IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Al-Qur'an

9 Etika Penghafal Al-Qur’an yang Harus Diperhatikan

Jumat 26 Juli 2019 20:20 WIB
Share:
9 Etika Penghafal Al-Qur’an yang Harus Diperhatikan
Ilustrasi (via Daily Mail)

Menghafal Al-Qur’an merupakan aktivitas istimewa yang bernilai ibadah. Satu huruf dalam Al-Qur’an berbanding sepuluh kebaikan. Bahkan, bagi mereka yang mampu menghafal seluruh Al-Qur’an, akan mendapatkan garansi surga bersama sepuluh keluarganya. Oleh sebab itu, tak ayal pada era sekarang ini banyak orang tua berlomba-lomba menyuruh anaknya untuk menghafal Al-Qur’an dan mendidiknya di sekolah-sekolah yang ada program tahfidhnya.

 

Selain mereka bergaransi masuk surga, mereka juga mendapat predikat sebagai “hamil” Al-Qur’an (bukan “al-hafiz” sebagaimana banyak dipakai di Indonesia) dan sebagai keluarga Allah dari kalangan manusia, sebagaimana sabda Nabi:

 

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ» قِيلَ: مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «أَهْلُ الْقُرْآنِ هُمْ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ

 

“Sesungguhnya Allah subhanahu wata‘ala memiliki keluarga dari kalangan manusia. Ditanyakan kepada Nabi, siapakah gerangan , wahai Rasul ? Nabi bersabda: Ahli Al-Qur’an adalah keluarga Allah dan orang-orang istimewa-Nya,” (Abdullah al-Darimi, Sunan al-Darimi, Saudi: Dar al-Mugni li al-Nasyr wa al-Tauzi2000, juz IV, hal, 2094, no hadis 3369).

 

Namun demikian, untuk mendapatkan predikat “hamil” Al-Qur’an yang hakiki tidak mudah. Sebab, “hamil” Al-Qur’an tidak cukup hanya hafal Al-Qur’an dengan lancar dan memiliki suara yang bagus. Ia dituntut mampu mengaplikasikan ajaran Al-Qur’an yang terkandung di dalamnya. Imam Al-Qathalani, sebagaimana dikutip oleh Mustafa Murad dalam karyanya Kaifa Tahfadz Al-Qur’an mengatakan bahwa Ahlu Al-Qur’an adalah orang-orang yang mengamalkan dan mengaplikasikan (isi kandungan) Al-Qur’an, mereka adalah para kekasih Allah yang istimewa di antara manusia, mereka tidak sekadar hafal Al-Qur’an tapi mengabaikan batasan-batasan (yang diatur) Al-Qur’an (Mustafa Murad, Kaifa Tahfadz Al-Qur’an, Kairo: Dar al-Fajr li al-Turats, 2003, hal 28).

 

Oleh sebab itu, seorang yang hafal Al-Qur’an hendaknya memiliki perhatian terhadap etika-etika yang mulia, untuk menjaga identitas sebagai “ahlu Allah wa khasshatuh” (keluarga Allah dan orang-orang istimewa-Nya). Untuk itu, berikut merupakan etika dan sifat yang harus dimiliki oleh seorang penghafal Al-Qur’an:

 

1. Seorang “hamil” Al-Qur’an harus memiliki perangai dan akhlak yang sempurna. Artinya seorang “hamil” Al-Qur’an harus mencerminkan akhlak Al-Qur’an. Untuk menghiasi diri dengan akhlak Al-Qur’an, seorang “hamil” Al-Qur’an harus mencontoh akhlak Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi merupakan teks Al-Qur’an yang hidup, sebagai cerminan dari Al-Qur’an, sebagaimana Sayyidah Aisyah berkata: kâna khuluquhul qur'ân (akhlak Rasulullah tak ubahnya Al-Qur'an). 

 

2. Seorang “hamil” Al-Qur’an harus meninggalkan setiap sesuatu yang dilarang Al-Qur’an karena untuk memuliakan Al-Qur’an. Artinya seorang “hamil” Al-Qur’an hendaknya tidak mengabaikan apa yang dilarang oleh Al-Qur’an, demi menjaga muru’ah dan kemuliaan Al-Qur’an. Imam Fudhail bin Iyadh menganjurkan kepada seorang penghafal Al-Qur’an untuk menjaga sikapnya, sebab ia diibaratkan sebagai pembawa bendera Islam, ia berkata:

 

حامل القرآن حامل راية الإسلام لا ينبغي أن يلهو مع من يلهو ولا يسهو مع من يسهو ولا يلغو مع من يلغو تعظيما لحق القرآن

 

“Para penghafal Al-Qur’an adalah pembawa bendera Islam, tidak patut dia bermain bersama orang yang bermain dan lupa bersama orang yang lupa, serta tidak berbicara yang sia-sia orang lain karena untuk mengagungkan Al-Qur’an”.

 

3. Seorang “hamil” Al-Qur’an harus menjaga diri dari pekerjaan yang rendah. Artinya seorang “hamil” Al-Qur’an tidak boleh menjerumuskan diri pada pekerjaan yang tidak halal, pekerjaan yang menjatuhkan diri pada lembah dosa dan hina.

 

4. Seorang “hamil” Al-Qur’an harus berjiwa mulia. Artinya seorang “hamil” Al-Qur’an harus memiliki jiwa yang bersih dari segala prasangka yang buruk kepada orang lain, mejaga lisan dan perbuatannya. Tidak patut bagi penghafal Al-Qur’an kasar (sikapnuya), pelupa, lantang suaranya dan pemarah.

 

5. Seorang “hamil” Al-Qur’an lebih tinggi derajatnya daripada penguasa yang sombong dan pecinta dunia yang jahat. Artinya seorang “hamil” Al-Qur’an tidak merendahkan diri dan merasa hina di hadapan penguasa yang angkuh, demikian pula tidak menjadi “hamba” pengais dunia. Imam Fudhai bin Iyadh berkata: “penghafal Al-Qur’an tidak boleh meminta keperluannya dari seorang khalifah (penguasa) dan dari orang yang berada di bawah kekuasannya”.

 

6. Seorang “hamil” Al-Qur’an harus tawadhu’ kepada orang-orang saleh, orang baik dan orang miskin. Artinya seorang “hamil” Al-Qur’an harus santun kepada semua orang, utamanya kepada orang-orang saleh, dan menyayangi orang miskin.

 

7. Seorang “hamil” Al-Qur’an harus khusyuk jiwanya, tenang dan berwibawa. Artinya seorang “hamil” Al-Qur’an hendaknya memiliki jiwa yang tenang dalam penampilannya, sabar menjaga dan memelihara hafalannya, wibawa dalam ucapannya. (imam Nawawi, al-Tibyan fi Adab Hamalat Al-Qur’an. Beirut: Dar al-Nafais, 1992, hal 43).

