IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Al-Qur'an

Nasakh dan Ayat Kurban: Imam Al-Ghazali Membantah Mu’tazilah

Jumat 2 Agustus 2019 8:15 WIB
Share:
Nasakh dan Ayat Kurban: Imam Al-Ghazali Membantah Mu’tazilah
Ilustrasi Imam Al-Ghazali (NU Online)
Salah satu topik penting dalam studi ilmu Al-Qur’an adalah mengenai Nasakh atau lazim dikenal dengan Nasikh-Mansukh. Secara ringkas maknanya adalah 
‎رفع الحكم الشرعي بخطاب شرعي yaitu ketentuan dalam Nash yang dihapus/diangkat dengan kententuan Nash lainnya. Ini artinya hukum yang terkandung dalam satu ayat diganti atau dihapus dengan ketentuan hukum lainnya.

Dalilnya paling tidak ada dua:

Pertama, مَا نَنسَخْ مِنْ ءَايَةٍ
Apa saja ayat yang kami nasakhkan (hapuskan)… [Al-Baqarah: 106]

dan kedua, وَإِذَا بَدَّلْنَآ ءَايَةً مَّكَانَ ءَايَةٍ
Dan apabila Kami mengganti suatu ayat di tempat ayat yang lain. [An-Nahl: 101]

Mayoritas ulama menerima adanya Nasakh ini, meskipun mereka berbeda dalam detailnya. Namun ada juga sebagian kecil ulama, misalnya Abu Muslim al-Asfahani yang bermazhab Mu’tazilah, menolak keberadaan Nasakh ini.

Dua disiplin ilmu yang membahas topik ini adalah Ulumul Qur’an dan Ushul Fiqih. Untuk kajian Ulumul Qur’an bisa ngaji kitab al-Burhan fi ‘Ulumil Qur’an (jilid 2, hal 28) karya Imam az-Zarkasyi. Untuk kajian Ushul Fiqih, kali ini saya sodorkan bacaan menarik dari kitab al-Mustashfa karya Imam al-Ghazali (juz 1, hal 86)

Imam Al-Ghazali mendiskusikan dengan sangat menarik topik Nasakh ini dengan mengupas perbedaan antara Asy’ariyah dan Mu’tazilah dalam memahami ayat kurban:

“Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami memanggilnya: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS. Ash-Shaaffaat: 99-111)

Diskusinya seputar persoalan apakah bisa sebuah perintah dari Allah dihapuskan sebelum perintah tersebut dilaksanakan?

Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa kelompok Asy’ariyah berpendapat sebuah perintah tidaklah dianggap sebagai perintah sebelum sampai kepada objek yang terkena perintah. Jadi ini bukan perintah dan larangan dalam situasi yang sama, tapi terjadi dalam dua hal yang berbeda. Contohnya, dihapuskannya perintah kepada Nabi Ibrahim untuk mengurbankan anaknya sebelum perintah itu dilaksanakan, dan Allah menggantinya dengan objek lain yaitu sembelihan yang besar.

Jadi, Nabi Ibrahim diperintah melalakukan satu perbuatan, kemudian berserah diri untuk mengerjakannya, lantas di-Nasakh perintah itu. Kata Imam Al-Ghazali, “Ini amat pelik bagi Mu’tazilah untuk memahaminya.” Mu’tazilah lantas mengajukan lima kemungkinan untuk memahami ayat di atas:

1. Sebenarnya itu bukan perintah Allah, tapi hanya sebatas mimpi.

2. Ini perintah, tapi hanya dengan tujuan menguji Nabi Ibrahim, jadi perintah menyembelih itu bukan tujuan sebenarnya.

3. Perintah menyembelih tidak dihapuskan, tapi Allah mengganti leher Nabi Ismail dengan besi sehingga tidak bisa terpotong. Akibatnya perintah di-Nasakh karena tidak mungkin melaksanakannya.

4. Yang diperintah itu adalah membaringkan Nabi Ismail di atas pelipisnya, lantas mengayunkan pisau tanpa bermaksud menyembelihnya.

5. Penghapusan perintah itu tidak ada karena Nabi Ibrahim telah melaksanakan menyembelih Nabi Ismail, hanya saja kemudian oleh Allah direkatkan kembali sehingga penyembelihan itu tidak benar-benar terjadi, karena efeknya sudah Allah sembuhkan.

Kelima kemungkinan penafsiran ala Mu’tazilah di atas satu demi satu dibantah oleh Imam Al-Ghazali.

1. Kalaupun ini hanya sekadar mimpi, maka mimpi setiap Nabi itu benar, dan bagian dari kenabian mereka. Lagipula dalam kasus ini dipercayai bukan sekadar mimpi karena Nabi Ismail sendiri yang mengatakan: “Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu” dan Allah telah mengatakan: “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” Masak kalau cuma mimpi dibilang ini ujian. Mana ada orang ujian lewat mimpi.

2. Kalau dikatakan ini bukan perintah, hanya sekadar ujian belaka, maka inipun harus kita tolak argumentasi Mu’tazilah karena Allah Yang Maha Mengetahui hal yang ghaib tidak membutuhkan ujian untuk mengetahui kondisi Nabi Ibrahim. Ujian itu ada hanya karena ada kewajiban. Jika kewajiban tidak ada, maka ujian juga tidak ada. Kalau Mu’tazilah berargumen determinasi (azam) adalah kewajiban, maka ini absurd karena tekad yg kuat untuk melaksanakn kewajiban bukanlah sesuatu yang wajib dengan sendirinya sebab ia akan mengikuti aturan main dari objek, dan sekadar tekad yang kuat (determinasi/azam) tidaklah sebuah kewajiban selama ia tidak percaya akan kewajiban dari obyek. Bahkan kalaupun objek tidaklah wajib, maka Nabi Ibrahim akan lebih paham soal ini daripada Mu’tazilah, ketika beliau berkata: “aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.” Yang dijawab oleh anaknya: “kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu”, yang bermakna menyembelihnya. Begitu juga firman Allah: “Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya”, yang artinya bukan sekadar tekad, tapi memang sebuah aksi untuk melaksanakan perintah menyembelih.

3. Kemungkinan nomor 3 ini juga tidak tepat menurut prinsip berpikir Mu’tazilah sendiri. Memerintahkan sesuatu dengan persyaratan ini tidak bisa terjadi menurut mereka. Kalau Allah tahu bahwa Dia akan memgganti leher Ismail dengan besi, maka Dia tidak akan memberi perintah menyembelih sebagai sebuah kurban. Tidak mungkin Allah memberi perintah yang mustahil dikerjakan.

4. Argumentasi bahwa perintahNya itu seolah bukan menyembelih tapi hanya sekadar membaringkan, ini juga bermasalah. Membaringkan tidak bisa dianggap sama dengan mengurbankan.

5. Mengenai kemungkinan leher Nabi Ismail sudah terpotong tapi sembuh rekat kembali, ini juga argumen yang bermasalah dari Mu’tazilah. Bagaimana kemudian perlu diganti dengan “sembelihan yang besar” jika leher Nabi Ismail menjadi sembuh? Dan kalau ini yang terjadi, temtu sudah diketahui sejak dulu dan menjadi mu’jizat tersendiri. Tapi ini hanya rekaan Mu’tazilah saja. jika dikatakan bahwa bukankah Allah berfirman “kamu telah membenarkan mimpi itu”? Maksud penggalan ayat ini adalah: “kamu telah mengerjakan pengantar dari apa yang telah kamu benarkan di mimpimu.” Membenarkan mimpi tersebut tanpa benar-benar mengerjakan perintah menyembelih itu secara keseluruhan.

Demikianlah diskusi menarik antara Imam Al-Ghazali dengan Mu’tazilah di kitab Ushul Fiqih beliau yang berjudul al-Mustashfa. Dalam kitab ini memang Imam al-Ghazali seringkali menuliskannya dengan gaya berpolemik. Membacanya seolah kita tengah menyaksikan Imam al-Ghazali yang sedang berdiskusi dengan pihak lain. Semoga kajian —yang agak berat kali ini— bisa bermanfaat untuk para pecinta ilmu kalam, Ulumul Qur’an dan ushul fiqih sekaligus.

Tabik,

Nadirsyah Hosen, Wakil Ketua Dewan Pengasuh Pesantren Takhasus Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ) Jakarta

Teks asli dari kitab al-Mustashfa Imam Al-Ghazali:
 
‎وَمِنْ أَصْحَابِنَا مَنْ قَالَ: الْأَمْرُ لَا يَكُونُ أَمْرًا قَبْلَ بُلُوغِ الْمَأْمُورِ، فَلَا يَكُونُ أَمْرًا وَنَهْيًا فِي حَالَةٍ وَاحِدَةٍ بَلْ فِي حَالَتَيْنِ. فَهَذَا أَيْضًا يَقْطَعُ التَّنَاقُضَ وَيَدْفَعُهُ. ثُمَّ الدَّلِيلُ الْقَاطِعُ مِنْ جِهَةِ السَّمْعِ عَلَى جَوَازِهِ قِصَّةِ إبْرَاهِيمَ – عَلَيْهِ السَّلَامُ – وَنَسْخُ ذَبْحِ وَلَدِهِ عَنْهُ قَبْلَ الْفِعْلِ، وقَوْله تَعَالَى: {وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ} [الصافات: ١٠٧] فَقَدْ أُمِرَ بِفِعْلٍ وَاحِدٍ وَلَمْ يُقَصِّرْ فِي الْبِدَارِ وَالِامْتِثَالِ ثُمَّ نُسِخَ عَنْهُ.
‎وَقَدْ اعْتَاصَ هَذَا عَلَى الْقَدَرِيَّةِ حَتَّى تَعَسَّفُوا فِي تَأْوِيلِهِ وَتَحَزَّبُوا فِرَقًا وَطَلَبُوا الْخَلَاصَ مِنْ خَمْسَةِ أَوْجُهٍ:
‎أَحَدِهَا: أَنَّ ذَلِكَ كَانَ مَنَامًا لَا أَمْرًا.
‎الثَّانِي: أَنَّهُ كَانَ أَمْرًا لَكِنْ قُصِدَ بِهِ تَكْلِيفُهُ الْعَزْمَ عَلَى الْفِعْلِ لِامْتِحَانِ سِرِّهِ فِي صَبْرِهِ عَلَى الْعَزْمِ، فَالذَّبْحُ لَمْ يَكُنْ مَأْمُورًا بِهِ.
‎الثَّالِثِ: أَنَّهُ لَمْ يُنْسَخْ الْأَمْرُ لَكِنْ قَلَبَ اللَّهُ تَعَالَى عُنُقَهُ نُحَاسًا أَوْ حَدِيدًا فَلَمْ يَنْقَطِعْ، فَانْقَطَعَ التَّكْلِيفُ لِتَعَذُّرِهِ.
‎الرَّابِعِ: الْمُنَازَعَةُ فِي الْمَأْمُورِ وَأَنَّ الْمَأْمُورَ بِهِ كَانَ هُوَ الْإِضْجَاعُ وَالتَّلُّ لِلْجَبِينِ وَإِمْرَارَ السِّكِّينِ دُونَ حَقِيقَةِ الذَّبْحِ.
‎الْخَامِسِ: جُحُودُ النَّسْخِ وَأَنَّهُ ذَبَحَ امْتِثَالًا فَالْتَأَمَ وَانْدَمَلَ. وَالذَّاهِبُونَ إلَى هَذَا التَّأْوِيلِ اتَّفَقُوا عَلَى أَنَّ إسْمَاعِيلَ لَيْسَ بِمَذْبُوحٍ. وَاخْتَلَفُوا فِي كَوْنِ إبْرَاهِيمَ – عَلَيْهِ السَّلَامُ – ذَابِحًا، فَقَالَ قَوْمٌ: هُوَ ذَابِحٌ لِلْقَطْعِ وَالْوَلَدُ غَيْرُ مَذْبُوحٍ لِحُصُولِ الِالْتِئَامِ وَقَالَ قَوْمٌ: ذَابِحٌ لَا مَذْبُوحَ لَهُ مُحَالٌ وَكُلُّ ذَلِكَ تَعَسُّفٌ وَتَكَلُّفٌ.
‎أَمَّا الْأَوَّلُ وَهُوَ كَوْنُهُ مَنَامًا، فَمَنَامُ الْأَنْبِيَاءِ جُزْءٌ مِنْ النُّبُوَّةِ وَكَانُوا يَعْرِفُونَ أَمْرَ اللَّهِ تَعَالَى بِهِ، فَلَقَدْ كَانَتْ نُبُوَّةُ جَمَاعَةٍ مِنْ الْأَنْبِيَاءِ – عَلَيْهِمْ السَّلَامُ – بِمُجَرَّدِ الْمَنَامِ.
‎وَيَدُلُّ عَلَى فَهْمِهِ الْأَمْرَ قَوْلُ وَلَدِهِ: افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ، وَلَوْ لَمْ يُؤْمَرْ لَكَانَ كَاذِبًا، وَإِنَّهُ لَا يَجُوزُ قَصْدُ الذَّبْحِ وَالتَّلِّ لِلْجَبِينِ بِمَنَامٍ لَا أَصْلَ لَهُ، وَإِنَّهُ سَمَّاهُ الْبَلَاءَ الْمُبِينَ
‎وَأَيُّ بَلَاءٍ فِي الْمَنَامِ وَأَيُّ مَعْنًى لِلْفِدَاءِ.
‎وَأَمَّا الثَّانِي وَهُوَ أَنَّهُ كَانَ مَأْمُورًا بِالْعَزْمِ اخْتِبَارًا، فَهُوَ مُحَالٌ، لِأَنَّ عَلَّامَ الْغُيُوبِ لَا يَحْتَاجُ إلَى الِاخْتِبَارِ وَلِأَنَّ الِاخْتِبَارَ إنَّمَا يَحْصُلُ بِالْإِيجَابِ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ إيجَابٌ لَمْ يَحْصُلْ اخْتِبَارٌ.
‎وَقَوْلُهُمْ الْعَزْمُ هُوَ الْوَاجِبُ مُحَالٌ؛ لِأَنَّ الْعَزْمَ عَلَى مَا لَيْسَ بِوَاجِبٍ لَا يَجِبُ بَلْ هُوَ تَابِعٌ لِلْمَعْزُومِ، وَلَا يَجِبُ الْعَزْمُ مَا لَمْ يَعْتَقِدْ وُجُوبَ الْمَعْزُومِ عَلَيْهِ. وَلَوْ لَمْ يَكُنْ الْمَعْزُومُ عَلَيْهِ وَاجِبًا لَكَانَ إبْرَاهِيمُ – عَلَيْهِ السَّلَامُ – أَحَقَّ بِمَعْرِفَتِهِ مِنْ الْقَدَرِيَّةِ، كَيْفَ وَقَدْ قَالَ إنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَقَالَ لَهُ وَلَدُهُ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ يَعْنِي الذَّبْحَ؟ وقَوْله تَعَالَى {وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ} [الصافات: ١٠٣] اسْتِسْلَامٌ لِفِعْلِ الذَّبْحِ لَا لِلْعَزْمِ.
‎وَأَمَّا الثَّالِثُ: وَهُوَ أَنَّ الْإِضْجَاعَ بِمُجَرَّدِهِ هُوَ الْمَأْمُورُ بِهِ؛ فَهُوَ مُحَالٌ إذْ لَا يُسَمَّى ذَلِكَ ذَبْحًا وَلَا هُوَ بَلَاءً وَلَا يَحْتَاجُ إلَى الْفِدَاءِ بَعْدَ الِامْتِثَالِ.
‎وَأَمَّا الرَّابِعُ، وَهُوَ إنْكَارُ النَّسْخِ وَأَنَّهُ امْتِثَالٌ لَكِنْ انْقَلَبَ عُنُقُهُ حَدِيدًا فَفَاتَ التَّمَكُّنُ فَانْقَطَعَ التَّكْلِيفُ، فَهَذَا لَا يَصِحُّ عَلَى أُصُولِهِمْ؛ لِأَنَّ الْأَمْرَ بِالْمَشْرُوطِ لَا يَثْبُتُ عِنْدَهُمْ، بَلْ إذَا عَلِمَ اللَّهُ تَعَالَى أَنَّهُ يُقْلَبُ عُنُقُهُ حَدِيدًا فَلَا يَكُونُ آمِرًا بِمَا يَعْلَمُ امْتِنَاعَهُ فَلَا يَحْتَاجُ إلَى الْفِدَاءِ فَلَا يَكُونُ بَلَاءً فِي حَقِّهِ.
‎وَأَمَّا الْخَامِسُ، وَهُوَ أَنَّهُ فَعَلَ وَالْتَأَمَ، فَهُوَ مُحَالٌ؛ لِأَنَّ الْفِدَاءَ كَيْفَ يُحْتَاجُ إلَيْهِ بَعْدَ الِالْتِئَامِ؟ وَلَوْ صَحَّ ذَلِكَ لَاشْتَهَرَ وَكَانَ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِهِ الظَّاهِرَةِ وَلَمْ يُنْقَلْ ذَلِكَ قَطُّ وَإِنَّمَا هُوَ اخْتِرَاعٌ مِنْ الْقَدَرِيَّةِ. فَإِنْ قِيلَ: أَلَيْسَ قَدْ قَالَ: {قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا} [الصافات: ١٠٥] . قُلْنَا: مَعْنَاهُ أَنَّكَ عَمِلْتَ فِي مُقَدِّمَاتِهِ عَمَلَ مُصَدِّقٍ بِالرُّؤْيَا، وَالتَّصْدِيقُ غَيْرُ التَّحْقِيقِ وَالْعَمَلِ
.
 
Share:

Baca Juga

Jumat 26 Juli 2019 20:20 WIB
9 Etika Penghafal Al-Qur’an yang Harus Diperhatikan
9 Etika Penghafal Al-Qur’an yang Harus Diperhatikan
Ilustrasi (via Daily Mail)

Menghafal Al-Qur’an merupakan aktivitas istimewa yang bernilai ibadah. Satu huruf dalam Al-Qur’an berbanding sepuluh kebaikan. Bahkan, bagi mereka yang mampu menghafal seluruh Al-Qur’an, akan mendapatkan garansi surga bersama sepuluh keluarganya. Oleh sebab itu, tak ayal pada era sekarang ini banyak orang tua berlomba-lomba menyuruh anaknya untuk menghafal Al-Qur’an dan mendidiknya di sekolah-sekolah yang ada program tahfidhnya.

 

Selain mereka bergaransi masuk surga, mereka juga mendapat predikat sebagai “hamil” Al-Qur’an (bukan “al-hafiz” sebagaimana banyak dipakai di Indonesia) dan sebagai keluarga Allah dari kalangan manusia, sebagaimana sabda Nabi:

 

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ» قِيلَ: مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «أَهْلُ الْقُرْآنِ هُمْ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ

 

“Sesungguhnya Allah subhanahu wata‘ala memiliki keluarga dari kalangan manusia. Ditanyakan kepada Nabi, siapakah gerangan , wahai Rasul ? Nabi bersabda: Ahli Al-Qur’an adalah keluarga Allah dan orang-orang istimewa-Nya,” (Abdullah al-Darimi, Sunan al-Darimi, Saudi: Dar al-Mugni li al-Nasyr wa al-Tauzi2000, juz IV, hal, 2094, no hadis 3369).

 

Namun demikian, untuk mendapatkan predikat “hamil” Al-Qur’an yang hakiki tidak mudah. Sebab, “hamil” Al-Qur’an tidak cukup hanya hafal Al-Qur’an dengan lancar dan memiliki suara yang bagus. Ia dituntut mampu mengaplikasikan ajaran Al-Qur’an yang terkandung di dalamnya. Imam Al-Qathalani, sebagaimana dikutip oleh Mustafa Murad dalam karyanya Kaifa Tahfadz Al-Qur’an mengatakan bahwa Ahlu Al-Qur’an adalah orang-orang yang mengamalkan dan mengaplikasikan (isi kandungan) Al-Qur’an, mereka adalah para kekasih Allah yang istimewa di antara manusia, mereka tidak sekadar hafal Al-Qur’an tapi mengabaikan batasan-batasan (yang diatur) Al-Qur’an (Mustafa Murad, Kaifa Tahfadz Al-Qur’an, Kairo: Dar al-Fajr li al-Turats, 2003, hal 28).

 

Oleh sebab itu, seorang yang hafal Al-Qur’an hendaknya memiliki perhatian terhadap etika-etika yang mulia, untuk menjaga identitas sebagai “ahlu Allah wa khasshatuh” (keluarga Allah dan orang-orang istimewa-Nya). Untuk itu, berikut merupakan etika dan sifat yang harus dimiliki oleh seorang penghafal Al-Qur’an:

 

1. Seorang “hamil” Al-Qur’an harus memiliki perangai dan akhlak yang sempurna. Artinya seorang “hamil” Al-Qur’an harus mencerminkan akhlak Al-Qur’an. Untuk menghiasi diri dengan akhlak Al-Qur’an, seorang “hamil” Al-Qur’an harus mencontoh akhlak Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi merupakan teks Al-Qur’an yang hidup, sebagai cerminan dari Al-Qur’an, sebagaimana Sayyidah Aisyah berkata: kâna khuluquhul qur'ân (akhlak Rasulullah tak ubahnya Al-Qur'an). 

 

2. Seorang “hamil” Al-Qur’an harus meninggalkan setiap sesuatu yang dilarang Al-Qur’an karena untuk memuliakan Al-Qur’an. Artinya seorang “hamil” Al-Qur’an hendaknya tidak mengabaikan apa yang dilarang oleh Al-Qur’an, demi menjaga muru’ah dan kemuliaan Al-Qur’an. Imam Fudhail bin Iyadh menganjurkan kepada seorang penghafal Al-Qur’an untuk menjaga sikapnya, sebab ia diibaratkan sebagai pembawa bendera Islam, ia berkata:

 

حامل القرآن حامل راية الإسلام لا ينبغي أن يلهو مع من يلهو ولا يسهو مع من يسهو ولا يلغو مع من يلغو تعظيما لحق القرآن

 

“Para penghafal Al-Qur’an adalah pembawa bendera Islam, tidak patut dia bermain bersama orang yang bermain dan lupa bersama orang yang lupa, serta tidak berbicara yang sia-sia orang lain karena untuk mengagungkan Al-Qur’an”.

 

3. Seorang “hamil” Al-Qur’an harus menjaga diri dari pekerjaan yang rendah. Artinya seorang “hamil” Al-Qur’an tidak boleh menjerumuskan diri pada pekerjaan yang tidak halal, pekerjaan yang menjatuhkan diri pada lembah dosa dan hina.

 

4. Seorang “hamil” Al-Qur’an harus berjiwa mulia. Artinya seorang “hamil” Al-Qur’an harus memiliki jiwa yang bersih dari segala prasangka yang buruk kepada orang lain, mejaga lisan dan perbuatannya. Tidak patut bagi penghafal Al-Qur’an kasar (sikapnuya), pelupa, lantang suaranya dan pemarah.

 

5. Seorang “hamil” Al-Qur’an lebih tinggi derajatnya daripada penguasa yang sombong dan pecinta dunia yang jahat. Artinya seorang “hamil” Al-Qur’an tidak merendahkan diri dan merasa hina di hadapan penguasa yang angkuh, demikian pula tidak menjadi “hamba” pengais dunia. Imam Fudhai bin Iyadh berkata: “penghafal Al-Qur’an tidak boleh meminta keperluannya dari seorang khalifah (penguasa) dan dari orang yang berada di bawah kekuasannya”.

 

6. Seorang “hamil” Al-Qur’an harus tawadhu’ kepada orang-orang saleh, orang baik dan orang miskin. Artinya seorang “hamil” Al-Qur’an harus santun kepada semua orang, utamanya kepada orang-orang saleh, dan menyayangi orang miskin.

 

7. Seorang “hamil” Al-Qur’an harus khusyuk jiwanya, tenang dan berwibawa. Artinya seorang “hamil” Al-Qur’an hendaknya memiliki jiwa yang tenang dalam penampilannya, sabar menjaga dan memelihara hafalannya, wibawa dalam ucapannya. (imam Nawawi, al-Tibyan fi Adab Hamalat Al-Qur’an. Beirut: Dar al-Nafais, 1992, hal 43).

 

8. Seorang “hamil” Al-Qur’an tidak boleh menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber penghasilannya atau sandaran hidupnya dari membaca Al-Qur’an. Tidak sepantasnya seorang penghafal Al-Qur’an butuh kepada orang lain, tapi sebaiknya ia mampu memenuhi kebutuhan orang lain. Nabi mengingatkan kepada para “hamil” Al-Qur’an untuk senantiasa berhati-hati tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber pengahasilannya dalam hidup. Beliau bersabda:

 

اقرؤوا القرآن ولا تأكلوا به ولا تجفوا عنه ولا تغلوا فيه

 

“Bacalah Al-Qur’an dan jangan menggunakannya untuk mencari makan, jangan menjauhinya dan jangan melampau batas di dalam ajarannya”.

 

Berkaitan dengan masalah ini, Sayyidina Umar memberi suntikan motifasi kepada para “hamil” Al-Qur’an untuk selalu berlomba-lomba melakukan kebaikan dan tidak bergantung diri kapada orang lain.

 

يا معشر القراء ارفعوا رؤوسكم فقد وضح لكم الطريق فاستبقوا الخيرات لا تكونوا عيالا على الناس

 

“Wahai para qari’ Al-Qur’an, angkatlah kepalamu! Jalan telah jelas bagimu, maka berlomba-lombalah kamu untuk melakukan kebaikan dan janganlah kamu menggantungkan diri kepada orang lain”.

 

Imam al-Mujahid ketika memilih para imam Qira’at Al-Qur’an sebagai standar dan rujukan di dunia Islam, selain karena kemahiran dan kealimannya, dia memperhatikan soal konsistensinya dalam bidang Al-Qur’an, yang mana mereka tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai sandaran dan penopang hidupnya. Imam al-Syatibi berkata:

 

تخيرهم نقادهم كل بارع *** وليس على قرآنه متأكلا

 

“Para kritikus ulama memilih mereka (para imam qira’at) yang baik, mengamalkan ilmunya dan tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai sandaran hidupnya,” (Imam al-Syatibi, Hirz al-Amani wa Wajh al-Tahani fi al-Qir’at al-Sab’I. Saudi: Maktabah Dar al-Huda, 2010, hal 3).

 

9. Seorang “hamil” Al-Qur’an hendaknya selalu mengulang hafalannya, tidak mengabaikan amanat agung yang dianugrahkan kepadanya, utamanya dibaca dan muraja’ah pada malam hari, sebab pada malam hari adalah waktu yang mustajab. Sahabat Abdullah bin Mas’ud menganjurkan kepada para penghafal Al-Qur’an untuk menggunakan kesempatan dengan baik, saat orang lain dalam lalai. Beliau berkata:

 

ينبغي لحامل القرآن أن يعرف بليله إذا الناس نائمون وبنهاره إذا الناس مفطرون وبحزنه إذا الناس يفرحون وببكائه إذا الناس يضحكون وبصحته إذا الناس يخوضون، وبخشوعه إذا الناس يختالون

 

“Sebaiknya seorang yang hafal Al-Qur’an membaca Al-Qur’an di malam hari tatkala manusia tidur, disiang hari tatkala manusia sedang sibuk, bersedih tatkala manusia bersuka ria, menangis tatkala manusia tertawa, diam tatkala manusia bercengkrama, khusyuk tatkala manusia berjalan dengan sombong.”

 

Selain itu, menurut al-Ajurri al-Baghdadi, para “hamil” Al-Qur’an harus memiliki sifat takwa kepada Allah, wara’ dalam penampilan hidup nya; konsumsi hidupnya, pakaiannya, tempat tinggalnya, faham dengan situasi zamannya. (al-Ajurri Al-Baghdadi, Akhlaq Ahl Al-Qur’an. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2003, hal 78).

 

Dari semua etika yang telah disebutkan di atas, ada etika yang paling penting bagi para “hamil” Al-Qur’an untuk ditanamkan dalam jiwanya jika ingin mendapatkan ridha dan surga-Nya, yaitu menata niat dengan tulus hanya karena Allah, bukan untuk mendapatkan harta dan kedudukan. Jika niatnya salah, maka Al-Qur’an tidak akan memberikan syafa’at kepadanya, justru laknat yang ia didapatkan. Imam Ibnu al-Jauzi mengingatkan lewat sebuah syair, sebagaimana dikutip oleh Mustafa Murad, kepada seluruh para “hamil” Al-Qur’an agar senantiasa menata niat dengan baik dan tulus dalam menghafal Al-Qur’an agar mendapatkan ridha dan surga-Nya.

 

 

عَظُمَتْ مصيبة حامل القرأن *** إن كان ملجؤه إلى النيران

 

"Besar musibah para penghafal Al-Qur’an, jika tempat kembalinya ke neraka."

 

فهي الجزاء لمن عصا رب العلا *** دار العذاب وموقف الخسران

 

"Ia adalah balasan bagi orang yang melakukan kemaksiatan kepada Tuhan yang Maha Tinggi, (kembali) ke rumah adzab dan tempat penyesalan."

 

عظمت خسارته وجل مصابه *** عند الصراط بظلمة وهوان

 

"Besar penyesalannya dan besar musibahnya, saat melewati “sirat” dengan gelap dan hina."

 

يارب عفوا عن قبيح فعالنا *** أنت الدليل لجنة الرضوان

 

"Wahai Tuhan, ampunilah, dari buruknya perbuatan kami, Engkau adalah petunjuk untuk menuju surga-Nya."

 

 

Ustadz Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo

 

 

 

 

 

 

Jumat 19 Juli 2019 13:30 WIB
Ini Langkah dan Metode Menghafal Al-Qur’an yang Tepat
Ini Langkah dan Metode Menghafal Al-Qur’an yang Tepat
Ilustrasi (whyislam.org)
Menghafal Al-Qur’an merupakan aktivitas yang sangat mulia, sebagaimana Nabi bersabda أشراف أمتي حملة القرأن (umatku yang paling mulia adalah mereka yang menghafal Al-Qur’an). Bahkan tidak sekadar label kemuliaan yang mereka dapatkan, tapi juga syafa’at bagi kedua orang tua sang penghafal. 

Imam al-Syatibi menggubah sebuah syair yang sangat bagus untuk menggambarkan kemuliaan yang didapatkan oleh para penghafal Al-Qur’an dan kedua orang tuanya, yaitu:

هنيئا مريئا والداك عليهما  ملابس أنوار من التاج والحلا

“Sungguh senang dan menggembirakan, kedua orang tuanya memakai mahkota dan perhiasan yang bercahaya (kelak di akhirat sebagai balasannya).”

Untuk dapat menghafal Al-Qur’an 30 juz tidak mudah seperti membalikkan kedua tangan, sebab untuk mendapatkan label umat terbaik butuh kesungguhan dan pengorbanan jiwa dan raga. Untuk itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para penghafal Al-Qur’an agar bisa menjadi “hamil” Al-Qur’an yang baik (penyebutan salah kaprah di Indonesia bagi penghafal al-Qur'an adalah "hafiz", padahal seharusnya "hamil", red).

a. Pra-Mengahafal.

Seorang penghafal Al-Qur’an harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Membersihkan diri dari hal-hal yang tidak baik dan menjauhkan diri pula dari kesibukan yang bersifat duniawi,
  2. Menata niat untuk mendapatkan keridhaan Allah dan mengikuti sunnah Nabi dan ulama salaf,
  3. Berdoa kepada Allah secara maksimal,
  4. Meminta doa kepada orang tua dan guru,
  5. Membuat schedule yang jelas untuk mengahafal dan istiqamah,
  6. Berteman dengan orang-orang yang dapat menggugah dan memotivasi untuk terus menghafal,
  7. Banyak membaca sejarang penting para penghafal Al-Qur’an dan para master Al-Qur’an, seperti sejarah imam qira’at sab’ah, para imam qari’ di belahan dunia Islam.

b. Saat Menghafal Al-Qur’an

  1. Menjaga wudhu agar bisa membaca Al-Qur’an di mushaf setiap saat dibutuhkan,
  2. Membiasakan bangun sebelum subuh agar bisa menghafal Al-Qur’an pada sepertiga malam,
  3. Konsisten terhadap jadwal yang telah disusun, baik untuk hafalan yang baru atau sekedar muraja’ah (mengulang hafalan). schedule yang dibuat tidak boleh dilanggar. Jika ada kesibukan yang lain sehingga harus meninggalkan hafalan baru dan muraja’ah, maka harus diqadha atau diganti di lain waktu,
  4. Bersabar atas segala ujian dan cobaan saat menghafal Al-Qur’an dengan selalu bersandar pada Al-Qur’an,
  5. Dalam menghafal, harus memperhatikan ayat-ayat yang mirip (mutasyabihat), agar hafalannya tidak rancau,
  6. Membiasakan mengulang hafalan saat shalat untuk memantapkan hafalan, dan juga membiasakan menuliskannya ke dalam kertas, agar selain hafal dalam bentuk ingatan juga hafal dalam bentuk tulisan, 
  7. Menggunakan satu mushaf, agar terbiasa dan tidak bingung letak awal dan akhir ayat yang dihafal,
  8. Menyetorkan hafalan kepada guru yang kompeten,
  9. Adapun cara menghafal Al-Qur’an ada tiga metode, yaitu sebagai berikut:

Metode pertama,  Thariqah Tasalsuli.

Metode ini adalah membaca satu ayat pertama, kemudian diulang-ulang untuk dihafalkan. Setelah hafal pada ayat pertama ini, maka dilanjutkan pada ayat kedua untuk diulang-ulang sampai hafal dengan lancar dan mutqin (melekat sangat kuat). Setelah yang kedua ini hafal, maka diulang (menggabungkan) ayat pertama dan ayat kedua. Setelah dua ayat di atas dirasa sudah mutqin dan lancar, maka dilanjutkan pada ayat yang ketiga dan seterusnya sampai batas hafalan yang telah tersusun dalam jadwal setiap harinya.

Metode kedua, Thariqah Jam’i.

Metode ini adalah menghafal ayat pertama sampai lancar, kemudian dilanjutkan pada ayat kedua sampai lancar, dan kemudian dilanjutkan pada ayat yang ketiga sampai lancar juga hingga sampai pada batas hafalan yang telah disusun dalam jadwal setiap harinya. Setelah sempurna pada batas ayat yang dihafal, maka diulang dari awal ayat pertama hingga terakhir dengan beberapa kali pengulangan hingga hafalan lancar tanpa kendala.

Metode ketiga, Thariqah Muqassam.

Metode ini ialah membagi hafalan pada beberapa bagian terbatas dalam makna, dan menuliskan hasil hafalannya tersebut ke dalam kertas. Dan memberi setiap yang dihafal dengan subjudul, kemudian dihafalkan secara komulatif dan digabungkan (lihat: Mustafa Murad, Kaifa Tahfadz Al-Qur’an, Kairo: Dar al-Fajr li al-Turats, 2003, hal 16).

C. Pasca-Menghafal/Mengkhatamkan Al-Qur’an

Ada sebuah ungkapan yang bagus bagi para hamil Al-Qur’an, yaitu “menghafal Al-Qur’an bisa dilakukan di waktu luang, tapi mengulang hafalan harus meluangkan waktu”. Artinya jika seseorang sudah dianugerahi sebuah hafalan Al-Qur’an, maka kewajiban orang itu adalah menjaga hafalan tersebut dengan baik, sebab Al-Qur’an adalah amanat yang diberikan Allah kepada orang-orang teristimewanya.

Ungkapan yang lain “Menghafal hanya butuh hitungan waktu dan hari tapi menjaganya butuh waktu seumur hidup”. Artinya, seseorang yang memiliki hafalan Al-Qur’an harus mampu menjaga hafalan tersebut hingga ajal mejemputnya. Sebab jika hafalan tersebut diabaikan, maka ia harus menanggung  beban dosa seumur hidupnya. Nabi mengingatkan kepada para hamil Al-Qur’an agar senantiasa “mengikat” hafalannya, sebab ia seperti ikatan yang mudah lepas melebihi ikatan yang diikatkan ke unta. 

Nabi bersabda:

تعاهدوا القرآن فوالذي نفسي بيده لهو أشد تفصيا من الإبل في عقلها

“Ikatlah ‘hafalan’ Al-Qur’an itu, maka demi Dzat yang jiwaku ini ada dalam kekuasaan-Nya, sungguh ia (hafalan Al-Qur’an) sangat mudah lepas melebihi unta dari ikatan kendalinya,” (Imam Bukhari, Shahih Bukhari, Beirut: Dar Thauq al-Najat, tth, juz 6, hal 193, hadits ke 5033).

Dalam hadits di atas, ada tiga perumpamaan yang perlu diperhatikan oleh para penghafal Al-Qur’an. Pertama, hamil Al-Qur’an diibaratkan seperti pemilik unta. Kedua, Al-Qur’an diibaratkan seperti unta. Ketiga, hafalan diibaratkan seperti ikatan (Abdul Rab Alu Nuwab, Kaifa Tahfadz Al-Qur’an, Beirut: Dar Thawiq, 2001, hal, 111). Oleh sebab itu, suatu keharusan bagi para hamil Al-Qur’an untuk mengikat hafalannya dengan konsisten mengulang hafalannya.

Untuk menjaga hafalan pasca-menghafal/ menghatamkan Al-Qur’an, seorang hamil Al-Qur’an perlu melakukan beberapa hal sebagai berikut: (1) manajemen muraja’ah, (2) konsisten, (3) memperbanyak doa dan riyadhah.

1. Manajemen muraja’ah adalah mengatur waktu untuk mengulang hafalannya sesuai dengan kadar kemampuannya. Sebab setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda  dalam mengulang hafalannya. Adakalanya seorang mampu mengkhatamkan hafalannya dalam waktu sehari semalam, seminggu sebulan bahkan hingga berbulan-bulan. Namun sesuai petunjuk Nabi, untuk mengulang hafalan atau mengkhatamkannya tidak kurang dari tiga hari dan tidak melewati empat puluh hari. Untuk itu, jika  ia mampu mengkhatamkannya dalam kurun waktu tiga hari, maka harus ia harus menyusun schedule setiap harinya mengulang 10 juz. Jika mampu mengkhatamkannya seminggu sekali, maka harus menejemen waktu mengulang setiap harinya 4 juz atau 4 juz setengah. Jika ia mampu mengulang hafalan sebulan sekali, maka ia harus mengulang hafalannya 1 juz setiap harinya.

Untuk mengulang hafalan, tidak harus monoton bersemidi menyendiri mengulang hafalan Al-Qur’an di masjid atau di mushalla, tapi juga bisa dilakukan inovasi-inovasi yang sekiranya mampu me-refresh memori hafalan seperti mendengarkan bacaan qari’-qari ternama; Syekh Siddiq al-Minsyaqi, al-Hushari, Abdul Basith dll. Bisa juga membuat arisan khataman bergilir setiap bulan bersama sesama para hamil Al-Qur’an atau “tasmi’an”. Selain itu, bisa juga menejeman mengulang hafalan dengan megulang hafalan dibaca dalam shalat lima waktu, utamanya shalat sunnah sebagaimana yang dilakukan oleh para salafus shalih.

2. Konsisten mengulang hafalan adalah seorang hamil Al-Qur’an harus memiliki prinsip yang teguh untuk selalu bersama kalam-Nya walau dalam keadaan dan situasi apapun. Sebab tidak ada kesuksesan yang dapat diraih kecuali dilandasi konsistensi yang kuat, begitu pula tidak ada hafalan yang kuat diraih kecuali konsisten mengulang hafalan. Oleh karena itu, untuk menjaga hafalan seorang hamil Al-Qur’an harus konsisten dengan manajemen waktu dan murajaah yang telah ditetapkan. Jika ia mampu mengulang hafalanya setiap hari satu juz, maka ia harus konsisten dengan pengulangan tersebut. Ibnu Mas’ud berkata:

ينبغي لحامل القرآن أن يعرف بليله إذا الناس نائمون، وبنهاره إذا الناس مفطرون، وبحزنه إذا الناس فرحون، وببكائه إذا الناس يضحكون، وبصمته إذا الناس يخلطون، وبخشوعه إذا الناس يختالون

“Sebaiknya seorang yang hafal Al-Qur’an membaca Al-Qur’an di malam hari tatkala manusia tidur, disiang hari tatkala manusia sedang sibuk, bersedih tatkala manusia bersuka ria, menangis tatkala manusia tertawa, diam tatkala manusia bercengkrama, khusyuk tatkala manusia berjalan dengan sombong”.

3. Perbanyak doa dan riyadhah adalah memohon kepada Allah untuk dijaga hafalannya. Selain berdoa juga harus disertai riyadhah seperti berpuasa setiap kali mengkhatamkan Al-Qur’an, atau menjadikan hafalan sebagai wiridan setiap hari yang harus dibaca.


Ustadz Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo 
Senin 29 April 2019 19:45 WIB
Al-Qur’an dan Qira’at, Sama atau Beda?
Al-Qur’an dan Qira’at, Sama atau Beda?
Ilustrasi (malaymail.com)
Al-Qur’an dan qira’at adalah dua kata yang berbeda tapi memiliki arti yang sama, yaitu bacaan. Meskipun demikian, sebagian ulama mempersepsikan bahwa Al-Qur’an dan qira’at memiliki cakupan pembahasan dan objek yang berbeda, sebagian ulama yang lain mempersepsikan bahwa keduanya satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Berikut adalah pendapat ulama tentang hubungan Al-Qur’an dan qira’at.

Imam al-Zarkashiy menyatakan bahwa antara Al-Qur’an dengan qira'at merupakan sebuah substansi yang berbeda. Dia berkata:

وَاعْلَمْ أَنَّ الْقُرْآنَ وَالْقِرَاءَاتِ حَقِيقَتَانِ مُتَغَايِرَتَانِ فَالْقُرْآنُ هُوَ الْوَحْيُ الْمُنَزَّلُ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْبَيَانِ وَالْإِعْجَازِ وَالْقِرَاءَاتُ هِيَ اخْتِلَافُ أَلْفَاظِ الْوَحْيِ الْمَذْكُورِ فِي كَتَبَةِ الْحُرُوفِ أَوْ كَيْفِيِّتِهَا مِنْ تَخْفِيفٍ وَتَثْقِيلٍ وَغَيْرِهِمَا
 
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya Al-Qur’an dan qira’at adalah dua substansi yang berbeda. Al-Qur’an adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sebagai penjelasan dan mukjizat, sedangkan qira'at adalah lafadz-lafadz wahyu (Al-Qur’an), baik menyangkut tulisan huruf-huruf-nya atau cara pengucapannya, seperti takhfif, tashdid dan lain-lain.” (Al-Zarkasyi, Al-Burhan fi Ulum Al-Qur’an, Beirut: Dar al-Ihya al-Kutub al-Arabiyah, 1957, h. 318).

Pendapat al-Zarkasyi ini diikuti oleh Imam Ahmad Shihab al-Din al-Qashthalani dalam karyanya Lathaif al-Isyarat li Funun al-Qira'at dan Imam Ahmad al-Banna al-Dimyati dalam karyanya Ittihaf Fudala al-Basyar fi al-Qira’at al-Arba’ al-Asyar. Demikian pula pendapat ini mendapat sambutan dari intelektual masa sekarang yaitu Imam Subhi Saleh dalam karyanya Mabahits fi Ulum Al-Qur’an.

Sya’ban Muhammad Ismail memberikan komentar pendapat di atas, bahwa apabila yang dimaksud dengan perbedaan itu adalah perbedaan secara keseluruhan, maka dia keberatan. Karena baginya, qira'at yang sahih dan diterima oleh seluruh umat tidak lain adalah bagian dari Al-Qur’an. Antara Al-Qur’an dan qira'at memiliki hubungan yang kuat, yaitu hubungan juz dengan kull. (Muhammad Sya’ban Isma’il, Al-Qira'at Ahkamuha wa Masdaruha [Kairo: Dar al-Salam], 2008, h. 25).

Artinya, apa yang dimaksud oleh Imam al-Zarkasyi tidak bermakna bahwa Al-Qur’an dengan qira’at sebagai suatu yang berbeda secara mutlak. Namun di satu sisi kedua memiliki persamaan, di sisi yang lain memiliki perbedaan. 

Persamaan Al-Qur’an dengan qira’at adalah terletak pada posisi apabila qira’at itu sahih dan mutawatir, sedangkan perbedaannya terletak pada posisi dimana qira’at itu tidak memiliki sandaran yang mutawatir dan syadz, maka itu dinamakan qira’at saja bukan tidak sebagai Al-Qur’an seperti qira’at syadz.

Al-Qur’an adalah sebuah susunan kata, sedangkan qira’at adalah sebuah lafadz dan cara pengucapannya.

Al-Qur’an mencakup tempat perbedaan dan persaman bacaan yang datangnya dari Nabi secara mutawatir, sedangkan qira’at segi-segi lafadz yang berbeda, baik yang mutawatir maupun yang syadz. Perlu diketahui bahwa qira’at yang syadz tidak dikatakan sebagai Al-Qur’an. 

Sebagian besar ulama dan para ahli qira'at menyatakan bahwa apabila sebuah bacaan (qira'at) telah memenuhi tiga syarat: sahih sanadnya, sesuai dengan kaidah bahasa Arab dan sesuai dengan penulisan rasm utsmani, maka bacaan tersebut dapat dipastikan sebagai Al-Qur’an. Namun, apabila bacaan tersebut tidak sesuai dengan salah satu dari tiga syarat di atas, maka bacaan tersebut hanya dinamakan qira'at saja. (Abdul Hadi al-Fadhli, Al-Qira’at Al-Qur’aniyat [Beirut: Dar Majma’ al-Ilmi], 1979, h. 62).

Pendapat ini hampir mirip dengan pendapat Imam al-Zarkasyi, hanya saja lebih terperinci dan detail. Artinya, kesamaan Al-Qur’an dengan qira’at jika ia telah memenuhi tiga syarat: sahih sanadnya, sesuai kaidah arab dan rasm ustmani, namun apabila tidak memenuhi salah satu dari syarat di atas, maka ia hanya disebut sebagai qira’at saja.

Sementara itu, sebagian ulama berpendapat bahwa Al-Qur’an dan qira’at adalah dua substansi yang sama. Pendapat ini merupakan pendapat Imam Daqiq al-‘Ied, sebagaimana dikutip oleh Abd al-Hadi. Beliau menjelaskan bahwa setiap qira'at termasuk Al-Qur’an walaupun qira'at shadz. (Abdul Hadi al-Fadhli, Al-Qira’at Al-Qur’aniyat [Beirut: Dar Majma’ al-Ilmi], 1979, h. 62).

Senada dengan pendapatnya Imam Daqiq al-Ied, Muhammad Salim Muhaisin dalam karyanya Fi Rihab Al-Qur’an al-Karim sebagaimana dikutip oleh Sya’ban Muhammad Ismail menjelaskan bahwa Al-Qur’an dan qira’at adalah dua substansi yang sama.

Untuk menguatkan pendapatnya, Muhammad Salim Muhaisin berpedoman bahwa lafadz Al-Qur’an merupakan adjektif (masdar) dari sinonim kata qira'at. 

Di samping itu, dia juga memaparkan tentang hadits yang menjelaskan tentang perintah Allah kepada Nabi untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada umatnya dengan tujuh huruf. 

Dari sinilah, beliau menyimpulkan bahwa antara Al-Qur’an dan qira'at adalah dua substansi yang sama, tidak ada perbedaan, karena keduanya merupakan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad (Muhammad Sya’ban Isma’il, Al-Qira'at Ahkamuha wa Masdaruha [Kairo: Dar al-Salam], 2008, h. 25).

Pendapat yang diajukan oleh Muhammad Muahisin ini tidak lepas dari komentar Sha’ban Muhammad Ismail. Beliau menyatakan bahwa pendapat yang diutarakan oleh Muhaisin tidak dapat diterima, karena hal tersebut tidak pernah disinggung oleh para ulama terdahulu. Dengan tegas beliau menyatakan bahwa tidak mungkin dikatakan bahwa Al-Qur’an dan qira'at merupakan dua substansi yang sama. Oleh karena itu, beliau berpandangan bahwa qira'at dengan berbagai karakternya tidak mencakup seluruh kalimat-kalimat dalam Al-Qur’an, tapi ia hanya terdapat di sebagian lafadz-lafadz Al-Qur’an.  Di samping itu, beliau juga menjelaskan bahwa definisi qira'at yang diutarakan di atas mencakup qira'at mutawatirah dan shadz. Sementara itu, ulama sepakat bahwa tidak boleh membaca Al-Qur’an dengan qira'at shadz, karena dalam qira'at ini tidak memenuhi tiga syarat: mutawatir sanadnya, sesuai kaidah bahasa Arab dan sesuai dengan rasm utsmani (Muhammad Sya’ban Isma’il, Al-Qira'at Ahkamuha wa Masdaruha [Kairo: Dar al-Salam], 2008, h. 26).
Dari pemaparan yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa hubungan antara Al-Qur’an dengan qira'at terbagi dua, yaitu: Pertama,  pendapat Imam al-Zarkashiy dan sebagian besar ulama dan ahli qira'at menyatakan bahwa antara Al-Qur’an dengan qira'at sebuah substansi yang di satu sisi memiliki persamaan, di sisi yang lain memiliki perbedaan.

Sedangkan pendapat kedua diwakili oleh Ibnu Daqîq al-Ied dan Muhammad Sîlim Muhaisin. Mereka berpendapat bahwa antara Al-Qur’an dan qira'at adalah dua substansi yang sama. 

Wallahu a’lam bi al-shawab.


Ustadz Moh. Fathurrozi, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo; pembina tadarusan subuh Mushalla Nurul Iman.