yang lebih utama didahulukan? Mendahulukan haji pribadi atau membiayai haji orang tua?

Dalam khazanah fiqih mazhab Syafi’i, orang yang memiliki kemampuan fisik dan finansial, berkewajiban melaksanakan haji, tapi ia tidak diharuskan berhaji secepatnya, boleh ia tunda di tahun-tahun mendatang dengan syarat adanya tekad kuat untuk melaksanakannya dan tidak ada dugaan kegagalan disebabkan suatu hal misalkan lumpuh atau kebangkrutan. Oleh karenanya, dalam konteks ini sah-sah saja bagi sang anak untuk memilih antara mendahulukan hajinya sendiri atau menghajikan orang tuanya, sebab tidak ada kewajiban baginya untuk menyegerakan haji pribadi.

Syekh Ibnu Hajar al-Haitami menegaskan:

وَهُمَا عَلَى التَّرَاخِي بِشَرْطِ الْعَزْمِ عَلَى الْفِعْلِ بَعْدُ وَأَنْ لَا يَتَضَيَّقَا بِنَذْرٍ أَوْ خَوْفِ عَضْبٍ أَوْ تَلَفِ مَالٍ بِقَرِينَةٍ وَلَوْ ضَعِيفَةً كَمَا يُفْهِمُهُ قَوْلُهُمْ لَا يَجُوزُ تَأْخِيرُ الْمُوَسَّعِ إلَّا إنْ غَلَبَ عَلَى الظَّنِّ تَمَكُّنُهُ مِنْهُ أَوْ بِكَوْنِهِمَا قَضَاءً عَمَّا أَفْسَدَهُ 

“Haji dan umrah (kewajibannya) bisa ditunda, dengan syarat tekad yang kuat mengerjakannya dan tidak menjadi sempit dengan nadzar, kekhawatiran lumpuh atau rusaknya harta dengan sebuah tanda-tanda meski lemah, sebagaimana yang dipahami dari ucapan para ulama: ‘tidak boleh mengakhirkan kewajiban yang dilapangkan kecuali menduga kuat bisa melakukannya’. Atau (kewajiban haji dan umrah menjadi sempit) dengan status qadha dikarenakan ia merusaknya,”  (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj Hamisy Hasyiyah al-Syarwani, Maktabah al-Tijariyyah al-Kubra, juz 4, hal. 4-5).

Namun bila melihat pertimbangan keutamaan, yang lebih baik dilakukan adalah mendahulukan hajinya sendiri, sebab mendahulukan orang lain dalam urusan ibadah adalah makruh. Dalam sebuah kaidah fiqih dinyatakan:

الْإِيثَارُ فِي الْقُرْبِ مَكْرُوهٌ وَفِي غَيْرِهَا مَحْبُوبٌ

“Mendahulukan orang lain dalam ibadah adalah makruh, dan di dalam urusan lain disunnahkan.”

Berkaitan dengan kaidah tersebut, Syekh Izzuddin bin Abdissalam sebagaimana dikutip al-Imam al-Suyuthi mengatakan:

قَالَ الشَّيْخُ عِزُّ الدِّينِ لَا إيثَارَ فِي الْقُرُبَاتِ، فَلَا إيثَارِ بِمَاءِ الطَّهَارَةِ، وَلَا بِسَتْرِ الْعَوْرَةِ وَلَا بِالصَّفِّ الْأَوَّلِ ; لِأَنَّ الْغَرَضَ بِالْعِبَادَاتِ: التَّعْظِيمُ، وَالْإِجْلَالُ. فَمَنْ آثَرَ بِهِ، فَقَدْ تَرَكَ إجْلَالَ الْإِلَهِ وَتَعْظِيمِهِ

“Berkata Syekh Izzuddin; tidak baik mendahulukan orang lain di dalam ibadah-ibadah, maka tidak baik mendahulukan dalam urusan air bersuci, menutup aurat, dan shaf awal. Sebab tujuan ibadah-ibadah adalah mengagungkan Allah. Barangsiapa mendahulukan orang lain di dalam urusan tersebut, maka sungguh ia telah meninggalkan pengagungan kepada Tuhan,” (al-Imam al-Suyuthi, al-Asybah wa al-Nazhair, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, hal. 180).

Pilihan untuk mendahulukan haji pribadi juga dilakukan atas dasar menjaga perbedaan pendapat ulama yang menyatakan kewajiban haji adalah segera, tidak boleh ditunda, bahkan ini adalah pendapat tiga imam madzahib al-arba’ah selain Imam Syafi’i. Syekh Ibnu Quddamah menegaskan:

مَسْأَلَةٌ قَالَ: فَمَنْ فَرَّطَ فِيهِ حَتَّى تُوُفِّيَ، أُخْرِجَ عَنْهُ مِنْ جَمِيعِ مَالِهِ حَجَّةٌ وَعُمْرَةٌ

“Berkata sang pengarang; barangsiapa teledor di dalam haji sampai wafat, maka dikeluarkan dari seluruh hartanya untuk melaksanakan haji dan umrah atas nama dia.”