 

8. Seorang “hamil” Al-Qur’an tidak boleh menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber penghasilannya atau sandaran hidupnya dari membaca Al-Qur’an. Tidak sepantasnya seorang penghafal Al-Qur’an butuh kepada orang lain, tapi sebaiknya ia mampu memenuhi kebutuhan orang lain. Nabi mengingatkan kepada para “hamil” Al-Qur’an untuk senantiasa berhati-hati tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber pengahasilannya dalam hidup. Beliau bersabda:

 

اقرؤوا القرآن ولا تأكلوا به ولا تجفوا عنه ولا تغلوا فيه

 

“Bacalah Al-Qur’an dan jangan menggunakannya untuk mencari makan, jangan menjauhinya dan jangan melampau batas di dalam ajarannya”.

 

Berkaitan dengan masalah ini, Sayyidina Umar memberi suntikan motifasi kepada para “hamil” Al-Qur’an untuk selalu berlomba-lomba melakukan kebaikan dan tidak bergantung diri kapada orang lain.

 

يا معشر القراء ارفعوا رؤوسكم فقد وضح لكم الطريق فاستبقوا الخيرات لا تكونوا عيالا على الناس

 

“Wahai para qari’ Al-Qur’an, angkatlah kepalamu! Jalan telah jelas bagimu, maka berlomba-lombalah kamu untuk melakukan kebaikan dan janganlah kamu menggantungkan diri kepada orang lain”.

 

Imam al-Mujahid ketika memilih para imam Qira’at Al-Qur’an sebagai standar dan rujukan di dunia Islam, selain karena kemahiran dan kealimannya, dia memperhatikan soal konsistensinya dalam bidang Al-Qur’an, yang mana mereka tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai sandaran dan penopang hidupnya. Imam al-Syatibi berkata:

 

تخيرهم نقادهم كل بارع *** وليس على قرآنه متأكلا

 

“Para kritikus ulama memilih mereka (para imam qira’at) yang baik, mengamalkan ilmunya dan tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai sandaran hidupnya,” (Imam al-Syatibi, Hirz al-Amani wa Wajh al-Tahani fi al-Qir’at al-Sab’I. Saudi: Maktabah Dar al-Huda, 2010, hal 3).

 

9. Seorang “hamil” Al-Qur’an hendaknya selalu mengulang hafalannya, tidak mengabaikan amanat agung yang dianugrahkan kepadanya, utamanya dibaca dan muraja’ah pada malam hari, sebab pada malam hari adalah waktu yang mustajab. Sahabat Abdullah bin Mas’ud menganjurkan kepada para penghafal Al-Qur’an untuk menggunakan kesempatan dengan baik, saat orang lain dalam lalai. Beliau berkata:

 

ينبغي لحامل القرآن أن يعرف بليله إذا الناس نائمون وبنهاره إذا الناس مفطرون وبحزنه إذا الناس يفرحون وببكائه إذا الناس يضحكون وبصحته إذا الناس يخوضون، وبخشوعه إذا الناس يختالون

 

“Sebaiknya seorang yang hafal Al-Qur’an membaca Al-Qur’an di malam hari tatkala manusia tidur, disiang hari tatkala manusia sedang sibuk, bersedih tatkala manusia bersuka ria, menangis tatkala manusia tertawa, diam tatkala manusia bercengkrama, khusyuk tatkala manusia berjalan dengan sombong.”

 

Selain itu, menurut al-Ajurri al-Baghdadi, para “hamil” Al-Qur’an harus memiliki sifat takwa kepada Allah, wara’ dalam penampilan hidup nya; konsumsi hidupnya, pakaiannya, tempat tinggalnya, faham dengan situasi zamannya. (al-Ajurri Al-Baghdadi, Akhlaq Ahl Al-Qur’an. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2003, hal 78).

 

Dari semua etika yang telah disebutkan di atas, ada etika yang paling penting bagi para “hamil” Al-Qur’an untuk ditanamkan dalam jiwanya jika ingin mendapatkan ridha dan surga-Nya, yaitu menata niat dengan tulus hanya karena Allah, bukan untuk mendapatkan harta dan kedudukan. Jika niatnya salah, maka Al-Qur’an tidak akan memberikan syafa’at kepadanya, justru laknat yang ia didapatkan. Imam Ibnu al-Jauzi mengingatkan lewat sebuah syair, sebagaimana dikutip oleh Mustafa Murad, kepada seluruh para “hamil” Al-Qur’an agar senantiasa menata niat dengan baik dan tulus dalam menghafal Al-Qur’an agar mendapatkan ridha dan surga-Nya.

 

 

عَظُمَتْ مصيبة حامل القرأن *** إن كان ملجؤه إلى النيران

 

"Besar musibah para penghafal Al-Qur’an, jika tempat kembalinya ke neraka."

 

فهي الجزاء لمن عصا رب العلا *** دار العذاب وموقف الخسران

 

"Ia adalah balasan bagi orang yang melakukan kemaksiatan kepada Tuhan yang Maha Tinggi, (kembali) ke rumah adzab dan tempat penyesalan."

 

عظمت خسارته وجل مصابه *** عند الصراط بظلمة وهوان

 

"Besar penyesalannya dan besar musibahnya, saat melewati “sirat” dengan gelap dan hina."

 

يارب عفوا عن قبيح فعالنا *** أنت الدليل لجنة الرضوان

 

"Wahai Tuhan, ampunilah, dari buruknya perbuatan kami, Engkau adalah petunjuk untuk menuju surga-Nya."

 

 

Ustadz Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo

 

 

 

 

 

 

Share:

Baca Juga

Jumat 19 Juli 2019 13:30 WIB
Ini Langkah dan Metode Menghafal Al-Qur’an yang Tepat
Ini Langkah dan Metode Menghafal Al-Qur’an yang Tepat
Ilustrasi (whyislam.org)
Menghafal Al-Qur’an merupakan aktivitas yang sangat mulia, sebagaimana Nabi bersabda أشراف أمتي حملة القرأن (umatku yang paling mulia adalah mereka yang menghafal Al-Qur’an). Bahkan tidak sekadar label kemuliaan yang mereka dapatkan, tapi juga syafa’at bagi kedua orang tua sang penghafal. 

Imam al-Syatibi menggubah sebuah syair yang sangat bagus untuk menggambarkan kemuliaan yang didapatkan oleh para penghafal Al-Qur’an dan kedua orang tuanya, yaitu:

هنيئا مريئا والداك عليهما  ملابس أنوار من التاج والحلا

“Sungguh senang dan menggembirakan, kedua orang tuanya memakai mahkota dan perhiasan yang bercahaya (kelak di akhirat sebagai balasannya).”

Untuk dapat menghafal Al-Qur’an 30 juz tidak mudah seperti membalikkan kedua tangan, sebab untuk mendapatkan label umat terbaik butuh kesungguhan dan pengorbanan jiwa dan raga. Untuk itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para penghafal Al-Qur’an agar bisa menjadi “hamil” Al-Qur’an yang baik (penyebutan salah kaprah di Indonesia bagi penghafal al-Qur'an adalah "hafiz", padahal seharusnya "hamil", red).

a. Pra-Mengahafal.

Seorang penghafal Al-Qur’an harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Membersihkan diri dari hal-hal yang tidak baik dan menjauhkan diri pula dari kesibukan yang bersifat duniawi,
  2. Menata niat untuk mendapatkan keridhaan Allah dan mengikuti sunnah Nabi dan ulama salaf,
  3. Berdoa kepada Allah secara maksimal,
  4. Meminta doa kepada orang tua dan guru,
  5. Membuat schedule yang jelas untuk mengahafal dan istiqamah,
  6. Berteman dengan orang-orang yang dapat menggugah dan memotivasi untuk terus menghafal,
  7. Banyak membaca sejarang penting para penghafal Al-Qur’an dan para master Al-Qur’an, seperti sejarah imam qira’at sab’ah, para imam qari’ di belahan dunia Islam.

b. Saat Menghafal Al-Qur’an

  1. Menjaga wudhu agar bisa membaca Al-Qur’an di mushaf setiap saat dibutuhkan,
  2. Membiasakan bangun sebelum subuh agar bisa menghafal Al-Qur’an pada sepertiga malam,
  3. Konsisten terhadap jadwal yang telah disusun, baik untuk hafalan yang baru atau sekedar muraja’ah (mengulang hafalan). schedule yang dibuat tidak boleh dilanggar. Jika ada kesibukan yang lain sehingga harus meninggalkan hafalan baru dan muraja’ah, maka harus diqadha atau diganti di lain waktu,
  4. Bersabar atas segala ujian dan cobaan saat menghafal Al-Qur’an dengan selalu bersandar pada Al-Qur’an,
  5. Dalam menghafal, harus memperhatikan ayat-ayat yang mirip (mutasyabihat), agar hafalannya tidak rancau,
  6. Membiasakan mengulang hafalan saat shalat untuk memantapkan hafalan, dan juga membiasakan menuliskannya ke dalam kertas, agar selain hafal dalam bentuk ingatan juga hafal dalam bentuk tulisan, 
  7. Menggunakan satu mushaf, agar terbiasa dan tidak bingung letak awal dan akhir ayat yang dihafal,
  8. Menyetorkan hafalan kepada guru yang kompeten,
  9. Adapun cara menghafal Al-Qur’an ada tiga metode, yaitu sebagai berikut:

Metode pertama,  Thariqah Tasalsuli.

Metode ini adalah membaca satu ayat pertama, kemudian diulang-ulang untuk dihafalkan. Setelah hafal pada ayat pertama ini, maka dilanjutkan pada ayat kedua untuk diulang-ulang sampai hafal dengan lancar dan mutqin (melekat sangat kuat). Setelah yang kedua ini hafal, maka diulang (menggabungkan) ayat pertama dan ayat kedua. Setelah dua ayat di atas dirasa sudah mutqin dan lancar, maka dilanjutkan pada ayat yang ketiga dan seterusnya sampai batas hafalan yang telah tersusun dalam jadwal setiap harinya.

Metode kedua, Thariqah Jam’i.

Metode ini adalah menghafal ayat pertama sampai lancar, kemudian dilanjutkan pada ayat kedua sampai lancar, dan kemudian dilanjutkan pada ayat yang ketiga sampai lancar juga hingga sampai pada batas hafalan yang telah disusun dalam jadwal setiap harinya. Setelah sempurna pada batas ayat yang dihafal, maka diulang dari awal ayat pertama hingga terakhir dengan beberapa kali pengulangan hingga hafalan lancar tanpa kendala.

Metode ketiga, Thariqah Muqassam.

Metode ini ialah membagi hafalan pada beberapa bagian terbatas dalam makna, dan menuliskan hasil hafalannya tersebut ke dalam kertas. Dan memberi setiap yang dihafal dengan subjudul, kemudian dihafalkan secara komulatif dan digabungkan (lihat: Mustafa Murad, Kaifa Tahfadz Al-Qur’an, Kairo: Dar al-Fajr li al-Turats, 2003, hal 16).

C. Pasca-Menghafal/Mengkhatamkan Al-Qur’an

Ada sebuah ungkapan yang bagus bagi para hamil Al-Qur’an, yaitu “menghafal Al-Qur’an bisa dilakukan di waktu luang, tapi mengulang hafalan harus meluangkan waktu”. Artinya jika seseorang sudah dianugerahi sebuah hafalan Al-Qur’an, maka kewajiban orang itu adalah menjaga hafalan tersebut dengan baik, sebab Al-Qur’an adalah amanat yang diberikan Allah kepada orang-orang teristimewanya.

Ungkapan yang lain “Menghafal hanya butuh hitungan waktu dan hari tapi menjaganya butuh waktu seumur hidup”. Artinya, seseorang yang memiliki hafalan Al-Qur’an harus mampu menjaga hafalan tersebut hingga ajal mejemputnya. Sebab jika hafalan tersebut diabaikan, maka ia harus menanggung  beban dosa seumur hidupnya. Nabi mengingatkan kepada para hamil Al-Qur’an agar senantiasa “mengikat” hafalannya, sebab ia seperti ikatan yang mudah lepas melebihi ikatan yang diikatkan ke unta. 

Nabi bersabda:

تعاهدوا القرآن فوالذي نفسي بيده لهو أشد تفصيا من الإبل في عقلها

“Ikatlah ‘hafalan’ Al-Qur’an itu, maka demi Dzat yang jiwaku ini ada dalam kekuasaan-Nya, sungguh ia (hafalan Al-Qur’an) sangat mudah lepas melebihi unta dari ikatan kendalinya,” (Imam Bukhari, Shahih Bukhari, Beirut: Dar Thauq al-Najat, tth, juz 6, hal 193, hadits ke 5033).

Dalam hadits di atas, ada tiga perumpamaan yang perlu diperhatikan oleh para penghafal Al-Qur’an. Pertama, hamil Al-Qur’an diibaratkan seperti pemilik unta. Kedua, Al-Qur’an diibaratkan seperti unta. Ketiga, hafalan diibaratkan seperti ikatan (Abdul Rab Alu Nuwab, Kaifa Tahfadz Al-Qur’an, Beirut: Dar Thawiq, 2001, hal, 111). Oleh sebab itu, suatu keharusan bagi para hamil Al-Qur’an untuk mengikat hafalannya dengan konsisten mengulang hafalannya.

Untuk menjaga hafalan pasca-menghafal/ menghatamkan Al-Qur’an, seorang hamil Al-Qur’an perlu melakukan beberapa hal sebagai berikut: (1) manajemen muraja’ah, (2) konsisten, (3) memperbanyak doa dan riyadhah.

1. Manajemen muraja’ah adalah mengatur waktu untuk mengulang hafalannya sesuai dengan kadar kemampuannya. Sebab setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda  dalam mengulang hafalannya. Adakalanya seorang mampu mengkhatamkan hafalannya dalam waktu sehari semalam, seminggu sebulan bahkan hingga berbulan-bulan. Namun sesuai petunjuk Nabi, untuk mengulang hafalan atau mengkhatamkannya tidak kurang dari tiga hari dan tidak melewati empat puluh hari. Untuk itu, jika  ia mampu mengkhatamkannya dalam kurun waktu tiga hari, maka harus ia harus menyusun schedule setiap harinya mengulang 10 juz. Jika mampu mengkhatamkannya seminggu sekali, maka harus menejemen waktu mengulang setiap harinya 4 juz atau 4 juz setengah. Jika ia mampu mengulang hafalan sebulan sekali, maka ia harus mengulang hafalannya 1 juz setiap harinya.

Untuk mengulang hafalan, tidak harus monoton bersemidi menyendiri mengulang hafalan Al-Qur’an di masjid atau di mushalla, tapi juga bisa dilakukan inovasi-inovasi yang sekiranya mampu me-refresh memori hafalan seperti mendengarkan bacaan qari’-qari ternama; Syekh Siddiq al-Minsyaqi, al-Hushari, Abdul Basith dll. Bisa juga membuat arisan khataman bergilir setiap bulan bersama sesama para hamil Al-Qur’an atau “tasmi’an”. Selain itu, bisa juga menejeman mengulang hafalan dengan megulang hafalan dibaca dalam shalat lima waktu, utamanya shalat sunnah sebagaimana yang dilakukan oleh para salafus shalih.

2. Konsisten mengulang hafalan adalah seorang hamil Al-Qur’an harus memiliki prinsip yang teguh untuk selalu bersama kalam-Nya walau dalam keadaan dan situasi apapun. Sebab tidak ada kesuksesan yang dapat diraih kecuali dilandasi konsistensi yang kuat, begitu pula tidak ada hafalan yang kuat diraih kecuali konsisten mengulang hafalan. Oleh karena itu, untuk menjaga hafalan seorang hamil Al-Qur’an harus konsisten dengan manajemen waktu dan murajaah yang telah ditetapkan. Jika ia mampu mengulang hafalanya setiap hari satu juz, maka ia harus konsisten dengan pengulangan tersebut. Ibnu Mas’ud berkata:

ينبغي لحامل القرآن أن يعرف بليله إذا الناس نائمون، وبنهاره إذا الناس مفطرون، وبحزنه إذا الناس فرحون، وببكائه إذا الناس يضحكون، وبصمته إذا الناس يخلطون، وبخشوعه إذا الناس يختالون

“Sebaiknya seorang yang hafal Al-Qur’an membaca Al-Qur’an di malam hari tatkala manusia tidur, disiang hari tatkala manusia sedang sibuk, bersedih tatkala manusia bersuka ria, menangis tatkala manusia tertawa, diam tatkala manusia bercengkrama, khusyuk tatkala manusia berjalan dengan sombong”.

3. Perbanyak doa dan riyadhah adalah memohon kepada Allah untuk dijaga hafalannya. Selain berdoa juga harus disertai riyadhah seperti berpuasa setiap kali mengkhatamkan Al-Qur’an, atau menjadikan hafalan sebagai wiridan setiap hari yang harus dibaca.


Ustadz Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo 
Senin 29 April 2019 19:45 WIB
Al-Qur’an dan Qira’at, Sama atau Beda?
Al-Qur’an dan Qira’at, Sama atau Beda?
Ilustrasi (malaymail.com)
Al-Qur’an dan qira’at adalah dua kata yang berbeda tapi memiliki arti yang sama, yaitu bacaan. Meskipun demikian, sebagian ulama mempersepsikan bahwa Al-Qur’an dan qira’at memiliki cakupan pembahasan dan objek yang berbeda, sebagian ulama yang lain mempersepsikan bahwa keduanya satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Berikut adalah pendapat ulama tentang hubungan Al-Qur’an dan qira’at.

Imam al-Zarkashiy menyatakan bahwa antara Al-Qur’an dengan qira'at merupakan sebuah substansi yang berbeda. Dia berkata:

وَاعْلَمْ أَنَّ الْقُرْآنَ وَالْقِرَاءَاتِ حَقِيقَتَانِ مُتَغَايِرَتَانِ فَالْقُرْآنُ هُوَ الْوَحْيُ الْمُنَزَّلُ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْبَيَانِ وَالْإِعْجَازِ وَالْقِرَاءَاتُ هِيَ اخْتِلَافُ أَلْفَاظِ الْوَحْيِ الْمَذْكُورِ فِي كَتَبَةِ الْحُرُوفِ أَوْ كَيْفِيِّتِهَا مِنْ تَخْفِيفٍ وَتَثْقِيلٍ وَغَيْرِهِمَا
 
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya Al-Qur’an dan qira’at adalah dua substansi yang berbeda. Al-Qur’an adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sebagai penjelasan dan mukjizat, sedangkan qira'at adalah lafadz-lafadz wahyu (Al-Qur’an), baik menyangkut tulisan huruf-huruf-nya atau cara pengucapannya, seperti takhfif, tashdid dan lain-lain.” (Al-Zarkasyi, Al-Burhan fi Ulum Al-Qur’an, Beirut: Dar al-Ihya al-Kutub al-Arabiyah, 1957, h. 318).

Pendapat al-Zarkasyi ini diikuti oleh Imam Ahmad Shihab al-Din al-Qashthalani dalam karyanya Lathaif al-Isyarat li Funun al-Qira'at dan Imam Ahmad al-Banna al-Dimyati dalam karyanya Ittihaf Fudala al-Basyar fi al-Qira’at al-Arba’ al-Asyar. Demikian pula pendapat ini mendapat sambutan dari intelektual masa sekarang yaitu Imam Subhi Saleh dalam karyanya Mabahits fi Ulum Al-Qur’an.

Sya’ban Muhammad Ismail memberikan komentar pendapat di atas, bahwa apabila yang dimaksud dengan perbedaan itu adalah perbedaan secara keseluruhan, maka dia keberatan. Karena baginya, qira'at yang sahih dan diterima oleh seluruh umat tidak lain adalah bagian dari Al-Qur’an. Antara Al-Qur’an dan qira'at memiliki hubungan yang kuat, yaitu hubungan juz dengan kull. (Muhammad Sya’ban Isma’il, Al-Qira'at Ahkamuha wa Masdaruha [Kairo: Dar al-Salam], 2008, h. 25).

Artinya, apa yang dimaksud oleh Imam al-Zarkasyi tidak bermakna bahwa Al-Qur’an dengan qira’at sebagai suatu yang berbeda secara mutlak. Namun di satu sisi kedua memiliki persamaan, di sisi yang lain memiliki perbedaan. 

Persamaan Al-Qur’an dengan qira’at adalah terletak pada posisi apabila qira’at itu sahih dan mutawatir, sedangkan perbedaannya terletak pada posisi dimana qira’at itu tidak memiliki sandaran yang mutawatir dan syadz, maka itu dinamakan qira’at saja bukan tidak sebagai Al-Qur’an seperti qira’at syadz.

Al-Qur’an adalah sebuah susunan kata, sedangkan qira’at adalah sebuah lafadz dan cara pengucapannya.

Al-Qur’an mencakup tempat perbedaan dan persaman bacaan yang datangnya dari Nabi secara mutawatir, sedangkan qira’at segi-segi lafadz yang berbeda, baik yang mutawatir maupun yang syadz. Perlu diketahui bahwa qira’at yang syadz tidak dikatakan sebagai Al-Qur’an. 

Sebagian besar ulama dan para ahli qira'at menyatakan bahwa apabila sebuah bacaan (qira'at) telah memenuhi tiga syarat: sahih sanadnya, sesuai dengan kaidah bahasa Arab dan sesuai dengan penulisan rasm utsmani, maka bacaan tersebut dapat dipastikan sebagai Al-Qur’an. Namun, apabila bacaan tersebut tidak sesuai dengan salah satu dari tiga syarat di atas, maka bacaan tersebut hanya dinamakan qira'at saja. (Abdul Hadi al-Fadhli, Al-Qira’at Al-Qur’aniyat [Beirut: Dar Majma’ al-Ilmi], 1979, h. 62).

Pendapat ini hampir mirip dengan pendapat Imam al-Zarkasyi, hanya saja lebih terperinci dan detail. Artinya, kesamaan Al-Qur’an dengan qira’at jika ia telah memenuhi tiga syarat: sahih sanadnya, sesuai kaidah arab dan rasm ustmani, namun apabila tidak memenuhi salah satu dari syarat di atas, maka ia hanya disebut sebagai qira’at saja.

Sementara itu, sebagian ulama berpendapat bahwa Al-Qur’an dan qira’at adalah dua substansi yang sama. Pendapat ini merupakan pendapat Imam Daqiq al-‘Ied, sebagaimana dikutip oleh Abd al-Hadi. Beliau menjelaskan bahwa setiap qira'at termasuk Al-Qur’an walaupun qira'at shadz. (Abdul Hadi al-Fadhli, Al-Qira’at Al-Qur’aniyat [Beirut: Dar Majma’ al-Ilmi], 1979, h. 62).

Senada dengan pendapatnya Imam Daqiq al-Ied, Muhammad Salim Muhaisin dalam karyanya Fi Rihab Al-Qur’an al-Karim sebagaimana dikutip oleh Sya’ban Muhammad Ismail menjelaskan bahwa Al-Qur’an dan qira’at adalah dua substansi yang sama.

Untuk menguatkan pendapatnya, Muhammad Salim Muhaisin berpedoman bahwa lafadz Al-Qur’an merupakan adjektif (masdar) dari sinonim kata qira'at. 

Di samping itu, dia juga memaparkan tentang hadits yang menjelaskan tentang perintah Allah kepada Nabi untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada umatnya dengan tujuh huruf. 

Dari sinilah, beliau menyimpulkan bahwa antara Al-Qur’an dan qira'at adalah dua substansi yang sama, tidak ada perbedaan, karena keduanya merupakan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad (Muhammad Sya’ban Isma’il, Al-Qira'at Ahkamuha wa Masdaruha [Kairo: Dar al-Salam], 2008, h. 25).

Pendapat yang diajukan oleh Muhammad Muahisin ini tidak lepas dari komentar Sha’ban Muhammad Ismail. Beliau menyatakan bahwa pendapat yang diutarakan oleh Muhaisin tidak dapat diterima, karena hal tersebut tidak pernah disinggung oleh para ulama terdahulu. Dengan tegas beliau menyatakan bahwa tidak mungkin dikatakan bahwa Al-Qur’an dan qira'at merupakan dua substansi yang sama. Oleh karena itu, beliau berpandangan bahwa qira'at dengan berbagai karakternya tidak mencakup seluruh kalimat-kalimat dalam Al-Qur’an, tapi ia hanya terdapat di sebagian lafadz-lafadz Al-Qur’an.  Di samping itu, beliau juga menjelaskan bahwa definisi qira'at yang diutarakan di atas mencakup qira'at mutawatirah dan shadz. Sementara itu, ulama sepakat bahwa tidak boleh membaca Al-Qur’an dengan qira'at shadz, karena dalam qira'at ini tidak memenuhi tiga syarat: mutawatir sanadnya, sesuai kaidah bahasa Arab dan sesuai dengan rasm utsmani (Muhammad Sya’ban Isma’il, Al-Qira'at Ahkamuha wa Masdaruha [Kairo: Dar al-Salam], 2008, h. 26).
Dari pemaparan yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa hubungan antara Al-Qur’an dengan qira'at terbagi dua, yaitu: Pertama,  pendapat Imam al-Zarkashiy dan sebagian besar ulama dan ahli qira'at menyatakan bahwa antara Al-Qur’an dengan qira'at sebuah substansi yang di satu sisi memiliki persamaan, di sisi yang lain memiliki perbedaan.

Sedangkan pendapat kedua diwakili oleh Ibnu Daqîq al-Ied dan Muhammad Sîlim Muhaisin. Mereka berpendapat bahwa antara Al-Qur’an dan qira'at adalah dua substansi yang sama. 

Wallahu a’lam bi al-shawab.


Ustadz Moh. Fathurrozi, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo; pembina tadarusan subuh Mushalla Nurul Iman.

Rabu 3 April 2019 22:15 WIB
Biografi Imam Qira’at Abu al-Hasan al-Kisa’i
Biografi Imam Qira’at Abu al-Hasan al-Kisa’i
Ilustrasi (via aboutislam.net)
Kufah merupakan negeri yang banyak melahirkan intelektual Muslim yang berbakat dalam bidangnya. Ia menjadi tempat yang “empuk” untuk memupuk intelektualisme, ibarat lautan yang tak pernah habis airnya walau di saat surut.

Ada tiga nama besar imam qira’at Al-Qur’an sab’ah yang lahir di Kufah dengan kompetensi tambahan yang berbeda: (1) Imam Ashim, ahli qira’at sekaligus ahli hadis, (2) Imam Hamzah, ahli qira’at sekaligus ahli faraidh, (3) Imam Ali al-Kisa’i, ahli qira’at sekaligus ahli gramatika bahasa Arab. Imam al-Kisa’i merupakan imam qira’at yang menempati posisi ketujuh dalam ururtan para imam qira’at sab’ah.

Pada mulanya, imam ini tidak masuk dalam urutan imam qira’at sab’ah (tujuh), sebab posisi ke tujuh ditempati oleh Imam Ya’kub al-Hadrami, imam qira’at yang ke sembilan dalam urutan qira’at asyrah (sepuluh). Tapi kemudian Imam al-Mujahid melalui penelitiannya yang mendalam, ia menempatkan Imam al-Kisa’i pada posisi ke tujuh dalam qira’at sab’ah. Penempatan ini tidak didasarkan pada faktor politik atau kedekatannya dengan sang khalifah, yaitu Harun al-Rasyid, namun karena faktor kemutawatiran sanad dan dedikasinya dalam mengajarkan qira’at Al-Qur’an. Selain itu, Imam al-Hadrami adalah salah satu murid dari Imam al-Kisa’i, artinya secara standarisasi transmisi sanad, Imam al-Kisa’i lebih unggul.

Biografi Imam al-Kisa’i

Namanya Ali bin Hamzah bin Abdullah bin Utsman bin Bahman bin Fairuz Maula bani Asad. Nama panggilannya (kuniyah) Abu al-Hasan dan dikenal dengan julukan al-Kisa’i. Julukan ini disematkan kepadanya, karena ia memakai baju ihram di kota Kisa’. Ia adalah salah satu imam qira’at sab’ah, yang berasal dari Kufah, kemudian tinggal dan menetap di kota Baghdad.

Perjalanan Intelektualnya

Perjalanan intelektual Imam al-Kisa’i ini berawal dari belajar Al-Qur’an dan ilmu dasar-dasar ilmu keislaman lainnya kepada beberapa guru dikampung halamannya, Kufah. Kemudian dilanjutkan belajar secara serius dan mendalam kepada beberapa ulama, salah satunya adalah:

1. Imam Hamzah bin Habib al-Zayyat. Kepada Imam Hamzah ini, ia mengkhatamkan Al-Qur’an empat kali dan menjadi rujukan dalam qira’atnya. Suatu ketika Imam al-Kisa’i ditanyakan siapa yang menjadi rujukan qira’atnya, ia pun menjawab penuh antusias, Imam Hamzah.

2. Imam Muhammad bin Abi Laila, ia belajar kepada Isa bin Abdurrahman dari Abdurrahman bin Abi Laila dari Ali bin Abi Thalib dari Nabi Muhammad Saw,.

3. Imam Isa bin Umar al-Hamadani kepada (1) Imam Ashim, (2) Thalhah bin Musrif, (3) al-A’masy.

4. Imam Abu Bakar bin Ayyasy, Syu’bah, perawi Imam Ashim, ia belajar kepada Imam Syu’bah beberapa huruf (bacaan) saja.

5. Ismail bin Ja’far belajar kapada beberapa guru, salah satunya adalah, (1) Syaibah bin Nashshah, (2) Nafi’, (3) Sulaimam bin Jammaz, (4) Ibnu Wardan.

6. Zaidah bin Qudamah belajar kepada al-A’masy.

Pada masanya, Imam al-Kisa’i adalah panutan masyarakat Baghdad dalam soal qira’at Al-Qur’an, bahkan ia adalah orang yang paling alim dan paling menguasai dalam hal itu. Atas dasar kedalaman dan kealimannya, kemudian ia diangkat menjadi pimpinan madrasah qira’at Al-Qur’an di Kufah setelah Imam Hamzah.

Oleh karena itu, maka tak ayal jika Imam al-Kisa’i kemudian dikenal oleh masyarakatnya sebagai orang yang tsiqah, terpercaya dalam menukil qira’at Al-Qur’an. Sebab sejarah telah mencatat bahwa al-Kisa’i adalah orang yang tsiqah dan amanah. 

Sejarah adalah sebaik-baiknya saksi dalam hal ini. Imam Salamah bin Ashim berkata bahwa Imam al-Kisa’i berkisah: “Saya melaksanakan shalat bersama Harun al-Rasyid, kemudian dia kaget dan heran dengan bacaan saya. Saya telah melakukan kesalahan dalam bacaan saya, bahkan anak kecilpun tidak akan melakukan kesalahan seperti itu. Misalkan saya mau membaca (لعلهم يرجعون) tapi justru saya membaca (لعلهم يرجعين), demi Allah, Harun al-Rasyid tidak berani mengatakan bahwa saya salah.

Setelah salam, Harun al-Rasyid bertanya kepada saya: “Bahasa apa yang kamu baca itu?. Saya pun menjawab: “wahai Amirul Mukminin, orang yang baik pun akan tergelincir kesalahan. Kemudian dia memjawab: “jika seperti itu, iya benar”. Cerita ini menunjukkan keberanian dan amanahnya Imam al-Kisa’i dalam menukil qira’at Al-Qur’an. Ketika ia salah, maka ia mengakui atas kesalahan itu, tidak menutupinya demi reputasi atau pangkat. Demikian adalah akhlak dan suluk ulama terdahalu,

Selain itu, Imam al-Kisa’i juga seorang imam yang rendah hati dan sangat hati-hati dalam menjawab sebuah pertanyaan yang disampaikan kepadanya, ia lebih takut kepada Tuhannya daripada menjawab dengan “grusa-grusu” tanpa pertimbangan yang matang dan baik. 

Imam al-Farra’ bercerita: “Suatu hari saya bertemu al-Kisa’i, seakan-akan ia sedang menangis. Kemudian saya bertanya: “kenapa Anda menangis?. Ia menjawab: “Yahya bin Khalid mendatangiku dan bertanya tentang sesuatu kepadaku, jika aku menjawab lambat, maka ia akan menghinaku, tapi jika aku menjawabnya segera, maka aku tidak jamin selamat dari kesalahan. 

Saya pun mengutarakan pendapat: “Wahai Abu al-Hasan, siapa yang akan menyanggahmu, katakan sebagaimana yang kamu inginkan, engkau adalah Imam al-Kisa’i.

Kemudian ia pun menaruh tangannya di mulutnya, seraya berkata: “Semoga Allah memutuskan (memaafkan)-nya, jika aku mengatakan sesuatu yang tidak aku ketahui.

Di samping itu, Imam al-Kisa’i juga seorang yang sangat haus ilmu dan antusias dalam menuntut ilmu, bahkan ia harus mengorbankan jiwa raganya untuk menyelami ilmu yang orisinil dari sumbernya. Ini dibuktikan olehnya dengan belajar langsung kepada orang Arab badui perkampungannya. Ia rela mendatangi mereka dan berbaur dengan mereka untuk mendapatkan ilmu dari sumbernya yang orisinil.

Imam al-Farra’ berkata: “al-Kisa’i belajar ilmu nahwu atas dasar kebanggaan, karena ia datang kepada sebuah kaum (badui). Suatu ketika ia merasa capek dan mengucapkan: “(عَيَيْتُ) (saya capek), mereka protes dan berkata: “Kamu belajar kepada kami, berbaur dengan kami tapi kamu masih melakukan kesalahan (dalam pengucapan), kemudian al-Kisa’i menyanggah: “Bagaimana mungkin saya melakukan kesalahan”. mereka pun menjawab: “Jika kamu hendak mengungkapkan rasa capek, maka katakan (أَعْيَيْتُ), tapi jika kamu mau mengungkapkan menghilangkan tipu daya dan pusing dalam suatu urusan, maka katakan (عَيَيْتُ), maka ia pun marah dan bergegas berdiri seraya bertanya orang yang dapat mengajarkannya ilmu nahwu, maka ia ditunjukkan kepada Muadz bin al-Harra’, ia pun kemudian belajar dan bermulazamah dengannya. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan intelektualnya ke Bashrah untuk belajar kepada al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi.

Dalam Tarikh Ibnu Katsir disebutkan bahwa Imam al-Kisa’i belajar kepada Imam al-Khalil tentang kompetensi ilmu nahwu. Suatu hari dia bertanya kepada Imam al-Khalil: “Kepada siapa engkau belajar ilmu ini?. beliau menjawab: “Belajar (kepada orang badui) di lembah tanah Hijaz. Maka, sejak saat itulah, al-Kisa’i berangkat ke lembah Hijaz demi memenuhi hasratnya menuntut ilmu nahwu. Di sana, ia banyak mencatat pengetahuan dari orang-orang Arab. Setelah dirasa sudah cukup membaur dan mengambil ilmu dari orang Arab. Maka dia kembali menemui gurunya, al-Khalil. Namun sayang, ia tidak dapat menjumpainya karena sudah wafat. Posisi dan kedudukan al-Khalil pun digantikan oleh Imam Yunus. 

Perjumpaannya dengan Imam Yunus berlangsung baik dan keduanya melakukan diskusi keilmuan yang mendalam. Imam al-Kisa’i menunjukkan kelasnya sebagai ahli dalam dalam bidang nahwu hingga kemudian Imam Yunus mengakui keunggulan Imam al-Kisa’i dan menyerahkan posisinya kepada Imam al-Kisa’i.

Imam al-Kisa’i merupakan imam qira’at sekaligus pakar nahwu dan bahasa. Imam al-Fudhail bin Syadzan memujinya dengan mengatakan: “Setelah al-Kisa’i menyelesaikan belajar kepada Imam Hamzah, ia pergi ke kampung badui, ia berbaur dan tinggal bersama mereka dan mempelajari seluk beluk bahasa mereka, sehingga ia menjadi bagian dari mereka. Kemudian ia kembali ke kota dan menjadi ahli dalam bidang bahasa”.

Qira’at Imam al-Kisa’i

Qira’at Imam al-Kisa’i bukan sebuah qira’at yang dihasilkan dari berbagai dialek Arab dan bukan pula sebagai aliran baru dalam dunia qira’at Al-Qur’an. Tapi qira’at al-Kisa’i adalah hasil seleksi dan pemilihan dari berbagai qira’at yang dipelajari dari guru-gurunya.  

Imam Abu Ubaid berkata dalam kitab “al-Qira’at”: “Imam al-Kisa’i melakukan seleksi dan pemilihan dalam qira’at, kadang ia mengambil sebagian qira’at Hamzah dan menginggalkan sebagiannya. Tidak ada yang lebih dhabit (menguasais secara baik dan benar) dan lebih tegak dalam bidang qira’at Al-Qur’an daripada Imam al-Kisa’i”.

Imam Mujahid berkata: “Imam al-Kisa’i melakukan penyeleksian dan pemilihan dari bacaan Imam Hamzah dan imam yang lainnya (guru-gurunya) sebagai bacaan standar-nya (tengah-tengah), tidak keluar dari atsar para imam pedahalunya. Ia adalah imam qira’at Al-Qur’an pada masanya”.

Selain itu, banyak warganya menggunakan dan membaca qira’atnya sebagai bacaan mereka, dan membaca mushaf mereka dengan menggunakan qira’atnya.

Komentar Ulama

Imam Ismail bin Ja’far al-Madani, murid senior Imam Nafi’, berkata: “Saya tidak pernah menemukan seorang yang lebih mahir dalam soal qira’at Al-Qur’an daripada Imam al-Kisa’i”.

Imam Abu Bakar al-Anbari berkata: “Imam al-Kisa’i merangkap beberapa kompetensi, ia paling mahir dalam bidang gramtikal bahasa Arab, dan satu-satunya orang yang paling mengerti dalam bidang gharib, dan satu-satunya pula orang yang mahir dalam bidang Al-Qur’an. Mereka banyak membersamainya dan melakukan khalaqah dengan mereka. Ia duduk di atas kursi dengan membaca Al-Qur’an dari awal sampai akhir, mereka mendengarkan dan meneliti secara seksama mulai dari al-Maqati’ sampai al-Mabadi’.

Sebagian ulama berkata: “Imam al-Kisa’i ketika membaca Al-Qur’an atau berbicara, seakan-akan malaikat menjelma ke dalam lisannya dan berbicara”.

Imam Yahya bin Ma’in berkata: “Saya tidak pernah melihat dengan kedua mataku ini yang lebih bagus bahasa (dialeknya) daripada al-Kisa’i”.

Imam al-Syafi’i berkata: “Barang siapa yang ingin mendalami ilmu nahwu, maka ia (butuh) berhutang budi kepada Imam al-Kisa’i”.

Imam yang lain mengatakan bahwa Imam al-Kisa’i adalah pemimpin thabaqah qira’at, bahasa, nahwu dan kepemimpinan. Dia yang mengajarkan akhlak dua anak Harun al-Rasyid; al-Amin dan al-Makmun.

Sebagian ulama bermimpi bertemu dengan al-Kisa’i, kemudian menanyakan keadaanya dan apa yang berikan oleh Allah kepadanya: beliau menjawab: “Allah telah mengampuni (dosa-dosa)ku sebab Al-Qur’an. Lantas ia bertanya kembali tentang Imam Hamzah, beliau menjawab: “Beliau berada di tempat yang sangat tinggi, kita tidak akan melihatnya kecuali seperti bintang gemintang.

Karya Imam al-Kisa’i

Selain melahirkan karya berupa murid-murid yang berkompeten dalam bidang qira’at Al-Qur’an dan bahasa Arab, Imam al-Kisa’i juga banyak melahirkan karya tulis, baik dalam bidang qira’at Al-Qur’an maupun bidang gramatika bahasa Arab. Meskipun demikian, menurut penuturan Syekh Abdul Fattah al-Qadhi, karya-karya ini hanya namanya saja yang dikenal namun sampai saat ini tidak pernah dijumpai bentuk wujudnya, bahkan tidak diketahui sedikitpun karya-karya itu.

Salah satu karyanya adalah: kitab Ma’ani Al-Qur’an, kitab al-Qira’at, kitab al-Nawadir, kitab al-Nahwi, kitab al-Haja’, kitab Maqtu’ Al-Qur’an wa Maushuluhu, kitab al-Mashadir, kitab al-Huruf, kitab al-Ha’at, kitab Asy’ar”.

Wafatnya Imam al-Kisa’i

Setelah mendarma-baktikan kepada Al-Qur’an dan qira’atnya, Imam al-Kisa’i kembali ke pangkuan Tuhan pemilik jiwa dan raga. Banyak dari kalangan masyarakat umum, penuntut ilmu, dan murid-muridnya bahkan para ulama se zamannya, merasa kehilangan atas kepergiannya. 

Para ulama berbeda pendapat soal tahun wafatanya Imam al-Kisa’i. Menurut pendapat yang paling sahih, ia wafat pada tahun 189 saat berumur 70 tahun. Pada tahun itu bertepatan dengan tahun wafatnya salah seorang faqih dari kalangan Hanafiyah, yaitu Imam Abu al-Hasan al-Syaibani.

Diceritakan bahwa Imam al-Kisa’i wafat di kampung Ranbawaih, kota Ray, waktu menemani Harun al-Rasyid, ketika sedang menuju kota Khurasan, bersamaan dengan wafatnya salah satu murid Imam Abi Hanifah, Imam Muhammad al-Hasan al-Syaibani, diwaktu dan tempat yang sama.

Imam Harun ar-Rasyid bersedih seraya berucap: “Kita menguburkan (orang yang ahli) fiqh dan (orang yang ahli) nahwu di kota Ray di saat bersamaan. Sebagian riwayat mengatakan bahwa ar-Rasyid mengatakan: “Hari ini kita mengubur fiqh dan nahwu (secara bersamaan)”.

Murid-muridnya

Imam al-Kisa’i telah menempati posisi yang sangat tinggi dalam bidang bahasa dan qira’at Al-Qur’an. Atas ketekunan dan keseriusannya dalam mempelajari suatu ilmu ia kemudian menjadi pemimpin masyarakatnya, baik dalam bidang bahasa maupun qira’at Al-Qur’an. Maka tak ayal, banyak dari kalangan penuntut ilmu belajar kepadanya, baik belajar secara langsung dengan membaca dihadapannya (ardhan; setoran) maupun hanya sekadar menyimaknya (sima’an) tanpa melalui setoran secara langsung, salah satunya adalah Ahmad bin Jubair, Ahmad bin Mansur al-Baghdadi, Hafs bin Umar al-Duri, Abu al-Harits al-Laits bin Khalid, Abdullah bin Ahmad bin Dzakwan (Imam Dzakwan ini belajar kepada Imam al-Kisa’i saat ia datang ke negara Syam), Abu Ubaid bin al-Qasim bin Sallam, Qutaibah bin Mahran, al-Mughirah bin Syuaib, Yahya bin Adam, Khalaf bin Hisyam al-Bazzar, Syuraih bin Yazid, Yahya bin Yazid al-Farra’. 

Selain itu, ada sebagian murid-muridnya yang sekedar belajar beberapa huruf (bacaan) saja, yaitu; Ya’kub bin Ishaq al-Hadrami.

Namun diantara murid-muridnya, ada dua muridnya yang paling terkenal dan menjadi perawi qira’atnya, yaitu Abu al-Harits dan al-Duri. 

Imam al-Duri yang dimaksud di sini adalah Imam al-Duri yang sekaligus menjadi perawi Imam Abu Amr al-Bashri. Artinya ia menjadi perawi dua imam qira’at sekaligus; perawi Imam Abu Amr al-Bashri dan Imam al-Kisa’i. 

Oleh karena demikian untuk profil Imam al-Duri bisa dibaca kembali di biografi perjalanan Imam Abu Amr al-Bashri. Penulis di sini hanya menguraikan tentang profil dan perjalanan intelektual Imam Abul Harits.

1. Imam Abul Harits

Namanya adalah al-Laits bin Khalid al-Marwazi al-Baghdadi, kuniyahnya adalah Abu al-Harits.

Ia al-Laits adalah orang yang tsiqah (terpercaya) dhabit (kuat hafalanya dan menguasai), hadziq (cerdas) dan muhaqqiq (peneliti). 

Perjalanan Intelektual Abul Harits  

Pada mulanya, ia belajar Al-Qur’an kepada beberapa ulama pada masanya, namun secara khusus dan mendalam ia belajar Al-Qur’an dan qira’atnya kepada Imam al-Kisa’i, sebab ia termasuk murid senior al-Kisa’i.

Selain belajar kepada Imam al-Kisa’i, ia juga belajar sebagian huruf (qira’at) kepada Hamzah bin al-Qasim al-Ahwal, dan kepada Yahya bin Mubarak al-Yazidi.

Meskipun ia belajar kepada beberapa guru yang ada pada masanya, namun ia lebih fokus menyebarkan dan mengajarkan qira’at Imam al-Kisa’i kepada murid-muridnya, sehingga ia dikenal sebagai perawi Imam al-Kisa’i.

Murid-muridnya

Setelah melakukan perjalanan intelektual dari guru ke guru yang lainnya, kemudian ia mendarma-baktikan dirinya untuk menyeberkan ilmu yang didapatkan dari guru-gurunya. 

Ada banyak penuntut ilmu pada masanya yang datang berguru kepadanya, baik yang setoran secara langsung (ardhan) maupun hanya sekedar mendengarkan saja (sima’an), salah satunya adalah Salamah bin Ashim, santrinya Imam al-Farra’, Muhammad bin Yahya al-Kisa’i al-Shaghir, al-Fadhl bin Syadzan.



(Tulisan disadur dari kitab “Tarikh al-Qurra’ al-Asyrah wa ruwwatuhum” karya Syekh Abdul Fattah al-Qadhi, [Kairo: Maktabah al-Qahirah], 2010; dan "Mu'jam Huffadz Al-Qur'an Abra al-Tarikh" karya Salim Muhaisin. Jilid I, [Bairut: Dar al-Jayl], 1992; “Asanid al-Qurra' al-Asyrah wa Ruwwatuhum al-Bararah”, karya as-Sayyid Ahmad Abdurrahim [Mesir: al-Jami'ah al-Khairiyah li Tahfidzil Qur'an, 2011])