IMG-LOGO
Ilmu Tauhid

Apakah Allah Bersuara ketika Menyampaikan Wahyu? (II-Habis)

Selasa 6 Agustus 2019 20:0 WIB
Share:
Apakah Allah Bersuara ketika Menyampaikan Wahyu? (II-Habis)
Ilustrasi (Shutterstock)
Setelah dalam bahasan sebelumnya dijelaskan bahwa menurut mazhab Ahli Hadits Allah tak bersuara sebab tak mungkin Dzat Allah memproduksi suara atau apa pun, maka biasanya timbul pertanyaan lanjutan seperti berikut: Bagaimana bila dikatakan bahwa suara Allah adalah qadim (ada tanpa awal mula) sehingga mutlak berbeda dengan suara makhluk? Dan bagaimana pula dengan salah satu hadits yang menyebutkan bahwa Allah memanggil manusia dengan suara?

Pernyataan bahwa suara Tuhan berbeda secara mutlak dengan suara makhluk sehingga tidak bersifat seperti suara pada umumnya yang bersumber dari getaran, butuh media untuk merambat, bisa dipantulkan, bisa dihalangi dan seterusnya, atau pernyataan bahwa suara Tuhan adalah suara yang qadim berbeda dengan suara makhluk, statemen semacam ini sama sekali tak bisa dipahami sebab suara yang didengar telinga manusia hanyalah yang bersifat bersumber dari getaran, butuh media untuk merambat, bisa dipantulkan, bisa dihalangi dan seterusnya itu. Bila output adanya suara Tuhan itu adalah untuk didengar telinga makhluk, maka tidak bisa tidak haruslah berupa suara biasa yang bisa didengar makhluk.

Imam al-Baqillani menyatakan sebagai berikut:

ونحن لا نسمع إلا صوتاً مثل هذه الأصوات، ولا نرى حرفاً ولا نسمعه إلا مثل هذه الحروف؛ وهذا القول يوجب أن لا يكون عندنا قرآن بالجملة أو يؤدي إلى أن يكون هذا القرآن بهذه الحروف والأصوات المعروفة غير ذلك القرآن الذي هو بحروف وأصوات قديمة، لا تشبه هذه الحروف والأصوات، والجميع فاسد باطل

“Kita tidak mendengar suara kecuali seperti suara yang ada ini dan tak melihat huruf dan tak mendengarnya kecuali huruf-huruf ini. Pendapat [yang mengatakan bahwa suara dan huruf Tuhan adalah qadim] ini berarti mengatakan kita tak punya al-Qur’an. Dan, secara global berkonsekuensi mengatakan bahwa al-Qur’an yang ada dengan huruf dan suara yang dikenal ini bukanlah al-Qur’an yang memakai suara dan huruf yang qadim itu yang tidak menyerupai suara huruf ini. Semuanya adalah salah.” (al-Baqillani, al-Inshâf: 162).

Soal suara dan huruf ini, nalar para tokoh yang mengatakan bahwa Allah bersuara sebenarnya sama persis dengan nalar Muktazilah yang menolak keberadaan kalamullah. Keduanya meyakini bahwa sifat kalâm pastilah berupa suara dan huruf. Hanya saja Muktazilah konsisten kemudian menolak adanya sifat kalam dari Dzat Allah dengan alasan tiap suara dan huruf pastilah makhluk. Muktazilah berdalil memakai realita tetapi mengabaikan nash yang menyatakan bahwa Allah berkalam. Adapun tokoh yang mengatakan bahwa Allah bersuara tetapi suaranya berbeda sifat sejatinya tidak konsisten karena menetapkan adanya suara bagi Dzat Allah yang bisa didengar manusia, tetapi mengatakan bahwa suara itu bukan makhluk seolah di dunia ini ada suara yang bukan makhluk. Mereka memakai nash yang menetapkan adanya kalam, tapi mengabaikan realita bahwa semua jenis suara pasti makhluk. Keduanya tidak tepat. 

Adapun salah satu hadits riwayat Imam Bukhari yang sepintas menyatakan bahwa di hari kiamat nanti Allah memanggil manusia dengan bersuara (bishautin), maka para ulama pakar hadits berbeda dalam menyikapinya. Sebagian, seperti Imam al-Baihaqi, meragukan validitas tambahan redaksi “dengan suara” tersebut sebab hadits lainnya tidak memakai tambahan tersebut. Dalam salah satu pernyataannya, Imam al-Baihaqi menganggap tambahan itu hanyalah redaksi dari perawi semata. Sebagian lain, seperti Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, menganggapnya valid secara sanad sehingga harus diterima tetapi dengan catatan wajib dipasrahkan maknanya pada Allah semata (di-tafwîdh) atau ditakwil (Ibnu Hajar, Fath al-Bâry, vol. XIII, hal. 458). Kedua pendapat ini meniscayakan bahwa kata “suara” di hadits itu bukan berarti bahwa Allah bersuara. 

Di antara takwilan redaksi “dengan suara” itu adalah seperti dinyatakan oleh Imam Badruddin al-Aini dalam Syarah Bukhari-nya sebagaimana berikut:

قَوْله: (فيناديهم بِصَوْت) قَالَ القَاضِي الْمَعْنى يَجْعَل ملكا يُنَادي، أَو يخلق صَوتا ليسمعه النَّاس، وَأما كَلَام الله تَعَالَى فَلَيْسَ بِحرف وَلَا صَوت

“Perkataan Nabi: ‘kemudian ia memanggil mereka dengan suara’, al-Qadli mengatakan: Maknanya adalah Allah menjadikan seorang malaikat yang memanggil atau Allah menciptakan suara (bukan mengucapkan suara) agar didengar manusia. Ada pun sifat kalamullah ta’ala maka bukan berupa huruf dan suara.” (Badruddin al-Aini, Umdat al-Qâry, vol. II, hal. 74)

Wallahu a'lam.
 

Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center Jawa Timur.
Share:

Baca Juga

Selasa 6 Agustus 2019 9:0 WIB
Apakah Allah Bersuara ketika Menyampaikan Wahyu? (I)
Apakah Allah Bersuara ketika Menyampaikan Wahyu? (I)
Ilustrasi
Semua ulama Ahlussunnah wal Jama’ah dari berbagai golongan sepakat bahwa Allah subhanahu wata’ala berwahyu kepada para malaikat dan rasul. Wahyu ini disampaikan dengan sifat kalam (firman). Ulama Asy’ariyah menggolongkan sifat kalam sebagai salah satu sifat wajib dalam arti sifat yang mutlak pasti dimiliki Tuhan. Yang bisu tak berkalam tak mungkin dianggap Tuhan. 

Dalam berbagai ayat disebutkan secara jelas bahwa Allah berkalam (berfirman), misalnya ayat berikut:

وَكَلَّمَ اللهُ مُوسَى تَكْلِيمًا

“Allah berfirman secara langsung pada Musa” (QS. an-Nisa’: 164)

Setelah adanya kalam sebagai sifat Allah disepakati, lantas ada pertanyaan lanjutan, yakni apakah kalamullah atau firman Allah itu berupa suara? Lumrahnya kalam manusia satu sama lain memakai suara sehingga terjadi percakapan, apakah Allah juga demikian? 

Dalam menjawab pertanyaan itu, sebagian kecil tokoh yang tampak kurang teliti menjawab bahwa kalam Allah berupa suara biasa yang didengar telinga manusia. Syaikh Utsaimin misalnya, ia berkata:

فَكَلاَمُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لِمُوْسَى كَلاَمٌ حَقِيْقِيٌّ, بِحَرْفٍ وَصَوْتٍ سَمِعَهُ, وَلِهَذَا جَرَّتْ بَيْنَهُمَا مُحَاوَرَةٌ.

“Kalamullah yang Maha Agung kepada Musa adalah ucapan yang sebenarnya, dengan huruf dan suara yang didengar oleh Musa. Karena inilah, maka terjadilah percakapan antara keduanya. (Ibnu Utsaimīn, Syarh Aqîdah al-Wâsithiyah, vol. I, hal. 421)

Jawaban semacam ini dianggap sebuah kesalahan besar oleh para ulama yang teliti dan ahli dalam bidang teologi. Kalimat “ucapan yang sebenarnya, dengan huruf dan suara” adalah redaksi yang tak didukung oleh satu pun ayat atau hadits sahih. Yang valid hanyalah soal Allah berfirman, tanpa menyebutkan suara dan huruf dalam makna yang tiap hari digunakan manusia untuk berkomunikasi satu sama lain. 

Imam al-Qasthalani dalam syarahnya terhadap Shahih Bukhari menjelaskan bagaimana mazhab Ahli Hadits dalam hal ini:

ولم يختلف في ذلك أحد من أرباب المِلَل والمذاهب وإنما الخلاف في معنى كلامه وقدمه وحدوثه، فعند أهل الحديث أن كلامه ليس من جنس الأصوات والحروف بل صفة أزلية قائمة بذاته تعالى منافية للسكوت الذي هو ترك التكلم مع القدرة عليه

“Tidaklah berbeda dalam hal itu (adanya kalamullah) satu pun dari berbagai sekte dan mazhab. Perbedaan pendapat hanyalah dalam hal makna kalamullah, tidak-berawalnya kalamullah, dan kebaruannya. Adapun menurut para Ahli Hadits bahwasanya kalamullah tidaklah berupa jenis suara dan huruf tetapi merupakan sifat yang ada tanpa awal mula (azali) yang berada pada Dzat Allah Ta’ala yang meniadakan adanya diam yang nota bene meninggalkan kalam padahal mampu.” (al-Qasthalani, Irsyâd as-Sâry, vol. X, hal. 428)

Mengapa mazhab Ahli Hadits justru menafikan kemungkinan Allah bersuara? Jawabannya antara lain: Karena suara dan huruf hanya bisa muncul dari jism sehingga mengatakan Allah bersuara sama saja dengan mengatakan Dzat Allah adalah jism. Selain itu, suara dan huruf adalah sesuatu yang mengalami perubahan dan berupa susunan, ini adalah bukti bahwa suara adalah makhluk (hudûts). Adalah sebuah kemustahilan bila Dzat Allah melahirkan makhluk. Dalam surat al-Ikhlas dinyatakan bahwa Allah tidak melahirkan dan tidak pula dilahirkan. Imam al-Sanusi menjelaskan bahwa kalimat “tidak melahirkan” dalam surat tersebut maksudnya adalah Dzat Allah yang Maha Mulia tidak mengeluarkan eksistensi apa pun dari dirinya. (Abu Abdillah al-Sanusi, Syarh Umm al-Barâhîn, 24). Jadi, Dzat Allah tak melahirkan apa pun tanpa kecuali, termasuk di antaranya suara.

Ilmu modern menetapkan bahwa hakikat suara itu adalah gelombang getar dalam frekuensi tertentu yang mengalir melalui media yang dapat dikompresi, semisal udara dan air, atau melalui media benda padat dengan mode propagasi (proses pengiriman). Suara selalu membutuhkan benda fisik yang bergetar sebagai sumber gelombangnya dan selalu membutuhkan media semisal udara atau air untuk sampai pada tempat lain. Suara juga dapat dihalangi dengan media lain yang mencegah sampainya gelombang getar itu atau mengurangi efeknya. Karakter suara seperti ini berlaku universal dalam arti tidak ada satu pun suara yang tidak demikian meskipun bunyinya berbeda-beda.

Sekarang, layakkah suara disebut sebagai salah satu hal yang keluar dari Dzat Allah? Tentu sangat tidak layak. Menetapkan suara bagi Allah sama saja dengan mengatakan bahwa Dzat Allah dapat mengeluarkan gelombang getar. Sama juga dengan mengatakan bahwa sifat Allah membutuhkan media untuk bisa terwujud. Sama juga dengan mengatakan bahwa sifat Allah dapat mengalami propagasi (proses pengiriman) yang berupa pembiasan, pemantulan dan lain-lain. 

Lalu bagaimana wahyu disampaikan bila tanpa suara? Jawabannya dengan ilham yang langsung dapat dipahami para utusan, seperti dijelaskan Imam Ibnu Hajar berikut:

وَهَذَا حَاصِلُ كَلَامِ مَنْ يَنْفِي الصَّوْتَ مِنَ الْأَئِمَّةِ وَيَلْزَمُ مِنْهُ أَنَّ اللَّهَ لَمْ يُسْمِعْ أَحَدًا مِنْ مَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ كَلَامَهُ بَلْ أَلْهَمَهُمْ إِيَّاهُ

“Ini adalah konklusi pendapat para imam yang menafikan adanya suara dari Allah. Konsekuensinya, bahwa Allah tidaklah memperdengarkan kalam-Nya [dalam bentuk suara] pada satu pun malaikat dan rasul-Nya, tetapi mengilhamkannya pada mereka.” (Ibnu Hajar, Fath al-Bâry, vol. XIII, hal. 458)

Bersambung... 
 

Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center Jawa Timur.

 
Senin 5 Agustus 2019 9:0 WIB
Bolehkah Menyebut Allah Orang?
Bolehkah Menyebut Allah Orang?
Ilustrasi
Terkadang dalam obrolan sehari-hari ada yang mungkin saja tanpa sengaja menyebut Allah sebagai orang, misalnya dengan berkata: "tidak ada orang yang bisa menolongmu kecuali Allah " atau "Allah adalah orang yang yang bisa menyelamatkanmu". Bahkan penyebutan Allah sebagai “orang” ini juga bisa ditemui dalam sebuah hadits sahih. Dalam perspektif ilmu tauhid bolehkah menyebut Allah sebagai "orang"?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata orang bermakna manusia. Dengan demikian menyebut Allah sebagai orang adalah sama dengan menyebutnya sebagai manusia. Dari sini sudah tampak bahwa sebutan ini salah bila disematkan pada Allah.

Adapun kata orang dalam bahasa Arab adalah syakhsun (شخص). Menurut Imam al-Qurthubi, sebagaimana dinukil oleh Imam Ibnu Hajar, kata syakhshun atau orang secara bahasa adalah badan manusia dan jism-nya (جِرْمِ الْإِنْسَانِ وَجِسْمِهِ) kemudian kata ini dipakai untuk merujuk semua hal yang tampak atau dhahir. Karena itu, Imam al-Qurthubi dengan tegas menyatakan bahwa makna ini tidak mungkin disematkan pada Allah dan seluruh teks hadits yang memakai ini wajib ditakwil dengan makna yang benar, misalnya redaksi “tak seorang pun” dimaknai “tak satu pun.” (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bâry, vol. XIII, hal. 401-402). 

Senada dengan al-Qurthubi, jauh sebelumnya Imam Sulaiman al-Khatthabi sebagaimana dinukil oleh Imam al-Baihaqi mengatakan hal yang serupa. Ia menyatakan:

إِطْلَاقُ الشَّخْصِ فِي صِفَةِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ غَيْرُ جَائِزٍ، وَذَلِكَ لِأَنَّ الشَّخْصَ لَا يَكُونُ إِلَّا جِسْمًا مُؤَلَّفًا، وَإِنَّمَا سُمِيَّ شَخْصًا مَا كَانَ لَهُ شُخُوصٌ وَارْتِفَاعٌ، وَمِثْلُ هَذَا النَّعْتِ مَنْفِيُّ عَنِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

“Memutlakkan kata orang dalam sifat Allah Yang Maha Suci tidaklah diperbolehkan. Hal itu karena orang tidak dipakai kecuali untuk jism yang tersusun. Sesuatu hanya disebut orang apabila ia mempunyai penampakan dan kemunculan fisik. Yang bersifat seperti ini ditiadakan dari Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi.” (al-Baihaqi, al-Asmâ’ was-Shifât , vol. II, hal. 54).

Adapun beberapa redaksi hadits yang memakai kata orang (syakhsun) untuk Allah, misalnya hadits riwayat Muslim berikut:

وَلَا شَخْصَ أَغْيَرُ مِنْ اللهِ

“Tidak ada orang yang lebih cemburu daripada Allah”. (HR. Muslim)

Makna hadits itu menurut para ulama tidaklah bisa dipahami bahwa Allah adalah orang atau manusia. Di poin ini al-Qurthubi dan lain-lain tampak menerima keabsahan redaksi tersebut tetapi mewajibkannya untuk ditakwil dengan makna lain yang lebih sesuai sebagaimana disinggung sebelumnya. Makna takwilannya adalah redaksi hadits tersebut yang lebih sesuai kaidah, yakni memakai kata satu pun (أحد) sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya berikut:

لاَ أَحَدَ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ

"Tidak ada satu pun yang lebih cemburu daripada Allah.” (HR. Bukhari)

Berbeda dengan al-Qurthubi, berdasarkan alasan yang telah disebutkan di atas Imam al-Khatthabi menolak redaksi tersebut dan menegaskan bahwa pastilah redaksi orang (syakhsun) dalam hadits itu tidak benar dan ia semata timbul karena kesalahan perawinya dalam meriwayatkan hadits tersebut secara maknawi. Ia berkata:

وَخَلِيقٌ أَنْ لَا تَكُونَ هَذِهِ اللَّفْظَةُ صَحِيحَةً، وَأَنْ تَكُونَ تَصْحِيفًا مِنَ الرَّاوِي

“Pasti redaksi ini tidak sahih dan merupakan penyelewengan dari perawinya”. (al-Baihaqi, al-Asmâ’ was-Shifât, vol. II, hal. 54)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menyebut Allah sebagai orang dalam percakapan sehari-hari tidaklah benar dan tidaklah berdasar. Bila menyebut Tuhan, hendaknya kata orang dihapus atau diganti dengan kata lain yang lebih cocok dengan kaidah penyucian Allah dari keserupaan seperti contoh di atas. Misalnya, kita bisa cukup berucap “tidak ada yang bisa menolongmu kecuali Allah”, “tidak ada penolong bagi kondisi ini kecuali Allah”, dan semacamnya. Wallahu A’lam.
 
 
Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center Jawa Timur. 
Kamis 1 Agustus 2019 20:0 WIB
Konsensus Ulama bahwa Allah Tidak Bertempat di Langit
Konsensus Ulama bahwa Allah Tidak Bertempat di Langit
Dalil yang sepintas mengindikasikan Allah berada di langit tak dapat dimaknai secara literal.
Ada sebagian kelompok yang mengklaim bahwa para ulama telah ijmak (membuat konsensus) bahwa Allah berada di langit dalam arti secara fisik bertempat di langit. Pernyataan bahwa Allah bertempat secara fisik di langit ini ada yang menyatakannya secara terang-terangan dan ada pula yang dinyatakan dengan samar tetapi maksudnya ke arah tersebut. Klaim tersebut disertai dengan mengutip ayat-ayat atau hadits yang secara literal mengindikasikan Allah di langit. 

Telah maklum bahwa keyakinan semacam itu tidak benar, bahkan menyesatkan sebab menyatakan bahwa Allah bertempat secara fisik sama saja dengan menyatakan bahwa Dzat Allah adalah jism (materi) yang menempati ruang tertentu. Hal ini merupakan kemustahilan sebab tak ada jism yang layak disembah karena seluruh jism pastilah dibuat dan dirancang oleh pihak lain. Bahasan ini telah dibahas berulang kali di kolom Ilmu Tauhid ini. 

Kali ini penulis akan menukil ijmak yang isinya justru para ulama dari berbagai kalangan sepakat seluruhnya bahwa dalil-dalil yang sepintas mengindikasikan Allah berada di langit itu tak dapat dimaknai secara literal tapi wajib ditakwil. Ini adalah bantahan terhadap klaim ijmak yang menyatakan bahwa Allah berada di langit dalam arti secara fisik bertempat di langit.

