IMG-LOGO
Trending Now:
Hikmah

Dialog Dua Malaikat dan Al-Muwafaq yang Batal Naik Haji

Senin 5 Agustus 2019 12:0 WIB
Share:
Dialog Dua Malaikat dan Al-Muwafaq yang Batal Naik Haji
Ritual haji akan kosong makna ketika mengabaikan substansi. Ilustrasi (vipis.org)
Kala itu, Ibnu Mubarak sedang berbaring di pelataran Masjidil Haram. Hatinya begitu lega karena ia baru saja usai melaksanakan rangkaian ibadah haji. Dari mulai ihram, tawaf, sa'i, hingga tahallul telah dilakoninya dengan khusyuk dan penuh hikmat. Dalam hatinya, ia berharap besar hajinya dapat diterima oleh Allah dengan predikat haji yang mabrur.

Tak terasa, rasa kantuk mengelabuhi pandangannya hingga ia tertidur pulas. Dalam tidurnya itu, ia bermimpi mendengar dua malaikat yang sedang bercakap-cakap.

"Ada berapakah kaum muslim yang haji pada tahun ini?" tanya seorang malaikat.

"Kurang lebih, ada sekitar 700 ribu orang," jawab yang satunya. 

"Berapakah yang diterima oleh Allah?" "Tidak ada sama sekali," jawab malaikat itu kembali.

Seketika malaikat yang bertanya itu pun termenung. Membayangkan betapa nahasnya nasib jamaah haji tahun itu. Ibadah haji yang mereka lakukan dengan hikmatnya, ternyata di mata Allah tak ada nilainya. Pun dengan Ibnu Mubarak yang sedang mendengarkan percakapan tersebut.

Tak berselang lama, segera malaikat tersebut menimpali perkataanya,

"Namun, akibat amal salah seorang yang batal haji di tahun ini. Seluruh ibadah haji jamaah tahun ini diterima oleh Allah subhanahu wata'ala " 

"Siapakah orang tersebut" tanya malaikat satunya penasaran. "Ia adalah Al-Muwafaq"

Seketika Ibnu Mubarak terjaga dari tidurnya. Ia begitu kaget dan bergegas untuk mencari seorang Al-Muwafaq dalam mimpinya itu. Setelah ditelusuri, ternyata ia adalah seorang tukang sol sepatu yang tinggal di daerah Damaskus, Syiria.

"Apakah anda Al-Muwafaq yang batal haji di tahun ini?" tanya Ibnu Mubarak mengawali percakapan dengan seseorang yang ia cari-cari tersebut. 

"Ya, dan bagaimana anda mengetahuinya?" jawab Al-Muwafaq yang juga balik bertanya.

Ibnu Mubarak tak mau gegabah, ia tak lantas menjelaskan tentang mimpinya. Malah dengan segera ia mengajukan pertanyaan yang lainnya,

"Gerangan apa yang membauatmu batal melaksanakan rukun islam yang kelima?" sergah Ibnu Mubarak penasaran.

Hening pun menyelimuti keduanya, Al-Muwafaq terlihat kosong pandangannya. Menghela nafas agak panjang, untuk kemudian mengatur emosi dalam sanubarinya agar dapat angkat bicara. Ibnu Mubarak pun juga terdiam, ia begitu sabar menanti jawaban dari Al-Muwafaq.

"Engkau tahu sendiri bahwa aku hanyalah seorang tukang sol sepatu di kota ini." dengan mata berkaca, Al-Muwafaq mengawali kisah kegagalannya. Ibnu Mubarak tak menimpali sepatah kata pun, malah ia semakin terdiam agar dapat berkonsentrasi mendengarkan penjelasan Al-Muwafaq.

"Tentunya menunaikan ibadah haji adalah sebuah impian besar bagiku. Ya, bagaimana tidak. Dengan hal itulah aku dapat menyempurnakan rukun islam yang lima. Aku pun telah menabung jauh-jauh hari. Dari hasil upah jasa menjahit sepatu bekas, ku kumpulan sepeser demi sepeser uang guna mewujudkan impianku. Alhamdulillah, setelah sekian lama akhirnya aku kira uang tabunganku telah mencukupi. Saat itu kira-kira telah terkumpul 350 dirham."

"Namun, ketika aku berniat untuk menata barang bawaanku dan bergegas pergi ke mekah. Tiba-tiba istriku yang tengah hamil muda menghampiriku dan berkata, 'wahai suamiku, sungguh aku tidak pernah mencium aroma masakan selezat ini sebelumnya. Oh betapa senang hatiku kiranya engkau berkenan mencari sumber aroma masakan ini dan meminta sedikit saja demi menuruti keinginan jabang bayi dalam perutku ini."

Ternyata istri Al-Muwafaq saat itu tengah ngidam. Al-Muwafaq lantas keluar rumah dan mencari sumber aroma masakan tersebut. Dan memang, sungguh dari aromanya saja telah terbayang betapa lezatnya masakan tersebut.

Sampailah ia dirumah salah seorang janda beranak pinak yang tengah memasak di dapurnya. Tanpa berkata panjang lebar, ia segera mengutarakan maksud kedatangannya untuk meminta sedikit saja masakan janda tersebut.

"Sekali-kali janganlah engkau meminta masakan ini. Karena aku tak akan memeberikannya," ujar si janda yang menolak mentah-mentah permintaan Al-Muwafaq. Al-Muwafaq pun tak patah arang, ia menawarkan akad jual-beli kepada si janda agar rela menjual masakannya meski dengan harga berapa pun. 

Namun, sekali tidak tetaplah tidak. Janda itu tetap bergeming. Menolak dengan keras segala penawaran yang diajukan oleh Al-Muwafaq. Al-Muwafaq pun terheran, mengapa wanita ini begitu kokoh tak mau memberikan barang sedikit saja hasil dari olahannya. 

Karena Al-Muwafaq begitu memaksa dan wanita itu pun telah kehabisan kata untuk menolaknya. Akhirnya sang janda berkata, "Sungguh, makanan ini tak kan kuberikan kepadamu. Karena bagiku ini halal, sedang bagimu ini hukumnya haram." 

Al-Muwafaq semakin bingung dengan ujaran si janda tersebut. Mengapa makanan selezat itu bisa haram hukumnya bagi Al-Muwafaq. Oh ternyata, janda tersebut merupakan orang yang amat fakir nan miskin. Sedang dalam tanggungannya terdapat beberapa anak yang lemas kelaparan. 

Ya, mereka telah berhari-hari tak makan. Bahkan mereka sekeluarga terancam mati kelaparan. Hingga akhirnya, ketika sang janda tengah menyusuri jalan, ia melihat bangkai keledai kaku terkapar di pinggiran. Kemudian ia pun mengambilnya dan kemudain jadilah masakan yang kini tengah diperdebatkan.

Al-Muwafaq lantas merasa iba, ia segera berjalan gontai berbalik arah menuju ke rumahnya. Ia ambil sekantong uang dirham yang tadinya ia rencanakan sebagai dana perjalanan ibadah hajinya. Ia tak menghiraukan tentang kegagalan naik haji yang telah lama ia dambakan. Baginya kebatalannya demi menolong kehidupan si janda beserta anaknya lebih penting ketimbang impiannya untuk menyempurnakan rukun islam yang ke lima.

Ia lantas kembali ke kediaman si janda dengan membawa sekantong uang dirhamnya. Ia meminta agar uang ini dimanfaatkan untuk si janda sebagai modal untuk membuka usaha. Hingga nantinya kehidupan anak-anaknya dapat terjamin dan janda pun tak sampai terpaksa mengolah bangkai keledai demi melangsungkan kehidupan mereka. 

"Masya Allah… ternyata akibat amal itulah engkau menjadi sebab diterimanya 700 ribu jamaah haji di tahun ini" ujar Ibnu Mubarak yang terharu mendengar kisah Al-Muwafaq. Al-Muwafaq yang tak mengerti maksud Ibnu Mubarak pun terlhat kebingungan,

"Apa maksud dari ujaranmu, wahai orang yang mendatangiku secara tiba-tiba?"

Ibnu Mubarak akhirnya menjelaskan tentang mimpi yang telah ia alami. Seketika itu juga Al-Muwafaq tersungkur sujud bahagia, dengan mata basah terharu akan karunia Allah yang maha besarnya.

(Ulin Nuha Karim)

Dikisahkan oleh Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, Grobogan, Jawa Tengah dalam momen pengajian KITAB Tafsir Jalalain. 
 
Share:

Baca Juga

Sabtu 3 Agustus 2019 21:0 WIB
Imam Al-Ghazali tentang Perangai Rakyat dan Pemimpin
Imam Al-Ghazali tentang Perangai Rakyat dan Pemimpin
Imam Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali (Ilustrasi: NU Online)
Imam Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali atau yang lebih dikenal Imam Al-Ghazali tidak hanya mempunyai perhatian luas dalam menghidupkan akhlak dan ilmu agama, tetapi juga memberi perhatian pada sebuah kepemimpinan. Hal ini merupakan tanggung jawab sebagai seorang ulama kepada umara-nya demi mewujudkan kemakmuran rakyat.

Mengenai rakyat, penguasa, dan ulama, Imam Al-Ghazali dalam kitab At-Tibbr al-Masbuk fi Nasihat al-Muluk atau Nasihat Bagi Penguasa menjelaskan bahwa watak dan perangai rakyat merupakan buah atau hasil dari watak dan perangai pemimpinnya.

Sebab menurut Al-Ghazali, keburukan yang dilakukan orang awam hanyalah meniru dan mengikuti perbuatan para pemimpinnya. Pemimpin di sini tidak hanya ditujukan kepada satu orang saja dalam pemerintahan, tetapi juga para pemangku kebijakan di segala sektor.

Sang Hujjatul Islam tersebut adalah ulama yang tidak hanya seorang faqih, sufi, maupun filosof, tetapi juga seorang yang mempunyai perhatian serius terhadap kepemimpinan.

Baginya, seorang umara mempunyai tugas penting dalam memperhatikan kesejahteraan dan keamanan rakyatnya. Apalagi saat itu kepemimpinan Islam tidak sedikit mendapat represi dari kelompok-kelompok lain demi kepentingan kekuasaan. Seperti kondisi umat Islam di Andalusia yang menjadi keprihatinan Imam Al-Ghazali.

Sangat risau mendengar kekalahan dan penderitaan kaum Muslimin di Andalusia, Imam Al-Ghazali (1058-1111 M) menulis surat kepada Raja Maghribi Yusuf Ibnu Tasyfin yang isinya cukup menggemparkan, sebagai berikut:

“Pilihlah salah satu di antara dua, memanggul senjata untuk menyelamatkan saudaramu-saudaramu di Andalusia atau engkau turun tahta untuk diserahkan kepada orang lain yang sanggup memenuhi kewajiban tersebut.”

Isi surat dari penulis kitab Ihya’ Ulumiddin tersebut diungkap B. Wiwoho dalam Bertasawuf di Zaman Edan: Hidup Bersih, Sederhana, dan Mengabdi (2006). Sikap tegas Al-Ghazali tentu tidak lepas dari konteks perjuangan Islam di Andalusia saat itu. Kelemahan dalam kepemimpinan, konflik internal, dan kekuatan musuh yang semakin banyak adalah di antara sebab jatuhnya masa-masa kejayaan Islam di Andalusia.

Al-Ghazali sendiri merupakan salah seorang ulama masyhur yang hidup ketika Islam di Andalusia mencapai kejayaan emasnya. Tercatat ilmuwan-ilmuwan Muslim yang lahir dari kemajuan peradaban Islam di Spanyol, Ibnu Bajjah, Ibnu Rusyd, Ibnu Arabi, Al-Farabi, Ibnu Sina, dan lain-lain. Kejayaan Islam di Andalusia tidak lepas dari perkembangan peradaban ilmu pengetahuan.

Sejumlah displin ilmu dan berbagai teori yang ditemukan oleh para ilmuwan Muslim merupakan pintu masuk bagi perkembangan Islam di Barat, khususnya Eropa. Namun, kepemimpinan yang lemah kerap menjadi faktor runtuhnya masa Islam. Meski demikian, ilmu pengetahuan yang dikembangkan ilmuwan-ilmuwan Muslim tetap masyhur meskipun saat ini masyarakat justru lebih banyak mengenal teori-teori pembaruan yang lahir dari para ilmuwan Barat.

Ketegasan Al-Ghazali dalam merespon kepemimpinan Islam di Andalusia merupakan kegelisahan seorang ulama kepada umara-nya. Kritisnya Imam Al-Ghazali tidak lebih dari perhatian dan kasih sayang kepada seorang pemimpin untuk tujuan yang lebih luas, kesejahteraan rakyatnya. Seorang pemimpin wajib melindungi rakyatnya jika mereka dalam kondisi menderita sebab perang. Seperti yang dimaksud Al-Ghazali dalam isi suratnya di atas. (Fathoni)
Jumat 19 Juli 2019 19:0 WIB
Pengalaman Saya Berguru ke Habib Luthfi
Pengalaman Saya Berguru ke Habib Luthfi
Foto: Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya
Cerita ini bermula sejak pertama kali bertemu Abah, sapaan cinta bagi Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya. Awalnya saya hanya melihat ceramah-ceramah beliau melalui channel Youtube. Raut wajah dan mata beliau sejuk sekali. Senyum Abah yang indah mengingatkan saya pada cerita para sahabat Nabi mendetailkan perawakan kekasih Allah itu (Rasulullah). Indah, sejuk, tenang, dan damai, kata-kata inilah yang pertama kali terbesit ketika melihat Abah.

Setiap bulan selalu ada pengajian di Kanzus Sholawat, Markas Besar (Mabes) Abah di Pekalongan, Jawa Tengah. Para jamaah menyebutnya Pengajian Rutin Kliwonan. Kami dari Jogja biasanya menghadiri pengajian itu, alhamdulillah rutin. Namun sesekali, sebagian dari kami ada yang tidak bisa berangkat ke sana karena masalah sepele keduniaan. Meski demikian, kami tetap berusaha berangkat ke sana. Kami senang sekali di Kanzus Sholawat. Entah apa yang membuat kami senang. Saya tidak bisa menerangkannya, yang pastinya sangat senang.

Bagi saya, belajar menjadi santri Abah tidaklah mudah. Jangankan itu, belajar menjadi seorang santri saja tidak mudah. Jujur, saya sendiri tidak pernah mengunyah dunia pesantren. Saya tidak tahu apa itu kitab kuning. Yang saya tahu, pesantren identik dengan Nahdlatul Ulama (NU), pendirinya Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy'ari. Saya pun baru mengenal cucu pendiri NU itu, waliyullah Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) melalui Cak Nur (sapaan akrab Nurcholish Madjid) setelah membaca buku Islam: Doktrin dan Peradaban

Saya juga tidak paham denyut pemikiran Imam al-Ghazali. Saya baru bersentuhan dengan sufi besar itu melalui ceramah live streaming Gus Ulil Abshar Abdalla di akun Facebook pribadi beliau. Saya juga tidak mengenal tafsir Al-Qur'an yang khas—saya baru kenal melalui Gus Baha (KH Bahauddin Nursalim). Jadi pengetahuan saya tenang khazanah Islam sangat minim, apalagi bicara tarekat, “bleng”, saya tidak tahu sama sekali. Tapi NU memberikan warna tersendiri dalam hidup saya. Indah dan sejuk. Jauh dari benang merah NU, saya tidak peduli, yang penting bagi saya ialah sama-sama Muslim Indonesia, atau dalam jabaran KH Said Aqil Siroj adalah Islam Nusantara. Meskipun jauh dari panggang, alhamdulillah sedikit-sedikit masih terciprat nuansa NU, yakni lewat kebiasaan tahlil dan ziarah kubur.

Abah, awalnya yang saya tahu, adalah orang Arab. Terlihat dari perawakan beliau demikian adanya. Mungkin ini pertama kali perkenalan saya dengan Abah secara dhahir. Yang saya tahu hanya sepintas adalah itu. Setelah mendengar ceramah-ceramah beliau tentang “NKRI harga mati!”, saya sempat kaget, rupanya beliau bukan sekadar orang Arab, tapi orang Indonesia tulen. Beliau beberapa kali mengumandangkan persatuan dan kesatuan. Luar biasa. Secara pemikiran, saya tidak bisa mengartikan hal ini secara batin, tapi saya sepemikiran dengan beliau, tulen-asli. Mulai dari sinilah saya mendekatkan diri ke Abah. 

Perjalanan saya berlanjut setelah melihat kawan-kawan saya yang mulai masuk dunia tarekat. Mereka saya perhatikan setiap minggu sekali—malam Jumat—pergi ziarah ke makam para wali. Ada yang ke Syekh Belabelu Parangtritis, serta ada pula yang ke Gunungpring, Magelang. Cerita mereka ingin mengejar berkah disertai tawasul melalui Abah ke Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Mendengar cerita mereka, saya dengan mantap langsung memutuskan untuk mengikuti langkah mereka. Pikiran sederhana saya adalah karena tawassul ke Abah. 

Menyesuaikan dengan rutinitas yang sebelumnya belum pernah saya lakukan sama sekali, adalah awal kondisi ketika saya mulai berkenalan dengan Abah. Rutin pergi ziarah kubur dan lain-lain. Untungnya jamaah kami dibimbing seorang mursyid (guru) bernama Gus Hafidz Rusli perihal tarekat. Gus Hafidz Rusli berguru ke Mbah Gondrong Kudus, yang berguru ke Abah Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya Pekalongan. Jadi secara sanad keilmuwan, insyaallah sampai. Allâhumma shalli ‘alâ sayyidinâ Muhammad

Berangkat ke Kanzus Sholawat (Mabes) Abah di Pekalongan. Detak jantung berdegup kencang. Terlintas di pikiran, pokoknya sampai di Mabes langsung bertemu dengan Abah, cium tangan beliau, dan minta berkah. Perkiraan saya rupanya salah. Ternyata selama di Kanzus, kami harus shalawatan dari pukul 06.35 pagi sampai 09.00 WIB. Setelah itu dilanjutkan dengan ceramah Abah sekitar 30 menitan, sangat menggetarkan. Beliau menyerukan persatuan, luar biasa. Selepas itu, barulah bisa bertemu dengan Abah. Mulai dari lansia sampai balita, berjejer rapi sambil bersimpuh menemui Abah. Mencium tangan beliau sebagai tanda 'ngalap’ berkah. 

Jamaah Abah sangat banyak. Mulai dari balita sampai lansia. Uniknya selama di Mabes Abah, saya tidak pernah mendengar sedikit pun tangisan bayi. Padahal dengan kondisi jamaah yang begitu padat, secara alamiah, seharusnya ada tangisan bayi. Tapi tidak terdengar sama sekali. Aneh. Hal ini, pikir saya, mungkin sebagai tanda kemuliaan beliau, Abah Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya. 

Ada satu hal yang saya peroleh dari Abah adalah tarekat nasionalisme beliau. Sungguh luar biasa dan menggetarkan. Saya haqqul yakin, pemikiran beliau sudah pasti menerobos sampai ke langit ketujuh dan menukik tajam menyentuh sanubari khalayak insan. Semua malaikat pasti tahu dan setuju dengan pendapat beliau. Memang di era sekarang ini, apa pun masalahnya, solusinya cuma satu yakni persatuan. Persatuan dapat menjaga keseimbangan kosmos. Bukankah hal ini merupakan perintah Allah melalui rasul-Nya? Allâhumma shalli ‘alâ sayyidinâ Muhammad. Semoga kasih, sayang, dan cinta ini selalu tercurahkan kepada Abah Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya. Âmîn.


Muhammad Kashai Ramdhani Pelupessy, asal Kota Ternate, Maluku Utara; sedang studi S2 Psikologi di Universitas Negeri Yogyakarta

Rabu 17 Juli 2019 20:15 WIB
Ketika Murid-murid Nabi Isa Hendak Berjalan di Atas Air
Ketika Murid-murid Nabi Isa Hendak Berjalan di Atas Air
Dalam kitab al-Zuhd, Imam Ahmad bin Hanbal mencatat riwayat murid-murid Nabi Isa yang hendak meniru gurunya berjalan di atas air. Berikut riwayatnya:

حدثنا عبد الله حدثنا أبي حدثنا بهز حدثنا أبو هلال حدثنا بكر بن عبد الله قال: فقَدَ الحواريون نبيهم عليه السلام فخرجوا يطلبونه قال فوجدوه يمشي علي الماء فقال بعضهم: يا نبي الله أنمشي إليك, قال: نعم, قال فوضع رجله ثم ذهب يضع الأخري فانغمس, فقال: هات يدك يا قصير الإيمان لو أن لابن آدم مثقال حبة أو ذرة من اليقين إذا لمشي علي الماء

Abdullah bercerita, ayahku bercerita, Bahj bercerita, Abu Hilal bercerita, Bakr bin Abdullah bercerita kepada kita, ia berkata:

(Suatu ketika) para hawari (teman atau murid Nabi Isa) tidak menemukan nabinya. Mereka keluar untuk mencarinya. Mereka menemukannya tengah berjalan di atas air. Sebagian dari mereka berkata:

“Ya Nabi Allah, apakah kami (harus) berjalan (di atas air) ke arahmu?”

Nabi Isa menjawab: “Iya.”

Kemudian sebagian hawari itu meletakkan (satu) kakinya (di air) lalu meletakkan kaki lainnya, maka tenggelam lah kaki (mereka).

Nabi Isa berkata (lantang): “Kemarikan tanganmu, wahai orang yang pendek iman! Andai saja anak Adam memiliki keyakinan sebesar biji atau atom, dia pasti (bisa) berjalan di atas air.” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, Kairo: Dar al-Rayyan li al-Turats, 1992, h. 74)

****

Keyakinan memang sukar diukur dari luar. Tidak ada alat yang memungkinkan kita dapat mengukur keyakinan orang lain dengan tepat. Kita hanya bisa memprediksi atau menilainya, tapi tidak mungkin bisa memastikannya. Orang yang paling mengetahui keyakinan adalah orang itu sendiri. Bukan ayah, ibu dan teman-temannya, tapi orang itu sendiri.

Dalam kisah di atas, Nabi Isa ‘alahissalam mengkritik murid-muridnya karena kaki mereka masih tenggelam di dalam air ketika hendak mendatanginya. Ia menyebut mereka, “yâ qashîrul îmân” (wahai orang yang pendek imannya). Penyebutan Nabi Isa ini bukan tanpa alasan. Ada pelajaran besar dari penyebutan tersebut.

Jika diuraikan kira-kira seperti ini. Nabi Isa meyakini betul bahwa kebaikan Allah tidak bisa diukur dengan bahasa pujian tertinggi sekalipun. Misal diucapkan “Yang Maha-Maha-Maha-Maha-Maha” hingga berjuta-juta triliun masih jauh dari kata mendekati. Kebaikan-Nya tidak bisa diistilahkan; kasih sayang-Nya tidak bisa dibahasakan. Allah melebihi segala ukuran yang ada di pikiran dan bahasa manusia.

Dengan kebaikan dan kasih sayang yang teramat besar tersebut, Allah akan mengabulkan setiap keinginan hamba-Nya selama mereka yakin dan pasrah sepenuhnya. Kita tidak sedang bicara “yakin” yang tampak dari luar, atau “yakin” yang sekedar basa-basi karena kita mengaku orang beriman, tapi “yakin” yang murni, yang di dalamnya tidak ada keraguan sedikit pun.

Contoh paling sederhana adalah kisah di atas. Ketika murid atau sahabat Nabi Isa mencoba berjalan di atas air, kaki mereka tenggelam. Mereka tidak bisa menapaki air seperti menapaki bumi. Melihat itu, Nabi Isa tahu di hati mereka masih ada keraguan. Mereka tidak yakin bahwa mereka bisa berjalan di atas air. Padahal dengan izin Allah, tidak ada yang tidak mungkin. 

Yang perlu mereka lakukan hanyalah meminta dengan penuh keyakinan. Tak masalah jika keyakinannya hanya sebesar biji atau atom yang sangat kecil. Selama keyakinan itu murni ketika mereka memintanya, dengan izin Allah tidak ada yang mustahil. Rasulullah pernah bersabda (HR. Imam al-Tirmidzi):

لَا يَرُدُّ الْقَضَاءُ إِلَّا الدُّعَاءُ، وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمُرِ إِلَّا الْبِرُّ

“Tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali doa, dan tidak ada yang bisa menambah umur kecuali perbuatan baik.” (Imam Ibnu Mulaqqin al-Anshari al-Syafi’i, al-Badr al-Munîr fî Takhrîj al-Ahâdîts wa al-Âtsâr al-Wâqi’ah fî al-Syarh al-Kabîr, Riyadh: Dar al-Hijrah, 2004, juz 9, h. 174)

Ini menunjukkan bahwa dengan doa (permintaan/permohonan) seseorang dapat merubah takdirnya. Allah memberikan peluang besar pada manusia untuk meminta segala sesuatu. Selama di hatinya bersemayam keyakinan murni, doanya akan dikabulkan.

Jika kita bicara jujur, kita pasti mengenali ketidak-yakinan kita ketika berdoa. Misalnya ketika kita minta diberikan mobil saat ini juga, atau meminta kemampuan terbang, meskipun lidah dan hati kita mengucapkannya, lubuk hati kita yang terdalam tidak yakin doa itu akan terkabul. Tanpa sadar hati kita berujar, “Apa iya, ya? Tidak mungkin ah,” dan ujaran lainnya. Artinya kita sedang meminta sesuatu yang kita sendiri tak yakin dengan permintaan itu, sedangkan Allah Mahatahu apa yang di langit dan apa yang di bumi; apa yang di lidah dan apa yang di hati. Gerak-gerik terkecil di hati kita pun, Allah mengetahuinya.

Oleh karena itu, selama hati kita diselimuti keraguan, kita tak akan pernah mampu mencapai apa yang kita minta sendiri. Sebab itu Nabi Isa mengatakan: “Andai saja anak Adam memiliki keyakinan sebesar biji atau atom, dia pasti (bisa) berjalan di atas air.” 

Ya, Nabi Isa memang berkata seperti itu. Mungkin ada sebagian orang yang tidak mempercayainya, silahkan. Yang jelas, jika menghidupkan orang mati saja bisa dilakukan (dengan izin Allah), apalagi sekedar membuat murid-muridnya berjalan di atas air. Lagi pula, keyakinan Nabi Isa kepada Allah tidak lagi menyisakan sedikit pun keraguan di hatinya.

Pertanyaannya, pernahkah sekali saja kita yakin bahwa Allah pasti mengabulkan doa kita?

Wallahu a’lam bish shawwab.


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.