 وَجُمْلَةُ ذَلِكَ أَنَّ مَنْ وَجَبَ عَلَيْهِ الْحَجُّ، وَأَمْكَنَهُ فِعْلُهُ، وَجَبَ عَلَيْهِ عَلَى الْفَوْرِ، وَلَمْ يَجُزْ لَهُ تَأْخِيرُهُ. وَبِهَذَا قَالَ أَبُو حَنِيفَة، وَمَالِكٌ. وَقَالَ الشَّافِعِيُّ: يَجِبُ الْحَجُّ وُجُوبًا مُوَسَّعًا، وَلَهُ تَأْخِيرُهُ

“Detail persoalan tersebut adalah bahwa seseorang yang berkewajiban haji dan mungkin baginya untuk melaksanakan, maka wajib baginya melakukan segera, tidak boleh mengakhirkannya. Ini juga pendapat Abu Hanifah dan Malik. Berkata Imam al-Syafi’i; wajin haji baginya dengan kewajiban yang dilapangkan, dan boleh mengakhirkannya,” (Syekh Ibnu Quddamah, al-Mughni, juz 3, hal. 232).

Dalam sebuah kaidah fiqih disebutkan:

اَلْخُرُوْجُ مِنَ الْخِلَافِ مُسْتَحَبٌّ

“Keluar dari perbedaan ulama adalah disunnahkan”.

Demikian penjelasan yang dapat kami sampaikan. Mendahulukan haji pribadi dalam konteks ini bukan berarti su’ul adab kepada orang tua. Kewajiban berangkat haji pribadi dan berbakti kepada orang tua bukanlah sebuah hal yang patut dipertentangkan, karena seorang anak tetap bisa berbakti kepada orang tuanya dengan mendoakannya saat ia berada di tempat-tempat mustajab seperti Multazam, orang tua yang berada di tanah air pasti senang dengan hal itu. Bila punya kemampuan finansial berlebih, mengajak orang tua secara bersama-sama menunaikan ibadah haji tentu lebih utama. Wallahu a'lam.


Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pondok Pesantren Raudlatul Quran, Geyongan, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat.

Kamis 18 Juli 2019 15:0 WIB
Saat Berhadats di Pertengahan Tawaf
Saat Berhadats di Pertengahan Tawaf
Tawaf merupakan salah satu ritual yang identik dengan pelaksanaan haji dan umrah. Perintah tawaf ditegaskan langsung dalam firman Allah subhanahu wata’ala:

وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

“Dan betawaflah mereka di baitullah yang kuno,” (QS. Al-Hajj: 29).

Ada lima jenis tawaf yang dikenal dalam bab manasik. Tawaf ifadlah, tawaf qudum, tawaf wada’, tawaf sunnah, dan tawaf umrah. Tawaf dilakukan sebanyak tujuh kali putaran dimulai dari hajar aswad hingga mengelilingi seluruh bagian Ka’bah.

Tawaf harus dilakukan dalam keadaan suci. Problem muncul saat di pertengahan tawaf, jamaah haji mengalami hadats, semisal kentut atau bersentuhan kulit dengan lawan jenis bukan mahram. Pertanyaannya kemudian, setelah kembali dari bersuci, apakah jamaah haji wajib memulai putaran tawaf dari awal? Atau cukup melanjutkan putaran tawaf yang didapat?

Tawaf memiliki kesamaan dengan shalat dari sisi pelaksanaannya yang mensyaratkan keadaan suci (dari hadats dan najis) dan menutup aurat. Ketentuan ini berlandaskan pada beberapa hadits Nabi, di antaranya:

أنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ لِعَائِشَةَ لَمَّا حَاضَتْ وَهِيَ مُحْرِمَةٌ اصْنَعِي مَا يَصْنَعُ الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لَا تَطُوفِي بِالْبَيْتِ حَتَّى تَغْتَسِلِي

“Bahwa Nabi berkata kepada Aisyah saat ia haidl dan tengah berihram; lakukanlah apa yang dilakukan orang berhaji, hanya engkau tidak diperkenankan tawaf di baitullah hingga engkau mandi,” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

 الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ صَلَاةٌ إِلَّا أَنَّ اللهَ تَعَالَى أَحَلَّ لَكُمْ فِيهِ الْكَلاَمَ فَمَنْ تَكَلَّمَ فَلَا يَتَكَلَّمْ إِلَّا بِخَيْرٍ رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَقَالَ صَحِيْحُ الْإِسْنَادِ

“Tawaf di baitullah seperti shalat, hanya Allah di dalamnya menghalalkan bagi kalian berbicara. Barangsiapa berbicara, maka janganlah berbicara kecuali kebaikan,” (HR. al-Hakim, beliau berkata hadits ini sahih sanadnya).

Bila di pertengahan tawaf jamaah haji berhadats, maka tawaf harus dihentikan untuk sementara. Jamaah haji berkewajiban untuk berwudhu terlebih dahulu. Setelah kembali dari bersuci, cukup melanjutkan putaran tawaf yang telah dilakukan. Semisal sudah mendapat empat kali putaran, maka cukup menambah tiga kali putaran lagi tanpa perlu mengulang tawaf dari awal. Hal ini baik pemisah waktu antara bersuci dan pelaksanaan tawaf lama atau sebentar.

Ketentuan ini juga berlaku dalam kasus terkena najis atau terbukanya aurat di pertengahan tawaf, setelah auratnya kembali tertutup atau najisnya dihilangkan, cukup melanjutkan bilangan tawaf yang didapat.

Kasus ini berbeda dengan shalat, di mana saat berhadats di pertengahan shalat, wajib mengulangi shalatnya dari awal setelah kembali suci. Ulama fiqih menjelaskan terdapat perbedaan yang mendasar antara shalat dan tawaf, bahwa shalat memiliki lebih banyak aktivitas yang dilarang, seperti gerakan-gerakan yang berat atau berbicara. Berbeda dengan tawaf yang lebih ringan ketentuannya, di mana hal-hal tersebut diperbolehkan saat melakukan tawaf.

Syekh Zakariyya al-Anshari menegaskan:

 ـ (فَلَوْ أَحْدَثَ أَوْ تَنَجَّسَ) بَدَنُهُ أَوْ ثَوْبُهُ أَوْ مَطَافُهُ بِنَجَسٍ غَيْرِ مَعْفُوٍّ عَنْهُ (أَوْ عَرِيَ) مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى السَّتْرِ فِي أَثْنَاءِ الطَّوَافِ (تَطَهَّرَ وَسَتَرَ) عَوْرَتَهُ وَبَنَى عَلَى طَوَافِهِ وَلَوْ تَعَمَّدَ ذَلِكَ بِخِلَافِ الصَّلَاةِ إذْ يُحْتَمَلُ فِيهِ مَا لَا يُحْتَمَلُ فِيهَا كَكَثِيرِ الْفِعْلِ وَالْكَلَامِ سَوَاءٌ أَطَالَ الْفَصْلُ أَمْ قَصُرَ لِعَدَمِ اشْتِرَاطِ الْمُوَالَاةِ فِيهِ كَالْوُضُوءِ لِأَنَّ كُلًّا مِنْهُمَا عِبَادَةٌ يَجُوزُ أَنْ يَتَخَلَّلَهَا مَا لَيْسَ مِنْهَا بِخِلَافِ الصَّلَاةِ 

“Bila berhadats atau terkena najis, baik badan, pakaian atau tempat tawafnya dengan najis yang tidak dimaafkan, atau telanjang besertaan mampu menutup aurat di pertengahan tawaf, maka bersucilah dan tutuplah auratnya. Dan meneruskan (bilangan) tawafnya, meski dilakukan secara sengaja. Berbeda dengan shalat, sebab dimaafkan di dalam tawaf sesuatu yang tidak dimaafkan di dalam shalat seperti gerakan yang banyak dan berbicara, baik pemisahnya lama atau pendek, sebab tidak disyaratkan berkesinambungan di dalam tawaf seperti wudhu, sebab masing-masing dari keduanya merupakan ibadah yang diperbolehkan diselingi dengan aktivitas yang tidak berhubungan dengannya, berbeda dengan shalat,” (Syekh Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, juz 3, hal. 180).

Namun demikian, dalam persoalan ini sebaiknya jamaah haji memulai putaran tawaf dari awal setelah kembali suci, supaya bisa keluar dari perbedaan ulama yang mewajibkan memulai putaran tawaf. Di antara ulama yang mewajibkan memulai putaran tawaf dari awal saat berhadats di pertengahan tawaf adalah ulama mazhab Maliki. Anjuran ini berdasarkan kaidah fiqih “keluar dari perbedaan pendapat ulama disunnahkan”.

Syekh Zakariyya al-Anshari berkata:

ـ (وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَسْتَأْنِفَ) الطَّوَافَ خُرُوجًا مِنْ خِلَافِ مَنْ أَوْجَبَ الِاسْتِئْنَافَ 

“Disunnahkan memulai tawaf, karena keluar dari perbedaan ulama yang mewajibkan memulai tawaf,” (Syekh Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, juz 3, hal. 180).

Demikian penjelasan yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat.


Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pondok Pesantren Raudlatul Quran, Geyongan, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat.