IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Tauhid

Apakah Allah Bisa Diam Tak Berfirman?

Jumat 9 Agustus 2019 19:45 WIB
Share:
Apakah Allah Bisa Diam Tak Berfirman?
Ilustrasi: Ilmu tauhid
Semua ulama dari semua golongan sepakat bahwa Allah bersifat mutakallim (Maha-Berfirman). Dasarnya secara rasional adalah tidak mungkin Tuhan itu bisu. Adapun dasar berupa dalil naqli ada begitu banyak ayat dan hadits yang menunjukkan bahwa Allah berkalam/berfirman. Bahkan, umat Islam seluruhnya meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kalâmullah alias firman Allah.  Namun, ada pertanyaan yang menggelitik yang sering kali timbul dalam topik ini, yakni apakah Allah bisa diam dalam arti sesekali berkalam dan sesekali tidak?
 
Bila orang awam mendapat pertanyaan ini, mungkin jawabannya adalah: Ya Allah bisa berkalam dan bisa juga diam bila menghendaki. Jawaban ala orang awam ini muncul sebab ia menganggap Allah sama dengan makhluk yang kadang berbicara dan kadang tidak. Menurut para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah-Maturidiyah), jawaban tersebut mutlak salah sebab kalam adalah salah satu sifat bagi Dzat Allah yang selalu ada dan tak pernah tiada. 
 
Imam para ahli tafsir, Ibnu Jarir at-Thabari (310 H), ketika menjelaskan sifat-sifat Allah mengatakan:
 
العالم الذي أحاط بكل شيء علمه، والقادر الذي لا يعجزه شيءٌ أراده، والمتكلم الذي لا يجوز عليه السكوت.
 
“Allah adalah Yang Maha-Mengetahui yang ilmunya meliputi segala sesuatu, dan yang Maha-Berkuasa yang tidak mungkin lemah terhadap apa pun yang Ia kehendaki, dan yang Maha-Berfirman yang tidak boleh Ia diam.” (at-Thabari, at-Tabshîr  Ma’âlim ad-Dîn, 127).
 
Kenapa tak boleh diam? Karena sifat berfirman Allah adalah sifat Dzat yang selalu ada bersama Dzat Allah sehingga tak mungkin sifat ini ada kalanya ada dan ada kalanya berhenti. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Qasthalani (923 H) dalam Syarahnya terhadap Shahih Bukhari berikut:
 

ولم يختلف في ذلك أحد من أرباب المِلَل والمذاهب وإنما الخلاف في معنى كلامه وقدمه وحدوثه، فعند أهل الحديث أن كلامه ليس من جنس الأصوات والحروف بل صفة أزلية قائمة بذاته تعالى منافية للسكوت الذي هو ترك التكلم مع القدرة عليه
 
“Tidaklah berbeda dalam hal itu (adanya kalâmullah) satu pun dari berbagai sekte dan mazhab. Perbedaan pendapat hanyalah dalam hal makna kalâmullah, tidak-berawalnya kalâmullah, dan kebaruannya. Adapun menurut para Ahli Hadits bahwasanya kalâmullah tidaklah berupa jenis suara dan huruf tetapi merupakan sifat yang ada tanpa awal mula (azali) yang berada pada Dzat Allah Ta’ala yang meniadakan adanya diam yang nota bene meninggalkan kalam padahal mampu” (al-Qasthalani, Irsyâd as-Sâry, vol. X, hlm. 428)
 
Berbicara lalu diam lalu berbicara lagi adalah sebuah perubahan kondisi. Perubahan kondisi dari satu kondisi ke kondisi lain adalah secara pasti menjadi ciri khas bagi sesuatu yang punya awal mula (muhdats atau makhluk). Bila Allah dianggap mengalami perubahan kondisi seperti ini, maka berarti Allah juga muhdats alias punya awal mula yang berarti Allah diciptakan. Ini sesuatu yang mustahil sehingga tak mungkin terjadi. Imam at-Thabari menjelaskan kemustahilan status Allah berawal mula (muhdats) ini dalam penjelasannya sebagaimana berikut:
 
 فلا شك أن من زعم أن الله محدثٌ، وأنه قد كان لا عالماً، وأن كلامه مخلوقٌ، وأنه قد كان ولا كلام له، فإنه أولى بالكفر وبزوال اسم الإيمان عنه.
 
“Maka tidak diragukan bahwasanya orang yang menyangka bahwa Allah punya awal mula (muhdats) dan bahwasanya sebelumnya Ia tidak tahu, dan bahwa FirmanNya adalah makhluk, dan sebelumnya Allah telah ada tetapi tidak berfirman, maka sesungguhnya orang itu lebih pantas terhadap kekufuran dan hilang nama iman darinya” (at-Thabari, at-Tabshîr  Ma’âlim ad-Dîn, 149).
 
Maksud Imam at-Thabari di atas adalah sifat-sifat bagi Dzat Allah memang ada sejak azali (kondisi tanpa awal mula). Allah sudah tahu terhadap kondisi alam semesta sejak sebelum alam semesta diciptakan, Kalâmullah (firman Allah) juga bukan makhluk yang awalnya tak ada kemudian ada diciptakan setelah adanya makhluk. Bersama Allah, kalâmullah selalu ada setiap saat bahkan sebelum alam semesta tercipta dan sebelum Allah menurunkan wahyu pada para utusan. Hingga kini dan sampai kapan pun nanti kalâmullah tetap selalu ada tanpa ada akhirnya.
 
Imam besar Ahlusunnah wal Jama’ah, Ibnu Furak (406 H), dalam kitabnya melarang orang berkata bahwa Allah berfirman dengan firman yang beruntun di mana satu firman ada setelah firman lainnya. Hal ini adalah mekanisme kalamnya makhluk yang menunjukkan bahwa kalamnya adalah makhluk pula. Selanjutnya Ia menegaskan akidah Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai berikut:
 
أَنا نقُول إِن الله لم يزل متكلما وَلَا يزَال متكلما وَإنَّهُ قد أحَاط كَلَامه بِجَمِيعِ مَعَاني الْأَمر وَالنَّهْي وَالْخَبَر والإستخبار
 
“Sesungguhnya kami berpendapat bahwa Allah selalu berfirman (berkalam) dan tak pernah berhenti berfirman dan bahwasanya firmannya mencakup semua makna perintah, larangan, berita dan pertanyaan.” (Ibnu Furak, Musykil al-Hadîts wa Bayânuhu, 405)
 
Imam Ibnu Furak juga menjelaskan bahwa keyakinan yang menyatakan bahwa Allah berfirman secara bertahap dan beruntun dari satu kata ke kata lainnya adalah keyakinan golongan Jahmiyah yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. 
 
أَن مَا كَانَ كَذَلِك فَالثَّانِي متجدد بعد الأول وَكَذَلِكَ الثَّالِث بعد الثَّانِي وَمَا كَانَ كَذَلِك كَانَ مُحدثا مخلوقا وَلم تزد الْجَهْمِية الْقَائِلُونَ بِخلق الْقُرْآن على ذَلِك لما قَالُوا إِنَّه كَلَام يحدثه حَالا بعد حَال ويجدده مرّة بعد أُخْرَى
 
“Bahwa ucapan beruntun seperti itu, maka kata kedua setelah kata pertama dan kata ketiga setelah kata kedua. Yang seperti itu adalah muhdats dan makhluk. Jahmiyah tak bisa menambah penjelasan lagi melebihi itu karena mereka berkata bahwa kalâmullah adalah sesuatu yang diadakan secara bertahap dan diperbarui dari satu kata ke kata lain.” (Ibnu Furak, Musykil al-Hadîts wa Bayânuhu, 402-403)
 
Dari keterangan tersebut diketahui bahwa sifat kalâmullah yang azali tidaklah sama dengan proses makhluk berbicara yang terjadi secara berurutan dari satu kata ke kata lainnya. Yang benar adalah kalâmullah adalah sebuah sifat Dzat yang tanpa suara atau pun huruf sebagaimana telah dijelaskan dalam artikel sebelumnya
 
Selain itu, sifat kalam adalah sifat wajib yang keberadaannya pasti selalu ada tanpa tergantung pada kehendak dan kekuasaan Allah. Seperti halnya Allah selalu Maha-Hidup dan tak bisa mati, Maha-Mengetahui dan tak bisa tidak tahu, Maha-Mendengar dan tak bisa tuli, Maha-Melihat dan tak bisa buta, maka Allah juga Maha-Berfirman dan tak bisa diam atau bisu. Ketidakbisaan dalam konteks ini tak bisa diartikan bahwa Allah lemah sebab justru ketidakmampuan untuk tak mampu adalah tanda kemampuan yang absolut. Wallahu a'lam.
 
 
Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center Jawa Timur.
 
Share:

Baca Juga

Kamis 8 Agustus 2019 15:0 WIB
Benarkah Pelaku Takwil dan Tafwidl adalah Musyabbih?
Benarkah Pelaku Takwil dan Tafwidl adalah Musyabbih?
Ilustrasi
Salah satu propaganda untuk menolak takwil atau tafwîdl yang notabene pilihan ulama Aswaja adalah dengan mengatakan bahwa pelaku takwil dan tafwîdl sejatinya adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk). (Takwil merupakan cara memaknai kata dengan makna di luar bunyi tersuratnya, sementara tafwidl merupakan cara memaknai kata dengan memasrahkan makna hakikatnya pada Allah, red).

Alasannya sebab awalnya dia membayangkan sifat Allah sama dengan manusia kemudian dia tolak bayangan itu dengan cara takwil atau tafwîdl. Andai sedari awal dia tak membayangkan adanya kesamaan sama sekali antara keduanya, maka dia tak perlu lari pada takwil atau tafwîdl.

Dari situ kemudian disimpulkan bahwa Asy'ariyah adalah musyabbih sebab Asy'ariyah memilih jalan tafwîdl atau takwil. Banyak tokoh pemikir yang berargumentasi seperti ini hingga mereka mengarang kaidah semacam ini:
 
كل مشبه معطل، وكل معطل مشبه

“Setiap musyabbih adalah mu’atthil (orang yang menolak keberadaan sifat) dan setiap mu’atthil adalah musyabbih”.

Seorang pendaku Salafi mengatakan alasan kaidah seperti itu adalah:
 
لأنَّ من يعطل صفة الله إنما عطلها فراراً من التشبيه الذي قام في نفسه

“Sebab sesungguhnya orang yang menolak sifat Allah sebenarnya tak lain melakukannya karena lari dari tasybih yang ada dalam dirinya” (Abdurrazaq bin Abdil Muhsin al-Badr, Tadzkirah al-Mu’tasi Syarh Aqîdah al-Hâfidz Abd al-Ghany al-Maqdisi, hal. 133).
Sepintas penalaran di atas berikut kaidah yang mereka buat terlihat benar tetapi sejatinya jauh dari kebenaran sebab tak sesuai dengan proses penalaran yang benar. Kesalahan pernyataan seperti di atas dapat diketahui bila proses terjadinya sebuah penalaran diurai secara mendetail sebagai di bawah ini. Bahasan ini sebetulnya adalah bahasan dasar dalam ilmu manthiq. Penulis berusaha menyajikan bahasan ini dengan bahasa semudah mungkin. Berikut ini uraiannya:
 
1. Setiap orang berakal tatkala mendengar suatu kata, maka akan terbayang di benaknya arti kata itu. Kalau mendengar kata "kursi", maka akan terbayang benda yang biasa dijadikan tempat duduk itu. Bayangan di benak ini disebut para ulama sebagai tashawwur.
 
Keberadaan tashawwur ini adalah proses otomatis yang pasti terjadi (dlarûry) pada diri semua orang berakal. Bila tak muncul tashawwur sama sekali ketika mendengar satu kata yang sudah dikenal, itu artinya akalnya rusak sehingga tak mungkin memahami apa pun. Ini berarti dia lepas dari taklif (tanggung jawab agama) sebab gila.
 
Adapun bila suatu kata yang didengar tak dikenal, maka memang tak bisa timbul tashawwur sama sekali semisal mendengar kata "Zaqwikut" yang memang tak ada artinya. Ketiadaan tashawwur dalam hal ini disebut ketidaktahuan.
 
2. Karena tashawwur adalah proses otomatis dalam kegiatan menalar, maka proses ini tak bisa dihindari dan bukan merupakan suatu tindakan yang disengaja sehingga ia berada di luar wilayah taklifi.
 
Yang berada dalam wilayah taklifi di mana seorang berakal terikat dengan hukum halal atau haram adalah tindakan selanjutnya yang dilakukan secara sengaja. Membayangkan bentuk, cara, dan sifat-sifat suatu objek yang didengar adalah kegiatan yang disengaja yang terjadi setelah proses tashawwur yang otomatis itu.

Misalnya tatkala mendengar kata "kursi", ia tashawur tentang makna kursi sebagai tempat duduk. Sampai poin ini hanya ada makna tapi kosong dari detail. Lalu ketika ia membayangkan kira-kira bentuk kursinya kotak, bahannya kayu jati, ukurannya tingginya 50 cm, warnanya coklat, dan seterusnya, maka bayangan inilah yang disengaja di mana ia memilih salah satu ciri dari berbagai kemungkinan yang ada.
 
Dengan demikian, kegiatan membayangkan secara sadar dan disengaja itu selalu muncul setelah tashawwur. Bila tak ada tashawwur, maka tak mungkin bisa membayangkan.
 
3. Ketika ada dua kata yang dikenal dan bisa ditashawwurkan bila sendiri-sendiri, tetapi tak bisa ditashawwurkan bila digabung atau dinisbatkan, maka tashawwur makna yang asal menjadi buyar dan gabungan itu menjadi susunan kata yang tak bisa dipahami.
 
Misalnya kita kenal kata "leher" dan bisa men-tashawwur-kannya sebagai anggota tubuh yang menghubungkan kepala dan badan. Kita juga kenal kata "bola" sebagai benda yang bulat itu. Namun ketika kita mendengar kata "lehernya bola", maka kita tak mampu men-tashawwur-kannya sebab bola yang dapat kita pahami itu tak punya leher. Ketika tak bisa men-tashawwur-kannya, maka otomatis mustahil kita membayangkannya.
 
4. Dalam konteks sifat khabariyah Allah yang tergolong mutasyabihat, maka proses yang sama juga terjadi. Ketika kita mendengar kata "tangan", maka kita bisa memahaminya dan timbul tashawwur sebagai organ tubuh dari bahu hingga ujung jari. Ini adalah proses otomatis yang mau tak mau akan terjadi pada siapa pun yang berakal.
 
Namun ketika kata "tangan" itu digabung dengan kata "Allah" sehingga menjadi "tangan Allah", maka sampai di sinilah orang-orang berbeda. Sebagian pihak merasa masih bisa men-tashawwur-kannya sebagai tangannya Allah dalam arti sebagai organ tubuh Allah.
Mereka inilah yang disebut mujassimah dan musyabbihah. Disebut mujassimah karena menganggap Allah adalah jism (sosok yang bervolume), dan disebut musyabbih sebab men-tashawwur-kan sifat Allah sesuai standar yang berlaku pada manusia. Semua mujassimah dan musyabbihah sepakat bahwa jism Allah tak sama dengan jism makhluk, namun demikian tetaplah mereka disebut sebagai mujassimah atau musyabbihah.
 
Mereka ini berbeda-beda levelnya; ada yang berhenti di tashawwur saja tanpa lanjut pada level membayangkannya, dan ada juga yang hingga taraf membayangkan sehingga mengatakan Dzat Allah memenuhi Arasy kecuali empat jengkal saja, memenuhi seluruh Arasy tanpa menyisakan sejengkal pun, menyentuh Adam dengan tangan-Nya, mempunyai berat badan, bergerak ke sana ke mari, mempunyai lidah, darah, daging, rambut, dan seterusnya yang tak didukung satu hadis sahih pun sebab hanya berdasar bayangan yang mereka buat sendiri di benaknya.

Sebagian pihak lain mengaku sama sekali tak bisa men-tashawwur-kan apa maksud "tangan Allah", sama seperti ketika mereka mendengar kata "leher bola" di atas. Bagi mereka tak masuk akal kata tangan dalam arti organ itu disandingkan dengan kata Allah yang mustahil berupa jism. Dari sinilah kemudian tak ada tashawwur sama sekali sehingga tak mungkin timbul kegiatan yang bernama "membayangkan" apalagi "menyerupakan". Di sinilah posisi Ahlussunnah wal Jama'ah (Asy'ariyah-Maturidiyah).

Karena tidak ada tashawwur di benak Aswaja, maka berarti mereka mengaku tak mengerti sama sekali tentang Dzat Allah. Inilah makna perkataan mereka bahwa puncak pengetahuan tentang Allah adalah ketidaktahuan.
 
5. Untuk menyikapi jalan buntu ketiadaan tashawwur di atas, Ahlussunnah wal Jama'ah kemudian terbagi menjadi dua; Sebagian memilih jalan tafwîdl dengan cara tetap membiarkan ketiadaan tashawwur makna itu dan membiarkan pengetahuan tentangnya cukup diketahui Allah saja. Sebagian lainnya memilih mencari makna yang lebih sesuai yang dapat dipahami dari teks sifat yang didengar itu. Langkah terakhir inilah yang disebut takwil.
 
6. Baik tafwîdl atau takwil, keduanya sama sekali tak muncul akibat proses membayangkan, apalagi menyerupakan. Keduanya muncul akibat ketidak tahuan murni akan Dzat Allah sebab ketidakmungkinan adanya tashawwur itu tadi.
 
Dengan demikian, tuduhan bahwa pelaku takwil dan tafwîdl sejatinya adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk) adalah tuduhan tak berdasar sama sekali. Bagaimana bisa menyerupakan sesuatu bila membayangkannya, bahkan memahaminya saja tidak? Adalah tak mungkin secara logika sesuatu yang tak dapat ditashawwurkan kemudian disamakan dengan sesuatu lainnya. Tuduhan semacam ini hanyalah logical fallacy yang parah. Wallahu a'lam.

 
Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center Jawa Timur. 
 
Rabu 7 Agustus 2019 15:0 WIB
Dalil-dalil bahwa Kalam Tak Selalu Berupa Suara
Dalil-dalil bahwa Kalam Tak Selalu Berupa Suara
Ilustrasi
Di antara aqidah Ahlussunnah wal  Jama’ah (Asy’ariyah-Maturidiyah) adalah meyakini bahwa sifat kalamullah atau firman Allah tidaklah berupa suara dan huruf, meskipun kemudian ditransmisikan antarmakhluk dengan perantara suara dan huruf. Aqidah ini dikritik oleh sebagian kalangan yang menganggap bahwa yang namanya kalam atau perkataan pastilah dengan suara dan huruf. Kalau tak berupa suara dan huruf, maka menurut mereka berarti bukan kalam. Kritik ini telah dibahas dan dijawab dengan dalil rasional dalam bahasan sebelumnya.

Pada artikel ini penulis akan menukil dalil-dalil naqlî yang dipakai oleh para ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah yang membuktikan bahwa kalam tak selalu harus berupa suara dan huruf. Dan, ini sebenarnya terjadi sehari-hari dan disinggung dalam Al-Qur’an sehingga keberadaan kalam tanpa suara ini tak perlu diherankan. 

Berikut ini adalah dalil-dalilnya yang disarikan dari kitab al-Inshâf karya Imam al-Baqillani. Allah berfirman:

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ 

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu (Muhammad), mereka berkata, “Kami mengakui, bahwa engkau adalah Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar Rasul-Nya; dan Allah menyaksikan bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.” (QS. al-Munafiqun: 1)

Orang-orang munafik dianggap berdusta di ayat tersebut sebab perkataan di mulut mereka tak sama dengan perkataan di dalam hati mereka yang tanpa menggunakan suara dan huruf. Ini menjadi bukti bahwa perkataan manusia pun ada yang tidak memakai suara dan huruf, yakni suara hati mereka. Adanya perkataan dalam hati yang tanpa suara dan huruf ini ditegaskan dalam berbagai ayat lain di Al-Qur’an, misalnya:

وَيَقُولُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ لَوْلَا يُعَذِّبُنَا اللَّهُ بِمَا نَقُولُ 

“Dan mereka mengatakan dalam diri mereka sendiri, “Mengapa Allah tidak menyiksa kita atas apa yang kita katakan itu?” (QS. al-Mujadilah: 8).

وَإِنْ تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى 

“Dan jika engkau mengeraskan ucapanmu, sungguh, Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi” (QS. Thaha: 7).

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ  

“Ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya” (QS. al-Baqarah: 235).

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ 

“Barangsiapa kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan” (QS. an-Nahl: 106).

Seluruh ayat di atas mengisyaratkan adanya perkataan dalam hati atau dalam benak manusia yang diketahui dan dinilai oleh Allah sebagaimana perkataan di mulut. Bahkan perkataan dalam hati itulah yang menjadi patokan utama sehingga orang yang berkata baik di mulut saja dianggap munafik bila hatinya berkata lain. Sebaliknya, orang yang dipaksa mengatakan kekufuran tetap dianggap beriman bila hatinya tidak ikut mengatakan hal yang sama tetapi tetap pada keimanan. Ini menjadi bukti bahwa secara syariat, perkataan dalam hati adalah perkataan yang hakikat sedangkan suara di mulut hanyalah sekedar sarana agar orang lain paham terhadap apa yang di dalam hati itu. Para teolog Aswaja menyebut perkataan dalam hati ini dengan istilah kâlâm nafsî, hadîts nafsî, kâlâm nafsâni, dan yang semakna dengan itu.

Dalam hadits juga bisa ditemui dalil serupa, misalnya Sabda Rasulullah ﷺ:

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ، وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قَلْبِهِ، لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ، وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ

“Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya tetapi iman belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian menggunjing kaum muslim dan jangan menyelidiki aib mereka.” (HR. Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman)

Hadits tersebut menegaskan bahwa perkataan berupa suara dan perkataan dalam hati adalah dua hal yang berbeda dan sama-sama nyata meski pun yang satu tanpa suara. Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ bersabda:

النَّدَمُ تَوْبَةٌ

“Penyesalan adalah taubat” (HR. Ahmad)

Penyesalan yang tak lain berupa pernyataan-pernyataan kekecewaan dalam diri terhadap maksiat yang telah dilakukan dianggap sebagai taubat oleh Nabi Muhammad ﷺ meskipun pernyataan penyesalan tidak berupa suara dan huruf.

Demikian juga dari atsar sahabat didapati pernyataan Sayyidina Umar yang berkata: هيأت في نفسي كلاما (aku mempersiapkan kalam/perkataan dalam hatiku) (Ibnu Hajar, Fath al-Bâry, vol. XIII, hal. 458). Sayyidina Umar menyebut ucapan dalam hatinya sebagai kalam, meskipun tanpa suara dan huruf. 

Adanya ucapan hati (kâlâm nafsî ) yang tak berupa suara dan huruf ini tidak hanya berlaku bagi manusia sebagaimana ayat dan hadits di atas, bahkan pada Allah pun dinyatakan ada yang semacam ini meskipun tentu berbeda secara hakikatnya sebab manusia adalah jisim sedangkan Allah bukan. Dalam sebuah hadits di sebutkan:

فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي

“Bila hambaku menyebutku dalam hatinya maka aku akan menyebutnya dalam diriku” (HR Bukhari).

Dari kesemua dalil di atas dapat disimpulkan bahwa bila kalam manusia saja tak selalu berupa suara dan huruf, maka tak ada satu pun alasan untuk mengatakan bahwa kalamullah pasti berupa suara dan huruf. Anggapan bahwa kalamullah pasti berupa suara dan huruf hanya timbul dari pikiran yang menyamakan mekanisme kalam Allah dengan kalam manusia sehari-hari tatkala mengobrol satu sama lain. Ini pemikiran yang menyimpang.

Perbedaannya dalam kasus manusia dan Allah adalah pembicaraan manusia dalam hatinya tak bisa ditangkap dan dipahami oleh manusia lain sehingga orangnya dianggap diam membisu bila hanya berbicara dalam hati. Sedangkan kalam Allah yang tanpa suara itu bisa ditangkap dan dipahami dengan baik oleh siapa pun yang Allah kehendaki sehingga tak bisa dikatakan bahwa Allah membisu tak berkalam. Dari sisi lain, ucapan orang bahkan yang hanya terucap di dalam hatinya sekali pun diketahui dengan jelas oleh Allah seperti dinyatakan dalam banyak ayat. Dengan demikian bisa terjadi komunikasi antara Allah dan para utusan yang dikehendaki-Nya. Wallahu a'lam.
 
 
Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center Jawa Timur.
Selasa 6 Agustus 2019 20:0 WIB
Apakah Allah Bersuara ketika Menyampaikan Wahyu? (II-Habis)
Apakah Allah Bersuara ketika Menyampaikan Wahyu? (II-Habis)
Ilustrasi (Shutterstock)
Setelah dalam bahasan sebelumnya dijelaskan bahwa menurut mazhab Ahli Hadits Allah tak bersuara sebab tak mungkin Dzat Allah memproduksi suara atau apa pun, maka biasanya timbul pertanyaan lanjutan seperti berikut: Bagaimana bila dikatakan bahwa suara Allah adalah qadim (ada tanpa awal mula) sehingga mutlak berbeda dengan suara makhluk? Dan bagaimana pula dengan salah satu hadits yang menyebutkan bahwa Allah memanggil manusia dengan suara?

Pernyataan bahwa suara Tuhan berbeda secara mutlak dengan suara makhluk sehingga tidak bersifat seperti suara pada umumnya yang bersumber dari getaran, butuh media untuk merambat, bisa dipantulkan, bisa dihalangi dan seterusnya, atau pernyataan bahwa suara Tuhan adalah suara yang qadim berbeda dengan suara makhluk, statemen semacam ini sama sekali tak bisa dipahami sebab suara yang didengar telinga manusia hanyalah yang bersifat bersumber dari getaran, butuh media untuk merambat, bisa dipantulkan, bisa dihalangi dan seterusnya itu. Bila output adanya suara Tuhan itu adalah untuk didengar telinga makhluk, maka tidak bisa tidak haruslah berupa suara biasa yang bisa didengar makhluk.

Imam al-Baqillani menyatakan sebagai berikut:

ونحن لا نسمع إلا صوتاً مثل هذه الأصوات، ولا نرى حرفاً ولا نسمعه إلا مثل هذه الحروف؛ وهذا القول يوجب أن لا يكون عندنا قرآن بالجملة أو يؤدي إلى أن يكون هذا القرآن بهذه الحروف والأصوات المعروفة غير ذلك القرآن الذي هو بحروف وأصوات قديمة، لا تشبه هذه الحروف والأصوات، والجميع فاسد باطل

“Kita tidak mendengar suara kecuali seperti suara yang ada ini dan tak melihat huruf dan tak mendengarnya kecuali huruf-huruf ini. Pendapat [yang mengatakan bahwa suara dan huruf Tuhan adalah qadim] ini berarti mengatakan kita tak punya al-Qur’an. Dan, secara global berkonsekuensi mengatakan bahwa al-Qur’an yang ada dengan huruf dan suara yang dikenal ini bukanlah al-Qur’an yang memakai suara dan huruf yang qadim itu yang tidak menyerupai suara huruf ini. Semuanya adalah salah.” (al-Baqillani, al-Inshâf: 162).

Soal suara dan huruf ini, nalar para tokoh yang mengatakan bahwa Allah bersuara sebenarnya sama persis dengan nalar Muktazilah yang menolak keberadaan kalamullah. Keduanya meyakini bahwa sifat kalâm pastilah berupa suara dan huruf. Hanya saja Muktazilah konsisten kemudian menolak adanya sifat kalam dari Dzat Allah dengan alasan tiap suara dan huruf pastilah makhluk. Muktazilah berdalil memakai realita tetapi mengabaikan nash yang menyatakan bahwa Allah berkalam. Adapun tokoh yang mengatakan bahwa Allah bersuara tetapi suaranya berbeda sifat sejatinya tidak konsisten karena menetapkan adanya suara bagi Dzat Allah yang bisa didengar manusia, tetapi mengatakan bahwa suara itu bukan makhluk seolah di dunia ini ada suara yang bukan makhluk. Mereka memakai nash yang menetapkan adanya kalam, tapi mengabaikan realita bahwa semua jenis suara pasti makhluk. Keduanya tidak tepat. 

Adapun salah satu hadits riwayat Imam Bukhari yang sepintas menyatakan bahwa di hari kiamat nanti Allah memanggil manusia dengan bersuara (bishautin), maka para ulama pakar hadits berbeda dalam menyikapinya. Sebagian, seperti Imam al-Baihaqi, meragukan validitas tambahan redaksi “dengan suara” tersebut sebab hadits lainnya tidak memakai tambahan tersebut. Dalam salah satu pernyataannya, Imam al-Baihaqi menganggap tambahan itu hanyalah redaksi dari perawi semata. Sebagian lain, seperti Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, menganggapnya valid secara sanad sehingga harus diterima tetapi dengan catatan wajib dipasrahkan maknanya pada Allah semata (di-tafwîdh) atau ditakwil (Ibnu Hajar, Fath al-Bâry, vol. XIII, hal. 458). Kedua pendapat ini meniscayakan bahwa kata “suara” di hadits itu bukan berarti bahwa Allah bersuara. 

Di antara takwilan redaksi “dengan suara” itu adalah seperti dinyatakan oleh Imam Badruddin al-Aini dalam Syarah Bukhari-nya sebagaimana berikut:

قَوْله: (فيناديهم بِصَوْت) قَالَ القَاضِي الْمَعْنى يَجْعَل ملكا يُنَادي، أَو يخلق صَوتا ليسمعه النَّاس، وَأما كَلَام الله تَعَالَى فَلَيْسَ بِحرف وَلَا صَوت

“Perkataan Nabi: ‘kemudian ia memanggil mereka dengan suara’, al-Qadli mengatakan: Maknanya adalah Allah menjadikan seorang malaikat yang memanggil atau Allah menciptakan suara (bukan mengucapkan suara) agar didengar manusia. Ada pun sifat kalamullah ta’ala maka bukan berupa huruf dan suara.” (Badruddin al-Aini, Umdat al-Qâry, vol. II, hal. 74)

Wallahu a'lam.
 

Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center Jawa Timur.