IMG-LOGO
Haji, Umrah, dan Kurban

Doa Melepas Keberangkatan Jamaah Haji

Ahad 4 Agustus 2019 11:30 WIB
Share:
Doa Melepas Keberangkatan Jamaah Haji
Foto: iqraa.com
Jamaah haji asal Indonesia lazim mengadakan walimatus safar haji sebelum keberangkatan. Jamaah haji menggelar tahlilah dan doa bersama untuk kemaslahatan ibadah haji yang bersangkutan dan keluarga yang ditinggalkan selamat ibadah haji.

Kerabat, sahabat, dan keluarga jamaah haji dianjurkan untuk melepas calon jamaah dengan doa Rasulullah SAW berikut ini:

زَوَّدَكَ اللهُ التَّقْوَى وَغَفَرَ ذَنْبَكَ وَيَسَّرَ لَكَ الخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ

Zawwadakallâhut taqwâ, wa ghafara dzanbaka, wa yassara lakal khaira haitsumâ kunta.

Artinya, “Semoga Allah membekalimu dengan takwa, mengampuni dosamu, dan memudahkanmu dalam jalan kebaikan di mana pun kau berada.”

Doa ini dibaca oleh Nabi Muhammad SAW ketika salah seorang sahabat Rasulullah SAW menyatakan diri untuk mengadakan perjalanan jauh. Doa ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dari sahabat Anas RA berikut ini:

وروينا في كتاب الترمذي، عن أنس رضي الله قال : جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم، فقال: يارسول الله، إني أريد سفرا فزودني، فقال: "زودك الله التقوى"، قال: زدني، قال: "وغفر ذنبك"، قال: زدني، قال: "ويسر لك الخير حيثما كنت" قال الترمذي: حديث حسن

Artinya, “Diriwayatkan kepada kami pada Kitab At-Tirmidzi, dari Sahabat Anas RA. Ia bercerita bahwa seseorang mendatangi Rasulullah SAW, ‘Wahai Rasul, aku hendak berpergian. Karenanya, berikanlah aku bekal,’ kata sahabat tersebut. ‘Zawwadakallâhut taqwâ,’ kata Rasulullah SAW. ‘Tambahkan lagi ya Rasul,’ kata sahabat itu. ‘Wa ghafara dzanbaka,’ kata Rasulullah SAW. ‘Tambahkan lagi ya Rasul,’ kata sahabat itu. ‘Wa yassara lakal khaira haitsumâ kunta,’ jawab Rasulullah SAW. Imam At-Tirmidzi mengatakan bahwa kualitas hadits ini hasan,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 187).

Lafal yang baik ini dapat digunakan oleh masyarakat untuk mendoakan jamaah haji dalam acara walimatus safar. Lafal ini juga dapat digunakan untuk mendoakan jamaah haji yang sudah berangkat. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)
Share:

Baca Juga

Ahad 4 Agustus 2019 9:45 WIB
Jangan Asal Ikut Praktik Haji Orang Awam Makkah
Jangan Asal Ikut Praktik Haji Orang Awam Makkah
Foto: hd.clarin.com.
Ibadah haji memiliki keistimewaan tersendiri. Ibadah ini memerlukan kekuatan fisik dan kekuatan finansial sekaligus. Ibadah ini juga membutuhkan pengetahuan jamaah haji perihal tata caranya karena ibadah ini hanya diwajibkan sekali seumur hidup.

Alm KH Hasbullah (1928-2016) sering mengingatkan jamaah majelis taklimnya di Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, akan pentingnya pelajaran manasik haji. Pasalnya haji bukan ibadah harian yaitu shalat atau ibadah tahunan yaitu puasa yang pelajarannya selalu diingat dan diulang karena tingkat intensitas dan tingkat daruratnya.

Adapun materi manasik haji jarang dipelajari karena tingkat kebutuhannya yang rendah tanpa mengurangi tingkat kepentingannya. Sedangkan hukum mempelajari manasik haji adalah fardhu ain bagi jamaah haji.

Imam An-Nawawi menyebut kewajiban jamaah haji dalam mempelajari materi manasik haji pada Al-Idhah fi Manasikil Hajji, karyanya yang mengupas ibadah haji dan umrah secara khusus. Pengetahuan atas materi manasik haji berhubungan erat dengan keabsahan ibadah haji itu sendiri.

إذا آراد الحج آن يتعلم كيفيته وهذا فرض عين إذ لا تصح العبادة ممن لا يعرفها

Artinya, “Jika ingin beribadah haji, seseorang seharusnya mempelajari tata cara ibadah haji. Tindakan mempelajari ini merupakan fardhu ain (setelah jamaah memasang niat ihram) karena sebuah ibadah orang yang tidak memahami tata caranya tidak sah,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Idhah fi Manasikil Hajj pada Hasyiyah Ibni Hajar, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], halaman 20).

Tata cara ibadah haji mencakup rukun, wajib, sunnah, dan larangan-larangan haji. Hal ini ditambah dengan kerumitan dalam ibadah haji yang membedakan rukun dan wajib haji dari segi bobot dan konsekuensinya. Sementara pembedaan kedua tidak terjadi pada ibadah selain haji.

Tata cara ibadah haji menjadi cukup kompleks karena berkaitan waktu dan tempat yang telah ditentukan di samping doa-doa tertentu yang dibaca pada tempat tertentu. Sementara yang tidak boleh dilupakan adalah adab dan tujuan dari ibadah haji itu sendiri. Aspek ini juga yang membedakan ibadah haji dari ibadah lainnya.

Tiada jalan untuk mempelajari semua itu. Tetapi semua itu tidak perlu dianggap berat karena semua itu memang tidak harus dihafal. Jamaah haji dianjurkan untuk mengantongi buku saku, catatan ringkas, atau catatan terkait manual ibadah haji yang dapat menjadi panduan. Jamaah haji dapat mengulang pelajaran manasik haji dalam buku sakunya sepanjang perjalanan.

ويستحب آن يستصحب معه كتابا واضحا في المناسك جامعا لمقاصدها وآن يديم مطالعته وآن يكررها في جميع طريقه لتصير محققة عنده

Artinya, “Jamaah haji dianjurkan menyertakan sebuah buku panduan manasik haji yang jelas dan juga mencakup tujuan dari manasik haji itu sendiri. Ia juga dianjurkan untuk senantiasa melakukan muthalaah dan mengulang-ulang pelajarannya sepanjang perjalanan agar pelajaran itu benar-benar dipahami olehnya,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Idhah fi Manasikil Hajj pada Hasyiyah Ibni Hajar, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], halaman 20).

Buku saku dari sumber referensi terpercaya yang berisi petunjuk praktis ibadah haji ini sangat penting menjadi pegangan bagi jamaah haji. Buku saku ini lebih baik untuk dijadikan pegangan dalam ibadah haji daripada perilaku orang awam di Makkah yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Menurut Imam An-Nawawi, adalah sebuah kekeliruan besar ketika jamaah haji mengikuti praktik manasik jamaah haji awam lainnya di Makkah. Kekeliruan besar ini berisiko tinggi pada ketidakabsahan ibadah haji kita. Imam An-Nawawi mengingatkan jamaah haji agar tidak terpedaya pada praktik manasik jamaah haji lainnya dari bangsa manapun dan pakaian keulamaan sekalipun.

ومن آخل بهذا خفنا عليه آن يرجع بغير حج لإخلاله بشرط من شروطه آو ركن من آركانه آو نحو ذلك وربما قلد كثير من الناس بعض عوام مكة وتوهم آنهم يعرفون المناسك فاغتر بهم وذلك خطآ فاحش

Artinya, “Siapa saja yang abai atas anjuran ini, kami khawatir ia pulang ke kampung halaman tanpa haji karena kekurangan salah satu syarat haji, rukun haji, atau sejenisnya. Banyak orang kerap kali mengikuti tata cara berhaji orang awam di Makkah dan menyangka bahwa mereka mengerti manasik sehingga jamaah haji yang mengikuti mereka terpedaya. Ini merupakan kekeliruan fatal,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Idhah fi Manasikil Hajj pada Hasyiyah Ibni Hajar, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], halaman 20).

Kewajiban mempelajari manasik haji ini merupakan putusan ijmak ulama. Kewajiban ini menuntut jamaah haji untuk memahami dan mengamalkan ketentuan manasik haji yang telah ditentukan praktik, waktu, dan tempatnya.

وآصل ذلك ما نقله الإمام الغزالي وغيره من إجماع المسلمين على آنه لا يجوز لآحد آن يقدم على فعل حتى يعلم حكم الله فيه

Artinya, “Dasar kewajiban mempelajari tata cara manasik haji ini ijmak umat Islam seperti dinukil oleh Imam Al-Ghazali dan imam lainnya bahwa seseorang tidak boleh melakukan sesuatu tindakan sehingga ia memahami hukum Allah perihal tindakan tersebut,” (Lihat Syekh Ibnu Hajar, Hasyiyah Ibni Hajar alal Idhah, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], halaman 20).

Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa calon jamaah haji dan umrah harus mempersiapkan diri sejak lama terkait materi manasik haji. Mereka dapat mengantongi buku saku panduan ibadah haji yang dapat dipertanggungjawabkan.

Haji merupakan ibadah mulia yang menuntut pengorbanan dan kompleksitasnya sendiri. Oleh karena itu, jamaah haji diimbau tidak melakukan praktik ibadah tersebut hanya karena ikut-ikutan jamaah haji awam yang lain di Makkah meski mereka penduduk Makkah sendiri karena tidak dapat dipertanggungjawabkan. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Sabtu 3 Agustus 2019 23:0 WIB
Cara Berkurban dengan Dana Pas-pasan
Cara Berkurban dengan Dana Pas-pasan
Yang paling pokok dalam berkurban adalah absah, bukan besar atau mahal. Ilustrasi (Pinterest)
Kurban adalah ibadah yang tidak bisa dilepaskan dengan harta, sebab untuk membeli hewan kurban tentu membutuhkan finansial yang memadai. Biaya pembelian hewan kurban bisa berbeda-beda sesuai dengan jenis hewan dan kualitasnya. Yang paling utama tentu kurban unta atau sapi, sebab lebih banyak daging yang dibagikan. Hanya saja, tidak setiap orang memiliki dana berlebih untuk membelinya. Pilihan paling terjangkau jatuh pada kambing. Namun, masalah tidak sampai di situ, harga kambing juga relatif beragam, rata-rata yang berkualitas baik harganya mahal-mahal. 

Banyak faktor yang membuat seseorang tidak dapat membeli hewan kurban yang berkualitas, bisa karena betul-betul tidak punya uang, boleh jadi dananya dibutuhkan untuk alokasi yang lain, dan lain sebagainya. Hingga timbulah sebuah pertanyaan bagi sebagian orang, bagaimana cara berkurban dengan dana yang sangat minim? Pertanyaan serupa juga muncul dari sekelompok orang yang berkurban sapi secara patungan, bisakah berkurban sapi dengan dana yang minim?

Dalam memberi standar keutamaan hewan kurban, ulama memberikan beberapa pertimbangan seperti nilai syi’ar, kualitas kelezatan daging, kuantitas daging, banyak sedikitnya hewan yang dikurbankan, warna, dan jenis kelamin. 

Hal ini dapat kita pahami dari keterangan beliau Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi berikut ini:

(وَأَفْضَلُ أَنْوَاعِ الْأُضْحِيَّةِ) بِالنِّسْبَةِ لِكَثْرَةِ اللَّحْمِ وَمِنْ حَيْثُ إِظْهَارُ شِعَارِ الشَّرِيْعَةِ ( إِبِلٌ ثُمَّ بَقَرٌ ثُمَّ غَنَمٌ ) وَأَمَّا مِنْ حَيْثُ أَطْيَبِيَّةُ الَّلحْمِ فَالضَّأْنُ أَفْضَلُ مِنَ الْمَعِزِّ ثُمَّ الْجَوَامِسُ أَفْضَلُ مِنَ الْعَرَابِ لِطِيْبِ لَحْمِهَا عَنْ لَحْمِ الْعَرَابِ وَمِنْ حَيْثُ كَثْرَةُ إِرَاقَةِ الدِّمَاءِ وَأَطْيَبِيَّةُ الَّلحْمِ فَسَبْعُ شِيَاهٍ أَفْضَلُ مِنَ الْبَدَنَةِ وَالْبَقَرَةِ وَمِنْ حَيْثُ الْأَلْوَانِ فَالْبَيْضَاءُ أَفْضَلُ ثُمَّ الصَّفْرَاءُ ثُمَّ الْعَفْرَاءُ ثُمَّ الْحَمْرَاءُ ثُمَّ الْبَلْقَاءُ ثُمَّ السَّوْدَاءُ. فَإِنْ تَعَارَضَتْ الصِّفَاتُ فَسَمِيْنَةٌ سَوْدَاءُ أَفْضَلُ مِنْ بَيْضَاءَ هَزِيْلَةٍ وَمَا جَمَعَ صِفَتَيْنِ أَفْضَلُ مِمَّا فِيْهِ صِفَةٌ وَاحِدَةٌ وَالْبَيْضَاءُ السَّمِيْنَةُ إِذَا كَانَتْ مَعَ ذُكُوْرِيَّةٍ أَفْضَلُ مُطْلَقًا. 

“Dan paling utamanya hewan kurban dilihat dari banyaknya daging (kuantitas) dan tampaknya nilai syiar adalah unta, lalu sapi, kemudian kambing. Sedangkan dari sisi kualitas daging, maka domba lebih utama dari kambing kacang, kemudian kerbau lebih utama daripada sapi Arab, karena kualitas dagingnya lebih baik; dan dilihat dari banyaknya hewan yang dialirkan darahnya serta kualitas dagingnya, maka tujuh kambing lebih utama daripada satu unta atau sapi. Dari segi warna, maka yang putih lebih utama, kemudian kuning, kemudian putih keruh, kemudian merah, kemudian putih campur hitam, kemudian hitam. Ketika terjadi pertentangan antara beberapa kriteria, maka yang gemuk hitam lebih utama daripada putih kurus dan yang dapat mencakup dua kriteria lebih utama daripada yang hanya satu kriteria saja, dan yang putih gemuk ketika berjenis kelamin jantan lebih utama secara mutlak,” (Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi, Tausyikh ‘ala ibni al-Qosim hal. 598, haromain).

Beberapa pertimbangan di atas hanya pertimbangan keutamaan, bukan pertimbangan yang harus dipenuhi dalam berkurban. Sehingga seseorang yang tak bisa membeli semisal kambing gemuk yang berharga mahal, maka ia bisa membeli kambing murah asalkan memenuhi standar keabsahan hewan kurban.

Berbicara mengenai syarat keabsahan hewan yang dikurbankan, setidaknya ada tiga ketentuan yang perlu diperhatikan. Pertama, memenuhi standar minimal usia hewan kurban. Kedua, batas maksimal kapasitas orang yang berkurban. Ketiga, terbebas dari cacat.

Pertama, memenuhi standar minimal usia hewan kurban.

Unta disyaratkan sudah berusia lima tahun dan memasuki tahun keenam, sapi dan kambing kacang berusia dua tahun memasuki tahun ketiga, sementara untuk kambing domba berusia satu tahun atau yang sudah tanggal giginya meski belum genap satu tahun. Jenis hewan kurban boleh dari jantan dan betina. Ulama berbeda pendapat mengenai manakah yang lebih utama di antara keduanya, menurut pendapat yang kuat lebih utama pejantan, sebab dagingnya lebih lezat (Syekh Khatib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, juz 6, hal. 127).

Kedua, batas maksimal kapasitas orang yang berkurban.

Minimnya dana jangan sampai menjadikan orang yang berkongsi membeli hewan kurban melebihi kapasitas jumlah orang yang berkurban. Ketentuan dari syariat adalah, satu ekor kambing hanya boleh dikurbankan untuk satu orang, sedangkan sapi dan unta boleh untuk kurbannya tujuh orang. Bila melebihi batas-batas ini, maka tidak sah dijadikan kurban, hanya berstatus daging sedekah.

Ketiga, terbebas dari cacat.

Hewan kurban disyaratkan terbebas dari segala cacat yang dapat mengurangi kualitas dan kuantitas daging dan bagian-bagian hewan lainnya yang dapat dikonsumsi. Karena itu, tidak mencukupi hewan yang sangat kurus hingga tidak memiliki sumsum, hewan gila, yang terputus telinganya, yang pincang, yang buta sebelah, sakit parah dan berpenyakit kudis. Tidak bermasalah hewan yang hilang tanduknya atau robek telinganya, sebab tidak mempengaruhi kuantitas dan kualitas daging.

Syekh al-Imam al-Nawawi berkata:

وَشَرْطُهَا سَلَامَةٌ مِنْ عَيْبٍ يَنْقُصُ لَحْمًا فَلَا تُجْزِئُ عَجْفَاءُ، وَمَجْنُونَةٌ، وَمَقْطُوعَةُ بَعْضِ أُذُنٍ، وَذَاتُ عَرَجٍ وَعَوَرٍ وَمَرَضٍ وَجَرَبٍ بَيِّنٍ وَلَا يَضُرُّ يَسِيرُهَا وَلَا فَقْدُ قَرْنٍ وَكَذَا شَقُّ أُذُنٍ وَثَقْبُهَا فِي الْأَصَحِّ قُلْتُ: الصَّحِيحُ الْمَنْصُوصُ يَضُرُّ يَسِيرُ الْجَرَبِ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ.

“Dan syarat hewan kurban adalah terhindar dari aib yang dapat mengurangi daging, maka tidak cukup hewan yang sangat kurus yang sampai menghilangkan sumsumnya, hewan yang gila, hewan yang terpotong sebagian telinganya, yang pincang, yang buta sebelah, yang sakit parah, yang terkena kudis. Tidak mengapa jika kudisnya tidak parah, tidak mengapa hewan yang kehilangan tanduknya, demikian pula hewan yang  robek atau berlubang telinganya menurut pendapat al-Ashah. Aku berkata; pendapat al-Ashah yang ditegaskan adalah bermasalah sedikitnya kudis. Wallau a’lam," (Syekh al-Imam Abu Zakariyyaa Yahya bin Syaraf al-Nawawi, Minhaj at-Thalibin Hamisy Hasyiyah al-Qulyubi wa Umairah, juz 4 hal 252, al-Hidayah).

Simpulannya seseorang yang dananya minim yang hanya cukup untuk membeli hewan kurban murah atau bahkan di bawah harga standar, ia masih bisa melaksanakan ibadah kurban dengan catatan memenuhi syarat-syarat keabsahan sebagaimana penjelasan di atas. Bila memiliki finansial berlebih, alangkah lebih baiknya mengeluarkan hewan kurban yang berkualitas, karena Allah maha baik, suka menerima yang baik-baik.
 
 
Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pondok Pesantren Raudlatul Quran, Geyongan, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat.
Sabtu 3 Agustus 2019 10:15 WIB
Ini 10 Mandi Sunnah dalam Ibadah Haji dan Umrah
Ini 10 Mandi Sunnah dalam Ibadah Haji dan Umrah
Foto: pri.org
Mandi sunnah dianjurkan bagi jamaah haji dan umrah sebelum melakukan beberapa hal yang terdapat rangkaian ibadah haji dan umrah. Mandi sunnah ini dimaksudkan untuk kepentingan ibadah dan faktor kebersihan sekaligus.

قوله (ويستحب للحاج الغسل في عشرة مواضع للإحرام) ولو بالعمرة والقصد به العبادة والتنظيف

Artinya, “Perkataan, (jamaah haji dianjurkan mandi pada 10 titik, yaitu ihram dan seterusnya) sekalipun ihram umrah. Tujuannya adalah ibadah dan kebersihan,” (Lihat Syekh Ibnu Hajar, Hasyiyah Ibni Hajar alal Idhah, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], halaman 76).

Imam An-Nawawi menyebut sedikitnya 10 titik di mana jamaah haji dan umrah dianjurkan untuk melakukan mandi sunnah. Imam An-Nawawi menyebutkan 10 titik dalam rangkaian ibadah haji dan umrah pada Al-Idhah fi Manasikil Hajji, karyanya yang mengupas ibadah haji dan umrah secara khusus.

ويستحب للحاج الغسل في عشر مواضع للإحرام ولدخول مكة وللوقوف بعرفة وللوقوف بمزدلة بعد الصبح يوم النحر ولطواف الإفاضة وللحلق وثلاثة آغسال لرمي جمار آيام التشريق ولطواف الوداع

Artinya, “Jamaah haji dianjurkan untuk mandi sunah pada 10 titik, yaitu (sebelum) ihram, saat memasuki Kota Makkah, wuquf di Arafah, wuquf di Muzdalifah setelah Subuh hari nahar, tawaf ifadhah, cukur, tiga mandi untuk melempar jumrah pada hari tasyriq, dan tawaf wada‘,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Idhah fi Manasikil Hajj pada Hasyiyah Ibni Hajar, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], halaman 77).

Anjuran melakukan mandi sunnah ini tidak hanya berlaku bagi jamaah haji laki-laki dan perempuan. Anjuran ini juga berlaku bagi jamaah haji yang sedang mengalami haid.

ويستوى في استحبابها الرجل والمرآة والحائض ومن لم يجد ماء فحكمه ما سبق

Artinya, “Kesunnahan mandi ini berlaku sama bagi jamaah haji laki-laki, perempuan, dan jamaah yang sedang haidh. Jamaah haji yang tidak mendapatkan air, maka hukumnya mengikuti penjelasan yang telah lalu,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Idhah fi Manasikil Hajj pada Hasyiyah Ibni Hajar, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], halaman 77).

Dari keterangan ini, kita dapat menarik simpulan bahwa mandi sunnah sangat dianjurkan sekali bagi jamaah haji dan umrah pada 10 titik ini. Bahkan, mereka yang tidak menemukan air atau uzur menggunakan air tetap dianjurkan untuk melakukan pengganti mandi sunnah, yaitu tayamum. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)