IMG-LOGO
Trending Now:
Ekonomi Syariah

Jual Beli dengan Penyerahan Barang Masih Ditunda

Sabtu 27 Juli 2019 21:0 WIB
Share:
Jual Beli dengan Penyerahan Barang Masih Ditunda
Ilustrasi/NU Online

Terkadang dalam melakukan transaksi jual beli, kita dihadapkan pada pilihan, yaitu segera melakukan transaksi penyerahan harga, sementara barangnya harus ditunda penyerahannya esok hari atau sebulan lagi. Para pengrajin seringkali menghadapi hal semacam ini. Padahal barang belum selesai dibuat, tapi sudah ada pembeli yang tertarik. Para pembeli ini umumnya mengaku tertarik karena terpikat dengan motif dan model barang, serta kemanfaatan barang yang tergambar dalam bayangannya seiring keterangan yang diperoleh dari penjual yang memiliki reputasi.

 

Adapun harga kadang diserahkan sepenuhnya oleh pembeli, karena khawatir diborong orang lain. Namun, ada juga pembeli yang disyaratkan menyerahkan separuh harga yang ditawarkan. Semua syarat ini disampaikan oleh penjual kepada pembeli setelah pembeli menerima penjelasan.

 

Adapula pembeli yang malah justru mensyaratkan jika boleh barang yang ada di hadapan pembeli saat itu untuk dibawa, maka penjual bisa mengambil harganya esok hari, atau selang beberapa hari setelah barang itu diserahkan. Penyebabnya karena pembeli kebetulan tidak membawa uang cash atau tidak punya e-banking untuk mentransfer. Jadi, ia perlu pulang terlebih dulu untuk mengambil uangnya atau setidaknya pergi ke ATM untuk melakukan penarikan tunai. Lalu ada yang bertanya, apakah model jual beli dengan syarat penyerahan salah satu barang yang diitunda ini diperbolehkan dalam syariat hukum Islam? Bagaimana bila barang itu adalah berupa barang ribawi?

 

Dalam hal ini ada sebuah penjelasan dari ulama dengan merinci jenis barang yang dibeli dan cara pembayaran. Pertama, barang harus ditentukan terlebih dahulu soal dibeli secara kredit, atau tempo, atau secara cash. Penentuan ini harus disepakati terlebih dahulu dengan penjual serta pembelinya di majelis tersebut (khiyar majlis). Jika disepakati secara cash, maka harus dibayar cash. Bila disepakati secara tempo maka harus ditentukan waktu penyerahannya dan besaran harganya. Dan demikian pula, apabila ditentukan secara kredit, maka harus ditentukan harga finalnya (ra'su al-mâl), dan model angsuran (تأجيل) yang dimainkan. Syarat penyerahan barang ditunda sampai pembeli membayar atau sebaliknya penyerahan harga yang ditunda sampai penjual menyerahkan barang secara penuh, merupakan syarat yang dibenarkan dalam transaksi (syarat shahih). Syekh Wahbah al-Zuhaili menjelaskan:

 

الشرط الصحيح هو ما كان موافقا لمقتضى العقد أو مؤكدا لمقتضاه أو جاء به الشرع أو جرى به العرف مثال الشرط الذي يقتضيه العقد اشتراط البائع تسليم الثمن أو حبس المبيع حتى أداء جميع الثمن اشتراط المشتري تسليم المبيع أو تملكه

 

Artinya: "Syarat yang shahih adalah syarat yang sepakat dengan tujuan diselenggarakannya transaksi, memperkuatnya, atau syarat yang dibenarkan oleh syara', atau sesuai dengan kebiasaan ('urf) yang berlaku. Contoh dari syarat yang sesuai dengan tujuan transaksi, misalnya penjual mensyaratkan keharusan menyerahkan harga terlebih dahulu kepada pembeli, atau barang tetap di tangan penjual sampai semua tanggungan harga dibayar oleh pembeli, atau sebaliknya pembeli mensyaratkan barang diserahkan kepadanya terlebih dahulu, atau dikuasakan kepadanya terlebih dahulu." (al-Zuhaili, al-Fiqhu al-Islamy wa Adillatuhu, Beirut: Dâr al-Fikr, tt.: 4/477).

