IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Teladan Kejujuran Rasulullah

Rabu 31 Juli 2019 6:17 WIB
Share:
Teladan Kejujuran Rasulullah
Ilustrasi (ist)
Sama halnya seperti ibadah yang berangkat dari individu, sikap jujur dan kejujuran harus berangkat dari individu. Jujur ini sudah tentu berdampak pada kehidupan secara luas, karena ke mana pun melangkah, apapun yang terucap, dan bagaimana pun berperilaku, penting bagi manusia menjunjung tinggi kejujuran.
 
Pakar bidang Tafsir Prof KH Nasaruddin Umar dalam Khutbah-khutbah Imam Besar (2018) menjelaskan bahwa Nabi Muhammad pernah menegaskan ‘ibda’ bi nafsik (mulailah dari diri sendiri). Dalam Al-Qur’an juga ada penegasan, kafa bi nafsik al-yauma hasiba (cukuplah dirimu sendiri sebagai penghisab, penentu terhadapmu).

Dari penegasan Nabi Muhammad dan wahyu Allah SWT tersebut menggambarkan bahwa pada akhirnya diri pribadi manusia yang lebih tahu, apakah sesungguhnya diri pribadi manusia menjadi faktor terjadinya sebuah konflik dikarenakan kebohongan yang kita sebarkan. Apalagi di era digital seperti sekarang di mana informasi mudah kita dapat, mudah kita buat, dan mudah kita sebarkan sendiri.

Oleh kaum Quraisy pra-Islam, Nabi Muhammad SAW mendapat julukan al-Amin, orang yang dapat dipercaya, artinya manusia yang sangat jujur hingga mendapat predikat terhormat di antara kaumnya. Muhammad memulainya dari sendiri dan berdampak pada kebaikan untuk orang lain dan orang-orang di sekitarnya.

Muhammad muda (12 tahun) kerap mengikuti pamannya Abdul Muthalib untuk berdagang. Bahkan kadang-kadang ia ikut berdagang hingga ke negeri jauh seperti Syam (Suriah). Diceritakan dalam Sirah Nabawiyah, tidak seperti pedagang pada umumnya, dalam berdagang Muhammad dikenal sangat jujur, tidak pernah menipu baik pembeli maupun majikannya.

Muhammad juga tidak pernah mengurangi timbangan atau pun takaran. Muhammad juga tidak pernah memberikan janji-janji yang berlebihan, apalagi bersumpah palsu. Semua transaksi dilakukan atas dasar sukarela, diiringi dengan ijab kabul. Muhammad pernah tidak  melakukan  sumpah untuk menyakinkan  apa yang dikatakannya, termasuk  menggunakan nama Tuhan.

Pernah suatu ketika Muhammad berselisih paham dengan salah seorang pembeli. Saat itu Muhammad menjual dagangan di Syam, ia bersitegang dengan salah satu pembelinya  terkait  kondisi  barang yang  dipilih oleh pembeli tersebut. Calon pembeli berkata kepada Muhammad, “Bersumpahlah demi Lata dan Uzza!” Muhammad menjawab, “Aku tidak pernah bersumpah atas  nama  Lata dan Uzza  sebelumnya.”

Kejujuran Muhammad kala itu cukup sebagai prinsip kuat yang dipegang secara mandiri tanpa melibatkan Tuhan sekali pun. Karena baginya, orang akan melihat dan merasakan sendiri terhadap kejujuran yang dipegangnya selama berdagang.

Prinsip Muhammad muda ini tentu saja bertolak belakang dengan fenomena keagamaan simbolik di zaman sekarang. Agama hanya dijadikan simbol, bukan diwujudkan dalam akhlak mulia sehari-hari. Memahami agama secara hitam dan putih dengan menawarkan murahnya surga. Bahkan, Allah SWT dibawa-bawa dalam aktivitas duniawi seperti politik praktis demi kepentingan kelompoknya.

Dimensi sosial tidak terlepas dari ibadah yang diamalkan oleh seorang Muslim. Dengan kata lain, keshalehan individual akan menjadi bermakna jika bisa mewujudkan keshalehan sosial. Hal ini terlihat ketika ibadah puasa yang bersifat sangat pribadi ujung-ujungnya harus diakhiri dengan mengeluarkan zakat, yaitu ibadah yang memiliki dimensi sosial.

Sama halnya shalat yang merupakan ibadah individual, tetap diakhiri dengan salam lalu menengok ke kanan dan ke kiri sebagai simbol memperhatikan lingkungan sosial. Hal ini membuktikan bahwa ibadah vertikal harus diamalkan secara horisontal sehingga tercipta kehidupan yang baik. (Fathoni)
Share:

Baca Juga

Jumat 26 Juli 2019 19:22 WIB
Teladan Nabi Muhammad dalam Membangun Negara Bangsa
Teladan Nabi Muhammad dalam Membangun Negara Bangsa
Nabi Muhammad SAW (Ilustrasi: NU Online)
Nabi Muhammad diutus untuk mengislamkan orang kafir, bukan mengkafirkan sesama manusia apalagi mengkafirkan orang yang jelas-jelas beragama Islam. Dalam proses dakwah Islam tersebut, akhlak luhur dan mulia menjadi pondasi utama Nabi Muhammad di hadapan manusia dan bangsa yang beragam, baik rakyat jelata, pejabat, hingga raja serta teladan yang baik kepada sahabat, suku, dan kelompok-kelompok dari berbagai macam agama.

Nabi Muhammad menyadari hidup di tengah suku, bangsa, dan agama yang beragam. Hal ini menjadi perhatian penting beliau ketika hijrah ke Yatsrib (Madinah) sekitar tahun 622 M. Beliau dan para sahabatnya melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah pada tahun ke-13 masa kenabian. Hal itu merujuk pada dakwah Nabi di Makkah yang berjalan selama 13 tahun. Adapun peristiwa hijrah Nabi tersebut dijadikan dasar perhitungan tahun hijriah yang dilmulai pertama kali pada momen tersebut.

Nabi menyampaikan risalah Tauhid dan memimpin umat Islam di Makkah. Setelah berhijrah ke Yatsrib karena berbagai hal, Nabi bertemu dengan berbagai kelompok, suku, dan agama. Masyarakat Madinah sedari awal sudah plural atau majemuk sehingga memerlukan kepemimpinan yang kuat untuk merangkul semua bangsa di Yatsrib. Di Madinah, Nabi Muhammad hendak mewujudkan masyarakat yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghaffur. Dibuatlah kesepakatan bernama Piagam Madinah (Mitsaq al-Madinah), berisi 47 pasal yang mengatur kehidupan bersama warga bangsa di Madinah.

Di sini, Nabi hanya memberikan inspirasi kepada umat Islam bagaimana membangun sistem pemerintahan Islami berdasarkan kesepakatan bersama warga bangsa. Kendati demikian, Islam tetap menjiwai praktik kepemimpinan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad kala itu. Perlu dicatat bahwa ketika Nabi membangun komunitas baru di Madinah, Nabi tidak pernah mengemukakan satu pun bentuk pemerintahan politik yang baku dan diikuti oleh para penerusnya.

Sejarah mencatat bahwa tidak mekanisme politik standar dan baku yang berlaku bagi pergantian pemerintahan di masa Abu bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Bahkan ironisnya, di antara keempat sahabat besar ini hanya Abu Bakar lah yang meninggal secara wajar, karena yang lain (Umar, Utsman, dan Ali) meninggal terbunuh. Hal ini menunjukkan bahwa risiko yang ditanggung atas sebuah kekhalifahan cukup besar karena kera kali memunculkan konflik dan gesekan, baik dari perspektif pandangan keagamaan maupun kebijakan politik.

Keempatnya merupakan khalifah besar setelah Nabi Muhammad wafat. Mereka menjunjung tinggi kepemimpinan Nabi yang kerap melakukan musyawarah. Mereka juga tidak pernah menunjuk keluarganya untuk menggantikan dirinya menjadi khalifah. Hal ini berbeda jauh dari bila dibandingkan dengan sistem pemerintahan atau khilafah model Dinasti Bani Umayyah, Bani Abbasiyah dan seterusnya.

Di mana pergantian pemerintahan ditentukan berdasarkan monarkhi absolut. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa sistem khilafah, imamah, atau imarah tidak lebih dari sekadar ijtihad politik yang cocok diterapkan pada masanya dan belum tentu sesuai dengan era kehidupan berbangsa dan bernegara seperti saat ini.

Masyarakat Islam bisa belajar bahwa Mitsaq al-Madinah menjadi bukti otentik dalam sejarah peradaban Islam bahwa negara pertama yang didirikan Nabi Muhammad SAW ialah negara Madinah, negara kesepakatan atau perjanjian (Darul Mitsaq), bukan negara Islam, bukan daulah Islamiyah atau khilafah dalam pandangan kelompok Hizbut Tahrir dan ISIS.

Dengan demikian, tidak otomatis khilafah ISIS atau kampanye khilafah Hizbut Tahrir adalah khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. Karena justru yang dilakukan kelompok ISIS mencederai nilai-nilai ajaran Islam yang menjunjung tinggi kasih sayang terhadap sesama. Mereka mengangkat senjata, menumpahkan darah, dan tidak segan-segan membantai kelompok mana pun yang berbeda pandangan serta tidak mengikuti daulah yang ingin didirikannya.

Begitu juga dengan khilafah yang terus didengungkan oleh Hizbut Tahrir. Dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), kelompok Hizbut Tahrir justru ingin mengubah dasar negara dengan menolak Pancasila dan segala sistemnya. Layaknya Piagam Madinah, Pancasila merupakan konsensus kebangsaan yang disepakati oleh para pendiri bangsa (founding fathers) Indonesia.

Para pendiri bangsa di antaranya terdiri dari para ulama dan aktivis Islam. Mereka paham agama dan fiqih siyasah sehingga negara berdasarkan Pancasila tidak menyalahi syariat Islam. Justru syariat dan nilai-nilai Islam menjadi jiwa bagi Pancasila. Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial merupakan nilai-nilai universal Islam yang terkandung dalam Pancasila.

Jika khilafah ‘ala minhajin nubuwwah diterjemahkan sebagai sistem pemerintahan yang mengikuti jejak kenabian, Indonesia merupakan negara yang mempraktikkannya. Ukurannya bisa dilihat bahwa Nabi Muhammad mendirikan negara kesepakatan (Darul Mitsaq) bersama umat beragama, suku, dan kabilah-kabilah di Madinah berdasarkan Piagam Madinah (Mitsaq al-Madinah).

Serupa, Indonesia juga mempunyai konsensus kebangsaan atau kesepakatan seluruh bangsa yang mendiami tanah air Republik Indonesia berupa Pancasila. Seluruh bangsa yang ada di dalamnya, tak terkecuali, dilindungi oleh negara selama mereka tidak melanggar kesepakatan dan tidak melanggar hukum yang berlaku secara norma, etika, dan legal.

Tidak terpungkiri, teladan Nabi Muhammad dalam membangun negara Madinah berdasarkan perjanjian dan kesepakatan bersama telah menginspirasi ulama-ulama pendiri bangsa di Indonesia bersama para tokoh nasionalis untuk menyusun dasar negara, Pancasila dan UUD 1945. (Fathoni)
Senin 22 Juli 2019 21:0 WIB
Rasulullah Tegur Abu Bakar karena Melaknat Orang Kafir
Rasulullah Tegur Abu Bakar karena Melaknat Orang Kafir
Ilustrasi. Abu Bakar dalam Film Umar
Nabi Muhammad selalu menjaga perkataan yang keluar dari lisannya, dalam segala situasi dan kondisi. Bahkan dalam keadaan marah sekalipun, beliau tidak pernah mengeluarkan ucapan-ucapan yang kotor, merendahkan, apalagi bernada melaknat. Sehingga tidak ada orang yang merasa tersakiti atau terhina dengan perkataan Nabi Muhammad.  
 
Nabi Muhammad juga orang yang selalu menjaga kehormatan orang lain. Tidak pernah mengatakan sesuatu yang tidak layak dan membuat orang lain tersinggung –meskipun itu betul misalnya. Nabi lebih memilih menggunakan cara lainnya yang tidak membuat orang lain sakit hati. Beliau tahu betul cara menjaga perasaan dam kehormatan orang lain. 
 
Nilai-nilai itu kemudian diajarkan kepada para sahabatnya. Nabi Muhammad langsung mengingatkan apabila ada sahabatnya yang perkataannya menyakiti atau menyinggung perasaan orang lain. Dalam hal ini, Nabi Muhammad pernah menegur Sayyidina Abu Bakar karena ucapannya membuat anak Sa’id  bin Ash marah.
 
Dikutip dari buku Akhlak Rasul Menurut Al-Bukhari dan Muslim (Abdul Mun’im al-Hasyimi, 2018), suatu ketika Nabi Muhammad bersama dengan Sayyidina Abu Bakar, dua anak Sa’id bin Ash, dan beberapa sahabat lainnya pergi ke Thaif untuk suatu urusan. Di tengah jalan, rombongan melewati sebuah kuburan. Sayyidina Abu Bakar kemudian menanyakan siapa penghuni kuburan itu. Dijawab orang-orang, itu adalah kuburan Sa’id bin Ash.
 
Mengetahui itu kuburan Sa’id bin Ash, Sayyidina Abu Bakar berdoa kepada Allah agar melaknat penghuni kubur tersebut karena semasa hidupnya memerangi Allah dan Nabi Muhammad. Doa Sayyidina Abu Bakar itu membuat telinga Amr –salah satu anak Sa’id bin Ash yang ikut dalam rombongan- memerah. Amr marah dan mengadukan hal itu kepada Nabi Muhammad. 
 
Kepada Nabi Muhammad, Amr membandingkan kebaikan ayahnya dengan ayah Sayyidina Abu Bakar. Menurut dia, Sa’id bin Ash lebih banyak menolong orang yang kesusahan dari pada ayah Sayyidina Abu Bakar, Abu Quhafah.  
 
“Wahai Rasulullah, ini adalah kuburan orang yang lebih banyak memberi makan dan banyak menolong orang yang kesusahan dibandingkan Abu Quhafah,” kata anak Sa’id bin Ash itu. 
 
Nabi Muhammad kemudian melerai mereka. Di satu sisi, beliau meminta Amr untuk tidak meneruskan perselisihan itu. Di sisi lain, Nabi menasihati Sayyidina Abu Bakar agar menghindari kata-kata yang khsusus jika membicarakan orang kafir. Alasannya, agar anak-anak orang kafir yang dibicarakan itu tidak marah.
 
"Wahai Abu Bakar, bila kamu berbicara tentang orang kafir maka buatlah kalimat yang masih umum. Bila kamu menyebut seseorang secara khusus, maka anak-anaknya tentu akan marah,” kata Nabi Muhammad kepada Sayyidina Abu Bakar. Umat Islam tidak pernah lagi menjelek-jelekkan orang kafir setelah peristiwa itu. (Muchlishon)
Ahad 21 Juli 2019 6:0 WIB
Kisah Nabi Muhammad, Utsman bin Thalhah, dan Kunci Ka’bah
Kisah Nabi Muhammad, Utsman bin Thalhah, dan Kunci Ka’bah
Ilustrasi Ka'bah (kissclipart.com)
Nabi Muhammad bertawaf di Ka’bah setelah Kota Makkah berhasil dibebaskan. Sambil bertawaf, Nabi Muhammad menghancurkan patung-patung yang berdiri di sekeliling Ka’bah dengan tongkat atau panahnya. Saat itu, kira-kira ada 360 berhala dan patung yang ada di sekitar Ka’bah.

Ketika membabat berhala-berhala itu, Nabi Muhammad sambil menyerukan QS. al-Isra ayat 81 secara berulang-ulang. Seketika itu, berhala dan patung itu hancur berantakan. “Kebenaran telah datang dan kebatilan telah hancur. Sesungguhnya kebatilan akan musnah selamanya,” kata Nabi. Hal itu kemudian diikuti oleh para sahabatnya. Selesai bertawaf, Nabi Muhammad melaksanakan shalat di Maqam Ibrahim. Dilanjutkan menuju ke sumur zam-zam dan meneguk airnya.

Pada saat itu, Utsman bin Thalhah adalah juru kunci Ka’bah. Dia lah yang memegang kunci Ka’bah. Nabi Muhammad kemudian memanggilnya untuk membuka Ka’bah. Namun beliau tidak langsung masuk ke Ka’bah karena di dalamnya masih banyak berhala dan gambar. Beliau kemudian memerintahkan para sahabatnya untuk membawa keluar berhala dan menghapus gambar yang ada di dinding Ka’bah.

Nabi Muhammad bersama Usamah, Bilal, dan Utsman bin Thalhah baru masuk ke dalam Ka’bah setelah tidak ada lagi berhala dan gambar di dalamnya. Satu riwayat beliau shalat dua rakaat di dalam Ka’bah, sementara riwayat lain menyebut beliau tidak shalat.  Merujuk buku Membaca Sirah Nabi Muhammad Dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018), setelah keluar dari Ka’bah, Sayyidina Ali bin Abi Thalib meminta kepada Nabi Muhammad agar memberikan kunci Ka’bah kepadanya. 

Riwayat lain menyebutkan bahwa Abbas bin Abdul Muthalib lah yang meminta kunci Ka’bah ketika Nabi Muhammad menerima kunci dari Sayyidina Ali di sumur zam-zam. Pada masa itu, Abbas adalah orang yang bertugas menyediakan air bagi pengunjung Ka’bah. Dengan meminta kunci Ka’bah, ia berharap bisa menggabungkan pengurusan Ka’bah dengan tugasnya itu. 

Namun Nabi Muhammad menolak permintaan itu. Beliau kemudian mencari Utsman bin Thalhah untuk menyerahkan kunci Ka’bah, sambil melantunkan Al-Qur’an Surat an-Nisa ayat 58 yang baru saja diterimanya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menunaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.”

Pada saat menyerahkan kunci Ka’bah kepada Utsman bin Thalhah, Nabi Muhammad berucap: “Ini kuncimu wahai Utsman. Hari ini adalah hari kebajikan dan kesetiaan, ambillah ini (wahai Utsman beserta keturunanmu) selama-lamanya sepanjang masa, tidak ada yang merebutnya dari kalian kecuali dzalim atau penganiyaya.” 

Demikian sikap tegas Nabi Muhammad tentang siapa yang berhak menjaga kunci Ka’bah. Beliau tetap memberikan kepada pihak yang berhak, meski ada kerabat dekatnya sendiri yang meminta kunci Ka’bah itu. 

Di dalam buku Mekkah: Kota Suci, Kekuasaan, dan Teladan Ibrahim dijelaskan, dulu Suku Quraisy membagi tiga jabatan untuk memperbaiki pengelolaan kota Makkah. Pertama, al-Siqayah. Posisi yang tugasnya menyiapkan air dan kebutuhan pokok lainnya untuk mereka yang berziarah ke Ka’bah. Kedua, al-Rafadah. Mereka bertugas untuk menyediakan akomodasi dan konsumsi bagi para jamaah yang datang ke Ka’bah.

Ketiga, al-Sadanah. Jabatan ini bertanggung jawab untuk mempersiapkan dan menjaga kunci Ka’bah. Qusai bin Kilab adalah orang yang ditugaskan untuk mengisi posisis ini ketika itu. Qusai kemudian menyerahkan kunci Ka’bah kepada anak pertamanya, Abdu al-Dar. Lalu, Abdul al-Dar menyerahkan kunci Ka’bah kepada anak pertamanya. Dan begitu pun cucu-cucunya, selalu menyerahkan kunci Ka’bah kepada anak pertamanya. Pada zaman Rasulullah, yang bertugas merawat Ka’bah dan memegang kuncinya adalah Utsman bin Thalhah.  

Utsman bin Thalhah lalu mewariskan kunci Ka’bah itu kepada saudaranya, Syaibah. Hingga hari ini, kunci Ka’bah dipegang oleh anak cucu keturunan dari Bani Syaibah. Sampai hari ini, anak cucu keturunan dari Bani Syaibah bertanggung jawab untuk merawat Ka’bah, termasuk membuka dan menutupnya, membersihkan dan mencucinya, serta merawat Kiswah atau kelongsongnya. 

Kunci Ka’bah sendiri sudah beberapa kali mengalami perubahan. Terakhir, kunci Ka’bah diperbaharui pada November 2013 lalu. Kini, kunci Ka’bah terbuat dari nikel. Panjangnya 35 cm dan dilapisi dengan emas 18 karat. Di Turki, ada sebuah museum yang menyimpan 48 kunci Ka’bah –dengan bentuk yang berbeda-beda- sejak era Kekaisaran Turki Usmani. Sementara di Arab Saudi ada dua replika kunci yang terbuat dari emas murni. (A Muchlishon Rochmat)