IMG-LOGO
Haji, Umrah, dan Kurban

Bolehkah Berkurban dengan Binatang Hamil?

Rabu 31 Juli 2019 20:0 WIB
Share:
Bolehkah Berkurban dengan Binatang Hamil?
Ilustrasi (independent.co.uk)

Hewan yang tidak sah dijadikan kurban dijelaskan dalam nash hadits Nabi sebagai berikut:

 

أَرْبَعٌ لَا تُجْزِئُ فِي الْأَضَاحِيِّ الْعَوْرَاءُ الْبَيِّنُ عَوَرُهَا وَالْمَرِيضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا وَالْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ عَرَجُهَا وَالْعَجْفَاءُ الَّتِي لَا تُنْقِي

 

“Empat hewan yang tidak mencukupi dalam kurban adalah (1) hewan yang buta sebelah dan jelas kebutaannya, (2) yang sakit parah, (3) yang pincang parah dan (4) yang sangat kurus hingga tidak punya tulang sumsum,” (HR al-Tirmidzi, Sahih).

 

Ulama memberi alasan mengapa empat binatang yang disebutkan dalam hadits tidak mencukupi, bahwa cacat yang dimiliki binatang-binatang tersebut dapat mempengaruhi daging, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Sehingga mengecualikan binatang yang memiliki cacat ringan dari empat cacat yang disebutkan, semisal sakit ringan atau pincang yang tidak parah.

 

Syekh Zakariyya al-Anshari berkata:

 

(فَصْلٌ) فِي صِفَةِ الْأُضْحِيَّةِ (وَلَا تُجْزِئُ مَا بِهَا مَرَضٌ) بَيِّنٌ بِحَيْثُ (يُوجِبُ الْهُزَالَ أَوْ عَرَجٌ بَيِّنٌ) بِحَيْثُ تَسْبِقُهَا الْمَاشِيَةُ إلَى الْكَلَأِ الطَّيِّبِ وَتَتَخَلَّفُ عَنْ الْقَطِيعِ بِخِلَافِ الْيَسِيرِ مِنْ ذَلِكَ لِمَا رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ أَرْبَعٌ لَا تُجْزِئُ فِي الْأَضَاحِيِّ: الْعَوْرَاءُ الْبَيِّنُ عَوَرُهَا وَالْمَرِيضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا وَالْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ عَرَجُهَا وَالْعَجْفَاءُ الَّتِي لَا تُنْقِي مَأْخُوذَةٌ مِنْ النِّقْيِ بِكَسْرِ النُّونِ وَإِسْكَانِ الْقَافِ، وَهُوَ الْمُخُّ أَيْ لَا مُخَّ لَهَا؛ وَلِأَنَّ الْبَيِّنَ مِنْ ذَلِكَ يُؤَثِّرُ فِي اللَّحْمِ بِخِلَافِ الْيَسِيرِ

 

“Fasal tentang kriteria binatang kurban. Dan tidak mencukupi hewan yang sakit parah yang menyebabkan kurus atau pincang yang mencolok sekiranya didahului binatang lain menuju rumput yang lezat dan tertinggal jauh untuk menyusulnya, berbeda dengan sakit atau pincang yang sedikit. Hal ini karena hadits yang diriwayatkan Imam al-Tirmidzi dan beliau mensahihkannya; Empat hewan yang tidak mencukupi dalam kurban adalah (1) hewan yang buta sebelah dan jelas kebutaannya, (2) yang sakit parah, (3) yang pincang parah dan (4) yang sangat kurus hingga tidak punya tulang sumsum;. Redaksi la tunqi diambil dari akar kata al-Niqyu dengan kasrahnya nun dan sukunnya qaf, yaitu tulang sumsum, maksudnya binatang yang tidak ada sumsumnya. Dan karena cacat yang mencolok dari hal tersebut berpengaruh dalam daging, berbeda dengan yang sedikit,” (Syekh Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, juz 1, hal. 535).

 

Secara prinsip, bagian hewan kurban yang paling dicari orang adalah dagingnya, sehingga setiap cacat yang dapat mengurangi kuantitas atau kualitas daging, maka semakna dengan empat binatang yang tidak sah dibuat kurban sebagaimana nash hadits di atas. Disamakan dengan daging, bagian hewan lainnya yang dikonsumsi seperti bagian pantat dan telinga. Karena itu binatang yang terpotong telinganya tidak mencukupi, demikian pula hewan gila, sebab dapat mengakibatkan kurus, demikian pula tidak sah hewan yang mengalami penyakit kudis, karena dapat merusak kualitas daging. Berbeda halnya dengan hewan yang hilang tanduknya, maka tetap sah dibuat kurban, karena tidak berhubungan dengan cacat yang mempengaruhi daging.

 

Berdasarkan prinsip di atas, mayoritas fuqaha Syafi’iyyah menyatakan berkurban dengan hewan yang hamil hukumnya tidak sah, sebab kehamilan yang dialami hewan dapat membuatnya kurus sehingga memiliki pengaruh yang signifikan dalam kuantitas daging. Pendapat mayoritas ini juga menilai janin yang ada dalam kandungan tidak dapat menambal kekurangan daging hewan hamil. Menurut Jumhur Syafi’iiyyah hewan hamil cenderung sama dengan hewan pincang yang gemuk, meski dagingnya banyak, namun tidak dapat menambal sisi minusnya pincang yang diderita hewan.

 

Karena tidak sah dibuat kurban, apabila sudah terlanjur disembelih, tetap halal asalkan memenuhi syarat-syarat menyembelih, tapi daging yang dibagikan berstatus sedekah biasa dan tetap mendapat pahala sedekah.

 

Pendapat berbeda disampaikan oleh Imam Ibnu Rif’ah. Beliau mengatakan berkurban dengan hewan hamil hukumnya sah. Menurut beliau, meski dagingnya berkurang, namun ditambal dengan janin di dalamnya. Salah satu pembesar ulama mazhab Syafi’i itu menganalogikan hewan hamil dengan hewan yang terpotong kulit kelenjar testisnya, meski terdapat cacat dalam kuantitas daging, namun ditambal dengan kualitas kelezatan daging yang bertambah baik.

 

Syekh Sa’id bin Muhammad Ba’asyin berkata:

 

وَلَا يَجُوْزُ التَّضْحِيَةُ بِحَامِلٍ عَلَى الْمُعْتَمَدِ؛ لِأَنَّ الْحَمْلَ يَنْقُصُ لَحْمُهَا، وَزِيَادَةُ اللَّحْمِ بِالْجَنِيْنِ لَا يَجْبُرُ عَيْباً كَعَرْجَاءَ سَمِيْنَةٍ

 

“Tidak boleh berkurban dengan binatang hamil menurut pendapat al-Mu’tamad (yang kuat), karena kehamilan binatang mengurangi dagingnya, sementara bertambahnya daging disebabkan janin tidak dapat menambal kecacatan seperti binatang pincang yang gemuk,” (Syekh Sa’id bin Muhammad Ba’asyin, Busyra al-Karim, hal. 698).

 

تَنْبِيْهٌ أَفْهَمَ كَلَامُهُ عَدَمَ إِجْزَاءِ التَّضْحِيَةِ بِالْحَامِلِ؛ لِأَنَّ الْحَمْلَ يُهَزِّلُهَا وَهُوَ الْأَصَحُّ كَمَا نَقَلَهُ الْمُصَنِّفُ فِي مَجْمُوْعِهِ عَنِ الْأَصْحَابِ. قَالَ الأَذْرَعِيُّ وَبِهِ جَزَمَ الشَّيْخُ أَبُوْ حَامِدٍ وَأَتْبَاعُهُ وَغَيْرُهُمْ، وَفِي بُيُوْعِ الرَّوْضَةِ وَصَدَاقِهَا مَا يُوَافِقُهُ،

 

“Peringatan, ucapan al-Nawawi memberi pemahaman tidak mencukupinya berkurban dengan binatang hamil, karena kehamilan membuatnya kurus. Ini adalah pendapat al-Ashah (yang kuat) seperti yang dikutip sang pengarang dalam kitab al-Majmu’ dari Ashab. Al-Imam al-Adzra’i berkata; ini adalah pendapat yang mantap dipakai Syekh Abu Hamid, para pengikutnya dan ulama-ulama lain. Dalam bab jual beli dan maskawin di kitab al-Raudlah terdapat keterangan senada”.

 

Syekh Khatib al-Syarbini menegaskan:

 

وَقَوْلُ ابْنِ الرِّفْعَةِ الْمَشْهُوْرُ أَنَّهَا تُجْزِئُ؛ لِأَنَّ مَا حَصَلَ بِهَا مِنْ نَقْصِ اللَّحْمِ يَنْجَبِرُ بِالْجَنِيْنِ، فَهُوَ كَالْخَصِيِّ، مَرْدُوْدٌ بِأَنَّ الْجَنِيْنَ قَدْ لَا يَبْلُغُ حَدَّ الْأَكْلِ كَالْمُضْغَةِ، وَلِأَنَّ زِيَادَةَ اللَّحْمِ لَا تَجْبُرُ عَيْبًا بِدَلِيلِ الْعَرْجَاءِ السَّمِيْنَةِ.

 

“Adapun pendapat Imam Ibnu Rif’ah; pendapat yang masyhur bahwa binatang hamil mencukupi karena kekurangan dagingnya ditambal dengan janin, sehingga seperti binatang yang terpotong kulit telur testisnya; ditolak dengan argumen bahwa janin terkadang tidak sampai batas dimakan seperti gumpalan daging, dan karena bertambahnya daging tidak dapat menambal kecacacatan dengan dalil binatang pincang yang gemuk,(Syekh Khatib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, juz 6, hal. 128).

 

Status Sembelihan Janin

 

Dengan disembelihnya hewan hamil, menjadikan janin dihukumi suci dan halal, tanpa perlu disembelih lagi. Sebab sembelihan janin diikutkan dengan sembelihan induknya. Ketentuan ini berlaku apabila keluarnya janin dalam keadaan mati atau kritis seperti layaknya binatang yang bergerak-gerak pasca disembelih. Bila ia masih hidup dalam keadaan normal, maka harus disembelih sendiri, tidak cukup dengan sembelihan induknya.

 

Syekh Zakariyya al-Anshari berkata:

 

)فَصْلٌ وَذَكَاةُ الْجَنِينِ ذَكَاةُ أُمِّهِ) كَمَا رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ وَابْنُ حِبَّانَ وَصَحَّحَهُ أَيْ ذَكَاتُهَا الَّتِي أَحَلَّتْهَا أَحَلَّتْهُ تَبَعًا لَهَا؛ وَلِأَنَّهُ جُزْءٌ مِنْ أَجْزَائِهَا وَذَكَاتُهَا ذَكَاةٌ لِجَمِيعِ أَجْزَائِهَا؛ وَلِأَنَّهُ لَوْ لَمْ يَحِلَّ بِذَكَاةِ أُمِّهِ لَحَرُمَ ذَكَاتُهَا مَعَ ظُهُورِ الْحَمْلِ كَمَا لَا تُقْتَلُ الْحَامِلُ قَوَدًا هَذَا (إنْ خَرَجَ مَيِّتًا) سَوَاءٌ أَشْعَرَ أَمْ لَا (أَوْ) خَرَجَ حَيًّا (فِي الْحَالِ وَبِهِ حَرَكَةُ مَذْبُوحٍ) بِخِلَافِ مَا إذَا خَرَجَ وَبِهِ حَيَاةٌ مُسْتَقِرَّةٌ فَلَا يَحِلُّ بِذَكَاةِ أُمِّهِ

 

“Fasal, sembelihan janin adalah sembelihan induknya, seperti dijelaskan hadits yang diriwayatkan al-Imam al-Turmudzi dan dinyatakan hasan olehnya, riwayat Ibnu Hibban dan disahihkannya. Maksudnya sembelihan yang menghalalkan induknya juga menghalalkan janin karena hukumnya diikutkan, dan karena janin merupakan satu dari beberapa bagian induknya, menyembelihnya berarti juga menyembelih seluruh bagian-bagiannya. Dan karena bila janin tidak halal dengan sembelihan induknya, maka pasti haram menyembelihnya besertaan tampaknya kehamilan sebagaimana orang hamil tidak boleh dibunuh dalam rangka hukuman qisas. Ketentuan ini bila janin keluar dalam keadaan mati, baik terasa atau tidak, atau keluar dalam keadaan hidup saat itu juga dan mengalami pergerakan sebagaimana bergeraknya hewan yang disembelih. Berbeda halnya bila janin keluar dan ditemukan kehidupan yang normal, maka ia tidak halal dengan sembelihan induknya”. (Syekh Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, juz 1, hal. 568).

 

Simpulannya, berkurban dengan hewan hamil merupakan persoalan yang diperselisihkan ulama. Dua pendapat di atas sama-sama boleh dipakai. Oleh sebab itu, praktik kurban dengan binatang hamil yang terjadi di sebagian masyarakat kita hendaknya tidak perlu diingkari.

 

 

Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pondok Pesantren Raudlatul Quran, Geyongan, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat

 

 

 

 

Share:

Baca Juga

Rabu 31 Juli 2019 13:0 WIB
Bolehkah Kurban Satu Kambing secara Patungan?
Bolehkah Kurban Satu Kambing secara Patungan?

Spirit berkurban tidak hanya untuk menyejahterakan fakir miskin dengan membagikan dagingnya, tapi juga merupakan momentum untuk menjalin solidaritas dan semangat gotong royong. Saat hari raya Nahar (Idul Adha), masyarakat berbondong-bondong meramaikan dan saling bantu-membantu menyukseskan pelaksanaan ibadah kurban, mulai dari proses penyembelihan, pembagian hingga melahap dagingnya secara bersama-sama.

 

Semangat kebersamaan juga terjalin di kalangan pihak yang berkurban. Sering dijumpai praktik patungan atau kongsi untuk membeli binatang kurban, misalnya di sekolahan, mitra kerja dan tempat lainnya. Sebagian di antaranya patungan membeli kambing, ini biasa terjadi untuk mereka yang terkendala dana. Bagaiamana hukumnya?

 

Syariat telah menetapkan standar maksimal jumlah kapasitas mudlahhi (orang yang berkurban) untuk per satu ekor hewan kurban, yaitu unta dan sapi untuk tujuh orang, sementara kambing hanya sah dibuat kurban satu orang. Oleh sebab itu, bila melampaui batas ketentuan ini, binatang yang disembelih tidak sah menjadi kurban, misalnya patungan sapi untuk delapan orang atau kambing untuk dua orang.

 

Ketentuan ini berlandaskan pada hadits:

 

عَنْ جَابِرٍ - رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ - قَالَ: «خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - مُهِلِّينَ بِالْحَجِّ فَأَمَرَنَا أَنْ نَشْتَرِكَ فِي الْإِبِلِ وَالْبَقَرِ كُلُّ سَبْعَةٍ مِنَّا فِي بَدَنَةٍ

 

“Dari jabir, beliau berkata kami keluar bersama Rasulullah seraya berihram haji, lalu beliau memerintahkan kami untuk berserikat di dalam unta dan sapi, setiap tujuh orang dari kami berserikat dalam satu ekor unta,” (HR Muslim).

 

Dan hadits:

 

أَنَّ أَبَا أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيَّ قَالَ كُنَّا نُضَحِّي بِالشَّاةِ الْوَاحِدَةِ يَذْبَحُهَا الرَّجُلُ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ. ثُمَّ تَبَاهَى النَّاسُ بَعْدُ فَصَارَتْ مُبَاهَاة

 

“Sesungguhnya Abu Ayyub al-Anshari berkata, ‘Kami dahulu berkurban dengan satu kambing, disembelih seseorang untuk dirinya dan keluarganya, kemudian manusia setelahnya saling membanggakan diri maka menjadi ajang saling membanggakan (bukan ibadah)’,” (HR Imam Malik bin Anas).

 

Berdadarkan dalil di atas, munculah sebuah produk hukum rumusan ulama sebagai berikut:

 

مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَلَا نَعْلَمُ لَهُ مُخَالِفاً عَدَمَ جَوَازِ التَّضْحِيَّةِ بِالشَّاةِ عَنْ أَكْثَرَ مِنْ وَاحِدٍ

 

“Menurut mazhab Syafi’i, dan kami tidak mengetahui pendapat yang menyelesihinya, tidak boleh berkurban dengan satu kambing untuk satu orang lebih,” (Syekh al-Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur, Bughyah al-Mustarsyidin, hal. 258).

 

(وَلَوْ اشْتَرَكَ رَجُلَانِ فِي شَاتَيْنِ) لِلتَّضْحِيَةِ أَوْ غَيْرِهَا كَالْهَدْيِ (لَمْ يَجُزْ) اقْتِصَارًا عَلَى مَا وَرَدَ الْخَبَرُ بِهِ وَلِتَمَكُّنِ كُلٍّ مِنْهُمَا مِنْ الِانْفِرَادِ بِوَاحِدَةٍ

 

“Bila dua laki-laki berserikat dalam dua kambing untuk berkurban atau selainnya seperti al-hadyu, maka tidak sah, karena meringkas atas ketentuan yang disebutkan dalam hadits dan karena masing-masing memungkinkan menyendiri dengan mengeluarkan satu ekor kambing”. (Syekh Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, juz.1, hal. 537).

 

Ada sebagian orang berasumsi, patungan satu ekor kurban kambing diperbolehkan dengan berlandaskan kepada sebuah hadits bahwa Nabi mengeluarkan kurban untuk keluarga dan umatnya hanya dengan dua ekor kambing. Menurut mereka hadits tersebut merupakan bukti bahwa kurban kambing untuk satu orang lebih diperbolehkan. Berikut hadits yang menjadi dasar asumsi di atas:

 

ضَحَّى رَسُولُ اللهِ- صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بِكَبْشَيْنِ وَقَالَ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ

 

“Nabi berkurban dengan dua kambing gibas dan berdoa, ‘Ya Allah terimalah dari Muhammad, keluarga dan umatnya,” (HR. Muslim).

 

Hadits di atas sesungguhnya belum cukup dijadikan hujjah (argumentasi) untuk mengesahkan kurban patungan kambing. Sebab hadits tersebut tidak berbicara dalam konteks patungan atau kongsi berkurban kambing, tapi berkaitan dengan al-isyrak fi al-tsawab (menyertakan orang lain dalam pahala kurban).

 

Jadi, sebetulnya yang berkurban hanya Nabi, dan beliau menghadiahkan pahala berkurbannya untuk keluarga dan umatnya, mereka yang disertakan Nabi dalam pahala kurbannya sama sekali tidak memiliki andil biaya untuk membeli kambing. Hal ini jelas berbeda dengan kasus berkurban kambing secara kongsi yang masing-masing berkontribusi secara finansial untuk membeli binatang kurban.

 

Menghadiahkan pahala kurban untuk keluarga atau orang lain, berimplikasi kepada gugurnya tuntutan berkurban untuk orang lain. Sementara hasilnya ibadah kurban dan pahalanya secara hakiki, hanya didapatkan oleh mudlahhi.

 

Syekh Khatib al-Syarbini berkata:

 

(وَ) تُجْزِئُ (الشَّاةُ) الْمُعَيَّنَةُ مِنْ الضَّأْنِ أَوْ الْمَعْزِ (عَنْ وَاحِدٍ) فَقَطْ فَإِنْ ذَبَحَهَا عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِهِ أَوْ عَنْهُ وَأَشْرَكَ غَيْرَهُ فِي ثَوَابِهَا جَازَ وَعَلَيْهِ حُمِلَ خَبَرُ مُسْلِمٍ «ضَحَّى رَسُولُ اللهِ- صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بِكَبْشَيْنِ وَقَالَ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ»

 

“Mencukupi satu kambing tertentu berupa domba atau kambing kacang dari satu orang saja, maka bila ia menyembelih untuk dirinya dan keluarganya, atau untuk dirinya dan menyertakan orang lain di dalam pahala berkurban, maka boleh. Atas ketentuan ini diarahkan haditsnya Imam Muslim: Nabi berkurban dengan dua kambing gibas dan beliau bersabda, ‘Ya Allah semoga engkau terima kurban ini dari Muhammad, keluarga, dan umatnya’,” (Syekh Khathib al-Syarbini, al-Iqna’ ‘Ala Matni Abi Syuja’, juz.4, hal.332).

 

Syekh Sulaiman al-Bujairimi memberi komentar referensi di atas sebagai berikut:

 

قَوْلُهُ: (وَتُجْزِئُ الشَّاةُ) فَإِنْ قُلْت إنَّ هَذَا مُنَافٍ لِمَا بَعْدَهُ حَيْثُ قَالَ: فَإِنْ ذَبَحَهَا عَنْهُ، وَعَنْ أَهْلِهِ أَوْ عَنْهُ وَأَشْرَكَ غَيْرَهُ فِي ثَوَابِهَا جَازَ. أُجِيبُ: بِأَنَّهُ لَا مُنَافَاةَ لِأَنَّ قَوْلَهُ هُنَا عَنْ وَاحِدٍ أَيْ مِنْ حَيْثُ حُصُولِ التَّضْحِيَةِ حَقِيقَةً وَمَا بَعْدَهُ الْحَاصِلُ لِلْغَيْرِ إنَّمَا هُوَ سُقُوطُ الطَّلَبِ عَنْهُ، وَأَمَّا الثَّوَابُ وَالتَّضْحِيَةُ حَقِيقَةً فَخَاصَّانِ بِالْفَاعِلِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

 

“Terkait ucapan Syekh Khatib “mencukupi satu kambing untuk satu orang”, bila engkau bertanya, ‘Sesungguhnya ini bertentangan dengan komentar al-Khatib setelahnya saat beliau berkata; bila ia menyembelih untuk dirinya dan keluarganya dan menyertakan orang lain dalam pahalanya maka boleh’. Jawabannya adalah bahwa sesungguhnya tidak ada pertentangan, karena ucapan Syekh Khatib dalam bagian ini; mencukupi untuk satu orang; maksudnya dari sisi hasilnya ibadah kurban secara hakikat. Sedangkan ucapan beliau setelahnya; yang dapat dihasilkan orang lain; arahnya adalah gugurnya tuntutan berkurban untuknya. Adapun pahala dan berkurban secara hakikat hanya khusus untuk orang yang melakukan kurban atas segala kondisi,” (Syekh Sulaiman al-Bujairimi, Tuhfah al-Habib ‘Ala Syarh al-Khatib, juz 4, hal. 332).

 

Simpulannya, patungan membeli kambing hukumnya tidak sah atas nama kurban, bila hal tersebut terlanjur dilakukan, maka status daging yang disembelih adalah sedekah biasa yang berpahala, tapi tidak memiliki konsekuensi seperti kurban.

 

Solusi agar tetap sah atas nama kurban bisa ditempuh misalnya dengan sebuah skenario; uang yang terkumpul dihibahkan kepada satu orang untuk kemudian dibelikan kambing. Dengan begitu, kambing yang dibeli menjadi miliknya secara utuh dan sah dikurbankan atas namanya, ia juga bisa memberikan pahala kurbannya untuk segenap orang yang tergabung dalam kongsi. Bila skenario ini dirasa maslahat dan disetujui segenap anggota kongsi, tidak ada salahnya untuk diterapkan. Wallahu a’lam.

 

 

Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pondok Pesantren Raudlatul Quran, Geyongan, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat

 

Rabu 31 Juli 2019 11:30 WIB
Ini Lafal Niat Mandi Haji dan Umrah
Ini Lafal Niat Mandi Haji dan Umrah
null
Salah satu rukun haji adalah ihram. Rukun haji menempati posisi penting dalam rangkaian ibadah haji yang puncaknya ada di wukuf. Salah satu adab ihram adalah mandi. Sebelum ihram, jamaah haji dianjurkan untuk melakukan mandi.

أحدها السنة أن يغتسل قبل الإحرام غسلا ينوي به غسل الإحرام

Artinya, “Salah satunya, sunnah mandi sebelum ihram dengan mandi yang diniatkan ihram,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Idhah fi Manasikil Hajj pada Hasyiyah Ibni Hajar, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], halaman 76).

Berikut ini adalah lafal niat mandi ihram yang dapat dibaca sebagai penguat niat ihram:

نَوَيْتُ غُسْلَ الِإحرَام سُنَّةً لِلهِ تَعَالَى

Nawaytu ghuslal ihrāmi sunnatan lilāhi ta‘ālā.

Artinya, “Saya niat mandi ihram sunnah karena Allah SWT.”

Mandi ihram ini dilakukan sebelum jamaah melangsungkan ihram yang diawali dengan niat ihram. Kesunnahan mandi ini berlaku untuk ihram haji dan ihram umrah. Jadi sebelum memasang niat ihram haji atau niat ihram umrah, jamaah dianjurkan untuk mandi ihram.

قوله (ويستحب للحاج الغسل في عشرة مواضع للإحرام) ولو بالعمرة والقصد به العبادة والتنظيف

Artinya, “Perkataan, (jamaah haji dianjurkan mandi pada 10 titik, yaitu ihram dan seterusnya) sekalipun ihram umrah. Tujuannya adalah ibadah dan kebersihan,” (Lihat Syekh Ibnu Hajar, Hasyiyah Ibni Hajar alal Idhah, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], halaman 77).

Tujuan dari mandi ihram ini tidak lain adalah ibadah dan kebersihan. Oleh karenanya, mandi ihram ini bukan sekadar mandi harian biasa, tetapi diniatkan untuk ibadah dalam rangka membesarkan Allah SWT melalui rangkaian ibadah haji yang mulia. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Rabu 31 Juli 2019 9:0 WIB
Haruskah Niat Kurban Dilakukan saat Penyembelihan?
Haruskah Niat Kurban Dilakukan saat Penyembelihan?
Pelaku kurban yang diwakilkan kadang cukup kerepotan bila harus hadir di lokasi penyembelihan. Ilustrasi (Al Arabiya)
Saat kesibukan orang-orang modern kian meningkat, banyak dari mereka yang merasa tidak punya waktu untuk membeli dan mendistribusikan hewan kurban sendiri. Proses pembelian, perawatan, penyembelihan, hingga urusan pembagian daging tentu cukup merepotkan untuk diatasi sendiri, apalagi bagi kebanyakan orang perkotaan. Oleh karena itu, banyak orang yang lebih mempercayakan pengelolaan penyembelihan hewan kurban kepada lembaga atau masjid tertentu baik di daerahnya sendiri maupun di luar. 
 
Di sebagian tempat, terdapat sebagian orang yang berkurban atau aqiqah melalui panitia di luar daerahnya sendiri dengan berbagai alasan yang melatarbelakangi. Para ulama berbeda pendapat tentang masalah tersebut. Ada yang melarang, ada pula yang memperbolehkan.

Para ulama Syafi’iiyah memang berbeda pendapat cukup tajam soal berkurban di luar daerah yang cukup jauh. Ulama yang tidak memperbolehkan, seperti Syekh Ali Syibromalisi misalnya, menganalogikannya dengan zakat yang dibatasi wilayah tertentu. 

Analogi ulama yang memperbolehkan lain lagi, dan ini dinyatakan dalam kitab Al-Muhimmat sebagai pendapat yang shahih. Logikanya mengikuti sedekah nazar yang tidak ada batas wilayahnya—bebas diberikan kepada siapa saja. Walaupun, pendapat yang menyatakan shahih ini dianggap lemah oleh Ibnul ‘Imad. Artinya memang terjadi perbedaan yang kemudian memberikan kebebasan masyarakat untuk memilih pendapat ulama yang mana.

Bagi yang mengikuti pendapat boleh, bisa datang sendiri membawakan hewan kurbannya ke lokasi tertentu atau cukup transfer uang saja baru kemudian dibelikan hewan kurban di lokasi target.

وأما نقل دراهم من بلد إلى بلد أخرى ليشتري بها أضحية فيها فهو جائز

Artinya: “Adapun mengirim uang dari satu daerah ke daerah yang lain untuk dibelikan hewan kurban, hukumnya boleh,” (Syekh Abu Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, I’ânatuth Thâlibîn, [Darul Fikr, cet I, 1997], juz 2, hal 380).

Jika proses penyembelihannya diwakilkan, lantas kapan orang yang hendak berkurban itu memulai niatnya? 

Pada dasarnya niat dalam berkurban dilaksanakan saat penyembelihan hewan kurban. Jika penyembelihan hewan tersebut diwakilkan kepada orang lain dan orang yang berkurban sudah berniat dalam hatinya bahwa ia hendak berkurban, maka niatnya sudah sah walaupun nanti saat penyembelihan, tukang jagal tidak lagi niat dengan niat khusus. Bahkan seandainya penyembelih hewan kurban tidak tahu sekalipun, kurbannya tetap sah.
 
وإذا وكل به كفت نية الموكل، ولا حاجة لنية الوكيل، بل لو لم يعلم أنه مضح لم يضر

Artinya: “Apabila seseorang mewakilkan penyembelihan kurban, maka cukup niatnya orang yang mewakilkan saja. Tidak dibutuhkan niatnya orang yang menerima perwakilan (penyembelih), bahkan meskipun apabila penyembelih tidak mengetahui bahwa yang disembelih merupakan hewan kurban sekalipun, tidak menjadi menjadi masalah,” (Syekh Abu Bakar bin Muhammad Syatho Ad-Dimyathi, I’anatuht Thalibin, [Darul Fikr: cet I, 1997], juz 2, halaman 379-380).

Sebagian ulama ada yang berpandangan lain. Niat bagi orang yang mewakilkan penyembelihan hewan kurbannya kepada orang lain bisa dilakukan saat menyerahkan atau saat penyembelihan. Ada sebagian kecil pendapat ulama yang justru menganggap tidak sah apabila niatnya hanya saat menyerahkan saja. 

Kemudian ada ulama yang menengahi perbedaan pandangan tersebut dengan memberikan batasan: apabila orang yang berkurban belum pernah niat sama sekali, maka niat tetap harus dijalankan oleh pelaksana penyembelihan hewan kurban. 

(وَإِنْ وَكَّلَ بِالذَّبْحِ نَوَى عِنْدَ إعْطَاءِ الْوَكِيلِ) مَا يُضَحَّي بِهِ (أَوْ) عِنْدَ (ذَبْحِهِ) التَّضْحِيَةَ بِهِ، وَقِيلَ: لَا تَكْفِي النِّيَّةُ عِنْدَ إعْطَائِهِ وَلَهُ تَفْوِيضُهَا إلَيْهِ أَيْضًا وَفِي الرَّوْضَةِ كَأَصْلِهَا يَجُوزُ تَقْدِيمُ النِّيَّةِ عَلَى الذَّبْحِ فِي الْأَصَحِّ الْمَبْنِيِّ عَلَيْهِ جَوَازُهَا عِنْدَ إعْطَاءِ الْوَكِيلِ فَيُقَيَّدُ اشْتِرَاطُهَا عِنْدَ الذَّبْحِ بِمَا إذَا لَمْ تَتَقَدَّمْهُ 

Artinya: “Apabila ada orang mewakilkan penyembelihan kurban, maka niatnya bisa pada saat menyerahkan hewan kurban atau pada saat menyembelihnya. Menurut sebagian pendapat, tidak cukup niat saat menyerahkan saja. Bagi orang yang berkurban juga harus menyerahkan tentang niatnya nanti sekalian. 

Dalam kitab Ar-Raudhah sebagaimana disebutkan dalam kitab aslinya dikatakan, boleh mendahulukan niat sebelum penyembelihan berlangsung menurut pendapat yang paling shahih dengan berdasarkan pada pendapat yang memperbolehkan niat pada saat penyerahan hewan kepada panitia. Dengan demikian, niat dalam penyembelihan tersebut menjadi syarat mutlak apabila memang dari orang yang mewakilkan belum niat sama sekali.” (Qalyubi dan Amirah, Hasyiyah Qalyubi wa Amirah, [Darul Fikr: Beirut, 1995], juz 4, hal. 254). 

Jika melihat realitas masyarakat Indonesia yang sekarang ini, tampaknya sangat jarang terjadi orang saat menyerahkan uang—baik melalui transfer maupun tunai—atau menyerahkan hewan secara langsung, tidak terbersit sama sekali dalam hatinya  untuk berkurban. Bila demikian, ketika panitia penerima kemudian mengirimkan hewan tersebut ke daerah tertentu dengan berpijak pada ulama yang memperbolehkan dan di sana penerima kedua tidak mengetahui secara detail ini kurban dari A, B, C dan lain sebagainya, maka hukum penyembelihan tetap sah. Niat cukup dilakukan orang yang menunaikan kurban, dan cukup dilaksanakan saat penyerahannya saja.
 
Masyarakat yang hidup di lingkungan dengan jatah hewan kurban melimpah tentu perlu juga memikirkan masyarakat lain yang bisa jadi dalam satu desa hanya terdapat satu kambing kurban saja. Hal ini sangat baik untuk diperhatikan. Lebih bagus lagi, tidak hanya hewan kurbannya yang sampai ke sana, tapi sekaligus orangnya turut menyaksikan. Hal ini mendapatkan kesunnahan tersendiri.
 
وأنه يستحب حضور المضحي أضحيته ولا يجب

Artinya: “Orang yang berkurban disunnahan hadir saat penyembelihan meski (hal tersebut) tidak wajib,” (Syekh Abu Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, I’ânatuth Thâlibîn, [Darul Fikr, cet I, 1997], juz 2, hal 381). Wallahu a’lam. 
 
 
Ustadz Ahmad Mundzir, pengajar di Pesantren Raudhatul Quran an-Nasimiyyah, Semarang