 

Kedua, harus mengenal terlebih dahulu apakah barangnya termasuk barang ribawi atau bukan. Jika termasuk barang ribawi, maka menurut pendapat yang menganggap bahwa uang adalah bagian dari barang ribawi, konsekuensinya adalah penyerahan harga oleh pembeli harus dibarengi dengan penyerahan barang. Contoh barang ribawi adalah emas, perak, dan bahan makanan. Jadi, kalau pembaca membeli beras (misalnya), maka penyerahan beras oleh penjual harus diikuti dengan penyerahan uangnya. Karena pertukaran barang ribawi melazimkan adanya wajib kontan dan serah terima barang.

 

Jika uang dianggap sebagai bukan barang ribawi, maka diperbolehkan penundaannya dengan catatan sebagaimana yang sudah dijelaskan dalam ketentuan pertama. Jadi, jika anda membeli beras, maka diperbolehkan penundaan penyerahan salah satunya, misalnya adalah harganya.

 

Bagaimana jika barang yang dijualbelikan bukan termasuk barang ribawi? Apakah boleh dengan disyaratkan penundaan salah satunya?

 

Jika barang yang diperjualbelikan bukan termasuk baramg ribawi, maka diperbolehkan syarat penundaan penerimaan salah satunya.

 

والشرط الذي ورد به الشرع: مثل اشتراط الخيار أو الأجل لأحد المتعاقدين

 

Artinya: "Termasuk syarat shahih yang dibenarkan oleh syariat adalah misalnya permintaan syarat kebolehan khiyar (bila dijumpai aib atau barang tidak sesuai pesanan) dan bolehnya tempo penyerahan (harga atau barang) dari salah satu muta'aqidain." (al-Zuhaili, al-Fiqhu al-Islamy wa Adillatuhu, Beirut: Dâr al-Fikr, tt.: 4/477).

 

Jual beli yang disertai dengan tempo termasuk kategori bai' bi al-ajal (jual beli tangguh). Bila temponya itu berupa tempo penyerahan barang, sementara harga sudah dibayar duluan, maka jual beli semacam dinamakan bai maushufin fi al-dzimmah atau jual beli salam. Kedua jual beli ini dibenarkan oleh syariat dengan catatan harga barang dan tempo pelunasan harus diketahui secara jelas. Wallâhu a'lam bish shawâb.

 

 

Ustadz Muhammad Syamsudin, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah - Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur

Share:

Baca Juga

Jumat 26 Juli 2019 20:50 WIB
‘Kujual Barang Ini padamu jika Kau Jual Barang Itu padaku’
‘Kujual Barang Ini padamu jika Kau Jual Barang Itu padaku’
null

Di dalam hadits telah tsubut bahwa Rasulullah SAW telah melarang dua akad jual beli di dalam satu akad jual beli (بيعتين في بيعة). Akad ini sering disebut juga dengan istilah akad di dalam akad. Para ulama mengklasifikasinya sebagai bagian dari multiakad atau hybrid contract. Kali ini kita akan lebih mendalaminya mengenai keberadaan akad tersebut.

 

Berbicara soal jual beli, maka kita tidak bisa lepas dari akad pertukaran, mengingat jual beli sendiri merupakan pertukaran barang dengan barang, atau barang dengan harga. Namun inti kajian kita kali ini berfokus pada akad pertukaran dengan syarat pertukaran. Misalnya: "Aku jual handphone ini padamu dengan syarat kamu mau menjual sepedamu padaku." Apakah melakukan transaksi seperti ini diperbolehkan dalam syariat?

 

Ada tiga pandangan para ulama dalam hal ini. Pertama, pendapat kalangan Hanafiyah Syafiiyah dan Hanabilah yang menyatakan tidak boleh mensyaratkan akad pertukaran dalam akad pertukaran yang lain.