Imam Nawawi menukil pernyataan Qadli Iyadl (544 H), salah satu ulama ternama yang menjadi rujukan umat Islam, yang mengatakan:

قَالَ الْقَاضِي عِيَاضٌ لَا خِلَافَ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ قَاطِبَةً فَقِيهُهُمْ وَمُحَدِّثُهُمْ وَمُتَكَلِّمُهُمْ وَنُظَّارُهُمْ وَمُقَلِّدُهُمْ أَنَّ الظَّوَاهِرَ الْوَارِدَةَ بِذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى فِي السَّمَاءِ كَقَوْلِهِ تَعَالَى أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السماء أن يخسف بكم الأرض وَنَحْوِهِ لَيْسَتْ عَلَى ظَاهِرِهَا بَلْ مُتَأَوَّلَةٌ عِنْدَ جَمِيعِهِمْ

"Qadli Iyadl mengatakan: Tidak ada perbedaan di antara kaum muslimin secara pasti, baik ahli fikihnya, ahli haditsnya, ahli kalamnya, pemikirnya, dan pentaqlidnya bahwa makna-makna literal yang berasal dari ayat-hadits yang menyebutkan bahwa Allah di langit, seperti firman Allah "Apakah kalian merasa aman bahwa Yang di Langit tidak akan membuat kalian ditelan bumi?" dan semacamnya tidaklah dimaknai secara literal (tidak memakai makna dhahir), tapi semuanya ditakwil," (an-Nawawi, Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim, vol. V, hal. 24).

Takwil dalam konteks ini mencakup dua macam sikap, yakni: 

Pertama, takwil ijmali (takwil secara global) dengan cara menetapkan redaksi ayat dan hadits yang ada tanpa memberikan arti apa pun yang hanya akan mengarah pada anggapan Allah berupa jism. Jadi misalnya ada ayat yang menyatakan Allah di langit, maka juga dikatakan bahwa Allah di langit tetapi bukan dalam makna bertempat secara fisik dalam batasan ruang tertentu. Lalu apa maknanya? Ulama yang mengambil langkah ini menyatakan bahwa makna sesungguhnya hanya diketahui oleh Allah saja. Ini adalah langkah mayoritas ulama salaf yang memilih diam tak berkomentar terhadap ayat atau hadits yang membicarakan ini tetapi meyakini bahwa Allah bukanlah jism. 

Kedua, takwil tafshili (takwil secara terperinci) dengan cara menetapkan makna yang cocok bagi kesucian Allah sesuai dengan konteks ayat dan hadits. Jadi misalnya ada ayat yang menyatakan Allah di langit, maksudnya adalah kekuasaan Allah di langit, kerajaan Allah di langit, Allah Maha Tinggi kedudukannya, dan sebagainya. 

Kesemua ragam takwil ini menolak arti bahwa Allah punya tempat secara fisik, di mana pun itu, baik di langit mau pun di bumi apalagi di mana-mana. Bahkan Syekh Ibnu Taymiyah sekali pun yang seringkali mempropagandakan bahwa Allah di langit dalam suatu pernyataannya dengan jelas menolak pengertian “di langit” dalam arti bertempat secara fisik di langit. Berikut ini pernyataannya:

"السلف، والأئمة، وسائر علماء السنَّة إذا قالوا : " إنه فوق العرش " ، و " إنه في السماء فوق كل شيء " : لا يقولون إن هناك شيئاً يحويه ، أو يحصره ، أو يكون محلاًّ له ، أو ظرفاً ، ووعاءً ، سبحانه وتعالى عن ذلك

“Para Salaf, para Imam dan seluruh ulama sunnah ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Allah di atas langit” dan “Sesungguhnya Allah di langit di atas segalanya”, mereka tak bermaksud mengatakan bahwa ada sesuatu yang meliputi-Nya, mengepung-Nya, menjadi tempat bagi-Nya, atau menjadi wadah-Nya. Maha suci Allah dari hal itu,” (Ibnu Taymiyah, Majmu’ al-Fatawa, vol. XVI, hlm. 100).

Syekh Ibnu Taymiyah di atas memilih takwil ijmali yang hanya mengambil redaksi ayat dan hadits secara global tapi menolak makna literal sebagai “bertempat secara fisik” seperti halnya seluruh jism di dunia ini. Inilah akidah Ahlussunnah wal Jamaah yang telah disepakati seluruh ulama dari berbagai kalangan, seperti dinyatakan oleh Qadli Iyadl di atas. Wallahu a’lam.
 

Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember