IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Tauhid

Kisah Imam Ahmad bin Hanbal Meminta Tolong pada Malaikat

Selasa 30 Juli 2019 21:45 WIB
Share:
Kisah Imam Ahmad bin Hanbal Meminta Tolong pada Malaikat

Ada perdebatan yang berkepanjangan di antara sebagian umat Islam tentang boleh tidaknya meminta tolong pada selain Allah. Nyaris seluruh ulama Ahlussunnah wal Jama’ah sepakat bahwa yang terlarang adalah syirik atau mempersekutukan Allah saja. Adapun kalau sekadar meminta tolong pada makhluk (ber-istighâtsah), baik itu pada manusia atau makhluk ghaib seperti malaikat, tidaklah mengapa dan tak termasuk syirik selama diiringi keyakinan bahwa yang dimintai tolong tidak dapat memberi manfaat mandiri tanpa izin Allah.

 

Di antara kisah meminta tolong pada makhluk ghaib (istighâtsah) yang dipraktikkan oleh para ulama adalah kisah Imam Ahmad bin Hanbal, seorang pakar hadits yang menjadi pendiri mazhab Hanbali. Beliau terkenal akan konsistensinya untuk berpegang pada sunnah Rasulullah sehingga namanya hampir selalu menjadi rujukan ketika membahas tentang sunnah.

 

Diceritakan oleh Abdullah, putra beliau, bahwa pernah suatu saat Imam Ahmad tersesat di jalan saat berjalan kaki hendak menunaikan ibadah haji. Akhirnya beliau menyeru pada para malaikat sebagai berikut:

 

يَا عِبَادَ اللهِ دُلُّونِي عَلَى الطَّرِيقِ

 

“Wahai para hamba Allah, tunjukkanlah aku jalannya.”

 

Beliau berulangkali mengulang bacaan tersebut hingga akhirnya beliau dapat menemukan jalan yang tepat. Kisah ini diabadikan dengan sanad yang sahih oleh Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dalam Masâ’il al-Imâm Ahmad Riwâyah Ibnih Abdillah (hal. 245), al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Imân (vol. X, hal. 141) dan Ibnu Asâkir dalam Târîkh Dimasyq (vol. V, hal. 298).

 

Andai meminta tolong pada makhluk ghaib seluruhnya dikategorikan syirik tanpa perlu diperinci motif dan aqidah pelakunya, tentu saja sekaliber Imam Ahmad tidak akan melakukannya. Dan para ulama setelahnya pun akan sepakat ingkar pada perbuatan seperti itu. Tindakan Imam Ahmad di atas dan penukilan para ulama tanpa disertai penolakan menjadi dasar bahwa asalkan aqidahnya benar, maka istighâtsah pada makhluk ghaib tidaklah mengapa.

 

 

Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember

 

 

Share:

Baca Juga

Ahad 21 Juli 2019 13:0 WIB
FaceApp dan Salah Kaprah Ucapan ‘Mendahului Takdir’
FaceApp dan Salah Kaprah Ucapan ‘Mendahului Takdir’
Demam rekayasa foto menggunakan FaceApp juga mewabah di kalangan selebritas. (Ilustrasi: IG @sumargodenny)
Salah satu ucapan yang populer di antara orang awam adalah "mendahului takdir". Ucapan ini sedang marak saat ini dengan populernya FaceApp, aplikasi yang memungkinkan mengubah foto orang muda menjadi tampak lebih tua. Benarkah takdir bisa didahului?

Takdir adalah sebuah istilah untuk keputusan Allah yang telah ditentukan oleh-Nya di Lauh Mahfud. Hal ini dalam istilah Islam disebut sebagai qadha'. Jadi, takdir dalam makna ini telah ada sebelum sejarah alam semesta ini di mulai. Bagaimana mungkin ia didahului? Tidak mungkin. 

Adapun waktu kejadian sebuah takdir hanya Allah saja yang tahu. Eksekusi sebuah takdir ini disebut dengan qadar. Takdir dalam makna ini juga tak bisa dan tak mungkin didahului siapa pun. Apabila Allah menakdirkan Fulan mati tanggal 20 Januari 2020 pada jam 12:35:27, maka sepersekian detik pun tak mungkin dimajukan eksekusinya sehingga tak mungkin didahului.

Jadi, takdir dalam arti qadha atau dalam arti qadar tak mungkin didahului. Ini adalah sesuatu yang disepakati seluruh ulama. 

