IMG-LOGO
Trending Now:
Sirah Nabawiyah

Empat Kali Renovasi Ka’bah

Selasa 6 Agustus 2019 22:30 WIB
Share:
Empat Kali Renovasi Ka’bah
Ilustrasi Ka'bah (nytimes.com)
Ka’bah adalah bangunan berbentuk kubus yang menjadi pusat ibadah bagi seluruh umat Islam di seluruh dunia. Ia menjadi bangunan pertama yang didirikan atas nama Allah, untuk menyembah dan menyesakan-Nya. Maka Ka’bah kemudian dikenal dengan sebutan baitullah (rumah Allah) di bumi ini. 

Orang yang pertama kali mendirikan Ka’bah adalah Nabi Ibrahim as. Dibantu anaknya, Nabi Ismail as., Nabi Ibrahim as. mulai membangun Ka’bah sesuai dengan dengan perintah Allah. Hal ini dikisahkan dalam Al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat 127: “Dan ingatlah ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), ‘Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amal kami). Sungguh Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” 

Adapun bahan bangunan Ka’bah pada saat itu didatangkan dari lima gunung, yaitu gunung Thursina (gunung Sinai), Thurzita, Libnan, Judi, dan gunung Nur. Proses akhir pembangunan Ka’bah ditandai dengan peletakan Hajar Aswad di pojok tenggara Ka’bah. 

Seiring dengan berjalannya waktu, Ka’bah beberapa kali ditimpa bencana –seperti banjir dan kebakaran- hingga menyebabkan bangunan dan dindingnya rusak dan bahkan hancur. Setelah itu juga, Ka’bah dibangun kembali. Merujuk buku The Great Episodes of Muhammad saw. (Dr. Said Ramadhan al-Buthy, 2017), para ulama sepakat bahwa Ka’bah telah mengalami pembangunan atau rehabilitasi sebanyak empat kali.

Pertama, pembangunan Ka’bah dilakukan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Sesuai dengan QS al-Baqarah di atas, Nabi Ibrahim membangun Ka’bah atas perintah Allah. Ketika itu, Nabi Ibrahim meninggikan bangunan Ka’bah hingga 7 hasta, dengan panjang 30 hasta, dan lebar 22 hasta. Sementara pendapat lain menyebutkan kalau tinggi Ka’bah adalah 9 hasta. Saat itu, Ka’bah belum dilengkapi dengan atap.

Kedua, pembangunan Ka’bah dikerjakan kaum Quraisy. Beberapa tahun sebelum Muhammad diangkat menjadi Nabi, banjir bandang menerjang Makkah hingga menyebabkan sebagian dinding Ka’bah roboh. Kaum Quraisy kemudian membangun kembali Ka’bah yang rusak itu. Nabi Muhammad yang saat itu diperkirakan berusia 35 tahun juga ikut serta dalam pembangunan Ka'bah. Beliau mengangkut batu di atas pundaknya dengan beralaskan selembar kain. Ia bahkan sempat tersungkur ketika membawa batu-batu itu.

Ketika pembangunan selesai, suku-suku berselisih untuk menentukan suku mana yang paling berhak untuk meletakkan Hajar Aswad ke tempat asalnya. Nabi Muhammad mengusulkan agar Hajar Aswad ditaruh di atas selembar kain, sementara perwakilan dari suku-suku yang berselisih itu masing-masing memegang ujung kain untuk kemudian mengarahkan batu hitam itu ke tempatnya semula. Semua sepakat dengan usul Nabi Muhammad itu. 

Pada pembangunan kedua ini, Ka’bah ditinggikan hingga 18 hasta, namun panjangnya dikurangi menjadi sekitar 6,5 hasta (dari sebelumnya 30 hasta), mereka biarkan dalam area Hijir Ismail. Sebetulnya Nabi Muhammad ‘tidak sepakat’ dengan pembangunan Ka’bah yang dilakukan kaum Quraisy tersebut, karena mengubah posisi Ka’bah sebagaimana ketika dibangun Nabi Ibrahim. Namun Nabi Muhammad memilih untuk menahan ‘egonya’ atas kebenaran sejarah, dengan mendahulukan kepentingan masyarakat secara luas.

“Wahai Aisyah, jika bukan karena kaummu baru saja meninggalkan  jahiliyah, tentu mereka sudah kuperintahkan untuk menghancurkan Ka’bah agar kumasukkan ke dalamnya apa yang dikeluarkan darinya, kutempelkan (pintunya) ke tanah, kubuatkan baginya satu pintu di timur dan satu pintu di barat, dan aku akan menghubungkannya dengan dasar-dasar yang dibangun Ibrahim,” kata Nabi Muhammad kepada Sayyidah Aisyah mengenai pembangunan Ka’bah yang dilakukan kaum Quraisy itu. 

Ketiga, pembangunan Ka’bah pada masa Khalifah Yazid bin Muawiyah. Pada akhir tahun ke-36 H, pasukan Yazid bin Muawiyah di bawah komando al-Hushain bin Numair as-Sakuni menyerbu Abdullah bin Zubair dan pengikutnya di Makkah. Peperangan itu menyebabkan sebagian besar dinding Ka’bah roboh dan terbakar. 

Abdullah bin Zubair meminta saran kepada yang lainnya terkait dengan pembangunan Ka’bah, apakah dibangun bagian-bagian yang rusak saja atau diratakan semuanya baru kemudian dibangun kembali. Setelah menerima beberapa usulan, Abdullah bin Zubair akhir meratakan Ka’bah dengan tanah. Ia kemudian membangun tiang-tiang di sekelilingnya dan menutupinya dengan tirai.

Abdullah bin Zubair menambah bangunan Ka’bah 6 hasta, dari yang dulu dikurangi kaum Quraisy. Ia juga menambah tinginya 10 hasta dan membuat dua pintu; satu pintu untuk masuk dan satunya lagi untuk keluar. Dia berani melakukan ini, merombak bentuk dan pososo Ka’bah, karena mengikuti hadits Nabi Muhammad di atas.
 
Keempat, pembangunan Ka’bah dilakukan setelah Abdullah bin Zubari wafat. Setelah Abdullah bin Zubari terbunuh, al-Hajjaj melaporkan kepada Khalifah Dinasti Umayyah saat itu, Malik bin Marwan, bahwa Ibnu Zubair telah mendirikan pondasi Ka’bah yang diperselisihkan oleh para pemuka Makkah. 

“Kalau tinggi bangunan yang dia (Abdullah bin Zubair), biarkah saja. Namun, panjang bangunan itu yang meliputi Hijir Ismail, kembalikanlah seperti semula. Dan tutuplah pintu yang dia buka,” perintah Malik bin Marwan kepada al-Hajjaj. Al-Hajjaj kemudian meratakan dan membangun kembali Ka’bah seperti sebelum Abdullah bin Zubair mengubahnya. 

Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa pembangunan Ka’bah dilakukan sebanyak lima kali. Pembangunan pertama dikerjakan oleh Nabi Adam as. Pendapat ini didasarkan pada riwayat al-Baihaqi dari Abdullah bin Umar. Di situ disebutkan bahwa Nabi Adam diperintahkan Allah untuk membangun rumah bagi-Nya. Akan tetapi, riwayat ini dhaif karena salah satu rawinya, Ibnu Luha’iah adalah perawi yang dhaif dan tidak bisa dijadikan hujjah. Pendapat lain menyebut kalau orang yang pertama kali membangun Ka’bah adalah Nabi Syits as. Namun, lagi-lagi riwayat ini dhaif. Waallahu ‘Alam (Muchlishon) 
Share:
Selasa 6 Agustus 2019 21:0 WIB
Kala Nabi Muhammad Memerah Susu untuk Keluarga Khabab
Kala Nabi Muhammad Memerah Susu untuk Keluarga Khabab
Ilustrasi.
“…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan…” (QS. al-Maidah: 2) 
 
Nabi Muhammad adalah suri teladan dalam segala hal, termasuk urusan tolong-menolong. Beliau tidak segan-segan memberikan pertolongan kepada para sahabatnya, terutama mereka yang tengah membutuhkan bantuan. Jenis bantuan yang diberikan Nabi Muhammad pun bermacam-macam, sesuai dengan kebutuhan sahabatnya. 

Salah satu bentuk pertolongan Nabi Muhammad adalah memerah susu untuk memenuhi keluarga sahabatnya, Khabab bin Art. Dikisahkan putri Khabab, suatu ketika ayahnya tidak ada di rumah selama beberapa hari karena tengah menjalankan tugas pengintaian –dan sekaligus berperang. Nabi Muhammad yang mengetahui hal itu berjanji kepada keluarga Khabab akan mencukupi segala kebutuhannya. 

Nabi Muhammad kemudian memerah susu kambing milik keluarga Khabab dan menaruhnya dalam sebuah bejana yang besar hingga penuh. Hal ini dilakukan Nabi Muhammad hingga Khabab pulang dari pengintaian dan peperangan. Setelah Khabab selesai menjalankan tugas, pekerjaan memerah susu diambil alih lagi olehnya. Demikian keterangan dalam buku Akhlak Rasul Menurut Al-Bukhari dan Muslim (Abdul Mun’im al-Hasyimi, 2018).

Apa yang dilakukan Nabi Muhammad itu menjadi inspirasi bagi para sahabatnya. Abu Bakar as-Shiddiq misalnya. Dia kerap kali membantu orang-orang yang kaum lelakinya pergi untuk berdagang ataupun berperang. Abu Bakar membantu mereka dengan cara memerahkan susu kambing milik mereka. Persis seperti yang dilakukan Nabi Muhammad kepada Khabab. 

Pada saat Abu Bakar diangkat menjadi Khalifah pertama, menggantikan Nabi Muhammad, ada seorang perempuan berkata bahwa tidak akan ada lagi orang yang membantunya memerah susu miliknya. Mendengar hal itu, Abu Bakar menegaskan bahwa dirinya akan terus membantu mencukupi kebutuhan penduduk suatu kampung yang ditinggal kaum lelakinya. Yakni dengan cara memerah susu kambing atau unta milik mereka.

“Saya berharap kondisiku sekarang ini tidak mengubah sedikitpun apa yang biasanya saya lakukan,” kata Abu Bakar setelah menjadi Khalifah, menggantikan posisi Nabi Muhammad.
 
Umar bin Khattab juga melakukan hal yang sama. Dia biasa membantu para janda tua yang tidak kuat melakukan pekerjaan kasar lagi. Yaitu dengan menyediakan air untuk mereka pada malam hari. Cerita Umar bin Khattab ini diungkapkan Thalhah bin Ubaidillah. Suatu ketika Thalhah melihat Umar bin Khattab masuk ke rumah seorang wanita tua yang lumpuh. Keesokan harinya, Thalhah bertanya kepada wanita tersebut perihal apa yang dilakukan Umar di dalam rumahnya pada malam hari itu. 

“Dia telah berjanji padaku untuk memberikan sesuatu yang bisa memperbaiki kondisiku dan melepaskanku dari kesulitan yang aku alami ini,” kata wanita tersebut. 

Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad menegaskan bahwa perumpamaan seorang mukmin dengan mukmin lainnya adalah bagaikan bangunan yang saling menopang antara satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, sudah sepatutnya seorang mukmin membantu mukmin lainnya dalam hal kebaikan, terlebih jika mereka dalam keadaan yang membutuhkan. 

Membantu orang lain memang bukan hanya berupa melakukan pekerjaan orang tersebut, tapi juga bisa berupa yang lainnya seperti memberinya materi. Dan Nabi Muhammad memberikan bantuan kepada para sahabatnya dengan segala bentuk pertolongan. Mulai dari tenaga hingga materi. (Muchlishon)
Senin 5 Agustus 2019 21:0 WIB
Air Zamzam dan Pembelahan Dada Nabi Muhammad
Air Zamzam dan Pembelahan Dada Nabi Muhammad
Ilustrasi.
“Atap rumahku terbuka –saat aku di Makkah- Jibril as. lalu turun dan membuka dadaku. Kemudian ia membersihkan dadaku dengan air zamzam. Lalu, ia membawa baskom emas yang penuh hikmah dan iman. Setelah itu, ia meraih tanganku dan mengajakku naik ke langit yang bawah,” kata Nabi Muhammad dalam sebuah hadits riwayat Bukhari.

Zamzam merupakan kata dari bahasa Arab yang memiliki makna melimpah atau yang banyak. Nama zamzam selalu merujuk pada sumber mata air yang memancar 'akibat injakan' Nabi Ismail as. Mata air tersebut berada di sekitar Ka’bah dan tidak pernah kering. Ia menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat sekitarnya.

Umat Islam  meyakini bahwa air zamzam berbeda dengan air lainnya. Ia memiliki keistimewaan dan kemuliaan yang tidak dimiliki air-air lainnya. Saking istimewanya, malaikat Jibril bahkan menggunakan air zamzam untuk membersihkan dada Nabi Muhammad. Merujuk buku Air Zamzam Mukjizat yang Masih Terjaga (Said Bakdasy, 2015), Jibril as. membelah dada Nabi Muhammad dan membersihkannya dengan menggunakan air zamzam sebanyak empat kali.

Pertama, saat Nabi Muhammad berusia empat tahun dan masih tinggal bersama dengan ibu susunya, Sayyidah Halimah as-Sa’diyah, di kampung Bani Sa’d. Ketika itu Jibril as. mendatangi Muhammad kecil waktu dia sedang bermain dengan teman-temannya. Jibril as. kemudian membelah dada Muhammad kecil.

“Ini adalah bagian setan darimu,” kata Jibril as., kemudian meletakkan hati Nabi Muhammad itu di atas nampan emas dan  membersihkannya dengan menggunakan air zamzam. Setelah selesai, Jibril mengembalikan hati Nabi Muhammad seperti sedia kala. 
 
Sementara itu, teman-teman se-permainan Muhammad kecil lari terbirit-birit. Mereka mengadu kepada Halimah as-Sa’diyah perihal apa yang terjadi pada Muhammad kecil. Halimah kemudian mendatangi tempat dimana Muhammad kecil berada. Ia langsung memeluk erat tubuh anak susuannya yang tengah menggigil ketakutan dan pucat wajahnya.
 
Kedua, ketika Nabi Muhammad berusia 10 tahun. Ketika mendekati usia taklif (mukallaf), dada Nabi Muhammad juga dibelah lagi. Hatinya dibersihkan malaikat Jibril as. dengan air zamzam agar tidak tercampur dengan hal-hal yang dapat membuat seorang pemuda cacat.

Ketiga, ketika Jibril as. membawa wahyu pengangkatan nabi atau saat usia Nabi Muhammad 40 tahun. Hikmah di balik pembelahan ketiga ini adalah agar Nabi Muhammad mampu menerima wahyu dengan hati yang kuat, bersih, dan diridhai. Keempat, ketika Isra Mi’raj. Sesuai dengan hadits riwayat Bukhari di atas, Jibril as. membelah dada Nabi Muhammad dan membersihkan hatinya sebelum mengajaknya naik ke langit untuk Mi’raj. 

Selain menambah kemuliaan Nabi Muhammad, peristiwa pembelahan juga dimaksudkan untuk menambah kekuatan dan kesiapan Nabi Muhammad dalam menerima apa yang diwahyukan kepadanya dengan hati yang kuat. Di samping itu, hikmah lain dari pembelahan dan pembersihan dengan air zamzam adalah agar Nabi Muhammad memiliki kesiapan ketika berhadapan dengan Allah dan bermunajat kepada-Nya. 

Demikianlah Allah mengkhususkan air zamzam dari air lain-lainnya. Yakni dengan menjadikannya sebagai air untuk membersihkan hati kekasih-Nya, hati Nabi Muhammad. Bukankah hati manusia paling mulia hanya akan dibersihkan dengan air yang paling mulia juga? (Muchlishon)
Senin 5 Agustus 2019 6:0 WIB
Mereka Menuntut Balas Nabi karena Pernah Disakiti
Mereka Menuntut Balas Nabi karena Pernah Disakiti
Ilustrasi.
Nabi Muhammad adalah manusia, tapi tidak seperti manusia pada umumnya. Ia dijaga Allah dari melakukan perbuatan maksiat dan hal-hal yang dilarang (ma’shum). Nabi juga sangat hati-hati dalam mengeluarkan kata-kata dan melakukan tindakan agar tidak menyakiti orang lain. Meski demikian, ada dua orang sahabatnya yang merasa tersakiti dengan tindakan yang pernah dilakukan Nabi Muhammad.

Pertama, Usaid bin Hudhair. Usaid adalah anak dari pemimpin kabilah Aus, Hudhair al-Kata’ib. Ia memeluk Islam di tangan Mus’ab bin Umari, sang duta besar Islam di Madinah. Selain berani dan dermawan, Usaid juga dikenal murah senyum dan ramah. 

Suatu ketika, Usaid bersama dengan Nabi Muhammad dan para sahabat lainnya dalam sebuah majelis. Ketika itu, ia menceritakan suatu kisah hingga membuat orang-orang yang ada di majelis Nabi tertawa. Nabi Muhammad kemudian mencolek lambung Usaid. Sang sahabat merasa tersakiti dengan apa yang dilakukan Nabi Muhammad.  

“Lakukan pembalasan setimpal terhadapku,” kata Nabi Muhammad, meminta Usaid membalasnya, seperti dikutip dari buku Hayatush Shahabah (Syaikh Muhammad Yusuf Al-Kandhlawi, 2019).

Namun Usaid tidak langsung membalas Nabi Muhammad. Kata Usaid, dirinya tidak mengenakan gamis ketika Nabi mencolek lambungnya hingga terasa sakit, sementara saat itu Nabi mengenakan gamis. Oleh karena itu, ia meminta Nabi untuk melepaskan gamisnya agar pembalasannya setimpal. 

Nabi menuruti permintaan Usaid. Beliau kemudian mengangkat gamisnya. Melihat kondisi Nabi Muhammad seperti itu, Usaid langsung mendekat dan mengecup bagian samping tubuhnya. “Demi ayah dan ibuku, wahai Rasulullah, inilah yang kuinginkan,” kata Usaid. 

Usaid adalah salah seorang sahabat yang begitu cinta dan setia kepada Nabi Muhammad. Pada saat Perang Uhud, dia terkena tujuh luka dan tetap bersama Nabi Muhammad di saat pasukan Muslim terdesak. Maka tidak mengherankan jika dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad begitu memuji Usaid. Kata Nabi, ‘Sebaik-baik orang laki-laki adalah Usaid bin Hudhair.’

Kedua, Sawad bin Ghaziyah. Sawad adalah salah seorang ahli badar. Sama seperti Usaid, Sawad bin Ghaziyah juga merasa tersakiti dengan apa yang pernah dilakukan Nabi Muhammad kepadanya. Pada saat Perang Badar, Nabi Muhammad menata barisan pasukannya dengan anak panah. Semuanya sudah lurus, kecuali Sawad bin Ghaziyah. Nabi Muhammad kemudian menohok perut Sawad dan menyuruhnya untuk meluruskan diri. 

“Wahai Rasulullah engkau telah menyakitiku, padahal Allah mengutusmu membawa kebenaran dan keadilan,” kata Sawad yang saat itu tidak mengenakan baju. 

Dia kemudian menuntut balas kepada Nabi Muhammad. Agar setimpal, Sawad meminta Nabi melepaskan bajunya. Nabi Muhammad menuruti permintaan Sawad hingga terlihat kulit tubuhnya yang bersih dan putih. Seketika itu, Sawad langsung merangkul dan mengecup perut Nabi Muhammad. 

Nabi Muhammad bertanya-tanya mengapa Sawad melakukan itu. Bukankah dia seharusnya memukul tubuhnya, sebagai qishash atas apa yang telah dilakukannya terhadap Sawad pada saat Perang Badar tersebut. 

“Wahai Rasulullah, telah terjadi apa yang kau lihat. Aku ingin pada akhir hidupku bersamamu, kulitku bisa menyentuh kulitmu,” kata Sawad. Nabi Muhammad lantas mendoakan kebaikan untuk Sawad. 

Riwayat lain menyebutkan bahwa Sawad menuntut balas ketika Nabi Muhammad kembali ke Madinah setelah selesai melaksanakan haji wada di Makkah. Tidak langsung pada saat Perang Badar seketika itu juga. Waallahu ‘Alam. (Muchlishon)