IMG-LOGO
Trending Now:
Hikmah

Sepenggal Kisah Keistimewaan Air Zamzam

Kamis 8 Agustus 2019 6:0 WIB
Share:
Sepenggal Kisah Keistimewaan Air Zamzam
sumur zamzam saat ini ditutup. (kapl-hajj.org)
“Sebaik-baiknya air di muka bumi adalah air Zamzam. Air tersebut bisa menjadi minuman yang mengenyangkan dan penawar rasa sakit.” (HR Thabrani).

Air zamzam adalah air yang sangat istimewa. Banyak nash, hadits, atsar, ataupun khabar yang menjelaskan tentang keutamaan dan keistimewaan air zamzam. Salah satunya adalah hadits yang diriwayatkan Thabrani di atas. Di situ dijelaskan bahwa air zamzam bisa menjadi pengganti makanan karena ia mengenyangkan. Dia juga bisa menjadi obat yang menyembuhkan.

Selain itu, air zamzam juga memiliki keistimewaan lain. Yakni tetap steril meski tercemar. Terkait hal ini, ada kisah menarik dari seorang insinyur kimia, Yahya Kausyak. Pada tahun 1980-an, Yahya Kusyak menjadi salah satu orang yang terlibat dalam penataan dan renovasi sumur zamzam setelah terjadi pencemaran. 

Dalam buku Air Zamzam Mukjizat yang Masih Terjaga (Said Bakdasy, 2015) dijelaskan, bersamaan dengan itu Yahya bin Kusyak juga melakukan penelitian terhadap air zamzam. Dia meyakini bahwa hasil risetnya akan menunjukkan kalau air zamzam mengalami pencemaran dalam skala besar. Oleh karena itu, ia meminta agar penggunaan air zamzam harus dilarang. Ia juga menyarankan agar air zamzam disedot, dinding sumur harus dicuci dan disterilisasi dengan menggunakan bahan-bahan yang bersih.  

Ketika itu Sami Anqawi dan Abdul Hafidh Salamah, anggota lain dalam tim penataan dan renovasi sumur zamzam, tetap meminum air zamzam sebelum hasil riset Yahya Kusyak keluar. Benar saja, hasil penelitian Yahya Kusyak menunjukkan bahwa saat itu terjadi pencemaran terhadap air zamzam dalam skala besar. 

Akan tetapi, Anqawi dan Salamah yang meminum air zamzam –pada saat air zamzam dinyatakan tercemar- tetap baik-baik saja. Keduanya tidak mengalami masalah kesehatan apapun. Begitupun dengan para jamaah haji dan para pekerja yang tetap meminum air zamzam bersama dengan dua orang tersebut. Itulah keistimewaan air zamzam yang bersifat inderawi dan nyata. 
 
Begitupun dengan orang-orang pada zaman dulu. Mereka dari luar Makkah datang ke sumur zamzam dengan unta yang tidak bersih. Selama perjalanan itu pula, mereka bisa saja terkena bakteri, penyakit, dan kotoran. Ketika sampai di sumur, mereka kemudian mengambil air zamzam dengan menggunakan timba. Para dokter berpendapat bahwa penyakit menyebar melalui air dengan cara pengambilan seperti itu. Namun nyatanya, tidak ada dari mereka yang terkena penyakit. Malah mereka menjadi sembuh oleh air zamzam. 

“Air zamzam adalah sesuai dengan tujuan orang yang meminumnya.” Kata Nabi Muhammad saw. dalam sebuah hadits riwayat Ahmad.