Baca juga:

Kalau diprediksi bagaimana? Misal diprediksi kita akan berada di kota Jakarta besok, diprediksi langit akan hujan nanti sore, diprediksi si sakit akan sembuh atau akan tambah parah seminggu lagi, diprediksi metode penjualan tertentu akan menghasilkan untung atau akan mendatangkan rugi, dan sebagainya. Apakah ini mendahului takdir? Tidak, sama sekali tidak. Ini hanya memprediksi saja alias mengira-ngira sesuai sunnatullah yang berlaku. Hukumnya tak mengapa dan sama sekali tak ada masalah selama tidak disertai keyakinan bahwa prediksinya akan terjadi meskipun melawan kehendak Allah. Andai ini diharamkan, maka jadwal shalat akan haram semua sebab ia memprediksi kejadian (masuknya waktu shalat) di masa depan yang belum terjadi.

Nah, kalau mengubah foto muda menjadi lebih tua apakah mendahului takdir? Pembaca pasti sudah paham bahwa jawabannya tidak. Tak ada kaitan secara langsung antara bahasan takdir dan editing foto. Itu hanyalah kegiatan editing biasa; sama seperti orang kurus digambar agak gemuk, yang jelek digambar agak rupawan, yang botak digambar berambut lebat, yang berjerawat digambar tanpa jerawat dan seterusnya. Ini semua hanyalah kegiatan menggambar saja. Bila tujuannya menipu dan merugikan orang lain, maka haram. Bila tujuannya hanya iseng dan tak merugikan orang, maka mubah seperti kegiatan lainnya. 

Yang jelas, editing foto ini tak mengubah takdir apa pun. Kalau mau disangkut pautkan dengan takdir, maka berarti ditakdirkan bahwa si Fulan mengubah gambar dirinya dari kondisi A ke kondisi B pada tanggal dan jam sekian, dan itulah yang akan terjadi pada saat yang ditentukan. Takdir tersebut tak ada yang berubah atau didahului. Bila menuakan tampilan di foto dipaksa untuk dianggap mendahului takdir, maka apakah memudakan tampilan di foto dianggap mengakhirkan takdir? Tentu tidak relevan sama sekali bukan?

Lalu bagaimana dengan ayat ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ. 

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui." [QS. Al-Hujurat: 1]

Bukankah dalam terjemahnya disebutkan "jangan mendahului Allah dan Rasul" yang berarti mendahului takdir bisa dilakukan tetapi dilarang?

Jawabannya: Ayat tersebut bukan demikian maksudnya. Haram hukumnya menyimpulkan hukum hanya bermodal terjemahan saja seperti di atas. Perlu kualifikasi ilmu tafsir, ulumul Qur’an, ushul fikih, fikih sendiri dan ilmu alat pendukung lainnya untuk bisa menyimpulkan hukum dari suatu ayat.

Para ulama dalam berbagai tafsir menafsirkan ayat itu dengan berbagai arti, di antaranya sebagai berikut:
 
1. Wajib mengikuti aturan al-Qur’an dan hadis di atas aturan lain. 
 
2. Dilarang melawan ajaran Allah dan Rasulullah. 
 
3. Dilarang memutuskan sesuatu perkara tanpa merujuk pada aturan Allah dan
Rasulullah 
 
4. Dilarang berdoa sebelum imam.
 
5. Dilarang berbicara sebelum Rasul berbicara (berlaku untuk sahabat).
 
6. Dilarang memutuskan perkara sebelum Rasul memutuskan (berlaku untuk sahabat). 
 
7. Dilarang menyembelih kurban sebelum Rasul menyembelih (berlaku untuk sahabat).
 
8. Dilarang sok tahu, misalnya berkata bahwa andai diturunkan ayat soal ini maka akan seperti ini keputusannya (berlaku untuk sahabat).
 
Jadi, ayat itu sama sekali tak bisa dijadikan dalil bahwa mendahului takdir itu dimungkinkan, bahkan ayat tersebut sama sekali tak berbicara dalam konteks takdir (qadha' dan qadar). Konteksnya adalah soal memprioritaskan Allah dan Rasulullah dalam berbagai hal. Lihat misalnya Tafsir at-Thabary dan Tafsir Ibnu Katsir untuk penjelasan lebih lanjut. 

Semoga bermanfaat.
 
 
Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember.
Kamis 13 Juni 2019 12:0 WIB
Dajjal: Ciri-ciri dan Kisah Terbunuhnya oleh Nabi Isa
Dajjal: Ciri-ciri dan Kisah Terbunuhnya oleh Nabi Isa
Perbincangan mengenai fenomena akhir zaman senantiasa menarik dan serba misterius. Karena itulah untuk memahami apa yang akan terjadi nanti itu kita harus benar-benar memahami Al-Qur’an dan hadits sebagaimana yang dipahami oleh ulama Ahlussunah wal Jamaah. 

Menurut Ahlussunah wal Jamaah, kita wajib mengimani bahwa di akhir zaman nanti akan muncul Dajjal akbar, sesuai riwayat yang terdapat dalam hadits shahih tanpa harus men-takwil atau mengubahnya.

Masalah Dajjal ini termasuk masalah ‘ghaib’ atau sam'iyyat. Cara mengimanainya kita harus meyakini sepenuhnya sesuai informasi dari Rasulullah yang mendapatkan informasi langsung dari Yang Maha Tahu terhadap hal ghaib, yaitu Allah ta’ala, walaupun akal kita belum menjangkaunya. 

Tentang mengimani tanda-tanda kiamat, yang di antaranya adalah keluarnya Dajjal, Syekh Abu Ja’far at-Thahawy (w. 321 H) dalam Al-Aqidah at-Thawiyah menyatakan:

ونؤمن بأشراط الساعة من خروج الدجال ونزول عيسى ابن مريم عليه السلام من السماء ونؤمن بطلوع الشمس من مغربها وخروج دابة الأرض من موضعها

“Kami mengimani tanda-tanda kiamat, (di antaranya) yaitu keluarnya Dajjal, turunnya Isa ibn Maryam 'alaihis salam dari langit, kami mengimani munculnya matahari dari arah baratnya, dan keluarnya binatang bumi dari tempatnya.” 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَتَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَخْرُجَ سَبْعُوْنَ كَذَّابًا، قلُتْ: وَمَا ايَاتهُمُ ؟ ، قاَلَ: يَأتْوُنَكُمْ بسِنَّة لمَ تَكُوْنُوْا عَلَيْهَا ، يُغَيِّرُوْنَ بِهَا سُنَّتَكُمْ ، فَاِذَا
رَأَيْتُمُوْهُمْ فَاجْتَنِبُوْهُمْ

“Hari kiamat tidak akan datang sampai muncul 70 orang pembohong. Aku bertanya: Seperti apakah ciri-cirinya? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: mereka akan datang kepada kalian dengan membawa sunnah (pemikiran atau tindakan) yang belum pernah kalian praktekkan, mereka akan mengganti sunah kalian dengan sunah yang dibawanya. Jika kalian melihat mereka, maka jauhilah,” (HR Bukhari).

Pengertian Dajjal dan Ciri-cirinya

Dajjal (dajjâl) itu shighah mubalaghah (bentuk persangatan) dari kata dajjala, yang artinya pembohong besar. Secara terminologis, dajjâl diartikan sebagai orang yang menutupi sesuatu. Karena ia disebut dalam hadits sebagai A’wâr. Ia dianggap telah menutupi kebenaran, dan orang yang paling berdusta. Pemaknaan literal seperti ini pernah terjadi dalam sejarah Islam. Para pendusta atas nama agama, sering disebut sebagai Kadzzâb, Dajjâl.

Ada beberapa riwayat hadits shahih yang menjelaskan tentang Dajjal itu. Di antaranya, hadits riwayat Abdullah ibnu Umar radliyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Rasulullah berdiri di depan para sahabat, maka Rasulullah memuji Allah yang memang ahlinya, kemudian beliau menuturkan tentang Dajjal, kemudian berkata: ‘Aku mengingatkanmu dan tidaklah setiap nabi kecuali mengingatkan kaumnya, tetapi akan aku katakan padamu perkataan yang tidak pernah dikatakan oleh para nabi kepada kaumnya. Sesungguhnya Dajjal itu bermata satu dan sesungguhnya Allah tidak bermata satu,” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadits ‘Ubadah bin ash-Shamit Radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مَسِيْحَ الدَّجَّالِ رَجُلٌ، قَصِيْرٌ، أَفْجَعُ، جَعْدُ، أَعْوَرٌ، مَطْمُوْسُ الْعَيْنِ، لَيْسَ بِنَاتِئَةٍ وَلاَ جَحْـرَاءَ، فَإِنْ أَلْبَسَ عَلَيْكُمْ؛ فَاعْلَمُوْا أَنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ.

“Sesungguhnya Dajjal adalah seorang laki-laki, pendek, jarak antara kedua betisnya berjauhan, keriting, buta sebelah, mata yang terhapus tidak terlalu menonjol, tidak pula terlalu ke dalam, maka jika dia melakukan kerancuan (mengaku sebagai Rabb) kepadamu, maka ketahuilah sesungguhnya Rabb kalian tidak buta sebelah,” (HR Abu Dawud).

Untuk mengantari kajian Dajjal, karena berkaitan, berikut ini diuraikan beberapa hal tentang al-Mahdi dan Isa ibn Maryam.

Tentang Kemunculan Imam Mahdi dan Isa ibn Maryam

Ibn Abbas, sepupu Rasulullah yang oleh beliau didoakan menjadi ahli tafsir meriwayatkan tentang turunnya Isa dari langit. 

قال ابن عباس، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: فعند ذلك ينزل أخي عيسى ابن مريم من السماء على جبل افيق, اماما هاديا وحكما عادلا

“Ibn Abbas berkata, Rasulullah bersabda: Dalam keadaan demikian, Saudaraku Nabi Isa ibn Maryam turun dari langit pada Jabal Afiq, sebagai imam yang memberi petunjuk, dan hakim yang adil," (Ditakhrij oleh Ishaq Ibn Basyir, dan Ibn 'Asakir, sebagaimana tersebut dalam Kanzul 'Umal).

Demikianlah, bahwa di akhir zaman, akan ada dua manusia utama yang memperbaiki keadaan umat. 

عن ابن عباس رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:لن تهلك أمة أنا في أولها ، وعيسى ابن مريم في آخرها ، والمهدي في وسطها. رواه النسائي ، [ص-182] وأبو نعيم في ( أخبار المهدي ) ، والحاكم وابن عساكر في (تاريخيهما) . ولفظهما: ((كيف تهلك أمة أنا في أولها ....)) . كما في ((كنز العمال)) . وهو حديث حسن كما في ((السراج المنير)) للعزيزي .

Rasulullah bersabda: “Umat tidak akan rusak, yang aku ada di awalnya, Isa ibn Maryam berada di akhirnya, dan al-Mahdi pada pertengahannya (sebelum akhir).

Al-Mahdi adalah tanda awal kiamat kubra, ketika Nabi Isa ibn Maryam turun dari langit, beliau menyilakan Al-Mahdi untuk mengimami shalat.”

أخرج البخاري بسنده: عن نافع مولى أبى قتادة الآنصاري ان أبا هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وآله كيف أنتم إذا نزل ابن مريم فيكم وامامكم منكم 

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: “Bagaimana kalian jika turun Ibn Maryam di tengah kalian dan imam kalian adalah dari kalian,” (Shahih Al-Bukhari, Juz 4, halaman 134).

وروى الحارث بن اسامة في مسنده بسنده عن جابر بن عبد الله: قال رسول الله صلى الله عليه وآله: ينزل عيسى بن مريم، فيقول أميرهم المهدي تعال صل بنا، فيقول لا، إن بعضهم أمير بعض تكرمة الله لهذه الآمة (قال ابن القيم: "إسناده جيد" ,المنار المنيف لابن القيم ص ١٤٧) ـ

Al-Harith bin Usamah meriwayatkan dalam Musnadnya dari Jabir bin Abdullah katanya: Rasulullah bersabda: “Akan turun Isa ibn Maryam, lalu amir mereka Al-Mahdi mengatakan, ‘Kemarilah! Shalatlah bersama kami!’ Isa berkata ‘Tidak. Sesungguhnya sebagian mereka adalah amir sebagian yang lain sebagai pemuliaan Allah bagi umat ini’.” (Ibnul Qayim mengatakan, “Sanad hadits ini sungguh baik.” Al-Manar Al-Munif oleh Ibn Al-Qaiyim halaman 147).

وأخرج الحاكم في المستدرك عن أبي هريرة مرفوعا: ـ

Al-Hakim dalam al-Mustadrak 'ala as-Shahihayn mentakhrij dari Abi Hurairah, hadits marfu':

 إن روح الله عيسى نازل فيكم فإذا رأيتموه فاعرفوه فإنه رجل مربوع إلى الحمرة والبياض، عليه ثوبان ممصران كأن رأسه يقطر وإن لم يصبه بلل ، فيدق الصليب ويقتل الخنزير ويضع الجزية ويدعو الناس إلى الإسلام ، فيهلك الله في زمانه المسيح الدجال. ويقع الأمنة على الأرض فذكر الحديث . وفيه: فيمكث أربعين سنة ثم يتوفى ويصلي عليه المسلمون

“Sesungguhnya Ruhullah Isa (akan) turun di tengah-tengah kalian (umat Nabi Muhammad di akhir zaman). Ketika kalian melihatnya (Ruhullah Isa), maka kenalilah ia, yang seorang (berwarna kulit) putih kemerahan, dan mengenakan dua baju, seakan kepalanya meneteskan air dan basah. Kemudian Allah menghancurkan Dajjal (pembohong besar yang mengaku nabi dan mengaku sebagai Allah), pada zamannya. Ia (Ruhullah Isa) tinggal di bumi selama 40 tahun, kemudian diwafatkan dan dishalati kaum muslimin.”
Pertanyaannya, di mana nanti di akhir zaman tempat kuburan Isa?

ورواه الطبراني في المعجم الكبير (١٣/١٥٩ رقم ٣٨٤) - ومن طريقه المزي في تهذيب الكمال (١٩/٤٩٥) - من طريق عبدالله بن نافع الصائغ، عن عثمان بن الضحاك بسنده، ولفظه: يدفن عيسى عليه السلام مع رسول الله صلى الله عليه وسلم وصاحبيه، فيكون قبره الرابع

Imam at-Thabarany dalam al-Mu'jam al-Kabir mengatakan: “Isa nanti akan dikuburkan bersama Rasulullah dan dua sahabat beliau (Abu Bakr dan Umar), dan jadilah kuburan Isa itu kuburan yang keempat.”

Pembunuhan terhadap Dajjal

Rasulullah menyatakan bahwa selepas berhasil membunuh Dajjal, Isa ibn Maryam tinggal di bumi selama 40 tahun. 

‘Aisyah RA, mengatakan bahwa: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنْ يَخْرُجِ الدَّجَّالُ وَأَنَا حَىٌّ كَفَيْتُكُمُوهُ وَإِنْ يَخْرُجِ الدَّجَّال بَعْدِى فَإِنَّ رَبَّكُمْ عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ بِأَعْوَرَ إِنَّهُ يَخْرُجُ فِى يَهُودِيَّةِ أَصْبَهَانَ حَتَّى يَأْتِىَ الْمَدِينَةَ فَيَنْزِلَ نَاحِيَتَهَا وَلَهَا يَوْمَئِذٍ سَبْعَةُ أَبْوَابٍ عَلَى كُلِّ نَقْبٍ مِنْهَا مَلَكَانِ فَيَخْرُجَ إِلَيْهِ شِرَارُ أَهْلِهَا حَتَّى الشَّامِ مَدِينَةٍ بِفِلَسْطِينَ بِبَابِ لُدٍّ – وَقَالَ أَبُو دَاوُدَ مَرَّةً حَتَّى يَأْتِىَ فِلَسْطِينَ بَابَ لُدٍّ – فَيَنْزِلَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ فَيَقْتُلَهُ ثُمَّ يَمْكُثَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ فِى الأَرْضِ أَرْبَعِينَ سَنَةً إِمَاماً عَدْلاً وَحَكَماً مُقْسِطاً

“Jika Dajjal telah keluar dan saya masih hidup maka saya akan membela (menjaga) kalian, namun Dajjal keluar sesudahku sesungguhnya Rabb kalian ‘azza wajalla tidaklah buta sebelah (bermata satu) dan Dajjal akan keluar di Yahudi Ashbihan hingga ia datang ke Madinah dan turun di tepinya yang mana Madinah pada waktu itu memiliki tujuh pintu. Pada setiap pintu terdapat malaikat yang menjaga, lalu akan keluar (menuju) kepada Dajjal sejelek-jelek penduduk Madinah darinya hingga ke Syam tepat di kota Palestina di pintu Lud.” Sesekali Abu Daud berkata, “Hingga Dajjal datang (tiba) di Palestina di pintu Lud, lalu Isa ‘alaihis salam turun dan membunuhnya, kemudian Isa ‘alaihis salam tinggal di bumi selama empat puluh tahun dan menjadi imam yang adil dan hakim yang adil,” (HR Ahmad, 6/75).

Pendapat para sahabat, dan ulama yang mu’tabar (otoritatif) bahwa Dajjal itu adalah:

1. Individu; seseorang
2. Seorang Yahudi
3. Ia keluar dari Khurasan, atau Ashbihan, dan sekitar itu. Jadi tidak ada dikatakan ia keluar dari Eropa, Afrika, Asia, atau Australia. 

Apa yang dilakukan seorang Dajjal itu ada yang hakikatnya seperti itu dan ada yang majazi (kiasan). Namun, ia tetap satu orang.

Dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim dinyatakan bahwa Dajjal itu adalah seorang Yahudi.

إنه يهودي وإنه لا يولد له ولد وإنه لا يدخل المدينة ولا مكة

"Sesungguhnya ia adalah seorang Yahudi. Sesungguhnya ia tidak punya keturunan. Sesungguhnya ia tidak bisa masuk di Madinah, dan tidak masuk Makkah."

Sebelum Dajjal akhir zaman ini akan ada banyak pendusta. Rasulullah menyebut akan ada hampir tiga puluh orang pendusta yang berkarakter Dajjal.

Hadits dari Hudzaifah, dengan jumlah 27:

في أُمَّتِي كَذَّابُونَ ودَجَّالُونَ سَبَعَةٌ وعشرونَ منھم أَرْبَعُ نسوةٍ وإِنِّي خاتمُ النبیین لا نَبِيَّ بَعْدِي

Dalam umatku ada 27 para pendusta yakni para Dajjal, di antara mereka empat orang wanita, dan sesungguhnya aku adalah penutup para Nabi, tidak ada Nabi setelahku," (HR Ahmad & Thabarani, disahihkan oleh al-Haithami).

Kemudian Dajjal akhir zaman inilah yang dibunuh oleh Nabi Isa ibn Maryam

يخرج الدجال من أمتي فيمكث أربعين فيبعث الله عيسى بن مريم كأنه عروة بن مسعود الثقفي فيطلبه فيهلكه

"Dajjal itu keluar dari umatku. Ia tinggal (di bumi) selama empat puluh. Kemudian Allah mengutus Isa ibn Maryam yang seolah seperti Urwah Ibn Mas'ud at-Tsaqafy (nama seorang sahabat nabi). Kemudian Isa ibn Maryam mencari Dajjal itu dan membunuhnya. (Hadits riwayat Imam Ahmad [2/166]; hadits riwayat Imam Muslim [2940]; Imam Al-Hakim [4/550]).

Tentu menarik, dalam hadits ini bukan orang lain yang diserupakan dengan Isa, tapi Isa ibn Maryam yang turun itu seolah diserupakan dengan salah satu sahabat nabi. 

Sehingga tidak ada bagian apa pun selain Nabi Isa ibn Maryam di sini. 

Di Manakah Dajjal Dibunuh Isa? 

Dari An-Nawwas bin Sam’an berkata, “Pada suatu pagi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut Dajjal, beliau melirihkan suara dan mengeraskannya hingga kami mengiranya berada di sekelompok pohon kurma.

فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذْ بَعَثَ اللَّهُ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ فَيَنْزِلُ عِنْدَ الْمَنَارَةِ الْبَيْضَاءِ شَرْقِىَّ دِمَشْقَ بَيْنَ مَهْرُودَتَيْنِ وَاضِعًا كَفَّيْهِ عَلَى أَجْنِحَةِ مَلَكَيْنِ إِذَا طَأْطَأَ رَأَسَهُ قَطَرَ وَإِذَا رَفَعَهُ تَحَدَّرَ مِنْهُ جُمَانٌ كَاللُّؤْلُؤِ فَلاَ يَحِلُّ لِكَافِرٍ يَجِدُ رِيحَ نَفَسِهِ إِلاَّ مَاتَ وَنَفَسُهُ يَنْتَهِى حَيْثُ يَنْتَهِى طَرْفُهُ فَيَطْلُبُهُ حَتَّى يُدْرِكَهُ بِبَابِ لُدٍّ فَيَقْتُلُهُ ثُمَّ يَأْتِى عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ قَوْمٌ قَدْ عَصَمَهُمُ اللَّهُ مِنْهُ فَيَمْسَحُ عَنْ وُجُوهِهِمْ وَيُحَدِّثُهُمْ بِدَرَجَاتِهِمْ فِى الْجَنَّةِ

“Saat Dajjal seperti itu, tiba-tiba ‘Isa putra Maryam turun di sebelah timur Damaskus di menara putih dengan mengenakan dua baju (yang dicelup wars dan za’faran) seraya meletakkan kedua tangannya di atas sayap dua malaikat, bila ia menundukkan kepala, air pun menetes. Ketika ia mengangkat kepala, air pun bercucuran seperti mutiara. Tidaklah orang kafir mencium bau dirinya melainkan ia akan mati. Sungguh bau napasnya sejauh mata memandang. Isa mencari Dajjal hingga menemuinya di pintu Ludd lalu membunuhnya. Setelah itu Isa ibn Maryam mendatangi suatu kaum yang dijaga oleh Allah dari Dajjal. Ia mengusap wajah-wajah mereka dan menceritakan tingkatan-tingkatan mereka di surga.” (HR Muslim no. 2937)

Kehidupan Manusia Selepas Dajjal

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَيَبْعَثُ اللَّهُ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ كَأَنَّهُ عُرْوَةُ بْنُ مَسْعُودٍ فَيَطْلُبُهُ فَيُهْلِكُهُ ثُمَّ يَمْكُثُ النَّاسُ سَبْعَ سِنِينَ لَيْسَ بَيْنَ اثْنَيْنِ عَدَاوَةٌ ثُمَّ يُرْسِلُ اللَّهُ رِيحًا بَارِدَةً مِنْ قِبَلِ الشَّأْمِ فَلاَ يَبْقَى عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ أَحَدٌ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ أَوْ إِيمَانٍ إِلاَّ قَبَضَتْهُ

“Lalu Allah mengutus Isa ibn Maryam seperti Urwah bin Mas’ud, ia mencari Dajjal dan membunuhnya. Setelah itu selama tujuh tahun, manusia tinggal dan tidak ada permusuhan di antara dua orang pun. Kemudian Allah mengirim angin sejuk dari arah Syam lalu tidak tersisa seorang yang di hatinya ada kebaikan atau keimanan seberat biji sawi pun yang tersisa kecuali ia mencabut nyawanya,” (HR Muslim no. 2940).

Hikmah Membaca Al-Kahfi

Untuk terhindar dari Dajjal, Rasulullah menganjurkan kita untuk membaca atau menghafal bagian Surat Al-Kahfi.

عَنْ أَبِى الدَّرْدَاءِ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم قَالَ: « مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ » وفي رواية ـ من آخر سورة الكهف ـ

Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menghafal sepuluh ayat dari bagian awal surat Al-Kahfi, niscaya dia akan terlindungi dari (fitnah) Dajjal.” Dalam riwayat yang lain disebutkan, “(sepuluh ayat) akhir dari Al-Kahfi.”

Rasulullah juga bersabda,


فَمَنْ أَدْرَكَهُ مِنْكُمْ فَلْيَقْرَأْ عَلَيْهِ فَوَاتِحَ سُورَةِ الْكَهْفِ

“Barangsiapa di antara kalian mendapati zamannya Dajjal, bacalah awal-awal surat Al Kahfi.” 

Dalam redaksi lain, Rasulullah bersabda,

مَنْ قَرَأَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ آخِرِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ

"Barangsiapa membaca sepuluh ayat terakhir Al-Kahfi, ia akan dilindungi dari fitnah Dajjal."

Apa hikmahnya?

Surat Al-Kahfi itu menceritakan kekuasan Allah sehingga menidurkan ashabul Kahfi hingga 309 tahun.

Ini adalah peristiwa yang di luar kebiasaan (خارق للعادة).

Nah, dalam hubungannya dengan Dajjal itu adalah bahwa di antara hal yang di luar kebiasaan itu ada yang disertai pengakuan dan ada yang tidak pakai pengakuan. Kalau dalam pengakuan, maka ada pengakuan sebagai Tuhan, kenabian, kewalian, dan pengakuan sihir atau ketaatan pada setan.

Yang mengaku sebagai Tuhan misalnya adalah Fir'aun, dan nanti di akhir zaman, yang mengaku sebagai Tuhan adalah Dajjal.

Dajjal adalah fitnah terbesar yang bisa memporak-porandakan iman. Karena itu penting sekali selalu membaca Al-Kahfi dan merenungi maknanya. 

Dalam surat itu juga disebut keyakinan yang salah dengan menyatakan bahwa Allah punya anak. 

Berikut adalah tiga golongan yang meyakini bahwa pertama, Allah punya anak, yaitu para kafir Arab yang menyatakan bahwa malaikat adalah anak putrinya Allah. Kedua, Nasrani yang menyatakan bahwa Al-Masih adalah putra Allah. Ketiga, Yahudi yang menyatakan bahwa Uzair adlh putra Allah (Fakhruddin ar-Razi, Mafâtihul Ghaib, juz 21: 7).

Ketiga keyakinan itu salah. Islam sudah menggariskan Allah adalah Dzat yang Esa. Tidak beranak dan tidak diperanakkan.

ولا تقومُ الساعةُ حتى يُبْعَثَ دجالونَ كذابونَ ، قريبًا من ثلاثينَ ، كلُّهم يزعُمُ أنه رسولُ اللهِ

“Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga dibangkitkan ‘dajjal-dajjal’ pendusta yang jumlahnya mendekati tiga puluh, semuanya mengaku bahwa mereka adalah utusan Allah.” (HR Bukhari nomor 3609)


Ustadz Yusuf Suharto, Peneliti Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur

Rabu 29 Mei 2019 14:0 WIB
Makna ‘Tangan Allah’ Menurut Imam Ahmad bin Hanbal
Makna ‘Tangan Allah’ Menurut Imam Ahmad bin Hanbal
Ilustrasi (sufism247.blog)
Salah satu bahasan aqidah yang paling sering disalahpahami adalah soal ayat-ayat yang sepintas mengisyaratkan bahwa Allah punya anggota tubuh sehingga dalam benak sebagian orang terbayang seolah Dzat Allah adalah jism (sosok tiga dimensi) yang tersusun dari organ-organ tubuh tertentu. Ini adalah kesalahan fatal sebab hal ini adalah aqidah para Mujassimah. Aqidah Mujassimah ini adalah salah satu yang dilawan oleh para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah-Maturidiyah) dan disepakati sebagai salah satu aqidah yang menyimpang.

Di antara contoh yang paling sering dibahas dalam tema ini adalah tentang kata “yadullah” yang secara harfiah berarti “tangan Allah” yang disebutkan dalam Al-Qur’an maupun hadits. Di antara ayat yang menyebut kata ini adalah:

 قَالَ يَٰٓإِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَىَّ ۖ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ ٱلْعَالِينَ 

"Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan ‘kedua tangan-Ku’. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?” (QS. Shad: 75)

Apa maksud kata “yadayya” yang secara harfiah berarti “kedua tangan” dalam ayat di atas. Para Mujassimah mengartikannya secara harfiah sebagai organ tangan yang dikenal manusia, hanya bentuknya saja yang berbeda. Tapi makna ini salah menurut Imam Ahmad bin Hanbal (241 H) sebab dengan memaknai semacam ini sama saja dengan mengatakan bahwa Dzat Allah adalah jism (sosok tiga dimensi yang mempunyai ukuran panjang, lebar dan tinggi secara fisik). Ia mengatakan:

كَانَ يَقُول إِن لله تَعَالَى يدان وهما صفة لَهُ فِي ذَاته ليستا بجارحتين وليستا بمركبتين وَلَا جسم وَلَا جنس من الْأَجْسَام وَلَا من جنس الْمَحْدُود والتركيب والأبعاض والجوارح وَلَا يُقَاس على ذَلِك لَا مرفق وَلَا عضد وَلَا فِيمَا يَقْتَضِي ذَلِك من إِطْلَاق قَوْلهم يَد إِلَّا مَا نطق الْقُرْآن بِهِ أَو صحت عَن رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم السّنة فِيهِ

“Imam Ahmad berkata: Sesungguhnya Allah Ta’ala mempunyai yadâni  (”dua tangan”) dan keduanya adalah sifat bagi-Nya dalam Dzat-Nya. Keduanya bukan organ tubuh untuk bekerja (tangan/kaki), bukan susunan, bukan jism atau pun jenis dari jism, bukan kategori sesuatu yang bisa diukur, tersusun, fragmen atau anggota tubuh untuk bekerja (jawârih). “Tangan” itu tak bisa dikiaskan dengan apa pun, bukan siku, bukan lengan, dan bukan pula apa yang dipahami dari kata “tangan” secara umum, kecuali [yang boleh adalah mengatakan] apa yang diucapkan oleh al-Qur’an atau apa yang sahih dari hadits Rasulullah ﷺﷺ.” (al-Khallal, al-‘Aqîdah, 104).

Demikianlah Imam Ahmad menolak mengartikan kata “yadullah” sebagai “organ tangan Allah” sebab organ adalah sesuatu yang dapat terukur dan tersusun sedangkan Dzat Allah bukanlah hal yang demikian. Di tempat berbeda, Imam Ahmad bin Hanbal, sebagaimana dinukil oleh Imam Hanabilah terkemuka di masanya, yakni Abu Fadl at-Tamimy (410 H), menegaskan tentang arti jism yang ia tolak bisa dinisbatkan pada Allah sebagaimana berikut: 

إِنَّ الأَسْمَاءَ مَأْخُوذَةٌ مِنَ الشَّرِيعَةِ وَاللُّغَةِ، وَأَهْلُ اللُّغَةِ وَضَعُوا هَذَا الاسْمَ – أَيِ الْجِسْمَ – عَلَى ذِي طِولٍ وَعَرْضٍ وَسَمْكٍ وَتَرْكِيبٍ وَصُورَةٍ وَتَأْلِيفٍ، وَاللهُ خَارِجٌ عَنْ ذَلِكَ كُلِّهِ – أي مُنزَّهٌ عَنْه – فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُسمَّى جِسْمًا لِخروجِهِ عَنْ مَعْنَى الْجِسْمِيّةِ، وَلَمْ يَجِىءْ في الشَّرِيعَةِ ذَلِكَ فَبَطلَ

"Sesungguhnya istilah-istilah itu diambil dari peristilahan syariah dan peristilahan bahasa sedangkan ahli bahasa menetapkan istilah ini (jism) untuk sesuatu yang punya panjang, lebar, tebal, susunan, bentuk dan rangkaian, sedangkan Allah berbeda dari itu semua. Maka dari itu, tidak boleh mengatakan bahwa Allah adalah jism sebab Allah tak punya makna jismiyah. Dan, istilah itu juga tidak ada dalam istilah syariat, maka batal menyifati Allah demikian." (Abu al-Fadl at-Tamimy, I’tiqâd al-Imam al-Munabbal Ahmad bin Hanbal, 45).

Dengan demikian, kata “yadullah” sejatinya sama sekali tak tepat bila diartikan sebagai “tangan”. Bila terpaksa menerjemah demikian, maka harus memakai tanda kutip sebab maknanya bukanlah tangan sebagaimana didefinisikan dalam kamus yang dikenal manusia. Allah sangat berbeda dengan semua makhluk sehingga mengartikan sesuatu tentang Dzat atau sifat Allah tak bisa dilakukan secara harfiah sebagaimana mengartikan dzat dan sifat makhluk.

Ini adalah aqidah seluruh ulama Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah-Maturidiyah) yang dinyatakan dalam semua kitab-kitab mereka. Dengan ini dapat diketahui bahwa pernyataan sebagian tokoh yang seolah mengartikan “yadullah” sebagai organ tubuh Tuhan adalah pernyataan yang keliru menurut para ulama Ahlussunnah yang di dalamnya termasuk Imam Ahmad rahimahullah. Wallahu a'lam.


Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center Jawa Timur.