IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Tauhid

Dalil-dalil bahwa Kalam Tak Selalu Berupa Suara

Rabu 7 Agustus 2019 15:0 WIB
Share:
Dalil-dalil bahwa Kalam Tak Selalu Berupa Suara
Ilustrasi
Di antara aqidah Ahlussunnah wal  Jama’ah (Asy’ariyah-Maturidiyah) adalah meyakini bahwa sifat kalamullah atau firman Allah tidaklah berupa suara dan huruf, meskipun kemudian ditransmisikan antarmakhluk dengan perantara suara dan huruf. Aqidah ini dikritik oleh sebagian kalangan yang menganggap bahwa yang namanya kalam atau perkataan pastilah dengan suara dan huruf. Kalau tak berupa suara dan huruf, maka menurut mereka berarti bukan kalam. Kritik ini telah dibahas dan dijawab dengan dalil rasional dalam bahasan sebelumnya.

Pada artikel ini penulis akan menukil dalil-dalil naqlî yang dipakai oleh para ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah yang membuktikan bahwa kalam tak selalu harus berupa suara dan huruf. Dan, ini sebenarnya terjadi sehari-hari dan disinggung dalam Al-Qur’an sehingga keberadaan kalam tanpa suara ini tak perlu diherankan. 

Berikut ini adalah dalil-dalilnya yang disarikan dari kitab al-Inshâf karya Imam al-Baqillani. Allah berfirman:

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ 

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu (Muhammad), mereka berkata, “Kami mengakui, bahwa engkau adalah Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar Rasul-Nya; dan Allah menyaksikan bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.” (QS. al-Munafiqun: 1)

Orang-orang munafik dianggap berdusta di ayat tersebut sebab perkataan di mulut mereka tak sama dengan perkataan di dalam hati mereka yang tanpa menggunakan suara dan huruf. Ini menjadi bukti bahwa perkataan manusia pun ada yang tidak memakai suara dan huruf, yakni suara hati mereka. Adanya perkataan dalam hati yang tanpa suara dan huruf ini ditegaskan dalam berbagai ayat lain di Al-Qur’an, misalnya:

وَيَقُولُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ لَوْلَا يُعَذِّبُنَا اللَّهُ بِمَا نَقُولُ 

“Dan mereka mengatakan dalam diri mereka sendiri, “Mengapa Allah tidak menyiksa kita atas apa yang kita katakan itu?” (QS. al-Mujadilah: 8).

وَإِنْ تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى 

“Dan jika engkau mengeraskan ucapanmu, sungguh, Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi” (QS. Thaha: 7).

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ  

“Ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya” (QS. al-Baqarah: 235).

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ 

“Barangsiapa kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan” (QS. an-Nahl: 106).

Seluruh ayat di atas mengisyaratkan adanya perkataan dalam hati atau dalam benak manusia yang diketahui dan dinilai oleh Allah sebagaimana perkataan di mulut. Bahkan perkataan dalam hati itulah yang menjadi patokan utama sehingga orang yang berkata baik di mulut saja dianggap munafik bila hatinya berkata lain. Sebaliknya, orang yang dipaksa mengatakan kekufuran tetap dianggap beriman bila hatinya tidak ikut mengatakan hal yang sama tetapi tetap pada keimanan. Ini menjadi bukti bahwa secara syariat, perkataan dalam hati adalah perkataan yang hakikat sedangkan suara di mulut hanyalah sekedar sarana agar orang lain paham terhadap apa yang di dalam hati itu. Para teolog Aswaja menyebut perkataan dalam hati ini dengan istilah kâlâm nafsî, hadîts nafsî, kâlâm nafsâni, dan yang semakna dengan itu.

Dalam hadits juga bisa ditemui dalil serupa, misalnya Sabda Rasulullah ﷺ:

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ، وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قَلْبِهِ، لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ، وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ

“Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya tetapi iman belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian menggunjing kaum muslim dan jangan menyelidiki aib mereka.” (HR. Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman)

Hadits tersebut menegaskan bahwa perkataan berupa suara dan perkataan dalam hati adalah dua hal yang berbeda dan sama-sama nyata meski pun yang satu tanpa suara. Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ bersabda:

النَّدَمُ تَوْبَةٌ

“Penyesalan adalah taubat” (HR. Ahmad)

Penyesalan yang tak lain berupa pernyataan-pernyataan kekecewaan dalam diri terhadap maksiat yang telah dilakukan dianggap sebagai taubat oleh Nabi Muhammad ﷺ meskipun pernyataan penyesalan tidak berupa suara dan huruf.

Demikian juga dari atsar sahabat didapati pernyataan Sayyidina Umar yang berkata: هيأت في نفسي كلاما (aku mempersiapkan kalam/perkataan dalam hatiku) (Ibnu Hajar, Fath al-Bâry, vol. XIII, hal. 458). Sayyidina Umar menyebut ucapan dalam hatinya sebagai kalam, meskipun tanpa suara dan huruf. 

Adanya ucapan hati (kâlâm nafsî ) yang tak berupa suara dan huruf ini tidak hanya berlaku bagi manusia sebagaimana ayat dan hadits di atas, bahkan pada Allah pun dinyatakan ada yang semacam ini meskipun tentu berbeda secara hakikatnya sebab manusia adalah jisim sedangkan Allah bukan. Dalam sebuah hadits di sebutkan:

فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي

“Bila hambaku menyebutku dalam hatinya maka aku akan menyebutnya dalam diriku” (HR Bukhari).

Dari kesemua dalil di atas dapat disimpulkan bahwa bila kalam manusia saja tak selalu berupa suara dan huruf, maka tak ada satu pun alasan untuk mengatakan bahwa kalamullah pasti berupa suara dan huruf. Anggapan bahwa kalamullah pasti berupa suara dan huruf hanya timbul dari pikiran yang menyamakan mekanisme kalam Allah dengan kalam manusia sehari-hari tatkala mengobrol satu sama lain. Ini pemikiran yang menyimpang.

Perbedaannya dalam kasus manusia dan Allah adalah pembicaraan manusia dalam hatinya tak bisa ditangkap dan dipahami oleh manusia lain sehingga orangnya dianggap diam membisu bila hanya berbicara dalam hati. Sedangkan kalam Allah yang tanpa suara itu bisa ditangkap dan dipahami dengan baik oleh siapa pun yang Allah kehendaki sehingga tak bisa dikatakan bahwa Allah membisu tak berkalam. Dari sisi lain, ucapan orang bahkan yang hanya terucap di dalam hatinya sekali pun diketahui dengan jelas oleh Allah seperti dinyatakan dalam banyak ayat. Dengan demikian bisa terjadi komunikasi antara Allah dan para utusan yang dikehendaki-Nya. Wallahu a'lam.
 
 
Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center Jawa Timur.
Share:

Baca Juga

Selasa 6 Agustus 2019 20:0 WIB
Apakah Allah Bersuara ketika Menyampaikan Wahyu? (II-Habis)
Apakah Allah Bersuara ketika Menyampaikan Wahyu? (II-Habis)
Ilustrasi (Shutterstock)
Setelah dalam bahasan sebelumnya dijelaskan bahwa menurut mazhab Ahli Hadits Allah tak bersuara sebab tak mungkin Dzat Allah memproduksi suara atau apa pun, maka biasanya timbul pertanyaan lanjutan seperti berikut: Bagaimana bila dikatakan bahwa suara Allah adalah qadim (ada tanpa awal mula) sehingga mutlak berbeda dengan suara makhluk? Dan bagaimana pula dengan salah satu hadits yang menyebutkan bahwa Allah memanggil manusia dengan suara?

Pernyataan bahwa suara Tuhan berbeda secara mutlak dengan suara makhluk sehingga tidak bersifat seperti suara pada umumnya yang bersumber dari getaran, butuh media untuk merambat, bisa dipantulkan, bisa dihalangi dan seterusnya, atau pernyataan bahwa suara Tuhan adalah suara yang qadim berbeda dengan suara makhluk, statemen semacam ini sama sekali tak bisa dipahami sebab suara yang didengar telinga manusia hanyalah yang bersifat bersumber dari getaran, butuh media untuk merambat, bisa dipantulkan, bisa dihalangi dan seterusnya itu. Bila output adanya suara Tuhan itu adalah untuk didengar telinga makhluk, maka tidak bisa tidak haruslah berupa suara biasa yang bisa didengar makhluk.

Imam al-Baqillani menyatakan sebagai berikut:

ونحن لا نسمع إلا صوتاً مثل هذه الأصوات، ولا نرى حرفاً ولا نسمعه إلا مثل هذه الحروف؛ وهذا القول يوجب أن لا يكون عندنا قرآن بالجملة أو يؤدي إلى أن يكون هذا القرآن بهذه الحروف والأصوات المعروفة غير ذلك القرآن الذي هو بحروف وأصوات قديمة، لا تشبه هذه الحروف والأصوات، والجميع فاسد باطل

“Kita tidak mendengar suara kecuali seperti suara yang ada ini dan tak melihat huruf dan tak mendengarnya kecuali huruf-huruf ini. Pendapat [yang mengatakan bahwa suara dan huruf Tuhan adalah qadim] ini berarti mengatakan kita tak punya al-Qur’an. Dan, secara global berkonsekuensi mengatakan bahwa al-Qur’an yang ada dengan huruf dan suara yang dikenal ini bukanlah al-Qur’an yang memakai suara dan huruf yang qadim itu yang tidak menyerupai suara huruf ini. Semuanya adalah salah.” (al-Baqillani, al-Inshâf: 162).

Soal suara dan huruf ini, nalar para tokoh yang mengatakan bahwa Allah bersuara sebenarnya sama persis dengan nalar Muktazilah yang menolak keberadaan kalamullah. Keduanya meyakini bahwa sifat kalâm pastilah berupa suara dan huruf. Hanya saja Muktazilah konsisten kemudian menolak adanya sifat kalam dari Dzat Allah dengan alasan tiap suara dan huruf pastilah makhluk. Muktazilah berdalil memakai realita tetapi mengabaikan nash yang menyatakan bahwa Allah berkalam. Adapun tokoh yang mengatakan bahwa Allah bersuara tetapi suaranya berbeda sifat sejatinya tidak konsisten karena menetapkan adanya suara bagi Dzat Allah yang bisa didengar manusia, tetapi mengatakan bahwa suara itu bukan makhluk seolah di dunia ini ada suara yang bukan makhluk. Mereka memakai nash yang menetapkan adanya kalam, tapi mengabaikan realita bahwa semua jenis suara pasti makhluk. Keduanya tidak tepat. 

Adapun salah satu hadits riwayat Imam Bukhari yang sepintas menyatakan bahwa di hari kiamat nanti Allah memanggil manusia dengan bersuara (bishautin), maka para ulama pakar hadits berbeda dalam menyikapinya. Sebagian, seperti Imam al-Baihaqi, meragukan validitas tambahan redaksi “dengan suara” tersebut sebab hadits lainnya tidak memakai tambahan tersebut. Dalam salah satu pernyataannya, Imam al-Baihaqi menganggap tambahan itu hanyalah redaksi dari perawi semata. Sebagian lain, seperti Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, menganggapnya valid secara sanad sehingga harus diterima tetapi dengan catatan wajib dipasrahkan maknanya pada Allah semata (di-tafwîdh) atau ditakwil (Ibnu Hajar, Fath al-Bâry, vol. XIII, hal. 458). Kedua pendapat ini meniscayakan bahwa kata “suara” di hadits itu bukan berarti bahwa Allah bersuara. 

Di antara takwilan redaksi “dengan suara” itu adalah seperti dinyatakan oleh Imam Badruddin al-Aini dalam Syarah Bukhari-nya sebagaimana berikut:

قَوْله: (فيناديهم بِصَوْت) قَالَ القَاضِي الْمَعْنى يَجْعَل ملكا يُنَادي، أَو يخلق صَوتا ليسمعه النَّاس، وَأما كَلَام الله تَعَالَى فَلَيْسَ بِحرف وَلَا صَوت

“Perkataan Nabi: ‘kemudian ia memanggil mereka dengan suara’, al-Qadli mengatakan: Maknanya adalah Allah menjadikan seorang malaikat yang memanggil atau Allah menciptakan suara (bukan mengucapkan suara) agar didengar manusia. Ada pun sifat kalamullah ta’ala maka bukan berupa huruf dan suara.” (Badruddin al-Aini, Umdat al-Qâry, vol. II, hal. 74)

Wallahu a'lam.
 

Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center Jawa Timur.
Selasa 6 Agustus 2019 9:0 WIB
Apakah Allah Bersuara ketika Menyampaikan Wahyu? (I)
Apakah Allah Bersuara ketika Menyampaikan Wahyu? (I)
Ilustrasi
Semua ulama Ahlussunnah wal Jama’ah dari berbagai golongan sepakat bahwa Allah subhanahu wata’ala berwahyu kepada para malaikat dan rasul. Wahyu ini disampaikan dengan sifat kalam (firman). Ulama Asy’ariyah menggolongkan sifat kalam sebagai salah satu sifat wajib dalam arti sifat yang mutlak pasti dimiliki Tuhan. Yang bisu tak berkalam tak mungkin dianggap Tuhan. 

Dalam berbagai ayat disebutkan secara jelas bahwa Allah berkalam (berfirman), misalnya ayat berikut:

وَكَلَّمَ اللهُ مُوسَى تَكْلِيمًا

“Allah berfirman secara langsung pada Musa” (QS. an-Nisa’: 164)

Setelah adanya kalam sebagai sifat Allah disepakati, lantas ada pertanyaan lanjutan, yakni apakah kalamullah atau firman Allah itu berupa suara? Lumrahnya kalam manusia satu sama lain memakai suara sehingga terjadi percakapan, apakah Allah juga demikian? 

Dalam menjawab pertanyaan itu, sebagian kecil tokoh yang tampak kurang teliti menjawab bahwa kalam Allah berupa suara biasa yang didengar telinga manusia. Syaikh Utsaimin misalnya, ia berkata:

فَكَلاَمُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لِمُوْسَى كَلاَمٌ حَقِيْقِيٌّ, بِحَرْفٍ وَصَوْتٍ سَمِعَهُ, وَلِهَذَا جَرَّتْ بَيْنَهُمَا مُحَاوَرَةٌ.

“Kalamullah yang Maha Agung kepada Musa adalah ucapan yang sebenarnya, dengan huruf dan suara yang didengar oleh Musa. Karena inilah, maka terjadilah percakapan antara keduanya. (Ibnu Utsaimīn, Syarh Aqîdah al-Wâsithiyah, vol. I, hal. 421)

Jawaban semacam ini dianggap sebuah kesalahan besar oleh para ulama yang teliti dan ahli dalam bidang teologi. Kalimat “ucapan yang sebenarnya, dengan huruf dan suara” adalah redaksi yang tak didukung oleh satu pun ayat atau hadits sahih. Yang valid hanyalah soal Allah berfirman, tanpa menyebutkan suara dan huruf dalam makna yang tiap hari digunakan manusia untuk berkomunikasi satu sama lain. 

Imam al-Qasthalani dalam syarahnya terhadap Shahih Bukhari menjelaskan bagaimana mazhab Ahli Hadits dalam hal ini:

ولم يختلف في ذلك أحد من أرباب المِلَل والمذاهب وإنما الخلاف في معنى كلامه وقدمه وحدوثه، فعند أهل الحديث أن كلامه ليس من جنس الأصوات والحروف بل صفة أزلية قائمة بذاته تعالى منافية للسكوت الذي هو ترك التكلم مع القدرة عليه

“Tidaklah berbeda dalam hal itu (adanya kalamullah) satu pun dari berbagai sekte dan mazhab. Perbedaan pendapat hanyalah dalam hal makna kalamullah, tidak-berawalnya kalamullah, dan kebaruannya. Adapun menurut para Ahli Hadits bahwasanya kalamullah tidaklah berupa jenis suara dan huruf tetapi merupakan sifat yang ada tanpa awal mula (azali) yang berada pada Dzat Allah Ta’ala yang meniadakan adanya diam yang nota bene meninggalkan kalam padahal mampu.” (al-Qasthalani, Irsyâd as-Sâry, vol. X, hal. 428)

Mengapa mazhab Ahli Hadits justru menafikan kemungkinan Allah bersuara? Jawabannya antara lain: Karena suara dan huruf hanya bisa muncul dari jism sehingga mengatakan Allah bersuara sama saja dengan mengatakan Dzat Allah adalah jism. Selain itu, suara dan huruf adalah sesuatu yang mengalami perubahan dan berupa susunan, ini adalah bukti bahwa suara adalah makhluk (hudûts). Adalah sebuah kemustahilan bila Dzat Allah melahirkan makhluk. Dalam surat al-Ikhlas dinyatakan bahwa Allah tidak melahirkan dan tidak pula dilahirkan. Imam al-Sanusi menjelaskan bahwa kalimat “tidak melahirkan” dalam surat tersebut maksudnya adalah Dzat Allah yang Maha Mulia tidak mengeluarkan eksistensi apa pun dari dirinya. (Abu Abdillah al-Sanusi, Syarh Umm al-Barâhîn, 24). Jadi, Dzat Allah tak melahirkan apa pun tanpa kecuali, termasuk di antaranya suara.

Ilmu modern menetapkan bahwa hakikat suara itu adalah gelombang getar dalam frekuensi tertentu yang mengalir melalui media yang dapat dikompresi, semisal udara dan air, atau melalui media benda padat dengan mode propagasi (proses pengiriman). Suara selalu membutuhkan benda fisik yang bergetar sebagai sumber gelombangnya dan selalu membutuhkan media semisal udara atau air untuk sampai pada tempat lain. Suara juga dapat dihalangi dengan media lain yang mencegah sampainya gelombang getar itu atau mengurangi efeknya. Karakter suara seperti ini berlaku universal dalam arti tidak ada satu pun suara yang tidak demikian meskipun bunyinya berbeda-beda.

Sekarang, layakkah suara disebut sebagai salah satu hal yang keluar dari Dzat Allah? Tentu sangat tidak layak. Menetapkan suara bagi Allah sama saja dengan mengatakan bahwa Dzat Allah dapat mengeluarkan gelombang getar. Sama juga dengan mengatakan bahwa sifat Allah membutuhkan media untuk bisa terwujud. Sama juga dengan mengatakan bahwa sifat Allah dapat mengalami propagasi (proses pengiriman) yang berupa pembiasan, pemantulan dan lain-lain. 

Lalu bagaimana wahyu disampaikan bila tanpa suara? Jawabannya dengan ilham yang langsung dapat dipahami para utusan, seperti dijelaskan Imam Ibnu Hajar berikut:

وَهَذَا حَاصِلُ كَلَامِ مَنْ يَنْفِي الصَّوْتَ مِنَ الْأَئِمَّةِ وَيَلْزَمُ مِنْهُ أَنَّ اللَّهَ لَمْ يُسْمِعْ أَحَدًا مِنْ مَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ كَلَامَهُ بَلْ أَلْهَمَهُمْ إِيَّاهُ

“Ini adalah konklusi pendapat para imam yang menafikan adanya suara dari Allah. Konsekuensinya, bahwa Allah tidaklah memperdengarkan kalam-Nya [dalam bentuk suara] pada satu pun malaikat dan rasul-Nya, tetapi mengilhamkannya pada mereka.” (Ibnu Hajar, Fath al-Bâry, vol. XIII, hal. 458)

Bersambung... 
 

Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center Jawa Timur.

 
Senin 5 Agustus 2019 9:0 WIB
Bolehkah Menyebut Allah Orang?
Bolehkah Menyebut Allah Orang?
Ilustrasi
Terkadang dalam obrolan sehari-hari ada yang mungkin saja tanpa sengaja menyebut Allah sebagai orang, misalnya dengan berkata: "tidak ada orang yang bisa menolongmu kecuali Allah " atau "Allah adalah orang yang yang bisa menyelamatkanmu". Bahkan penyebutan Allah sebagai “orang” ini juga bisa ditemui dalam sebuah hadits sahih. Dalam perspektif ilmu tauhid bolehkah menyebut Allah sebagai "orang"?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata orang bermakna manusia. Dengan demikian menyebut Allah sebagai orang adalah sama dengan menyebutnya sebagai manusia. Dari sini sudah tampak bahwa sebutan ini salah bila disematkan pada Allah.

Adapun kata orang dalam bahasa Arab adalah syakhsun (شخص). Menurut Imam al-Qurthubi, sebagaimana dinukil oleh Imam Ibnu Hajar, kata syakhshun atau orang secara bahasa adalah badan manusia dan jism-nya (جِرْمِ الْإِنْسَانِ وَجِسْمِهِ) kemudian kata ini dipakai untuk merujuk semua hal yang tampak atau dhahir. Karena itu, Imam al-Qurthubi dengan tegas menyatakan bahwa makna ini tidak mungkin disematkan pada Allah dan seluruh teks hadits yang memakai ini wajib ditakwil dengan makna yang benar, misalnya redaksi “tak seorang pun” dimaknai “tak satu pun.” (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bâry, vol. XIII, hal. 401-402). 

Senada dengan al-Qurthubi, jauh sebelumnya Imam Sulaiman al-Khatthabi sebagaimana dinukil oleh Imam al-Baihaqi mengatakan hal yang serupa. Ia menyatakan:

إِطْلَاقُ الشَّخْصِ فِي صِفَةِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ غَيْرُ جَائِزٍ، وَذَلِكَ لِأَنَّ الشَّخْصَ لَا يَكُونُ إِلَّا جِسْمًا مُؤَلَّفًا، وَإِنَّمَا سُمِيَّ شَخْصًا مَا كَانَ لَهُ شُخُوصٌ وَارْتِفَاعٌ، وَمِثْلُ هَذَا النَّعْتِ مَنْفِيُّ عَنِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

“Memutlakkan kata orang dalam sifat Allah Yang Maha Suci tidaklah diperbolehkan. Hal itu karena orang tidak dipakai kecuali untuk jism yang tersusun. Sesuatu hanya disebut orang apabila ia mempunyai penampakan dan kemunculan fisik. Yang bersifat seperti ini ditiadakan dari Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi.” (al-Baihaqi, al-Asmâ’ was-Shifât , vol. II, hal. 54).

Adapun beberapa redaksi hadits yang memakai kata orang (syakhsun) untuk Allah, misalnya hadits riwayat Muslim berikut:

وَلَا شَخْصَ أَغْيَرُ مِنْ اللهِ

“Tidak ada orang yang lebih cemburu daripada Allah”. (HR. Muslim)

Makna hadits itu menurut para ulama tidaklah bisa dipahami bahwa Allah adalah orang atau manusia. Di poin ini al-Qurthubi dan lain-lain tampak menerima keabsahan redaksi tersebut tetapi mewajibkannya untuk ditakwil dengan makna lain yang lebih sesuai sebagaimana disinggung sebelumnya. Makna takwilannya adalah redaksi hadits tersebut yang lebih sesuai kaidah, yakni memakai kata satu pun (أحد) sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya berikut:

لاَ أَحَدَ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ

"Tidak ada satu pun yang lebih cemburu daripada Allah.” (HR. Bukhari)

Berbeda dengan al-Qurthubi, berdasarkan alasan yang telah disebutkan di atas Imam al-Khatthabi menolak redaksi tersebut dan menegaskan bahwa pastilah redaksi orang (syakhsun) dalam hadits itu tidak benar dan ia semata timbul karena kesalahan perawinya dalam meriwayatkan hadits tersebut secara maknawi. Ia berkata:

وَخَلِيقٌ أَنْ لَا تَكُونَ هَذِهِ اللَّفْظَةُ صَحِيحَةً، وَأَنْ تَكُونَ تَصْحِيفًا مِنَ الرَّاوِي

“Pasti redaksi ini tidak sahih dan merupakan penyelewengan dari perawinya”. (al-Baihaqi, al-Asmâ’ was-Shifât, vol. II, hal. 54)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menyebut Allah sebagai orang dalam percakapan sehari-hari tidaklah benar dan tidaklah berdasar. Bila menyebut Tuhan, hendaknya kata orang dihapus atau diganti dengan kata lain yang lebih cocok dengan kaidah penyucian Allah dari keserupaan seperti contoh di atas. Misalnya, kita bisa cukup berucap “tidak ada yang bisa menolongmu kecuali Allah”, “tidak ada penolong bagi kondisi ini kecuali Allah”, dan semacamnya. Wallahu A’lam.
 
 
Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center Jawa Timur.