Demikian keistimewaan air zamzam. Ia tetap steril, sehat, dan menyehatkan, meski ‘divonis’ sedang tercemar. Tidak lain, ini adalah bentuk perhatian khusus dan penjagaan Allah terhadap air yang diberkahi-Nya itu. Bukankah penjagaan Allah di atas segalanya. Waallahu ‘Alam (Muchlishon)
Share:
Senin 5 Agustus 2019 12:0 WIB
Dialog Dua Malaikat dan Al-Muwafaq yang Batal Naik Haji
Dialog Dua Malaikat dan Al-Muwafaq yang Batal Naik Haji
Ritual haji akan kosong makna ketika mengabaikan substansi. Ilustrasi (vipis.org)
Kala itu, Ibnu Mubarak sedang berbaring di pelataran Masjidil Haram. Hatinya begitu lega karena ia baru saja usai melaksanakan rangkaian ibadah haji. Dari mulai ihram, tawaf, sa'i, hingga tahallul telah dilakoninya dengan khusyuk dan penuh hikmat. Dalam hatinya, ia berharap besar hajinya dapat diterima oleh Allah dengan predikat haji yang mabrur.

Tak terasa, rasa kantuk mengelabuhi pandangannya hingga ia tertidur pulas. Dalam tidurnya itu, ia bermimpi mendengar dua malaikat yang sedang bercakap-cakap.

"Ada berapakah kaum muslim yang haji pada tahun ini?" tanya seorang malaikat.

"Kurang lebih, ada sekitar 700 ribu orang," jawab yang satunya. 

"Berapakah yang diterima oleh Allah?" "Tidak ada sama sekali," jawab malaikat itu kembali.

Seketika malaikat yang bertanya itu pun termenung. Membayangkan betapa nahasnya nasib jamaah haji tahun itu. Ibadah haji yang mereka lakukan dengan hikmatnya, ternyata di mata Allah tak ada nilainya. Pun dengan Ibnu Mubarak yang sedang mendengarkan percakapan tersebut.

Tak berselang lama, segera malaikat tersebut menimpali perkataanya,

"Namun, akibat amal salah seorang yang batal haji di tahun ini. Seluruh ibadah haji jamaah tahun ini diterima oleh Allah subhanahu wata'ala " 

"Siapakah orang tersebut" tanya malaikat satunya penasaran. "Ia adalah Al-Muwafaq"

Seketika Ibnu Mubarak terjaga dari tidurnya. Ia begitu kaget dan bergegas untuk mencari seorang Al-Muwafaq dalam mimpinya itu. Setelah ditelusuri, ternyata ia adalah seorang tukang sol sepatu yang tinggal di daerah Damaskus, Syiria.

"Apakah anda Al-Muwafaq yang batal haji di tahun ini?" tanya Ibnu Mubarak mengawali percakapan dengan seseorang yang ia cari-cari tersebut. 

"Ya, dan bagaimana anda mengetahuinya?" jawab Al-Muwafaq yang juga balik bertanya.

Ibnu Mubarak tak mau gegabah, ia tak lantas menjelaskan tentang mimpinya. Malah dengan segera ia mengajukan pertanyaan yang lainnya,

"Gerangan apa yang membauatmu batal melaksanakan rukun islam yang kelima?" sergah Ibnu Mubarak penasaran.

Hening pun menyelimuti keduanya, Al-Muwafaq terlihat kosong pandangannya. Menghela nafas agak panjang, untuk kemudian mengatur emosi dalam sanubarinya agar dapat angkat bicara. Ibnu Mubarak pun juga terdiam, ia begitu sabar menanti jawaban dari Al-Muwafaq.

"Engkau tahu sendiri bahwa aku hanyalah seorang tukang sol sepatu di kota ini." dengan mata berkaca, Al-Muwafaq mengawali kisah kegagalannya. Ibnu Mubarak tak menimpali sepatah kata pun, malah ia semakin terdiam agar dapat berkonsentrasi mendengarkan penjelasan Al-Muwafaq.

"Tentunya menunaikan ibadah haji adalah sebuah impian besar bagiku. Ya, bagaimana tidak. Dengan hal itulah aku dapat menyempurnakan rukun islam yang lima. Aku pun telah menabung jauh-jauh hari. Dari hasil upah jasa menjahit sepatu bekas, ku kumpulan sepeser demi sepeser uang guna mewujudkan impianku. Alhamdulillah, setelah sekian lama akhirnya aku kira uang tabunganku telah mencukupi. Saat itu kira-kira telah terkumpul 350 dirham."