 

ومما تجدر الإشارة إليه أن عرض الخلاف السابق هو في مسألة اشتراط عقد في عقد والخلاف فيها يختلف عن مسألة أخرى قد تبدو داخلة فيها مسألة البيع مع شرط نفع في المبيع سواء كان للبائع أو المشتري مثل ما لو اشترى حطبا واشترط المشتري منفعة البائع في حمله أو تكسيره فهي في الحقيقة عقد بيع اشترط فيه إجارة وهذا الشرط لايجوز عند الحنفية وكذا في الأصح عزد الشافعية ولهم تفصيل للنهي عن بيع وشرط والمذهب عند الحنابلة الجواز إذا كان شرطا واحدا والتحريم إذا كانا شرطين للنهي عن شرطين في بيع

 

Artinya: "Sebagian dari keterangan yang mengisyaratkan pendapat ketidakbolehan mensyaratkan akad pertukaran dalam suatu akad pertukaran adalah telah nyata ditunjukkan oleh perbedaan berkaitan dengan masalah disyaratkannya akad satu di dalam akad yang lain. Perbedaan ini semakin jelas dalam kasus lain yang kadang muncul sebagai konsekuensi atasnya. Misalnya masalah jual beli dengan syarat manfaat terhadap barang yang dijual, baik ini berlaku atas penjual maupun pembeli. Contoh gampangnya seseorang membeli kayu, dengan ditetapkan syarat bagi pembeli bahwa penjual harus menerima order dari pembeli untuk jasa pengangkutannya atau pemecahannya. Akad seperti ini hakikatnya adalah akad jual beli dengan syarat ijarah (sewa jasa). Kalangan Hanafiyah secara tegas menyatakan ketidakbolehannya. Demikian juga dengan kalangan ulama Madzhab Syafi'i dalam qaul ashah-nya (pendapat yang paling shahih), meskipun pada dasarnya kalangan ulama terakhir masih ada perincian dengan mempertimbangkan kedudukan larangan jual beli disertai syarat.

 

Adapun pendapat kalangan Hanabilah menyatakan pendapat kebolehannya asalkan syarat yang digariskan hanya satu. Jika ada dua syarat yang turut disertakan, maka akad pertukaran dengan disertai dua syarat pertukaran hukumnya adalah haram mengingat larangan jual beli dengan dua syarat untuk satu akad jual beli." (Al-'Imrâny, Al-'Uqûdu al-Mâliyah al-Murakkabah, Riyadl: Dâr Kunûz Isybiliya Li al-Nasyr wa al-Tawzî', 2010: 97)

 

Kedua, pendapat yang masyhur dari kalangan Mâlikiyah. Ulama Madzhab Maliki menyatakan ketidak bolehan disyaratkannya akad ju'âlah (sayembara), sharf (tukar menukar barang ribawi), musâqah (bagi hasil tanaman), syirkah (kemitraan) dan qiradl (permodalan) di dalam akad jual beli. Demikian juga, para ulama ini juga menyatakan ketidakbolehan disyaratkannya akad-akad yang sudah disebutkan di atas antara satu sama lain. Akan tetapi, kalangan ini membolehkan penggabungan antara akad jual beli dengan ijârah (sewa jasa). Kita ambil salah satu pernyataan dari kalangan kedua ini, misalnya al-Dardîri, ia menegaskan:

 

ولايجوز صرف مع بيع أي اجتماعهما في عقد واحد كأن يشتري ثوبا بدينار على أن يدفع فيه دينارين ويأخذ صرف دينار دراهم … وكذا لايجوز اجتماع البيع أو الصرف مع جعل أو مساقة أو شركة أو نكاح أو قراض ولااجتماع اثنين منها في عقد

 

Artinya: "Tidak boleh mengumpulkan akad sharf dengan jual beli, yakni mengumpulkannya dalam satu akad. Contoh: membeli baju seharga satu dinar dengan syarat membayar dua dinar lalu mendapatkan ganti berupa dirham….. Demikian pula tidak boleh mengumpulkan akad jual beli, atau sharf dengan ju'alah, atau musâqah atau syirkah atau nikah dan atau qiradl. Tidak boleh juga mengumpulkan dua di antara akad tersebut dengan satu akad lainnya dalam satu akad." (Al-Dardîri, al-Syarhu al-Shaghìr li al-Dardiri, Riyadl: Dâr Kunûz Isybiliya Li al-Nasyr wa al-Tawzî', tt.: 2/17).

 

Adapun pendapat kalangan Mâlikiyah yang menyatakan bolehnya menggabung akad ijarah dengan akad jual beli, misalnya adalah al-Qâdli 'Abd al-Wahâb. Ia menyatakan:

 

ويجوز عندنا مقارنة البيع والإجارة في عقد واحد مثل أن يشتري زرعا ويشترط على البائع حصاده

 

Artinya: "Menurut kami, boleh membarengkan akad jual beli dengan ijarah dalam satu akad. Misalnya: Seseorang hendak membeli suatu hasil tanaman, namun mensyaratkan kepada penjual agar memetiknya terlebih dahulu." (Al-Qâdli Abd al-Wahâb, 'Uyûn al-Majalis li al-Qadli Abd al-Wahâb, Beirut: Dâr al-Ma'rifah, tt.: 3/1494).

 

Ketiga, masih pendapat Imam Malik sendiri dan kalangan Mâlikiyah serta beberapa ulama dari kalangan Hanâbilah. Mereka menyatakan bahwa boleh mensyaratkan aqad pertukaran di dalam aqad pertukaran yang lain. Alasan yang mereka pergunakan adalah sebagaimana disampaikan oleh Ibnu Qudâmah:

 

فهذا كله لايصح قال ابن مسعود: الصفقتان في صفقة ربا. وهذا قول أبي حنيفة والشافعي وجمهور العلماء وجوزه مالك وقال: لا ألتفت إلى اللفظ الفاسد إذا كان معلوما حلالا فكأنه باع السلعة بالدراهم التي ذكر أنه يأخذ بالدنانير

 

Artinya: "Semua bentuk pertukaran ini ini hukumnya adalah tidak sah. Ibnu Mas'ud berkata: 'Dua transaksi dalam satu akad adalah riba.' Hujjah ini merupakan pegangan Abû Hanîfah, Imam Al-Syâfi'i dan pendapat jumhur. Akan tetapi Imam Malik berbeda dengan menyatakan boleh. Ia berpendapat: 'Saya tidak mau terjebak pada rusaknya lafadh. Selagi barang yang dipertukarkan adalah diketahui dan halal, maka bagaimanapun juga menjual barang dagangan yang ditukar dengan dirham yang diketahui besarannya, lalu diambil harganya berupa dinar, hukumnya adalah sah." (Ibn Qudâmah, al-Mughny li Ibn Qudâmah, Beirut: Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah, tt.: 6/333).

 

Dengan memperhatikan ketiga pendapat di atas, maka bentuk akad pertukaran semacam transaksi menjual handphone dengan syarat sepeda pembeli harus dijual kepada penjual handphone itu, menurut qaul yang paling kuat dan merupakan pendapat mayoritas ulama (jumhur), adalah tidak boleh. Illat ketidakbolehan adalah karena penggabungan dua akad yang dilarang yaitu akad jual beli yang terikat dengan akad jual beli yang lain.

 

Meskipun begitu, ada pendapat yang membolehkan dalam hal ini, yaitu pendapatan kalangan ulama Madzhab Maliki, bahkan disampaikan dalam qaul dhahir dari Imam Malik sendiri. Illat yang disampaikan adalah selagi harganya maklum lagi halal (barang yang hendak dipertukarkan) dan ada kemaslahatan bagi kedua pihak yang bertransaksi, meskipun lafadh akad transakainya fasid, hal itu tetap dihukumi sah.

 

Garis besar kesepakatan ulama terkait akad jual beli dan pertukaran adalah bahwa semua bentuk muamalah jual beli adalah sah, manakala tidak dijumpai di dalamnya unsur merugikan pihak lain, menipu, judi, mengelabui, menyembunyikan cacat, kesemuanya adalah boleh dilakukan. Rupanya Imam Malik menitik tekankan pendapatnya pada maqashid dari jual beli ini sehingga ia dan pwngikut madzhabnya nampak yang bersifat terbuka terhadap akad murakkab dari akad pertukaran ini. Wallâhu a'lam bish shawâb.

 

 

Ustadz Muhammad Syamsudin, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah - Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Pengasuh PP Hasan Jufri Putri, P. Bawean.

 

 

Rabu 24 Juli 2019 21:45 WIB
‘Sebelum Kujual Rumah Ini padamu, Sewa Dulu Sebulan!’
‘Sebelum Kujual Rumah Ini padamu, Sewa Dulu Sebulan!’
Ada dua kemungkinan hukum 'mencampur' dua transaksi: boleh dan tidak boleh.
Imam Malik rahimahullah menyatakan bahwa penggabungan akad jual beli dengan akad ijârah (sewa jasa) adalah boleh. Permasalahannya adalah lantas bagaimana bila ada kasus seperti yang tertera di judul ini?

Sekilas jika kita cermati, jual beli semacam serasa tidak lazim terjadi. Tapi sesuatu yang tidak lazim belum tentu tidak terjadi, bukan? Ada saja kemungkinan terjadinya. Dan sifat kemungkinan ini bisa saja merupakan hal yang lumrah mengingat seorang yang ingin membeli barang jadi dan sudah pernah dipakai, biasanya akan bersikap ekstra hati-hati. Jangan-jangan rumahnya kelihatan bagus dari luar, tapi nggak tahunya keropos dalamnya. Untuk itu ia menyetujui menyewa dulu sebelum memutuskan membeli. 

Tapi bukankah cacatnya barang yang akan dibeli bisa diketahui dengan jalan ru’yah (melihat)? Inilah yang mengundang tanda tanya bagi kalangan yang ingin berhemat. "Jika hendak dijual, ya jual sajalah! Ngapain harus pakai acara disewakan segala?" Demikian mungkin dalam benak pembeli. Atau sebaliknya dari penjual mungkin dalam hati mengatakan: "Kalau niat membeli ya beli saja! Ngapain harus repot-repot pakai acara sewa segala?"

Kenyataan-kenyataan seperti ini merupakan problem muamalah dan harus diselesaikan menurut pertimbangan syariah. Setidaknya ada beberapa pandangan dari fuqaha dalam hal ini. Pertama, menurut ulama kalangan mazhab Hanbali, menyatakan dengan tegas bahwa akad semacam adalah keduanya batal, baik akad jual belinya maupun akad sewanya. Al-Bahûty dalam Kasyâfu al-Qinâ' menjelaskan:

فإن قال بعتك داري هذه وأجرتكها شهرا بألف فالكل باطل

Artinya: "Jika seseorang mengatakan: Aku jual rumahku ini padamu dan sekaligus aku sewakan sebulan padamu dengan harga 1000, maka tiap-tiap akad yang dipergunakan di sini adalah batal." (Al-Bahûti, Kasyâfu al-Qinâ', Beirut: Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah, tt.: 3/179)

Alasan yang dipergunakan oleh al-Bahuty dalam hal ini adalah, dalam jual beli sudah terjadi perpindahan kepemilikan. Pemilik tidak mungkin menyewakan manfaat harta yang dimilikinya kepada dirinya sendiri. Jika hal itu terjadi, maka itu artinya pemilik belum memiliki kepemilikan sepenuhnya terhadap barang. Oleh karena itulah maka kedua akad jual beli dan sewa di atas dipandang sebagai batal. 

Bagaimanapun juga setiap akad jual beli selalu memiliki konsekuensi hukum terhadap status kepemilikan barang. Demikian juga dengan sewa. Jika keduanya terkumpul dalam satu waktu dan di satu tempat, maka akad jual beli dan ijarah ini bersifat saling menafikan sehingga layak dipandang batal.

Lain halnya bila ada illat lain yang melatarbelakangi. Misalnya, sebagaimana penjelasan dari ulama dari kelompok kedua berikut ini:

أفاد أنه لابد أن يكونا في عينين بعوض واحد فإن كانا في عين واحدة بطل جزما

Artinya: "Dapat diambil faedah bahwasannya seharusnya kedua akad ini berlaku pada dua objek akad yang berbeda dengan nilai tukar yang digabungkan. Jika keduanya berlaku hanya pada satu objek saja, maka tidak diragukan lagi akan batalnya akad." (Syihabuddin al-Qalyûbi, Hasyiyah al-Qalyûbi, Beirut: Dâr al-Ma'rifah, tt.: 2/188). 

Maksud dari al-Qalyûby - salah satu ulama kalangan Syafi'iyah - di sini adalah hendaknya ada dua rumah sebagai objek akad. Rumah yang satu disewakan, sementara rumah yang lain dijual. Jika akad jual beli dan ijarah itu hanya berlaku untuk satu objek barang saja, maka jâzim (tidak diragukan lagi) bahwa keduanya batal secara syariah. 

Pendapat ulama berikutnya - yang ketiga - agak sedikit mengambil jalan tengah. Objek akad boleh dikenakan terhadap satu barang, akan tetapi ada catatan pengecualian. Pengecualian itu meliputi:  

وللصحة وجه بأن تكون مستثناة من البيع

Artinya : "Solusi sahnya akad hanya satu, yaitu terdapatnya pengecualian sewa menyewa (ijârah) dari jual beli." (Al-Bahûti, Kasyâfu al-Qinâ', Beirut: Dâr al-Ma'rifah, tt.: 2/98).

Maksud dari pendapat al-Bahûty di sini adalah jika manfaatnya rumah itu memang disewakan selama satu bulan dipisah dari akad jual beli, maka adalah hak bagi penjual untuk mengambil manfaat berupa harga sewa dari orang yang menyewa rumahnya. Hal ini berangkat dari alasan bahwasanya rumah tersebut belum mengalami perpindahan kepemilikan. Lain halnya bila didahului oleh jual beli, maka proses kepindahan kepemilikan itu sudah pasti terjadinya. 

Pangkal pokoknya kemudian adalah bagaimana cara agar kedua akad tersebut bisa berlangsung terpisah sehingga memenuhi kaidah wajibnya tafrîq al-shafqah (memisah objek transaksi)? Di sini al-Bahûti menyerankan agar kedua akad tersebut tidak dilakukan di tempat dan waktu yang sama. Pemisahan waktu dan tempat ini memungkinkan hilangnya illat mutanâfi (saling menegasikan) dari kedua akad yang terjadi dalam konsekuensi logis hukum sehingga yang menjadikan hukum penggabungan antara kedua akad itu menjadi diperbolehkan. Sampai di sini maka batasan Al-'Umrâny menyatakan batasan tafriq al-shafqah ini sebagai berikut:

(١) اجتماع عقدين مختلفي الحكم في عقد واحد على محل واحد بعوض واحد في وقت واحد: لايجوز (٢) اجتماع عقدين مختلفي الحكم في عقد واحد على محل واحد بعوض واحد في وقتين: جائز

Artinya: "(1) Berkumpulnya dua akad yang berbeda hukumnya dalam satu akad dan tempat transaksi dan dengan harga yang satu serta waktu yang satu, maka hukum akad ini adalah tidak boleh dilaksanakan. (2) Berkumpulnya dua akad yang berbeda hukumnya dalam satu akad dan tempat transaksi dan dengan harga yang satu tapi waktunya berbeda (dua waktu), maka hukum akad ini adalah boleh." (Al-Imrâny, al-'Uqûdu al-Mâliyah al-Murakkabah, Riyadl: Dâr al-Kunûz Isybiliya li al-Nasyr wa al-Tawzî', 2010: 134). 

Walhasil, berdasarkan tinjauan di atas, lantas bagaimana dengan seseorang bertransaksi sebagaimana contoh di atas, yaitu: "Aku jual rumah ini padamu, tapi sebelumnya sewa dulu sebulan!" Maka jawabnya ada dua kemungkinan. Hukum bolehnya akad ini dilaksanakan, adalah manakala akad sewa dan akad jual beli ini dilakukan pada tempat atau waktu yang terpisah. Adapun jika waktu dan tempatnya dilakukan pada lokasi yang sama, maka sesuai dengan batasan yang disampaikan oleh al-'Umrâny di atas, maka hukumnya menjadi tidak diperbolehkan. Wallâhu a'lam bish shawâb.
 

Ustadz Muhammmad Syamsudin, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah - Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur
 
Selasa 23 Juli 2019 20:45 WIB
‘Aku Pinjami Kamu Uang dengan Syarat Pinjami Aku Sepeda’, Riba?
‘Aku Pinjami Kamu Uang dengan Syarat Pinjami Aku Sepeda’, Riba?
Pembahasan tentang riba menyatakan bahwa yang dimaksud sebagai riba qardli (riba utang) adalah كل قرض جرى نفعا للمقرض فهو ربا (semua bentuk utang piutang yang mensyaratkan manfaat bagi pihak yang memberi utang adalah riba). Nah, kali ini kasusnya menyangkut utang piutang dengan syarat balik dipinjami juga. Kebetulan kasus ini berkaitan dengan utang uang dengan syarat meminjami sepeda. Apakah hal ini juga bisa dikelompokkan dalam kategori riba? Dalam hal ini ada dua pendapat ulama yang berbeda dalam memandang kualitas illat (alasan mendasar) hukumnya. 

Inti illatnya adalah keberadaan syarat tersebut. Syarat ini disepakati sebagai syarat yang rusak (al-syarthu al-fasid). Perbedaannya terletak pada anggapan bahwa syarat rusak ini merupakan syarat yang mulgha (bisa diabaikan) sehingga tidak berpengaruh terhadap akad, atau sebaliknya syarat fasid tersebut bukan merupakan syarat mulgha sehingga dapat membatalkan akad.

Pertama, ulama yang menyatakan bahwa syarat sebagaimana tersebut di atas merupakan syarat rusak yang mulgha adalah ulama dari kalangan mazhab Hanafi, pendapat muqabil shahih (lawan dari pendapat shahih) dari kalangan Syafiiyah (qaul dla'if) dan pendapat kalangan Hanabilah. Untuk yang dari kalangan mazhab Hanafi misalnya adalah Ibnu Himam yang disampaikan dalam Kitab Fathul Qadir, Juz 6 halaman 411 atau Ibnu 'Âbidîn dalam Hasyiyah Ibnu 'Âbidîn, juz 5, halaman 165:

القرض لا يتعلق بالجائز من الشروط فالفاسد منها لا يبطله ولكنه يلغو شرط رد شيء آخر، فلو استقرض الدراهم المكسورة  على أن يؤدي صحيحا كان باطلا، وكذا لو أقرضه طعاما بشرط رده في مكان آخر وكان عليه مثل ما قبض  

Artinya: "Utang yang tidak berikatan dengan syarat berupa barang yang diutangkan (jaiz), maka rusaknya syarat (syarat fasid) tidak dapat membatalkan akad utang. Syarat itu merupakan mulgha (yang diabaikan) misalnya syarat mengembalikan berupa barang lain. Lain halnya, apabila seseorang mengutangi dirham pecah kemudian disyaratkan ia harus mengembalikan berupa dirham utuh, maka syarat yang demikian ini merupakan syarat yang batil. Demikian pula seandainya orang mengutangi orang lain berupa makanan dengan syarat ia harus mengembalikan ke tempat lain, padahal apa yang dikembalikan adalah sama dengan apa yang diterima dari pihak pemberi utang (maka syarat seperti ini adalah termasuk syarat fasid yang mulgha)." (Ibnu 'Âbidîn, Hasyiyah Ibn 'Âbidîn, Beirut: Dâr al-Kutub al-'Ilmiyyah, tt.: 5/165).

Dari kalangan mazhab Syafii misalnya sebagaimana disampaikan oleh Imam Nawawi dalam Raudlatu al-Thâlibîn

يحرم كل قرض جر منفعة كشرط رد الصحيح عن المكسر أو الجيد عن الرديء وكشرط رده ببلد آخر….فإن جرى القرض بشرط من هذه فسد القرض على الصحيح فلايجوز التصرف فيه وقيل: لايفسد

Artinya: "Haram melakukan akad utang piutang dengan mengambil kemanfaatan, seperti dengan syarat mengembalikan berupa barang utuh dari utang berupa barang pecah, atau mengembalikan barang bagus dari utang berupa barang buruk, dan seperti mengembalikan utang ke wilayah lain dari tempat berutang….. Jika berlaku akad utang piutang sebagaimana syarat yang telah disebutkan ini maka rusaklah akad qardlu menurut pendapat yang shahih, sehingga tidak boleh melakukan muamalah dengan cara itu. Namun ada pendapat (lemah) bahwa syarat tersebut tidak merusak akad.” (Yahya ibn Syaraf al-Nawâwi, Raudlatu al-Thâlibîn li al-Nawâwi, Kairo: Dâr al-Ma'ârif, tt.: 3/275-276).

Ulama dari kalangan mazhab Hanbali, seperti al-Mardâwy, al-Bahûty, Ibnu Qudâmah dan Ibnu Muflih, menyatakan:

وفي فساد القرض روايتان انتهى. وأطلقهما في المستوعب والتلخيص والرعايتين والحاويين إحداهما يفسد. جزم به ابن عبدوس في تذكيرته. الرواية الثانية لايفسد. قلت: وهو الصواب. وهي من جملة المسائل التي قارنها شرط فاسد وهو ظاهر كلامه في المغني والشرح با أكثر الأصحاب لأنهم قالوا: يحرم ذلك ولم يتعرضوا فساد العقد

Artinya: "Dalam hal rusaknya akad utang piutang maka ada dua riwayat. Dalam kitab al-Mustau'ab wa al-Talkhish wa al-Ri'âyatain serta dua Kitab al Hawi dijelaskan: Salah satu dari riwayat ini menyatakan rusaknya akad. Ibnu Abdus menegaskan pendapat ini dalam Kitab Tadzkirahnya. Adapun riwayat kedua adalah tidak merusak akad. Menurutku, ini adalah yang benar. Pola ini menyerupai beberapa masalah utang piutang yang dibarengi dengan syarat fasid. Dan ini merupakan dhahir dari pendapat pemilik kitab al-Mughny dan penjelasan dari mayoritas kalangan ulama Hanabilah. Kalangan terakhir ini berpendapat: Haram melakukan muamalah utang piutang dengan cara demikian itu, meskipun hal itu tidak menyebabkan rusaknya akad." (Al-Mardawi, Tashîhi al-Furû' li al-Mardâwi, Beirut: Dâr al-Ma'rifah, tt.: 4/204)

Kedua, ulama yang berpendapat bahwa akad utang piutang bisa rusak disebabkan syarat yang rusak. Pendapat ini dinyatakan oleh kalangan Mâlikiyah, pendapat shahih dari kalangan Syafi'iyah, dan sebagian kalangan Hanabilah. Sebagian dari pendapat-pendapat ini sudah kita sampaikan di atas. 

Walhasil, dengan kasus meminjami uang dengan syarat pihak yang diutangi sanggup meminjami sepeda memiliki dua pandangan hukum. Hukum pertama adalah boleh dan keberadaan syarat rusak berupa mau meminjami sepeda dianggap sebagai syarat mulgha (boleh diabaikan). Jika syarat tersebut dianggap mulgha, maka akad utang piutang sebagaimana dimaksud di atas bukan termasuk akad riba. Meskipun dalam hal ini juga masih ada perbedaan pendapat khususnya di kalangan Hanabilah. Mereka menyatakan haram, akan tetapi keharaman itu tidak mampu membatalkan akad. Hukum kedua adalah tidak boleh sehingga akad utang piutangnya harus dibatalkan. Pendapat ini merupakan pendapat shahih dari kalangan Syafi'iyah. Lantas bagaimana kemaslahatan yang perlu diambil? 

Akad yang menyerupai akad di atas setidaknya menyiratkan bahwa orang yang utang harus mengembalikan utangnya di majelis akad dengan rupa barang yang sejenis dengan barang yang diterima di majelis akad utang terjadi. Padahal dalam wilayah praktisnya, terkadang orang meminjam uang dengan jalan cash namun membayar utang dengan jalan mentransfer yang hal itu meniscayakan perbedaan tempat dan majelis antara pihak yang memberi utang dan pengutang. Terkadang utangnya di Surabaya, namun saat membayar akad, salah satu pihak ada di Jakarta. Terpaksa hal itu harus dibayar dengan jalan mentransfer ke rekening yang bersangkutan. Jika hal ini dipandang dengan pola pandangan hukum yang kedua, maka sudah pasti akad tersebut termasuk syarat yang rusak, atau bahkan dipandang haram oleh sebagian kalangan Hanabilah dan Syafiiyah. Namun, bila kita mengikuti pendapat yang pertama, maka syarat mentransfer pengembalian utang bukanlah termasuk syarat yang bisa membatalkan akad. Syarat tersebut ditengarai sebagai syarat mulgha. Wallahu a'lam bish shawab.
 
 
Ustadz Muhammad Syamsudin, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur