IMG-LOGO
Hikmah

Imam Al-Ghazali tentang Perangai Rakyat dan Pemimpin

Sabtu 3 Agustus 2019 21:0 WIB
Share:
Imam Al-Ghazali tentang Perangai Rakyat dan Pemimpin
Imam Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali (Ilustrasi: NU Online)
Imam Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali atau yang lebih dikenal Imam Al-Ghazali tidak hanya mempunyai perhatian luas dalam menghidupkan akhlak dan ilmu agama, tetapi juga memberi perhatian pada sebuah kepemimpinan. Hal ini merupakan tanggung jawab sebagai seorang ulama kepada umara-nya demi mewujudkan kemakmuran rakyat.

Mengenai rakyat, penguasa, dan ulama, Imam Al-Ghazali dalam kitab At-Tibbr al-Masbuk fi Nasihat al-Muluk atau Nasihat Bagi Penguasa menjelaskan bahwa watak dan perangai rakyat merupakan buah atau hasil dari watak dan perangai pemimpinnya.

Sebab menurut Al-Ghazali, keburukan yang dilakukan orang awam hanyalah meniru dan mengikuti perbuatan para pemimpinnya. Pemimpin di sini tidak hanya ditujukan kepada satu orang saja dalam pemerintahan, tetapi juga para pemangku kebijakan di segala sektor.

Sang Hujjatul Islam tersebut adalah ulama yang tidak hanya seorang faqih, sufi, maupun filosof, tetapi juga seorang yang mempunyai perhatian serius terhadap kepemimpinan.

Baginya, seorang umara mempunyai tugas penting dalam memperhatikan kesejahteraan dan keamanan rakyatnya. Apalagi saat itu kepemimpinan Islam tidak sedikit mendapat represi dari kelompok-kelompok lain demi kepentingan kekuasaan. Seperti kondisi umat Islam di Andalusia yang menjadi keprihatinan Imam Al-Ghazali.

Sangat risau mendengar kekalahan dan penderitaan kaum Muslimin di Andalusia, Imam Al-Ghazali (1058-1111 M) menulis surat kepada Raja Maghribi Yusuf Ibnu Tasyfin yang isinya cukup menggemparkan, sebagai berikut:

“Pilihlah salah satu di antara dua, memanggul senjata untuk menyelamatkan saudaramu-saudaramu di Andalusia atau engkau turun tahta untuk diserahkan kepada orang lain yang sanggup memenuhi kewajiban tersebut.”

Isi surat dari penulis kitab Ihya’ Ulumiddin tersebut diungkap B. Wiwoho dalam Bertasawuf di Zaman Edan: Hidup Bersih, Sederhana, dan Mengabdi (2006). Sikap tegas Al-Ghazali tentu tidak lepas dari konteks perjuangan Islam di Andalusia saat itu. Kelemahan dalam kepemimpinan, konflik internal, dan kekuatan musuh yang semakin banyak adalah di antara sebab jatuhnya masa-masa kejayaan Islam di Andalusia.

Al-Ghazali sendiri merupakan salah seorang ulama masyhur yang hidup ketika Islam di Andalusia mencapai kejayaan emasnya. Tercatat ilmuwan-ilmuwan Muslim yang lahir dari kemajuan peradaban Islam di Spanyol, Ibnu Bajjah, Ibnu Rusyd, Ibnu Arabi, Al-Farabi, Ibnu Sina, dan lain-lain. Kejayaan Islam di Andalusia tidak lepas dari perkembangan peradaban ilmu pengetahuan.

Sejumlah displin ilmu dan berbagai teori yang ditemukan oleh para ilmuwan Muslim merupakan pintu masuk bagi perkembangan Islam di Barat, khususnya Eropa. Namun, kepemimpinan yang lemah kerap menjadi faktor runtuhnya masa Islam. Meski demikian, ilmu pengetahuan yang dikembangkan ilmuwan-ilmuwan Muslim tetap masyhur meskipun saat ini masyarakat justru lebih banyak mengenal teori-teori pembaruan yang lahir dari para ilmuwan Barat.

Ketegasan Al-Ghazali dalam merespon kepemimpinan Islam di Andalusia merupakan kegelisahan seorang ulama kepada umara-nya. Kritisnya Imam Al-Ghazali tidak lebih dari perhatian dan kasih sayang kepada seorang pemimpin untuk tujuan yang lebih luas, kesejahteraan rakyatnya. Seorang pemimpin wajib melindungi rakyatnya jika mereka dalam kondisi menderita sebab perang. Seperti yang dimaksud Al-Ghazali dalam isi suratnya di atas. (Fathoni)
Share:

Baca Juga

Jumat 19 Juli 2019 19:0 WIB
Pengalaman Saya Berguru ke Habib Luthfi
Pengalaman Saya Berguru ke Habib Luthfi
Foto: Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya
Cerita ini bermula sejak pertama kali bertemu Abah, sapaan cinta bagi Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya. Awalnya saya hanya melihat ceramah-ceramah beliau melalui channel Youtube. Raut wajah dan mata beliau sejuk sekali. Senyum Abah yang indah mengingatkan saya pada cerita para sahabat Nabi mendetailkan perawakan kekasih Allah itu (Rasulullah). Indah, sejuk, tenang, dan damai, kata-kata inilah yang pertama kali terbesit ketika melihat Abah.

Setiap bulan selalu ada pengajian di Kanzus Sholawat, Markas Besar (Mabes) Abah di Pekalongan, Jawa Tengah. Para jamaah menyebutnya Pengajian Rutin Kliwonan. Kami dari Jogja biasanya menghadiri pengajian itu, alhamdulillah rutin. Namun sesekali, sebagian dari kami ada yang tidak bisa berangkat ke sana karena masalah sepele keduniaan. Meski demikian, kami tetap berusaha berangkat ke sana. Kami senang sekali di Kanzus Sholawat. Entah apa yang membuat kami senang. Saya tidak bisa menerangkannya, yang pastinya sangat senang.

Bagi saya, belajar menjadi santri Abah tidaklah mudah. Jangankan itu, belajar menjadi seorang santri saja tidak mudah. Jujur, saya sendiri tidak pernah mengunyah dunia pesantren. Saya tidak tahu apa itu kitab kuning. Yang saya tahu, pesantren identik dengan Nahdlatul Ulama (NU), pendirinya Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy'ari. Saya pun baru mengenal cucu pendiri NU itu, waliyullah Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) melalui Cak Nur (sapaan akrab Nurcholish Madjid) setelah membaca buku Islam: Doktrin dan Peradaban

Saya juga tidak paham denyut pemikiran Imam al-Ghazali. Saya baru bersentuhan dengan sufi besar itu melalui ceramah live streaming Gus Ulil Abshar Abdalla di akun Facebook pribadi beliau. Saya juga tidak mengenal tafsir Al-Qur'an yang khas—saya baru kenal melalui Gus Baha (KH Bahauddin Nursalim). Jadi pengetahuan saya tenang khazanah Islam sangat minim, apalagi bicara tarekat, “bleng”, saya tidak tahu sama sekali. Tapi NU memberikan warna tersendiri dalam hidup saya. Indah dan sejuk. Jauh dari benang merah NU, saya tidak peduli, yang penting bagi saya ialah sama-sama Muslim Indonesia, atau dalam jabaran KH Said Aqil Siroj adalah Islam Nusantara. Meskipun jauh dari panggang, alhamdulillah sedikit-sedikit masih terciprat nuansa NU, yakni lewat kebiasaan tahlil dan ziarah kubur.

Abah, awalnya yang saya tahu, adalah orang Arab. Terlihat dari perawakan beliau demikian adanya. Mungkin ini pertama kali perkenalan saya dengan Abah secara dhahir. Yang saya tahu hanya sepintas adalah itu. Setelah mendengar ceramah-ceramah beliau tentang “NKRI harga mati!”, saya sempat kaget, rupanya beliau bukan sekadar orang Arab, tapi orang Indonesia tulen. Beliau beberapa kali mengumandangkan persatuan dan kesatuan. Luar biasa. Secara pemikiran, saya tidak bisa mengartikan hal ini secara batin, tapi saya sepemikiran dengan beliau, tulen-asli. Mulai dari sinilah saya mendekatkan diri ke Abah. 

Perjalanan saya berlanjut setelah melihat kawan-kawan saya yang mulai masuk dunia tarekat. Mereka saya perhatikan setiap minggu sekali—malam Jumat—pergi ziarah ke makam para wali. Ada yang ke Syekh Belabelu Parangtritis, serta ada pula yang ke Gunungpring, Magelang. Cerita mereka ingin mengejar berkah disertai tawasul melalui Abah ke Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Mendengar cerita mereka, saya dengan mantap langsung memutuskan untuk mengikuti langkah mereka. Pikiran sederhana saya adalah karena tawassul ke Abah. 

Menyesuaikan dengan rutinitas yang sebelumnya belum pernah saya lakukan sama sekali, adalah awal kondisi ketika saya mulai berkenalan dengan Abah. Rutin pergi ziarah kubur dan lain-lain. Untungnya jamaah kami dibimbing seorang mursyid (guru) bernama Gus Hafidz Rusli perihal tarekat. Gus Hafidz Rusli berguru ke Mbah Gondrong Kudus, yang berguru ke Abah Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya Pekalongan. Jadi secara sanad keilmuwan, insyaallah sampai. Allâhumma shalli ‘alâ sayyidinâ Muhammad

Berangkat ke Kanzus Sholawat (Mabes) Abah di Pekalongan. Detak jantung berdegup kencang. Terlintas di pikiran, pokoknya sampai di Mabes langsung bertemu dengan Abah, cium tangan beliau, dan minta berkah. Perkiraan saya rupanya salah. Ternyata selama di Kanzus, kami harus shalawatan dari pukul 06.35 pagi sampai 09.00 WIB. Setelah itu dilanjutkan dengan ceramah Abah sekitar 30 menitan, sangat menggetarkan. Beliau menyerukan persatuan, luar biasa. Selepas itu, barulah bisa bertemu dengan Abah. Mulai dari lansia sampai balita, berjejer rapi sambil bersimpuh menemui Abah. Mencium tangan beliau sebagai tanda 'ngalap’ berkah. 

Jamaah Abah sangat banyak. Mulai dari balita sampai lansia. Uniknya selama di Mabes Abah, saya tidak pernah mendengar sedikit pun tangisan bayi. Padahal dengan kondisi jamaah yang begitu padat, secara alamiah, seharusnya ada tangisan bayi. Tapi tidak terdengar sama sekali. Aneh. Hal ini, pikir saya, mungkin sebagai tanda kemuliaan beliau, Abah Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya. 

Ada satu hal yang saya peroleh dari Abah adalah tarekat nasionalisme beliau. Sungguh luar biasa dan menggetarkan. Saya haqqul yakin, pemikiran beliau sudah pasti menerobos sampai ke langit ketujuh dan menukik tajam menyentuh sanubari khalayak insan. Semua malaikat pasti tahu dan setuju dengan pendapat beliau. Memang di era sekarang ini, apa pun masalahnya, solusinya cuma satu yakni persatuan. Persatuan dapat menjaga keseimbangan kosmos. Bukankah hal ini merupakan perintah Allah melalui rasul-Nya? Allâhumma shalli ‘alâ sayyidinâ Muhammad. Semoga kasih, sayang, dan cinta ini selalu tercurahkan kepada Abah Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya. Âmîn.


Muhammad Kashai Ramdhani Pelupessy, asal Kota Ternate, Maluku Utara; sedang studi S2 Psikologi di Universitas Negeri Yogyakarta

Rabu 17 Juli 2019 20:15 WIB
Ketika Murid-murid Nabi Isa Hendak Berjalan di Atas Air
Ketika Murid-murid Nabi Isa Hendak Berjalan di Atas Air
Dalam kitab al-Zuhd, Imam Ahmad bin Hanbal mencatat riwayat murid-murid Nabi Isa yang hendak meniru gurunya berjalan di atas air. Berikut riwayatnya:

حدثنا عبد الله حدثنا أبي حدثنا بهز حدثنا أبو هلال حدثنا بكر بن عبد الله قال: فقَدَ الحواريون نبيهم عليه السلام فخرجوا يطلبونه قال فوجدوه يمشي علي الماء فقال بعضهم: يا نبي الله أنمشي إليك, قال: نعم, قال فوضع رجله ثم ذهب يضع الأخري فانغمس, فقال: هات يدك يا قصير الإيمان لو أن لابن آدم مثقال حبة أو ذرة من اليقين إذا لمشي علي الماء

Abdullah bercerita, ayahku bercerita, Bahj bercerita, Abu Hilal bercerita, Bakr bin Abdullah bercerita kepada kita, ia berkata:

(Suatu ketika) para hawari (teman atau murid Nabi Isa) tidak menemukan nabinya. Mereka keluar untuk mencarinya. Mereka menemukannya tengah berjalan di atas air. Sebagian dari mereka berkata:

“Ya Nabi Allah, apakah kami (harus) berjalan (di atas air) ke arahmu?”

Nabi Isa menjawab: “Iya.”

Kemudian sebagian hawari itu meletakkan (satu) kakinya (di air) lalu meletakkan kaki lainnya, maka tenggelam lah kaki (mereka).

Nabi Isa berkata (lantang): “Kemarikan tanganmu, wahai orang yang pendek iman! Andai saja anak Adam memiliki keyakinan sebesar biji atau atom, dia pasti (bisa) berjalan di atas air.” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, Kairo: Dar al-Rayyan li al-Turats, 1992, h. 74)

****

Keyakinan memang sukar diukur dari luar. Tidak ada alat yang memungkinkan kita dapat mengukur keyakinan orang lain dengan tepat. Kita hanya bisa memprediksi atau menilainya, tapi tidak mungkin bisa memastikannya. Orang yang paling mengetahui keyakinan adalah orang itu sendiri. Bukan ayah, ibu dan teman-temannya, tapi orang itu sendiri.

Dalam kisah di atas, Nabi Isa ‘alahissalam mengkritik murid-muridnya karena kaki mereka masih tenggelam di dalam air ketika hendak mendatanginya. Ia menyebut mereka, “yâ qashîrul îmân” (wahai orang yang pendek imannya). Penyebutan Nabi Isa ini bukan tanpa alasan. Ada pelajaran besar dari penyebutan tersebut.

Jika diuraikan kira-kira seperti ini. Nabi Isa meyakini betul bahwa kebaikan Allah tidak bisa diukur dengan bahasa pujian tertinggi sekalipun. Misal diucapkan “Yang Maha-Maha-Maha-Maha-Maha” hingga berjuta-juta triliun masih jauh dari kata mendekati. Kebaikan-Nya tidak bisa diistilahkan; kasih sayang-Nya tidak bisa dibahasakan. Allah melebihi segala ukuran yang ada di pikiran dan bahasa manusia.

Dengan kebaikan dan kasih sayang yang teramat besar tersebut, Allah akan mengabulkan setiap keinginan hamba-Nya selama mereka yakin dan pasrah sepenuhnya. Kita tidak sedang bicara “yakin” yang tampak dari luar, atau “yakin” yang sekedar basa-basi karena kita mengaku orang beriman, tapi “yakin” yang murni, yang di dalamnya tidak ada keraguan sedikit pun.

Contoh paling sederhana adalah kisah di atas. Ketika murid atau sahabat Nabi Isa mencoba berjalan di atas air, kaki mereka tenggelam. Mereka tidak bisa menapaki air seperti menapaki bumi. Melihat itu, Nabi Isa tahu di hati mereka masih ada keraguan. Mereka tidak yakin bahwa mereka bisa berjalan di atas air. Padahal dengan izin Allah, tidak ada yang tidak mungkin. 

Yang perlu mereka lakukan hanyalah meminta dengan penuh keyakinan. Tak masalah jika keyakinannya hanya sebesar biji atau atom yang sangat kecil. Selama keyakinan itu murni ketika mereka memintanya, dengan izin Allah tidak ada yang mustahil. Rasulullah pernah bersabda (HR. Imam al-Tirmidzi):

لَا يَرُدُّ الْقَضَاءُ إِلَّا الدُّعَاءُ، وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمُرِ إِلَّا الْبِرُّ

“Tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali doa, dan tidak ada yang bisa menambah umur kecuali perbuatan baik.” (Imam Ibnu Mulaqqin al-Anshari al-Syafi’i, al-Badr al-Munîr fî Takhrîj al-Ahâdîts wa al-Âtsâr al-Wâqi’ah fî al-Syarh al-Kabîr, Riyadh: Dar al-Hijrah, 2004, juz 9, h. 174)

Ini menunjukkan bahwa dengan doa (permintaan/permohonan) seseorang dapat merubah takdirnya. Allah memberikan peluang besar pada manusia untuk meminta segala sesuatu. Selama di hatinya bersemayam keyakinan murni, doanya akan dikabulkan.

Jika kita bicara jujur, kita pasti mengenali ketidak-yakinan kita ketika berdoa. Misalnya ketika kita minta diberikan mobil saat ini juga, atau meminta kemampuan terbang, meskipun lidah dan hati kita mengucapkannya, lubuk hati kita yang terdalam tidak yakin doa itu akan terkabul. Tanpa sadar hati kita berujar, “Apa iya, ya? Tidak mungkin ah,” dan ujaran lainnya. Artinya kita sedang meminta sesuatu yang kita sendiri tak yakin dengan permintaan itu, sedangkan Allah Mahatahu apa yang di langit dan apa yang di bumi; apa yang di lidah dan apa yang di hati. Gerak-gerik terkecil di hati kita pun, Allah mengetahuinya.

Oleh karena itu, selama hati kita diselimuti keraguan, kita tak akan pernah mampu mencapai apa yang kita minta sendiri. Sebab itu Nabi Isa mengatakan: “Andai saja anak Adam memiliki keyakinan sebesar biji atau atom, dia pasti (bisa) berjalan di atas air.” 

Ya, Nabi Isa memang berkata seperti itu. Mungkin ada sebagian orang yang tidak mempercayainya, silahkan. Yang jelas, jika menghidupkan orang mati saja bisa dilakukan (dengan izin Allah), apalagi sekedar membuat murid-muridnya berjalan di atas air. Lagi pula, keyakinan Nabi Isa kepada Allah tidak lagi menyisakan sedikit pun keraguan di hatinya.

Pertanyaannya, pernahkah sekali saja kita yakin bahwa Allah pasti mengabulkan doa kita?

Wallahu a’lam bish shawwab.


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Selasa 16 Juli 2019 6:0 WIB
Abbad bin Bisyr, Tetap Melanjutkan Shalat Meski Terkena Anak Panah
Abbad bin Bisyr, Tetap Melanjutkan Shalat Meski Terkena Anak Panah
Ilustrasi shalat
“Ada tiga orang sahabat Anshar yang keutamaannya tidak bisa dilampaui siapapun, yaitu Sa’ad bin Mu’adz, Usaid bin Hudhair, dan Abbad bin Bisyr,” kata Sayyidah Aisyah. 

Abbad bin Bisyr merupakan sahabat Nabi dari kalangan Anshar. Ia merupakan salah seorang sahabat yang ahli ibadah (abid). Abbad masih remaja ketika Islam mulai tersebar di Madinah. Kepada Mush’ab bin Umair, Abbad bin Bisyr belajar Al-Qur’an. Suaranya yang merdu membuat Abbad terkenal sebagai pembaca Al-Qur’an dan imam. 

Di samping itu, Abbad juga sosok yang pemberani. Di begitu cinta kepada Allah dan setia kepada Nabi Muhammad. Maka wajar jika Abbad bin Bisyr selalu ada dan siap siaga manakala Nabi Muhammad membutuhkan seseorang untuk melakukan suatu hal. 

Setelah perang Dzatu Riqa, Nabi Muhammad dan pasukan umat Islam beristirahat di suatu tempat. Pada saat malam tiba, Nabi Muhammad meminta dua sahabatnya menjadi sukarelawan untuk berjaga. Abbad bin Bisyr dari kalangan Anshar dan Ammar bin Yasir dari Muhajirin menyatakan bersedia. Keduanya akan berjaga malam itu, sementara Nabi Muhammad dan pasukan umat Islam lainnya beristirahat,

Ammar bin Yasir memilih untuk berjaga pada awal hingga tengah malam, sedangkan bagian jaga Abbad bin Bisyr dari tengah sampai akhir malam. Ammar langsung berjaga saat itu juga, sementara Abbad –sambil menunggu gilirannya berjaga- melaksanakan shalat beberapa rakaat. Tidak lama setelah itu, mungkin karena kecapekan, Ammar bin Yasir ketiduran. 

Abbad tidak menyadari kalau teman jaganya itu sudah tertidur. Ia terus saja melaksanakan shalat. Hingga akhirnya seorang musuh yang mengintai dan mengawasi mereka tahu kalau pasukan jaga umat Islam tengah lengah. Maka musuh tersebut langsung mengarahkan anak panahnya ke Abbad. Sekali, dua kali, hingga tiga kali anak panah mengenai tubuh Abbad. 

Abbad bergeming, tidak terusik sedikitpun karena shalatnya yang begitu khusuk. Setiap kali anak panah mengenai dirinya, Abbad mencabutnya, melemparkannya, dan kemudian melanjutkan gerakan shalatnya. Setelah selesai shalat, Abbad baru merasakan sakit akibat terkena hujaman anak panah. 

Ia kemudian membangunkan Ammar bin Yasir dan menyuruhnya untuk berjaga. Ammar terkejut melihat Abbad yang bercucuran darah. Ammar 'protes', mengapa temannya itu tidak membangunkannya ketika anak yang pertama menghujamnya. Kalau seandainya itu dilakukan, tentu Abbad tidak terkena banyak anak panah.

“Saat itu aku tengah membaca Surat al-Kahfi. Aku tidak ingin rukuk sebelum menyelesaikan shalat itu. Namun, beberapa anak panah bersusulan menusukku sehingga aku memperpendek bacaan dan rukuk agar bisa segera membangunkanmu,” jawab Abbad bin Bisyr, dalam buku Tertawa Bersama Al-Qur’an, Menangis Bersama Al-Qur’an (Hasan Tasleden, 2014).

“Demi Allah, andai saja aku tidak mengkhawatirkan lembah ini sebagaimana telah diperintahkan Rasulullah, aku tidak akan menyelesaikan shalatku sebelum membaca Surat al-Kahfi seluruhnya,” lanjutnya.

Abbad bin Bisyr gugur dalam perang Yamamah, sebuah peperangan untuk memberantas kaum murtad dan menghilangkan kekacauan yang ditimbulkan Musailamah al-Kadzab pada masa Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq. (Muchlishon)