"Namun, ketika aku berniat untuk menata barang bawaanku dan bergegas pergi ke mekah. Tiba-tiba istriku yang tengah hamil muda menghampiriku dan berkata, 'wahai suamiku, sungguh aku tidak pernah mencium aroma masakan selezat ini sebelumnya. Oh betapa senang hatiku kiranya engkau berkenan mencari sumber aroma masakan ini dan meminta sedikit saja demi menuruti keinginan jabang bayi dalam perutku ini."

Ternyata istri Al-Muwafaq saat itu tengah ngidam. Al-Muwafaq lantas keluar rumah dan mencari sumber aroma masakan tersebut. Dan memang, sungguh dari aromanya saja telah terbayang betapa lezatnya masakan tersebut.

Sampailah ia dirumah salah seorang janda beranak pinak yang tengah memasak di dapurnya. Tanpa berkata panjang lebar, ia segera mengutarakan maksud kedatangannya untuk meminta sedikit saja masakan janda tersebut.

"Sekali-kali janganlah engkau meminta masakan ini. Karena aku tak akan memeberikannya," ujar si janda yang menolak mentah-mentah permintaan Al-Muwafaq. Al-Muwafaq pun tak patah arang, ia menawarkan akad jual-beli kepada si janda agar rela menjual masakannya meski dengan harga berapa pun. 

Namun, sekali tidak tetaplah tidak. Janda itu tetap bergeming. Menolak dengan keras segala penawaran yang diajukan oleh Al-Muwafaq. Al-Muwafaq pun terheran, mengapa wanita ini begitu kokoh tak mau memberikan barang sedikit saja hasil dari olahannya. 

Karena Al-Muwafaq begitu memaksa dan wanita itu pun telah kehabisan kata untuk menolaknya. Akhirnya sang janda berkata, "Sungguh, makanan ini tak kan kuberikan kepadamu. Karena bagiku ini halal, sedang bagimu ini hukumnya haram." 

Al-Muwafaq semakin bingung dengan ujaran si janda tersebut. Mengapa makanan selezat itu bisa haram hukumnya bagi Al-Muwafaq. Oh ternyata, janda tersebut merupakan orang yang amat fakir nan miskin. Sedang dalam tanggungannya terdapat beberapa anak yang lemas kelaparan. 

Ya, mereka telah berhari-hari tak makan. Bahkan mereka sekeluarga terancam mati kelaparan. Hingga akhirnya, ketika sang janda tengah menyusuri jalan, ia melihat bangkai keledai kaku terkapar di pinggiran. Kemudian ia pun mengambilnya dan kemudain jadilah masakan yang kini tengah diperdebatkan.

Al-Muwafaq lantas merasa iba, ia segera berjalan gontai berbalik arah menuju ke rumahnya. Ia ambil sekantong uang dirham yang tadinya ia rencanakan sebagai dana perjalanan ibadah hajinya. Ia tak menghiraukan tentang kegagalan naik haji yang telah lama ia dambakan. Baginya kebatalannya demi menolong kehidupan si janda beserta anaknya lebih penting ketimbang impiannya untuk menyempurnakan rukun islam yang ke lima.

Ia lantas kembali ke kediaman si janda dengan membawa sekantong uang dirhamnya. Ia meminta agar uang ini dimanfaatkan untuk si janda sebagai modal untuk membuka usaha. Hingga nantinya kehidupan anak-anaknya dapat terjamin dan janda pun tak sampai terpaksa mengolah bangkai keledai demi melangsungkan kehidupan mereka. 

"Masya Allah… ternyata akibat amal itulah engkau menjadi sebab diterimanya 700 ribu jamaah haji di tahun ini" ujar Ibnu Mubarak yang terharu mendengar kisah Al-Muwafaq. Al-Muwafaq yang tak mengerti maksud Ibnu Mubarak pun terlhat kebingungan,

"Apa maksud dari ujaranmu, wahai orang yang mendatangiku secara tiba-tiba?"

Ibnu Mubarak akhirnya menjelaskan tentang mimpi yang telah ia alami. Seketika itu juga Al-Muwafaq tersungkur sujud bahagia, dengan mata basah terharu akan karunia Allah yang maha besarnya.

(Ulin Nuha Karim)

Dikisahkan oleh Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, Grobogan, Jawa Tengah dalam momen pengajian KITAB Tafsir Jalalain. 
 
Sabtu 3 Agustus 2019 21:0 WIB
Imam Al-Ghazali tentang Perangai Rakyat dan Pemimpin
Imam Al-Ghazali tentang Perangai Rakyat dan Pemimpin
Imam Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali (Ilustrasi: NU Online)
Imam Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali atau yang lebih dikenal Imam Al-Ghazali tidak hanya mempunyai perhatian luas dalam menghidupkan akhlak dan ilmu agama, tetapi juga memberi perhatian pada sebuah kepemimpinan. Hal ini merupakan tanggung jawab sebagai seorang ulama kepada umara-nya demi mewujudkan kemakmuran rakyat.

Mengenai rakyat, penguasa, dan ulama, Imam Al-Ghazali dalam kitab At-Tibbr al-Masbuk fi Nasihat al-Muluk atau Nasihat Bagi Penguasa menjelaskan bahwa watak dan perangai rakyat merupakan buah atau hasil dari watak dan perangai pemimpinnya.

Sebab menurut Al-Ghazali, keburukan yang dilakukan orang awam hanyalah meniru dan mengikuti perbuatan para pemimpinnya. Pemimpin di sini tidak hanya ditujukan kepada satu orang saja dalam pemerintahan, tetapi juga para pemangku kebijakan di segala sektor.

Sang Hujjatul Islam tersebut adalah ulama yang tidak hanya seorang faqih, sufi, maupun filosof, tetapi juga seorang yang mempunyai perhatian serius terhadap kepemimpinan.

Baginya, seorang umara mempunyai tugas penting dalam memperhatikan kesejahteraan dan keamanan rakyatnya. Apalagi saat itu kepemimpinan Islam tidak sedikit mendapat represi dari kelompok-kelompok lain demi kepentingan kekuasaan. Seperti kondisi umat Islam di Andalusia yang menjadi keprihatinan Imam Al-Ghazali.

Sangat risau mendengar kekalahan dan penderitaan kaum Muslimin di Andalusia, Imam Al-Ghazali (1058-1111 M) menulis surat kepada Raja Maghribi Yusuf Ibnu Tasyfin yang isinya cukup menggemparkan, sebagai berikut:

“Pilihlah salah satu di antara dua, memanggul senjata untuk menyelamatkan saudaramu-saudaramu di Andalusia atau engkau turun tahta untuk diserahkan kepada orang lain yang sanggup memenuhi kewajiban tersebut.”

Isi surat dari penulis kitab Ihya’ Ulumiddin tersebut diungkap B. Wiwoho dalam Bertasawuf di Zaman Edan: Hidup Bersih, Sederhana, dan Mengabdi (2006). Sikap tegas Al-Ghazali tentu tidak lepas dari konteks perjuangan Islam di Andalusia saat itu. Kelemahan dalam kepemimpinan, konflik internal, dan kekuatan musuh yang semakin banyak adalah di antara sebab jatuhnya masa-masa kejayaan Islam di Andalusia.

Al-Ghazali sendiri merupakan salah seorang ulama masyhur yang hidup ketika Islam di Andalusia mencapai kejayaan emasnya. Tercatat ilmuwan-ilmuwan Muslim yang lahir dari kemajuan peradaban Islam di Spanyol, Ibnu Bajjah, Ibnu Rusyd, Ibnu Arabi, Al-Farabi, Ibnu Sina, dan lain-lain. Kejayaan Islam di Andalusia tidak lepas dari perkembangan peradaban ilmu pengetahuan.

Sejumlah displin ilmu dan berbagai teori yang ditemukan oleh para ilmuwan Muslim merupakan pintu masuk bagi perkembangan Islam di Barat, khususnya Eropa. Namun, kepemimpinan yang lemah kerap menjadi faktor runtuhnya masa Islam. Meski demikian, ilmu pengetahuan yang dikembangkan ilmuwan-ilmuwan Muslim tetap masyhur meskipun saat ini masyarakat justru lebih banyak mengenal teori-teori pembaruan yang lahir dari para ilmuwan Barat.

Ketegasan Al-Ghazali dalam merespon kepemimpinan Islam di Andalusia merupakan kegelisahan seorang ulama kepada umara-nya. Kritisnya Imam Al-Ghazali tidak lebih dari perhatian dan kasih sayang kepada seorang pemimpin untuk tujuan yang lebih luas, kesejahteraan rakyatnya. Seorang pemimpin wajib melindungi rakyatnya jika mereka dalam kondisi menderita sebab perang. Seperti yang dimaksud Al-Ghazali dalam isi suratnya di atas. (Fathoni)
Jumat 19 Juli 2019 19:0 WIB
Pengalaman Saya Berguru ke Habib Luthfi
Pengalaman Saya Berguru ke Habib Luthfi
Foto: Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya
Cerita ini bermula sejak pertama kali bertemu Abah, sapaan cinta bagi Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya. Awalnya saya hanya melihat ceramah-ceramah beliau melalui channel Youtube. Raut wajah dan mata beliau sejuk sekali. Senyum Abah yang indah mengingatkan saya pada cerita para sahabat Nabi mendetailkan perawakan kekasih Allah itu (Rasulullah). Indah, sejuk, tenang, dan damai, kata-kata inilah yang pertama kali terbesit ketika melihat Abah.

Setiap bulan selalu ada pengajian di Kanzus Sholawat, Markas Besar (Mabes) Abah di Pekalongan, Jawa Tengah. Para jamaah menyebutnya Pengajian Rutin Kliwonan. Kami dari Jogja biasanya menghadiri pengajian itu, alhamdulillah rutin. Namun sesekali, sebagian dari kami ada yang tidak bisa berangkat ke sana karena masalah sepele keduniaan. Meski demikian, kami tetap berusaha berangkat ke sana. Kami senang sekali di Kanzus Sholawat. Entah apa yang membuat kami senang. Saya tidak bisa menerangkannya, yang pastinya sangat senang.

Bagi saya, belajar menjadi santri Abah tidaklah mudah. Jangankan itu, belajar menjadi seorang santri saja tidak mudah. Jujur, saya sendiri tidak pernah mengunyah dunia pesantren. Saya tidak tahu apa itu kitab kuning. Yang saya tahu, pesantren identik dengan Nahdlatul Ulama (NU), pendirinya Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy'ari. Saya pun baru mengenal cucu pendiri NU itu, waliyullah Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) melalui Cak Nur (sapaan akrab Nurcholish Madjid) setelah membaca buku Islam: Doktrin dan Peradaban

Saya juga tidak paham denyut pemikiran Imam al-Ghazali. Saya baru bersentuhan dengan sufi besar itu melalui ceramah live streaming Gus Ulil Abshar Abdalla di akun Facebook pribadi beliau. Saya juga tidak mengenal tafsir Al-Qur'an yang khas—saya baru kenal melalui Gus Baha (KH Bahauddin Nursalim). Jadi pengetahuan saya tenang khazanah Islam sangat minim, apalagi bicara tarekat, “bleng”, saya tidak tahu sama sekali. Tapi NU memberikan warna tersendiri dalam hidup saya. Indah dan sejuk. Jauh dari benang merah NU, saya tidak peduli, yang penting bagi saya ialah sama-sama Muslim Indonesia, atau dalam jabaran KH Said Aqil Siroj adalah Islam Nusantara. Meskipun jauh dari panggang, alhamdulillah sedikit-sedikit masih terciprat nuansa NU, yakni lewat kebiasaan tahlil dan ziarah kubur.

Abah, awalnya yang saya tahu, adalah orang Arab. Terlihat dari perawakan beliau demikian adanya. Mungkin ini pertama kali perkenalan saya dengan Abah secara dhahir. Yang saya tahu hanya sepintas adalah itu. Setelah mendengar ceramah-ceramah beliau tentang “NKRI harga mati!”, saya sempat kaget, rupanya beliau bukan sekadar orang Arab, tapi orang Indonesia tulen. Beliau beberapa kali mengumandangkan persatuan dan kesatuan. Luar biasa. Secara pemikiran, saya tidak bisa mengartikan hal ini secara batin, tapi saya sepemikiran dengan beliau, tulen-asli. Mulai dari sinilah saya mendekatkan diri ke Abah. 

Perjalanan saya berlanjut setelah melihat kawan-kawan saya yang mulai masuk dunia tarekat. Mereka saya perhatikan setiap minggu sekali—malam Jumat—pergi ziarah ke makam para wali. Ada yang ke Syekh Belabelu Parangtritis, serta ada pula yang ke Gunungpring, Magelang. Cerita mereka ingin mengejar berkah disertai tawasul melalui Abah ke Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Mendengar cerita mereka, saya dengan mantap langsung memutuskan untuk mengikuti langkah mereka. Pikiran sederhana saya adalah karena tawassul ke Abah. 

Menyesuaikan dengan rutinitas yang sebelumnya belum pernah saya lakukan sama sekali, adalah awal kondisi ketika saya mulai berkenalan dengan Abah. Rutin pergi ziarah kubur dan lain-lain. Untungnya jamaah kami dibimbing seorang mursyid (guru) bernama Gus Hafidz Rusli perihal tarekat. Gus Hafidz Rusli berguru ke Mbah Gondrong Kudus, yang berguru ke Abah Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya Pekalongan. Jadi secara sanad keilmuwan, insyaallah sampai. Allâhumma shalli ‘alâ sayyidinâ Muhammad

Berangkat ke Kanzus Sholawat (Mabes) Abah di Pekalongan. Detak jantung berdegup kencang. Terlintas di pikiran, pokoknya sampai di Mabes langsung bertemu dengan Abah, cium tangan beliau, dan minta berkah. Perkiraan saya rupanya salah. Ternyata selama di Kanzus, kami harus shalawatan dari pukul 06.35 pagi sampai 09.00 WIB. Setelah itu dilanjutkan dengan ceramah Abah sekitar 30 menitan, sangat menggetarkan. Beliau menyerukan persatuan, luar biasa. Selepas itu, barulah bisa bertemu dengan Abah. Mulai dari lansia sampai balita, berjejer rapi sambil bersimpuh menemui Abah. Mencium tangan beliau sebagai tanda 'ngalap’ berkah. 

Jamaah Abah sangat banyak. Mulai dari balita sampai lansia. Uniknya selama di Mabes Abah, saya tidak pernah mendengar sedikit pun tangisan bayi. Padahal dengan kondisi jamaah yang begitu padat, secara alamiah, seharusnya ada tangisan bayi. Tapi tidak terdengar sama sekali. Aneh. Hal ini, pikir saya, mungkin sebagai tanda kemuliaan beliau, Abah Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya. 

Ada satu hal yang saya peroleh dari Abah adalah tarekat nasionalisme beliau. Sungguh luar biasa dan menggetarkan. Saya haqqul yakin, pemikiran beliau sudah pasti menerobos sampai ke langit ketujuh dan menukik tajam menyentuh sanubari khalayak insan. Semua malaikat pasti tahu dan setuju dengan pendapat beliau. Memang di era sekarang ini, apa pun masalahnya, solusinya cuma satu yakni persatuan. Persatuan dapat menjaga keseimbangan kosmos. Bukankah hal ini merupakan perintah Allah melalui rasul-Nya? Allâhumma shalli ‘alâ sayyidinâ Muhammad. Semoga kasih, sayang, dan cinta ini selalu tercurahkan kepada Abah Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya. Âmîn.


Muhammad Kashai Ramdhani Pelupessy, asal Kota Ternate, Maluku Utara; sedang studi S2 Psikologi di Universitas Negeri Yogyakarta